BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Aspek Biologis Ikan Tuna
2.1.4. Thunnus orientalis
Thunnus orientalis atau tuna sirip biru pasifik memiliki ciri morfologi berwarna biru tua pada bagian atas tubuh dan berwarna putih atau perak di bagian samping dan bawah tubuh. Memiliki bintik – bintik putih yang membentuk barisan dibagian punggung dan perut tubuh bagian bawah. Memiliki jari - jari sirip tambahan berwarna kuning, sirip anal dan sirip dorsal kedua berwarna kuning dan sisik duri berwarna hitam. Memiliki panjang maksimal 300 cm, dengan panjang rata – rata yang tertangkap berukuran 200 cm dengan berat maksimal yang pernah dipublikasi seberat 450 kg (Zaki, AL-Mamary, Al-Marzouqi, & Al-Kharusi, 2017).
2.1.5. Thunnus maccoyii (Castelnau, 1872)
Thunnus macoyii atau tuna sirip biru selatan memiliki ciri morfologis yaitu pada bagian bawah atau bagian perut memiliki warna putih perak dengan garis transparan yang melintang dan memiliki deretan titik tak berwarna, sirip dorsal pertama berwarna kuning atau kebiruan, sirip anal dan jari - jari sirip tambahan berwarna kuning dengan ujung hitam dan sisik duri berwarna kuning pada ikan dewasa (Carpenter & Niem, 2001).
Thunnus maccoyii memiliki distribusi di laut selatan Samudera Antartika, bersifat epipelagis, dan oseanik di air dingin, habitat tuna sirip biru memiliki kisaran suhu mulai dari 5 - 20 oC, dan pada saat masa pemijahan terjadi pada air dengan suhu permukaan 20 - 30 oC. Ikan dewasa migrasi musiman terjadi untuk melakukan pemijahan terjadi di barat laut Australia yang memiliki suhu 23 - 26 oC, dan pada saat pencarian makan berada di sekitar Tasmania dan Selandia Baru pada suhu 13 - 15oC. Musim pemijahan terjadi pada musim panas selatan pada bulan September atau Oktober hingga Maret. Ikan berukuran 158 cm dengan berat gonad 1,7 kg di perkirakan mencapai 14 – 15 juta telur.
Thunnus maccoyii hidup dengan memakan berbagai macam spesies ikan, krustasea, moluska, dan salpa. Ikan tuna sirip biru dapat tumbuh hingga panjang maksimum 225 cm, di laut Samudera Hindia ukuran yang umum ditemukan sekitar
106 – 200 kg. Tuna sirip biru mengalami kematangan gonad pertama kali pada ukuran sekitar 130 cm dengan berat 40 kg.
Thunnus maccoyii merupakan spesies komersial yang diproduksi di Australia dengan jenis alat pancing mayoritas menggunakan trolling, kemudian di Tasmania dan Selandia Baru alat pancing mayoritas menggunakan longline. Ikan tuna sirip biru selatan dengan kualitas untuk bahan makanan sashimi di Jepang per individunya di lelang dengan harga lebih dari USD 10000 dolar amerika (Collete
& Nauen, 1984).
2.1.6. Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788)
Thunnus albacares atau tuna sirip kuning memiliki ciri morfologis sirip dorsal pertama 11 -14, dan sirip lunak dorsal berjumlah 12 – 16, sirip lunak anal sebanyak 11 – 16, dan memiliki 39 ruas tulang belakang. Memiliki bentuk tubuh memanjang, berbentuk fusiform, memiliki grigi insang sebanyak 26 – 34, memiliki dua sirip dorsal yang terpisah oleh jarak yang dekat, sirip dorsal kedua memiliki 8 – 10 jari - jari sirip tambahan, dan sirip anal memiliki 7 – 10 jari - jari sirip tambahan. Memiliki sirip pektoral yang panjang, memiliki sisik yang kecil, dan batang ekor yang ramping, memiliki warna hitam metalik atau biru tua, dan berwarna kuning ke perak pada bagian perut, pada bagian jari - jari sirip tambahan dorsal dan anal berwarna kuning cerah bergaris hitam tipis (Wirtz, et al., 2014).
