• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Instrumen Penelitian

Menurut, Sugiyono (2018:166) instrumen penelitian adalah alat ukur yang digunakan untuk mengetahui mengukur, mengobservasi, atau dokumentasi suatu fenomena alam maupun sosial yang dilihat serta diamati untuk menghasilkan sebuah data. Pendapat lain juga dikemukakan oleh Suharsimi (dalam Sudaryono 2016:30) instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan data agar lebih sistematis oleh peneliti. Berdasarkan kedua pendapat ahli diatas, pengertian instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengukur agar lebih sistematis dalam mengumpulkan data.

Penelitian survei yang digunakan peneliti dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner. Kuesioner disusun menggunakan skala Likert Widoyoko (2020: 104) menjelaskan skala Likert adalah menentukan lokasi kedudukan seseorang dalam sikap terhadap objek sikap mulai dari negatif sampai dengan positif dengan skala Likert maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel.

Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak menyusun butir-butir instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Jawaban setiap butir instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi sangat positif sampai dengan negatif. Penelitian ini menggunakan model skala Likert skala lima. Nilai pernyataan positif dan negatif

skor dalam skala Likert. Nilai positif yaitu: sangat setuju: skor 5; setuju: skor 4;

kurang setuju: skor 3; tidak setuju: skor 2; sangat tidak setuju: skor 1. Nilai negatif yaitu: sangat setuju: skor 1; setuju: skor 2; kurang setuju: skor 3; tidak setuju: skor 4; sangat tidak setuju: skor 5.

Lembar kuesioner ini disusun untuk bertujuan agar dapat mengetahui seberapa besar tingkat motivasi belajar siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu pada pembelajaran online. Indikator untuk membuat lembar kuesioner mengacu dari indikator dua ahli yaitu, Uno dan Sardiman indikator itu telah dimodifikasi dan dibuatlah pernyataan kuesioner tertutup yang kemudian nantinya akan diisi oleh siswa.

Lembar kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Terdiri dari 30 pernyataan yang isinya memaparkan tentang motivasi belajar yang dialami siswa selama pembelajaran online. Dalam kuesioner tertutup ini terdapat 5 jawaban variasi yaitu, (1) Sangat setuju (2) Setuju (3) Kurang setuju (4) Tidak setuju (5) Sangat tidak setuju. Dari kelima variasi jawaban tersebut siswa diminta untuk memilih salah satu dari variasi jawaban tersebut, hal ini dikarenakan untuk mengetahui bagaimana tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa selama pembelajaran online. Berikut kisi –kisi kuesioner yang digunakan untuk penelitian:

No. Variabel Aspek Indikator Nomor

Menunjukkan minat 10,11,12,13 4 Senang bekerja

Dapat

Tabel 3.1 Kisi – kisi instrumen pernyataan tertutup Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan

Motivasi tugas yang diberikan oleh guru dengan tepat

waktu selama

pembelajaran online 3. Saya menunda

menyelesaikan tugas yang telah diberikan oleh guru selama pembelajaran online

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan tugas yang diberikan oleh guru dengan

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan guru menjelaskan dan tanpa melakukan

bertanya kepada guru jika ada materi yang

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan bantuan kepada orang tua/kakak

belajar materi terlebih dahulu sebelum waktu saat mengikuti pembelajaran online melalui zoom dan google meet

19. Saya cepat bosan jika guru hanya ceramah

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan

menjelaskan materi mata pelajaran saja 20. Saya tertarik dengan

materi yang diajarkan oleh guru dengan sesuai mata pelajaran yang saya suka diskusi melalui sarana pembelajaran Online

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan tambahan ketika saya bisa menjawab

Aspek Indikator Sub Indikator Pernyataan

jika meja belajar saya terlihat rapi dan bersih

Tabel 3.2 Blue Print

Langkah berikutnya setelah menyusun instrumen penelitian, yang dilakukan oleh peneliti yaitu menyerahkan instrumen penelitian tersebut beserta lembar penilaian kepada tiga ahli untuk dimintakan validasi. Penilaian validitas oleh validator ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan sebuah instrumen yang telah dibuat oleh peneliti yang nantinya akan dibagikan kepada responden penelitian.

