BAB III PENDIDIKAN MORAL MENURUT AL-BARZANJI
B. Nilai-nilai Pendidikan Moral Yang Terdapat Dalam Kitab Al-
6. Tidak Gentar Menghadapi Para Raja
Adapun sifat yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah gentar menghadapi para raja dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berrikut:
َكْوُلُمْلا ُباَهَ ي َلاَو
.(majmu‟, t.t: 54)Beliau tidak pernah merasa gentar menghadapi para raja.
29 7. Marah Karena Allah
Adapun sifat yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW marah karena Allah dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berrikut:
لياَعَ ت ِولِل ُبَضْغَ يَو
.(majmu‟, t.t: 54)Beliau marah karena Allah (Najieh, 2009: 121).
8. Berbicara Seperlunya
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW hanya berbicara seperlunya saja adalah:
َو َك
َنا
َص َل
ُللها ي
َع َل
ْي ِو
َو َس
َل َم
ُي ِق
ُل
َّللا
ْغ َو
.(majmu‟, t.t: 55)Beliau tidak suka bicara, melainkan seperlunya saja
(Najieh, 2009: 123).
9. Mulai Memberi Salam
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW suka memulai memberikan salam kepada orang-orang yang dijumpainya adalah:
ِم َلََّسلاِب ُوَيِقَل ْنَم ُؤَدْبَ يَو
.(majmu‟, t.t: 55)
Dan beliau suka mulai memberi salam kepada orang yang dijumpainya (Najieh, 2009: 123).
30 10.Berbicara Kebenaran
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW hanya berbicara kebenaran adalah:
َو َلا
َ ي ُق ْ
و
ُل
ِإ
َّلا
َح
َّقا
.(majmu‟, t.t: 55)Dan beliau tidak pernah berbicara melainkan yang benar-benar saja (Najieh, 2009: 124).
11.Menghormati Orang Yang Utama
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menghormati orang yang utama adalah:
ِلْضَفْلا َلْىَا ُمِرْكُيَو
.(majmu‟, t.t: 55)Menghormati orang yang utama (Najieh, 2009: 124).
Demikian nilai-nilai pendidikan moral yang dapat penulis ambil dalam kitab Al-Barzanji.
31 BAB IV
PEMBAHASAN
A. Nilai-nilai Pendidikan Moral Yang Terkandung Dalam Kitab Karya Syekh Ja’far Al-Barzanji
Adapun nilai-nilai pendidikan moral yang terkandung dalam kitab karya Syekh Ja‟far Al-Barzanji yang dapat penulis ambil adalah sebagai berikut:
1. Kanaah
Kanaah, artinya mencukupkan apa yang ada. Tidak merasa gelisah bila terdapat kekurangan. Rela makan nasi dengan garam asal halal. Tidak perlu berhutang, menggadai atau menjual barang miliknya. Dengan pendapat sekecilpun, asal itu didapat dengan cara halal, ia akan berlapang dada. Itulah gambaran seorang yang bersikap Kanaah (Ibrahim, 1990: 114-115).
Adapun sikap kanaah yang tercermin pada diri Rasulullah SAW dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berikut:
َْلََو
َي
ْةَّيِبَلْْا ُوُسْفَ ن ُّطَق اًشَطَع َلاَو اًعْوُج ُهاَبِص ِْفِ ُكْش
.
(majmu‟, t.t: 40)Semasa kecilnya, Beliau SAW. tidak pernah mengeluh lapar dan dahaga kepada orang lain (Najieh, 2009: 56).
َقَو ِعْوُْلْا َنِم َرَجَْلْا ِوِنْطَب يلَع ُبِصْعَ يَو
ِنِئاَزَْلْا َحْيِتاَفَم َ ِتِْوُأ ْد
ِةَيِضْرَْلْا
32
Untuk menanggulangi rasa lapar, maka beliau acap kali membungkus batu dengan kain yang diikatkan pada perutnya. Padahal, kunci perbendaharaan bumi berada di tangannya
(Najieh, 2009: 122).
