Dalam al-Qur’an secara implisit (tidak langsung) juga terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang fungsi akal dengan menggunakan beberapa istilah yaitu:
1. Ulul Albab
Ulul Albab berarti, “orang yang berfikir”. Dalam al- Qur'an
disebut sebanyak 11 kali yaitu Q. S.: 2:179. 28:29. 2:269. 3:7. 12:111. 13:19. 14:52. 38:43. 39:9, 8, 21.76 Dalam ayat-ayat tersebut dua di antaranya menerangkan tentang orang yang berakal yaitu mereka yang: Di beri hikmah oleh Allah dan Beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut pada azab akhirat dan dapat membedakan mana orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Kemudian ayat yang lainnya berbicara tentang fungsi akal yaitu: Untuk mengambil pelajaran dari adanya qishash, untuk mengambil pelajaran dari adanya ayat muhkamat dan mutsyabihat, untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah terdahulu, untuk memahami kebenaran nabi Muhammad, untuk mengetahui adanya Tuhan, untuk berfikir kritis dari apa yang dilihat dan didengar, untuk memahami adanya kekuasaan Allah.
Ulul Albab juga mengandung makna orang yang mengetahui
hal ini sesuai dengan firman Allah “adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan mereka yang tidak mengetahui” (QS. Az-Zumar/ 39: 9). M. Shihab memberikan pengertian, ulul albab itu menekankan pada seseorang bahwa begitu besar nilai ilmu pengetahuan dan kedudukan orang yang berilmu. Demikian juga ayat “inilah kamu (wahai ahl al-kitab), kamu ini membantah tentang hal-hal yang kamau
ketahui, maka mengapalah membantah pula dalam hal-hal yang kalian tidak ketahui” (QS. 3:66). Ini merupakan kritik pedas terhadap mereka yang berbicara atau membantah suatu perkara tanpa adanya data objektif lagi ilmiah yang berkaitan dengan perkara tersebut. Inilah yang menjadikan inspirasi pra ilmuwan, karena dan penemuan dan pemikiran ilmu pasti tidak akan pernah berkembang. 77
Berbagai macam ayat al-Qur’an yang menerangkan fungsi akal, secara global dapat disimpulkan, fungsi akal dalam al- Qur’an adalah:
a) Untuk memperhatikan adanya kekuasaan Allah, sehingga menambah tebalnya iman seseorang
b) Untuk mengetahui adanya Tuhan
c) Untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah d) Untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah terdahulu e) Untuk berfikir kritis
f) Untuk menangkap kebenaran sejati yang dibawa nabi Muhammad g) Untuk memahami ayat muhkamat dan mutasyabihat
h) Untuk berfikir segala sesuatu yang berguna untuk kebahagiaan manusia
i) Untuk memahami dan memikirkan proses terciptanya manusia. Dari beberapa gambaran fungsi akal di atas, al-Qur’an juga memberikan gambaran, akal manusia itu mempunyai banyak kelebihan. Sebab akal tersebut manusia mampu memecahkan segala macam persoalan, dengan akal manusia menciptakan dan menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan. Dan kata ulul-albab ini menunjukkan bahwa hanya orang yang berakal yang mampu memikirkan segala macam ciptaan Tuhan, dan menciptakan kebaikan-kebaikan di muka bumi.
