2.3 LOW BACK PAIN .1 Definisi Low Back Pain
2.3.5 Terapi Low Back Pain
Tatalaksana pada pasien LBP bergantung dari riwayat pasien dan tipe dari nyeri yang diderita oleh pasien. Dengan terapi tanpa pembedahan, sebagian besar pasien dengan LBP akan sembuh dalam enam bulan. Jika tidak ada perbaikan, diagnosis lebih lanjut dan pembedahan disarankan untuk dilakukan.13
2.3.5.1 Terapi Non bedah
Terapi pasien dengan LBP dimulai dengan istirahat atau tirah baring untuk membatasi aktivitas pasien. Istirahat ini dapat mengurangi inflamasi dan mengurangi spasme otot yang menyebabkan nyeri.14 Istirahat juga dapat memberikan kesempatan perbaikan pada syaraf yang cedera. Namun, istirahat tirah baring melebihi dua hari tidak disarankan karena hal ini dapat merusak tulang, jaringan lunak, otot, dan sistem peredarahan darah.15
Jika LBP disertai dengan fraktur dari sebagian vertebrae, pasien direkomendasikan menggunakan korset rigid selama dua atau tiga bulan. Penggunaan korset rigid juga dapat membatasi pergerakan sendi lumbosakral sehingga mengurangi risiko cedera sendi lebih lanjut.14
Penggunaan terapi medikasi pada terapi LBP juga dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri. Obat-obatan yang digunakan pada umumnya berasal dari golongan NSAIDs, muscle relaxant, dan antidepresan.15 Selain itu, nyeri juga dapat dihindari dengan menghindari posisi atau gerakan tubuh yang dapat mencetuskan nyeri. Oleh karena itu, pemilihan posisi yang membuat pasien nyaman sangat penting untuk melindungi pasien dari kecelakaan sendi,
mereduksi gejala, dan mencegah cedera lebih lanjut.15 Walaupun demikian, pasien dengan LBP juga perlu melakukan latihan-latihan untuk memperbaiki fleksibilitas dari punggung dan hamstring serta untuk menguatkan kembali otot-otot punggung dan abdominal.14
2.3.5.2 Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan dilakukan jika terapi nonbedah tidak memperbaiki keadaan pasien LBP dan jika telah diketahui pasti penyebab dari LBP yang telah dibuktikan gambaran radiologi, MRI, atau CT-scan. Pada pasien LBP dengan spondilolisthesis misalnya, pembedahan dilakukan jika terjadi pergeseran vertebrae berat yang menyebabkan kesulitan berjalan, perubahan pada fungsi ekskresi (bowel and bladder), dan perburukan fungsi syaraf.15
Pembedahan pada pasien MBP dapat berupa laminektomi, mikrodistektomi, dan fusi. Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengurangi kompresi dari radiks syaraf. Dengan dilakukan pembedahan ini, diharapkan penyebab utama dari LBP dapat diatasi dan pasien tidak menderita nyeri lagi.13,14 2.3.5.3 Rehabilitasi
Terapi rehabilitasi biasanya memerlukan waktu latihan beberapa kali selama empat hingga enam minggu. Beberapa kasus memerlukan waktu lebih panjang untuk menjalani terapi hingga selesai.14
Tujuan utama dari terapi rehabilitasi ini adalah untuk mengontrol gejala LBP. Terapis akan membantu pasien menemukan posisi dan pergerakan yang dapat mengurangi rasa nyeri. Terapi menggunakan panas (IRR, MWD, dan SWD), dingin (cryoterapi), ultrasound (US), dan stimulasi elektrik (TENS) juga dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot.14
Latihan yang dijalani pasien LBP adalah peregangan otot-otot paha. Seiring dengan perbaikan kondisi pasien, dilakukan juga latihan untuk menguatkan otot-otot abdominal dan otot-otot punggung. Latihan ini dilakukan pada otot-otot tersebut untuk membantu pasien agar mudah bergerak dan mengurangi permasalahan nyeri di waktu mendatang jika nyeri ini kambuh lagi.
