BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.6 Pembahasan
5.6.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.6.2.6 Terapi Pemberian ADO Tunggal dan Kombinasi Pada
Dari hasil penelitian terlihat bahwa dari 97 pasien yang menggunakan obat antidiabetik berdasarkan pengelompokkan jenis terapi yang digunakan, untuk pemberian ADO tunggal sebanyak 73 pasein terbanyak adalah Metformin, selanjutnya adalah Glikuidon. Sedangkan untuk ADO kombinasi sebanyak 24 pasien terbanyak adalah Gliquidone dan Gludepatic.
Untuk pemberian antidiabetik oral berupa Metformin pada proses awal terapi telah sesuai dengan apa yang telah diterbitkan PERKENI, dimana Metformin merupakan antidiabetik oral pilihan utama (Soegondo, 2002). Karena Metformin mampu mengendalikan kondisi glikemia menjadi normal dan menurunkan efek toksik glukosa pada pankreas sehingga dapat memperbaiki fungsi sel ß (Sterne, 2007). Pemberian Metformin ini sendiri biasanya digunakan untuk pasien yang obesitas atau kegemukan, dilihat dari hasil penelitian ini bahwa pasien DM Tipe II banyak memiliki IMT obesitas I. Untuk penggunaan Metformin sendiri dilihat juga dari usia pasien DM Tipe II banyak digunakan oleh pasien ddengan usia ≤60 tahun ini dikarenakan Metformin tidak dianjurkan untuk pasien yang berusia >80 tahun. Metformin bermanfaat terhadap sistem kardiovaskular dan mempunyai risiko yang kecil terhadap kejadian hipoglikemia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Praditya (2006), penggunaan ADO tunggal yang terbanyak adalah Metformin (47%). Dari hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian Praditya (2006), dimana penggunaan ADO tunggal terbanyak adalah Metformin. Dilihat dari hasil penggunaan Metformin dalam mengendalian kadar gula darah sewaktu terlihat gula darah sewaktu terkendali pada hari ke 4.
Sedangkan golongan Sulfonilurea (Glikuidon) dapat digunakan ketika ada keadaan yang merupakan kontraindikasi untuk Metformin, atau digunakan sebagai dalam kombinasi dengan Metformin jika gula darah target belum tercapai. Meskipun demikian, semua golongan Sulfonilurea (Glikuidon) dapat menyebabkan hipoglikemia. Pengecualian adalah
43
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap mereka yang obesitas atau kelebihan berat badan. Golongan Sulfonilurea ini dapat diberikan pada pasien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal dan baik untuk pasien yang berumur >40-50 tahun (Martindale, 2009). Golongan Sulfonilurea ini direkombinasikan pada pasien kelainana fungsi htai dan ginja, karena hampir seluruhnya diekresikan melalui empedu dan usus, hanya 5% yang di ekresikan melalui urin (Martindale, 2009). Dari hasil analisis penggunaan golongan Sulfonilurea (Glikuidon) dalam mengendalikan kadar gula darah sewaktu terlihat gula darah sewaktu terkendali pada hari ke 5.
Pasien Diabetes Mellitus Tipe II yang di rawat di RSUP Fatmawati diberikan unit perawatan intensif ataupun dengan antidiabetik oral untuk mempertahankan kadar gula darah 70-140 mg/dl (WHO,1999). Pada umumnya ADO bekerja untuk meningkatkan sekresi insulin atau meningkatkan sensitifitas jaringan perifer tarhadap insulin. Karena melihat pengendalian gula darah sewaktu terlalu lama dalam mengendalikan gula darah dan melihat cara kerja obat ini yang berbeda maka sangat rasional bila obat ini diberikan dalam bentuk kombinasi dan akan mempunyai efek yang lebih besar dibandingkan diberikan salah satunya saja (terapi tunggal).
Pengobatan kombinasi pada awalnya baru dimulai jika ADO yang diberikan sudah dosis maksimal, namun tidak mampu mengendalikan kadar gula plasma, sehingga perlu ADO lain yang mempunyai efek yang berbeda dengan ADO yang pertama. Pemberian ADO secara kombinasi dapat diberikan lebih dini dengan dosis yang lebih kecil dengan alasan adanya gangguan sekresi Insulin dan gangguan resistensi Insulin.
