B. Sistem 180 derajat oleh Norkin dan White
IX. TERAPI MEDIKAMENTOSA
Apakah pasien memerlukan obat – obatan tertentu ( misalnya penggunaan OAINS / Obat Anti Inflamasi Non Steroid ), nerotropik, anti spasme otot, anti anxietas, anti depresan atau perawatan tertentu, pengaturan posisi tubuh tertentu untuk pencegahan pengaruh skunder dari penyakit atau Misalnya perawatan kandung kemih, perawatan ulkus dekubitus, perawatan tulang yang patah , perawatan stump ( puntung ) setelah menajalani amputasi dll .
Penggunaan obat –obatan harus benar –benar mempertimbangkan aspek farmakologi obat .
X. PROGRAM REHABILITASI MEDIK
Melakukan latihan posisi
Pada penderita yang mengalami atau ada kecendrungan mengalami imobilisasi lama ditempat tidur harus segera dilakukan pengaturan dan perubahan posisi setiap 2 jam . Dipilih 2 jam karena daya tahan pembuluh
darah dalam menahan tekanan selama 2 jam, bila lebih dari 2 jam jaringan pembuluh darah yang tertekan akan mengakibatkan iskemik jaringan yang akan berlanjut menjadi nekrosis dan terjadilah ulkus . Latihan ROM diperlukan karena persendian yang tidak digerakkan ( baik secara aktif maupun pasif ) akan berakibat berkurangnya nutrisi dari komponen persendian tersebut, yang akan berlanjut menjadi perlengketan sendi sehingga sendi – sendi menjadi kaku dan keterbatasan ROM .
Fisioterapi : Terapi panas Indikasi :
a. Efek analgesik : neuralgia, strain otot / tendo, spasme otot,myalgia Efek antiinflamasi : setelah fase akut
b. Meningkatkan suhu jaringan , terjadi vasodilatasi / perbaikan blood
flow
c. Terapi fisik sebelum terapi latihan, peregangan atau stimulasi listrik Terapi panas dibagi dalam 2 golongan berdasarkan dalamnya penetrasi ke tubuh yaitu :
1. Terapi panas dangkal ( superfisial ) : yang dibagi lagi atas golongan panas kering ( dry heat ) seperti : lampu infra merah, lampu biasa, botol air panas dan bantal pemanas listrik, serta golongan panas basah ( moist heat ) : air hangat, hydrocolor pack ( HCP ), uap air panas,
paraffin wax bath
2. Terapi panas dalam ( deep heating / diathermy ), dimana panas dapat masuk lebih dalam sampai ke otot dan tulang, dan dikenal 3 modalitas yaitu : Short Wave Diathermy ( SWD ), diatermi golombang pendek frekwensi ultra tinggi ( gel 3 – 30 m, frekwensi 10 – 100 megacycle / detik. Dalam penetrasi 1 – 2 cm . Dosis yang fixed tidak ada meskipun pada tiap alat ada pegangan umum anjuran, tetapi harus disesuaikan dengan penerimaan ( toleransi panas ) penderita. Kontra indikasi untuk kehamilan , methalic implan dan pacemamaker jantung ,
Micro Wave diathermia ( MWD ) , diatermi berdasarkan konversi enersi radiasi electro magnetik ( gelombang radar ), dengan frekwensi 2.456 atau 915 MHz dimana penetrasi frekwensi 915 lebih dalam ( lebih dalam dari SWD, tetapi frekwensi 2.456 kurang dari SWD ) . Juga tidak ada dosis yang fixed sama seperti SWD. Kontra indikasi untuk kehamilan, metalic implan , pacemaker jantung, kantongan cairan didalam tubuh dan daerah mata .
Ultarasound Diathermia ( USD ), diatermi berdasarkan konversi suara frekwensi tinggi ( hight feq acoustic vibration ) . Penetrasi dalam 3 – 5 cm ) . keuntungan USD dibandingkan dengan SWD & MWD
Dosis dapat ditentukan secara umum ( dosis fixed ) Tidak ada kontra indikasi terhadap metal
Punya efek masase ( micromassage) sehingga lebih efektif pada terapi kontraktur jaringan ikat serta nyeri otot terutama yang berhubungan dengan nyeri MTPS ( Myofascial Trigger Point Syndrome )
Dapat dikombinasikan untuk tujuan memasukkan bahan kimia untuk terapi melalui kulit ( hidrokortison, salisilat, lokal anetesi ), disebut phenophoresis
Kontra indikasi USD .
