• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemahan MPB Sesuai Konteks Sosial Budaya BSa

BAB VI: PENGARUH SOSIOBUDAYA PADA TERJEMAHAN

6.3 Terjemahan MPB Sesuai Konteks Sosial Budaya BSa

BSu BSa

Na nyang Neuboh, Allah hu Ada yang diberi, Allah hu

Meurangkaian Berangkaian

Meugrak pi tan, Allah hu Tanpa kemauan, Allah hu

Hana haba Tanpa bicara

Kata haba dalam contoh data di atas diterjemahkan “tanpa bicara”. Dalam bahasa aceh, haba bermakna “kabar, berita, cerita”. Namun dapat pula diartikan

“bercakap-cakap” yang sama artinya dengan “bicara”. Secara istilah, kata “bicara”

dapat mewakili mana dari kata haba. Dalam makna konteks, frasa ini terletak pada baris ke empat yang berarti maknanya berhubungan dengan setiap baris pada bait tersebut. Di dalam bait tersebut, konteks yang dibicarakan adalah penciptaan manusia, ada yang diberi kelebihan (makna pada bait sebelumnya) dan diberi kekurangan. Maka kata “bicara” berkaitan dengan kata “kemauan” yaitu hal (hasrat) yang dimiliki manusia. Pada data ini, strategi penerjemahan yang diterapkan adalah strategi dinamik, karena menyesuaikan makna dengan konteks, memilih kata yang lebih mudah dipahami oleh pembaca.

Data 4:

BSu BSa

Nur ngon Syuhud, Allah hu Nur dan Syuhud, Allah hu

Wujud ileumee Wujud ilmu

Nyan pi teungku, Allah hu Harus kita tahu, Allah hu

Beutroh juga Sampai kesana

Mengetahui makna yang sebenarnya pada frasa yang terdapat pada contoh data di atas, dapat dilakukan pemenggalan kata dan menerjemahkan secara literal, nyan adalah kata tunjuk “itu,” pi adalah ata depan yang digunakan untuk memberi tekanan pada kata selanjutnya yang menjadi pokok kata dalam suatu frasa atau kalimat, sedangkan teungku adalah penyebutan untuk seseorang shaleh, yang boleh jadi mempunyai ilmu agama yang baik. Namun dalam budaya masyarakat Aceh kata teungku juga sering dipakai untuk penyebutan nama yang merujuk kepada seorang laki-laki dalam konteks orang yang baru dikenal, sebagai bentuk panggilan hormat, ataupun menyebutkan seseorang tanpa memberitahu identitas yang jelas, misalnya: “peu haba teungku”(apa kabar pak?), “sat nyoe lon jak bak teungku nyan” (tadi aku pergi menjumpai si anu). Makna yang diberikan sesuai dengan maksud konteks situasi pada suatu ucapan itu sendiri, siapa, dimana dan ditujukan kepada siapa.

Makna teungku yang dimaksud dalam bait syair di atas adalah orang yang shaleh dan mempunyai ilmu agama yang baik. Hal ini diketahui berdasarkan makna konteks yang terdapat pada keseluruhan syair dalam bait tersebut. Secara literal, frasa nyan pi teungku diartikan “dia lah teungku (orang yang alim/ berilmu)”.

Namun pada hasil terjemahannya, penerjemah menerjemahkan frasa tersebut

menjadi “harus kita tahu”. Hal ini terkait dengan struktur dan bentuk yang terdapat pada syair ini yang berkaitan dengan bunyi.

