Teuku Umar tidak kalah dalam pertempuran, tapi dia hanya mengundurkan diri ke Lepong. Ia muncul lagi di VI Mukim dan membangun kubu pertahanan. Tentara Belanda dengan tidak di-duga-duga tiba di Vi Mukim. Setelah melakukan pertempuran se-ngit, akhirnya pasukan Umar mundur lagi ke Lepong. Selama me-lakukan pertempuran, Teuku Umar kehilangan 200 orang anak buahnya termasuk panglima Hasim Leung Bata. Jumlah laskar Umar yang tinggal hanya 800 orang.
Kemudian Teuku Umar mengadakan selamatan di rumahnya.
Ia mengangkat beberapa panglima baru, alim ulama membacakan doa. Mereka minta kepada Tuhan agar dapat menebus kekalahan.
Sultan Aceh sendiri juga ikut memberikan doa selamat dari jauh.
Menantu Teuku Umar dan Tjut Nja Dien, Teungku Majet Di Tiro menganjurkan perang sabil di XXII Mukim. Ia akan mem-bantu mertuanya dengan sekuat tenaga.
Teuku Nja Makam saudara Teuku Lamnga yang berjuang di barisan Umar menderita sakit di Lamnga. Dalam keadaan sakit Teuku Nja Makam disuruh keluar rumah oleh serdadu Belanda.
Orang sakit ini ditembak di hadapan rakyat. Kepalanya dipancung, ditancapkan pada sebuah bambu, dan dipertontonkan kepada rakyat.
Kekejaman ini dikecam orang-orang di negeri Belanda. Teuku Umar setelah mendengar panglimanya dianiaya, dendamnya bertambah meluap.
Umar bertempur lagi dengan serdadu Belanda. Belanda menge-rahkan 18.000 orang tentara ditambah dengan 400 kuli Cina dan 300 kuli paksaan. Pasukan ini dibantu 3 kapal perang dan 2 kapal
pengangkut. Benteng Umar ditembak dari darat dan dari laut. Teuku Umar mengadakan perlawanan sengit, kemudian meninggalkan Le-pong ; ia mundur ke arah Long. Setelah Umar meninggalkan LeLe-pong harta bendanya dimusnahkan serdadu Belanda. Mesjid yang merupa-kan tempat keramat orang Aceh dan tempat penobatan Sultan Aceh dimusnahkan serdadu Belanda.
Barisan Aceh makin menipis tapi jiwa dan cita-cita perlawanan masih tetap utuh. Umar kembali ke Lepong untuk membangkitkan kembali semangat perlawanan. Van Heutsz adalah seorang opsir tinggi Belanda yang yakin akan dapat mencapai cita-citanya. Ke-yakinan Van Heutsz ini disokong oleh teori Snouck Hurgronje yang menganjurkan: "pukul dan kejar musuh terus menerus. Jangan beri mereka istirahat sediHt pun." Van Heutsz dan Van Dalen terus mene-rus mencari musuh di tempatnya. Pada awal tahun 1897, dikirim suatu pasukan ke Long. Sesampai di tempat ini pasukan Umar telah menghindarkan diri ke lereng bukit dan menembak tentara Belanda dari situ. Tentara Belanda berusaha merebut bukit itu tapi tidak berhasil. Sewaktu akan mundur, tentara Belanda kembali dihadang pasukan Aceh. Di beberapa tempat diletakkan ranjau. Banyak meriam Belanda yang jatuh ke dalam lubang. Tentara Belanda mundur maju selama 6 minggu. Banyak tentara Belanda yang tewas dan senjatanya banyak yang dirampas oleh laskar Aceh. Long akhirnya ditinggalkan oleh Teuku Umar.
Pada tahun 1898, Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Aceh.
Snouck Hurgronje diangkat menjadi Penasehat Gubernur. Otak Snouck Hurgronje yang tajam dan tangan keras Van Heutsz, akan bekerja sama menaklukkan Aceh. Rencana yang dibuat pada dasar-nya tidak berbeda dengan teori Snouck yang terdahulu.
1. Aceh Raya harus diduduki pasukan yang bergerak cepat (mar-sose).
2. Rakyat dan Uleebalang harus diamat-amati.
3. Teuku Umar tidak akan diberi istirahat sedikit pun.
4. Rakyat Aceh Raya dilarang membawa senjata api.
5. Barang siapa yang tidak menyerah termasuk Sultan dan Uleebalang akan ditaklukkan.
Teuku Umar sebagai pemimpin Perang Aceh membuat rencana di Pedir.