Sebagai contoh ayat yang menerangkan ulul-Albab. Allah berfirman:
ﻚِﺌﹶﻟﻭﹸﺃﻭ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻢﻫﺍﺪﻫ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﻚِﺌﹶﻟﻭﹸﺃ ﻪﻨﺴﺣﹶﺃ ﹶﻥﻮﻌِﺒﺘﻴﹶﻓ ﹶﻝﻮﹶﻘﹾﻟﺍ ﹶﻥﻮﻌِﻤﺘﺴﻳ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ
ﹾﻟﹶﺄﹾﻟﺍ ﺍﻮﹸﻟﻭﹸﺃ ﻢﻫ
ِﺏﺎﺒ
"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar: 18)78
Asbabun nuzul ayat ini sebagaimana riwayat dari Jawahir berikut sanadnya melalui Jabir Ibn `Abdullah, la telah menceritakan bahwa ketika turun firman Allah surat al-Hijr ayat 44 tentang pintu Neraka Jahannam yang berjumlah tujuh pintu, maka seorang sahabat Anshor datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasul, sesungguhya aku mempunyai tujuh orang hamba sahaya dan sesungguhnya aku telah memerdekakan untuk masing-masing pintu dari neraka Jahannam itu, seorang hamba sahaya sebagai tebusan atas diriku. Kemudian turunlah ayat sehubungan dengannya: yaitu Surat al- Zumar ayat 17 dan 18. Pada ayat 17 dijelaskan hanya yang tidak menyembah berhala (Thaghut) yang akan mendapat kabar gembira, dilanjutkan dengan ayat 18 yaitu orang yang bisa memilah mana perkataan yang baik dan mana yang buruk, semua itu dapat dilakukan hanya oleh orang yang berakal saja.79
Dalam hal ini jelas al-Qur'an mendorong manusia untuk menggunakan akal pikirannya serta menambah ilmu pengetahuan sebisa mungkin. Dengan potensi akal yang dimiliki manusia, manusia tertantang untuk menumbuh kembangkan segala ilmu yang diketahuinya. Jadi kata ulul al-bab adalah seruan kepada manusia untuk menggunakan akalnya dalam mengungkap segala ilmu. 80
78 Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 915. 748.
79 Qomaruddin Saleh dan A. Dahlan, Asbabun Nuzul, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 18 dan hlm. 748.
2. Ulil Abshar
Ulil Abshar; mengandung arti “orang yang mempunyai
pandangan”. Kata ini di dalam al-Qur'an disebut sebanyak 3 kali yaitu Q.S.: 3:13. 24:44. 59:2. Ketiga ayat tersebut menerangkan bahwa fungsi akal adalah: (a) Untuk memahami adanya kekuasaan Allah (b) Untuk memahami kisah-kisah orang terdahulu.
Dalam tafsir Al-Misbah kata ulil abshar mengandung pengertian orang yang memiliki penglihatan. Begitu juga dalam tafsir al-Maraghi juga ditafsirkan sebagai orang yang memiliki penglihatan atau pandangan.
ﺭﺎﺼﺑﹶﺄﹾﻟﺍ ﻲِﻟﻭﹸﺃ ﺎﻳ ﺍﻭﺮِﺒﺘﻋﺎﹶﻓ;
jadikanlah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai akal penglihatan yang terbuka dan akal yang kuat, atas segala fenomena alam yang mungkin tidak masuk akal (tidak dapat di nalar). Dengan bekal akal seseorang akan mampu melihat dan memahami secara bijak dan penuh rasa syukur. Akal dalam konteks abshar ini mengandung pengertian bahwa akal manusia itu tidak hanya berfungsi berfikir, akan tetapi juga berfungsi untuk menalar dan melogika terhadap segala fenomena atau kejadian-kejadian yang dijumpai, serta memahaminya dan memandangnya secara wajar dan penuh permikiran, pertimbangan, pemahaman dan pandangan yang baik dan benar. 81Ayat yang mengandung unsur al-Abshar yaitu seperti dalam surat:
ﺎﻣ ِﺮﺸﺤﹾﻟﺍ ِﻝﻭﹶﺄِﻟ ﻢِﻫِﺭﺎﻳِﺩ ﻦِﻣ ِﺏﺎﺘِﻜﹾﻟﺍ ِﻞﻫﹶﺃ ﻦِﻣ ﺍﻭﺮﹶﻔﹶﻛ ﻦﻳِﺬﱠﻟﺍ ﺝﺮﺧﹶﺃ ﻱِﺬﱠﻟﺍ ﻮﻫ
ﻦِﻣ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﻢﻫﺎﺗﹶﺄﹶﻓ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﻦﻣ ﻢﻬﻧﻮﺼﺣ ﻢﻬﺘﻌِﻧﺎﻣ ﻢﻬﻧﹶﺃ ﺍﻮﻨﹶﻇﻭ ﺍﻮﺟﺮﺨﻳ ﻥﹶﺃ ﻢﺘﻨﻨﹶﻇ
