• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

Sasaran 2 Tersedianya teknologi budidaya tanaman perkebunan

Pada TA 2015 Puslitbang Perkebunan mentargetkan untuk menghasilkan teknologi budidaya tanaman perkebunan sebanyak 23 teknologi, dan telah terealisasi sebanyak 23 teknologi (tingkat keberhasilan 100%) sebagai berikut:

TEBU

1. Penetapan Rekomendasi Pemupukan Berbasis Analisis Tanah di Beberapa Lokasi Pengembangan Tebu

Efisiensi pupuk NPK (berbasis status hara tanah) dan meningkatkan produktivitas dan rendemen pada tebu varietas Bululawang (BL) di Malang pada tanah type inseptisol. Peningkatan dosis pupuk nitrogen 0 menjadi 140 kg N/ha meningkatkan produktivitas dari 147,95 ton/ha menjadi 168, 10 ton/ha dengan rendemen 10,82 menjadi 11,26. Dosis pupuk pospat 0 menjadi 45 P2O5 kg/ha meningkatkan produktivitas dari 170,28 ton/ha menjadi 173,5 ton/ha dengan rendemen 10,97 menjadi 1,68 dan kalium 0 menjadi 120 K2O kg/ha meningkatkan produksi 149,58 ton/ha menjadi 178,20 ton/ha.

2. Teknologi Pembuatan dan Pemanfaatan Biochar dari Serasah Tebu untuk Perbaikan Kualitas Lahan Berpasir

Lahan berpasir merupakan bagian dari lokasi pengembangan tebu di Jawa Timur bagian timur. Produktivitas tebu yang dapat dicapai pada lahan ini cukup potensial bahkan untuk varietas tertentu bisa mencapai produksi diatas 100 ton/ha. Teknik pembuatan biochar tebu dengan cara memanaskan biomassa tebu dalam kondisi tanpa oksigen atau oksigen terbatas dengan suhu < 700 0C (system pyrolysis). Pemberian biochar 10 t/ha meningkatkan kadar C organik tanah berpasir sebesar 37%, sehingga meningkatkan status C organik tanah dari kategori sangat rendah menjadi rendah.

3. Penelitian Optimasi Pemupukan pada Sistem Tanam Juring Ganda untuk Meningkatkan Produktivitas dan Rendemen Tebu

Perbaikan sistem tanam yang dapat dilakukan adalah mengatur tata letak tanaman sehingga dalam satuan luas areal pertanaman dapat ditambah populasi tanaman tanpa mengurangi laju pertumbuhannya. Sistem tanam

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

25 juring ganda merupakan salah satu cara untuk memperbaiki sistem tanam tersebut. Puslitbang Perkebunan telah merekomendasikan penggunaan sistem tanam juring ganda dengan PKP 50/135 cm. Sistem tanam juring ganda tersebut mampu meningkatkan jumlah populasi tanaman sebesar 40% dan produktivitas sebesar 29,2% dari sistem tanam juring ganda PKP 130 cm. Pada sistem tanam juring ganda bibit ganda (50/170) cm dan pemberian dosis pupuk dari 6 Phonska + 5 ZA (standar) menjadi 9.6 Phonska + 8 ZA (1.6 x) mampu meningkatkan produksi tebu dari 55,74 menjadi 66,29 ton/ha atau peningkatan sebesar 18,93 %.

4. Validasi Kesesuaian Varietas Tebu dengan Tipologi Lahan di Jawa Timur

Validasi kesesuaian tipologi lahan dengan tekstur berat (B) pada lahan tadah hujan (H) dan dranase lancar (L) dengan tipe kemasakan varietas tebu menunjukkan bahwa varietas tebu tipe kemasakan awal bila ditanam tepat waktu menghasilkan produktivitas sama dengan varietas masak lambat pada lahan dengan tipologi BHL dengan tingkat produktivitas (92,98-109,28 ton/ha). Varietas tebu dengan tipe kemasakan awal sampai awal tengah menghasilkan produktivitas tebu 93-96 ton/ha menggunakan varietas PS 881, Cenning, dan PSJK 922, dan varietas tengah lambat sampai lambat menghasilkan produktivitas tebu 105-109 ton/ha menggunakan varietas VMC-7616 dan PSDK 923. Produksi hablur tertinggi varietas masak awal 8,46 ton/ha (PS 881), varietas awal tengah 8,66 ton/ha (PSJK 922), varietas tengah lambat 9,07 ton/ha (VMC 76-16), dan varietas lambat 9,40 ton/ha (PSDK 923).