31
1. Perang besar sedapat mungkin dihindarkan.
2. Laskar akan bergerak di seluruh Aceh.
3. Tempat yang ditinggalkan Belanda harus diduduki.
4. Perlawanan dilakukan secara gerilya.
Gerakan Umar dalam memimpin pasukan sangat cepat sekali.
Ia tidak dapat diikuti tentara Belanda yang membawa meriam, senjata berat, serta persediaan makanan. Umar mundur ke daerah pegunungan yang berhutan lebat. Pasukannya dilarang memperguna-kan api dan senapan supaya jangan kelihatan oleh musuh.
Perjuangan sekarang sungguh akan menentukan hidup matinya Umar beserta pasukan dan rakyat Aceh. Van Heutsz mendatangkan lebih banyak lagi tentara dari Jawa, begitupun persenjataannya.
Van Heutsz merencanakan menyerang Pedir, tempat Umar dan pasukannya berkumpul. Tentara yang bertolak dari Sigli berjumlah 6.000 orang lengkap dengan senjatanya, tentara yang bertolak dari Seilemeum berjumlah 2.000 orang. Di pelabuhan Sigli berlabuh lima kapal perang dengan mendaratkan angkatan laut.
Dengan cara demikian Van Heutsz berpendapat Teuku Umar tidak dapat lolos. Teuku Umar lebih licin lagi, ia selalu menghindari pertempuran besar. Tentaranya sedikit dan persenjataannya kurang.
Di samping itu timbul lagi perlawanan baru dari kaum ulama yang dipimpin Kyai Tapa. Pasukan ini dengan semangat jihad dan bersenjatakan rencong menyerbu tentara kafir. Pemberontakan ini dipadamkan Van Heutsz dengan sangat kejam. Taktik bunuh diri ini tidak disetujui Teuku Umar. Umar lebih mementingkan pikiran daripada perasaannya. Taktik modern dari musuh harus dilawan pula dengan cara modern.
Pasukan yang tidak bersenjata tidak akan dapat melawan pasukan yang bersenjata lengkap. Tuhan tidak akan begitu saja menurunkan mukjijatnya memenangkan tentara Islam. Umat Islam disuruh ber-usaha dengan menggunakan akal. Akal harus lebih menentukan dari-pada perasaan.
Umar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan me-ninggalkan korban di antara pasukan Belanda. Akhirnya Teuku Umar menuju ke Tangse, suatu tempat di lereng Bukit Barisan yang terletak 60 km dari Sigli. Letnan Kolonel Willem mengejar Umar ke Tangse. Setelah sampai di jurang yang sempit Willem tidak dapat meneruskan perjalanannya. Ia terpaksa mundur kem-bali. Van Heutsz rupanya sampai di Tangse lewat jalan lain. Ia
mendapatkan jalan rahasia akibat pengkhianatan orang Aceh. Kare-na dikhiaKare-nati Teuku Umar terpaksa memerintahkan pasukannya mundur dari lembah yang strategis ini. Umar kemudian mundur ke Lepong. Perjalanan mundur dari Tangse ke Lepong merupakan per-jalanan Umar yang terakhir. Dari Lepong ia terus ke daerah Wojla.
Perjalanan itu terkenal dengan perjalanan maut. Wojla adalah tem-pat asal nenek moyang Teuku Umar, Datuk Machudum Sati. Ia merasa bangga terhadap keberanian dan kesaktian nenek moyangnya.
Dari Wiila ia mendapat semangat baru untuk melanjutkan peperang-an melawpeperang-an Belpeperang-anda.
Dalam perjalanan maut itu banyak tentara Umar yang mening-gal karena sakit dan letih. Sesampai di daerah IV dan VI Mukim ia menambah jumlah tentaranya dengan anak-anak muda yang penuh semangat. Namun, Umar terpaksa mengundurkan pasukan-nya kembali ke Wojla karena tempat yang baru itu tidak meng-untungkan.
Melalui mata-mata, Van Heutsz dapat mengetahui persembunyi-an Teuku Umar. Ia memerintahkpersembunyi-an pasukpersembunyi-annya mengejar Umar.
Van Heutsz sendiri menunggu di Meulaboh. Teuku Umar kemudi-an mengejar Vkemudi-an Heutsz ke Meulaboh. Kedatkemudi-angkemudi-an pasukkemudi-an Umar diketahui pasukan Van Heutsz atas petunjuk seorang pengkhianat.
Sesampai di Meulaboh pasukan Umar disambut pasukan Belanda dengan tembakan gencar. Dalam pertempuran ini Teuku Umar kena tembak dan tewas pada 11 Februari 1899. Mayatnya diselamatkan oleh panglimanya yang setia, Pang Laot. Teuku Umar dimakamkan di kampung Mugo dengan upacara yang sederhana. Van Heutsz kemudian mengetahui bahwa Teuku Umar telah gugur dan di-makamkan di kampung Mugo. Ia memerintahkan supaya makam Teuku Umar dibongkar. Kepala mayat yang sudah busuk itu ditan-capkan di atas sebuah bambu kemudian dipertontonkan kepada rak-yat Meulaboh.
Teuku Umar telah melaksanakan tugasnya sampai titik darah yang penghabisan. Ia telah memimpin perlawanan terakhir dari rakyat Indonesia terhadap pemerintah Hindia Belanda. Walaupun Teuku Umar telah gugur tetapi jasanya tetap dikenang dan di-hormati sepanjang masa. Ia telah berjuang dengan caranya sendiri melawan Belanda. Rakyat Indonesia sangat menghargai jasa dan pengorbanannya. Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan Teuku Umar sebagai "Pahlawan Nasional".
33
PENUTUP
Tentara Belanda bergembira ria setelah mendengar dan mengetahui Teuku Umar gugur dalam pertempuran. Musuh mereka yang paling besar telah tiada, dan mereka berpengharapan perang Aceh akan segera berakhir. Tetapi harapan itu tidak segera menjadi kenyataan.
Tjut Nja Dien setelah mendengar dari Pang Laot sendiri bahwa Teuku Umar telah gugur, bertekad melanjutkan perjuangan suami-nya. Dua orang suaminya telah gugur dalam pertempuran melawan Belanda sebagai pahlawan. Mereka itu adalah Teuku Lamnga dan Teuku Umar. Tjut Nja Dien segera memendam perasaan sedihnya.
Tjut Nja Dien harus mempergunakan pikirannya. Rakyat Aceh telah menunggu Tjut Nja Dien untuk melanjutkan perlawanan.
Tjut Nja Dien dengan pasukannya yang dpimpin Pang Laot segera mundur dari Pasir Aceh. Ia kembali berada di rimba raya Aceh untuk meneruskan perjuangan. Tjut Nja Dien membakar semangat rakyat untuk menghalau tentara kafir dari Aceh. Pe-ngorbanan rakyat Aceh harus ditebus kembali. Telah puluhan ribu putera-puteri Aceh gugur dalam pertempuran. Selama Van Heutsz memimpin tentara di Aceh, kerugian yang diderita rakyat Aceh sangat banyak sekali. Korban yang jatuh berjumlah 20.600, terdiri dari laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak.
Seruan Tjut Nja Dien untuk melanjutkan perjuangan meresap di hati rakyat dan kesatria Aceh. Kata-kata itu membakar hati pemuda-pemuda Aceh. Tjut Nja Dien dianggap rakyat sebagai ratu mereka yang bertahta di rimba raya. Suaranya menggema di seluruh Aceh, bahkan menjalar ke daerah Minangkabau, yang merupakan daerah tempat asal Teuku Umar dan Tjut Nja Dien.
Belum pernah dalam sejarah Aceh — abad ke-18 clan ke-19 — seorang sultan dihormati dan dikagumi rakyat sedemikian rupa. Tjut
Nja Dien yang bertahta di rimba raya Aceh dikagumi rakyat pada permulaan abad ke-20 ini. Van Heutsz hanya menguasai Aceh Raya yang hanya terbatas di kota-kota dan daerah-daerah penting. Da-erah Aceh lainnya belum terjangkau oleh pemerintah Hindia Belanda.
Van Heutsz mengirim pasukan marsose (pasukan istimewa) untuk menguasai daerah-daerah yang belum takluk. Pasukan Aceh di bawah pimpinan Tjut Nja Dien dan Pang Laot memberikan lawanan yang gigih. Pasukan Aceh tidak dapat mengadakan per-lawanan secara besar-besaran karena kekurangan senjata.
Tentara Aceh mengadakan perlawanan gerilya di mana-mana di seluruh daerah Aceh. Kedudukan tentara Belanda diserang.
Tentara Belanda tidak pernah merasa aman di dalam markasnya.
Menghadapi pasukan gerilya Aceh ini, pemerintah Hindia Belanda mengerahkan pasukan marsose dalam jumlah yang besar. Mereka mengejar pasukan Aceh yang hanya bersenjata rencong sampai ke pedalaman.
Tentara Aceh makin terdesak dan daerahnya makin sempit.
Melihat perkembangan yang tidak menguntungkan ini, apalagi fisik Tjut Nja Dien semakin lemah, Pang Laot mengusulkan supaya menyerah saja. Buah pikiran Pang Laot ini mendapat tantangan yang hebat dari Tjut Nja Dien. Ia tidak bersedia menyerah kepada tentara kafir.