81 Ahmad Musthafa al-Marghiy, Tafsir al-Maraghiy, 28, terj. Anwar Rsyid, (Semarang: Toha Putra, 1898), hlm. 54.
ﻳ ﻢﹶﻟ ﹸﺚﻴﺣ
ﻢِﻬﻳِﺪﻳﹶﺄِﺑ ﻢﻬﺗﻮﻴﺑ ﹶﻥﻮﺑِﺮﺨﻳ ﺐﻋﺮﻟﺍ ﻢِﻬِﺑﻮﹸﻠﹸﻗ ﻲِﻓ ﻑﹶﺬﹶﻗﻭ ﺍﻮﺒِﺴﺘﺤ
ﺭﺎﺼﺑﹶﺄﹾﻟﺍ ﻲِﻟﻭﹸﺃ ﺎﻳ ﺍﻭﺮِﺒﺘﻋﺎﹶﻓ ﲔِﻨِﻣﺆﻤﹾﻟﺍ ﻱِﺪﻳﹶﺃﻭ
Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab82 dan kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah: maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah kejadian, untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang memiliki pandangan. (QS. Al-Hasyr: 2) 83
Surat al-Nur ayat 44;
ﻟﺍ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﺐﱢﻠﹶﻘﻳ
ِﺭﺎﺼﺑﹶﺄﹾﻟﺍ ﻲِﻟﻭﹸﺄﱢﻟ ﹰﺓﺮﺒِﻌﹶﻟ ﻚِﻟﹶﺫ ﻲِﻓ ﱠﻥِﺇ ﺭﺎﻬﻨﻟﺍﻭ ﹶﻞﻴﱠﻠ
.
"Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (QS. Al-Nur: 44).84
Dari beberapa ayat di atas menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang memiliki akal yang mampu mengambil suatu sikap yang dapat menyelamatkan dirinya. Jadi akal memiliki peran penting dalam diri seseorang, sebab dengan akal tersebut seseorang mampu berfikir hal yang terbaik untuk dirinya dan untuk orang lain. Dengan demikian bagi orang yang mau menggunakan akalnya, dia akan mampu mengarahkan dirinya, sehingga dia akan selamat dan keluar dari berbagai macam kesulitan yang dihadapi. Secara epistemologis kata ini merupakan bagian dari fungsi akal, yaitu untuk memahami sesuatu yang belum diketahuinya.
82 Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi bani nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari kota madinah.
83 Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 915. 84 Departemen Agama Ri, op. cit., hlm. 552
Dalam hal ini dapat kita fahami bahwa akal manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, dan mampu memilah-milah hal-hal yang seharusnya diambil untuk dilaksanakan dan mana hal-hal yang seharusnya ditinggalkan, dengannya pula manusia dapat menemukan kebenaran, walaupun kebenaran disini masih bersifat relatif karena kebenaran yang mutlak hanyalah kebenaran dari Allah semata, dengan akal juga, manusia mampu membedakan mana ukuran baik yang relatif dan ukuran baik yang pasti (qath’i).
Dewasa ini diakui oleh para ilmuwan, sejarah, filsafat, sains, bahwa segala gejala yang dipelajari sebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap realitas atau kebenaran. Hal ini mustahil dapat tercapai apabila manusia tidak mau menggunakan akalnya untuk memahami dan menggunakan inderanya untuk melihat segala bukti (data empirik) yang telah diketahuinya. Dengan demikian “hanya orang-orang yang mau menggunakan penglihatan dan akalnyalah yang dapat menemukan ilmu dan mengembangkannya. 85