Syair terletak pada baris ke tiga, yang bunyinya harus disamakan dengan baris ke dua, yang hasil terjemahannya adalah “wujud ilmu.” Jika baris ke tiga diterjemahkan serupa menggunakan kata “teungku” maka tentu saja sudah memenuhi persyaratan struktur syair dalam bait ini. Namun berdasarkan konteks budaya dalam bahasa Indonesia, tidak ditemukan kata “teungku” dengan makna yang sama. Sedangkan apabila diterjemahkan “dia lah orang yang berilmu” bunyi yang dihasilkan pada akhiran untuk terjemahannya ini, juga sudah sama. Namun kata yang dipakai akhirnya akan sama dengan baris sebelumny (wujud ilmu_dia lah orang berilmu); frasa ini terdengar monoton dan tidak terdengar sama indah seperti syair dalam BSu. Maka dari itu penerjemah memberikan terjemahan berbeda, karena konteks yang mebicarakan “ilmu” dianggap sudah terwakili oleh baris sebelumnya, jadilah terjemahan yang dihasilkan adalah “wujud ilmu-harus kita tahu”. Terjemahan seperti ini menerapkan strategi penerjemahan komunikatif yang menyesuaikan makna dengan konteks dan budaya yang ada pada BSa untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada pembaca.

Data 9:

BSu BSa

Soe yang zikir, Allah hu Siapa berzikir, Allah hu

Rindu dendam Rindu dendam

Nyo teungku nyan, Allah hu Dialah tuan, Allah hu

Sulok nama Suluk nama

Nyo teungku nyan, Allah hu Betul dia, Allah hu

Ahli sulok Ahli suluk

Ka neujak tok, Allah hu Hanya tunduk, Allah hu

Bak Rabbana Kepada Rabbana

Terjemahan frasa pada data 9 menggunakan strategi dinamik; mereproduksi pesan dan memberikan padanan yang alami untuk menyesuaikan makna seperti yang dimaksud dalam BSu. Secara literal frasa Nyoe Teungku nyan diterjemahkan:

nyo=benar, Teungku=ustadz (dalam konteks ini adalah orang berilmu), nyan=itu.

Namun penerjemah memberikan terjemahan yang lebih mengutamakan makna konteks yang terdapat dalam bait. Struktur BSu yang tidak mempunyai rima seperti pada umumnya, membuat terjemahan syair pada bait ini dirasa lebih mudah mengikuti pengaruh yang terdapat pada BSa, karena dalam BSa tidak dikenal kata teungku maka diganti dengan kata ‘tuan’ kemudian menyandingkannya dengan kata

‘dialah’ alih-alih memakai kata tunjuk ‘itu’ (bait pertama). Terjemahan ini tidak hanya menghasilkan terjemahan yang dinamik, yang lebih mudah dipahami oleh pembaca, tetapi juga mempunyai bentuk yang sama dengan BSu (lihat baris ke-dua BSu dan BSa dengan akhiran-an).

Data pada bait ke-dua terletak pada syair pertama, yang memang tidak terikat pada rima baris selanjutnya. Sehingga terjemahan dengan padanan yang menyesuaikan makna agar dapat dipahami pembaca lebih mudah diberikan pada syair ini. Untuk terjemahan yang demikian, syair MPB dipengaruhi unsur sosial budaya yang terdapat dalam BSa.

Data 10 & 11:

BSu BSa

Beurangkasoe, Allah hu Barangsiapa, Allah hu

Hana sulok Tanpa sulok

Tuboh jih brok, Allah hu Tabiat buruk, Allah hu

Beukhing raya Banyak selera

Data 10 dan 11 terletak pada bait yang sama, sehingga dapat dianalisis sekaligus dalam pembahasan yang sama. Frasa tuboh jih brok secara literal bermakna ‘tubuh (badan) nya rusak-buruk-busuk’ sedangkan beukhing raya bermakna ‘berbau busuk’, namun terjemahan yang diberikan sangat jauh berbeda.

pada frasa ini tuboh menjadi ‘tabiat’ dan beukhing raya menjadi ‘banyak selera.