5. Pengendalian Penyakit Utama pada Tanaman Tebu Ratoon Cane (RC-1)

Pada tanaman pertama (PC) diperoleh bahwa perlakuan bibit dengan air panas (HWT) 520C selama 45 menit meningkatkan kesehatan tanaman tebu. Intensitas penyakit pokkahboeng dan mosaik cenderung lebih rendah. Kombinasi HWT, chemoterapi, dan kultur jaringan dapat meningkatkan efektivitas mengeliminasi patogen. Sistem tanam juring ganda (50/175 cm) maupun tunggal tidak memberi pengaruh terhadap serangan penyakit.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

26

6. Pengendalian Hama Uret pada Tanaman Tebu

Penggunaan Karbofuran dosis formulasi 40 kg/ha paling efektif dibanding dengan penggunaan nematode jamur Metarhizium anisopliae 50 kg/ha, Steinernema 200 juta NEP/ha, ampas biji mimba 250 kg/ha, dan abu ketel 10 ton/ha. Karbofuran diaplikasikan bersamaan tanam tebu ditaruh di lubang tugal dan diurug tanah. Jamur Matarhizium efektivitasnya lebih rendah dibanding karbofuran. Aplikasinya sama dengan karbofuran.

7. Teknologi Juring Ganda Dan Juring Tunggal Di Beberapa Kabupaten Di Indonesia

Produktivitas tebu dipengaruhi oleh varietas yang digunakan, teknik budidaya yang diterapkan, dan lingkungan selama pertumbuhan tanaman tebu. Potensi varietas akan dapat dioptimalkan bila tebu dipelihara dengan baik mengikuti standar budidaya tebu, pada kondisi lingkungan yang sesuai.

Penerapan sistem tanam juring ganda dengan PKP (135 + 50) cm di 15 lokasi penelitian, dipadukan dengan teknik budidaya tebu yang baik meliputi penggunaan varietas-varietas unggul yang sesuai lokasi pengembangan, pemberian bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 3 – 5 ton/per hektar, ditambah pupuk an organic berupa pupuk NPK 800 – 1000 kg/Ha, diikuti pemeliharaan intensif meliputi pengendalian gulma, pembumbunan, dan klenthek, dapat meningkatkan produktivitas tebu sebesar 4 – 38 % dibandingkan dengan menggunakan sistem tanam juring tunggal (PKP 135 cm). Lokasi-lokasi tersebut meliputi kabupaten Gorontalo, Blora, Langkat, Cirebon, Lampung, Majalengka, Lamongan, Pati, Sidoarjo, Ogan Komering Ilir, Pasuruan, Klaten, Bantul, dan Deli Serdang.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

27 Gambar 7. Pertanaman tebu dengan sistim juring ganda (PKP 135+50 cm)

di kabupaten Blora

KOPI

8. Teknologi pemupukan organik dengan pelarut P dan K pada tanaman kopi robusta

Penggunaan pupuk buatan serta input lainnya secara besar-besaran menyebabkan dampak negatif berupa kerusakan ekosistem sehingga menurunkan kualitas tanah maupun tanaman. Tanah yang rendah tingkat kesuburannya dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan kelompok mikrobia indigeneus pelarut fosfat melalui peningkatan kelarutan pupuk P yang diberikan maupun senyawa P yang tertinggal sebagai residu tanah.Mikroba

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

28 pelarut P mampu berperan melepaskan ikatan P tersebut dan menyediakannya bagi tanaman. MPF yang potensial memiliki kemampuan melarutkan unsur hara P antara lain Bacillus dan Aspergillus. Inokulasi MPF mampu meningkatkan berat biomass dan serapan hara N, P, dan K. Pemberian pupuk NPK dengan interval tiga kali dan mikroba sebanyak 20 gr/th dapat meningkatkan ketersediaan hara K dan Ca sebesar 25 %.

Penggunaan pupuk hayati pelarut P dan K dan berbagai sumber bahan organic pada kopi asal setek berakar dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sebesar 25%.

Gambar 8. Teknologi aplikasi bahan organik dengan pelarut P dan K pada kopi robusta

9. Teknologi pengemasan dan penyimpanan entres kopi robusta untuk meningkatkan viabilitas benih

Lokasi sumber benih dengan tempat perbanyakan benih menjadi sebuah kendala pada penyediaan bahan tanam kopi robusta terutama dalam bentuk entres. Salah satu faktor pembatas keberhasilan distribusi entres kopi adalah tingkat kesegarannya. Semakin cepat entres mengalami penurunan kesegarannya maka akan semakin cepat entres tersebut kehilangan daya tumbuh. Hal ini dapat diatasi dengan mengemas entres dalam bahan pembungkus yang tepat agar kelembaban dan kesegaran entres kopi robusta dapat terjaga dengan baik. Fungsi pengemasan entres kopi selama distribusi adalah untuk melindungi entres kopi dari panas, sinar ultraviolet, benturan, maupun kontaminasi mikroba yang dapat merusak

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

29 dan menurunkan mutu entres. Peningkatan lama simpan entres kopi tersebut akan membantu penyediaan entres untuk perbanyakan kopi robusta secara vegetatif, yaitu penyetekan dan penyambungan.

Teknik pengemasan entres kopi rosbuta dengan menggunakan pengemas plastik+ koran + superabsorbent polyacrylamide polymer (3g/L air) mampu mempertahankan viabilitas entres kopi robusta sebesar 75% walaupun telah melewati masa distribusi entres selama ± 10 hari pada suhu 35-40OC.

Gambar 9. Pengemasan entres kopi robusta

10. Teknologi Percepatan Perbanyakan Kopi Robusta melalui Stek berakar

Modifikasi media tanam, persemaian dan zat pengatur tumbuh mampu mempercepat penyediaan bibit kopi asal stek berakar dari 6 bulan menjadi 4 bulan

KAKAO

11. Teknologi fermentasi biji kakao basah dengan waktu yang lebih singkat

Salah satu upaya untuk mempercepat proses penguraian gula pada pulpa biji kakao pada proses fermentasi dapat dilakukan dengan menambahkan mikroba yang dapat membantu percepatan penguraian gula pada pulpa, salah satunya Rhizopus sp.. Penggunaan Rhizopus sp. sebanyak 1% dari

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

30 berat biji kakao basah sebagai agens fermentasi dapat mempersingkat

waktu fermentasi yang tadinya membutuhkan waktu selama 5-7 hari menjadi 3 hari. Selain itu penggunaan Rhizopus sp. ini lebih mudah

dalam hal aplikasi serta mudah didapatkan.

Fermentasi dilakukan di dalam pot plastik berwarna hitam yang berlubang pada bagian bawahnya. Kemudian dimasukkan biji kakao basah sebanyak ±3 kg ke dalam pot tersebut setelah itu ditambahkan Rhizopus sp. sebanyak 1% dari berat biji kakao. Setelah diaduk rata bagian atas pot tersebut ditutup dengan menggunakan karung goni dan dilakukan pengadukan 2 hari sekali.

Biji kakao kering yang telah difermentasi dengan menggunakan Rhizopus sp. sebanyak 1% menghasilkan rerata kadar lemak sebesar 32%. Dan hasil uji belah menghasilkan biji kakao dengan warna coklat sempurna lebih banyak (73%), biji slaty (4%) dan biji berjamur yang lebih sedikit (9%).

Gambar 10. Proses fermentasi biji kakao

12. Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Utama Tanaman Kakao Ramah Lingkungan Menggunakan Pestisida Nabati dan Pestisida Hayati.

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) kakao yang banyak ditemukan di sentra-sentra produksi kakao di Indonesia adalah hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan Helopeltis sp. Serta penyakit busuk buah kakao. Pengendalian yang dilakukan petani umumnya masih menggunakan pestisida kimiawi yang seringkali mempunyai dampak negatif terhadap

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

31 lingkungan dan kesehatan. Untuk itu perlu diupayakan satu cara pengendalian yang efektif dan aman terhadap lingkungan, yaitu menggunakan pestisida nabati dan pestisida hayati.

Pengendalian hama utama kakao dengan penggunaan pestisida nabati dan pestisida hayati yang diaplikasikan dengan cara disemprotkan 2 minggu sekali dikombinasikan dengan pemangkasan tanaman kakao dan tanaman penaung, pembuatan rorak diantara tanaman kakao dan pemupukan dengan pupuk kandang mampu menurunkan tingkat serangan/ kerusakan hama PBK dan Helopeltis sp. Pada buah kakao serta menghasilkan produksi buah yang dipanen lebih banyak dibanding kontrol.

13. Teknologi Perbanyakan Kakao Melalui Induksi Embriogenesis Somatik Sekunder

Induksi embriogenesis somatik sekunder dimaksudkan untuk meningkatkan faktor multiplikasi, yang dilakukan menggunakan eksplan kotiledon dari embrio somatik primer. Hasil penelitian menunjukkan, perbanyakan melalui embrio somatik sekunder pada kakao dapat meningkatkan faktor multiplikasi sebesar 8 -37 kali dibanding melalui embrio somatik primer, tergantung genotype.

Perbanyakan varietas Sca6, ICS 13, dan UIT 1 menggunakan eksplan staminoid, dengan media induksi kalus primer yang diberi ZPT, kinetin dan media induksi kalus sekunder WPM + 2,4-D + kinetin, menghasilkan sejumlah planlet yang telah berhasil diaklimatisasi, dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi, dan tertinggi pada varietas Sca. Perbanyakan varietas Sca 6 melalui induksi embrio somatik sekunder menghasilkan sejumlah planlet dengan variasi keragaman sebesar 6,3 %. Masih diperlukan upaya optimasi perkecambahan untuk meningkatkan persentase keberhasilan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

32 Gambar 11. Pembentukan embrio somatik sekunder dari potongan kotiledon embrio somatik primer pada media yang mengandung BA (A) dan adenine (B)

Gambar 12. Perkecambahan embrio somatik sekunder (A), dan Planlet dengan daun yang mirip kotiledon (B).

Gambar 13. Tanaman kakao hasil perbanyakan melalui embriogenesis somatik

A B

B

A

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2015

33

Dokumen terkait