• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tes uji petik kinerja Observasi Lembar observasi

LANDASAN TEORI

3. Tes uji petik kinerja Observasi Lembar observasi

Penugasan 1. Pekerjaan rumah 2. Proyek

Produk Rubrik

Inventori Angket

Portofolio Lembar penilaian portofolio Jurnal Buku catatan jurnal

Kombinasi penggunaan beberapa teknik penilaian potensial dapat memberikan informasi yang lebih akurat.Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrument penilaian yang sesuai.Berikut adalah skema teknik penilaian berdasarkan waktu pelaksanaan penilaian dan penilai.

(Sunarti, 2014: 19)

Gambar 1 Skema Teknik Penilaian •PPenilaian diri •waktu:Sebelum ulangan harian •1.Ujian Tingkat Kompetensi (UN) waktu:Akhir jenjang sekolah

•2.Ujian mutu Tingkat Kompetensi

•waktu:Tiap akhir tingkat kompetensi

•1.Ujian Tingkat Kompetensi (yang bukan UN) •Waktu:Tiap tingkat kompetensi •2.Ujian Sekolah •Waktu:Akhir jenjang sekolah •1.Penilaian Otentik

•Waktu: terus menerus

•2.Penilaian Projek •Waktu:akhir bab/tema •3.Ulangan Harian •Waktu:sesuaia rencana •4.UTS/UAS •Waktu:semesteran GURU SEKOLAH SISWA PEMERINTAH

2. Kurikulum 2013

a. Pengertian Kurikulum 2013

Menurut (Mulyasa, 2013: 99) tema Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter.

Pengembangan Kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanaan, pendekatan tematik integrative. Titik tekan pengembangan Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan pola pikir, penguatan tata kelola kurikulum, pendalaman dan perluasan materi, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian bahan belajar agar dapat terjamin kesesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang dihasilkan. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori pendidikan berbasis standar (standard based education) dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency based education). Pendidikan berbasis standar menetapkan adanya standar nasional

sebagai kualitas minimal warga Negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.

Kurikulum 2013 dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak. Kurikulum 2013 menganut : (1) pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas dan masyarakat, dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned curriculum)sesuai latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.

Dalam Kurikulum 2013 ini berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter. Pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan (Mulyasa, 2013: 7).

b. Karakteristik Kurikulum 2013

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap, spiritual dan social, rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

2. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.

3. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.

4. Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan.

5. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.

6. Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses

pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.

7. Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organization horizontal and vertical)

Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dapat dimaknai sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan

tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penugasan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum ini diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab (Mulyasa, 2013: 68)

c. Landasan Kurikulum 2013

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik IndonesiaNomor 69 Tahun 2013,Kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, dan kompetensi sebagai berikut:

a. Landasan Filosofis

Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat menghasilkan manusia

yang berkualitas. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut:

1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik. Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatanluas bagi peserta didik untuk menguasai kmpetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.

2. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah suatu proses yang

memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi kemampuan berfikir rasional dan kecemerlangan akademik dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan berfikir rasional dan cemerlang dalam akademik, Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi, dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya dan dalam kehidupan berbangsa masa kini.

3. Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecermelangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). Filosofi ini mewajibkan kurikulum memiliki nama mata pelajaran yang sama dengan nama disiplin ilmu, selalu bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan akademik.

4. Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik

(experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berfikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.

Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi intelegensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan umat manusia.

b. Landasan Teoritis

Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard based education) dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses

yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik dan kemampuan awal

peserta didik. Pengalaman belajar langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.

c. Landasan Yuridis

Landasan Yuridis Kurikulum 2013 adalah:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan

Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

d. Tujuan Kurikulum 2013

Menurut Mulyasa (2013: 65) tujuan Kurikulum 2013 adalah untuk memfokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa panduan pengetahuan, keterampilan, sikap yang dapat didemonstrasikan peserta

didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual.

Kurikulum 2013 ini akan menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif, melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Kurikulum 2013 ini memungkinkan para guru menilai hasil peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar, yang mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari. Oleh karena itu, peserta didik perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi dan karakter yang akan dijadikan sebagai standar penilaian hasil belajar, sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melalui penguasaan terhadap sejumlah karakter dan kompetensi yang ada.

e. Implementasi Kurikulum 2013

Tema Kurikulum 2013 adalah menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.Untuk mewujudkan hal tersebut, dalam implementasi kurikulum guru dituntut untuk secara professional merancang pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan (Mulyasa, 2013: 99). Efektifitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahapan yaitu: efektifitas interaksi, efektifitas pemahaman, dan efektifitas penyerapan.

Pertama, efektivitas interaksi akan terwujud dengan adanya harmonisasi iklim atau atmosfer akademik dan budaya sekolah. Iklim atau atmosfer akademik

dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah beserta jajarannya.Efektivitas interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan.Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah.

Kedua, efektivitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektivitas pembelajaran.Efektivitas pembelajaran dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (menyimak, mengamati, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Oleh karena itu penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri.