Strategi yang dipakai untuk terjemahan ini adalah strategi penerjemahan komunikatif, untuk memberikan terjemahan yang luwes (setidaknya ini yang peneliti simpulkan). Makna konteks yang terdapat dalam bait ini berhubungan langsug dengan bait sebelumnya (menjelaskan akibat/ ganjaran bagi mereka yang tidak mengikuti suluk-badan terkutuk, nyawa hina) dalam bait ini ditambahkan pengetahuan tentang ganjaran lainnya bagi yang tidak suluk. Simpulan dari makna yang terdapat dalam syair, bahwa ganjaran tidak suluk adalah hal-hal yang tidak baik menimpa pada diri seorang insan, termasuk mempunyai tabiat buruk. Boleh jadi, ini yang menjadi alasan penerjemah menerjemahkan bait ini berbeda dari makna sebenarnya-tanpa suluk tabiat (perangai) menjadi buruk (contohnya) banyak selera. Walaupun menggunakan strategi penerjemahan komunikatif, dari segi struktur, terlihat bahwa penerjemah berusaha meniru BSa. Pemahaman yang didapatkan melalui syair dalam bait ini dipengaruhi oleh unsur sosial budaya BSa.

Berdasarkan dari hasil analisis data, dapat ditarik kesimpulan bahwa terjemahan syair MPB sangat dipengaruhi oleh unsur sosial budaya BSu yaitu bahasa Aceh. Hal ini juga berkaitan dengan analisis pada bab-bab sebelumnya mengenai strategi penerjemahan dan konsistensi terjemahan, yang diketahui bahwa terjemahan syair MPB dominan menggunakan strategi penerjemahan semantik yang bersifat setia (faithful), yaitu meniru struktur yang terdapat pada BSa. Oleh karena sifat terjemahan syair MPB yang setia kepada struktur BSa, maka terjemahannya sangat dipengaruhi oleh sosial-budaya BSa Dalam kasus ini, keadaan sosial maupun budaya Aceh yang terlihat dalam syair MPB erat mempunyai nilai budaya yang berasaskan keislaman.

BAB VII PENUTUP

7.1 Temuan Penelitian

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan dalam penelitian ini untuk menjawab persoalan penelitian, maka temuan penelitian yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Strategi penerjemahan yang diterapkan pada 5 kategori kata bervariasi. Pada kategori Agama, kecenderungan strategi yang digunakan adalah strategi penerjemahan semantik. Kategori Ilmu Pengetahuan, strategi penerjemahan yang paling dominan diterapkan adalah strategi penerjemahan semantik dan dinamik. Kategori Budaya dan Pergaulan Manusia diperoleh temuan strategi penerjemahan formal dan semantik yang lebih dominan. Untuk kategori Fikiran dan Emosi penerapan strategi penerjemahan yang berlaku hampir seimbang, yaitu dengan jumlah data yang lebih sedikit sejumlah hanya 19 data, diperoleh 6 data menggunakan strategi penerjemahan formal, 6 data strategi penerjemahan semantik, 4 strategi dinamik dan 3 strategi komunikatif. Pada kategori Kejadian, strategi penerjemahan yang paling dominan adalah penerjemahan semantik. Maka kesimpulannya, strategi penerjemahan yang paling dominan dalam naskah MPB adalah strategi penerjemahan Formal-Semantik.

2. Hasil yang didapatkan untuk menjawab pertanyaan penelitian ke dua, tentang variasi penerjemahan syair yang sama yang muncul berulang kali. Dari jumlah 761 data yang diambil untuk diteliti, jumlah pengulangannya bervariasi, ada

175

yang muncul dua kali, belasan kali, hingga puluhan kali. Berdasarkan analisis data, diperoleh 64 data yang muncul berulang kali; 38 data terjemahannya dengan padanan yang sama, dan 26 data terjemahannya menggunakan padanan berbeda. Terjemahan yang yang bervariasi ini tidak terlepas daripada bentuk dan struktur syair yang melekat pada naskah MPB. Penerjemah sedapat mungkin selalu mengusahakan untuk menyesuaikan ketukan bunyi pada syair baris kedua dan ketiga dalam setiap bait.