Validator untuk menilai kelayakan instrumen penelitian ini terdapat tiga ahli yaitu, ahli pertama, ahli kedua dan ahli ketiga. Dalam penilaian validasi terdapat tiga aspek, yaitu 3 aspek yaitu, (1) aspek bahasa (2) aspek isi (3) aspek keindahan. Aspek Bahasa berkaitan dengan penggunaan Bahasa sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) selain itu Bahasa yang digunakan harus bisa dipahami oleh siswa sekolah dasar. Aspek isi berkaitan dengan kualitas setiap pernyataan apakah sudah mencangkup aspek yang akan diungkapkan atau dipaparkan dalam pernyataan.

Aspek keindahan berkaitan dengan tampilan yang menarik pada kuesioner agar dapat menarik responden untuk mengisi kuesioner tersebut.

Dari hasil validasi instrumen ketiga ahli, kuesioner disusun serta dinyatakan kelayakannya yang nanti akan dibagikan untuk siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu. Hasil validitas yang sudah diberikan masih perlu direvisi, revisi ini sebagai saran kepada peneliti dalam pernyataannya. Revisi tersebut antara lain:

1. Adanya kesalahan penulisan kata dalam instruksi untuk mengisi lembar kuesioner.

2. Ada beberapa kalimat masih panjang dan perlu di perjelas dan persingkat, agar responden dapat memahami pernyataan pada kuesioner.

3. Tampilan dibuat lebih menarik, perlu dibuat warna warni karena anak-anak lebih tertarik dengan warna warni.

Revisi dari validator ini sebagai pedoman peneliti untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas instrumen penelitian sehingga instrumen kuesioner ini layak untuk dibagikan kepada subjek yang akan diteliti.

Langkah selanjutnya setelah instrumen penelitian ini divalidasi dan dinyatakan kelayakannya, peneliti akan menguji cobakan kepada beberapa siswa sehingga layak untuk dibagikan kepada subjek penelitian. Peneliti menguji cobakan kuesioner kepada 5 siswa kelas III melalui tanya jawab. Setelah menguji cobakan kuesioner kepada 5 siswa tersebut maka peneliti mendapatkan hasil jawaban dari siswa yaitu:

1. Pernyataan soal nomor 22 kurang jelas mengenai kata “jawaban”, maka peneliti memperbaiki kata jawaban dengan “pendapat”.

Setelah proses revisi dari validator dan telah diuji cobakan ke beberapa siswa.

Maka, instrumen kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti siap dibagikan kepada responden atau subjek peneliti.

3.7 Teknik Pengujian Instrumen

Data dalam sebuah penelitian memiliki peran yang sangat tinggi, karena data sebagai alat pembuktian hipotesis. Maka benar tidaknya suatu data sangat mempengaruhi hasil penelitian. Hikmawati (2017: 46). Penguji instrumen terdiri atas dua pengujian yaitu, pengujian validitas dan reliabilitas. Instrumen dalam penelitian ini berbentuk non tes, dimana setiap jawaban dari pernyataan tidak ada jawaban

“benar atau salah” akan tetapi setiap pernyataan bersifat “negatif” atau “positif”

(Sugiyono, 2018:194).

3.7.1 Uji validitas instrumen

Uji validitas digunakan untuk mengukur sejauh mana ketepatan, apakah sebuah tes dapat digunakan untuk mengukur valid tidaknya pernyataan kuesioner (Sudaryono, 2016:148). Suatu instrumen pernyataan dikatakan memiliki validitas tinggi apabila fungsi alat tersebut memberikan hasil ukur yang yang sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya dari apa yang diukur (Sudaryono, 2016:148). Instrumen yang sudah valid, valid berarti instrumen tersebut sudah dapat digunakan untuk mengukur sehingga mendapatkan data yang valid.

