• Tidak ada hasil yang ditemukan

Y11 Y12 Y13 Y14

Coef β Sig Coef β Sig Coef β Sig Coef β Sig

1 Umur -0,220 0,172 -0,100 0,544 -0,066 0,685 -0,311 0,047 2 Pendidikan Formal 0,267 0,026 0,211 0,86 0,233 0,055 0,111 0,330 3 Pendidikan nonformal 0,151 0,187 0,103 0,378 0,159 0,171 0,169 0,127 4 Pengalaman Berusahatani 0,336 0,047 0,166 0,333 0,243 0,151 0,316 0,052 5 Tingkat Kekosmopolitan -0,051 0,666 0,049 0,686 -0,028 0,815 0,199 0,086

Keterangan: Y1.1 = Tingkat Keterkaitan Y1.3 = Tingkat Kekompakan

Y1.2 = Tingkat Keragaman Y1.4 = Tingkat Keterbukaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang berumur diatas 60-an umumnya bertani dengan cara membayar orang untuk mengerjakan pengolahan lahan sawahnya dan petani hanya mengawasi saja sehingga petani jarang untuk berinteraksi dengan petani yang lain. Disamping itu petani tersebut semakin berkurang pula mencari informasi dari orang lain, baik orang di luar kelompok maupun orang di luar petani. Semakin tua umur petani semakin berkurang tingkat keterkaitan, keragaman, kekompakan dan keterbukaannya terhadap petani lainnya

karena keterbatasan berkomunikasi yang semakin meningkat. Aktivitas usahatani dari petani usia tua semakin menurun dari waktu ke waktu.

Aspek pendidikan formal berpengaruh positif terhadap jaringan komunikasi ditinjau dari aspek tingkat keterkaitan (0,267), tingkat keragaman (0,211), tingkat kekompakan (0,233) dan tingkat keterbukaan (0,111). Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan petani maka semakin aktif petani tersebut dalam jaringan komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang berpendidikan lebih tinggi aktif mencari informasi di luar dan lebih mampu mengembangkan usahatani yang mereka jalankan seperti yang dilakukan petani Ade dan Sumarna. Selain bekerja sebagai petani mereka juga mengembangkan usaha penyewaan traktor, penggilingan padi dan jual beli beras. Tingkat keterkaitan memberikan kontribusi pengaruh yang paling besar dengan nilai nyata 0,026 dari pendidikan formal terhadap jaringan komunikasi petani dalam adopsi inovasi traktor tangan.

Tingkat pendidikan nonformal juga berpengaruh positif terhadap tingkat keterkaitan (0,151), tingkat keragaman (0,103), tingkat kekompakan (0,159) dan tingkat keterbukaan (0,169), artinya semakin sering petani mengikuti pelatihan atau pendidikan nonformal, maka semakin tinggi tingkat hubungan petani dengan petani lain dalam jaringan komunikasi tentang adopsi inovasi traktor tangan. Semakin sering petani mencari informasi kepada selain petani, dan semakin sering mencari informasi dengan petani yang ada di kelompok lain maka akan semakin tinggi pula keterkaitan, keragaman, kekompakan dan keterbukaan petani dalam melakukan kegiatan pertanian dan adopsi inovasi traktor tangan. Kontribusi pendidikan nonformal terbesar terhadap jaringan komunikasi ditunjukkan pada tingkat keterbukaan dengan nilai nyata (sig) sebesar 0,127.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang petani aktif mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah yang ada di Desa Neglasari yaitu BPBP. Dalam penggunaan traktor tangan petani mempunyai kekompakan yang relatif tinggi, artinya masing-masing petani melakukan upaya penyelenggaraan pengolahan lahan dengan traktor tangan dengan cara membagi areal lahan sawah penyewaan traktor tangan berdasarkan kelompok dan hamparan lahan. Dengan cara tersebut tidak terjadi saling rebutan lahan bagi pemilik traktor

dan petani juga merasa tidak kesulitan untuk mencari tempat penyewaan traktor. Pengaturan pembagian areal atau wilayah pengolahan lahan oleh tiap pemilik traktor, dilakukan secara musyawarah melalui kelompok tani.