Thunnus albacares memiliki distribusi di perairan tropis dan subtropis, akan tetapi tidak ditemukan di Laut Mediterania, dengan suhu perairan 18 - 31 oC. tuna sirip kuning biasanya membentuk koloni di sekitar permukaan air, umumnya berdasarkan ukuran dengan spesies yang sama ataupun dengan spesies lain, di beberapa area seperti pasifik timur ikan dengan ukuran 85 cm sering kali ditemukan membentuk koloni bersama lumba – lumba, berasosiasi dengan serpihan yang mengapung dan objek lainnya.
Pemijahan Thunnus albacares terjadi sepanjang tahun, akan tetapi puncaknya terjadi di musim panas utara dan selatan. Memiliki ukuran maksimal sepanjang 200 cm dan ukuran umum pada saat masa dewasa yang seringkali tertangkap sekitar 150 cm, di laut filipina dan amerika ikan dewasa dengan ukuran terkecil memiliki ukuran 50 – 60 cm dengan umur sekitar 12 – 15 bulan.
Thunnus albacares yang membentuk koloni di dekat permukaan air biasanya tertangkap dengan menggunakan alat pancing purse seine dan alat pancing tali, sedangkan untuk menangkap ikan tuna sirip kuning di daerah yang lebih dalam umumnya ditangkap dengan menggunakan alat pancing longline (Collete & Nauen, 1984).
2.1.7. Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758)
Katsuwonus pelamis atau skipjack tuna memiliki nama lokal ikan tuna cakalang, memiliki ruas pada sirip dorsal sebanyak 14 – 16, dan ruas sirip dorsal kedua sebanyak 14 – 15, dan memiliki ruas sirip anal sebanyak 14 – 15 ruas.
Memiliki 41 ruas tulang belakang. Memiliki bentuk tubuh fusiform yang memanjang dan membulat, memiliki gigi yang kecil dan berbentuk konis, kedua sirip dorsal dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil, dan sirip dorsal kedua memiliki 7 – 8 buah jari - jari sirip tambahan. Memiliki sirip pektoral yang pendek, tubuh tanpa sisik kecuali pada bagian korselet dan garis lateral. Memiliki 2 sisik duri yang kuat pada setiap sisi tubuh dan 2 sisik duri kecil pada bagian dasar sirip pektoral.
Memiliki warna hitam keunguan, pada bagian bawah tubuh dan perut berwarna perak, dengan 4 – 6 garis yang melintang secara longitudinal (Wirtz, et al., 2014).
Katsuwonus pelamis memiliki distribusi kosmopolitan di perairan tropis dan perairan dengan suhu hangat, ikan cakalang hidup pada rentang suhu 15 - 30 oC, pada siang hari ikan cakalang umumnya ditemukan di perairan dengan kedalaman 260 m, dan mendekati permukaan pada saat malam hari, Makanan utama dari ikan cakalang yaitu ikan kecil, krustasea dan moluska. Waktu utama pencarian makanan terjadi di waktu pagi dan sore hari. Sering kali terjadi kanibalisme dan menjadi mangsa bagi tuna lain ataupun ikan paruh.
Katsuwonus pelamis memiliki ukuran maksimum sekitar 108 cm, dengan berat sekitar 32 – 35 kg. Umumnya sekitar kurang dari 80 cm, dan mencapai masa dewasa pada ukuran sekitar 45 cm. Ikan cakalang melakukan pemijahan sepanjang tahun pada perairan sepanjang garis khatulistiwa, dan terjadi pada musim semi hingga musim gugur pada perairan subtropis. Ikan cakalang dengan ukuran 41 – 78 cm saat pemijahan melepaskan telur sekitar 80,000 - 20 juta telur.
Ikan cakalang biasanya ditangkap di dekat permukaan, umumnya menggunakan alat pancing purse seine dan pole-line dan terkadang tertangkap
dengan menggunakan longline, biasanya ikan cakalang hasil tangkapan di perjual belikan saat segar ataupun saat beku ataupun dalam bentuk kalengan.
2.2. Habitat
Ikan tuna adalah ikan yang melakukan migrasi dalam wilayah geografis yang luas. Wilayah Indonesia termasuk ke dalam lokasi yang menjadi jalur migrasi ikan tuna yang berpusat di perbatasan perairan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik (Saputra, Solichin, Wijayanto, & Kurohman, 2011). Dalam Al – Quran telah dijelaskan mengenai ikan sebagai sumber daya alam dari laut yang halal dan dapat dimanfaatkan oleh manusia pada surah Al – Ma’idah ayat 96:
ُ
Artinya: Dihalalkan bagimu hewan buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan (kembali).
Ikan tuna dalam distribusinya dan kelimpahannya sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman perairan, saat ikan tuna mencapai ukuran yang lebih besar tuna akan berpindah menuju ke perairan yang lebih dalam (Sumadhiharga, 2009).
Menurut (Allain, Lehodey, Kirby, & Leroy, 2005) distribusi ikan tuna secara horisontal dan vertikal sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Secara horisontal ikan tuna ter distribusi di Indonesia di perairan barat dan selatan Sumatera, Perairan Selatan jawa, Bali dan Nusa Tenggara, laut Flores, laut Banda, laut Sulawesi dan perairan utara Papua (Barata, Novianto, & Bahtiar, 2011).
Pada penelitian (Barata, Novianto, & Bahtiar, 2011) diketahui spesies ikan tuna sirip kuning dengan dominasi ukuran lebih dari 100 cm berada pada kedalaman 86 – 168 m dengan suhu 22 - 26 oC, tuna mata besar berada pada kedalaman 194 – 470 m dengan ukuran diatas 100 cm dengan suhu 8 - 15 oC, tuna albakora dengan ukuran diatas 100 cm berada pada kedalaman 86 – 124 m dengan suhu 21 - 26 oC
dan ikan tuna sirip biru dengan ukuran lebih dari 100 cm berada pada kedalaman 190 – 194 m dengan suhu 14 - 15 oC.
2.3. Alat Tangkap Ikan Tuna
Ikan tuna merupakan ikan yang berukuran besar dan termasuk ikan perenang cepat, menurut (Miazwir, 2012) ikan tuna dapat berenang dengan kecepatan 80 km/jam dan merupakan ikan perenang yang sangat kuat diantara ikan lainnya. Mereka mampu membengkokan siripnya lalu meluruskan tubuhnya untuk berenang dengan kecepatan tinggi. Ikan tuna memiliki alat tangkap yang mayoritas merupakan alat tangkap jenis pancing, kecuali alat tangkap jaring yang rata – rata digunakan untuk menangkap ikan cakalang.
Menurut (Firdaus, 2018) alat tangkap tuna terdiri dari:
1. Purse Seine atau pukat cincin. Berbentuk segi empat hingga trapesium yang terbentuk dari gabungan jaring yang dipasangkan tali pelampung dan tali pemberat dengan sejumlah cincin. Purse seine dilengkapi dengan alat bantu penangkapan ikan yakni rumpon. Metode kerjanya adalah melingkar untuk mengurung sekumpulan ikan tuna, terutama cakalang.
2. Longline atau rawai. Satu unit longline terdiri dari sejumlah main line yang dipasang pada perairan permukaan atau badan air (mid water).
Kedalaman longline diatur melalui panjang tali pelampung. Alat tangkap ini dipasang dengan cara dihanyutkan dengan cakupan area yang cukup luas.
Spesies tangkapan utama adalah Bigeye tuna dan Yellowfin tuna.
3. Huhate atau Pole and Line. Huhate adalah kombinan penangkapan dengan menggunakan tali dan pancing untuk target gerombolan ikan dengan menyemprotkan air atau umpan tiruan. Pancing berjoran terdiri dari pancing dan tali yang diikatkan pada joran yang terbuat dari bambu atau fiberglass.
4. Troling atau Pancing Tonda. Alat tangkap ini terdiri dari tali dan pancing berumpan buatan yang dioperasikan diatas kapal. Umpan buatan dapat terbuat dari bahan sederhana berupa serpihan tali plastik berwarna.
Sedangkan umpan buatan pabrik umumnya digunakan untuk kegiatan sport fishing.
5. Handline atau Pancing Ulur. Alat tangkap ini terdiri dari tali pancing dan penggulung tali atau joran. Di operasionalkan pada siang maupun malam hari diatas kapal. Pancing dipasang pada tali cabang yang diikatkan pada tali utama dengan jarak tertentu. Umpan yang digunakan adalah umpan ikan segar atau buatan
Alat tangkap ikan tuna rata – rata merupakan alat tangkap jenis pancing sehingga target tangkapan yang dapat di angkat ke kapal pun hanya terdiri dari individu ikan.
2.4. Indeks Keanekaragaman Jenis
Menurut (Kristanto, 2013), keanekaragaman merupakan suatu ukuran integrasi komunitas biologis dengan menghitung dan mempertimbangkan jumlah populasi dengan kelipahan relatifnya. Keanekaragaman dari makhluk hidup dapat terjadi karena beberapa hal seperti perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur dan penampilan.
Indeks keanekaragaman jenis ikan merupakan nilai yang mencerminkan karakterisasi dari hubungan individu diantara spesies dalam suatu komunitas sumber daya ikan (Ludwig & Reynold, 1988). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis seperti faktor eksternal yaitu eksploitasi, degradasi lingkungan, dan pencemaran. Ada juga faktor internal yang meliputi pemangsaan dan persaingan antar spesies (Odum, 1993). Indeks yang memiliki nilai tinggi berfungsi sebagai indikasi komunitas dalam lingkungan yang mantap dan stabil, sedangkan indeks yang memiliki nilai rendah dapat dijadikan petunjuk lingkungan yang labil dan berubah – rubah.
Nilai indeks keanekaragaman jenis menurut (Odum, 1993) dapat dihitung dengan menggunakn Indeks Shannon-Wiener dengan rumus:
H’= − ∑ 𝑃𝑖 𝑙𝑛 𝑃𝑖
H’ merupakan nilai indeks keanekaragaman jenis, sedangkan Pi merupakan nilai jumlah satu spesies individu ikan, dibagi dengan jumlah total ikan gabungan semua spesies yang berbeda.
2.5. Pola Pertumbuhan, dan Faktor Kondisi
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti genetik, kelamin, umur, penyakit serta faktor dari luar berupa kondisi perairan dan makanan.
Pada proses pertumbuhan ikan akan mengalami perubahan seperti bertambahnya panjang dan berat pada tubuh ikan. Pola pertumbuhan ikan ini terbagi menjadi dua yaitu allometrik dan isometrik. Allometrik biasanya merupakan perubahan yang bersifat sementara dan berhubungan dengan kematangan gonad sedangkan isometrik bersifat terus menerus mengalami pertumbuhan pada proporsionil dalam tubuh ikan (Yudasmara, 2014).
Hubungan panjang berat ini menurut Rousenfell dan Everhart (1935) dalam (Yudasmara, 2014) dapat dihitung dengan menggunakan regresi, yaitu dengan menghitung dahulu logaritma dari tiap panjang dan berat ikan. Jika melihat hal tersebut maka akan membentuk rumus:
W=aLb
Jika rumus ini diubah ke dalam logaritma maka akan didapatkan persamaan Log W= Log a + b Log L, yaitu sebuah persamaan regresi linier. Harga b jika bernilai 3 menunjukan pertumbuhan isometrik, sedangkan jika b lebih besar atau lebih kecil dari 3 maka pertumbuhan yang terjadi merupakan pertumbuhan allometrik.
Selain pola pertumbuhan panjang dan berat ikan juga dapat digunakan untuk mengukur faktor kondisi ikan, faktor kondisi ikan dapat memberikan keterangan baik secara biologis dan komersial. Faktor kondisi ikan merupakan nilai yang menunjukan kondisi keadaan ikan baik dari segi kapasitas fisik untuk bertahan hidup dan reproduksi. Selain untuk menilai kondisi secara biologis faktor kondisi juga digunakan secara komersil untuk menilai kualitas dan kuantitas ketersediaan daging ikan untuk dapat dimakan. Perhitungan faktor kondisi berdasarkan hubungan panjang dan berat yang menggunakan rumus W = aLb maka perhitungan faktor kondisi dilakukan dengan menggunakan faktor kondisi relatif (Kn) sehingga akan membentuk rumus:
𝐾𝑛 = 𝑊 𝑊^
Nilai Kn merupakan nilai faktor kondisi relatif, W merupakan berat berdasarkan pengamatan dibagi dengan berat yang berdasarkan kepada dugaan berat dan panjangnya yaitu panjang berdasarkan kelompok umur, kelompok panjang tertentu atau sebagian dari populasi sehingga diketahui W^ = aLb.
16 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juli 2021. Penelitian ini dilakukan di Jakarta Utara, D.K.I Jakarta. Lokasi penelitian yang ditentukan untuk pengambilan sampel ikan tuna dan cakalang yaitu di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman (Gambar 3).
Gambar 3. Peta lokasi penelitian keanekaragaman jenis, pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan tuna dan cakalang di PPS Nizam Zachman
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku catatan, pulpen, jangka sorong, meteran mekanik, kamera digital. bahan yang digunakan adalah ikan tuna dan cakalang hasil tangkapan nelayan.
3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja dilakukan dengan dua tahapan yatu, (1) Survei terkait tempat dan pengelolaan hasil tangkapan; (2) Pengambilan data sampel di titik lokasi penelitian.
3.3.1. Survei
Tahap pertama yaitu melakukan survei lokasi ikan tuna didaratkan dan dipasarkan. Penentuan lokasi pengambilan sampel ikan tuna diambil dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan tujuan penelitian dan keberadaan sampel. Lokasi keberadaan ikan tuna diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan hasil wawancara dengan nelayan dan pedagang ikan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kapan dan dimana ikan tuna didaratkan dan dipasarkan. Setelah memperoleh informasi dari nelayan dan pedagang kemudian melakukan pengamatan langsung untuk memeriksa keberadaan sampel di lokasi penelitian. Lokasi pengambilan sampel diperoleh yaitu lokasi pendaratan ikan berada di PPS Nizam Zachman.
3.3.2. Pengambilan Data
Data sampel ikan diambil dalam kurun waktu 3 bulan dari akhir bulan April – Juli 2021. Sampel diidentifikasi berdasarkan buku panduan identifikasi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DIJPT) dengan mengacu pada buku panduan yang diproduksi oleh Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) (IOTC, 2013) dan website Fishbase. Identifikasi ikan dilakukan berdasarkan bentuk tubuh, warna tubuh, ciri spesifik seperti garis dan spot serta anatomi ikan. Panjang Cagak atau Fork Length (FL) ikan diukur dengan menggunakan meteran untuk ikan tuna ukuran besar dari mulai moncong ikan sampai cagak ikan. Berat ikan atau Weight (W) didapatkan dari hasil timbang yang dilakukan oleh nelayan menggunakan timbangan digital.
3.4. Analisis Data
Jumlah, spesies, panjang dan berat ikan dianalisis mengunakan analisis statistik deskriptif menggunakan program aplikasi MS. Excel. Data hasil analisis jumlah ikan berdasarkan panjang Fork length untuk setiap spesiesnya disajikan secara umum dengan menggunakan tabel dan grafik.
Data spesies ikan tuna hasil tangkapan nelayan kemudian dianalisis Keanekaragamannya dengan menggunakan menggunakan Indeks Shannon – Wiener (Odum, 1993) dengan rumus :
H’= − ∑ 𝑃𝑖 𝑙𝑛 𝑃𝑖 Keterangan :
Pi = Ni / N
Ni = jumlah individu ikan spesies i N = jumlah total ikan
Untuk mengetahui tingkat keanekaragamannya. Ikan dibagi menjadi tiga tingkat kategori berdasarkan nilai keanekaragamannya. Nilai H’ < 1 menggambarkan keanekaragaman ikan di suatu habitat tergolong rendah, jika nilai keanekaragaman 1 < H’ < 3 maka keanekaragaman ikan di suatu habitat tergolong sedang. Sedangkan untuk nilai H’ > 3 maka nilai keanekaragaman ikan di suatu habitat tergolong tinggi (Odum, 1993).
Data fork length (FL) ikan danalisis menggunakan analisis sebaran ukuran, analisis ini digunakan untuk mengetahui jumlah sebaran ikan tuna yang didapatkan selama periode April – Juli 2021. Rumus yang digunakan yaitu dengan menggunakan persamaan Walpole (1995) dalam (Kholis, Wahju, Mustaruddin, &
Jaliadi, 2018) :
K = 1 + 3,3log n i = Nmax – Nmin Keterangan: K = Jumlah kelas
n = Jumlah data i = Selang kelas Nmax = Nilai terbesar Nmin = Nilai terkecil
Ikan kemudian dilakukan analisis antara hubungan panjang dan berat ikan, hal ini dilakukan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan. Menurut Effendie (1997) dalam (Yudasmara, 2014) hubungan panjang dan berat ikan dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
W=aLb
Keterangan:
W = berat ikan (gram)
L = panjang ikan (Fork length) (mm) a dan b = konstanta
a = Intercept ; b = Slope
Bentuk linier regresi persamaan diatas dirubah dalam bentuk Log dan membentuk persamaan Log W=log a +b logL. Nilai b = 3 kemudian diuji dengan menggunakan uji t untuk menentukan:
H0 : b = 3, hubungan panjang dan berat adalah isometrik H1 : b ≠ 3, hubungan panjang dan berat adalah allometrik
t hitung =I (3−𝑏)
𝑆𝑏
I
Keterangan:
b = slope
Sb = Standar deviasi nilai b
Apabila b>3, maka hubungan bersifat allometrik positif yang berarti pertambahan berat lebih dominan dari pertambahan panjang, sedangkan b<3 maka hubungan yang terbentuk bersifat allometrik negatif yang berarti pertambahan panjang lebih dominan dari pertambahan beratnya (Yudasmara, 2014).
Perhitungan faktor kondisi berdasarkan hubungan berat dan panjang menggunakan rumus W = aLb, maka perhitungan faktor kondisi dilakukan dengan menggunakan faktor kondisi relatif (Kn) yang dirumuskan :
𝐾𝑛 = 𝑊 𝑊^
Keterangan :
Kn = faktor kondisi relatif W = berat ikan (g)
W^ = aLb
L= Panjang ikan (Fork length) (mm) b = slope ; a = intercept.
Nilai faktor kondisi relatif untuk ikan berbentuk piph berkisar antara 2- 4 dan untuk ikan dengan bentuk membulat berkisar 1 – 3.
20 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Jumlah dan Keanekaragaman Ikan Tuna
Hasil penelitian didapatkan 619 individu ikan dan 4 spesies ikan. Tuna dan cakalang dari genus Thunnus yaitu T. alalunga, T. albacares, dan T.obesus dan dari cakalang Katsuwonus pelamis. Spesies ikan yang didapatkan di lokasi pengambilan data yaitu Katsuwonus pelamis jumlah 255 individu dengan persentase 41%, T.
alalunga jumlah 148 individu dengan persentase 24%, T.albacares jumlah 133 individu dengan persentase 22%, dan T. obesus jumlah 83 individu dengan persentase 13% data ikan dapat dilihat pada (Lampiran 2). Jumlah ikan terbanyak ditemukan yaitu spesies Katsuwonus pelamis dengan jumlah 255 individu dan jumlah paling sedikit yaitu spesies T. obesus dengan jumlah 83 individu. Persentase spesies ikan yang didapatkan disajikan pada (gambar 4).
Gambar 4. Persentase jumlah ikan tuna dan cakalang yang didaratkan di PPS Nizam Zachman berdasarkan spesiesnya.
Spesies ikan cakalang Katsuwonus pelamis ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse sein yaitu gabungan jaring yang dipasangkan tali pelampung dan tali pemberat dengan sejumlah cincin. Di beberapa tempat, purse seine dilengkapi dengan alat bantu penangkapan ikan yaitu rumpon dengan tujuan untuk menangkap sekumpulan ikan sekaligus. Selain purse sein alat pancing yang digunakan yaitu pole line yaitu alat pancing yang memiliki joran dan tali pancing, biasanya dalam satu kapal terdapat 10 – 15 orang yang bertujuan mendapatkan ikan satu persatu dari sekumpulan ikan dengan cepat.
41%
24%
22%
13% Katsuwonus pelamis
Thunnus alalunga Thunnus albacares Thunnus obsesus
Ikan tuna spesies T. alalunga, T. albacares dan T.obesus mayoritas ditangkap dengan menggunakan alat pancing dalam berupa longline atau handline yaitu dengan menggunakan tali pancing yang diikat ke pelampung ataupun tali pancing yang diulur oleh nelayan hingga mencapai kedalaman tertentu untuk menangkap ikan berukuran lebih besar. Akan tetapi ikan tuna yang didapatkan dari hasil pengamatan mayoritas merupakan ikan tuna juvenile yang diduga merupakan hasil tangkapan bycatch atau tangkapan sampingan perikanan cakalang karena ikan tuna juvenile hidup di daerah dekat dengan permukaan (Barata, Novianto, &
Bahtiar, 2011) sehingga sering kali ikut tertangkap pada alat purse sein bersama dengan koloni ikan cakalang.
Ikan dengan jumlah tangkapan paling tinggi yaitu ikan cakalang Katwsuwonus pelamis merupakan spesies ikan yang ditangkap dengan menggunakan teknik dan alat tangkap yang bertujuan menangkap jumlah ikan dengan jumlah banyak secara cepat sedangkan ikan tuna yang didaratkan memiliki jumlah yang lebih sedikit karena diduga ikan tuna yang didaratkan merupakan ikan tuna yang ikut tertangkap bersama dengan koloni ikan cakalang karena ikan yang tertangkap ukurannya masih berada pada tahap juvenile.
Sumber ikan tuna dan cakalang yang dibongkar hasil muatannya di PPS Nizam Zachman semuanya tidak berasal dari hasil tangkap kapal itu sendiri, ada yang berasal dari kapal penitip. Kapal penitip adalah kapal pancing tuna dan cakalang yang beroperasi di tengah laut, dan beroperasi selama 7 bulan hingga 1 tahun. Hasil dari kapal penitip ini kemudian dijemput oleh kapal yang akan mendarat di pelabuhan yang disebut kapal collecting. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas ikan agar tidak terlalu lama disimpan di kapal penitip. Sebelum dilakukan pendaratan di pelabuhan biasanya ikan melalui proses sortir dan perlakuan, ikan tuna dengan kualitas sangat baik tidak dilakukan perlakuan apapun sedangkan untuk tuna dengan kualitas yang kurang baik atau memiliki cacat
Sumber ikan tuna dan cakalang yang dibongkar hasil muatannya di PPS Nizam Zachman semuanya tidak berasal dari hasil tangkap kapal itu sendiri, ada yang berasal dari kapal penitip. Kapal penitip adalah kapal pancing tuna dan cakalang yang beroperasi di tengah laut, dan beroperasi selama 7 bulan hingga 1 tahun. Hasil dari kapal penitip ini kemudian dijemput oleh kapal yang akan mendarat di pelabuhan yang disebut kapal collecting. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas ikan agar tidak terlalu lama disimpan di kapal penitip. Sebelum dilakukan pendaratan di pelabuhan biasanya ikan melalui proses sortir dan perlakuan, ikan tuna dengan kualitas sangat baik tidak dilakukan perlakuan apapun sedangkan untuk tuna dengan kualitas yang kurang baik atau memiliki cacat