Validitas dibedakan menjadi dua, yaitu validitas isi dan validitas konstruk.

Validitas isi adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan, penelusuran atau pengujian terhadap isi (Sudaryono, 2016:150). Sedangkan menurut Widoyoko (2020:143) validitas isi adalah instrumen yang berbentuk tes yang mengukur hasil belajar. Validitas isi berkaitan dengan pernyataan sejauh mana butir pernyataan mencangkup seluruh indikator yang akan dikembangkan.

Sedangkan, validitas konstruk merupakan pengukuran konsep dari suatu teori yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Maka, harus ada pembahasan teori mengenai variabel yang menjadi dasar penentuan konstruk sebuah instrumen (Widoyoko, 2020:145). Pengujian validitas konstruk dapat menggunakan pendapat para ahli (expert judgement). Dengan mengkonsultasikan kepada pada ahli, setelah itu akan memberikan sebuah keputusan, apakah instrumen penelitian tersebut dapat digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan atau diganti secara total (Widoyoko, 2020:145). Penelitian ini menggunakan validitas konstruk.

Dalam penelitian ini menggunakan kriteria validasi dalam bentuk skor. Jika dalam soal itu dikatakan valid maka jumlah rerata skor yaitu >4,2 namun jika pernyataan tersebut tidak valid atau tidak layak maka rerata skor yaitu, ≤1,8.

Validitas konstruk ini digunakan oleh peneliti dengan mencangkup 3 aspek yaitu, (1) aspek bahasa (2) aspek isi (3) aspek keindahan. Aspek Bahasa berkaitan dengan penggunaan Bahasa sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) selain itu Bahasa yang digunakan harus bisa dipahami oleh siswa sekolah dasar.

Aspek isi berkaitan dengan kualitas setiap pernyataan apakah sudah mencangkup aspek yang akan diungkapkan atau dipaparkan dalam pernyataan. Aspek keindahan berkaitan dengan tampilan yang menarik untuk responden agar dapat mengisi kuesioner.

Dalam melakukan validitas instrumen, para ahli memberikan lembar penilaian sesuai dengan skala skor dalam lembar penilaian instrumen menggunakan skala Likert. Pada penggunaan pengukuran dengan skala Likert ini cenderung para

ahli memilih kategori kurang setuju. Untuk mengantisipasi hal tersebut, peneliti tidak menggunakan kategori kurang setuju agar pengukurannya lebih jelas. Berikut adalah tabel dari skala lima:

Skor Jawaban Klasifikasi Kelayakan

5 Sangat Setuju

4 Setuju

3 Kurang Setuju

2 Tidak Setuju

1 Sangat Tidak Setuju

Tabel 3.3 Skala Likert

Rerata Skor Klasifikasi

>4,2 Sangat Layak

>3,4-4,2 Layak

>2,6-3,4 Cukup Layak

>1,8-2,6 Kurang Layak

≤1,8 Tidak Layak

Tabel 3.4 Kriteria Kelayakan Kuesioner

Dari ahli pertama didapatkan hasil dan tidak ada tambahan atau revisi dari lembar instrumen yang telah dilampirkan. Setelah dirata-rata nilai skor hitung pada ahli pertama yaitu dengan nilai 4,2 dengan rentang >4,2, artinya bahwa kuesioner tersebut sangat layak digunakan dan tanpa adanya perbaikan.

Hasil ahli kedua didapatkan ada kesalahan penulisan kata dalam instruksi untuk mengisi lembar kuesioner, ahli kedua menyarankan untuk memperbaiki dan memeriksa kata-katanya kembali agar tidak menyulitkan responden dalam mengisi kuesioner tersebut. Setelah di rata–rata dan dihitung hasil skornya, ahli kedua

memberikan nilai 4,5, dengan rentang >4,2 artinya bahwa kuesioner tersebut sangat layak digunakan dan juga tanpa adanya perbaikan.