Pengalaman berusahatani berpengaruh positif terhadap jaringan komunikasi petani yang ditunjukkan dengan nilai tingkat keterkaitan (0,336), tingkat keragaman (0,166), tingkat kekompakan (0,243), dan tingkat keterbukaan (0,316). Hal ini berarti semakin tinggi pengalaman berusahatani mempengaruhi tingkat keterkaitan, keragaman, kekompakan dan keterbukaan petani dengan petani lain dalam jaringan komunikasi. Petani melakukan komunikasi melalui jaringan komunikasi petani yang telah terbentuk baik antar individu maupun antar klik sosial dalam mencari informasi tentang teknologi pertanian terutama dalam mengadopsi inovasi traktor tangan. Hasil pengamatan di lapangan menemukan bahwa petani di Desa Neglasari rata-rata melakukan usahatani sudah sejak lama dan merasakan keuntungan dari penggunaan traktor tangan untuk pengolahan lahan. Hal ini mempengaruhi pengambilan keputusan oleh petani sehingga mereka memiliki tingkat keterkaitan, keragaman, kekompakan dan keterbukaan yang positif.

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa tingkat kekosmopolitan berpengaruh positif terhadap tingkat keragaman (0,049) dengan nilai nyata 0,686 dan tingkat keterbukaan (0,199) dengan nilai nyata 0,089, dimana kontribusi kekosmopolitan terhadap tingkat keterbukaan cukup besar. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat kekosmopolitanan petani berpengaruh terhadap semakin seringnya petani mencari informasi kepada warga masyarakat lain (keragaman) dan semakin tinggi pula tingkat keterbukaan individu dalam kelompok karena petani juga semakin sering mencari informasi dari anggota kelompok tani yang lain. Di pihak lain terlihat bahwa tingkat kekosmopolitanan terhadap jaringan komunikasi mempunyai tingkat keterkaitan negatif (-0,051) dan tingkat kekompakan negatif (-0,028), artinya semakin tinggi tingkat kemospolitanan berpengaruh terhadap berkurangnya petani berinteraksi dengan petani yang lain yang berakibat menurunnya tingkat keterkaitan dan tingkat kekompakan petani. Dengan semakin banyaknya informasi yang diperoleh petani dari luar desa, menimbulkan berkurangnya tinkat keeratan dan kekompakan antar petani baik antar individu

maupun di dalam kelompoknya. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa petani yang tingkat kekosmopolitannya tinggi cenderung semakin terbatas untuk memberi informasi teknologi pertanian kepada petani lain. Sebagai contoh adalah bapak Sumarna yang aktif melakukan usaha di luar desa Neglasari sehingga mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok taninya.

Uraian hasil analisis Hipotesis pertama yang telah dilakukan menunjukkan bahwa: terdapat pengaruh karakteristik petani terhadap jaringan komunikasi. Hal ini berart H1 ”diterima” atau hipotesis terbukti.

Pengaruh Karakteristik Petani terhadap Adopsi Inovasi Traktor Tangan

Karakteristik petani antara lain umur, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman berusahatani dan tingkat kekosmopolitan diduga berpengaruh terhadap tingkat adopsi inovasi traktor tangan. Pengaruh tersebut dapat dinyatakan dengan menguji kontribusi aspek-aspek karakteristik petani (X1)

terhadap tingkat adopsi inovasi traktor tangan (Y2). Koefisien regresi dan

signifikasi pengaruh aspek-aspek karakteristik petani terhadap tingkat adopsi inovasi traktor tangan dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Koefisien regresi dan nilai signifikasi pengaruh karakteristik petani (X1)

terhadap tingkat adopsi inovasi (Y2) di Desa Neglasari, tahun 2006

No Karakteristik Petani (X1)

Pengaruh X1 terhadap Adopsi Inovasi

Dokumen terkait