3. Terjemahan dengan padanan yang sama dan padanan yang berbeda dipengaruhi oleh strategi penerjemahan yang diterapkan pada setiap pengulangan terjemahan BSa nya, dan setiap strategi penerjemahan yang diterapkan pada syair dalam naskah MPB ini, erat kaitannya dengan konteks makna yang terkait dalam setiap bait.

4. Karena strategi yang diterapkan pada terjemahan MPB ini selalu mengacu kepada makna konteks, maka walaupun frasa berulang pada bait yang berbeda, frasa tersebut tetap diterjemahkan sama, sepanjang tidak ada pergeseran makna pada hasil terjemahannya.

5. Karena perbedaan startegi yang diterapkan berbeda, sudah pasti terjemahan yang dihasilkan berbeda. Hal yang menjadi alasan utama terjadinya perbedaan terjemahan ini karena merujuk kepada konteks yang berbeda setiap baitnya, sehingga walaupun syair muncul pada baris yang sama, penerjemah menerapkan strategi yang berbeda untuk memberikan terjemahan dalam BSa yang paling sesuai dengan konteks yang dimaksud dalam BSu.

6. Hasil yang diperoleh untuk menjawab pertanyaan penelitian ke tiga mengenai pengaruh sosial budaya pada terjemahan MPB yaitu: dari 48 jumlah data, lebih

dari 50 persen data yang terjemahannya dipengaruhi unsur atau istilah sosial dan budaya dalam BSu. Makna konteks yang dipahami dalam terjemahan syair MPB adalah konteks sebagaimana yang dimaksud dalam BSu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, pengaruh sosial budaya BSu lebih dominan dalam terjemahan naskah MPB. Hal tersebut terjadi karena penerjemah lebih mengutamakan bentuk terjemahan yang berupa syair.

7.2 Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan dapat kajian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka peneliti menyimpulkan dan memberi beberapa saran terkait hasil terjemahan naskah MPB, yaitu:

1. Perlu diperhatikan kategori kata berdasarkan 5 golongan kata sebelum menerjemahkan BSu ke dalam BSa. Hal ini karena ke lima golongan kata berkaitan erat dengan teori makna konteks yang melekat pada setiap kata, sehingga dapat dipilihkan terjemahan yang benar-benar sesuai dengan makna yang dimaksud dalam BSu.

2. Pemilihan strategi penerjemahan juga berdasarkan makna konteks yang terdapat pada bait, bukan hanya satu baris syair saja. Dalam penyesuaian bentuk syair, yang paling utama tetap harus memperhatikan makna yang dapat dipahami oleh pembaca dalam Bsa.

3. Masih terdapat kekurangan pada hasil terjemahan Naskah MPB, karena sebagian terjemahan menggunakan strategi formal tanpa melihat makna konteks yang terdapat dalam Bsu untuk disesuaikan ke dalam Bsa. Oleh karena itu, alangkah lebih baik apabila dilakukan revisi pada hasil terjemahan naskah MPB ini.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, S. 2011. Analisis Terjemahan Istilah-istilah Budaya pada Brosur PariwisataBerbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara. [Tesis]. Medan:

Universitas Sumatera Utara, Program Magister Pascasarjana Linguistik.

Andriana, I. 2012. Kesalahan Kebahasaan Hasil Terjemahan Teks Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia Mahasiswa Stain Pamekasan Pengguna Google Translate. Nuansa. 9 (2): 288-310.

Anshori, S. 2010. Teknik, Metode dan Ideologi Penerjemahan Buku Economic Concepts of Ibn Taimiyah ke dalam Bahasa Indonesia dan Dampaknya pada Kualitas Terjemahan. [Tesis]. Surakarta: Pascasarjana Program Studi Linguistik Universitas Sebelas Maret.

Alwasilah, A.C. 1990. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Alwi, H., dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arifatun, N. 2012. Kesalahan Penerjemahan Teks Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab melalui Google Translate (Studi Analisis Sintaksis). Journal of Arabic Learning and Teaching 2 (1): 1-6.

