• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM SEMARANG

B. Persdelict Sneevliet Hingga Pembuangannya Ke Negeri Belanda 1 Persdelict Sneevliet di Semarang (1917)

2. Terusirnya Sneevliet Dari Kota Semarang (1918)

Pada bulan Mei 1918, Sneevliet menulis artikel bertajuk Onze eerste 1 Mei-viering (perayaan satu Mei pertama kita). Esai ini banyak bercerita tentang kekecewaannya pada perayaan Hari Buruh sedunia yang digelar pada awal bulan di Surabaya karena hanya dihadiri orang-orang Belanda. Padahal ajakan untuk ikut serta dalam perayaan itu telah dipublikasi sebelumnya melalui surat kabar. Melalui tulisan ini menjadi tulisan pertama yang ditulisnya setelah ia dinyatakan bebas dari tuduhan persdelict. Bukan hanya semakin rajin menulis namun Sneevliet juga semakin rajin dalam melakukan propaganda bersama ISDV dengan membangkitkan kesadaran buruh, prajurit dan kelasi Belanda. Dalam waktu tiga bulan jumlah mereka mencapai 3.000 orang.

Kemudian para prajurit Garda Merah bentukan Sneevliet ini memberontak di basis utama angkatan laut Hindia Belanda di Surabaya pada tahun 1918. Melihat hal ini pemerintah kolonial mengambil tindakan untuk menangkap para pemimpin pemberontakan. Mereka dijatuhi hukuman hingga 40 tahun penjara, selain itu pemerintah kolonial Belanda juga mengusir para pemimpin ISDV yang berkebangsaan Belanda, salah satunya Sneevliet. Pengusiran Sneevliet ke luar dari wilayah Semarang merupakan usulan dari residen Semarang, PKW. Kern kepada Gurbenur Jenderal Van Limburg Stirum. Mereka memiliki alasan pokok untuk mengusir Sneevliet karena telah menganggu rust en orde (keamanan dan ketertiban) pemerintahan kolonial. Memang keputusan Sneevliet untuk mengarahkan massa dan memberontak kepada pemerintah sescara tidak langsung memunculkan kegelisahan pada

pemerintah kolonial yang merasa takut terhadap Sneevliet dan kelompok buruhnya mengambil alih kekuasaan wilayah kolonial di Hindia Belanda. Namun tidak selalu aksi pengerahan massa yang dilakukan olehnya dapat berjalan mudah. Pemerintah kolonial sebagai pemegang kekuasaan tertinggi memiliki kebijakan penuh dalammengendalikan pemerintahan termasuk di untuk memberikan keputusan hukum kepada seseorang yang dianggap sebagai pemberontak.

Kebijakan tersebut juga berdampak kepada Sneevliet, pemerintah kolonial dengan semaunya menentukan kebijakan hukum bagi Sneevliet yang dianggap musuh bagi pemerintah. Bahkan dengan keputusan pengusiran Sneevliet merupakan kebijakan paling tepat yang dilakukan oleh pemerintah kolonial agar jaringan gerakan yang dibuat olehnya tidak meluas dan membahayakan posisi pemerintah kolonial. Keputusan definitif pemerintah ini dikeluarkan pada tanggal 5 Desember 1918 disertakan juga surat pemberitahuan dari pengadilan tentang pengusiran Sneevliet dari Semarang. Di dalam surat pemberitahuan tersebut diberitahukan tentang hak-hak istimewa dari pengusiran Sneevliet. Dengan hak istimewa itu memungkinkan Sneevliet diusir tanpa harus melalui proses persidangan. Keputusan pengusiran Sneevliet ini tentu memunculkan reaksi dari anak-anak didiknya. Bahkan terkait pengusiran Sneevliet ini Marco sempat mengekspresikan rasa kagum dan hormatnya pada Sneevliet melalui sebuah tulisan yang dimuat di surat kabar Sinar Hindia:

Sekarang jaman I.S.D.V., jaman mana yang kita harus berkata terus terang kepada publik, mengertinya: bangsa bangsat harus kita

katakan bangsat juga dan bangsa baik pun harus kita katakan baik. Lantaran Sneevliet dibuang (...) barangkali semua pemerintahan (...) ada di dalam perintahnya kapitalisme (...) Sneevliet berani sampai dibuang!(...)

Bangsa apakah yang tertindas di Hindia sini? Yaitu bangsa kita. Mengapa orang Belanda seperti Sneevliet yang mesti membela tindasan-tindasan itu, dan sampai ia berani dibuang, sedang bangsa kita yang mengaku menjadi pemimpin rupa-rupanya jarang berani bergerak seperti Sneevliet.129

Melalui tulisan ini Marco menginginkan agar kaum bumiputera tampil kedepan meneruskan perjuangan Sneevliet membela kaum tertindas dan melawan kaum penindas, yakni pemerintah kolonial dan kaum kapitalis. Di dalam tulisan ini Marco juga mengkritik pada pemimpin-pemimpin bumiputera yang jarang berani bergerak seperti Sneevliet namun justru mereka menjalin kerjasama dengan pemerintah kolonial dan menjadi kaki tangan dari para penindas ini.Selain Marco reaksi terkait pengusiran Sneevliet juga muncul beberapa editor surat kabar Eropa dan kalangan pergerakan mengirimkan surat protes kepada pemerintah kolonial.

Reaksi serupa muncul dari beberapa cabang Sarekat Islam di Semarang, Salatiga, Surabaya dan Tegal yang mengirimkan telegram ke

Volksraad mengecam pembuangan Sneevliet. Bahkan sekretaris Sarekat Islam mengirimkan surat protes langsung ke parlemen Belanda di Den Haag. Berbagai macam cara terus dilakukan oleh massa pendukung Sneevliet baik di Semarang maupun di beberapa kota lainnya untuk menggagalkan keputusan pengusiran Sneevliet dari Semarang. Namun segala upaya yang dikerahkan tak mampu menghentikan keputusan pemerintah kolonial untuk mengusir

129

Sneevliet. Pada tanggal 20 Desember 1918 Sneevliet akhirnya dipulangkan

kembali ke Belanda dengan menggunakan kapal Noordam.

Pada saat pemberangkatan Sneevliet dari Semarang menuju Belanda pemerintah kolonial membuat penjagaan ketat untuk mencegah kemungkinan kerusuhan.130 Namun hal ini justru semakin memperkuat perasaan solidaritas kepada masyarakat Semarang terhadap Sneevliet. Semaoen menggunakan kesempatan keberangkatan sang mentor dengan menjanjikan bantuan keuangan tidak hanya dari ISDV dan VSTP tapi juga dari CSI.Tujuannya adalah memberikan bantuan kepada Sneevliet sampai ia mendapatkan pekerjaan dan juga untuk menjalin hubungan antara gerakan massa di Indonesia dengan kaum revolusioner sosialis Eropa. Sejak quid pro quo (sesuatu diterima dengan ganti yang lain), Sneevliet berencana menjadi wakil di Belanda bagi para pendukungnya di Hindia. Hal tersebut juga memberi kesempatan untuk berbicara di kalangan internasional atas nama mereka.131

Meskipun Sneevliet sudah tidak berada di Semarang, namun hubungan dirinya dengan para pendukung SI Semarang tetap terjalin dengan baik. Hal ini terlihat saat Semaoen yang selalu berkirim surat dengan Sneevliet untuk menjalin relasi dengan tokoh-tokoh komunis internasional.

130

Laporan Sneevliet mengenai kedatangannya diberikan dalam pamflet Mjine Uitzetting (pengasinganku), yang ia sebarkan saat kembali ke Belanda. Laporan lain tentang Sneevliet yang ekstrem, lihat Jongmans, De Exorbitante Rechten, hlm.139-142

131

Laporan tentang pertemuan CSI yang menyetujui mendukung Sneevliet, lihat Ruth T. Mc.Vey,op.cit,hlm.22-23. Usulan Semaoen menemui banyak penolakan, kemudian hanya diterima karena desakan Tjokroaminoto. CSI kemudian menyediakan dana kepada para korban gerakan kemerdekaan karena perbuatan pemerintah. Tapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan CSI membantu Sneevliet secara teratur. Persetujuan sebelumnya asli sudah ditetapkan, mengingat adanya kesulitan keuangan, nampaknya tidak mungkin para pemimpin CSI serius pada rencana mereka menempatkan Sneevliet pada daftar gaji mereka. Ia kemungkinan mendapatkan dana dari VSTP, tapi sumber bantuan utamanya dari Hindia uang yang dikirimkan oleh ISDV.

104

BAB IV

DAMPAK PENYEBARAN KOMUNISME HENK SNEEVLIET BAGI