Tes kekuatan fungsi otot dilakukan untuk memperoleh informasi dasar tentang status pasien. Misalnya, pasien diminta untuk mengangkat tiap lutut saat posisi duduk. Derajat kekuatan otot dapat dinilai dengan menggunakan sistem penilaian seperti pada tabel 2. Ini
menyediakan pengukuran numerik kekuatan yang dapat dibandingkan dari mingggu ke minggu selama proses rehabilitasi untuk mengukur perbaikanatau perburukan. 18
Tabel 2. Medical Research Council Grading Grade 5 Kekuatan normal
Grade 4 Pasien mampu untuk menggerakkan ekstremitas melawan gravitasi dan tahanan yang diberikan oleh pemeriksa, namun kekuatan tidak normal.
Grade 3 Pasien mampu menggerakkan ekstremitas melawan gravitasi namun tidak mampu melawan tahanan yang diberikan oleh pemeriksa Grade 2 Pasien tidak mampu mengangkat ekstremitas melawan gravitasi,
namun jika gravitasi dihilangkan, ekstremitas dapat digerakkan.
Misalnya pasien mampu menggeser lenganya
Grade 1 Tidak ada gerakan ekstremitas, dijumpai kontraksi otot Grade 0 Tidak dijumpai kontraksi otot
III.2.2.4.3. Jenis Latihan
Latihan tidak dapat dilakukan jika pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas setidaknya jika gravitasi dihilangkan (grade 2). Terapi untuk apapun dengan kelemahan yang lebih berat, hanya terdiri dari latihan ROM pasif yang dilakukan oleh ahli terapi. Begitu grade 2 tercapai, sejumlah latihan dapat dilakukan dengan menggerakkan ekstermitas sejajar dengan lantai. Ketika pasien mencapai kekuatan grade 3, dapat dimulai latihan dengan resistensi ringan, melawan gravitasi dan tahanan minimal. 18
Latihan Resistensi Ringan
Tujuan utama dari latihan ini adalah untuk meningkatkan stamina, bukan kekuatan.
Pasien akan melakukan banyak pengulangan latihan melawan tahanan minimal. Kelemahan neuromuskular adalah bagian penting pada GBS, dan pasien GBS hanya melakukan latihan sampai merasa lelah. Pengulangan dengan tahanan ringan akan memperbaiki ketahanan otot dan resistensi terhadap lelah, dan meningkatkan kapasitas oksidatif otot. Ini dikenal dengan latihan aerobik. Seiring dengan perbaikan kekuatan dan stamina, pasien diminta untuk melakukan latihan yang lebih berat. 18
Latihan Resistensi Berat/ Penguatan Otot
Kebalikan dengan latihan resistensi ringan, tujuan utama dari latihan tahanan berat adalah untuk meningkatkan kekuatan dan bukan stamina. Tentu saja, kedua bentuk latihan ini meningkatkan kekuatan dan stamina, namun tujuan utamanya berbeda. Seiring dengan
perbaikan kekuatan, beban yang lebih berat dapat digunakan dengan pengulangan yang lebih sedikit. 18
Latihan Progresif-Resistensi
Seiring dengan perbaikan kekuatan lebih membaik, latihan dapat ditambah untuk memaksimalkan kontraksi otot melalui latihan ROM menyeluruh. Sebagian besar latihan dirancang untuk menguatkan kelompok otot dan fungsi spesifik seperti ekstensi kaki (mengangkat kaki)dan fleksi lengan (membengkokkan lengan pada siku). Pendekatan lain menggunakan kombinasi latihan yang menggabungkan kedua otot yang kuat maupun yang lemah dalam suatu gerakan. Tujuan mengkombinasikan dua latihan atau lebih adalah untuk mentransfer kekuatan dari otot yang lebih kuat ke otot yang lebih lemah. Manfaat potensial dari teknik ini, yang disebut sebagai proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF), dibatasi oleh jumlah suplai saraf ke tiap kelompok otot yang berpartisipasi pada kombinasi aktivitas tersebut. Teknik PNF membantu mempertahankan ROM dari sendi yang dilatih. 18
Membangun Kekuatan dan Ketahanan
Seiring dengan suplai saraf membaik, latihan tambahan dapat dilakukan untuk lebih memperbaiki kekuatan otot. Misalnya, stationary bicycle pedaling dapat digunakan, begitu juga latihan progresif-resistif. yang dirancang untuk memberikan kaki suatu beban konstan seiring lutut bergerak sesuai ROM normalnya. Ini dapat dilakukan dengan bantuan mesin.
Latihan seperti mengangkat beban, dapat digunakan untuk memperbaiki kekuatan ekstremitas atas, dan akhirnya memungkinkan pasien untuk bergerak secara independen dari kursi roda ke tempat tidur atau kursi biasa. 18
Perkembangan Untuk Berjalan
Seiring dengan kekuatan kaki membaik, alat bantu dapat digunakan untuk menyediakan keseimbangan dan memberikan dukungan sewaktu berjalan. Pasien biasanya akan mulai berlatih dengan parallel bars. Pasien dapat menggunakan bars ini ketika mencoba untuk berjalan. Perlahan-lahan pasien dapat berlatih dengan tongkat. Tongkat quad, yang memiliki empat kaki di lantai, menyediakan stabilitas yang lebih baik dan biasanya pertama kali digunakan. Saat pasien memiliki keseimbangan dan kekuatan yang cukup,tongkat satu kaki dapat digunakan. Akhirnya, pasien dapat berjalan mandiri tanpa bantuan. 18
Activities of Daily Living
Activities of daily living (ADL) adalah suatu istilah untuk aktivitas sehari-hari yang penting, seperti perawatan diri, makan, berpakaian, menulis dan aktivitas pekerjaan.
Mempelajari kembali aktivitas dasar ini adalah bagian penting dari rehabilitasi pada pasien GBS. Mengarahkan pasien untuk melakukan ADL adalah bidang kerja ahli terapi okupasi, karena fokus kerjanya adalah latihan untuk mendapatkan kembali fungsi ekstremitas atas.
Seperti pada ekstremitas bawah, fungsi ekstremitas atas biasanya kembali dengan pola proksimal ke distal. Oleh sebab itu, penggunaan bahu,yang lebih proksimal akan lebih dahulu kembali sebelum tangan dan jari. Selama rehabilitasi, tes kekuatan neuromuskular akan dilakukan secara reguler,setiap minggu,untuk menilai kemajuan perbaikan kekuatan otot.
Program terapi akan disesuaikan untuk menguatkan otot-otot yang lebih lemah. 18
III.2.2.5. Speech Therapy (Terapi Wicara)
Ahli terapi wicara juga dilibatkan untuk memperbaiki fungsi menelan dan berbicara untuk pasien dengan kelemahan orofaring yang signifikan, dengan disfagi dan disartria.2 Pada kasus yang berat, pasien dengan respirator tidak mampu berbicara karena pipa yang terletak di jalan nafas tidak memungkinkan pergerakan pita suara, yang normalnya memproduksi suara.18 Pada pasien yang tergantung dengan ventilator ini, strategi komunikasi alternatif juga harus diimplementasikan.2 Pasien ini biasanya berkomunikasi via communication cards.
Biasanya begitu pipa endotrakeal dilepas, kemampuan bicara kembali dalam beberapa hari. 18 Bahkan tanpa penggunaan respirator sebelumnya, pasien masih memiliki kesulitan berbicara jika otot-otot untuk berbicara mengalami kelemahan. Otot-otot ini meliputi pita suara, lidah, bibir, dan mulut. Ahli terapi wicara dapat membantu pasien mempelajari latihan untuk otot yang terkena dalam rangka memperbaiki pola bicara dan kejelasan vokal, begitu pula rekomendasi perubahan diet untuk memfasilitasi proses menelan yang normal dengan nutrisi yang adekuat. Pasien yang memakai respirator selama lebih dari 2 minggu akan menbutuhkan pemasangan pipa trakeostomi yang dimasukkan mellaui lubang di depan leher.Begitu pipa dilepas, pasien ini membutuhkan latihan untuk berbicara dengan jelas sampai lubang tersebut tertutup sempurna.
III.2.2.6. Recreational Therapy
Recreational therapy dapat memiliki manfaat khusus untuk pasien dengan disabilitas menetap. Keterikatan dengan recreational therapy membantu pasien menyesuaikan diri untuk berpartisipasi pada aktivitas yang menyenangkan walaupun dengan disabilitasnya. Hal yang
paling penting adalah, jenis terapi ini membantu pasien menghadapi kenyataan bahwa disabilitas tersebut adalah bagian dari kehidupan mereka, namun pasien masih dapat menikmati hidup. 18
Partisipasi dalam recreational therapy membantu dalam penyesuaian pasien terhadap disabilitas dan memperbaiki integrasi ke dalam masyarakat. Aktivitas rekreasional, baik yang baru atau lama, dapat digunakan untuk mempercepat perkembangan dan kemandirian pada pasien yang dirawat inap dalam jangka waktu yang lama. Terapi recreational dapat melibatkan semua level aktivitas, mencakup menonton televisi bersama, bermain kartu, dan bermain basketdengan kursi roda. 2,18
III.2.2.7. Psikolog dan Psikiatris
Psikolog dan psikatris memegang peranan penting dalam membantu pasien dan keluarga dalam menangani masalah paralisis, ketergantungan, hilangnya pendapatan, dan permasalahan emosional. Reaksi emosional terhadap penyakit berat dapat mencakup frustasi,depresi, mengasihani diri, penyangkalan, kemarahan dan kerakutan. Terlepas dari beratnya penyakit ini,prognosis pasien GBS cukup baik. Oleh sebab itu, pendekatan yang harus dilakukan adalah dengan mengupayakan proses rehabilitasi dilalui dengan sikap optimis. Psikolog dapat membimbing pasien dan keluarga dalam menangani dampak emosi dari penyakit ini. Psikolog dapat menggunakan terapi bicara untuk membantu pasien memahami bahwa rasa takut, marah dan emosi lain tersebut adalah hal yang normal dan dapat dimengerti, dan mereka tidak seharusnya merasa bersalah atas perasaan tersebut.
Membenarkan reaksi emosi terhadap GBS, dan menawarkan pengertian dan dukungan dapat meringankan rasa takut dan membimbing pasien untuk menerima. Tujuannya adalah membantu pasien GBS dan keluarganya menghadapai keterbatasan fisik apapun yang mungkin menetap dengan cara yang konstruktif. Psikiatris akan menilai keadaan emosi pasien, menghubungkannya dengan kepribadiannya dan kemudian menyediakan pengobatan, seperti antidepresan, untuk meringankan stres dan memperbaiki kemampuannya untuk beradaptasi. 18