Pemberian pada mata , daerah otak, medula spinalis post laminectomi, daerah kehamilan, pacemaker jantung, langsung daerah prekardiak, lokasi post radioterapi, daerah epifise yang sedang tumbuh, post op ganti sendi dengan bahan dari methyl methacrylate/ polyethylene ( karena di khawatirkan dapat mencairkan komponene plastiknya) daerah neoplasma .
Kontra indikasi umum untuk terapi panas 1. Radang / inflamasi akut dan KP akut 2. Trauma akut ( 72 jam pertama )
3. Gangguan vaskuler ( obstruksi vena , insufiensi arteri / iskemia ) 4. Diastesis hemoragik / gangguan koagulasi
5. Malignansi
6. Penyakit jantung koroner ( tidak absolut )
7. Gangguan sensasi ( tidak absolut ), perlu diingatkan pada pasien dan dimonitor dengan tangan terapis
8. Pasien yang tidak kooperatif ( anak – anak dan orang usia lanjut ) perlu kehati – hatian dan dimonitor )
Teknik pemberian terapi panas dari masing – masing alat biasanya didapatkan pada masing – masing brosur .
Terapi dingin
Efek yang diharapkan a. Efek analgesik
b. Menghilangkan spasme otot
c. Mengurangi spastisitas terutama pada cidera medula spinalis d. Taruma akut : mengurangi perdarahan, mengurangi edema dan
mengurangi kompresi syaraf dan kapiler
e. Khusus pada terapi spesifik pada MTPS ( Myofasial Triger pain syndrome ) atau Fibromyalgia dengan menggunakan spray chlorethyl
f. Menenangkan proses trauma akut ( dalam 72 jam setelah trauma ) . Pada trauma akut sering dikenal dengan slogan RICE ( Rest , Icing. Compresi dan Elevasi ) , yang bertujuan agar perdarahan berhenti, edema berkurang, rasa nyeri hilang . Pada peradangan sendi kronis, terapi dingin ternayata juga berguna didalam hal mengurangi / menghilangkan nyeri, menambah fleksibilitas jaringan dan mungkin penambahan luas gerak sendi .
Teknik pemberian
1. Massase es – dengan menggosokkan es secara langsung pada daerah yang di terapi selama 5 – 7 menit, 2 – 3 kali sehari 2. Kompres es – dilakukan selama 20 menit, 2 – 3 kali sehari 3. Semprot dingin ( cooling spray / vapocoolant spray ), misalnya
dengan Chloretyl spray atau Fluorida – methane . terutama digunakan untuk spasme otot dan trigger point syndrome . Kontara indikasi terapi dingin
1. Gangguan vaskuler ( Raynaut phenomenon , iskemik lokal atau statis
2. Alergi atau intoleransi terhadap dingin Terapi massase
Beberapa istilah yangsering digunakan yaitu : Pijat ( Kneading ), urut ( stroking ), perkusi ( pukulan ) , vibrasi ( getaran )
Kontra indikasi massase 1. Infeksi
2. Proses malignansi
3. gangguan vaskuler misalnya neva thrombosis, diatase hemoragik 4. Inflamsi akut
5. penyakit kulit Traksi leher dan traksi pelvis
Dengan memberikan traksi diharapkan terjadi peregangan ( stretchingb) jaringan lunak dan terjadi pelebaran ruang sendi
Manual cervical traction yaitu traksi leher dengan tanpa menggunakan alat
traksi listrik ( non motorized cervical traction ) , yaitu hanya menggunakan sling dan sistim puley ( katrol ) yang digerakkan secara manual, atau hanya menggunakan tangan terapis.
