SAPI POTO G EKSTRAK LERAK
TI JAUA PUSTAKA
Lerak ( )
opis di Indonesia (terutama di hutan?hutan dae engandung saponin dalam jumlah tinggi salah sa atau lebih dikenal dengan pohon lerak. Lerak te yang berbentuk pohon dengan tinggi mencapai atang 1 meter yang berasal dari Asia Tenggara
an baik pada hampir segala jenis tanah dan keada pai pegunungan dengan ketinggian 450 m samp naman mulai berbuah pada umur 5 – 15 tahun, m
n bulan Nopember?Januari dan menghasilkan dengan harga biji kering lerak Rp 10.000 ? dapun klasifikasi tumbuhan lerak adalah sebagai ber
matophyta ospermae otyledone ndales ndaceae ndus ndus rarak
Gambar 1. Buah Lerak (kiri) dan Pohon Sumber: www. toko?herbal.com. 2011 lerak bulat kelereng, berukuran diameter 2 cm n licin, tangkai pendek. Buah masak ditandai denga
Di Jawa banyak dijumpai untuk membatik, dan ng terbuat dari logam mulia (emas dan perak), m bagai insektisida dan nematisida serta sebagai ant engobati kudis, sebagai kosmetik dan pembersih r
3 n daerah Jawa dan lah satu diantaranya erak tergolong dalam ncapai 15 ? 42 meter ggara. Tumbuhan ini n keadaan iklim dari sampai 1500 m dari hun, musim berbuah silkan biji sebanyak Rp 15.000,? /kg ai berikut:
ohon Lerak (kanan)
2 cm, berkulit tipis dengan warna hijau k, dan membersihkan ak), manfaat lainnya antiseptik sering rsih rambut (sampo)
4 Kulit buah, biji, kulit batang dan daun lerak mengandung saponin dan flavonoida, disamping itu kulit buah juga mengandung alkaloida dan polifenol, sedangkan kulit batang dan daunnya mengandung tanin. Senyawa aktif yang telah diketahui dari buah lerak adalah senyawa–senyawa dari golongan saponin, sesquiterpen, alkaloid dan steroid, sedangkan kandungan senyawa yang negatif diantaranya adalah antrakinon, tanin, fenol, flavonoid dan minyak atsiri (Sunaryadi, 1999; Wina et al., 2005)
Spesies tanaman Sapindus lainnya terdapat dibeberapa negara seperti Sapindus saponaria di Amerika Selatan dan Tengah, S. emarginatus di India dan Thailand (Wina et al., 2005). Pengujian secara kualitatif daging buah lerak mengindikasikan cukup aman diberikan pada ternak, untuk memanipulasi fermentasi rumen pada ternak ruminansia (Sunaryadi, 1999; Wina et al., 2005).
Saponin
Saponin berasal dari kata latin sapo yang berarti sabun. Saponin adalah senyawa sekunder yang ditemukan di banyak tanaman terutama di bagian akar, kulit, daun, biji, dan buah. Pada tanaman, saponin berperan sebagai sistem pertahanan. Keberadaan saponin dapat dicirikan dengan adanya rasa pahit, pembentukan busa yang stabil pada larutan cair, dan mampu membentuk molekul dengan kolesterol (Cheeke, 2000).
Senyawa saponin dalam dosis yang cukup tinggi dapat menekan dan menurunkan sistem kekebalan sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan (Cheeke, 2000). Saponin memiliki diversifikasi struktur yang luas dan senyawa?senyawa saponin tertentu dengan sifat surfaktan dapat menyebabkan lisis pada dinding sel protozoa, sehingga dapat digunakan untuk defaunasi protozoa.
Saponin merupakan deterjen alami yang memiliki bahan surfaktan karena mengandung inti lemak dan air yang mudah larut. Saponin terdiri atas gula yang biasanya mengandung glukosa, galaktosa, asam glukoronat, xylosa, rhamnosa atau methylpentosa yang berikatan membentuk glikosida dengan hydrophobic aglycone (sapogenin) yang membentuk triterpenoid atau steroid (Gambar 2).
5 Gambar 2. Struktur Kimia Sapogenin: (a) Triterpenoid, (b) Steroid
Sumber: Francis et al. (2002)
Aglycone mengandung salah satu atau lebih rantai karbon (C=C) tidak jenuh. Besarnya kompleksitas struktur saponin berasal dari variabilitas struktur aglycone, rantai samping dan posisi pengikatan gula pada aglycone. Dilihat dari strukturnya tripernoid dan steroid dapat membunuh protozoa dan moluska, dapat menjadi antioksidan, mempengaruhi kecernaan protein dan meningkatkan konsumsi vitamin dan mineral yang menyebabkan hypoglycaemia (Francis et al., 2002).
Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol telah dilaporkan mengandung saponin dengan kadar lebih tinggi daripada buahnya yang tanpa diekstrak. Tingginya kandungan saponin yang diekstrak dengan metanol terkait dengan sifat metanol yang biopolar yang menjadikan saponin terekstrak sempurna. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Suharti et al. (2009) yang menyatakan bahwa keseluruhan buah lerak yang diekstrak dengan metanol 100% mengandung saponin yang cukup tinggi yaitu mencapai 81,47% berbeda dengan lerak yang hanya dalam bentuk tepung yang hanya mengandung 3,87% saponin, sedangkan jika diesktrak dengan air mengandung 8,20% saponin. Menurut Sunaryadi (1999) kandungan saponin total hasil ekstraksi tanaman lerak banyak terdapat di bagian daging buah yaitu sekitar 48,87%.
Sapi Potong
Sebagian besar sapi potong yang ada di Indonesia dihasilkan oleh peternakan rakyat yang berskala kecil dan merupakan usaha sampingan, teknologi sederhana, pengetahuan mengenai cara beternak yang tergolong rendah, produktivitas ternak yang rendah, dan kualitas ternak yang dihasilkan belum seragam. Bangsa?bangsa sapi yang sudah lama ada di Indonesia dan telah dianggap sebagai sapi lokal adalah sapi bali, sapi Ongole, sapi Peranakan Ongole (PO), sapi jawa, sapi madura, sapi
6 sumatra dan sapi aceh yang semuanya dianggap sebagai keturunan Bos indicus, juga sapi Zebu yang sudah ada sejak lama, yaitu Brahman. Sapi lokal lainnya seperti sapi Pesisir yang biasanya terdapat di daerah Sumatera Utara dan sapi Katingan yang ada di Kalimantan.
Sapi potong lokal yang memiliki punuk adalah sapi ongole. Sapi ini berwarna putih dan memiliki banyak lipatan kulit di bagian leher dan perutnya. Sapi ini adalah keturunan Bos indicus yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan para pedagang India. Di pulau Jawa, sapi ini berkembang dengan baik. Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal secara turun?temurun disebut sapi peranakan ongole (PO). Sapi Peranakan Ongole merupakan salah satu bangsa sapi yang banyak dipelihara peternak kecil di Pulau Jawa. Sapi ini merupakan hasil persilangan antara sapi Ongole asal India dengan sapi Madura secara grading up (keturunan hasil perkawinan itu dikawinkan kembali dengan sapi ongole) (Parakkasi, 1999).
Sapi PO mirip dengan sapi Ongole yang memiliki ciri?ciri punuk besar, dengan lipatan?lipatan kulit yang terdapat di bawah leher dan perut, telinga panjang dan menggantung, mata besar dan tenang, kulit di sekitar lubang mata selebar ± 1cm berwarna hitam. Angka nilai rata?rata yang pernah dilaporkan untuk pertambahan bobot badan harian prasapih sapi PO adalah 0,62 kg, pascasapih 0,24 kg, untuk umur 4 – 12 bulan berkisar 0,34 – 0,37 kg, 13 – 24 bulan berkisar 0,31 – 0,40 kg, 2 tahun 0,44 – 0,91 kg (Astuti, 2004). Pertambahan bobot badan harian sangat bergantung dari jenis sapi.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan (2010), populasi sapi potong di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir hanya meningkat sekitar 18,3% dari 11.008.017 ekor menjadi 13.633.000 ekor. Ini mengindikasikan bahwa populasi sapi potong masih harus terus ditingkatkan agar kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia terpenuhi.
Pakan Sapi Potong
Makanan ternak ruminansia secara umum dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni hijauan dan pakan penguat atau konsentrat. Hijauan ditandai dengan jumlah serat kasar yang relatif banyak pada bahan keringnya, sedangkan pakan penguat atau konsentrat mengandung serat kasar lebih sedikit daripada hijauan dan mengandung
7 karbohidrat, protein dan lemak yang relatif banyak tetapi jumlahnya bervariasi dengan jumlah air yang relatif sedikit (Williamson dan Payne, 1993).
Pada peternakan rakyat yang umumnya usaha skala kecil, penggunaan pakan masih menggunakan komposisi hijauan tinggi. Pemberian pakan penguat atau konsentrat belum banyak dilakukan peternak sapi potong rakyat. Penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi hijauan makanan ternak dan pakan penguat atau konsentrat menyebabkan peternak belum dapat meracik pakan dengan baik. Pasokan pakan ternak sapi berupa hijauan sangat tergantung pada musim dan selama ini kebanyakan peternak hanya mengandalkan tanaman pakan dari lahan? lahan kosong di sekitarnya.
Sistem Pencernaan Ruminansia
Jalur pencernaan ruminansia diawali melalui mulut, faring, esophagus, perut (rumen, retikulum, omasum, abomasum), usus halus, sekum, usus besar, dan dieksresikan melalui anus (Campbell et al., 2003). Saliva pada sapi tidak mengandung enzim pemecah karbohidrat, oleh karena itu pencernaan pakan berawal pada enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mikroba rumen (Cunningham et al., 2005).
Pencernaan pada perut depan terdiri dari rumen, retikulum dan omasum yang bersifat fermentatif karena adanya mikroba rumen, sedangkan perut belakang yaitu abomasum yang sistem pencernaannya bersifat enzimatis karena adanya enzim? enzim induk semang (Campbell et al., 2003). Bagian yang terbesar pada perut ruminansia dewasa adalah rumen (perut handuk), yang terletak di sisi kiri abdominal. Selanjutnya dibagian depan rumen terdapat bagian yang lebih kecil yang disebut retikulum (perut sarang lebah). Bagian yang ketiga adalah omasum (perut berlapis/buku) yang terletak disebelah kanan rumen dan retikulum. Sedangkan, bagian terakhir adalah abomasum yang terletak di sisi kiri bawah omasum dan meluas ke bagian belakang melewati sisi kanan dari rumen. Abomasum dapat disamakan dengan perut pada ternak non ruminansia oleh karena itu biasanya disebut sebagai perut sejati. Pembentukan sistem pencernaan ruminansia berlangsung secara bertahap. Saat sapi baru lahir perutnya berfungsi seperti halnya ternak non ruminansia karena 3 bagian perut pertama yaitu rumen, retikulum dan omasum
8 memiliki ukuran yang relatif kecil dibanding abomasum. Seiring bertambahnya umur, ukuran rumen pun mulai membesar, tumbuh dengan dengan cepat dan secara bertahap mulai berfungsi dibanding abomasum (Cunningham et al., 2005).
Karakteristik ternak ruminansia dalam memakan hijauan yaitu dengan sedikit mengunyah kemudian langsung menelan. Setelah kapasitas lambung tercukupi ternak berhenti memakan dan mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan diri yang kemudian proses ruminasi dimulai (Campbell et al., 2003). Proses ruminasi meliputi regurgitasi, resalivasi, remastikasi dan penelanan kembali dari materi ingesta rumen pertama. Kontraksi rumen menggerakan massa pakan (bolus) menuju kardia (untuk keluar melewati esophagus) dan bergerak secara peristaltik menuju mulut. Bolus dikunyah kembali dan disalivasi dengan lebih lambat. Proses ruminasi berlangsung 8 jam per hari, sodium bikarbonat yang terdapat dalam saliva berfungsi untuk menjaga pH rumen agar tetap netral (Cunningham et al., 2005).
Berdasarkan jenisnya proses pencernaan dibedakan atas tiga jenis yaitu proses mekanis, enzimatis dan fermentatif. Pencernaan secara mekanis terjadi di mulut dengan bantuan gigi sebagai alat pemotong. Pencernaan enzimatis adalah pencernaan yang dilakukan oleh enzim?enzim pencernaan, pada ruminansia dilakukan pada abomasum (perut sejati). Pencernaan fermentatif dilakukan atas bantuan mikroba, pada ruminansia terjadi di rumen dan retikulum (McDonald et al., 2002).
Pencernaan Fermentatif pada Ruminansia
Pencernaan fermentatif pada ruminansia dapat terjadi oleh karena adanya mikroorganisme. Pada proses pencernaan fermentatif zat makanan dirombak menjadi senyawa lain yang berbeda sifat kimianya sebagai zat intermediate. Mikroba yang terlibat dalam proses pencernaan ini memiliki sifat selulolitik, amilolitik, proteolitik dan xylanolytic (McDonald et al., 2002).
Mikrorganisme rumen dan induk semang (ternak) hidup secara simbiosis. Di rumen terdapat empat jenis mikroorganisme anaerob, yaitu bakteri, protozoa, fungi dan mikroorganisme lainnya seperti virus (Damron, 2006). Keberadaan mikrooganisme untuk mencerna pakan menjadi partikel nutrien yang lebih sederhana merupakan keuntungan bagi ternak. Pemberian pakan pada ruminansia menjadi lebih
9 kompleks karena pemberian pakan mencakup pemberian pakan pada mikroorganisme dan juga induk semang. Menurut Dehority (2003) faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas mikroorganisme rumen diantaranya adalah suhu yang hangat (39oC), kelembaban dan nutrien pakan yang cukup, pH yang sesuai (sekitar 6,8?7), kondisi anaerob, kapasitas buffer, tekanan osmotik dan potensial oksidasi reduksi.
Populasi bakteri yang terdapat di dalam cairan rumen jumlahnya mencapai 109?1010 sel/ml cairan rumen dan populasi mikoorganisme terbesar kedua di cairan rumen adalah protozoa yang populasinya mencapai 106 sel/ml cairan rumen (McDonald et al., 2002). Protozoa kurang mampu mensintesa asam amino dan vitamin B kompleks sehingga diperoleh dengan jalan memangsa bakteri. Oleh karena ukuran protozoa yang lebih besar dari bakteri dan cenderung tetap berada di rumen, sifat predator oleh protozoa dapat mengakibatkan penurunan populasi bakteri. Mikroorganisme di rumen berperan untuk mengubah sebagian besar pati dan selulosa menjadi asam lemak terbang sebagai sumber energi; mengubah protein dan nitrogen bukan protein menjadi protein bakteri dan protozoa yang digunakan sebagai sumber protein yang mengandung asam amino esensial untuk induk semang; dan mensintesis vitamin K dan semua vitamin B (Cunningham et al., 2005).
Pakan dicerna secara fermentatif dapat menghasilkan asam lemak terbang (sebagai produk akhir yang utama), NH3, sel mikroba, gas metan, CO2 dan air. Gas metan akan dikeluarkan dengan cara eruktasi dan VFA diserap melalui dinding rumen. Sel mikroba bersama dengan komponen makanan yang tidak terdegradasi, masuk ke abomasum dan usus halus yang kemudian dicerna oleh enzim yang disekresikan oleh ternak inang (McDonald et al., 2002).
Beberapa pakan dicerna dengan cepat dan ada yang lambat. Mikroorganisme berperan sebagai pencerna karbohidrat (seperti gula, pati dan selulose) dan protein. Asam lemak terbang yang diproduksi di rumen yaitu asetat, propionat, butirat, isobutirat, valerat dan isovalerat. Pembentukan asam lemak terbang dari pakan sumber karbohidrat dapat dilihat pada Gambar 3. Sedangkan, protein dalam rumen oleh enzim proteolisis mikroorganisme rumen banyak dipecah menjadi amonia dan asam organik. Mikroorganisme kemudian menggunakan amonia tersebut untuk
10 menghasilkan asam amino yang kemudian dipergunakan untuk pembentukan sel bakteri itu sendiri (Damron, 2006).
Gambar 3. Sintesis VFA oleh Mikroorganisme di Rumen Sumber: Damron (2006)
Asam lemak terbang yang dihasilkan dalam rumen memberikan sumbangan sebanyak 50?70% dari total energi yang dibutuhkan induk semang (ternak). Sel bakteri menyediakan 5?10% energi untuk induk semang dan pakan yang dicerna secara enzimatis sekitar 20?30%. Produksi gas dalam sistem rumen dihasilkan dari proses fermentasi asetat, propionat dan butirat. Dalam sehari gas yang terbentuk dari seekor sapi sekitar 600 liter (Damron, 2006).
Pengaruh Saponin pada Sistem Rumen
Saponin mampu membunuh atau melisiskan protozoa dengan membentuk ikatan yang kompleks dengan sterol yang terdapat pada permukaan membran protozoa. Saponin dapat mengganggu perkembangan protozoa dengan terjadinya ikatan antara saponin dengan sterol pada permukaan membran sel protozoa, menyebabkan membran pecah, sel lisis dan protozoa mati. Keberadaan kolesterol pada membran sel eukariotik (termasuk protozoa) tetapi tidak terdapat pada sel bakteri prokariotik, memungkinkan protozoa rumen lebih rentan terhadap saponin karena saponin mempunyai daya tarik menarik terhadap kolesterol. Populasi bakteri
Amilase Pati Selulosa Selulase Glukosa Maltosa Selobiosa 2 ATP 2 NAD+ 2 NADH 2 NAD+ 2 NADH Piruvat CH4 CO2 Asam Laktat NADH Asetil Co?A 4 NADH 4 NAD+ NAD+ Asetat Butirat Propionat
11 rumen tidak mengalami gangguan karena dinding membran bakteri berupa ikatan peptida dengan gliserol (peptidoglikan). Bakteri tidak mempunyai sterol yang dapat berikatan dengan saponin. Selain itu bakteri mempunyai kemampuan untuk memetabolisme faktor antiprotozoa tersebut dengan menghilangkan rantai karbohidrat dari saponin (Cheeke, 2000).
Makkar dan Becker (1997) membuktikan bahwa saponin dari tanaman Quillaja saponaria berada dalam keadaan stabil di dalam rumen selama enam jam tanpa kehilangan aktifitas anti protozoa. Mao et al. (2010) menambahkan bahwa saponin pada daun teh dapat menghambat produksi metan dan efektifitasnya sebagai inhibitor metanogenesis pada rumen domba.
Konsumsi
Voluntary feed intake (tingkat konsumsi) adalah jumlah pakan yang
dikonsumsi apabila bahan pakan tersebut diberikan ad libitum (Parakkasi, 1999). Konsumsi ransum merupakan faktor yang penting untuk menentukan kehidupan pokok dan produksi ternak, karena dengan mengetahui tingkat konsumsi ransum maka akan dapat ditentukan kadar suatu zat makanan dalam ransum guna memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak. Konsumsi ditentukan oleh: (1) berat atau besar badan (2) jenis makanan (bahan makanan yang berdaya cerna tinggi) (3) umur dan kondisi ternak (4) kadar energi dari bahan makanan (5) stress (6) sex atau jenis kelamin. Banyaknya jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seekor ternak merupakan salah satu faktor penting yang secara langsung mempengaruhi terutama produktivitas ternak. Konsumsi makanan dipengaruhi terutama oleh faktor kualitas makanan dan faktor kebutuhan energi ternak yang bersangkutan.
Faktor?faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum pada ruminansia yaitu faktor makanan yang diberikan, faktor hewan dan faktor lingkungan (Parakkasi, 1999). Faktor makanan antara lain yaitu bentuk, komposisi nutrien, rasa dan tekstur. Faktor hewan antara lain yaitu bobot badan, palatabilitas, status fisiologis dan kapasitas rumen. Sedangkan faktor lingkungan antara lain yaitu suhu dan kelembaban udara. McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan pakan dan laju digesta pakan juga mempengaruhi konsumsi ransum. Kecernaan yang tinggi dan laju digesta yang cepat akan meningkatkan konsumsi ransum.
12
Kecernaan utrien
Campbell et al. (2003) menyatakan bahwa kecernaan adalah persentase pakan yang dapat dicerna dalam sistem pencernaan yang kemudian dapat diserap tubuh dan sebaliknya yang tidak terserap dibuang melalui feses. Kecernaan nutrien merupakan salah satu ukuran dalam menentukan kualitas dari pakan. Kecernaan diartikan juga sejauh mana ternak dapat mengubah zat makanan menjadi kimia sederhana yang dapat diserap oleh sistem pencernaan tubuh (Damron, 2006).
Faktor?faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum diantaranya adalah suhu lingkungan, laju alir pakan saat melewati sistem pencernaan, bentuk fisik pakan dan komposisi nutrien pakan (Campbell et al., 2003). McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan juga dipengaruhi oleh komposisi rasio ransum antara hijauan dan konsentrat, pengolahan pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pengetahuan akan faktor?faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum sangatlah penting sebagai strategi dalam meningkatkan efisiensi konversi ransum.
Hasil penelitian Hristov et al. (1999) yang menyatakan bahwa penambahan Yucca schidigera yang mengandung saponin pada pakan sapi betina dara sebanyak 20 dan 60 g/e/hari tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum secara total. Namun secara umum, saponin tidak mempengaruhi nilai kecernaan secara total. Abreu et al. (2004) melaporkan bahwa penggunaan saponin yang terkandung dalam Sapindus
saponaria sebanyak 8 g/kg bobot hidupmenurunkan kecernaan ADF (Acid detergent
fiber), NDF (Neutral Detergent Fiber), serta jumlah protozoa meningkat. Hasil penelitian lain melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg dari konsumsi bahan kering (DMI) menurunkan kecernaan NDF tetapi tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar pada ternak domba (Nasri et al., 2011).
Adanya perubahan populasi mikroba rumen akan mempengaruhi kecernaan ransum pada ternak. Hess et al. (2003) menyatakan bahwa suplementasi saponin dari Sapindus saponaria (kadar saponin 12%) yang digunakan sebesar 10% ke dalam ransum dapat menurunkan populasi protozoa hingga 54%. Sejalan dengan hasil tersebut, Wina et al. (2005) menyatakan bahwa penambahan S. rarak secara in vitro pada cairan rumen sapi nyata menurunkan populasi protozoa pada 1 ? 4 mg/ml ekstrak methanol lerak. Pengaruh yang diharapkan terjadi di rumen ternak jika
13 ditambahkan pakan yang mengandung saponin yaitu dapat mendefaunasi protozoa secara parsial dan meningkatkan populasi bakteri sehingga kecernaan pakan dan suplai protein mikroba meningkat. Penurunan populasi protozoa juga terjadi pada penambahan ekstrak Sapindus rarak pada pakan domba, tetapi tidak berpengaruh terhadap penurunan konsumsi dan kecernaan (Wina et al., 2006)
Pertambahan Bobot Badan
Pertumbuhan adalah suatu proses peningkatan dalam struktur jaringan seperti tulang, otot dan organ serta deposit lemak jaringan adiposa serta bagian tubuh lainnya yang terjadi sebelum lahir dan sesudah lahir sampai mencapai tubuh dewasa (Parakkasi, 1999). Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan yang dilakukan dengan cara penimbangan. Pertambahan bobot badan sangat bergantung dari jenis sapi.
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pakan ternak. Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari percobaaan pada ternak merupakan hasil zat?zat makanan yang dikonsumsi. Menurut McDonald et al. (2002) pertumbuhan ternak ditandai dengan peningkatan ukuran, bobot, dan adanya perkembangan. Pengukuran bobot badan berguna untuk penentuan tingkat konsumsi, efisiensi pakan dan harga.
Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap performa pertumbuhan pada ternak domba. Mao et al. (2009) juga menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan domba.
Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan didefinisikan sebagai perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan yaitu pertambahan bobot badan dengan jumlah unit konsumsi pakan dalam satuan waktu yang sama. Efisiensi pakan mencirikan tingkat efisiensi pemanfaatan nutrien dalam tubuh ternak. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan semakin efisien ternak mengkonversi ransum menjadi bobot badan.
14 Nilai efisiensi ransum yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi semakin tinggi yang diubah untuk menjadi hasil produk pada ternak diantaranya pertambahan bobot badan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan antara lain kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al., 2003).
15
MATERI DA METODE Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisa kandungan nutrien pakan dan feses dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan pada tahun 2010.
Materi Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain timbangan digital merek Ruddweigh, timbangan pegas merek Nagako dan Salter, alat?alat analisa proksimat, alat?alat koleksi feses, oven merek WTC Binder 7200 Tuttlingen/Germany dan oven merek Memmert U15?Germany.
Ternak Percobaaan
Ternak yang digunakan adalah sapi potong lokal jantan dengan bobot badan awal rata?rata 171±12.51 kg sebanyak 12 ekor. Sapi tersebut dipelihara selama 90 hari dalam kandang individu berukuran 1 x 1.5 meter, beralaskan lantai semen, dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat air minum.
Ransum
Standar kebutuhan yang digunakan adalah berdasarkan (utrient Requirements of Ruminants in Developing Countries, steers maintenance and growth (Kearl, 1982). Standar kebutuhan nutrien untuk sapi potong lokal dengan bobot badan 150?200 kg, PBB (pertambahan bobot badan) rata?rata 0.5?1 kg, konsumsi bahan kering 3% bobot badan dengan protein kasar (PK) 11,83%, TDN (total digestible nutrien) 58,48%, Ca 0,53%, dan P 0,31%. Ransum perlakuan yang digunakan selama penelitian berupa rumput lapang dan pakan penguat dengan