ُهاَبَأَف اًبَىَذ وَل َنْوُكَت ْنَأِب ُلاَبِْلْا ُوْتَدَواَرَو
.
(majmu‟, t.t: 55)Dan gunung-gunung menawarkan diri untuk dijadikan gunung mas untuk keperluannya, tetapi ditolaknya (Najieh, 2009: 122). Nilai pendidikan moral yang patut dicontoh oleh kita sebagai umat beliau SAW. Dalam keadaan apapun sifat kanaah harus selalu mengiringi setiap aktifitas keseharian kita. Seperti disebutkan dalam kitab Al-Barzanji bahwa Rasulullah SAW adalah pribadi yang tidak suka mengeluh, tidak suka bermewah-mewahan, menerima apa adanya dan mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Allah kepada beliau.
Kita ketahui bersama, bahwasannya sifat kanaah Rasulullah bukanlah karena beliau orang yang tidak berpunya atau orang yang tidak mempunyai daya apa-apa. akan tetapi sifat kanaah beliau memang benar-benar beliaulah yang memilih untuk menjalani kehidupan seperti itu. Seperti tersebutkan oleh Najieh (2009: 122) di atas dalam riwayatnya suatu ketika gunung-gunung menawarkan diri untuk dijadikan gunung mas untuk keperluannya, tetapi ditolaknya. Ahmad Abdul Hamid (1955: 80-81) dalam kitabnya Sabil Al-Munji
juga menyebutkan bahwa pernah malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW: apakah kamu mau kiri kanan gunung sekeliling Makkah menjadi emas? Nabi SAW menjawab tidak mau. Sebagaimana disebutkan
33 dalam kitab Sabil Al-Munji, bahwa sebenarnya yang menawarkan untuk mengubah gunung untuk menjadi emas bukanlah gunung itu sendiri melainkan malaikat jibril yang menawarkannya kepada Rasulullah SAW kemudian Rasul SAW menolaknya karena sifat kanaahnya. Sifat inilah yang harus kita teladani sebagai umat beliau SAW.
Akan tetapi jika kita lihat hari ini, banyak sekali orang yang melupakan teladan Rasul yang satu ini. dimana-mana orang lebih suka memburu kekayaan materiil, padahal orang yang mempunyai sikap kanaah itu sebenarnya yang orang kaya, karena kebutuhannya dapat terkendali dan tidak perlu menadahkan tangan kepada orang lain. Kaya secara batiniah itulah sebenarnya yang bisa disebut orang kaya. Sabda Nabi SAW:
َعْلا ِةَرْ ثَك ْنَع َنَِغْلا َسْيَل
)ملسمو يراخبلا هاور( . ِسْفَّ نلا َنَِغ َنَِغْلا َّنِكَلَو ِضَر
Tidak dikatakan kaya orang yang kaya dengan harta benda, tapi orang yang kaya ialah orang kaya jiwanya. (H.R. Bukhori Muslim) (Ibrahim, 1990: 115).
Sebagai umat Beliau SAW, kita dianjurkan untuk meneladani sifat kanaah tersebut agar kita tidak terburu oleh dunia. Dengan pola kehidupan seperti itu, sebenarnya kita diajarkan oleh Rasulullah untuk menjadi orang yang selalu bersyukur, merasa cukup atas apa yang telah diberikanNya kepada kita, dan jika Allah menghendaki kita akan menjadi orang yang kaya jiwanya seperti hadis di atas.
34 2. Pemalu
Malu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 706), adalah merasa tidak enak hati. Adapun yang menjelaskan tentang sifat pemalu Rasulullah SAW dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berikut:
ِءاَيَْلْا َدْيِدَش َمَلَسَو ِوْيَلَع ُللها يَلَص َناَكَو
.
(majmu‟, t.t: 55)Beliau SAW. adalah seorang yang sangat pemalu (Najieh, 2009: 120).