Ketiga, efektivitas penyerapan dapat tercipta ketika adanya kesinambungan pembelajaran secara horizontal dan vertical. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesinambungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat satuan pendidikan SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat satuan pendidikan SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII tingkat SMA/SMK. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertical bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat satuan pendidikan SD, SMP, sampai dengan satuan pendidikan SMA/SMK. Sinergitas dari ketiga efektivitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transformasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang

berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia (Poerwati, 2013: 68)

3. Pembelajaran Sejarah

a. Pengertian Pembelajaran Sejarah

Menurut Isjoni (2007: 11) mengatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.Duffy dan Roehler (1989) mengatakan pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.

Kata sejarah berasal dari “Syajarah” yakni berasal dari bahasa Arab yang berarti pohon. Kata ini masuk ke Indonesia sesudah terjadi akulturasi antara kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan islam. Selain itu, kata sejarah juga berasal dari bahasa Inggris yakni “history” yang artinya masa lampau umat manusia (Tumbakara, 2002: 2).

Berdasarkan pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan Pembelajaran Sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang didalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat hubungannya dengan masa kini (Widja, 1989: 23).

b. Komponen-Komponen Pembelajaran Sejarah

Komponen-komponen pembelajaran sejarah merupakan suatu pendukung kelancaran proses belajar mengajar di sekolah dan digunakan untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Komponen-komponen yang mempengaruhi pembelajaran sejarah tersebut adalah:

1. Tujuan Pembelajaran

Tujuan merupakan komponen yang sangat penting dalam belajar, tujuan ini menjadi komponen bagi seluruh aktivitas belajar. Sebelum proses belajar mengajar berlangsung, tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu dan harus dirumuskan dengan jelas.

Tujuan pembelajaran juga dipakai sebagai kriteria bagi guru untuk menilai keberhasilan suatu pembelajaran. Manfaat lain yaitu untuk memandu guru menciptakan kondisi belajar yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran dan alat bantu guru menyusun evaluasi yang digunakan untuk mengetahui apakah proses pembelajaran telah berhasil atau gagal.

2. Materi dan Bahan Pelajaran

Materi atau bahan pelajaran sebagai muatan yang esensial diberikan dengan maksud untuk mencapai tujuan pembelajaran.Oleh karena itu, materi belajar harus dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.Selain itu harus sesuai dengan tujuan, pemilihan materi harus memperhatikan minat siswa terhadap pelajaran.Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini memberi kemudahan bagi guru untuk

memperoleh bahan pengajaran yang banyak dan bervariasi. Faktor-faktor yang harus diperhatikan guru dalam memilih materi pelajaran yaitu: (1) Tingkat kemampuan peserta didik, (2) Keterkaitan dengan pengalaman yang telah di miliki peserta didik, (3) Menarik tidaknya materi pelajaran, (4) Tingkat kebaruan dan kreativitas pelajaran.

3. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan pola umum mewujudkan proses pembelajaran yang diyakini efektivitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam penerapan strategi pembelajaran guru perlu memilih model-model pembelajaran yang tepat, metode mengajar yang sesuai dan teknik-teknik mengajar yang menunjang pelaksanaan metode mengajar. Untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat, guru mempertimbangkan akan tujuan, karakteristik siswa, materi pelajaran, dan sebagainya agar strategi pembelajaran tersebut dapat berfungsi maksimal.

4. Alat Bantu dan Media Pembelajaran Sejarah

Menurut Widja (1989: 60) pengertian dari media pembelajaran adalah sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat bantu dalam mendukung usaha-usaha pelaksanaan strategi serta metode mengajar yang menjurus kepada pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah, penggunaan media ini sangat penting karena akan membantu siswa dalam memvisualisasikan peristiwa sejarah sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa dalam menangkap serta

menghayati gambaran peristiwa sejarah tersebut. Atas dasar kenyataan ini, peran dari media merupakan instrumen penting dalam proses pembelajaran.

Hariyono dalam Jurnal Pendidikan Ekonomi (JPE) Nomor 1 Tahun 2009, volume 2 dengan penelitian yang berjudul Authentic Assesment dan Pembelajaran Inovatif dalam Pengembangan Kemampuan Siswa menyatakan bahwa kecenderungan yang menunjukkan bahwa penilaian hasil belajar lebih menitik beratkan pada aspek cognitive dibuktikan dengan tes-tes yang diselenggarakan di sekolah baik lisan maupun tulis lebih banyak mengarah pada pengungkapan kemampuan aspek cognitive. Hasil penilaian cognitive ini jika dikaitkan dengan mutu pendidikan di Indonesia maka proses pendidikan masih bermutu rendah . Salah satu implikasi dari diterapkannya standar kompetensi adalah proses penilaian yang dilakukan oleh guru baik yang bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan kriteria. Agar tujuan penilaian tersebut tercapai, guru harus menggunakan berbagai metode dan teknik penilaian yang beragam sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik pengalaman belajar yang dilaluinya.Penilaian kualitas penilaian guru pada siswa harus melalui dengan meningkatkan keterlibatan siswa, proses dan tindak lanjut hasil penelitian.Pada peningkatan kualitas perencanaan yang perlu dilakukan guru adalah meningkatkan transparansi kriteria penilaian. Semakin jelas dan transparan kriteria penilaian yang digunakan guru maka siswa akan semakin terpacu untuk dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