Pada traksi leher , posisi penderita dapat duduk atau berbaring telentang dengan kepala fleksi kedepan 100 - 200 , beban 5 – 10 kg . Umumnya beban akhir dipilih 10 kg .
Terapi latihan
1. Latihan ROM ( melakukan gerakan pada persendian baik secara aktif bila kekuatan otot 2 atau lebih, atau secara pasif bila kekuatan otot kurang dari 2 )
2. Latihan penguatan ( strengthening exercise )
Syarat : kekuatan otot diatas fair ( F 50 % ) atau 3 atau lebih Beban harus diatas 35% kemampuan otot
a. Isometric / stattic exercise : adalah kontraksi otot , tidak ada gerakan sendi ( statis ) . Diakatan cukup kontraksioptimal selama 6 detik 1 kali sehari . Hati – hati pada penderita hipertensi dan PJK
b. Isotonic exercise : kontraksi otot bersamaan dengan gerak sendi
≅ Concentric contraction : kontraksi memendek
≅ Eccentrik contraction : kontraksi memanjang
Dikenal istilah PRE ( Progresisive resisitence exercise - beban meningkat bertahap )
c. Isokinetik exercise
Prinsip latihan merupakan gabungan antara isometrik dan isotonik, sehingga hasil optimal, boleh untuk penderita hipertensi dan PJK . Memerlukan alat khusus ( misalnya Cybex Norm ) yang dapat mengatur beban secara dinamik, tetapi kecepatan gerak tetap ( statik ) sepanjang waktu latihan . Sering dipakai pada pusat – pusat kebugaran dan pusat latihan atlit .
3. Latihan peregangan ( stretching exercise ) latihan untuk persendian yang mengalami keterbatasan gerak ( kontraktur ) , dengan melakukan
peregangan paksa sesuai toleransi nyeri . 4. Latihan pola khusus
William’s flexion exercise untuk LBP Meckenzi ( latihan ekstensi ) untuk LBP
Codman’s pendulum exercise untuk Frozen shoulder Cailliet’s neck exercise untuk cervical root syndrome Frenkle exercise untuk ataxia atau penyakit Parkinson Latihan otot dasar panggul ( Pelvic Floor Exercise ) untuk
penguatan otot – otot dasar panggul
Latihan otot – otot abdomen dan diapragma ( otot – otot mengedan ), baik untuk pasien dengan retensio urine akibat kelemahan otot yang berfungsi saat mengedan serta pada wanita hamil untuk mempermudah mengedan saat melahirkan .
Scoliotic exercise : pola Klapp
Latihan drainase postural : untuk mengeluarkan timbunan sputum dalam paru – paru seperti pada pasien PPOK
Latihan pernafasan ( pernafasan dada, pernafasan perut, latihan otot – otot bantu pernafasan ) , Pursed Lips Breathing exercise yaitu latiahan dengan inspirasi dalam melalui hidung dan lebih cepat kemudian ekspirasi secara lambat dengan melalui mulut dengan mulut mencucur .
Latihan reedukasi otot ( misalnya setelah tendon transfer ) 5. Latihan Bobath ( Nerve Developmental Therapy )
Prinsip latihan Bobath
Inhibisi : Refleks postural yang abormal , sikap tubuh yang abnormal maupun pola gerak yang abnormal .
Dengan cara melakukan pengaturan posisi tubuh tertentu, misalnya spastisitas ekstensor dapat dihambat dengan cara mengartur anak dalam posisi fleksi
Fasilitasi
Yaitu upaya untuk memberikan kemudahan
Teknik – teknik fasilitasi ini banyak sekali, dan yang diberikan fasilitasi adalah gerakan – gerakan yang lebih normal
Stimulasi
Stimulasi biasanya diberikan pada kondisi flaksid / hypotonus . tekniknya dapat erupa kompresi, tapping atau stroking .
Dalam pelaksanaannya ketiga teknik ini dilakukan secara bersama – sama agar hasilnya lebih memuaskan, misalnya setelah inhibisi maka tonus otot mulai menurun lalu dilanjutkan dengan fasilitasi bila diperlukan dapat dilakukan kompresi atau teknik stimulasi yang lain .