Untuk ADO kombinasi terbanyak yang di berikan kepada pasien di istalasi rawat inap RSUP Fatmawati adalah Gludepatic + Gliquidone. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang di lakukan oleh Atika (2012) mengenai analisis penyakit DM Tipe II, untuk penggunaan ADO kombinasi terbanyak adalah golongan Sulfonilurea dan Biguanid (66,6%).
Kombinasi Gludepatic dan Gliquidon cukup efektif dalam mengendalikan gula darah dan keduanya cukup poten dan aman sebagai
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pilihan pertama dibandingkan antidiabetes oral lainnya. Dari hasil penelitian dalam penggunaan kedua kombinasi ini dalam mengendalikan kadar gula darah terlihat gula darah sewaktu terkendali pada hari ke 3. Oleh karena itu sebagian besar pasien DM Tipe II yang memiliki kontrol gula darah yang buruk, kombinasi kedua obat ini di resepkan oleh dokter.
Pasien rawat inap RSUP Fatmawati ada beberapa yang diberikan baik ADO secara kombinasi. ADO yang dikombinasikan antara lain :
1. Kombinasi Sulfonilurea dengan Biguanid
Kombinasi Sulfonilurea dengan Biguanid penggunaanya di Instalasi Rawat Inap Teratai Lantai V Selatan RSUP Fatmawati sebanyak 18% dan pasien DM yang paling banyak adalah perempuan yang disebabkan oleh faktor obesitas dan resistensi insulin. Oleh karena itu kombinasi Sulfonilurea dengan Biguanid diresepkan oleh dokter di RSUP Fatmawati. Kombinasi Sulfonilurea dengan Biguanid bekerja saling sinergis yaitu Biguanid menurunkan produksi glukosa hati dan meningkatkan glukosa di jaringan perifer serta dapat menurunkan berat badan. Sedangkan golongan Sulfonilurea dapat meningkatkan sekresi Insulin (Soegondo, 2009).
2. Kombinasi Sulfonilurea dengan Acarbose
Penggunaan kombinasi Sulfonilurea dengan Acarbose di Instalasi Rawat Inap Teratai Lantai V Selatan RSUP Fatmawati sebesar 3%. pemberian tambahan Acarbose pada pasien DM Tipe II yang mendapat Sulfonilurea memberi efek tambahan dalam menurunkan kadar glukosa darah terutama penurunan glukosa darah postprandial dibandingkan terapi kombinasi Sulfonilurea dengan Biguanid. Pada pasien-pasien yang gagal ginjal sekunder diberikan Obat Antidiabetik Oral (ADO) golongan Acarbose karena hal ini dapat menunda pemakaian Insulin. Acarbose akan membantu memperlambat absorpsi glukosa setelah makan oleh karena itu Acarbose harus diminum pada suapan pertama pada saat makan yang akan menurunkan jumlah gula darah pada postprandial. Dengan demikian kombinasi Sulfonilurea dengan Acarbose akan memperbaiki glukosa darah postprandial.
45
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Kombinasi Biguanid dengan Acarbose
Kombinasi Biguanid dengan Acarbose paling banyak digunakan di RSUP Fatmawati yaitu sebanyak 4%. Acarbose menghambat α -Glukosidase mengurangi biovailabilitas Biguanid dan mengurangi konsentrasi puncak plasma Biguanid rata-rata, tetapi waktu untuk mencapai konsentrasi puncak tersebut tidak berubah. Kombinasi Metformin dengan Acarbose adalah lebih baik dalam menurunkan glukosa darah dari pada pemakaian Metformin secara tunggal. Efek samping Metformin adalah bisa menimbulkan keluhan pada perut sehingga Acarbose dapat mengurangi keluhan pada perut, oleh karena itu Acarbose harus diminum pada suapan pertama pada saat makan.
5.6.2.7 Hasil Analisis Data Efektivitas Penggunaan ADO Dalam