Hasil dan saran validitas dari ahli ketiga adalah masih ada beberapa kalimat masih panjang dan perlu diperjelas dan persingkat, agar responden dapat memahami pernyataan pada kuesioner dan kedua tampilan dibuat lebih menarik, perlu dibuat warna warni karena anak-anak lebih tertarik dengan warna warni. Hasil rata – rata nilai skor hitung, ahli ketiga memberikan nilai 4,2 dengan rentang >4,2 artinya kuesioner tersebut sangat layak digunakan dan juga tanpa adanya perbaikan.

Dari penilaian validasi diatas dapat disimpulkan bahwa instrumen kuesioner yang disusun dalam penelitian ini sangat layak digunakan sebagai instrumen penelitian, dari hasil yang didapatkan peneliti dapat memperbaiki instrumen sesuai saran dan masukan dari validator, yaitu perbaikan tampilan, kata dan bahasa agar nantinya kuesioner penelitian ini dapat dipahami oleh responden.

3.8 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses penelitian dengan menganalisis data menggunakan metode yang tepat agar dapat memberikan kesimpulan yang tepat dan baik (Lijan & Sarton,2021:309) Dalam tahap analisis data dilakukan sejak penelitian direncanakan, agar diperoleh karakteristik dan syarat analisis yang tepat.

Hal ini menghindari akan banyaknya data yang diperoleh tidak dibutuhkan akan menjadi terbuang percuma, tetapi data yang seharusnya dibutuhkan tidak tersedia.

Penelitian ini menggunakan teknik penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei dan menggunakan analisis data statistik. Statistik digunakan sebagai alat hubungan kualitas antara dua atau lebih variabel apakah benar-benar terikat atau tidak. Statistik deskriptif adalah statistik digunakan untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan yang telah terkumpul tanpa membuat kesimpulan untuk digeneralisasikan (Lijan & Sarton,2021:312). Hal yang sama juga dikemukakan oleh (Nalim & Turmudin, 2012: 11) Statistik deskriptif merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian, tetapi tidak mengambil kesimpulan secara luas untuk digeneralisasikan. Penyajian data dalam statistik

deskriptif dalam bentuk tabel, grafik, mean (rata-rata), median (nilai tengah), modus (nilai yang sering muncul), standar deviasi tanpa disertai tindak lanjut seperti pengujian terhadap suatu hipotesis.

Dalam mengambil data ini peneliti menggunakan kuesioner yang dibagikan secara langsung ke siswa, dan siswa mengerjakan kuesioner secara langsung di sekolah. Hasil data penelitian ini dihasilkan dari pernyataan tertutup yang akan dipaparkan dalam bentuk tabel atau distribusi frekuensi. Berikut ini adalah proses analisis data oleh peneliti:

3.8.1 Analisis Data Kuantitatif

Dari data kuantitatif yang telah diperoleh peneliti dari pertanyaan tertutup untuk siswa. Peneliti juga memasukan data kuantitatif ke dalam tabel program Microsoft excel terdiri dari 59 responden. Data kuantitatif yang didapatkan dari kuesioner pertanyaan tertutup terdapat 5 variasi jawaban yaitu, “sangat setuju”

diberi nilai 5 pada setiap pernyataan, responden yang memilih jawaban “setuju”

akan diberi nilai 4 setiap pernyataan, responden yang memilih jawaban “kurang setuju” akan diberi nilai 3 setiap pernyataan, responden yang memilih jawaban

“tidak setuju” akan diberi nilai 2 dari setiap pernyataan, dan responden yang memilih jawaban “sangat tidak setuju” diberi nilai 1 di setiap pernyataan.