Aslinda dan Leni, S 2007. Kedwibahasaan, Dwibahasawan, dan Diglosia.

Bandung: Refika Aditama.

Atjeh, Abu Bakar. 1984. Pengantar Ilmu Tasawuf. Solo: Ramadani.

Azman, Azani, dan Muhammad, N. 2019. Leksikal Qāla [لاق [dalam Dialog Naratif al-Quran: Penelitian Makna Komunikatif Terjemahan Melayu.

Kemanusiaan. 26 (1): 51-87.

Azani, Fauzi, M., Zulkifli dan Azman. 2014. Penerapan Teori Semantik dan Komunikatif dalam Menterjemahkan Leksikal La dan Derivasinya Dalam Al-Quran. Di dalam The International Conference on Arabic Studies and Islamic Civilization. Prosiding iCasic; Kuala Lumpur, 4-5 Maet 2014.

Malaysia: WorldConferences.net. hlm 532-541

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan http://kemdikbud.go.id/

lamanbahasa/sekilas-tentang-sejarah-bahasa-indonesia/28 Februari 2018.

Bakar, A., Sulaiman, B., Hanafiah, M.A., Ibrahim, Z.A. dan Syarifah. 1985. Kamus Aceh Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

178

Baker, M. 1992. In Other Words: A Coursebook on Translation. London: Sage Publication.

Baker, M. 1995. Corporan in translation studies: An overview and some suggestions for future research. Target 7(2): 223–243.

Baker, P., Hardie, A., dan McEnery, T. 2006. A glossary of corpus linguistics.

Edinburg: Edinburg University Press.

_______. 2010. Corpus Methods in Linguistics. In Litosseliti, Lia. Research Methods in Linguistics. New York: Continnum International Publishing Group.

Barathayoumi, W. 2012. Strategi Penerjemahan Istilah Budaya dalan Novel: Kritik Terjemahan Berdasarkan Model Analisis Teks yang Berorientasi pada Penerjemahan. [Tesis]. Jakarta: Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Bauto, L.M. 2014. Perspektif Agama dan Kebudayaan dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia (Suatu Tinjauan Sosiologi Agama). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. 23 (2): 11-25.

Beck, S. dan Stechow, A.V. 2007. Pluractional Adverbials. Journal of Semantics 24: 215–254 doi:10.1093/jos/ffm003.

Bell, R.T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practic. Longman:

London.

Brislin, R.W. 1976. Translation: Application and Research. New York:

GardnerPress, Inc.

Catford, M. 1965. A linguistics Theory of Translation. London: Oxford University Press.

Chaer, A. 2003. Psikolinguistik, Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. dan Agustina, L. 2004. Sosiolinguistik Pekenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

_______. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

_______. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Charles A. Ferguson (1959) Diglossia, WORD, 15:2, 325-340, DOI:

10.1080/00437956.1959.11659702.

Collins, J. 2005. Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat. Jakarta: Yayasan Obor.

Couture, B. 1986. Bridging epistemologies and methodologies: research in written language function. Faculty Publications Department of English. 68.

http://digitalcommons.unl.edu/englishfacpubs/68

Daud, M.K. dan Husna, N. 2012. Munajat Perempuan Sufi Putroe di Beutong.

Banda Aceh: Yayasan Al-Mukarramah.

Departemen Agama RI. 2005. Naskah Klasik Keagamaan Nusantara Cerminan Budaya Bangsa 1, Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan.

Darwis, R., Sujaini, H. dan Nyoto, R.D. 2019. Peningkatan Mesin Penerjemah Statistik dengan Menambah Kuantitas Korpus Monolingual (Studi Kasus:

Bahasa Indonesia – Sunda). Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi.7 (1):

27-32.

Dyahningrum, A., Nababan, M.R. dan Djatmika. 2016. Analisis Teknik Penerjemahan dan Kualitas Terjemahan Kalimat yang Mengandung Ungkapan Satire dalam Novel The 100-Year-Old Man Who Climbed Out Of The Window And Dissapeared. Prasasti: Journal of Linguistics. 1 (2):

210-229.