Menurut Ahmad Abdul Hamid (1955: 79) Nabi kita SAW adalah orang yang sangat pemalu, mengalahkan wanita kecil yang masih perawan. Hal tersebut sesuai dengan hadis Bukhari-Muslim berikut:
ِوِهْجَو ِفِ ُهاَنْ فَرَع ُوُىَرْكَي اًئْيَش ىأَر اَذِإَف ، اَىِرْذَح ِفِ ِءاَرْذَعْلا َنِم ٍءاَيَح ُّدَشَأ
)ويلع قفتم(
Rasulullah lebih pemalu dari gadis pinyitan. Bila ada sesuatu hal yang dapat membuat beliau malu, bisa diketahui dari air muka beliau (Ibrahim, 1990: 109-110).
Rasulullah SAW merupakan orang yang sangat pemalu, bahkan Rasulullah SAW lebih pemalu apabila dibandingkan dengan gadis pinyitan. Tanda bahwa Rasulullah SAW sedang merasakan malu dapat dilihat melalui keringat beliau. Malu merupakan nilai pendidikan moral
35 yang sangat mulia dan erat sekali kaitannya dengan iman. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berikut:
.ِناَْيَِْلْا َنِم ٌةَبْعُش ُءاَيَْلْاَو ًةَبْعُش َنْوُ تِسَو ٌعْضِب ُناَْيَِلَْا
“Iman itu lebih dari enam puluh cabang dan malu adalah cabang keimanan.” (At-Tuwaijiri, 2016: 384-385).
Orang yang mempunyai perasaan malu, tidak akan pernah meninggalkan semua kewajibannya, baik kewajibannya kepada Allah, kepada sesamanya, maupun kepada dirinya sendiri. Seorang muslim yang baik hendaklah ia punya perasaan malu. Orang yang tak punya malu akan jatuhlah martabatnya di hadapan Allah dan di mata orang banyak. Sebaliknya, orang yang malu kepada Allah, malu kepada manusia, dan malu kepada dirinya, kelak dia akan berbahagi di dunia dan di akhiratnya.
Sabda Nabi SAW.:
ِظْفَ يْلَ فِءاَيَلْا ُّقَح ِوّللا َنِماَيْحَتْسا ِنَم ِءاَيَلْا ُّقَح َلاَعَ ت ِللها َنِم اوُيْحَتْسِا
ْنَمَو ، َلَِبْلاَو َتْوَمْلا ِرُكْذَيْلَو ،ىَوَح اَمَو َنْطَبْلا ِظَفْحَيْلاَو ىَعَو اَمَو َسْأَّرلا
َيْ نُّدلا ِةاَيَْلْا َةَنْ يِز َكَرَ ت َةَرِخلآا َداَرَأ
ِللها ِنِم اَيْحَتْسا ِدَقَ ف َكِلَذ َلَعَ ف ْنَمَف ،ا
36
Malulah kalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya malu. Barang siapa malu terhadap Allah, hendaklah ia menjaga kepala dan isinya, hendaklah menjaga perut dan isinya, dan hendaklah mengingat mati dan kebusukan badan. Barang siapa menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan hiasan hidup dunia. Barang siapa berbuat begitu, maka benar-benar ia telah malu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya malu. (H.S.R. Ahmad, Turmudzi, Hakim, dan Baihaqi) (Ibrahim, 1990: 109-110).
Selain melaksanakan semua kewajibannya, seorang muslim yang baik dan mempunyai perasaan malu, ia juga harus meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Termasuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang hina, rendah, kurang bagus, dan kurang sopan apabila dilakukan oleh manusia.
3. Tawaduk
Tawaduk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1150), adalah rendah hati. Adapun yang menjelaskan tentang sifat tawaduk Rasulullah SAW dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berikut:
ٍةَرْ يِسِب ِوِلْىَأ ِةَمْدِخ ِْفِ ُرْ يِسَيَو ُوَتاَش ُبِلَْيََو ُوَبْوَ ث ُعَقْرَ يَو ُوَلْعَ ن ُفِصَْي ِعُضاَوَّ تلا
ٍةَّيِرَس
.
(majmu‟, t.t: 55)tawaduk, mau memperbaiki terompahnya sendiri, dan mau menambal pakaiannya sendiri, mau memerah kambingnya dan mau membantu keperluan dalam rumah tangganya
37
ُهاَدْىَأ ِوْيَلِإ ِكْوُلُمْلا ُضْعَ ب اًراَِحَِو َةَلْغَ بْلاَو َسَرَفْلاَو َرْ يِعَبْلا ُبَكْرَ يَو
.
(majmu‟, t.t: 54-55)Mau berkendara unta, kuda, bighol, dan himar (keledai) dari hadiah sebagian raja-raja (Najieh, 2009: 122).
ْمُىَزِئاَنَج ُعِّيَشُيَو ْمُىاَضْرَم ُدْوُعَ يَو ْمُهَعَم ُسِلَْيََو َْيِْكاَسَمْلاَو َءاَرَقُفْلا ُّبُِيََو
ُهاَوْشَأَو ُرْقَفْلا ُوَعَ قْدَأ اًرْ يِقَف ُرِقَْيَ َلاَو
.(majmu‟, t.t: 54)Beliau menyukai orang fakir dan miskin, dan suka duduk bersama-sama mereka, mau meninjau orang yang sakit di antara mereka, mau mengantar jenazah mereka, dan tidak mau menghina orang fakir, betapapun miskin dan melaratnya orang itu (Najieh, 2009: 120).
ِةَلِمْرَْلاا َعَم ْيِشَْيََو
ِةَّيِدْوُ بُعْلا يِوَذَو
.(majmu‟, t.t: 54)
Dan mau berjalan dengan orang-orang yang lemah dan para budak belian (Najieh, 2009: 121).
Rasulullah SAW adalah orang yang sangat tawaduk. Sifat tawaduk Beliau SAW, dapat dilihat ketika Rasulullah SAW mau memperbaiki terompahnya sendiri, dan mau menambal pakaiannya sendiri, mau memerah kambingnya dan mau membantu keperluan dalam rumah tangganya. Dalam riwayat lain Rasulullah SAW juga mau berkendara unta, kuda, bighol, dan himar (keledai) dari hadiah sebagian raja-raja.
38 Dalam pergaulan beliau SAW mau berjalan bersama, duduk bersama, menjenguk orang sakit, dan mau mengantarkan jenazah orang fakir miskin betapapun miskin dan melaratnya orang itu seperti dalam kitab Al-Barzanji di atas. Akan tetapi hal tersebut sudah sangat jarang sekali kita temukan pada diri pemimpin-pemimpin kita diera modern seperti sekarang ini. Entah karena zamannya yang memang sudah berbeda atau entah karena alasan lain, akan tetapi sebagai umat Beliau SAW seharusnya pemimpin-pemimpin kita harus bisa meneladani sifat tawaduk Rasulullah SAW agar para pemimpin kita masuk dalam golongan orang yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana dalam hadis berikut:
َو َم
َ ت ا
َو
َضا
َع َأ
َح
ٌد
ِل
ِول
ِإ
َر َّلا
َ ف َع
ُو
ُللها
)ملسم هاور( .
Orang yang tawaduk (rendah hati) akan menjadi mulia karena Allah akan memuliakannya. (R. Muslim)
Firman Allah:
...
ناقرفلا(
36
)
dan hamba-hamba Allah yang baik dari Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati (tawaduk). (Surat Al-Furqan ayat 63).
39
Orang yang tawaduk juga tidak marah bila dikritik dan menghormati orang-orang yang kurang ilmu. Mau menerima kebenaran dari siapa saja. Membelanjakan harta untuk urusan taat. Semua manusia dianggapnya sama, kecuali dalam hal ketakwaannya kepada Allah (Ibrahim, 1990: 108-109).
Sebagai umat Beliau SAW, kita dianjurkan untuk meneladani sifat tawaduk beliau dalam hal keimanan kepada Allah, kebaikan sesama manusia dan alam sekitar. Agar tercipta situasi sosial yang religius, harmonis, dan beradab. Tidak akan ada lagi kasta yang membedakan derajat manusia karena hakekatnya semua manusia baik itu pemimpin, rakyat jelata, kaya, ataupun miskin semua itu sama dihadapan Allah SWT kecuali ketakwaanya.