Langkah selanjutnya peneliti menjumlahkan dan mendapatkan total skor dari setiap pernyataan yang diperoleh dari setiap masing-masing siswa, kemudian peneliti mengkategorikan dari hasil yang telah didapatkan. Langkah selanjutnya yang peneliti lakukan adalah mengkategorikan data kuantitatif tersebut dengan menggunakan 5 kategori yaitu, sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah.

Rumus yang digunakan dalam mengklasifikasikan tingkat motivasi belajar siswa selama pembelajaran online. Pada rumus menentukan kategori motivasi belajar yang dimiliki siswa berdasarkan jumlah skor jawaban seluruh siswa yang dikemukakan oleh Widoyoko (2020:115) adalah sebagai berikut:

Nilai maksimal = Nilai maksimal × jumlah butir pernyatan × jumlah siswa

Kemudian peneliti menganalisis data dari kuesioner tertutup berdasarkan hasil dari seluruh jawaban siswa dimasukkan kedalam rumus untuk menentukan hasil hitung dan kategorisasinya. Berikut adalah langkah menghitung motivasi belajar siswa melalui perhitungan data kuesioner tertutup:

Nilai maksimal = 5 × 30 × 59 = 8850

Nilai minimal = 1 × 30 × 59

= 1770

Jarak kelas interval = (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙−𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 ) = 8850−1770

5

= 7080

5

= 1416

Untuk menentukan kategori motivasi belajar siswa selama pandemi berdasarkan jumlah skor jawaban seluruh siswa secara umum dapat dilihat di tabel berikut ini:

Nilai minimal = Nilai minimal × jumlah butir pernyatan × jumlah siswa

Kelas interval = 5

Jarak kelas interval = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

SKOR Kriteria

7435 - 8850 Sangat Tinggi

6019 – 7434 Tinggi

4603 – 6018 Sedang

3187 – 4602 Rendah

1770 - 3186 Sangat Rendah

Tabel 3.5 Kriteria jumlah skor jawaban seluruh siswa

Berikut merupakan rumus dari klasifikasi tingkat motivasi belajar siswa yang berdasarkan pada rumus penentuan sikap berdasarkan jumlah skor jawaban dari setiap responden yang dikemukakan oleh (Widoyoko, 2020:115) adalah sebagai berikut:

Peneliti akan menganalisis data kuesioner tertutup berdasarkan jumlah skor jawaban dari setiap responden dan dimasukkan kedalam rumus. Berikut langkah perhitungan kuesioner tertutup:

Skor minimal = skor minimal × jumlah butir pernyataan

= 1 × 30

= 30

Jumlah pernyataan = 30 Kelas interval = 5

Jumlah skor terendah = skor minimal × jumlah butir pernyataan

Jumlah skor tertinggi = skor maksimal × jumlah butir pernyataan

Jarak kelas interval = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

Skor maksimal = skor maksimal × jumlah butir pernyataan

= 5 × 30

= 150

Jarak kelas interval = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

= 150−30

5

= 120

5

= 24

Untuk menentukan kategori motivasi belajar siswa pada pembelajaran online berdasarkan dari jumlah skor jawaban dari setiap responden secara umum dapat dilihat di tabel berikut ini:

Rentang skor Kriteria

127 – 150 Sangat Tinggi

103 – 126 Tinggi

79 – 102 Sedang

55 – 78 Rendah

30 – 54 Sangat Rendah

Tabel 3.6 Kriteria jumlah skor jawaban dari setiap responden

Penentuan klasifikasi tingkat motivasi belajar diperoleh dari pada rumus penentuan berdasarkan jumlah skor jawaban seluruh responden dari setiap pernyataan, ini dikemukakan oleh (Widoyoko, 2020:15):

Kelas interval = 5 Jumlah responden = 59

Jumlah skor tertinggi = skor maksimal × jumlah responden

Peneliti akan menganalisis data kuesioner tertutup didasarkan dari berdasarkan jumlah skor jawaban seluruh responden dari setiap pernyataan dan dimasukkan kedalam rumus. Berikut langkah perhitungan kuesioner tertutup:

Jumlah skor tertinggi = skor maksimal × jumlah responden = 5 × 59

= 295

Jumlah skor terendah = skor minimal × jumlah responden = 1 × 59

= 59

Jarak kelas interval = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

= 295−59

5

= 236

5

= 47,2

Untuk menentukan kategori motivasi belajar siswa pada pembelajaran online berdasarkan jumlah skor jawaban seluruh responden dari setiap pernyataan secara umum dapat dilihat di tabel berikut ini:

Jumlah skor terendah = skor minimal × jumlah responden

Jumlah kelas interval = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

Rentang skor Kriteria

248,8 – 295 Sangat Tinggi

201,6 – 247,8 Tinggi

154,4 – 200,6 Sedang

107,2 – 153,4 Rendah

59 – 106,2 Sangat Rendah

Tabel 3.7 Kriteria jumlah skor jawaban seluruh responden dari setiap pernyataan

Setelah diperoleh skor setiap jawaban responden dan skor seluruh responden dari setiap pernyataan, dilakukan persentase sesuai dengan rumus statistik deskriptif menggunakan persentase menurut Burhin dalam (Khasanah,2021) berikut rumusnya:

Persentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑐𝑎𝑟𝑖

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 × 100%

57 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab IV ini membahas mengenai hasil penelitian serta pembahasannya. Hasil penelitian membahas tentang deskripsi penelitian, pembahasan analisis data. Pada bagian pembahasan peneliti menjelaskan hasil analisis data dan keterkaitan dengan kajian teori yang digunakan pada penelitian ini.

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif metode yang digunakan metode survei. Data yang diperoleh pada penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh dari pernyataan tertutup. Dengan menyebar instrumen berupa kuesioner kepada siswa kelas IV dan V. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data kuantitatif. Peneliti memilih motivasi belajar selama pembelajaran online sehingga judul yang diambil oleh penelitian ini adalah “Survei Motivasi Belajar Pada Pembelajaran Online Siswa kelas IV – V SD Kanisius Delanggu Klaten”.

Penelitian ini dimulai pada bulan Juli 2021 sampai dengan Januari 2021 data diambil di SD Kanisius Delanggu Klaten. Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti menentukan sekolah yang akan dijadikan penelitian, dengan melihat kondisi selama pandemi COVID-19 masalah mengenai motivasi belajar pembelajaran online, peneliti kemudian memilih SD Kanisius Delanggu sebagai tempat penelitian. Alasan memilih SD tersebut sebagai tempat mengambil data karena, belum ada yang melakukan penelitian skripsi di sekolah tersebut dan juga melihat banyak orang tua yang mengeluh mengenai motivasi belajar siswa hal ini menjadikan SD Kanisius Delanggu sebagai obyek penelitian.Selain itu, pertimbangan peneliti memilih SD tersebut karena, sekolah juga berkenaan dan bersedia menjadi tempat penelitian.

Awal proses penelitian yaitu dengan mengirimkan surat izin penelitian ke SD Kanisius Delanggu, setelah mendapatkan ijin dari pihak sekolah. Kemudian peneliti melanjutkan dengan menyusun instrumen kuesioner yang terdiri dari 30 pernyataan tertutup. Kuesioner ini disusun dengan lima variasi pilihan jawaban yang nantinya responden akan memilih salah satu dari pilihan jawaban tersebut.

