• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terbentuknya Sistem Sosial SJSF dalam Masyarakat Indonesia

Sesungguhnya peralihaan hubungan produksi setengah feodal dan jajahan dari feodal dan jajahan dibagi dua tahap. Tahap pertama Pada tahun 1870-1990 ini dikarenakan kapitalisme belum mencapai puncak menjadi imperialisme.

Sedangkan tahap kedua yaitu jajahan dan feodal terjadi pada 1900-1945, yang dimana kapitalisme sudah mencapai titik puncaknya yaitu imperialisme dan mendominasi hubungan produksi feodalisme. Karena feodalisme sangat menguntungkan bagi pihak imperialisme sebagai penyuplai bahan mentah dan ini menjadi alasan pokok kenapa feodalisme di Indonesia hingga kini masih ada.

42 a). Fase 1870-1900

Sistem Tanam Paksa dinyatakan berakhir dan kemudian digantikan dengan dikeluarkan undang-undang agraria kolonial: Agrarische wet de Waal (de Waal adalah menteri urusan jajahan saat itu). Akan tetapi, tidaklah benar bahwa sistem tanam paksa diakhiri karena perdebatan parlemen antara kaum liberal dengan kalangan konservatif, melainkan karena perlawanan dan pemberontakan rakyat yang telah meledakkan sekaligus menghancurkan keuntungan yang sedang dibangun, karena penindasan dan penghisapan diluar batas. Para kaum liberal tidak pernah peduli akan nasib penduduk jajahan. Hal ini terbukti ketika mereka mulai masuk ke Indonesia dan menguasai pabrik-pabrik gula, perkebunan dan pertanian pada umumnya, penindasan tidak berkurang akan tetapi justru semakin bertambah, karena semakin banyaknya para tuan tanah dan bangsawan pada umumnya yang direkrut menjadi bagian dari pemerintahan kolonial. Dan ini menjadi cikal bakal munculnya hubungan produksi setengah feodal yang melahirkan komprador dan kapitalis birokrat.

Politik Etis yang dikemudian hari dikenal sebagai politik “balas budi”

pada prinsipnya adalah upaya untuk mengukuhkan kekuasaan politik mereka.

Khususnya program pendidikan untuk kalangan priyayi bertujuan untuk mengefisienkan birokrasi, sementara irigasi pada dasarnya hanyalah untuk melayani kemajuan industri gula dan perkebunan pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan bahan mentah, sedangkan transmigrasi jelas hanya untuk mobilisasi tenaga kerja murah dengan cara membuka lahan baru untuk perkebunan.

43 b). Fase 1901-1945

Agrarische wet de Waal mulai dijalankan sejak tahun 1870 dengan azas Domeinverklaring yang isi pokoknya: “semua tanah yang tidak terbukti dimiliki dengan hak eigendom adalah kepunyaan negara”. Undang-undang ini pada hakekatnya adalah pengakuan terhadap hak milik perseorangan (eigendom) dengan memberikan sertifikat terhadap tanah garapan sebagai perlindungan hukum. Di sisi lain, tanah-tanah yang tidak digarap adalah tanah milik negara, dalam hal ini pemerintahan kolonial. Tanah inilah yang kemudian diberikan kepada para investor asing, dan juga mereka dijamin haknya untuk menyewa tanah-tanah milik penduduk sekaligus dapat menjadi buruhnya. Konsesi yang diberikan oleh pemerintah kolonial kepada para investor tersebut lagi-lagi telah mengakibatkan rakyat kehilangan tanah secara besar-besaran. Masuknya kapitalis selain belanda berarti menunjukkan bahwa kapitalisme sudah mencapai puncak tertinggi yaitu imperialisme.

Sementara perkembangan lainnya adalah berdirinya beberapa bank di tanah jajahan yang dipelopori oleh perubahan status NHM yang dulunya adalah perusahaan monopoli dagang dan jasa pengangkutan barang dagangan menjadi bank yang mendukung perluasan pabrik gula dan perkebunan komoditi lainnya.

Dukungan kapitalis finance ini telah mengakibatkan semakin luasnya ranah usaha kaum kapitalis di Indonesia. Mereka mulai merambah pertambangan minyak, batu bara. Perusahaan pertambangan minyak seperti BPM milik Inggris dan Shell milik

44 AS mulai melakukan eksplorasi demikian juga dengan pertambangan timah di Bangka-Belitung, yang sebenarnya sudah dimulai sejak VOC.

Akibat perampasan tanah secara besaran-besaran tersebut, dan seiring dengan semakin banyaknya industri-industri yang berdiri sebagai dampak dari masuknya investasi akibat dijalankannya kebijakan Agrarische Wet, telah mendorong lahirnya klas buruh sebagai klas baru dalam masyarakat Indonesia.