4. Mendamaikan Orang yang Bersengketa
Adapun riwayat yang menunjukkan Rasulullah SAW mendamaikan orang yang bersengketa dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berikut:
ْهاَقَ تْرُم َلَِإ اًعْ يَِجَ ُلِئاَبَقْلا ُوَعَ فْرَ ت ْنَأ َرَمَأ َُّثُ ٍبْوَ ث ِْفِ َرَجَْلْا َعَضَوَ ف
.(majmu‟, t.t: 44)Akhirnya beliau meletakkan Hajar Aswad pada kain, kemudian mereka disuruh mengangkatnya bersama-sama menuju ketempat asalnya (Najieh, 2009: 73).
Peristiwa tersebut terjadi ketika Beliau SAW berusia tiga puluh lima tahun, ketika itu kaum Quraisy hendak membangun
40 kakbah yang rusak karena banjir yang berasal dari lembah Abthoh. Disitu terjadi persengketaan dalam hal meletakkan Hajar Aswad dikarenakan setiap golongan merasa berhak untuk mengangkat dan meletakkan kembali Hajar Aswad tersebut pada tempatnya. Dikarenakan fanatisme suku yang semakin menguat, pertengkaranpun semakin menjadi dan hampir saja terjadi peperangan antara golongan tersebut.
Kemudian mereka mencari jalan keluar dengan kesepakatan siapa saja yang pertamakali memasuki pintu tirai juru kunci kakbah itulah orang yang berhak menjadi hakim dalam persoalan tersebut. Ternyata Rasulullah SAW yang pertama kali memasukinya. Kemudian mereka bersepakat untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada Rasulullah SAW. Kemudian untuk mendamaikan semua golongan agar tidak ada pihak yang merasa diuntungkan ataupun dirugikan maka Rasulullah SAW meletakkan Hajar Aswad tersebut pada kain, kemudian mereka disuruh mengangkatnya secara bersamaan menuju ke sudut kakbah dan diletakkan kembali oleh Rasulullah ditempat semula sampai sekarang.
Nilai pendidikan moral yang sangat luarbiasa dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam mendamaikan persengketaan, jangan sampai ada salah satu pihak atau golongan yang merasa dirugikan atau diuntungkan agar terjadi kemaslahatan bersama. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW tersebut, apa bila ada
41 persengketaan ataupun permusuhan antara dua orang muslim, hendaklah muslim pihak ketiga berupaya mendamaikannya, sehingga mereka kembali bersaudara dengan rukun dan damai. Firman Allah:
...
تارجلْا(
01
)
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. karena itu damaikanlah antara kedua saudara (yang bersengketa).
(surat Al-Hujurat ayat 10) (Ibrahim, 1990: 126).
Mendamaikan orang yang bersengketa merupakan sedekah yang paling utama. Karena efeknya akan menimbulkan banyak sekali kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia. Sabda Nabi SAW:
)نىبرطلا هاور( .ِن ْي َبْلا ِتاَذ ُح َلَ ْصِإ ِة َقَدَّصلا ُلَضْفَأ
Seutama-utama sedekah ialah mendamaikan orang yang bersengketa. (H.R. Thabrani) (Ibrahim, 1990: 127).
Sebagai umat Beliau SAW kita dituntut untuk peka ketika ada persengketaan yang harus segera diselesaikan. Dalam penyelesaian persengketaan, kita dituntut sebisa mungkin jangan sampai ada salah satu pihak atau golongan yang merasa dirugikan atau diuntungkan agar terjadi kemaslahatan bersama. Sebagai orang yang menyelesaikan persengketaan kita akan mendapatkan pahala selayaknya pahala sedekah. Karena mendamaikan orang yang
42 bersengketa merupakan sedekah yang paling utama seperti hadis tersebut di atas.
