BAB V PEMBAHASAN
A. Terorisme Jaringan Lama dan Jaringan Baru
Definisi terorisme telah banyak dirumuskan oleh para ahli. Secara umum, terorisme didefinisikan sebagai perilaku yang menggunakan kekerasan untuk mempengaruhi kebijakan, memunculkan ketakutan publik, menggiring opini, mengakibatkan hilangnya nyawa, serta menyebabkan rusaknya sarana publik (Arciszewski et al., 2009; J. G. Horgan, 2017; Männik, 2007; Moghaddam, 2005; Ozer, 2016; Thornton, 1964).
Terorisme merupakan fenomena yang selalu ada di setiap waktu meskipun intensitas terjadinya terorisme naik dan turun. Terorisme juga dipengaruhi oleh berbagai dinamika politik global dan negara serta keberagamaan masyarakat. Oleh karena itu, menurut Sarwono (2012), terdapat perbedaan model terorisme jaringan dulu dengan jaringan sekarang. Secara tegas, Sarwono (2012) juga memberikan batasan tahun yang tegas untuk menandai perubahan model terorisme tersebut, yaitu tahun 2010. Artinya, terorisme yang terjadi setelah tahun 2010 memiliki model yang berbeda dengan terorisme sebelum tahun 2010. Kemungkinan besar faktornya disebabkan karena perubahan pola berpikir dan munculnya berbagai organisasi terorisme baru. Selain itu, juga disebabkan oleh faktor media.
Faktor paling penting dari perubahan model gerakan terorisme tersebut disebabkan karena faktor pembelajaran. Menurtu informan HM, terorisme jaringan lama memiliki struktur organisasi yang sangat rapi dan baik. Sehingga, jika satu orang terungkap dan tertangkap, maka pihak kepolisian akan mudah mengungkap anggota teroris yang lain. Dengan demikian, jaringan terorisme akan mudah dilumpuhkan. Belajar dari fenomena tersebut, maka orang yang melibatkan diri dalam terorisme jaringan baru tidak menggunakan struktur yang sangat kaku dan rapi. Hal ini bertujuan agar jaringan teroris tersebut tidak mudah terungkap oleh pihak kepolisian.
Menurut informan penelitian AI, terorisme jaringan lama diwakili oleh Al Qaeda dan seluruh organisasi yang berafiliasi kepadanya. Sedangkan, terorisme jaringan baru diwakili oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) bersama setiap organisasi yang berbaiat kepadanya. Perbedaan model terorisme antara jaringan lama dan jaringan baru tersebut terletak dalam beberapa aspek.
Aspek pertama, cara berbaiat. Terorisme jaringan lama memiliki struktur organisasi yang sangat terstruktur dan rapi. Struktur organisasi yang sangat baik dan rapi ini mengakibatkan adanya perwakilan organisasi terorisme.
Misalkan, Jama’ah Islamiyah yang berafiliasi pada Al Qaeda memiliki struktur pusat dan di berbagai negara diwakili oleh mantiqi sedangkan di berbagai daerah diwakili oleh wakalah (Purwawidada, 2014). Selain itu, organisasi teroris tersebut juga terdapat struktur yang bertugas untuk merekrut dan membaiat calon teroris. Dengan demikian, terorisme jaringan lama selalu menggunakan model baiat langsung dan tatap muka (Mapparesa, 2019).
Sedangkan, terorisme jaringan baru tidak selalu menggunakan model baiat langsung dan tatap muka. Sebagian besar terorisme jaringan baru menggunakan model baiat virtual, yaitu berbaiat melalui video.
Aspek kedua, sasaran teror. Sasaran terorisme jaringan lama adalah orang-orang nonislam beserta simbolnya, Amerika Serikat dan para sekutunya beserta simbolnya. Berdasarkan hal ini, maka perilaku teror teroris jaringan lama tidak menyasar orang-orang Islam beserta simbolnya. Sedangkan, terorisme jaringan baru yang terjadi mulai tahun 2010, sasaran terornya meluas.
Sasaran teror bukan hanya kepada orang nonislam dan Amerika Serikat beserta simbolnya, juga menyasar kepada orang Islam beserta simbolnya (Sarwono, 2012). Misalkan, pengeboman di masjid kantor kepolisian resor kota Cirebon, rencana pengeboman kantor polisi di Delanggu dan Klaten, rencana pengeboman masjid At Ta’awun Delanggu Klaten, rencana pengeboman masjid Baitul Makmur Solo Baru, dan menaruh bom di makam Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten (Purwawidada, 2014; Sarwono, 2012).
Aspek ketiga, pelatihan perang dan merakit bom. Terorisme jaringan lama melibatkan pelatihan perang dan belajar merakit bom dalam prosesnya.
Hal ini disebabkan beberapa otak terorisme jaringan lama merupakan alumni akademi militer Afghanistan. Selain itu, pelatihan berperang dan merakit bom ini juga dapat dilakukan karena proses baiat yang langsung dan tatap muka memudahkan para perekrut untuk mengenali calon teroris serta melatih mereka berperang dan merakit bom. Adapun terorisme jaringan baru belum tentu melibatkan pelatihan perang dan merakit bom. Hal ini disebabkan proses baiatnya yang bisa dilakukan jarak jauh atau virtual.