Sebenarnya latihan peregangan otot tidak dibatasi pada otot-otot ini saja karena semua otot menahan tulang belakang lumbal dan korset pelvic dapat diseimbangkan dan stretching yang regular dapat membantu memperbaiki gerakan yang normal tulang belakang dan pelvis. Stretching menggunakan gerakan dinamik postural (yoga postur) dapat secara khusus menolong karena dapat memperbaiki keseimbangan otot tulang belakang dan korset pelvic.15
Latihan ini biasanya bersatu dengan program rehabilitasi yang lebih komprehensif, meliputi latihan stabilisasi. Tujuan latihanini adalah untuk mengajarkan kepada pasien bagaimana menemukan tulang belakang yang normal selama latihan setiap hari. Posisi normal tulang belakang berbeda untuk setiap individu, dibedakan oleh pelvis dan postur tulang belakang yang menempatkan penekanan terakhir pada elemen tulang belakang dan struktur pendukung. Stabilisasi spinal menekankan aktivasi yang sinergis dari trunkus dan otot-otot pada posisi tengah karean kekuatan otot abdominal dan otot-otot gluteal. Selain itu, memungkinkan pasien untuk melatih otot-otot yang mendukung trunkus dan tulang belakang sehingga dapat mengurangi seluruh penekanan dari tulang belakang.14
2.3.5.4 Edukasi
Edukasi pasien sangat penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi dari tulang belakang. Pada masa akut, pasien harus memeiliki pengertian yang baik atas kondisi mereka dan kemungkinan efek merugikan dari tirah baring yang lama. Instruksi pada postur yang sesuai dan mekanik tubuh dengan aktivitas sehari-hari sangat penting untuk setiap pasien. Bila nyeri menjadi tidak terkontrol, pasien harus aktif pada program rehabilitasi tulang belakang yang meningkat yang kemudian dapat digabungkan dengan program latihan rumah untuk melanjutkan kekuatan fungsi. Strategi keamanan punggugn dan proteksi sendi disatukan melalui proses rehabilitasi.15
Prognosis mencakup prognosis klinis dan prognosis fungsional. Tujuan dari menentukan prognosis adalah untuk memberikan penilaian terhadap perkembangan lebih lanjut dari penyakit yang diderita.16
2.3.6.1 Prognosis Klinis
Secara klinis, prognosis LBP bergantung dari etiologi LBP, tata laksana yang akan dijalani oleh pasien, kepatuhan pasien, dan latihan-latihan yang akan dilakukan oleh pasien. Pasien sedang menjalani fisioterapi berupa pemanasan dalam (SWD dan IRR), TENS, dan disarankan untuk menggunakan korset. Jika pasien patuh, mengikuti latihan dan tata laksana dengan baik, prognosis secara klinis dari pasien ini adalah dubia ad bonam.16
2.3.6.2 Prognosis Fungsional
Prognosis secara fungsional dapat dinilai dengan menggunakan standar fungsional Functional Independence Measure (FIM), Indeks Katz, atau Indeks Barthel. Secara umum yang dinilai adalah fungsional aktivitas pasien yang mencakup kegiatan sehari-hari, yaitu makan, mobilitas, mandi, personal toilet, berpakaian, mengatur BAB dan BAK. Pasien ini dapat dapat melakukan semua kegiatan tersebut secara mandiri, tetapi ada keterbatasan gerak pada saat duduk, hendak berdiri, dan beribadah (sholat). Dengan program rehabibiltasi tulang belakang yang aktif dan terfokus, prognosis dari pasien ini untuk dapat beraktivitas yang bebas dari nyeri sangat baik, walaupun beberapa pasien LBP menetap dan membutuhkan lebih banyak intervensi. Oleh karena itu, prognosis fungsional pasien ini adalah dubia ad bonam.16