Purnomo (2009) dalam bahan ajar yang berjudul Pengembangan Assesment Pembelajaran Sejarah di Sekolah menjelaskan bahwa beragam

teknik dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Teknik tersebut biasanya dikelompokkan dalam tes dan non tes. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih.Dengan indikator-indikator ini, dapat ditentukan penilaian yang sesuai.Untuk itu, ada tujuh teknik yang dapat digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.Hal yang perlu dipahami adalah bahwa tidak ada satu pun alat penilaian yang dapat mengumpulkan informasi hasil dan kemajuan belajar peserta didik secara lengkap. Penilaian tunggal tidak cukup untuk memberikan gambaran/informasi tentang kemampuan, keterampilan, pengetahuan dan sikap seseorang. Interpretasi hasil tes tidak mutlak dan abadi karena anak terus berkembang sesuai dengan pengalaman belajar yang dialaminya.Oleh karena itu perlu adanya penerapan beberapa teknik penilaian karena pada prinsipnya setiap teknik memiliki karakter dan mampu menunjukkan informasi tentang siswa dari berbagai sudut pandang.

Setiyadi dalam ejurnal ikip PGRI Madiuntahun 2009,volume 17b dengan penelitian yang berjudul Affective Assesment Dari Teori Menuju Penerapannya dalam Pembelajaran menyimpulkan bahwa penilaian afektif bisa

digunakan untuk melihat kecenderungan dari kelas atas suatu subyek tertentu; suka atau tidak suka, atau bahkan lebih suka subyek yang mana diantara yang ada. Berbeda dengan tes kognitif yang berusaha mengukur kemampuan maksimal siswa, tes afektif berusaha untuk mengukur kemampuan tipikal (khusus) siswa.Namun perlu diingat bahwa keberhasilan tes afektif sangat tergantung pada kejujuran siswa dalam menjawab, sehingga kemungkinan untuk terjadi penyimpangan tetap ada.Keputusan instruksional jarang sekali didasarkan pada penilaian afektif.Penilaian afektif sering pula digunakan oleh guru untuk melihat kecenderungan kelompok. Jika guru tidak melakukan penilaian afektif terhadap peserta didik, maka guru tidak akan pernah menaruh aspek afektif dalam pembelajaran dan guru tidak akan pernah mengerti bagaimana sebenarnya sikap siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Ada strategi penilaian afektif yang sederhana yang bisa diterapkan dengan mudah.Penilaian afektif juga bisa digunakan untuk mengetahui kondisi afektif setiap siswa.

Berdasarkan kajian pustaka diatas penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan bagaimana pelaksanaan penilaian autentik kurikulum 2013 dalam pembelajaran sejarah di SMA NEGERI 1 SAYUNG, serta menghasilkan pengetahuan bagaimana hambatan-hambatan didalam pelaksanaannya.Sehingga penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya

namun masih bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pelaksanaan penilaian autentik dalam pembelajaran sejarah dan diharapkan pelaksanaannya dapat tercapai sesuai dengan tujuan pembelajaran dan diharapkan pula mampu memberikan informasi sebagai acuan kontribusi dalam penelitian selanjutnya.

D. TEORI YANG DIGUNAKAN

Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori taksonomi Bloom. Taksonomi bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali oleh Benjamin S Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain(ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali kepada pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya usun.

Tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga domain yaitu :

a. Cognitive domain (ranah kognitif) yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian dan keterampilan berfikir.

b. Affective domain (ranah afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi dan cara penyesuaian diri.

c. Psychomotor domain (ranah psikomotorik) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang dan mengoperasikan mesin

Teori taksonomi bloom diatas sesuai dengan prinsip dari adanya implementasi Kurikulum 2013, dimana dalam penilaiannya yaitu penilaian autentik guru diharuskan menilai peserta didik meliputi aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik.

E. KERANGKA BERFIKIR

Perkembangan penilaian dalam pembelajaran sejalan karena adanya perubahan kurikulum yang terjadi, karena kurikulum dan penilaian adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran. Sehingga apabila kurikulum berubah maka penilaiannya yang ada dalam kurikulum tersebut juga berubah (Skripsi Masusroh: 2014)

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik (Mulyasa, 2013: 68).Sehingga didalam Kurikulum 2013 banyak mengembangkan dari pemahaman, pengetahuan dan keterampilan dari dalam diri peserta didik.

Penilaian pada Kurikulum 2013 mengacu pada Permendikbud Nomor 104

Dokumen terkait