• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.7.1 William’s Flexion Exercise ( WFE) 2.7.1.1 Perkembangan WFE

William’s Flexion Exercise diperkenalkan oleh Dr. Paul Williams.

Program latihan ini banyak ditujukan pada pasien-pasien kronik NPB dengan kondisi degenerasi corpus vertebra sampai pada degenerasi diskus. Program latihan ini telah berkembang dan banyak ditujukan pada laki-laki dibawah usia 50-an dan wanita dibawah usia 40-an yang mengalami lordosis lumbal yang berlebihan, penurunan space diskus antara segmen lumbal, dan gejala-gejala kronik NPB. William’s Flexion Exercise adalah program latihan yang terdiri atas 6 macam gerak yang menonjolkan pada penurunan lordosis lumbal (terjadi fleksi lumbal). William’s Flexion Exercise telah menjadi dasar dalam manajemen nyeri punggung bawah selama beberapa tahun untuk mengobati beragam problem nyeri punggung bawah berdasarkan temuan diagnosis. Dalam beberapa kasus, program latihan ini digunakan ketika penyebab gangguan berasal dari facet joint

(kapsul-ligament), otot, serta degenerasi corpus dan diskus. Posisi posterior pelvic tilting adalah penting untuk memperoleh hasil terbaik.

2.7.1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari William’s Flexion Exercise adalah untuk mengurangi nyeri, memberikan stabilitas lower trunk melalui perkembangan secara aktif pada otot abdominal, gluteus maximus, dan hamstring, untuk meningkatkan fleksibilitas/elastisitas pada grup otot fleksor hip dan lower back (sacrospinalis), serta untuk mengembalikan/menyempurnakan keseimbangan kerja antara group otot postural fleksor dan ekstensor. Disamping itu William’s Flexion Exercise dapat meningkatkan tekanan intra abdominal yang mendorong kolumna vertebralis ke arah belakang, akan membantu mengurangi hiperlordosis lumbal dan mengurangi tekanan pada diskus intervertebralis. William’s Flexion Exercise dapat membantu mengurangi nyeri dengan cara mengurangi gaya kompresi pada sendi facet, dan meregangkan flexor hip dan extensor lumbal (Giasy, 2006).

2.7.1.3 Indikasi dan kontra indikasi WFE

Indikasi dari William’s Flexion Exercise adalah spondylosis, spondyloarthrosis, dan disfungsi sendi facet yang menyebabkan nyeri punggung bawah. Kontra indikasi dari William Flexion Exercise adalah gangguan pada diskus seperti discus bulging, herniasi diskus, atau protrusi diskus.

2.7.1.4 Prosedur Pelaksanaan

Adapun prosedur pelaksanaan William Flexion Exercise adalah sebagai berikut :

a. Latihan I (pelvic tilting)

Gambar 2.12 Latihan I / pelvic tilting (Dokumen pribadi, 2015)

Posisi pasien tidur terlentang dengan kedua lutut fleksi dan kaki datar diatas bed/lantai. Datarkan punggung bawah melawan bed tanpa kedua tungkai mendorong ke bawah. Kemudian pertahankan 5 – 10 detik.

b. Latihan II (single knee to chest)

Gambar 2.13 Latihan II/Single knee to chest (Alfin 2010)

Posisi pasien tidur terlentang dengan kedua lutut fleksi dan kaki datar di atas bed/lantai. Secara perlahan tarik lutut kanan kearah bahu dan pertahankan 5 – 10 detik. Kemudian diulangi untuk kiri dan pertahankan 5 - 10 detik.

c. Latihan III (double knee to chest)

Gambar 2.14 Latihan III/Double knee to chest (Alfin, 2010)

Mulai dengan latihan sebelumnya (latihan II) dengan posisi pasien yang sama. Tarik lutut kanan ke dada kemudian lutut kiri ke dada dan pertahankan kedua knee selama 5 – 10 detik. Dapat diikuti dengan fleksi kepala/leher (relatif) kemudian turunkan secara perlahan-lahan salah satu tungkai kemudian diikuti dengan tungkai lainnya.

d. Latihan IV (partial sit-up)

Gambar 2.15 Latihan IV/Partial sit-up (Alfin, 2010)

Lakukan pelvic tilting seperti pada latihan I. Sementara mempertahankan posisi ini angkat secara perlahan kepala dan bahu dari bed/lantai, serta pertahankan selama 5 detik. Kemudian kembali secara perlahan ke posisi awal.

e. Latihan V (hip fleksor stretch)

Gambar 2.16 Latihan V/Hip flexor strech (Alfin, 2010)

Letakkan satu kaki didepan dengan fleksi lutut dan satu kaki dibelakang dengan lutut dipertahankan lurus. Fleksikan punggung ke depan sampai lutut kontak dengan lipatan axilla (ketiak). Ulangi dengan kaki yang lain.

f. Latihan V (squat)

Gambar 2.17 Latihan VI squat (Alfin, 2010)

Berdiri dengan posisi kedua kaki paralel dan kedua shoulder disamping badan. Usahakan pertahankan trunk tetap tegak dengan kedua mata fokus ke depan & kedua kaki datar diatas lantai. Kemudian secara perlahan turunkan badan sampai terjadi fleksi kedua lutut.

2.7.2 Short Wave Diathermy

Short wave diathermy adalah modalitas terapi yang menghasilkan energi elektromagnetik dengan arus bolak balik frekuensi tinggi. Federal

Communications Commision (FCC) telah menetapkan 3 frekuensi yang digunakan pada Short Wave Diathermy, yaitu :

1) Frekuensi 27,12 MHz dengan panjang gelombang 11 meter.

2) Frekuensi 13,56 MHz dengan panjang gelombang 22 meter.

3) Frekuensi 40,68 MHz (jarang digunakan) dengan panjang gelombang 7,5 meter.

Frekuensi yang sering digunakan pada SWD untuk tujuan pengobatan adalah frekuensi 27,12 MHz dengan panjang gelombang 11n meter (Klein, 2006).

a. Arus

Short Wave Diathermy yang digunakan dalam pengobatan mempunyai 2 arus yaitu arus Continuos SWD dan Pulsed SWD.

1) Continous Short Wave Diathermy (CSWD)

Pada penerapan Continous SWD, energi thermal dominan terjadi dalam jaringan. Setiap jaringan yang menerima panas memiliki tahanan yang berbeda-beda. Jaringan lemak cepat menyerap panas daripada otot (1 : 10), sedangkan jaringan otot lebih cepat menyerap panas daripada kulit. Secara fisiologis, jaringan otot tidak memiliki “thermosensor” tetapi hanya pada jaringan kulit, sehingga dengan adanya rasa panas di kulit saat pemberian Continous SWD maka sebenarnya sudah terjadi overthermal pada jaringan otot dibawahnya karena jaringan otot lebih cepat menerima panas daripada kulit. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa jika panas yang diterima jaringan melebihi batas tertentu maka jaringan akan menjadi rusak, ukuran subyektif sebagai batas tertentu adalah jika penderita merasa hangat.

Menurut Klein (2006) bahwa para peneliti menyatakan pemberian Continous SWD pada kondisi artrose adalah kontraindikasi, dan bahkan sebagian besar penelitian melarang pemberian Continous SWD pada arthritis. Hal ini disebabkan karena didalam sendi terdapat suatu asam “Hyaluronik” yang suhu optimalnya adalah 36,7o, dan sangat sensitif terhadap penambahan suhu. Dengan penambahan suhu 1o saja (terjadi pada pemberian CSWD) maka suhunya menjadi 37,4o, sementara pada suhu 37o saja akan mengaktifkan cairan/enzym hyaluronidase yang dapat merusak ujung-ujung tulang rawan sendi, dan kita ketahui bahwa kerusakan tulang rawan sendi tidak akan pernah mengalami regenerasi/reparasi. Continous SWD utamanya menimbulkan efek thermal, sehingga menghasilkan efek fisiologis berupa peningkatan sirkulasi darah dan proses metabolisme.

2) Pulsed Short Wave Diathermy (PSWD)

Sekitar tahun 2000, mulai digalakkan penelitian baru terhadap Pulsed SWD sebagai salah satu efek terapi baru bagi SWD. Dalam penelitian tersebut dilakukan penerapan Pulsed SWD pada hapusan susu, dan ternyata pada hapusan susu tersebut terlihat suatu bentuk “untaian kalung”. Kemudian bentuk tersebut juga terjadi pada cairan darah, dan limpha. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa Pulsed SWD sangat bermanfaat dalam menghasilkan efek terapeutik, sedangkan efek fisiologisnya hanya timbul sedikit (pengaruh panas hanya minimal). Pada Pulsed SWD, mempunyai energi/power output yang maksimum sampai 1000 W. Meskipun demikian, energi/power output rata-rata adalah jauh lebih rendah yaitu antara 0,6 – 80 watt (tergantung pada pemilihan

