Trend capaian varietas unggul baru tanaman perkebunan selama tiga tahun terakhir mencapai > 100% (sangat berhasil).
Sasaran 2 : Tersedianya Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan
Pada TA 2012 Puslitbang Perkebunan mentargetkan untuk menghasilkan teknologi budidaya tanaman perkebunan sebanyak 19 teknologi, dan telah terealisasi sebanyak 23 teknologi (tingkat keberhasilan 121%) sebagai berikut:
1. Teknologi penekanan serangan layu bakteri pada jahe melalui solarisasi tanah
Penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tanaman jahe dapat menghilangkan hasil lebih dari 80%. Perlu dicari teknik budidaya yang efektif dan efisien untuk mengendalikan penyakit tersebut. Solarisasi tanah dengan cara pemulsaan dengan plastik selama 3 bulan sebelum tanam dapat meningkatkan suhu, dan menekan populasi bakteri penyebab penyakit layu bakteri. Sehingga dapat mengurangi serangan penyakit layu bakteri.
2. Teknologi pupuk berimbang untuk pengendalian penyakit layu bakteri
Capaian Indikator Kinerja
Tahun Anggaran
2010 2011 2012
Varietas Unggul yang dihasilkan
Pemberian imbangan hara 500 kg/ha urea + 300 kg/ha SP-36 + 600 kg/ha KCl + 500 kg/ha CaCO3 + 500 kg/ha belerang + unsur hara mikro (Mn, Cu dan B) dapat meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri sehingga dapat mempertahankan tanaman jahe hidup sebesar 78,56 % dan meningkatkan hasil rimpang sebesar 730 g/tanaman setara 29,2 ton/ha.
3. Teknologi pengendalian serangan bercak daun jahe dengan pemupukan dan fungisida
Penyakit utama lainnya pada tanaman jahe adalah bercak daun yang disebabkan oleh Pyricularia sp. dan Phyllosticta sp. Untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan dengan pemupukkan KCL 300 kg; MgSO4 100 kg/ha, dengan interval 3 minggu dapat menurunkan intensitas penyakit 56%, dengan produksi Produksi 816,79 g/rumpun. Sedangkan perlakuan K 300 kg/ha dan MgSO4 100 kg/ha dapat meningkatkan gingerol rimpang JKP.
4. Teknologi pengendalian hama penggerek buah lada
Pengendalian penggerek buah lada dapat dilakukan dengan perlakuan sitronellal konsentrasi 5, 0 ml/l efektif menurunkan populasi D. piperis di lapang ditunjukkan dengan rata-rata nilai efikasi sebesar 86,98%, tingkat serangan D. piperis terendah (kurang dari 10%), rata-rata kehilangan hasil panen terendah (4,066%), hasil panen bersih tertinggi (1.510,938 g/plot), dan mortalitas kumulatif lebih dari 50% sejak 6 JSA.
5. Teknologi pengendalian penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman lada
Penyakit utama pada tanaman lada adalah Phytophthora capsici yang menyebabkan penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). Perlakuan konsorsium mikroba yaitu Pseudomonas fluorescens, Trichoderma sp. dan Arbuskula Mikoriza dapat menekan serangan penyakit buduk pangkal batang lada
6. Teknologi pengendalian hama Helopeltis sp. pada tanaman jambu mete
Pengendalian H. antonii dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati, seperti Beauveria bassiana
dan pestisida nabati. Perlakuan minyak serai dapur dan nilam terhadap H. antonii pada jambu mete menunjukkan hasil yang efektif dengan nilai efikasi lebih dari 70%. Sedangkan penggunaan B. bassiana memiliki nilai efikasi lebih dari 50%.
7. Teknologi pengendalian penyakit akar putih pada tanaman jambu mete
Pengendalian penyakit JAP dapat dilakukan dengan penggunaan pestisida nabati b.a eugenol dan seraiwangi, secara hayati dengan Trichoderma dan Bacillus yang disertai bahan organik lokal, serta pemupukan NPK dalam memperbaiki kondisi tanaman yang terserang, dalam waktu 2-3 tahun
8. Teknologi pengendalian nematoda dengan agensia hayati pada tanaman kopi
Agensia hayati berupa 5 isolat bakteri endofit yang potensial untuk mengendalikan nematode tanaman kopi di rumah kaca dan 2 diantaranya dapat menginduksi ketahanan tanaman
9. Pemanfaatan mikroba indogeneus untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pada tanaman kopi
10. Pemanfaatan mikroba indogeneus untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pada tanaman kakao
Isolat mikroba rizosfer berpotensi sebagi pelarut P (MPF) yang berasal dari tanah perakaran kopi dan kakao. Isolat MPF mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi dan jumlah daun, bobot biomass dan serapan hara N oleh benih kopi dan kakao.
11. Kompatibilitas tiga klon unggul untuk sambung samping dengan kakao rakyat di Lampung
Kegiatan rehabilitasi perkebunan kakao rakyat yang sudah tidak produktif (umur di atas 15 tahun) spesifik lokasi Lampung dapat menggunakan 3 klon kakao unggul yaitu TSH 858, TSH 908 dan Sca 12 dengan metode sambung samping pada 20 - 25 cm dari tanah. Ketiga klon tersebut menghasilkan pertumbuhan yang cepat dan baik.
12. Satu paket teknologi budidaya yang efisien untuk kapas yang ditanam pada musim penghujan (MK) Tumpangsari varietas kapas Kanesia 10 dengan kacang tanah diikuti dengan pengelolaan hama berdasarkan ambang kendali, penyemprotan tetes dan
pemupukan yang tepat menghasilkan 1.34 t kapas berbiji/ha dan 408 kg polong kering kacang tanah/ha, atau pendapatan petani sebesar Rp. 4.708.849,-
13. Satu paket teknologi budidaya yang efisien untuk kapas yang ditanam pada musim kemarau-I (MK-I)
Tumpangsari varietas kapas Kanesia 10 dengan jagung diikuti dengan pengelolaan hama melalui perlakuan imidakloprit menghasilkan 1.78 t kapas berbiji/ha dan 1.28 t jagung/ha atau pendapatan petani sebesar Rp. 7.004.700,-
14. Satu paket teknologi budidaya jarak pagar
Hasil peremajaan jarak pagar dengan teknik sambung samping yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah menghasilkan 436.4 kg/ha dan 960 kg polong kering/ha, sedangkan peremajaan dengan teknik pangkas lebih tinggi hasilnya yaitu 529.75 kg/ha dan 856.5 kg polong kering kacang tanah/ha.
15. Satu teknologi pemanfaatan kompor berbahan baku jarak pagar
Pemanfaatan kompor jarak pagar mampu menekan biaya pembelian LPG dan kayu bakar. Dibutuhkan 300 g
biji jarak pagar kering/jam.Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar memasak, masing-masing rumah tangga sebaiknya memiliki 400 tanaman dengan produktivitas 0.5 kg/tanaman/tahun.
16. Satu teknologi budidaya tembakau lokal Bondowoso
Pengembangan tembakau Maesan I dan Maesan II dengan teknologi guludan tinggi sejak tanam, pemupukan 10 ton pupuk organic+200 kg KNO3+500 kg fertilia+ 50 kg ZA, pemangkasa, dan pembuangan wiwil mampu menghasilkan 1312-1679 kg/ha Maesan I dan 1484-1508 kg/ha Maesan II, atau 36-43% lebih tinggi dibandingkan dengan praktek petani.
17. Protokol ex-vitro kultur embrio kelapa kopyor Modifikasi kondisi ex vitro melalui aplikasi larutan polivinil acetat, modifikasi iklim mikro dan modifikasi media tumbuh dapat meningkatkan jumlah bibit kelapa kopyor dari kultur embrio.