Langkah selanjutnya yang diambil oleh peneliti yaitu membagikan blueprint kepada tiga ahli. Validator dalam penelitian ini diantaranya yaitu ahli pertama, ahli kedua dan ahli ketiga. Validator kemudian mengisi instrumen validasi yang telah diberikan oleh peneliti, instrumen tersebut nantinya akan menjadi menentukan kevalidan dari semua kuesioner yang telah dibuat oleh peneliti, setelah divalidasi kemudian kuesioner tersebut akan dibagikan kepada subyek penelitian. Kemudian peneliti melaksanakan uji coba ke 5 siswa di SD Kanisius Delanggu yaitu siswa kelas III. Tujuan dari peneliti untuk melakukan uji coba lembar kuesioner adalah peneliti ingin mengetahui bahasa yang digunakan dalam lembar kuesioner apakah mudah dipahami oleh siswa, karena lembar kuesioner ini nantinya akan dibagikan oleh subjek peneliti. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu sebanyak 59 siswa.

4.1.2 Deskripsi Data Kuantitatif

4.1.2.1 Deskripsi Hasil tingkat motivasi belajar siswa pada pembelajaran online

Tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu selama pembelajaran online. Hasil ini diperoleh dari kuesioner tingkat motivasi belajar siswa. Berdasarkan perolehan data yang dikumpulkan dan dilakukan analisis deskriptif.

Pada tabel dibawah ini akan dijelaskan setiap persentase motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu. Secara lebih rinci akan dipaparkan pada tabel berikut:

Variabel Kategori SKOR Jumlah

Tabel 4.1 Tingkat Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran online Persentase tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu pada pembelajaran online dapat dilihat melalui gambar histogram di bawah ini:

Gambar 4.1 Histogram Tingkat Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Online

Berdasarkan tabel 4.1 dan tabel diagram 4.1 dapat dijelaskan bahwa:

a. Tingkat motivasi belajar siswa sangat tinggi selama pembelajaran online dimiliki oleh 8 siswa dari jumlah total siswa sebanyak 59 siswa yaitu memiliki persentase 14%.

b. Tingkat motivasi belajar siswa tinggi selama pembelajaran online dimiliki oleh 48 siswa dari jumlah total siswa sebanyak 59 siswa yaitu memiliki persentase 81%.

c. Tingkat motivasi belajar siswa sangat tinggi selama pembelajaran online dimiliki oleh 3 siswa dari jumlah total siswa sebanyak 59 siswa yaitu memiliki persentase 5%.

d. Tingkat motivasi belajar siswa sangat tinggi selama pembelajaran online dimiliki oleh 0 siswa dari jumlah total siswa sebanyak 59 siswa yaitu memiliki persentase 0%.

e. Tingkat motivasi belajar siswa sangat tinggi selama pembelajaran online dimiliki oleh 0 siswa dari jumlah total siswa sebanyak 59 siswa yaitu memiliki persentase 0%.

Berdasarkan data di atas bahwa motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu pada pembelajaran online tergolong dalam kategori “tinggi” memiliki persentase 81%.

4.1.2.2 Hasil Skor Item Tingkat Motivasi Belajar Siswa pada pembelajaran online

Tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu berdasarkan ahli Widoyoko. Hasil perhitungan dibedakan ke dalam 5 kategori yaitu: Sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah menghitung frekuensi dari jawaban siswa pada setiap pernyataan dalam kuesioner tertutup, sebanyak 30 pernyataan terdiri dari 2 jenis motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dalam penelitian ini kategori Sangat setuju pada skor 248,8 sampai 295, kategori setuju pada skor 201,6 sampai 247,8, kategori kurang setuju berada

Tingkat motivasi belajar yang dimiliki siswa kelas IV dan V SD Kanisius Delanggu berdasarkan ahli Widoyoko. Hasil perhitungan dibedakan ke dalam 5 kategori yaitu: Sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah menghitung frekuensi dari jawaban siswa pada setiap pernyataan dalam kuesioner tertutup, sebanyak 30 pernyataan terdiri dari 2 jenis motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dalam penelitian ini kategori Sangat setuju pada skor 248,8 sampai 295, kategori setuju pada skor 201,6 sampai 247,8, kategori kurang setuju berada

Dokumen terkait