• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada keesokan harinya, setelah mandi pagi, Gak Bun Beng berkata kepada Syanti Dewi, “Dewi, kita harus menyamar dalam perjalanan selanjutnya. Aku sudah kapok kalau sampai terjadi seperti malam tadi. Pula, menurut pelayan, di sebelah sananya padang rumput itu terdapat perkemahan pasukan. Ingin sekali aku melakukan penyelidikan, dan mengetahui apakah gerangan yang terjadi sehingga seorang jenderal yang berpangkat tinggi itu sampai datang ke tempat ini dan melakukan perondaan sendiri, memimpin pasukan sendiri

melakukan pembersihan.”

“Paman, bukankah Jenderal Kao telah menjamin....”

“Ah, aku tidak mau berkedok nama jenderal, Dewi. Kita melakukan perjalanan sendiri menggunakan akal sendiri untuk menyelamatkan diri. Bagaimana kalau kita menyamar

sebagai ayah dan anak penjual silat?”

“Tapi ilmu silatku masih rendah, paman.”

“Habis apa kiranya yang menjadi keahlianmu?”

“Aku agak pandai menari....”

“Nah, itu dia! Kita menyamar sebagai penjual obat dan engkau menari, aku yang mengiringi

dengan meniup suling.”

Syanti Dewi tertawa dan cahaya matahari menjadi cerah bagi Gak Bun Beng. Tawa gadis yang halus itu benar-benar mendatangkan kesegaran dalam perasaannya. Bertahun-tahun dia hidup membeku, dan baru sekarang dia merasakan kehangatan perikemanusiaan. “Menari hanya diiringi dengan suling saja? Dan lagunya? Apakah kau mengenal lagu Bhutan, paman?”

“Tentu saja tidak. Akan tetapi asal melagukan cukup? Apa lagi kita adalah penjual obat, bukan ahli tari sungguhpun aku yakin bahwa engkau tentu merupakan seorang ahli tari yang luar blasa. Nah, sekarang kita harus berbelanja ke dusun ini menyiapkan segala keperluan penyamaran kita. Untukku sebatang suling dan sebuah caping lebar, dan untukmu, apa

kebutuhanmu dalam penyamaranmu, Dewi?”

“Sebagai penari keliling, cukup dengan sehelai selendang panjang saja, selendang sutera

berwarna merah.”

Setelah menemukan dan membeli kebutuhan mereka itu, Gak Bun Beng lalu mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan meninggalkan dusun itu dan melintasi padang rumput. Di sepanjang perjalanan Syanti Dewi menyanyikan beberapa lagu Tibet yang dikenalnya dan dengan penuh kagum dan keharuan karena dara itu ternyata amat pandai bernyanyi dan mempunyai suara yang amat merdu dan halus. Gak Bun Beng mempelajari lagu-lagu itu

dengan sulingnya.

Ketika mereka sudah melewati padang rumput Gak Bun Beng berhenti dan meminta kepada Syanti Dewi agar supaya menari. “Kita harus berlatih dulu agar cocok antara suling dan

gerakan tarianmu,” katanya.

Dia duduk di bawah pohon dan mulai meniup sulingnya, menirukan lagu yang dinyanyikan dara itu, dan Syanti Dewi mulai menari, menggerakkan tubuhnya seperti seekor kupu-kupu beterbangan di atas kelompok bunga, dan ketika selendangnya yang merah itu digerak-gecakkan, selendang itu membentuk lengkung-lengkuk merah yang amat indah dan berubah-ubah. Kadang-kadang seperti seekor naga merah terbang, kadang-kadang seperti seekor kupu-kupu, lalu seperti huruf-huruf yang hanya tampak sekilas pandang saja karena sudah berubah lagi bentuknya. Bukan main! Gak Bun Beng terpesona dan lupa diri, seolah-olah dia sedang berada di kahyangan menyaksikan tarian seorang bidadari. Di dalam setiap gerakan tubuh dara itu, dari ujung jari tangan sampai ke anak rambut yang terjurai di depan dahi, semua begitu hidup, mengandung warna tertentu dan merupakan nyanyian tertentu, indah penuh rahasia seperti sajak-sajak keramat, meriah dan riang gembira seperti sinar

matahari pagi di musim semi!

Setelah Syanti Dewi menghentikan tariannya sambil tertawa, Gak Bun Beng baru sadar. Dia menurunkan sulingnya pula, masih terlongong dan termenung, seolah-olah orang baru

“Paman Gak!” Syanti Dewi memanggil ketika melihat pendekar itu duduk termenung,

aeolah-olah ada sesuatu yang mengganggunya.

“Heh....? Ehhh....!” Gak Bun Beng menyeka peluh yang tanpa diketahuinya telah memenuhi dahi dan lehernya, kemudian dia memandang Syanti Dewi dengan sinar mata lembut dan penuh kasih sayang. “Dewi, bukan main kau....! Bukan main....!” Dan tak dapat ditahan lagi, dia mengatupkan bibir dan dua titik air mata menetes ke atas pipinya. Syanti Dewi menubruknya. “Paman, ada apakah? Paman.... paman menangis?” Ucapan ini dikeluarkan penuh ketidakpercayaan. Rasanya mustahil bagi Syanti Dewi melihat seorang pria yang demikian gagah perkasa, jantan keras bagaikan baja, lembut dan budiman seperti kapas, yang dihormati, kagumi, dan sayang dapat meruntuhkan air mata walaupun hanya

dua butir!

Gak Bun Beng tak mampu menjawab dan memejamkan mata ketika merasa betapa Syanti Dewi menyeka dua butir air mata itu dengan ujung selendangnya. Terbayanglah wajah Milana, teringatlah dia akan semua kenikmatan dan kebahagiaan berkasih sayang dengan wanita itu. Kehadiran Syanti Dewi dalam hidupnya membuat luka di dalam hatinya merekah kembali dan dia menjadi amat rindu kepada Milana, amat rindu pada belaian kasih sayang wanita. Padahal selama ini, dia telah berhasil menundukkan semua itu, telah membuat hatinya mengeras seperti baja. Namun segala keindahan yang dilihatnya dalam diri Syanti Dewi, segala kelembutannya, mendobrak seluruh pertahanannya dan menjadi jebol! “Paman kau kenapakah? Mengapa paman berduka?” Kemudian Syanti Dewi bertanya

dengan suara penuh kedukaan dan kecemasan.

Gak Bun Beng membuka matanya, lalu memaksa diri tersenyum dan membuka capingnya, mengipasi muka dan lehernya dengan caping, bukan untuk mengusir hawa panas, melainkan dengan harapan angin dari kipasan caping itu akan mengusir keharuan yang mencekik lehernya. Sukar dia mengeluarkan suara dan hanya menggeleng kepala sambil tersenyum. “Paman, kau tadi kelihatan demikian berduka, sampai menangis! Padahal tadinya tidak apa-apa. Setelah aku menari, paman berduka dan terharu. Tentu ada sebabnya, paman. Demikian tegakah paman membiarkan aku dipermainkan kesangsian? Tidak sudikah paman mempercayaiku dan menceritakan apa yang mendukakan hatimu?” Gak Bun Beng menggerakkan tangan dan mengelus rambut kepala gadis itu. Gerakan ini meruntuhkan hati Syanti Dewi dan otomatis dia lalu menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada pendekar itu. Dia merasa begitu aman, begitu tenteram dan begitu bahagia, seolah-olah dada yang bidang itu melindunginya dari segala malapetaka yang akan mengancamnya, melindunginya dari segala kedukaan dan mendatangkan kebahagiaan yang dia tidak mengerti. Gak Bun Beng pun menerima perbuatan gadis ini dengan perasaan wajar, seolah-olah sudah semestinya demikian, dan untuk beberapa saat dia tetap mengelus rambut kepala yang panjang, hitam dan halus itu. Kemudian dia teringat betapa janggalnya keadaan mereka, maka perlahan dia mendorong kepala gadis itu dari atas dadanya. Mereka duduk berhadapan dan berkatalah Gak Bun Beng, “Syanti Dewi, kaulah satu-satunya manusia yang

berhak mengetahui segala mengenai diriku.”

“Terima kasih, paman. Aku yakin bahwa memang engkau akan menceritakan kepadaku, karena kiranya tidak ada lagi manusia yang demikian mulia seperti engkau, paman.” Gak Bun Beng memegang tangan dara itu, akan tetapi ketika dia merasa ada getaran kemesraan yang luar biasa keluar dari tangan dara itu, dia cepat melepaskannya kembali dan menghela napas, membuang pandang matanya ke tanah, menunduk. “Dewi, engkau terlalu tinggi memandang diriku. Aku hanyalah seorang tua yang bodoh, yang canggung dan lemah.”

“Bukan aku yang memandang terlalu tinggi, melainkan engkau yang selalu merendahkan diri, dan itulah satu di antara sifat-sifat paman yang kukagumi. Sekarang ceritakan, paman, mengapa paman tadi menangis ketika melihat aku menari?” “Syanti Dewi, karena kau mengingatkan aku akan seorang lain....”

“Seorang wanita?”

Gak Bun Beng mengangguk.

“Wanita yang paman cinta?”

“Dan diapun mencinta paman?”

Untuk ketiga kalinya Gak Bun Beng mengangguk.

Syanti Dewi menunduk, kelihatan berduka sekali. Sampai lama keduanya diam saja, kemudian terdengar dara itu bertanya, suaranya gemetar menahan isak, “Paman Gak, sudah

lamakah dia meninggal?”

Gak Bun Beng mengerutkan alisnya, lalu mengerti bahwa dara ini menyangka kekasihnya itu sudah meninggal. “Sampai sekarang dia masih hidup, Dewi.”

Dokumen terkait