NON KONVENSIONAL SUMBER ENERGI
4.3.2. Tepung Daun Pisang
Tanaman pisang mempunyai sitematika sebagai berikut : Kelas : Monocotiledon
Famili : Musaceae
Spesies : Musa paradisiaca yaitu pisang-pisang yang enak dimakan, Musa texcilisnoe yaitu pisang-pisang yang hanya diambil pelepah batangnya dan Musa sebrina van hautte yang merupakan tanaman pisang liar yang hanya ditanam sebagai hiasan.
Menurut kegunaannya tanaman pisang dibagi menjadi dua, yaitu musa paradisica forma typica yang merupakan golongan tanaman pisang yang buahnya dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu dan pisang yang dapat dimakan setelah masak (buah segar) yang masuk ke dalam golongan musa paradisica var. sapientum dan Musa nana L. atau musa cavendisher
Tanaman pisang berasal dari Asia Tenggara. Tanaman pisang mudah tumbuh pada lingkungan tropik maupun sub tropik. Pada kondisi musim kering, tanaman pisang tahan hidup karena kandungan air dalam pelepah batang tanaman pisang antara 80 - 90 persen. Tanah yang cocok untuk kehidupan tanaman pisang adalah sedikit asam sampai agak basa atau antara pH 6 sampai 8. Pada tanah asam, tanaman pisang mudah terserang penyakit. Tanaman pisang akan tumbuh
subur dan tumbuh dengan baik bila kadar humus pada tanah relatif tinggi, kondisi ini banyak dijumpai pada tanah liat yang menagndung kapur. Gambar tanaman pisang dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5. Tanaman pisang (www.sengkarai.com)
Sinar matahari mutlak diperlukan oleh tanaman pisang. Iklim yang ideal untuk pertumbuhan tanaman pisang bila kondisi udara lembab, banyak sinar matahari dengan perubahan panas yang tidak menyolok. Sebaliknya pada daerah yang kekurangan sinar matahari, pertumbuhan tanaman pisang akan menjadi lambat.
Tanaman pisang sangat baik di budidayakan pada tanah-tanah vulkanik atau alluvial dengan tekstur lempung, lempung berpasir, atau lempung liat berdebu. Tanah tersebut hendaknya berstruktur longgar (gembur) sehingga mudah menghisap atau melepaskan air. Keasaman tanah berkisar antara 4 - 6 dan pH optimal adalah 6 - 7. Kedalaman tanah (solum) minimal 50 cm. Walaupun pisang
dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi akan lebih baik pertumbuhannya bila di tanam pada struktur tanah yang gembur atau struktur tanah yang remah dan tidak di tanam di tanah yang padas, dan pH tanah yang di kehendaki berkisar 4,5 -7,5. Umumnya tanaman pisang lebih menyukai dataran rendah yang beriklim lembah, ketinggian yang dikehendaki 300 m di atas permukaan air laut. Akan tetapi ia juga mampu hidup sampai ketinggian 1000 m diatar permukaan air laut, namun pada ketinggian tersebut hasil seratnya akan berkurang.
Tanaman pisang dapat hidup di daerah tropis sampai sub tropis. Suhu yang dikehendaki untuk tumbuh dengan normal antara 170C - 300C. Untuk tumbuh normal, tanaman pisang memerlukan curah hujan yang normal minimal 2.000 mm/tahun tetapi tidak menutup kemungkinan di bawah 2.000 mm/tahun, asalkan di adakan pengairan yang teratur karena tanaman pisang membutuhkan air yang cukup. Pengairan di sesuaikan kondisi kelembaban tanah kering/basah. Kelerengan yang dikehendaki tanaman pisang berkisar antara 15 - 25%. Kelerengan di atas 25% juga dapat dimanfaatkan asalkan di buat terasering untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari erosi tanah.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan jarak tanam yakni singkat kesuburan tanah, jenis, atau klon tanaman dan tingkat kemiringan lahan. Pada tanah yang subur, jarak tanam biasanya lebih besar jika di bandingkan pada tanah yang kurang subur. Jenis atau klon tanaman yang berkanopi lebar di tanam dengan jarak yang lebih besar di bandingkan dengan berkanopi kecil. Sedangkan pada tanah dengan topografi berbukit miring, biasanya jarak tanaman lebih besar karena harus mengikuti arah garis kontour. Pada pisang jenis mangundinao kita menggunakan jarak tanam 5 x 5 m ( P x L ) dan dalam kurun waktu empat bulan setelah tanam akan tumbuh 2 - 3 anakan.
Penentuan waktu tanam berkaitan erat dengan kesediaan air di lokasi yang bersangkutan. Saat waktu tanam pisang yang baik adalah beberapa hari menjelang musim hujan tiba, yaitu pada pagi hari jam 07.00 10.30 dan sore hari jam 14.30 -17.00. Mengacu pada usaha konservasi lahan terdapat 2 pola tanam yaitu untuk lahan dataran tinggi ditanam dengan pola monokultur, dan untuk dataran rendah dengan pola tumpang sari. Penanaman dengan pola monokultur untuk dataran
rendah yakni penanaman satu jenis tanaman. Kelemahan monokultur yakni memberi peluang beradanya hama dan penyakit yang tidak pernah putus dan juga terjadinya ledakan hama karena persediaan makan tercukupi. Penanaman tumpang sari dengan cara penanaman tanaman pokok (pisang) dan diantara tanaman pokok juga ditanam satu jenis tanaman lain misalnya kedele, tanaman sela di tanam saat penanam tanaman pokok dan umur tanaman sela harus lebih pendek dari tanaman pokok.
Sesuai dengan kemajuan teknologi, budidaya tanaman pisang mengalami kemajuan. Budidaya tanaman pisang diharapkan untuk mendapatkan hasil yang optimum dan buah pisang yang bermutu tinggi. Hal ini didukung oleh iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang. Walaupun demikian tidak semua wilayah merupakan sentra produksi tanaman pisang. Data produksi tanaman pisang tahun 1989 dapat dilihat pada Tabel 4.14.
Disisi lain budidaya tanaman pisang yang dilakukan oleh masyarakat menjadi penentu sentra produksi tanaman pisang. Produksi tanaman pisang di Indonesia pada tahun 1989 mencapai 2.457.760 ton. Indonesia merupakan penghasil buah pisang terbesar di Asia dengan menguasai produksi sebesar 50 persen dan setiap tahun terus meningkat.
Tabel 4.14. Produksi tanaman pisang tahun 1989
No. Sentra produksi Produksi (ton)
1. Sumatera (total) 263. 061 - Sumatera Utara 75.087 - Sumatera Barat 30.261 - Riau 41.413 - Lampung 45.912 2 Jawa (total) 1.770.770 - Jawa Barat 752.441 - Jawa Tengah 435.516 - Jawa Timur 536.115 - D.I. Yogyakarta 61.999
3. Bali dan NTT (total) 127.943
- Bali 100.182
- NTT 27.761
4. Kalimantan (total) 53.634
- Kalimantan Timur 21.735
- Sulawesi Selatan 159.428
6. Maluku dan irian Jaya (total) 30.924
7. Luar Jawa (total) 606.990
Sumber : Direktorat Hortikultura (1989)
Tanaman pisang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Selain buahnya, bagian tanaman yang lainpun dapat dimanfaatkan mulai dari bonggol sampai daun. Bagian tanaman pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak adalah umbi, batang, jantung pisang dan daun pisang. Pemanfaatannya dapat langsung diberikan kepada ternak, dapat juga dibuat dalam bentuk tepung terlebih dahulu. Cara pembuatan tepung daun pisang mula-mula daun segar dipotong dari pohonnya dan dipisahkan dari pelepahnya. Kemudian daun pisang dikeringkan dengan sinar matahari selama empat sampai tujuh hari dan akhirnya digiling.
Untuk memperbaiki nilai gizi tepung daun pisang maka dalam pakan ternak perlu ditambahkan bahan pakan lain sebagai campuran, seperti tepung ikan dan bekatul. Daun pisang mempunyai kandungan karbohidrat dan energi yang relatif tinggi di antara bahan pakan yang lain. Perbandingan kandungan nutrisi tepung daun pisang dan tingginya kandungan karbohidrat dan energi dalam daun pisang dapat dilihat pada Tabel 4.15. dan 4.16.
Tabel 4.15. Perbandingan kandungan nutrisi tepung daun pisang dengan bahan pakan yang lain.
No. Kandungan nutrisi Macam daun
Ketela Lamtoro Rumput gajah Pisang
1. Air (g) 9.96 7.76 9.50 9.52 2. Abu (g) 7.32 6.90 8.59 5.52 3. Lemak (g) 3.21 3.34 3.52 4.31 4. Protein (g) 13.79 14.10 10.15 9.22 5. Serat kasar (g) 24.13 19.60 16.52 15.21 6. Karbohidrat (g) 43.00 28.30 28.31 33.10
7. Energi met. (kkal) 247.00 199.50 183.00 244.00
Sumber : Santoso (1989)
Tabel 4.16. Kandungan nutrisi tepung daun pisang
No. Zat makanan Kandungan
2. Bahan kering (%) 88.934 3. Protein (%) 14.758 4. Serat kasar (%) 17.905 5. Lemak (%) 7.790 6. Abu (%) 5.603 7. Karbohidrat (%) 60.803 8. Kalsium (%) 0.513 9. Fosfor (%) 0.160 10. Tannin (%) 0.822 11. Alanin (%) 0.585 12. Arginin (%) 0.466 13. Aspartat (%) 0.868 14. Sistin (%) 0.017 15. Glisin (%) 0.466 16. Glutamat (%) 1.255 17. Histidin (%) 0.173 18. Isoleusin (%) 0.433 19. Leusin (%) 0.740 20. Lisin (%) 0.418 21. Metionin (%) 0.148 22. Fenilalanin (%) 0.431 23. Prolin (%) 0.413 24. Serin (%) 0.306 25. Treonin (%) 0.373 26. Triptofan (%) 0.230 27. Valin (%) 0.550 Sumber : Trisaksono (1994)
Kelemahan daun pisang sebagai alternatif bahan pakan unggas adalah adanya faktor pembatas yaitu kandungan tannin. Ada dua golongan tannin di dalam daun pisang yaitu tannin yang bebas yang dapat menyebabkan rasa pahit dan tannin tidak bebas yang sedikit pengaruhnya terhadap palatabilitas. Tannin merupakan polimer fenol yang dapat menurunkan palatabilitas, menghambat kerja enzim dan mempunyai kemampuan untuk mengikat protein. Pada unggas, tannin menyebabkan kejadian penurunan konsumsi. Selain itu juga mengurangi daya cerna protein karena menghambat aktivitas enzim proteolitik khususnya tripsin. Tannin juga menyebabkan retensi nitrogen tertekan dan mengakibatkan penurunan daya cerna asam amino. Daun pisang dapat digunakan sebagai bahan pakan ayam
dan mempunyai pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan ayam petelur (Santoso et al, 1984).
Selanjutnya dilaporkan juga bahwa aras pemberian tepung daun pisang sebesar 9 persen dalam pakan sebagai pengganti daun lamtoro tidak banyak mempengaruhi konsumsi, konversi dan efisiensi pakan ayam broiler. Berdasarkan analisis ekonomi, pemberian tepung daun pisang ternyata lebih ekonomis dari pada daun lamtoro. Rismunandar (1989) menyatakan bahwa daun pisang dapat digunakan untuk makanan sapi dan kerbau pada waktu musim kemarau apabila kekurangan rumput.
Penelitian Trisaksono (1994) menunjukkan bahwa pemberian tepung daun pisang yang ditambahkan enzim sellulase menunjukkan semakin meningkat aras pemberian tepung daun pisang memberi efek terhadap peningkatan konsumsi pakan yang maksimum pada aras pemberian 10 persen, tetapi memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap konversi pakan. Selanjutnya dinyatakan bahwa pemberian tepung daun pisang yang paling baik digunakan sebagai bahan campuran dalam pakan adalah aras 20 persen karena dari hasil analisis varian memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap konversi pakan.