Key point of control ( KPOC ) yaitu tempat – tempat tertentu yang paling efektif untuk memberikan inhibisi . Biasanya sendi – sendi proksimal misalnya panggul, bahu dll .
Okupasi terapi adalah terapi untuk memberikan latihan penguatan, latihan koordinasi otot, latihan melakukan ADL dengan mengg unakan alat, permainann atau simulasi serta edukasi .
Latihan ADL misalnya menulis, makan, minum, memakai pakaian, gosok gigi, menyisir rambut, berhias . Melatih fungsi tangan untuk gerakan – gerakan motrik halus dan koordinasi pada penderita yang megalami kelumpuhan otot tangan misalnya latihan menggengam, latihan menjipit, latihan memindahkan benda dll. Latihan berpindah tempat dari kursi roda ke tepat tidur
atau sebaliknya . latihan pindah tempat dari tempat tidur ke kursi roda, dari kursi roda ke Closet dll .
Memberikan petunjuk atau edukasi sikap tubuh yang ergonomis ( sikap yang baik dan benar ) saat beraktivitas . Yaitu sikap yang dapat meminimalkan beban muskuloskeletal . Sikap duduk, sikap mengangkat beban, sikap dalam kendaraan, penyesuaian saat ibadah sholat ( bagi Muslim ) dengan posisi duduk dikursi menhadap ke meja dll . dalam kondisi tertentu dapat dilakukan penyesuaian terhadap lingkungan misalnya pada penderita Osteoartritis sendi lutut diupayakan menggunakan Closet duduk, atau melobangi kursi agar dapat mengurangi beban sendi lutut . Pada pasien yang mengalami keseimbangan saat berdiri diupayakan membuat pegangan tangan ( hand rail ) di kamar mandi untuk mencegah agar pasien tidak jatuh / terpeleset . Pada anak – anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dapat diberikan latihan dengan permainan yang menarik dan edukatif . Pada anak – anak yang megalami kelumpuhan dapat melakukan modifikasi tempat duduk sehingga anak tersebut dapat duduk sabil bemain .
Ortotik prostetik : Apakah memerlukan alat bantu misalnya Korset, brace, collar servikal , protesa atas lutut / bawah lutut , tongkat ( cane ), tongkat ketiak, tongkat kaki tiga , walker, kursi roda, sepatu koreksi dll . Diberikan latihan dan edukasi menggunakan alat – bantu / alat ganti tersebut agar penderita dapat menggunakannya secara baik dan benar dan pasien mengeri manfaat alat tersebut . Terapi wicara : apakah ada hambatan komunikasi atau gangguan otot – otot
bicara dan otot – otot yang berperan saat menelan .
Untuk anak – anak apakah ada gangguan pemusatan perhatian, hiper aktif dll .
Psikologi : memberikan Psikoterapi teradap pasien – pasien yang mengalami depresi , anxietas, kehilangan motivasi. Dapat dilakukan oleh Psikolog . Secara garus besar dapat disimpulkan bahwa peran psikolog didalam team rehabilitasi mepunyai tugas antara lain 1. Membantu mempersiapkan penderita secara mental selama
menjalani perawatan medis (misalnya operasi, amputasi, dll ) dan selama dalam proses pemulihan
2. Mengurangi tegangan emosi
3. Membantu memecahkan problem – problem emosi yang timbul
4. Membantu mengembalikan kepercayaan pada diri sendiri 5. Membantu mempersiapkan lingkungan sosial dimana
penderita berada ( misalnya lingkungan keluarga, kerja, sekolah, masyarakat dll )
Sosial medik : untuk kasus kasus yang berhubungan dengan asuransi, visum et repertum, pasien terlantar, memberikan petunjuk tentang aktivitas dirumah setelah pulang ( kunjungan rumah ) baik secara langsung pada pasien maupun terhadap keluarganya, sebagai penghubung antara pasien dan atasan pasien tempat dia bekerja sekolah agar penderita tidak dipecat atau diberhentikan dari sekolah atau pekerjaannya . Bila memungkinkan dapat diberikan saran untuk alih bentuk / jenis pekerjaan .