• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa Harus Terlibat?

BAB 12. ORANG KRISTEN DI TENGAH MASYARAKAT

12.2 Mengapa Harus Terlibat?

Melayani orang lain adalah cara kita menerapkan iman kita sebab apa yang kita percayai seharusnyalah tampak bukan hanya melalui perkataan melainkan juga melalui perbuatan kita. Efesus 2:10 menyatakan bahwa kita buatan Allah, yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya supaya kita hidup di dalamnya. Allah memiliki sebuah rencana bagi kehidupan setiap orang Kristen dan pekerjaan baik ada di dalam rencana itu. Orang Kristen memang perlu berdoa, menelaah Alkitab, dan unsur-unsur lainnya dari suatu kehidupan dan pelayanan Kristen yang sehat. Kita juga perlu mendirikan dan mendukung program-program aksi sosial yang efektif. Tetapi, ini tidak menggantikan kewajiban kita sebagai pelaku-pelaku

Murni Hermawaty Sitanggang, M.Th.

103

pekerjaan baik secara individu. Sepatutnyalah orang Kristen menjadi sumber-sumber kebaikan, sharing, kasih, dan pelayanan yang konstan sehingga dunia dapat diberkati dan orang-orang dapat beriman kepada Juruselamat kita.

Yesus menegaskan perlunya melayani orang lain dalam ajaran-Nya mengenai “garam dunia” dan “terang dunia.” Garam itu baik dan terang itu berharga. Terang sepatutnya untuk dilihat sementara rasa asin garam haruslah dirasakan sehingga dunia akan melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa yang di sorga (Mat. 5:13-16).

Yesus sendiri memberi teladan bagi kita hakikat melayani dengan kehidupan-Nya. Ia bukan hanya menyampaikan kabar baik dan membuat banyak orang percaya pada-Nya, melainkan juga berbelas kasihan kepada mereka yang sakit, lapar, dan membutuhkan. Ia mengajarkan untuk mengasihi setiap orang, bahkan musuh ketika menyembuhkan telinga hamba imam besar yang datang untuk menangkap-Nya di taman Genesaret (Luk. 22:50-51). Ia juga mengajarkan untuk melakukan yang baik kepada mereka yang secara budaya dianggap hina dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:30-37).

Ada 5 (lima) doktrin alkitabiah yang dapat meyakinkan kita akan tanggung jawab sosial kristiani kita, yang secara keseluruhan menutup setiap kemungkinan menghindar dari tanggung jawab tersebut. Yang pertama adalah doktrin yang lebih genap tentang Allah. Unsur-unsur kesemestaan ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang penting bagi pemikiran kita, antara lain:

1. Allah adalah Penguasa alam dan seisinya (Kej. 1:31). Bagi Allah segala sesuatu adalah sakral dalam arti bahwa semua milik-Nya dan tak ada sesuatu yang “sekular” dalam arti tak ada sesuatu yang tak punya sangkut paut dengan Allah. Ia sering dinalar terlalu kerdil karena terlalu dikaitkan dengan predikat keagamawian. Kita sering berpikir Allah hanya tertarik pada segala sesuatu yang berbagu keagamaan dan lupa kalau Allah tertarik pada semua hal itu bila ada kaitannya dengan kehidupan secara menyeluruh.

2. Allah yang hidup adalah Allah atas alam semesta, Allah dari seluruh ciptaan, bukan semata-mata Allah dari umat pilihan-Nya (Mzm. 33:13-15). Allah berkuasa atas semua bangsa (Mzm. 33:13-15). 3. Allah yang hidup adalah Allah baik atas keadilan maupun atas

pembenaran (Mzm. 146:7-9). Allah memang membenarkan orang-orang yang berdosa, Juruselamat dari para pendosa, “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih Nya dan

setia-Murni Hermawaty Sitanggang, M.Th.

104

Nya” (Kel. 34:6), namun Ia juga Allah yang menghendaki kehidupan bermasyarakat kita ditandai dengan keadilan (Mzm. 146:7-9). Allah membenci keatidakadilan dan penindasan “di manapun juga” dan mencintai serta menggalakkan keadilan “di manapun juga.”

Sebagai ciptaan Allah sudah sepatutnyalah tujuan utama hidup kita adalah memuliakan-Nya dan menikmati-Nya untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, pekerjaan baik adalah cara yang penting untuk memenuhi bagian itu.

Kedua, doktrin yang lebih genap tentang manusia. Semua pekerjaan filantropis kita (pekerjaan yang diilhami oleh kasih sayang kepada manusia) ditentukan oleh penilaian kita terhadap manusia. Semakin tinggi penilaian kita atas manusia, semakin besar pula minat kita melayani kepentingannya. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi sesama manusia dan ingin melayaninya atas dasar nilainya selaku makhluk yang diciptakan menurut rupa Allah maka keprihatinan kita harus mencakup kesejahteraannya secara total, yakni kesejahteraan tubuh (tercukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan), jiwa (keselamatan yang kekal), dan sosial (mengatasi problema-problema kemasyarakatan).

Ketiga, doktrin yang lebih genap tentang Kristus. Yesus berinkarnasi menjadi manusia, mengosongkan diri-Nya dan merendahkan diri untuk melayani dan mati bagi manusia. Ia amat iba dalam pelayanan-Nya melihat orang-orang yang menderita, entah karena sakit entah karena kehilangan seseorang, lapar, tergoda, tak berdaya. Sudah seharusnyalah kita juga seperti itu mengingat kita adalah utusan Kristus (Yoh. 20:21).

Keempat, doktrin yang lebih genap tentang keselamatan. Ada beberapa poin penting yang perlu kita sadari, yaitu: keselamatan tidak terpisah dari Kerajaan Allah, Yesus sebagai Tuhan tidak terpisah dari Yesus sebagai Juruselamat, dan iman tidak terpisah dari kasih. Ekspresi kasih yang praktis kepada orang-orang lain adalah salah satu bukti dari kehidupan baru yang disajikan oleh Rasul Yohanes (1Yoh. 3:14).

Kelima, doktrin yang lebih genap tentang gereja yang adalah umat yang kudus dan umat yang duniawi. Maksudnya di sini adalah orang-orang yang diutus kembali ke dalam dunia untuk bersaksi dan melayani. Pekerjaan baik adalah sarana pertumbuhan dalam kehidupan gereja. Dengan melakukannya, cakrawala umat Tuhan akan diperluas untuk bertumbuh dalam jiwa dan semakin serupa dengan Yesus.

Ada sebuah ilustrasi tentang seorang wanita yang tidak punya tempat berteduh datang meminta bantuan kepada seorang pendeta, yang kemudian berjanji akan mendoakannya. Di kemudian hari wanita yang bersangkutan menulis sajak di bawah ini:

Murni Hermawaty Sitanggang, M.Th.

105

Saya kelaparan,

dan Anda membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparan saya.

Saya terpenjara,

dan Anda menyelinap ke kapel Anda untuk berdoa bagi kebebasan saya.

Saya telanjang,

dan Anda mempertanyakan dalam hati kelayakan penampilan saya.

Saya sakit,

dan Anda berlutut dan menaikkan syukur kepada Allah atas kesehatan saya.

Saya tak mempunyai tempat berteduh,

dan Anda berkhotbah kepada saya tentang kasih Allah sebagai tempat berteduh spiritual.

Saya kesepian,

dan Anda meninggalkan saya sendirian untuk berdoa bagi saya.

Anda kelihatan begitu suci, begitu dekat kepada Allah. Tapi saya tetap amat lapar—kesepian—dan kedinginan.

Dokumen terkait