BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Teori Tindakan Paksa Pemerintah
Tindakan paksa pemerintah (Bestuursdwang) merupakan suatu tindakan nyata yang dilakukan oleh penguasa guna mengakhiri suatu keadaan yang dilarang oleh suatu kaidah hukum administrasi.51 Maksudnya yaitu organ pemerintah atau atas nama pemerintah dapat memindahkan, mengosongkan, memperbaiki pada keadaan semula apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan yang bertentangan dengan kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Paksaan pemerintah harus memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis, yaitu asas-asas pemerintahan yang layak seperti asas kecermatan, asas keseimbangan, asas kepastian hukum dan lain-lain. Pelanggaran yang bersifat substansial terjadi dalam hal pelanggar
49Adrian Sutedi, Hukum Perizinan dalam Sektor Pelayanan Publik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2017), h. 173-175.
50Soehino, Asas-asas Tata Pemerintah, (Yogyakarta: Liberty,1984), h. 97.
51W. Riawan Tjandra, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: Sinar Grafika, 2018), h.
218.
norma hukum administrasi negara tersebut secara absolut melanggar suatu kaidah yang bersifat impresif. Adapun pelanggaran yang bersifat non-substansial terjadi dalam hal terhadap pelanggaran itu masih dimungkinkan untuk dilakukan pelaksanaan kewajiban norma hukum administrasi negara pasca terjadinya aktivitas subjek hukum melalui legalisasi. Misalnya pendirian rumah tanpa didasarkan pada IMB yang dilakukan pada kawasan yang dalam norma hukum tata ruang memang diperuntukkan untuk kawasan hunian.52
Sanksi dalam hukum administrasi negara yang merupakan alat kekuasaan yang bersifat hukum publik yang digunakan oleh penguasa sebagai reaksi terhadap ketidakpatuhan pada norma hukum administrasi negara. Dengan demikian, unsur-unsur sanksi dalam hukum administrasi negara meliputi:
1. Alat kekuasaan (machtsmiddelen).
2. Bersifat hukum pubik (publiekrechtelijik).
3. Dugunakan oleh penguasa (overheid).
4. Sebagai reaksi terhadap ketidakpatuhan (reactive op miet-naleving).53 Tujuan dari penegakan sanksi hukum administrasi negara adalah agar terwujudnya tertib hukum (legal order) dalam rangka melindungii kepentingan umum. Hukum adalah sarana yang didalamnya terkandung nilai-nilai atau konsep-konsep tentang keadilan, kebenaran, kemanfaatan sosial, dan sebagainya.54
Pemerintah tidak sepatutnya langsung menggunakan paksaan pemerintahan, dengan membongkar rumah tersebut, karena masih dapat dilakukan legalisasi, dengan cara memerintahkan kepada pemilik bangunan untuk mengurus
52Ibid, h. 220.
53Ibid, h. 217.
54Ibid, h. 217.
IMB. Jika perintah mengurus IMB ini tidak dilaksanakan maka barulah pemerintah dapat menerapkan Tindakan paksa, yaitu pembongkaran.55
Sebagaimana berdasarkan Pasal 178 Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung, menyatakan bahwa:
a. Setiap pemilik dan/atau pengguna Bangunan Gedung yang Melanggar ketentuan Peraturan Daerah ini akan dikenakan sanksi administratif, berupa:
1) Peringatan tertulis;
2) Pembatasan kegiatan bangunan;
3) Penghentian sementara atau tetap pada pekerjaan pelaksanaan pembangunan;
4) Penghentian sementara atau tetap pada pemanfaatan Bangunan gedung;
5) Pembekuan IMB gedung;
6) Pencabutan IMB gedung;
7) Pembekuan SLF Bangunan Gedung;
8) Pencabutan SLF Bangunan Bangunan Gedung;
9) Perintah Pembongkaran bangunan Gedung;
b. Selain pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dikenai sanksi denda paling banyak 10% (sepuluh per seratus) dari nilai bangunan yang sedang atau telah dibangun.
c. Penyedia jasa konstruksi yang melanggar ketentuan peraturan daerah ini dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dibidang jasa konstruksi.
d. Sanksi denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disetor kerekening kas Pemerintah Daerah.
e. Jenis pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) didasarkan pada berat atau ringannya pelanggaran yang dilakukan setelah mendapatkan pertimbangan TABG.56
Dalam hukum administrasi negara, terdapat jenis-jenis sanksi hukum administrasi negara, Adapun jenis-jenis tersebut meliputi:
1. Paksaan pemerintah (bestuursdwang).
2. Penarikan Kembali keputusan yang menguntungkan (izin, pembayaran, subsidi).
55Ivan Fauzani Rahaja, Penegakan Hukum Sanksi Administrasi Terhadap Pelanggaran Perizinan, Volume VII, Nomor II, (2014), h. 126-127.