18. Musuh alami hama Aspidiotus ( Chilocorus politus dan Scymnus sp)
Dua jenis musuh alami yaitu Chilocorus politus dan Scymnus sp dapat mengendalikan hama Aspidiotus destructor
19. Perangkap dan feromon Rhyncomonas untuk pengendalian hama Rhyncophorus
Perangkap hama yang terbuat dari pipa PVC telah dimodifikasi panjangnya menjadi 40-50 cm dapat dikombinasi dengan feromon Rhyncomonas untuk mengendalikan hama Rhyncophorus
20. Perangkap dan feromon Feromonas untuk pengendalian hama Oryctes
Perangkap hama yang terbuat dari pipa PVC telah dimodifikasi panjangnya menjadi 40-50 cm dapat dikombinasi dengan feromon Feromonas untuk mengendalikan hama Oryctes
21. Takaran pupuk tanaman aren produktif dan tanaman aren muda
Takaran pupuk organik 400 g/ph/th untuk tanaman aren muda. Takaran pupuk organik 800 g/ph/th dan pupuk anorganik 800 g/ph/th dapat meningkatkan produksi nira aren.
22. Cendawan Aspergillus flavus dan bakteri Pseudomonas untuk pengendalian penyakit Busuk Pucuk Kelapa (BPK) dan Gugur Buah Kelapa (GBK)
Cendawan antagonis Aspergillus flavus mampu menghambat secara in vitro pertumbuhan patogen Phytophthora > 60%. Bakteri Pseudomonas mampu menghambat pertumbuhan patogen Phytophthora > 76%
Perbandingan persentase capaian teknologi produktivitas tanaman perkebunan disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Persentase Capaian Teknologi Budidaya Tanaman
Perkebunan TA 2010-2012
Capaian Indikator Kinerja Tahun Anggaran
2010 2011 2012
Teknologi Budidaya yang
dihasilkan 127 137 116
Trend capaian teknologi budidaya tanaman perkebunan selama tiga tahun menunujukkan realisasi diatas 100% (sangat berhasil).
Sasaran 3 : Tersedianya Teknologi Diversifi-kasi dan Peningkatan Nilai Tambah/ Produk Olahan
Teknologi diversifikasi dan Peningkatan Nilai Tambah /Produk Olahan serta Teknologi tanaman perkebunan (18 formula), realisasi fisik mencapai 164% yaitu:
1. Formula jamu ternak berbasis tanaman obat peningkat fertilitas Sapi
Tingkat fertilitas sapi berpengaruh terhadap reproduksi dan sekaligus terhadap tingkat populasi sapi. Penggunaan tanaman obat yang dicampur dengan berbagai jenis rumput bermanfaat sebagai pakan,memperbaiki tingkat fertilitas dan juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit. Hasil penelitian telah di peroleh satu formula (F1) yang menghasilkan sapi lebih cepat bunting dibandingkan formula yang lain baik formula hasil fermentasi maupun tanpa fermentasi. Formula F1 menggunakan rumput keibar yang lebih dominan dari pada rumput jeriwit, banta dan bura-bura. Pengamatan secara visual sapi yang diberi formula jamu
menghasilkan sapi lebih gemuk, sehat dan bulunya bersih serta mengkilat.
2. Formula minyak atsiri sebagai bioaditif untuk bensin dan solar
Hasil pengujian formula aditif bensin menunjukan kenaikan angka oktana sebesar 0,9 dan penurunan kadar gum menjadi 0,6%, serta spesifikasi fisika kimia bensin setelah dicampur aditif dapat memenuhi spesifikasi mutu menurut Direktorat Jendral Minyak dan Gas. Kinerja aditif pada bensin cukup baik, ditunjukkan oleh peningkatan torsi dan daya motor serta berkurangnya konsumsi bahan bakar spesifik setelah dicampur aditif. Hasil pengujian aditif solar juga cukup baik. Peningkatan angka cetana pada aditif solar sebesar 3,1. Spesifikasi fisika kimia solar setelah dicampur aditif dapat memenuhi standar mutu dari Direktorat Jendral Minyak dan Gas. Uji kinerja pada aditif solar menunjukkan peningkatan torsi dan daya motor pada bahan bakar solar, serta mengurangi konsumsi bahan bakar spesifik. Uji emisi gas buang memberikan hasil yang baik untuk aditif
bensin maupun solar, yaitu dengan berkuranggnya konsentrasi gas CO, CO2 dan HC dalam gas buang hasil pembakaran bensin dan solar.