(frekuensi pulse repetition) sehingga memungkinkan aplikasi pengobatan subthermal dengan peningkatan efek-efek biologis. Oleh karena itu, terapi Pulsed SWD sangat cocok untuk pengobatan terhadap gangguan-gangguan akut dimana terapi panas merupakan kontra indikasi. Jika kita menerapkan Pulsed SWD (PSWD), maka akan menghasilkan pulsasi rectangular dengan durasi pulsasi 0,4 ms. Power maksimum dari pulsasi tersebut dapat diatur sampai 1000 W. Ketika menggunakan aplikasi kondensor maka energi power dapat diatur sampai nilai maksimum. Interval pulsasi yang dihasilkan bergantung pada pemilihan frekuensi pulsasi repetition (15 – 200 Hz), sedangkan ukuran produksi panas dalam Pulsed SWD adalah mean power (watt). Mean power yang dihasilkan sangat bergantung pada pemilihan intensitas arus dan frekuensi pulsasi repetition. Semakin rendah frekuensi pulsasi repetition yang dipilih maka semakin rendah mean powernya.

Dengan demikian, penerapan Pulsed SWD dapat memungkinkan kita memilih intensitas arus yang tinggi (power pulsasi) dengan pemilihan frekuensi pulsasi repetition yang selektif dan sesuai dengan kondisi penyakit/gangguan.

b. Efek Fisiologis

1) Perubahan panas/temperatur a) Reaksi lokal/jaringan

(1) Meningkatkan metabolisme sel-sel lokal sekitar + 13% setiap kenaikan temperatur 1º C.

(2) Meningkatkan vasomotion sphincter sehingga timbul homeostatik lokal dan akhirnya terjadi vasodilatasi lokal.

b) Reaksi general

(1) Mengaktifkan sistem thermoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan kenaikan temperatur darah untuk mempertahankan temperatur tubuh secara general.

(2) Penetrasi dan perubahan temperatur terjadi lebih dalam dan lebih luas 2) Jaringan ikat

Meningkatkan elastisitas jaringan ikat lebih baik seperti jaringan collagen kulit, tendon, ligamen dan kapsul sendi akibat menurunnya viskositas matriks jaringan; pemanasan ini tidak akan menambah panjang matriks jaringan ikat sehingga pemberian SWD akan lebih berhasil jika disertai dengan latihan peregangan.

3) Otot

a) Meningkatkan elastisitas jaringan otot.

b) Menurunkan tonus otot melalui normalisasi nosisensorik, kecuali hipertoni akibat emosional dan kerusakan SSP.

4) Saraf

a) Meningkatkan elastisitas pembungkus jaringan saraf.

b) Meningkatkan konduktivitas saraf dan meningkatkan ambang rangsang (threshold).

c. Indikasi SWD

Indikasi SWD baik continuos SWD maupun pulsed SWD adalah kondisi-kondisi subakut dan kronik pada gangguan neuromuskuloskeletal seperti sprain/strain, osteoarthritis, servical syndrom, NPB dan lain-lain.

d. Kontraindikasi

Kontra indikasi dari continuos SWD adalah pemasangan besi pada tulang, tumor atau kanker, pacemaker pada jantung, tuberkulosis pada sendi, Rematoid Arthritis pada sendi, kondisi menstruasi dan kehamilan, regio mata (lensa kontak ) dan testis. Kontra indikasi dari pulsed SWD adalah tumor atau kanker, pacemaker pada jantung, regio mata dan testis, kondisi menstruasi dan kehamilan. Pada gangguan akut neuromuskuloskeletal merupakan kontra indikasi dari continuos SWD tetapi bagi pulsed SWD bisa diberikan dengan pulsa yang rendah (Klein, 2006).

2.7.3 Interferential Terapy (IT)

Arus interferensial merupakan hasil penggabungan dari dua arus frekuensi menengah yang masing-masing mepunyai frekuensi yang berbeda sehingga akan menimbulkan frekuensi dengan amplitudo yang mengalami modulasi yang dikenal sebagai Frekuensi Modulasi Amplitudo (Amplitude Modulation Frequency) atau disingkat AMF. Frekuensi yang digunakan antara 200-4000 Hz.

Di penelitian frekuensi arus interferensial yang pernah digunakan mencapai 100.000 Hz yang dilakukan oleh Gildemeister, Alex, dkk 2002 (Parjoto, 2006).

Modifikasi FMA adalah sebagai berikut :

a. Model spektrum 6/6 tegak (6 detik naik kepuncak frekuensi kemudian 6 detik berikutnya frekuensi bergerak menuju ke nilai awal).

b. Model spektrum 1/6 tegak (1 detik pertama sampai puncak frekuensi, bertahan selama 5 detik kemudian turun ke frekuensi semula 1 detik berikutnya).

c. Model spektrum 1/1 (1 detik pada frekuensi awal lalu naik ke frekuensi maksimal bertahan selama 1 detik kemudian turun dan siklus ini berlangsung selama terapi diberikan.

Dokumen terkait