56Indonesia, Peraturan Daerah Kabupaten Kampar Nomor 4 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung, pasal 178.
3. Denda administrasi (bestuurboete) 4. Uang paksa (dwangsom).57
Guna agar dapat mengenakan sanksi dalam hukum administrasi Negara harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana berikut:
1. Adanya wewenang untuk menerapkan sanksi.
2. Adanya pelanggar.
3. Adanya dukungan fakta yang memadai.
4. Kepatuhan menerapkan sanksi didasarkan pada Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AAUPB), misalnya asas kecermatan, dalam arti mempertimbangkan semua kepentingan yang terkait.
5. Berat ringannya sanksi perlu mendapat perhatian. Sanksi harus seimbang dengan pelanggaran (asas keseimbangan), karena pengenaan sanksi pada dasarnya meletakkan kewajiban dan hak baru.58
4. Retribusi
a. Pengertian Retribusi
Retribusi merupakan jenis pungutan resmi yang dilakukan oleh pemerintah pada orang atau badan yang memohon izin atau pemegang izin.
Pembayaran retribusi merupakan prestasi yang harus dilakukan oleh para pemohon agar mereka dapat diberikan izin. Ini adalah pungutan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh pemerintah. uang dari retribusi dimasukkan kedalam kas pemerintah dan kemudian digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah.
Menurut Munawir, retribusi adalah iuran kepada pemerintah yang dapat dipaksakan dan jasa balik secara langsung dapat ditunjuk. Paksaan disini bersifat ekonomis kerena siapa saja yang tidak merasakan jasa balik dari pemerintah dia tidak akan dikenakan iuran itu. Retribusi juga diartikan sebagai pungutan yang
57W. Riawan Tjandra, op.cit, Hukum Administrasi Negara, h. 218.
58Ibid, h. 225.
dilakukan oleh pemerintah sebagai akibat adanya kontra prestasi yang diberikan oleh pemerintah daerah/pembayaran tersebut didasarkan atas prestasi yang diberikan atas prestasi/pelayanan yang diberikan pemerintah daerah yang langsung dinikmati secara perseorangan oleh warga masyarakat dan pelaksanaannya didasarkan atas peraturan yang berlaku.59
Ketentuan perizinan dapat dihubungkan dengan syarat-syarat dibidang keuangan. Syarat-syarat keuangan dalam hal perizinan dapat ditetapkan dalam dua bentuk, pertama sebagai syarat yang mendahului pemberian izin, kedua sebagai ketentuan pada izin, dan menetapkan kewajiban untuk membayar sejumlah uang.
b. Sifat Retribusi
Retribusi bertujuan untuk mengisi kas negara atau daerah dan juga untuk membantu mengatur kemakmuran masyarakat, namun retribusi ini berbeda dengan pungutan-pungutan lainnya yang ada di Indonesia, Adapun sifat-sifat retribusi adalah sebagai berikut:
1) Pelaksanaan bersifat ekonomis
2) Ada imbalan langsung kepada pembayar
3) Iurannya memenuhi persyaratan, persyaratan formal dan material tetapi tetap ada alternatif untuk membayar
4) Retribusi merupakan pungutan yang umumnya budgetairnya tidak menonjol
5) Dalam hal-hal tertentu retribusi daerah digunakan untuk suatu tujuan tertentu, tetapi dalam banyak hal tidak lebih dari pengambilan biaya yang telah dibukukan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan masyarakat.60
59Damas Dwi Anggoro, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017), h. 239.
60Ibid, h. 240.
Penetapan syarat-syarat keuangan dibidang perizinan oleh organ pemerintahan pada prinsipnya harus memenuhi kriteria yang sama seperti pada pemberian ketetapan perizinan sendiri dan pengikatan ketentuan-ketentuan (lain) padanya. Menurut hakim administrasi, syarat-syarat keuangan dalam pengurusan izin pada prinsipnya diperkenankan dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1) Dengan memenuhi syarat, diberikan sumbangan langsung pada tujuan yang mendasari izin. Jadi, syarat-syarat tidak boleh menimbulkan pertentangan dengan larangan penyalahgunaan wewenang.
2) Pemberian izin demi kepentingan umum memerlukan pungutan sejumlah uang tertentu.
3) Tidak ada kemungkinan lain yang lebih dapat diterima dari sudut perlindungan hukum untuk menghendaki penggantian atau kompensasi.
Apabila syarat-syarat tersebut dipenuhi, pihak yang berkepentingan dikemudian hari tidak dapat menuntut pembayaran kembali berdasarkan pembayaran tidak wajib.61
Berdasarkan penjelasan diatas pemerintah mempunyai kesempatan untuk mengenakan pungutan berupa retribusi dalam hal penerbitan izin. Hal yang penting untuk diperhatikan juga harus dipahami ialah bahwa pungutan jangan sampai menyebabkanadanya penyalahgunaan wewenang (detoumement de pouvoir).
Retribusi merupakan pungutan resmi yang dilakukan pemerintah, yang berbeda dibandingkan dengan pajak dan sumbangan. Ciri-ciri retribusi adalah sebagai berikut:
61Y. Sri Pudyatmoko, Perizinan Problem dan Upaya Pembenahan, (Jakarta: Grasindo, 2009) h. 64.
1) Dipungut dengan berdasarkan Undang-Undang dan peraturan pelaksananya yang berlaku umum.
2) Dalam retribusi, adanya prestasi yang berupa pembayaran dari warga masyarakat akan diberi jasa timbal baliknya secara langsung yang tertuju kepada individu yang membayar.
3) Uang hasil retribusi digunakan untuk pelayanan umum berkaitan dengan retribusi yang bersangkutan.
4) Pelaksanaannya dapat dipaksakan dan paksaan itu umumnya bersifat ekonomis.62
Berbeda dengan pajak, dimana pajak menurut Dr. Soepomo Soemahamidjaja menyatakan bahwa “pajak adalah iuran wajib yang berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum”. Sedangkan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan memberikan penjelasan terhadap pajak, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Berdasarkan penjelasan diatas, terdapat ciri khas dan perbedaan antara pajak dengan retribusi atau dengan pungutan-pungutan lainnya, yakni wajib pajak (tax payer) tidak menerima jasa timbal balik yang dapat ditunjukkan secara langsung dari pemerintah, namun perlu dipahami bahwa sebenarnya subjek pajak
62Ibid, h. 65.
ada yang menerima jasa timbal, tetapi diterima secara kolektif bersama dengan masyarakat lainnya.63
c. Cakupan Izin Yang Terkena Retribusi
Retribusi perizinan tertentu sebagaimana yang dimaksud diatas untuk daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota ditetapkan sesuai dengan kewenangan masing-masing daerah. Jenis-jenis retribusi perizinan tertentu yang diatur dalam peraturan pemerintah meliputi retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), retribusi izin tempat penjualan miniman beralkohol,64 dan retribusi izin gangguan,65 Retribusi izin trayek, Retribusi izin usaha perikanan.66
Retribusi IMB adalah pembayaran atas pemberian izin mendirikan bangunan atau bangunan-bangunan oleh pemerintah daerah kepada orang atau badan, termasuk mengubah bangunan. Permohonan izin mendirikan bangunan merupakan permohonan dari orang pribadi atau badan dilengkapi syarat-syarat permohonan kepada pemerintah daerah untuk mendapatkan izin. Izin Mendirikan Bangunan merupakan izin yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada orang atau badan untuk mendirikan suatu bangunan yang dimaksud sesuai dengan rencana tata ruang kota yang berlaku, sesuai dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Luas Bangunan (KLB), Koefisien Ketinggisan Bangunan
63Ahmad Sutedi, Hukum Pajak (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 4-5.
64Y. Sri Putyadmoko.op. cit, Perizinan Problem dan Upaya Pembenahan, h. 67-68.
65Ibid, h. 69.
66https://news.ddtc.co.id/apa-itu-retribusi-perizinan-tertentu-26781, diakses pada 17 September, 2022.
(KKB) yang ditetapkan, dan sesuai dengan syarat-syarat keselamatan bagi yang menempati bangunan tersebut.67
Izin mendirikan bangunan yang selanjutnya akan disebut IMB adalah suatu perizinan yang diberikan kepada pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah, memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai dengan standar teknis bangunan gedung.
Dalam mendirikan bangunan banyak hal yang perlu diperhatikan, seperti bangunan apa yang mau dibangun, lokasi bangunan yang akan dibangun, status tanah, hingga kepada status legalitas dari bangunan yang akan dibangun tersebut.
Fisik bangunan tersebut dapat sebagian atau seluruhnya berada diatas tanah, didalam tanah, ataupun diatas dan didalam air asalkan dapat memenuhi fungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, dan lain-lain.68 Oleh karena itu dalam pendirian sebuah bangunan sangat perlu bagi setiap orang atau badan agar mengajukan dan mengurus IMB untuk bangunan yang akan dibangun.
IMB merupakan salah satu produk hukum yang bertujuan untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban, keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum. IMB akan melegalkan suatu bangunan yang direncanakan sesuai dengan tata ruang yang telah ditentukan. Selain itu dengan adanya IMB menunjukkan bahwa rencana
67Ibid, 68-69.
68Arief Sabaruddin, Persyaratan Teknis Bangunan, (Jakarta: Griya Kreasi, 2013), h. 8.
konstruksi bangunan tersebut juga dapat dipertanggungjawabkan dengan maksud untuk kepentingan bersama.69
IMB sendiri merupakan perizinan yang diberikan oleh pemerintah daerah kepada pemohon untuk membangun bangunan baru, renovasi/rehabilitasi, dan/atau memugar dalam rangka melestarikan bangunan sesuai dengan persyaratan administrative dan juga persyaratan teknis yang berlaku,70 salah satu produk hukum yang bertujuan untuk mewujudkan tatanan tertentu sehingga tercipta ketertiban, keamanan, keselamatan, kenyamanan, sekaligus kepastian hukum.71
Sasaran dari pengenaan retribusi (objek retsibusi) izin mendirikan bangunan adalah jasa pelayanan pemberian izin mendirikan bangunan, sedangkan yang dapat dijadikan subjek retribusi meliputi orang pribadi atau badan yang memperoleh jasa pelayanan pemberian izin mendirikan bangunan. Yang dimaksud dengan wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi tertentu. Setiap orang atau badan yang menikmati jasa pelayanan pemberian izin mendirikan bangunan wajib membayar retribusi. Oleh karena itu mereka juga menjadi wajib retribusi.
Retribusi izin mendirikan bangunan berlaku dalam masa tertentu, yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk melakukan pembayaran retribusi. Sebelum
69https://id.m.wikipedia.org/wiki/Izin_Mendirikan_Bangunan, diakses pada 24 Agustus 2022.
70Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2010 tentang Pedoman Pemberian Izin Mendirikan Bangunan.
71 https://dpu.kulonprogokab.go.id/detail/249/refresh-and-review-dasar-hukum-izin-mendirikan-bangunan-imb, diakses pada 23 Desember 2021.
memulai pekerjaannya, pemohon izin mendirikan bangunan wajib melunasi biaya retribusi terlebih dahulu.
Besarnya biaya retribusi ditetapkan berdasarkan nilai bangunan, lokasi bangunan, fungsi bangunan, status bangunan, kelas bangunan, tingkat bangunan, dan luas lantai bangunan. Cara mengukur retribusi izin mendirikan bangunan pada umumnya berdasarkan tingkat penggunaan jasa izin mendirikan bangunan, diukut atas faktor luas lantai bangunan, jumlah tingkat bangunan, lokasi bangunan, rencana penggunaan bangunan, dan kontribusi bangunan dan faktor-faktor tersebut diberi bobot koefisien tertentu.
Adapun cara agar bisa mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kabupaten Kampar harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan, yang mana persyaratan itu terdiri dari dua jenis persyaratan, yaitu:
1. Persyaratan Administratif a. Permohonan diatas materai
b. Nomor Induk Berusaha (NIB) dari OSS
c. Rekomendasi Desa dan Rekomendasi Camat Setempat d. Surat keterangan persetujuan batas simpadan dan status tanah e. Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemohon
f. Foto berwarna ukuran 3 x 4 sebanyak 3 lembar g. Sertifikat atau tanda bukti kepemilikan tanah
h. Pelunasan pajak bumi dan Bangunan (PBB) tahun terakhir
i. Akta Perusahaan beserta pengesahannya, dan SIUP TDP (untuk yang berbadan hukum)
j. Surat kuasa (jika pemohon bukan pemilik tanah/bangunan) 2. Persyaratan Teknis
a. KRK (kesesuaian Rencana Kabupaten) sesuai peruntukannya
b. Izin Lingkungan sesuai dengan aturan yang berlaku (SPP/UKL-UPL/AMDAL)
c. Gambar rencana bangunan dalam kertas ukuran A3 yang terdiri dari:
1) Site Plan 2) Sistem drainase
3) Denah dan tampak
4) Potongan, detail pondasi, sloof, ring balok dan kolom.72 5. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan secara umum didefinisikan sebagai arus manfaat ekonomis yang masuk, berasal dari aktifitas suatu organisasi dan berdampak pada kenaikan ekuitas yang bukan merupakan konstribusi dari penanaman modal.
Berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Perundang Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.73
Pendapatan Asli Daerah (PAD) didefinisikan sebagai sumber keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah masing-masing dan diperoleh dengan dasar peraturan daerah mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain itu, PAD juga diartikan sebagai penerimaan sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang disahkan. Pendapat lain mengemukakan bahwa PAD adalah semua pendapatan yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah.74
72Dede Firmansyah, pelaksana fungsional, Penata Perizinan Muda DPMPTSP Kabupaten Kampar, Wawancara, Bangkinang, 24 Agustus 2022.
73Phaureula Artha Wulandari dan Emy Iryanie, Pajak Daerah dalam Pendapatan Asli Daerah, (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018), h. 23.
74Carunia Mulya Firdausy, Kebijakan dan Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah dalam Pembangunan Nasional, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017), h. 20.
Pajak daerah adalah pungutan yang dilakukan pemerintah daerah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Pajak daerah ini dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu pajak daerah yang ditetapkan oleh peraturan daerah dan pajak negara yang pengelolaannya dan penggunaannya diserahkan kepada daerah.
Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atau jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan adalah penerimaan yang berupa hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, yang terdiri dari bagian laba perusahaan daerah air minum, bagian laba lembaga keuangan bank, bagian laba lembaga keuangan nonbank, bagian laba perusahaan milik daerah lainnya dan bagian laba atas penyertaan modal/investasi kepada pihak ketiga.
Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah meliputi hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dapat dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga dan komisi, potong ataupun bentuk lain sebagai akibat penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.
Asas umum dalam penerimaan pendapatan daerah terdiri dari:
a. Semua penerimaan pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola APBD.
b. Setiap satuan kerja yang mempunyai tugas memungut dan/ atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/
atau penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
c. Penerimaan satuan kerja dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
d. Penerimaan satuan kerja berupa uang atau cek harus disetor segera ke rekening kas umum dareah.
e. Setiap penerimaan pendapatan harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.75
Sumber pendapatan pada instansi pemerintah daerah berasal dari:
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD), terdiri dari:
1. Pajak Daerah.
Pajak daerah adalah kontribusi wajib pada daerah yang terutang oleh orang probadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.76
2. Retribusi Daerah.
Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau pekerjaan atau pelayanan pemerintah daerah dan jasa usaha milik daerah bagi yang berkepentingan atas jasa yang diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.77
3. Lain-lain PAD yang Sah.
Pajak daerah dan retribusi merupakan bagian dari pendapatan asli daerah.
Pendapatan asli daerah merupakan salah satu sumber pembiyaan pemerintah daerah dan pembangunan daerah yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan daerah. Meningkatkan pendapatan asli
75Nunuy Nur Afiah, dkk, Akuntansi Pemerintah Daerah Berbasis Akrual pada Entitas Akuntasi, (Jakarta: Kencana, 2020), h. 43.
76Sjafrizal, Perencanaan Pembangunan Daerah Dalam Era Otonomi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 393.
77Rahardjo adisasmita, Pembiayaan Pembangunan Daerah, (Yogyakarta: Graha, 2011), h. 93.
daerah ini diharapkan akan memperlancar jalannya pembangunan dan pemerintahan daerah. Pembangunan dapat berjalan dengan lancar maka peluang untuk kesejahteraan masyarakat diharapkan akan meningkat.
Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) selain pajak, retribusi dan perusahaan daerah adalah lain-lain hasil usaha daerah lain yang sah. Lain-lain usaha daerah yang sah merupakan usaha daerah (bukan usaha perusahaan daerah) dapat dilakukan oleh satu aparat pemerintahan daerah (dinas) yang dalam kegiatannya menghasilkan suatu barang atau jasa dapat dipergunakan oleh masyarakat dengan ganti rugi.78
Pendapatan dari sektor ini berbeda untuk masing-masing daerah tergantung potensi yang dimilikinya, walaupun sumbangan sektor ini masih terbatas tetapi dibandingkan dengan laba perusahaan daerah dan penerimaan dari dinas-dinas daerah, sektor ini lebih baik dalam memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah dan relative merata untuk tiap-tiap daerah. Usaha daerah sebagai sumber pendapatan daerah tersebut harus disetorkan kepada kas daerah dan diatur dalam peraturan daerah. Penerimaan ini mencakup sewa rumah daerah, sewa gedung dan tanah milik daerah, jasa giro, hasil perjualan barang-barang, bekas milik daerah pendapatan hasil eksekusi dan jaminan, denda pajak, dan penerimaan-penerimaan lain yang sah menurut undang-undang.
b. Pendapatan dana pertimbangan/ pendapatan transfer, terdiri dari:
1. Bagi hasil/DAU/DAK/pendapatan transfer pemerintah pusat.
2. Pendapatan transfer pemerintah lainnya.
78Supriatna, Sistem Administrasi Pemerintahan di Daerah, (Jakarta: PT Bumu Askara), h.
198.
3. Pendapatan transfer pemerintah daerah lainnya.
4. Bantuan keuangan.
c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah, terdiri dari:
1. Pendapatan hibah 2. Dana darurat
3. Pendapatan lainnya.79 B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah sarana peneliti untuk mengungkapkan penelitian terlebih dahulu yang relevan dan telah dilakukan sebelumnya terhadap tema atau topik yang hampir mirip dengan penelitian yang direncanakan. Kajian penelitian terdahulu ini bertujuan untuk melihat dan menilai perbedaan penilitian yang direncanakan dengan penelitian sebelumnya.
1. Skripsi karya dari Muhammad Ridho.
Dengan judul Efektifitas “Peraturaan Daerah Kabupaten Kampar Nomor 4 Tahun 2014 tentang Bangunan Gedung (Studi tentang sempadan bangunan jalan Datuk Tabano Kota Bangkinang Kabupaten Kampar).” Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Ridho, penelitian ini memiliki kesamaan dengan penulis, yaitu pembahasan tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
Persamaan penelitian ini dengan kajian penulis adalah sama sama membahas tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB), akan tetapi dalam penelitian ini terdapat perbedaan, dimana penelitian terdahulu ini membehas tentang sempadan, yang mana sempadan itu berarti jarak antar bangunan, dan dalam
79Nunuy Nur Afiah, dkk, Akuntansi Pemerintah Daerah Berbasis Akrual pada Entitas Akuntasi, (Jakarta: Kencana, 2020), h. 44-45.
penelitian terdahulu ini membahas tentang jarak antara bangunan yang dibangun di jalan datuk tabano dengan jalan raya, dan tidak bangunan yang jadi objeknya adalah bangunan seperti rumah toko (ruko), pergudangan, dan juga rumah tinggal.
Sedangkan penelitian yang penulis teliti adalah terfokus pada pemberian izin mendirikan bangunan terhadap bangunan kos-kosan yang ada di Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang.
2. Skripsi karya dari Evi Sahrina
Dengan judul “Implementasi Peraturan Daerah Kota Jambi Nomor 3 Tahun 2015 tentang Izin Mendirikan Bangunan (Studi di kantor Kecamatan Paal Merah Kota Jambi).” Penelitian ini dilakukan oleh Evi Sahrina, penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis teliti, yaitu tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
Kesamaan penelitian ini dengan penulis adalah tentang izin mendirikan bangunan, namun didalam penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu, dalam penelitian terdahulu ini, terfokus hanya pada implementasi dari Peraturan Daerah Kota Jambi Nomor 3 Tahun 2015, dimana penelitian terdahulu ini mengkaji tentang peran pemerintah Kota Jambi dalam penerapan perda tersebut, dan cakupannya adalah di kantor Kecamatan Paal Merah Kota jambi, sedangkan penulis membahas tentang pelaksanaan pemberian izinnya, bukan peran pemerintah daerahnya, dan juga lokasi penelitian ini berbeda, dimana penelitian terdahulu berlokasi di Kota Jambi sedangkan penulis di Desa Rimbo Panjang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.