Pang Laot tidak tahan melihat bagaimana pemimpin (srikandi) Aceh ini dalam usia tua hidup dalam penderitaan, sakit, dan men-derita lapar. Apalagi serangan pasukan marsose makin lama makin hebat. Harapan untuk menang sangat tipis. Tuhan telah mentakdir-kan orang Aceh kalah dalam pertempuran ini setelah berjuang se-lama berpuluh-puluh tahun. Dengan diam-diam Pang Laot meng-hubungi pasukan Belanda. Ia bersedia menunjukkan tempat Tjut Nja Dien asal pemerintah Belanda berjanji akan mengampuni pemimpin ini. Tawaran Pang Laot ini diterima Letnan Van Vuuren dengan senang hati.
Bersama Pang Laot diadakanlah pengepungan terhadap pasukan Tjut Nja Dien. Setelah mengadakan pencarian berminggu-minggu pasukan Tjut Nja Dien dapat dikepung. Van Vuuren melihat dengan mata kepalanya sendiri, Tjut Nja Dien didukung oleh para pengikut-nya. Matanya telah buta tetapi rencongnya tidak lepas dari ping-gangnya. Setelah mengetahui pasukannya telah dikepung Belanda,
35
Tjut Nja Dien mencabut rencongnya. Dia bermaksud menikam serdadu Belanda itu dengan rencongnya, tetapi berhasil dicegah.
Setelah gagal menikamkan rencongnya kepada serdadu Belanda, Tjut Nja Dien bermaksud menikamkan rencongnya ke dadanya sendiri. Usaha itu juga berhasil dicegah. Setelah semua usahanya gagal, Tjut Nja Dien memaki-maki serdadu Belanda. Ia tidak ingin badannya dipegang tentara kafir. Pang Laot yang telah bersedia bekerja dengan Belanda dimaki-maki juga. Badan Tjut Nja Dien telah lemas, kekuatannya telah hilang sama sekali. Tetapi semangat-nya masih tetap mesemangat-nyala-semangat-nyala dan tidak pernah padam.
Letnan Van Vuuren kagum melihat keberanian pemimpin wanita Aceh ini. Ia memberikan penghormatan secara muiter kepada srikan-di ini. Tjut Nja Dien adalah musuh tentara Belanda yang satria.
Seorang kesatria harus menghormati musuh yang gagah berani, demikian pula halnya dengan Letnan Van Vuuren.
Tjut Nja Dien bersama seluruh pasukannya berhasil ditawan oleh tentara Belanda. Tetapi Teuku Ali Bait berhasil melarikan diri.
Ia dikejar oleh pasukan marsose dan berhasil ditangkap di Takengon.
Tjut Nja Dien dipisahkan dengan anggota pasukannya dalam tawanan. Ia ditawan di Kuta Raja sebagai tawanan istimewa. Letnan Van Vuuren berusaha menepati janjinya kepada Pang Laot. Tetapi Gubernur Aceh, Van Dalen berpendapat lain dari opsirnya ini. Tjut Nja Dien harus dibuang ke Pulau Jawa, jauh dari negerinya dan terpisah dari keluarga dan rakyat. Pemerintah Hindia Belanda khawatir pengaruh Tjut Nja Dien akan bangkit lagi. Perang yang telah dibayar dengan sangat mahal harus betul-betul diakhiri. Tjut Nja Dien diasingkan di Sumedang (Jawa Barat), la menghembus-kan napas yang penghabisan di tempat ini pada tahun 1906.
Walaupun Teuku Umar telah gugur dan Tjut Nja Dien telah ditawan, tapi perlawanan rakyat Aceh belum padam sama sekali.
Teuku Majet Di Tiro menantu Umar dan Dien beserta isterinya Tjut Nja Gamblang terus mengadakan perlawanan. Mereka kemudi-an dikejar oleh pasukkemudi-an marsose. Dalam suatu pertempurkemudi-an sengit gugurlah Teuku Majet Di Tiro beserta isteri dan seluruh pasukan-nya.
Teuku Leman juga mengadakan perlawanan terhadap tentara Belanda, tetapi berhasil dipadamkan. Keluarga Uleebalang Pidie 36
yang bernama Polem Dalaung juga bangkit melawan Belanda, tetapi perlawanan ini dapat ditumpas serdadu Belanda. Perlawanan kecil-kecil tetap dilakukan oleh orang Aceh terhadap Belanda. Hal ini tetap memusingkan pemerintah Hindia Belanda. Baru pada tahun
1913 perlawanan rakyat Aceh dapat ditumpas pemerintah Hindia Belanda sama sekali. Namun, rakyat Aceh terus menaruh dendam kepada Belanda.
37
Bhr. 0 1 7 - 6 - 8 3