5. Pemaaf
Adapun sikap pemaaf Rasulullah SAW yang terdapat dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berikut:
ْهَّلاَّوَ تَ ي ْنَم ْمِِبَِلَْصَأ ْنِم ُللها َجِرُْي ْنَأ ْوُجْرَأ ِّْنِِّإ َلاَقَ ف
.(majmu‟, t.t: 48)Maka jawabannya, “Saya mengharap agar Allah mengeluarkan dari diri mereka itu generasi berikutnya yang mau beriman dan menghambakan diri kepada Allah Ta‟ala.” (Najieh, 2009: 91).
ُهاَّيِا ُوَحَنَمَف َناَمَْلاا ُوَلَأَسَو
.(majmu‟, t.t: 51)
Maka Suraqah minta ampun dan keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW. lantas Beliau SAW. mengampuninya
(Najieh, 2009: 106).
َو َةَرِذْعَمْلا ُلَبْقَ يَو
ُهَرْكَي اَِبِ اًدَحَأ ُلِباَقُ ي َلا
.(majmu‟, t.t: 54)
Beliau suka memberi maaf, dan tidak pernah membalas orang dengan yang tidak disukai (Najieh, 2009: 121). Sifat pemaaf Rasulullah SAW dalam kitab Albarzanji yang pertama disebut diatas terjadi ketika Rasulullah SAW pergi ke Thaif untuk menyerukan Islam kepada kaum Bani Tsaqif. Akan tetapi sambutan mereka tidak menyenangkan bahkan mereka ramai-ramai mengusir Beliau SAW dengan segala ucapan-ucapan
43 yang kotor lagi keji. Mereka melontari batu kepada Beliau SAW sehingga kasutnya berlumuran darah. Lalu malaikat penjaga gunung memohon kepada Beliau SAW untuk menghancurkan mereka. Namun Rasulullah SAW menjawab: Saya mengharap agar Allah mengeluarkan dari diri mereka itu generasi berikutnya yang mau beriman dan menghambakan diri kepada Allah Ta‟ala.
Selanjutnya dalam riwayat kedua diatas disebutkan ketika Rasulullah hendak berhijrah ke Madinah dan di tengah jalan dihadang oleh Suraqah. Kemudian Rasulullah SAW berdoa untuk keselamatannya. Tiba-tiba, keempat kaki kendaraan Suraqah terbenam kedalam bumi yang keras. Maka Suraqah minta ampun dan keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW. lantas Beliau SAW mengampuninya.
Sungguh nilai pendidikan moral yang sangat mulia dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Walaupun Beliau disakiti, dihina, dan dibenci Beliau tetap memaafkan mereka bahkan mendoakan mereka. Karena baik memberi maaf ataupun meminta maaf, keduanya merupakan budi pekerti yang sangat mulia. Dan bagi orang yang mau memberi maaf ataupun meminta maaf Allah akan menambah kemuliaan kepadanya. Seperti dalam hadis riwayat Muslim berikut:
( .اًزِع َّلاِإ ٍوْفَعِب آًدْبَع ُللها َداَز اَم
)ملسم هاور
44
Tidaklah seseorang memaafkan melainkan Allah tambah kemuliaannya. (H.R. Muslim) (Ibrahim, 1990: 111).
Dalam Al-Qur‟an juga diterangkan bahwasannya Allah
maha penganpun dan maha penyayang seperti firman Allah Ta‟ala
berikut:
“dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) (At-Tuwaijiri, 2016: 383).
Dalam memaafkan seseorang juga harus dilakukan dengan cara yang baik pula, agar tidak ada lagi yang merasa disakiti.
Sebagaimana firman Allah Ta‟ala berikut:
“Dan Sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)
45 Dalam firmanNya yang lain:
“Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14) (At-Tuwaijiri, 2016: 384).
Sebagai umatnya kita juga harus bisa meneladani sifat pemaaf beliau. Dengan saling memaafkan kita akan hidup dengan tenang, damai, dan harmonis dengan tidak pernah merasa berdosa atau merasa benci kepada orang lain. Karena dengan sifat tersebut Allah akan menambah kemuliaan kita seperti dalam hadis di atas. Selain itu dalam firman Allah di atas juga diterangkan bahwasannya Allah maha pengampun lagi maha penyayang, maka betapa angkuhnya kita ketika kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain dan tidak mau menyayangi orang lain.
6. Tidak Gentar Menghadapi Para Raja
Adapun sifat yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah gentar menghadapi para raja dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berrikut:
َكْوُلُمْلا ُباَهَ ي َلاَو
.(majmu‟, t.t: 54)Beliau tidak pernah merasa gentar menghadapi para raja.
46 Nilai pendidikan moral yang patut kita tiru bahwasannya tidak ada yang perlu kita takutkan untuk menghadapi siapa saja walaupun dia adalah raja sekalipun. Karena sesungguhnya semua orang itu sama dihadapan Allah. Maka dari itu takutlahh hanya kepada Allah, seperti dalam firman Allah berikut:
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175) (At-Tuwaijiri, 2016: 381).
Bagi orang tidak takut kepada apapun dan siapapun kecuali hanya kepada Allah, maka balasan baginya adalah surga seperti firman Allah berikut:
“Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua syurga.” (QS. Ar-Rahman: 46) (At-Tuwaijiri, 2016: 381).
Dengan meneladani nilai pendidikan moral tersebut mudah-mudahan kita akan mendapatkan balasan Surga dan dapat digolongkan sebagai umat beliau SAW.
47 7. Marah Karena Allah
Adapun sifat yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW marah karena Allah dalam kitab Al-Barzanji adalah sebagai berrikut:
لياَعَ ت ِولِل ُبَضْغَ يَو
.(majmu‟, t.t: 54)Beliau marah karena Allah (Najieh, 2009: 121).
Hal tersebut sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud berikut.
َعَ ت ِللها ِفِ ُضْغُ بلاَو ِللها ِفِ ُّبَْلَْا : ِلاَمْعَْلْا ُلَضْفَأ
ا
َلَ
.
Seutama-utam amal ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah Taala. (H.R. Abu Daud) (Ibrahim, 1990: 138).
Jika kita cermati hadis di atas maka jelaslah bagi kita umat Rasulullah SAW untuk meneladani sifat beliau ketika kita marah karena suatu hal, batasannya tiadalain haruslah karena Allah SWT semata. Apabila bukan karena Allah SWT, maka tiada alasan untuk kita marah untuk hal tersebut.
48 8. Berbicara Seperlunya
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW hanya berbicara seperlunya saja adalah:
َوْغَّللا ُلِقُي َمَلَسَو ِوْيَلَع ُللها يَلَص َناَكَو
.(majmu‟, t.t: 55)Beliau tidak suka bicara, melainkan seperlunya saja
(Najieh, 2009: 123).
Di sekitar kita tentu banyak sekali kita temui orang yang sangat suka sekali berbicara dan bahkan apa yang dibicarakannya tersebut terkadang tidak mengandung substansi yang mengandung kemanfaatan, bahkan cenderung lebih banyak menggunjing dan menghantarkan kepada kemaksiatan bagi dirinya sendiri dan orang yang mendengarkannya. Hal tersebut jelas tidak sesuai dengan sifat Rasulullah SAW dalam kitab Al-Barzanji di atas. Rasulullah adalah pribadi yang selalu menjaga lisannya. Beliau tidak suka bicara apabila tidak ada keperluan padanya. Berkata baik atau berbicara ketika ada perlunya merupakan salah satu dari ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berikut:
. ْتُمْصَيِل ْوَأ اًرْ يَخ ْلُقَ يْلَ ف ِرِخلآا ِمْوَ يْلاَو ِللهاِب ُنِمْؤُ ي َناَك ْنَم
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.” (At-Tuwaijiri, 2016: 385).
49
Sebagai umat Beliau SAW dan sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat kita dianjurkan untuk selalu menjaga lisan kita dari perkataan yang tiada kemanfaatan. Jangan sampai kata-kata yang kita lontarkan menyakiti hati orang lain.
Sebagaimana disebutkan dalam peribahasa bahwasannya “mulutmu adalah harimaumu”. Kita dapat menilai betapa besar efek yang
ditimbulkan hanya dengan kata-kata. Maka dari itu apabila kita tidak mampu untuk berkata baik lebih baik kita diam seperti disebutkan dalam hadis di atas.
9. Mulai Memberi Salam
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW suka memolai memberikan salam kepada yang dijumpainya adalah:
ِم َلََّسلاِب ُوَيِقَل ْنَم ُؤَدْبَ يَو
.(majmu‟, t.t: 55)Dan beliau suka mulai memberi salam kepada orang yang dijumpainya (Najieh, 2009: 123).
Nilai pendidikan moral tersebut sesuai dengan hadis dari
Abu Ummah ra, Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,
ْمُىَأَدَب ْنَم ِللهاِب ِساَّنلا َلَْوَأ َّنِإ
.ِم َلََّسلاِب
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang mengucapkan salam terlebih dahulu.”
50 Sebagai umat beliau SAW kita harus senantiasa meneladani nilai pendidikan moral Rasulullah SAW tersebut agar kita termasuk golongan orang yang paling mulia disisi Allah. Betapa indah kehidupan ini bila semua orang berlomba-lomba untuk memberi salam duluan, niscaya akan tercipta suasana yang harmonis hingga baldatun toyibatun warabbun ghafur akan tercipta di negri kita tercinta ini.
10.Berbicara Kebenaran
Adapun perilaku Rasulullah SAW yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW hanya berbicara kebenaran adalah:
اَّقَح َّلاِإ ُلْوُقَ ي َلاَو
.(majmu‟, t.t: 55)Dan beliau tidak pernah berbicara melainkan yang benar-benar saja (Najieh, 2009: 124).
Jujur, sama artinya dengan benar, dan ini adalah salah satu dari sifat Rasulullah SAW yang sudah masyhur. Jadi orang yang jujur atau benar, ialah orang yang pemikirannya bertolak dan berlandaskan kebenaran itu sendiri, sehingga tidak ada lagi perilakunya yang bertentangan dengan kebenaran itu. Salah satu sifat yang akan bisa meraih kemenangan di surga, adalah jujur atau benar. Dan sebaliknya bila curang berarti meraih kerugian, di neraka. Bersabda Nabi SAW. kepada Ali Karamallahu Wajhah:
51
ْبِذْكَت َلا َو ِلِج ْلاا ِفِ َكُعَفْ نَ ي ُوَّنِاَف ِل ِجاَعْلا ِفِ َكَّرَض ْنِاَو ْقُدْصُا ُّىِلَع اَي
. ِل ِج ْلاا ِفِ َكُّرُضَي ُوَّنِاَف ِل ِجاَعْلا ِفِ َكَعَفَ ن ْنِا َو
Hai, Ali! Jujurlah, walaupun kejujuran itu mencelakakan kamu di dunia, karena bahwasannya kejujuran itu bermanfaat bagimu di akhirat. Dan jangan kamu berdusta, walaupun berdusta itu bermanfaat untukmu di dunia. Karena sesungguhnya kedustaan kamu itu akan mencelakakan kamu di akhirat (Ibrahim, 1990: 121-122).
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas‟ud
ra dijelaskan bahwa kita di anjurkan untuk selalu berkata jujur. karena kejujuran akan memberikan petunjuk kepada kebaikan. Sedangkan kebaikan akan memberikan petunjuk kepada surga. Sehingga orang yang senantiasa berkata jujur dan berusaha jujur oleh Allah akan dituliskan sebagai orang yang sangat jujur. Begitu pula sebaliknya kita dianjurkan untuk menjauhi perkataan dusta. Karena kedustaan akan mengantarkan kepada kejelekan. Sedangkan kejelekan akan mengantarkan kita kepada neraka. Sehingga kepada orang yang selalu berkata dusta dan bersungguh-sungguh dalam kedustaannya oleh Allah akan dituliskan sebagai sang pendusta.