Ekadjati, E. 2000. Direktori Edisi Naskah Nusantara: antologi Sastra Daerah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Essays, UK. (November 2013). What Is Translation And Translation Studies English Language Essay. https://www.uniassignment.com/essay- samples/english-language/what-is-translation-and-translation-studies-english-language-essay.php?vref=1.

Ezir, E. 2018. Stylistics in Translation of “Asahan dalam Angka 2015” Text. Di dalam: Strategi Membangun Penelitian Terapan yang Bersinergi dengan Dunia Industri, Pertanian dan Pendidikan dalam Meningkatkan Daya Saing Global. Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Universitas Asahan;

Kisaran, 26 November 2018. Hlm 121-127.

Fadly, A. 2016. Ideologi dalam Penerjemahan Budaya: Analisis pada Novel Terjemahan “Negeri 5 Menara” Karya Ahmad Fuadi. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra. 16 (2): 132-143.

Fahim, M. dan Mazaheri, Z. 2013. A Comparative Study of Translation Strategies Applied in Dealing with Culture-Specific Items of Romance Novels before and after the Islamic Revolution of Iran. Journal of Advances in English Language Teaching. 1(3). 64-75.

Fahmi, A.K. 2016. Analisis Kesalahan Gramatikal Teks Terjemah (Indonesia-Arab) dalam Pendidikan Bahasa Arab. KORDINAT. 15 (1): 105-116.

Fawcett, P. 1997. Translation and Language: Linguistic Approaches Explained.

Manchester: St. Jerome.

Fereydouni, S. dan Karimnia, A. 2016. Process-oriented Translation Studies: A Case Study Based on Lörscher’s Model. Theory and Practice in Language Studies. 6 (10: 102-110.

Geertz, C. 1973. The Interpreatation of Cultures. New York: Basic Books.

Hadi, A. 2011. Tarikat Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari: Telaah atas Kitab Kanz Al-Ma'rifah. Al-Banjari. 10 (1): 91-116.

Halidi, Y. 1972. Ulama Besar Kalimatan Selatan Banjarmasin, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Surabaya: Ihsan.

Harun, R. 1983. Akhabrul Karim Transliterasi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hayanti, D. 2007. Pergeseran Kategori Nomina dan Verba dalam Linguistics Across Cultures dan Linguistik di Pelbagai Budaya. Linguistik Indonesia.

25 (1): 1-17.

Hassan, A dan Mohammad, A. 1994. Bahasa Melayu untuk Maktab Perguruan.

Kuala Lumpur: Fajar Bakti.

_______. 2009. Linguistik Am untuk Guru Bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Fajar Bakti.

_______, dan ______. 2010. Teori dan Teknik terjemahan. Kuala Lumpur: PTS Publication.

Hasyimi, A. 1983. Kebudayaan Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Beuna.

Hatim, B. dan Mason, I. 1990. Discourse and the Translator. London: Longman.

_______. 2001. Teaching and Researching Translation. Harlow: Pearson.Inc.

Hawash, A. 1930. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara.

Surabaya: Ikhlas.

Hendarastuti, R., Nababan, M.R. dan Wiratno, T. 2013. Kajian Terjemahan Metafora yang Menunjukkan Sikap dalam Buku Motivasi The Secret.

TransLing Journal: Translation and Linguistics. 1 (1): 21-35.

Hoed, B.H. 2011. Penerjemahan Penerjemahan, Terjemahan dan Dinamika Budaya: Menatap Peran Penerjemahan pada Masa Lalu di Nusantara.

Masyarakat Indonesia. 37 (1). 57-80.

Hollander, J.J. 1984. Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu. Jakarta: Balai Pustaka

Holmes, James S. (1972/1988). The Name and Nature of Translation Studies. In Holmes, Translated! Papers on Literary Translation and Translation Studies, Amsterdam: Rodopi. 67–80.