3. Formula pestisida nabati efektif untuk mengendalikan nematode bercak akar jahe Dua formula pestisida nabati yang terdiri dari minyak serai wangi + asam salisilat, dan formula minyak cengkeh + minyak temulawak, telah diaplikasikan pada saat tanaman berumur 2 bulan, dan dilanjutkan 3 kali dengan interval setiap 2 minggu, efektif menekan serangan nematoda Meloidogyne sp. pada jahe di lapang > 50%.
4. Formula pestisida nabati efektif untuk mengendalikan OPT teh
Formula pestisida nabati yaitu (1) sitronellal; (2) eugenol; (3) rotenon; (4) azadirachtin; (5) campuran sitronellal, rotenon, eugenol, dan azadirachtin; dan (6) kontrol (air), menunjukkan semua formula pestisida nabati efektif mengendalikan intensitas serangan tiga Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada pucuk teh, yaitu ulat jengkal (Plusia
calchites), Empoasca (Empoasca sp.) dan Helopeltis (Helopeltis spp.) rata-rata 30%. Pestisida nabati diaplikasikan dengan konsentrasi lima ml l-1 air, dan diulang empat kali pada tanaman teh.
5. Formula pestisida nabati efektif untuk mengendalikan hama penggerek buah pada kakao
Telah dihasilkan formulasi pestisida nabati untuk mengendalikan penggerek buah kakao. Formulasi Sitronellal (S) 34% + Eugenol (E) 80% + Azadirachtin (A) 0,6% konsentrasi lima ml l-1 mampu mengurangi tingkat kerusakan buah akibat serangan PBK yang ditunjukkan dengan nilai efektivitas 37,00% pada serangan ringan, 51,62% pada serangan sedang, dan 65,18% pada serangan berat.
6. Formula pestisida nabati efektif untuk mengendalikan hama penggulung daun nilam Untuk mengendalikan hama penggulung daun telah dihasilkan formula pestisida nabati mengandung bahan aktif 24% kayumanis dan seraiwangi (bio-KM24) dan (bio-SW24) . Aplikasi formula dilakukan melalui penyemprotan dengan dosis 20 ml/l air, dan
diulang setiap 2 minggu. Hasil percobaan menunjukkan bahwa larva P. stultalis hama penggulung mati di atas 50%.
7. Formula fungisida nabati untuk mengendalikan penyakit busuk buah kakao
Formula fungisida berbahan aktif minyak cengkeh (eugenol) yang dicampur dengan senyawa penginduksi ketahanan tanaman (asam salisilat) efektif mengendalikan Phytophtora palmivora penyebab penyakit busuk buah pada kakao di laboratorium, rumah kaca dan lapangan.
8. Satu konsentrasi Isolat potensial B. Bassiana Konsentrasi B. bassiana 1.2 x 1012 konidia/ha mampu menurunkan ulat H. armigera 48% dan kerusakan buah kapas 31.9%, dan mampu meningkatkan hasil kapas berbiji 30.7%
9. Satu dosis Aj NPV yang efektif terhadap ulat pemakan daun tanaman jarak kepyar
Patogenisitas virus A. janata tertinggi pada instar II dengan mencapai mortalitas 90%, LC50 1.0x103
PIB/ml, LT50 4.8 hari, dan menyebabkan kehilangan bobot ulat sebesar 57.9%.
10. Satu konsentrasi PBM Plus yang efektif terhadap H. armigera dan S. litura
Konsentrasi 2 ml PBM plus/ha paling efektif terhadap H. armigera dan S .litura dengan mortalitas berturut-turut 84% dan 80%.
11. Satu formula vaksin Carna-5 yang efektif terhadap penyakit CMV pada tembakau
Efektivitas formulasi vaksin carna 5 hanya mampu menekan sedikit kejadian penyakit CMV, karena keparahan penyakit mencapai 9.0 – 16.4%.
12. Satu formula biofungisida yang efektif terhadap penyakit rebah kecambah pada kapas Efektivitas formulasi vaksin carna 5 hanya mampu menekan sedikit kejadian penyakit CMV, karena keparahan penyakit mencapai 9.0 – 16.4%.
13. Sembilan isolat mikroorganisme pelarut fosfat sebagai bahan bio-fertilizer
Diperoleh 9 dari 22 isolat bakteri pelarut fosfat (BPF) yang berpotensi tinggi yaitu TR-2, PJ II-3, BL-1, BD-2, WT-10, PJ I-3, BL-4, KD-5 dan WT-7.
14. Satu formula bio-dekomposer untuk pembuatan pupuk oganik berbahan baku limbah tebu
Telah dibuat 4 formula bio-dekomposer yaitu formula LIGSEL, LIGI, SELI dan KABBI. Rasio C/N kompos hasil dekomposisi masing-masing formula secara berurutan yaitu 13-15, 14, 13-15 dan 12-15, sedangkan kompos hasil fermentasi dengan EM4 adalah 12-17.
15. Satu bahan baku pakan ternak dan limbah tebu Perlakuan pakan berupa pucuk daun tebu dengan perlakuan formulasi bakteri selulolitik yang difermentasi selama 30 hari menunjukkan nilai protein kasar 6.07, ADF 44.96 dan NDF 73.22.
16. Biskuit kaya serat dari tepung ampas kelapa. Dua Formula biskuit yang memiliki kandungan serat pangan 11,4-15.5% dan 13.2-16.7%
17. Biskuit kaya antioksidan dari tepung biji pinang, dan dua Formula Biskuit yang memiliki
kandungan senyawa antioksidan 0.15-0.32% dan 0.12-0.32%
18. Alat pengolah pupuk organik dari limbah tanaman kelapa
Alat pencampur pupuk organik berasal dari limbah kelapa dengan kapasitas 500 kg/jam.
Trend capaian teknologi peningkatan nilai tambah dan daya saing/produk olahan tanaman perkebunan selama TA 2010-2012 menunjukkan peningkatan, dan capaian diatas 100% (sangat berhasil), sebagaimana disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Persentase Capaian Teknologi Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing/Produk Olahan Tanaman Perkebunan TA 2010-2012 Indikator Kinerja Tahun Anggaran 2010 2011 2012 Teknologi Peningkatan Nilai Tambah/Produk Olahan 108 138 164
Sasaran 4 : Tersedianya Sumberdaya Genetik Tanaman Perkebunan
TA 2012 Puslitbang Perkebunan mentargetkan pelestarian Plasma Nutfah tanaman perkebunan sebanyak 4.490 aksesi plasma nutfah tanaman perkebunan. Dari target tersebut, telah terealisasi 5.248 aksesi (117 %). Rincian Plasma Nutfah yang dilestarikan adalah sebagai berikut:
1. Plasma nutfah tanaman rempah, obat, aromatik, dan jambu mete: 2.799 aksesi
2. Plasma nutfah tanaman industri dan penyegar sebanyak 575 aksesi dengan perincian 255 aksesi tanaman kopi, 230 aksesi tanaman kakao, 50 aksesi tanaman karet dan 40 aksesi tanaman teh
3. Plasma nutfah tanaman tembakau, serat, dan minyak industri: 1.715 aksesi
4. Plasma nutfah tanaman kelapa dan palma 159 aksesi yang terdiri atas kelapa (88 aksesi), aren (16 aksesi), sagu (17 aksesi), dan pinang (38 aksesi)