Sementara pelaksanaan kebijakan politik etis sebagai bagian dari kebijakan Agrarische Wet, telah berpengaruh pada pembentukan klas borjuasi kecil perkotaan, seperti: produsen kecil, pedagang, kaum intelektual, pekerja merdeka (wartawan, pengacara, guru, dokter), pegawai rendah pemerintahan. Dengan demikian, klas buruh dan klas borjuis adalah klas baru dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi, klas buruh dan klas borjuis dalam masyarakat Indonesia, tidak lahir dari revolusi borjuis tipe lama sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Eropa, peralihan dari masa feodalisme menuju kapitalisme. Ini dikarenakan hubungan produksi yang mendominasi adalah perpaduan dari feodalisme dan kolonialise Belanda yang juga memberikan kesempatan bagi kapitalis dari negara-negara lainnya seperti Inggris dan AS. Wattheim (1956: 57)

Sejak dijalankan sistem tanam paksa dan kebijakan Agrarische Wet, kedudukan Indonesia sebagai tanah jajahan adalah penyedia bahan baku atau mentah bagi kepentingan kolonial dan borjuis, sebagai pasar penjualan industri Eropa, sebagai sumber tenaga kerja murah, dan sasaran investasi negara-negara kapitalis lainnya. Penindasan yang sangat kejam tersebut, dijawab dengan perlawanan yang tiada putus-putusnya oleh kaum buruh, kaum tani dan beberapa

45 kalangan terpelajar yang mulai terbit kesadarannya akan nasib rakyat yang tertindas. Organisasi rakyat yang modern mulai bermunculan di mana-mana.

Mereka mulai mengorganisir diri untuk melawan para imperialis asing maupun kalangan pribumi sendiri yang menjadi antek mereka dalam mengeruk keuntungan atau nilai lebih. Akan tetapi organisasi rakyat yang terbentuk tidak selalu melawan kaum imperialis secara langsung akan tetapi terkadang mereka hadir hanya untuk menangani beberapa persoalan yang tengah dihadapi. Dalam perkembangannya, karena kesadaran anggota yang berada di tengah-tengah perderitaan rakyat yang terus bertambah dari hari ke hari pada akhirnya organisasi tersebut memilih jalan perjuangan melawan Imperialisme.

Patut diingat perubahan fase perpaduan antara feodalisme dengan kolonialisme menjadi hubungan setengah feodalisme dengan kolonialisme adalah mulai lahirnya klas-klas penguasa baru yaitu borjuasi komprador yang tadinya tuan tanah besar lokal dan memiliki hubungan sama dengan hal kapitalis birokrat (ass Residen wedana dsbnya) yaitu untuk memenuhi kepentingan imperialis dalam hal pemenuhan bahan mentah, tenaga kerja murah, dan pasar.

g. Rakyat Indonesia Pada Masa Setengah Jajahan dan Setengah Feodal

(1949– Sekarang)

Revolusi Borjuis Agustus 1945 adalah puncak dari pergolakan yang membakar kesadaran massa rakyat sejak awal abad ke-17, dan pergolakan yang paling massif sejak awal abad 20. Rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajahan langsung atau menghancurkan pemerintahan jajahan yang ada di Indonesia. Akan tetapi gagal membebaskan diri sepenuhnya dari cengkeraman Imperialis, karena

46 masih bercokolnya kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik mereka di Indonesia, terutama melalui komprador-kompradornya di dalam negeri.

Indonesia resmi menjadi negara Setengah Jajahan melalui kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 yang ditandatangai oleh Hatta dan Sjahrir. Melalui KMB tersebut, imperialisme menemukan klik reaksioner dalam negeri yang memberikan banyak keuntungan secara ekonomi, politik dan kemiliteran bagi imperialisme serta menimbulkan kerugian di pihak rakyat Indonesia. Secara ekonomi, perjanjian KMB telah memberikan jaminan terhadap keberlangsungan kepentingan-kepentingan imperialisme di Indonesia, terutama dari upaya-upaya nasionalisasi. Secara politik, perjanjian KMB telah menempatkan Indonesia sebagai anggota negara persemakmuran di bawah kaki imperialisme Belanda. Demikian pula secara kemiliteran, imperialisme mendapatkan keuntungan karena tidak harus berhadap-hadapan secara langsung dengan kekuatan bersenjata rakyat yang akan memakan biaya dan menimbulkan kerugian besar di pihak mereka. Dominasi imperialis di Indonesia melahirkan klas borjuis besar komparador, klas borjuis perpanjangan tangan yang dengan setia melayani kepentingan imperialis.

Demikian pula Revolusi Agustus 1945 gagal menghancurkan kekuatan feodalisme. Justru feodalisme lah yang menjadi basis sosial bagi imperialis agar bisa mempertahankan syarat-syarat hidupnya yaitu tersedianya bahan mentah untuk industri mereka.Persekutuan antara imperialisme dan feodalisme telah melahirkan pemerintahan diktator bersama, klas borjuis komparador yang juga tuan tanah besar yang sedang setia melayani kepentingan imperialisme. Soeharto

47 adalah rejim pertama yang menjadi pemerintahan diktator bersama antara klas borjuis besar komparador dan tuan tanah besar lainnya. Dan pasca rezim Soeharto pun, sistem setengah feodal dan setengah jajahan masih berlangsung.

Sebagai negara setengah jajahan dan setengah feodal, Indonesia memiliki kedudukan sebagai penyedia kebutuhan bahan baku dan tenaga kerja murah bagi kepentingan industri imperialisme, sebagai sasaran proyek investasi raksasa imperialis, dan sebagai pasar bagi hasil produksi imperialis. Dan patut diingat pula, lahirnya perpaduan hubungan produksi setengah jajahan dan setengah feodal, ditandai adanya rezim boneka yang menjamin keberlasungan pasokan bahan mentah, tenaga kerja murah dan pasar pada suatu negara setengah jajahan seperti hal Indonesia.

http://bprfmn-unhas.blogspot.com/2013/10/masyarakat-indonesia-setengah-jajahan.html

Dokumen terkait