Aspek keempat, model berpikir. Menurut informan AI, terorisme jaringan lama menganggap bahwa organisasinya adalah min ba’dhil muslimin. Sehingga, terorisme jaringan lama tidak memaksa orang lain untuk mengikuti ketentuan beragamanya meskipun menganggap bahwa sistem selain sistem Islam dianggap salah. Akan tetapi, terorisme jaringan baru menganggap organisasinya sebagai jama’atul muslimin (misalkan, ISIS). Pemahaman semacam ini mengakibatkan bahwa orang Islam yang tidak berbaiat kepadanya dianggap telah kafir (keluar dari Islam) sehingga boleh dibunuh. Perbedaan pola berpikir semacam ini menyebabkan terorisme jaringan lama tidak menjadikan orang Islam dan simbolnya sebagai sasaran teror sedangkan sebagian aksi terorisme jaringan baru menjadikan orang Islam yang berbeda paham dengan kelompoknya beserta simbolnya sebagai target teror.
Aspek kelima, kekuatan teror. Menurut informan AI, terorisme jaringan lama memiliki kekuatan teror yang besar. Hal ini disebabkan setiap aksi teror yang dilakukan oleh jaringan lama diprakarsai oleh para ahli bom dan perang serta dipersiapkan secara matang dan detail. Maka dari itu, aksi teroris jaringan lama selalu menewaskan banyak korban atau kerusakan yang cukup besar.
Adapun teroris jaringan baru tidak memiliki kekuatan teror yang besar.
Sebagian di antaranya bahkan gagal dan aksi terornya tidak menewaskan banyak orang. Bahkan, beberapa diantaranya hanya melibatkan perorangan dengan senjata seadanya, misalkan penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanaan Wiranto oleh simpatisan ISIS pada tahun 2019.
Adapun informan SM menjelaskan terdapat beberapa perbedaan antara terorisme jaringan lama dengan terorisme jaringan baru. Sebagian perbedaan
tersebut sama dengan yang disampaikan oleh informan AI, sedangkan sebagian perbedaan yang lain berbeda. Misalkan, pada aspek perekrutan. Organisasi terorisme jaringan lama merekrut para anggotanya secara langsung, artinya menemui calon anggota secara langsung, kemudian dibujuk dan diajak masuk ke organisasi terorisme jaringan lama. Setelah masuk, maka para anggota akan dididik berdasarkan sistem halaqah sesuai dengan tingkat kemampuan. Dengan demikian, perekrutannya sangat terstruktur. Akan tetapi, organisasi jaringan baru menggunakan media sosial dan teknologi dalam perekrutannya. Ini artinya, individu tidak perlu bertemu langsung untuk berbaiat kepada pemimpin ISIS.
Individu cukup berbaiat lewat media sosial atau membuat video baiat kemudian dikirimkan kepada ISIS (Haryadi & Muthia, 2017; Irawan & Nasrun, 2020). Sehingga, masuk ke dalam organisasi terorisme jaringan baru lebih mudah.
Perbedaan selanjutnya terletak pada aspek pemahaman. Meskipun antara terorisme jaringan lama dan baru sama-sama radikal, informan SM menganggap bahwa terorisme jaringan lama memiliki pemahaman keagamaan yang lebih mendalam dan lebih mengenal adab dibandingkan kelompok terorisme jaringan baru. Hal ini disebabkan pola perekrutan terorisme jaringan lama yang melibatkan sistem halaqah. Sedangkan, kelompok terorisme jaringan baru memiliki pemahaman yang kurang matang sehingga cara berpikirnya dangkal dan sangat inklusif.
Berikutnya, perbedaan antara kelompok terorisme jaringan lama dengan jaringan baru dapat dilihat dari resistensi terhadap konflik. Kelompok terorisme jaringan baru lebih rentan terkena konflik karena pemahaman yang sangat tekstual dan dangkal tersebut. Selain itu, disebabkan tidak ada pembinaan pada kelompok terorisme jaringan baru. Sehingga, sifatnya lebih beringas, akhlaknya buruk, tidak ada kasih sayang, serta menganggap orang lain sebagai musuh.
ISIS memiliki corak pergerakan dalam bentuk melakukan apapun yang bisa mencapai pada tujuan jihad, sehingga pergerakan ISIS cenderung sporadis, kecil, dan kurang terstruktur. Misakan, dalam ISIS terdapat fatwa apabila tidak
dapat berjihad ke Suriah, maka boleh jihad di mana pun berada dan dengan cara apapun. Oleh karena itu, jika terorisme jaringan lama melakukan aksi terornya dengan menyusun bom yang berskala besar, maka simpatisan ISIS melakukan aksi teror dengan bom berskala kecil, atau dengan menembak, atau dengan menusuk target dan sasaran. Hal ini dampak dari terorisme jaringan baru tidak menganut sistem pembinaan yang ketat sehingga kemampuan terornya pun kecil. Berbeda dengan terorisme jaringan lama yang memiliki kemampuan teror yang besar dan luas.
Menurut informan SM, ISIS berpendapat bahwa orang yang murtad itu tidak selalu orang yang keluar dari Islam. Orang Islam namun pemahamannya tidak sesuai dengan pemahaman Islam menurut mereka bisa dianggap murtad.
Selain itu, orang semacam ini dianggap lebih berbahaya dibanding orang yang non-Islam atau kafir karena dianggap “musuh dalam selimut”. Oleh karena itu, ISIS atau organisasi terorisme jaringan baru memiliki sasaran bukan hanya orang kafir, namun juga orang Islam yang dianggap murtad tersebut, misalkan TNI dan Polri. Hal ini selaras dengan yang dituliskan oleh Wibowo & Hapsari (2020).
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara terorisme jaringan lama dengan terorisme jaringan baru.
Perbedaan tersebut terletak pada aspek cara baiat, sasaran teror, kekuatan terori, serta pelatihan perang dan merakit bom.
B. Menelusuri Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Terorisme Pada Jaringan