House, J. 2000. Linguistic Relativity and Translation. Explorations in Linguistics.

Amsterdam: John Benjamins Publishing.

Husen, I.S. Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Menciptakan Kata Baru atau Menerima Kata Pinjaman?. Lingua. 9 (1): 1-15.

Inayati. 2017. Hikayat Malik Mawot (Suntingan Teks, Terjemahan, dan Telaah Ide Sentral) [Skripsi]. Banda Aceh: Universitas Islam Ar-Raniry.

Islamiyah, M. dan Al Fajri, M.S. 2019. Skinny, Slim, dan Thin: Analisis Berbasis Korpus Kata Sifat Identik dan Implikasinya Pada Pengajaran Bahasa Inggris. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 8 (1): 19-32.

https://doi.org/10.26499/rnh.v8i1.894

Istiqamatunnisak. 2015. Hikayat Akhbarul Karim Karya Teungku Syekh Seumatang: Kajian Filologi dan Stilistika [Tesis].Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Junqueira, I. 2012. Is Poetry untranslatable? Etudos Avancados.76 (26): 9-14.

Kardimin. 2017. Ragam Penerjemahan. MUKADDIMAH: Jurnal Studi Islam. 2 (1):

187-201.

Katan, D. 2012. Translating Cultures: An Introduction for Translators, Interpreters, and Mediators. Manchester: St. Jerome Publishing.

Keesing, F.M. 1958. Cultural Anthropology: The Science of Custom. Holt: Rinehart

& Winston.

Kridalaksana, H. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kroeber, A.L. dan Kluckhohn, C. 1952. Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions. Harvard University Peabody Museum of American Archeology and Ethnology Papers 47.

Koentjananingrat. 1992. Bunga Rampai: Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kraljevski, I. dan Hirschfeld, D. 2018. Classification of Correction Turns in Multilingual Dialogue Corpus. Interspeech. 10: 591-595.

Larson M. 1984. Meaning-based Translation : A Guide to Cross-LanguageEquivalence. New York : Univ.Press.

Laviosa, S. 1998. The corpus-based approach: A new paradigm in translation studies. Meta 43 (4): 473–478.

_________. (2002). Corpus-based translation studies: Theories, Findings, Applications. Amsterdam & New York: Rodopi.

Lubis, M. H. dan Kader, M. 2006. Terjemahan Al-Quran dalam Bahasa Indonesia:

Perbandingan Pengaruh Ekstrinsik. Journal of the Malaysian Translators Association. 10: 63-79.

_________. 2008. Pengantar Ilmu Penerjemahan. Medan: Bartong Jaya Machali, R. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.

Malinowski, B. 2000. The Problem of Meaning in Primitive Languages in The Routledge language and Cultural Theory Reader. Burke, L. (ed.). London:

Routledge.

Miles, M.B., Huberman, A.M. dan Saldana, J. 2014. Qualitative Data Analysis.

Washington: Sage, Inc.

Mukhlis. 1993. Akeubarôn Karim Sebuah Telaah Filologis [Tesis]. Bandung:

Universitas Padjajaran.

Muljana, S. 1987. Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.

Munday, J. 2001. Introducing Translation Studies. Theories and Applications.

London and New York: Routledge.

Nababan, M.R. 2003. Teori Menerjemah Bahasa Inggris. Pustaka Pelajar:Yogyakarta

________. 2004. Translation Process, Practices, and Products of Professional Indonesian Translators. [Disertasi]. New Zealand: Victoria University of Wellington.

________. 2007. Aspek genetik, objektif, dan afektif dalam penelitian penerjemahan. Linguistika. 14 (26).15-23.

Nababan, J. D. 2007. Metode, Strategi, dan Teknik Penerjemahan: Sebuah Tinjauan Mendalam. Makalah dalam Kongres Linguistik Nasional XII, Surakarta, 3-6 September 2007. 43-53-6.

Nababan, P.W.J. 1991. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama