• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sisa para panglima Houhan melihat ini sebanyak yang mengundurkan diri dan hidup bersunyi di dusundusun dan pegunungan menanti maut datang menjemput. Semenjak Thianliongpang seluruhnya dikuasai oleh tokohtokoh dunia hitam. Yang menjadi Ketua Thian-liong-pang adalah seorang bekas pendeta yang berjuluk Sinseng Losu (Kakek Bintang Sakti). Pendeta yang berasal dari barat ini selain sakti, juga amat terkenal di dunia hitam dan biarpun jahat, namun ternyata ia pandai memimpin sehingga di bawah asuhannya,

Thianliongpang menjadi perkumpulan yang amat kuat. Semua anggauta Thianliongpang ratarata di gembleng ilmu silat tinggi. Apalagi murid kakek itu sendiri, benarbenar terdiri dari orangorang yang gagah perkasa. Muridmurid kepala sebanyak dua belas orang sedemikian terkenalnya di dunia kangouw sehingga tokohtokoh yang besar sekalipun tidak akan berani memandang rendah Capjiliong (Dua Belas Ekor Naga) dari Thianliongpang! Dua belas orang murid kepala yang menjadi murid kesayangan Kakek Sin-seng Losu ini telah mewarisi kepandaian kakek itu menurut bakat masingmasing. Dan yang menambah ketenaran mereka adalah senjata rahasia Sinsengci (Peluru Bintang Sakti). Oleh karena Kakek Sinseng Losu sudah terlalu tua dan pikun, juga sudah mulai lemah karena tuanya, maka sebagai penggantinya ditunjuk muridnya yang paling tua, seorang lakilaki tinggi besar bercambang bauk yang bertenaga besar seperti gajah, dan sesuai dengan tenaganya, ia berjuluk Thai-lek-kwi (Setan Tenaga Besar) bernama Ma Kiu. Ma Kiu ini dulunya seorang jagal babi, kemudian pernah tinggal di selatan dan menjadi anggauta Bengkauw. Semenjak muda suka belajar ilmu silat, maka ketika menjadi anggauta Beng-kauw ia sudah memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi. Karena penyelewengan peraturan, ia takut akan bayangan sendiri dan takutpula akan hukuman dari para pimpinan Beng-kauw yang terkenal keras, maka ia melarikan diri ke utara. Di Yen-an ia memasuki Thian-liong-pang, berhasil menarik hati ketuanyadan menjadi muridnya. Karena memang tingkatnya sudah tinggi, maka ia segera menduduki seorang diantara murid kepala yang lihai, bahkan kemudian terpilih menjadi murid nomor satu dan kemudian malah ditunjuk sebagai pengganti gurunya yang sudah tua, yaitu menjadi ketua baru Thian-liong-pang! Gedung besar yang menjadi markas Thian-liong-pang terletak megah di ujung kota Yen-an. Agak janggal nampaknya bahwa jalan besar dimana gedung ini berdiri kelihatan sunyi, bahkan gedung itu jauh dari tetangga. Namun orang tidak akan merasa heran kalau mendengar bahwa para tetangga yang tadinya tinggal dekat gedung itu berangsur-angsur diri sehingga rumahrumah kosong di sekitar jalan itu merupakan daerah yang dianggap tidak aman bagi penduduk Yenan. Hal ini dipergunakan oleh Thianliongpang untuk memperluas markas mereka dengan membeli murah secara paksa rumahrumah dan pekarangan yang ditinggalkan.

Pada hari pengangkatan ketua baru Thianliongpang, keadaan di situ lebih ramai diripada biasanya. Banyak tamu hilir mudik mengunjungi Thianliongpang dan para penduduk Yenan hari itu merasa ketakutan selalu karena di kota Yen-an berkeliaran banyak orangorang aneh dan sikapnya menyeramkan. Karena itu biarpun tidak tahu pasti, namun sudah dapat menduga bahwa para tamu luar kota yang hari itu mengunjungi Yenan, tentulah tamu dari Thianliongpang dan tentulah terdiri dari bukan orang baik-baik. Memang dugaan ini tepat. Sebagian besar yang datang mengunjungi Thian-liong-pang adalah orangorang dari dunia hitam, golongan lioklin dan kangouw (hutan lebat dan sungai telaga), yaitu para perampok, bajak, gerombolangerombolan yang mengabdi kepada hukum rimba mengandalkan kekuatan untuk melakukan perbuatan apa saja yang mereka kehendaki. Hari itu semenjak pagi sekali telah banyak orangorang yang dandanannya anehaneh memasuki kota Yenan. Menjelang siang hari, orangorang yang dengan hati berdebar tidak enak menonton keramaian dan iringiringan tamu ini, tertarik sekali melihat dua orang muda yang keadaannya tidak kalah anehnya daripada orangorang yang menyeramkan lainnya, akan tetapi dua orang muda ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan. Bahkan sebaliknya, dara remaja yang menunggang kuda hitam itu, biarpun pinggangnya digantungi pedang dan gagang pedang indah, namun harus diakui cantik jelita, menarik hati dan sama sekali tidak menyeramkan, melainkan amat mengagumkan hati setiap orang pria yang

memandangnya. Adapun temannya, seorang pemuda remaja pula, juga berwajah tampan dan matanya bersinarsinar, wajahnya berseriseri, mulutnya tersenyumsenyum. Bahkan ketika memasuki kota Yenan, pemuda ini dengan wajah berseri lalu meniup suling sambil berjalan di samping kuda hitam! Sebatang golok besar dengan sarung pedang aneh, tidak kelihatan menyeramkan sebaliknya malah tampak lucu, seakanakan, pemuda itu sengaja membadut dan menggantungkan golok untuk mainmain saja. Wajah Kwi Lan, dara yang menunggang kuda hitam, kelihatan gembira pula. Setelah beberapa pekan lamanya melakukan perjalanan bersama Hauw Lam, ia benarbenar mengenal watak pemuda ini sebagai seorang pemuda yang selalu gembira, jenaka, ugalugalan namun pada dasarnya gagah perkasa, tak kenal takut, berbudi dan.... selalu mengalah kepadanya. Harus dimengerti bahwa sejak kecil Kwi Lan jarang bergaul dengan orang lain, apalagi dengan orang mudanya. Teman satusatunya hanyalah Suma Kiat, dan ia tidak suka kepada suheng ini, yang kadangkadang memperlihatkan sikap terlalu manis berlebihlebihan kepadanya akan tetapi kadangkadang juga pemarah dan tak acuh. Tidak mengherankan apabila Kwi Lan merasa suka sekali kepada Hauw Lam dan dalam waktu yang tidak lama itu mereka telah menjadi sahabat yang akrab. Sukar bagi seseorang untuk tidak ikut bergembira apabila melakukan perjalanan dengan Hauw Lam. Apalagi seorang seperti Kwi Lan yang pada dasarnya memang lincah, jenaka dan suka bergembira. Melihat betapa temannya memasuki kota Yenan sambil meniup suling dan dengan lenggang dibuatbuat seperti seorang penari atau seperti orang berbaris, Kwi Lan tersenyum geli. Ia maklum bahwa kedatangan mereka ke Yenan bukanlah sekedar pelesir, melainkan untuk mencari pengalaman dan lebih mendekati petualangan karena yang akan mereka masuki adalah sarang penjahat atau dunia hitam yang amat berbahaya! Akan tetapi melihat pemuda itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut, ia menjadi kagum dan juga menjadi gembira. Banyak penduduk Yenan, terutama orangorang mudanya yang tertarik melihat sepasang mudamudi yang elok ini, mengikuti dari belakang sambil memandang kagum dan tersenyumsenyum. Akan tetapi melihat bahwa dua orang itu menuju ke markas Thianliongpang di pinggir kota, sebelum dekat mereka yang mengikuti sudah berhenti dan membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Setelah tiba di depan rumah gedung besar yang dihias arca singa batu dan papan nama perkumpulan itu, Kwi Lan menghentikan kudanya dan Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya. Dari luar gedung saja sudah terdengar suara banyak orang di sebelah dalam. Beberapa orang penjaga menyambut mereka dengan menjura dan di antara mereka terdapat seorang lakilaki yang mukanya penuh cambang bauk dan yang kelihatan terkejut sekali melihat dua orang muda itu. Akan tetapi wajahnya yang tadinya terkejut itu berubah merah

dan ia segera menjura dan berkata.

“Ah, kiranya Nona Mutiara Hitam dan Tuan.... Berandal yang datang berkunjung! Silakan masuk....!” Melihat sikap Si Brewok ini, temantemannya juga cepat memberi hormat kepada Kwi Lan dan Hauw Lam, dan mendengar nama julukan pemuda tampan itu, diamdiam

“Hahaha!” Kiranya Si Ouw Kiu! Engkau masih hidup? Syukurlah kalau panjang umur. Kami datang memenuhi janji hendak menonton keramaian sekalian menyampaikan sumbangan kepada ketua baru Thianliongpang!” Temanteman Ouw Kiu tercengang mendengar ucapan dan menyaksikan sikap pemuda ini. Bicaranya begitu seenaknya seperti kepada seorang sahabat baik saja. Mereka makin heran melihat betapa Ouw Kiu yang terkenal jagoan di antara mereka, begitu menaruh hormat yang berlebihan terhadap seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang masih amat muda. Kalau semua temannya terheran, adalah Ouw Kiu yang menjadi merah mukanya. Peristiwa di dalam hutan dua pekan yang lalu hanya ia ceritakan kepada para pimpinan Thianliongpang dan para anak buah tidak ada yang boleh mendengar karena hal itu merendahkan nama besar perkumpulan. Oleh karena itulah maka ketika tadi ia menyebut nama Mutiara Hitam dan Berandal, temantemannya tidak tahu bahwa dua orang inilah yang membunuh seorang anak murid Thian-liong-pang. Dengan menahan

kemarahan Ouw Kiu lalu berkata lagi.

“Ah, Jiwi ternyata memegang janji. Silakan masuk! Nona, biarlah orangorang kami merawat kuda Nona itu. Silakan turun dan masuk ke dalam!” “Mana bisa barang sumbangan ditinggalkan di luar?” Kwi Lan berkata. “Barang sumbangan....? Apakah maksud Nona....?” Kwi Lan tersenyum. “Justeru kuda inilah barang sumbangannya untuk disampaikan kepada

Ketua Thianliongpang!”

“Ah.... kuda bagus.... kuda hebat....!”

Ouw Kiu tibatiba memuji setelah tahu bahwa kuda yang besar dan memang hebat ini akan dipersembahkan kepada ketuanya. Kiranya dua orang muda yang lihai ini telah merendahkan diri dan hendak menyenangkan hati ketuanya dengan hadiah seekor kuda pilihan, pikirnya. Akan tetapi jangan kira bahwa kalian akan dapat lolos dari sini, biarpun telah

menyogok dengan seekor kuda.

Melihat Ouw Kiu memujimuji sambil menjura.... seorang lain memberi isyarat dengan kedua tangan mempersilakan mereka dan yang lainlain juga menjura. Kwi Lan lalu berkata, “Hayo, Berandal kita masuk saja. Hekma (Kuda Hitam) ini pun tentu suka mencicip arak wangi Thianliongpang!”

“Hayo, tunggu apa lagi?” Hauw Lam berkata sambil tertawa, kemudian ia menempelkan suling pada mulutnya dan melangkah maju sambil meniup suling. Adapun Kwi Lan tanpa mempedulikan gerak protes mulut, mata, dan tangan para penjaga sudah menarik kendali dan memaksa kuda hitamnya untuk menaiki anak tangga, terus menjalankan kudanya

memasuki ruangan depan menuju ke dalam!

Tentu saja para penjaga kaget dan bergerak hendak mencegah, akan tetapi Ouw Kiu berbisik kepada temantemannya dan kagetlah mereka, berdiri dengan wajah sebentar pucat karena gentar dan sebentar merah karena marah. Baru sekarang mereka tahu bahwa dua orang

itulah yang membunuh seorang kawan mereka.

“Jangan sembarangan bergerak, mereka lihai sekali!” bisik Ouw Kiu. “Biarkan Pangcu yang membereskan mereka!” Setelah berkata demikian, melalui pintu samping Ouw Kiu mendahului masuk dan diamdiam melaporkan kepada pimpinan Thianliongpang.

Pada waktu itu, Kakek Sinseng Losu masih duduk di kursi ketua sambil melenggut mengantuk. Akhirakhir ini, kakek yang sudah tua renta dan pikun ini sering kali melenggut dan banyak mengantuk. Kini ia telah mengenakan pakaian khusus untuk upacara. Jubahnya baru dan indah di bagian dadanya terdapat gambar sebuah timbangan. Inilah tanda bahwa dia sudah meninggalkan kedudukan ketua dan kini menjadi penasihat yang mempertimbangkan dan memutuskan segala macam perkara yang tak dapat diputuskan oleh ketua baru. Di sebelah kanannya duduk Thailekkwi Ma Kiu, murid kepala bekas tukang jagal babi itu. Wajah murid kepala yang usianya sudah lima puluh tahun ini keren, apalagi jenggot dan kumisnya kaku seperti kawat, matanya melotot lebar seakanakan selalu mengeluarkan sinar mengancam. Di sebelah kanan Thailekkwi Ma Kiu calon ketua baru ini duduk atau berdiri sebelas orang adikadik seperguruannya yang terdiri dari bermacammacam orang. Ada Hwesio gundul, ada tosu, ada yang seperti petani, ada yang tua dan ada yang muda. Di belakang kursi kakek Sinseng Losu berdiri seorang petugas yang membawa bendera

Thianliongpang, bergambar naga terbang.

Para tamu yang lebih lima puluh itu semuanya sudah memenuhi ruangan, duduk di bangkubangku memutari meja bundar yang sudah disediakan. Pelayan-pelayan sibuk melayani mereka dengan minuman dan makanan. Saat itu, upacara sudah hendak dilakukan, akan tetapi Thailekkwi Ma Kiu mencaricari dengan pandang matanya, kelihatan tak senang hatinya. Kemudian ia berbisik kepada suhunya yang masih melenggut, setengah

tidur setengah bersamadhi.

“Suhu, tamu sudah lengkap, Apakah tidak lebih baik dilakukan sekarang upacaranya?” “Hemmm....?” kakek itu membuka mata malasmalasan, kemudian menoleh ke arah kirinya, di mana terdapat sebuah bangku yang kosong. “Dia belum datang?” Ma Kiu mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya. “Suhu, sudah sejam lebih kita menanti, akan tetapi Siauwte (Adik Seperguruan Kecil) masih juga belum muncul. Dia, suka pergi berburu binatang, suka pergi bermainmain, siapa tahu dia tidak akan datang karena lupa akan urusan

hari ini.”

“Kita tunggu sebentar lagi.” bantah Si Kakek. “Betapapun juga, Siangkoan Li adalah anak tunggal mendiang puteraku, dia cucuku satusatunya. Sebagai wakil ayahnya yang sudah tidak ada, sepatutnya dia menyaksikan upacara penting hari ini.”

Biarpun di dalam hatinya merasa mendongkol sekali terhadap Siangkoan Li yang memperlambat upacara pengangkatannya menjadi Ketua Thianliongpang namun Ma Kiu tidak berani membantah kehendak gurunya. Siangkoan Li adalah cucu Sinseng Losu, semenjak kecil anak ini sudah ditinggal mati ayah bundanya yang tewas dalam pertandingan. Kemudian ia dididik oleh kakeknya dan biarpun ia cucu kakek ini, namun ia juga murid, maka dua belas orang murid kepala atau lebih terkenal Dua Belas Naga Thianliongpang itu memanggil dia sute (adik seperguruan). Padahal Siangkoan Li masih amat muda, baru dua

puluh tahun usianya. Pada saat itulah Ouw Kiu si Brewok datang melapor. Karena Sinseng Losu sudah melenggut lagi di atas kursinya, Ouw Kiu lalu melapor kepada Thailek-kwi Ma Kiu tentang kedatangan dua orang muda tadi. Tentu saja Thailekkwi Ma Kiu marah sekali, mendengar bahwa dua orang muda yang mengaku berjuluk Mutiara Hitam dan Berandal dan telah membunuh seorang anggauta Thian-liongpang berani muncul. Akan tetapi oleh karena saat pengangkatannya sebagai ketua sudah tiba, ia tidak ingin urusan yang amat penting artinya bagi dirinya itu terganggu atau terkacau keributan, maka ia menyabarkan hatinya yang panas. Apalagi ketika mendengar laporan Ouw Kiu bahwa dua orang itu datang untuk menonton upacara dan membawa hadiah seekor kuda yang bagus. Maka dia segera berdiri dan menyambut. Melihat kakak tertua ini bangkit, otomatis sebelas orang adik seperguruan itu bergerak pula dan mengikutinya menyambut. Terdengar suara nyaring kaki kuda menginjakinjak lantai dan para tamu serentak menengok, disusul suara mereka riuh membicarakan tamu yang baru muncul. Tentu saja cara Kwi Lan memasuki ruangan sambil menunggang seekor kuda yang tinggi besar berbulu hitam, amat menarik perhatian dan selain mendatangkan kaget, juga heran. Akan tetapi disamping ini, sebagian besar mata para tamu terbelalak kagum karena tidak saja kuda itu amat indah dan gagah, namun penunggangnya lebih menarik lagi, cantik jelita dengan mata bersinarsinar dan pipi kemerahan, bibir manis tersenyum simpul. Hauw Lam menghentikan tiupan sulingnya, lalu menjura ke arah tuan rumah, diamdiam ia memperhatikan Ma Kiu dan sebelas orang adik seperguruannya. Biarpun belum pernah bertemu dengan mereka, namun jumlah ini menimbulkan dugaan di hati bahwa tentu inilah yang disebut Capjiliong yang ditakuti orang itu. Ia tersenyum dan berseru dengan suara nyaring. “Kami, Dewi Mutiara Hitam dan Dewa Berandal....” Sampai di sini Hauw Lam menoleh kepada Kwi Lan yang tersenyum pula lalu melirik kepada semua tamu yang mengeluarkan seruan heran mendengar sebutan dewa dan dewi tadi, kemudian melanjutkan setelah keadaan menjadi sunyi senyap karena semua orang memasang telinga penuh perhatian untuk mendengarkan apa yang ia katakan selanjutnya, “... secara kebetulan lewat di Yenan dan mendengar nama besar Thianliongpang yang katanya hendak mengadakan upacara pengangkatan ketua baru. Maka kami ingin sekali menonton keramaian dan Sang Dewi Mutiara Hitam ini berkenan memberi hadiah kuda hitamnya untuk Thianliongpang!”

Mendengar dirinya disebutsebut sebagai Sang Dewi Kwi Lan mengerutkan alisnya dan cemberut, melompat turun dari kuda dan berkata, “Harap jangan dengarkan obrolan Berandal ini! Kuda ini memang hendak kusampaikan kepada Thianliongpang, akan tetapi bukan hadiah dariku, melainkan hadiah dari Khitan untuk Thianliongpang!” Mendengar ucapan Kwi Lan berubah air muka dua belas orang “naga” dari Thianliongpang itu. Ma Kiu segera berkata, suaranya berubah ramah, “Ah, kiranya Jiwi adalah utusan dari Paksin-ong? Sungguh merupakan penghormatan besar sekali terhadap Thianliongpang dan salah paham yang terjadi beberapa pekan yang lalu adalah kesalahan anak buah kami,

mohon Jiwi sudi memaafkan.”

“Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan.” kata Kwi Lan setelah bertukar pandang dengan Hauw Lam. “Akan tetapi yang jelas, kuda ini bukan sembarangan kuda, melainkan kuda keturunan kuda pribadi Ratu Khitan. Harap Thian-liong-pang suka menerima. anugerah dari

Kwi Lan bicara sejujurnya, karena di dalam hati ia tetap condong untuk membela Ratu Khitan yang menurut penuturan guru dan bibinya adalah ibu kandungnya sendiri. Akan tetapi Ma Kiu mendengar ini, menganggukangguk dan bertukar pandang dengan sebelas orang saudaranya.

“Kami mengerti.... kami mengerti dan terima kasih banyak.... katanya. Tentu saja Kwi Lan tidak mengerti apa yang ia maksudkan, akan tetapi melihat Hauw Lam berkedip kepadanya, ia pun diam saja. Ia lalu melompat turun dari kudanya dan memberikan kendali kuda kepada Ma Kiu. Calon ketua itu menggapai seorang anggauta Thianliongpang yang tinggi besar. “Bawa kuda ini ke kandang dan pelihara baikbaik beri makan minum secukupnya!” Orang tinggi besar itu memberi hormat dan menerima kendali. Akan tetapi begitu ia menarik kendali, kuda hitam itu yang mencium bau orang baru dan merasai tarikan keras, segera meringkik, membuka mulut dan menerjang orang tinggi besar itu! Si Tinggi Besar terkejut dan berusaha mengelak, namun terlambat, pundaknya kena digigit sehingga ia berkaokkaok kesakitan dan ketika kuda itu melepaskan gigitannya, daging pundak berikut baju sudah robek dan darah membasahi semua bajunya! Tentu saja anggauta ini menjadi kaget dan melepaskan kendali kudanya. Hauw Lam tertawa bergelak. “Sudah kuberitahu, kuda ini

bukan kuda sembarangan!”

“Hemm, memang kuda pilihan. Twa-suheng, biarlah aku yang membawanya ke kandang.” Seorang lakilaki berusia hampir empat puluh tahun, bertubuh kecil kurus, melangkah maju, Dia ini adalah seorang di antara Cap-ji-liong dan begitu Ma Kiu menganggukkan kepala, Si Kurus sudah menyambar kendali kuda, lalu tubuhnya melayang naik ke punggung kuda hitam. Kuda itu meringkikringkik dan merontaronta, namun dengan menjepitkan kedua kaki ke perut kuda, Si Kecil Kurus tetap duduk dengan tenang, bahkan lalu membetotbetot kendali kuda. Kuda hitam makin marah, melonjaklonjak dan meloncatloncat tinggi menggerakgerakkan punggungnya. Kalau orang biasa tentu akan terlempar dari punggung kuda, akan tetapi ternyata Si Kecil Kurus itu lihai sekali. Tubuhnya mendoyong ke sana ke mari, namun ia dapat duduk tegak dan tetap. Akhirnya, setelah hidung dan bibir kuda mengeluarkan darah karena tertarik kendali, baru kuda hitam itu kelelahan dan menurut saja disuruh berjalan keluar dari dalam ruangan tamu!

Ma Kiu lalu mempersilakan dua orang tamu mudanya untuk duduk di bagian depan. Hauw Lam berbisik. “Mereka mengira bahwa kita ini tokohtokoh kepercayaan Jincam Khoaong dan memang biasanya orangorang Paksinong ini melakukan perjalanan sambil menyamar dan merahasiakan diri, karena selalu menjadi incaran orang pemerintahan Khitan. Tentu Si Brewok tadi mengira kita berpurapura menghadapi banyak tamu, maka ia bilang mengerti!” Pemuda itu tertawa dan Kwi Lan juga tertawa geli. Pelayan datang dengan cepat membawa minuman arak wangi dan masakanmasakan lezat dan mahal. Karena memang sudah lapar dan sudah lama tidak bertemu makanan lezat, Hauw Lam dan Kwi Lan tidak sungkansungkan lagi. Kiranya pemuda jenaka itu adalah seorang ahli makanan. Sambil mencoba dan mencicipi belasan macam masakan yang datang membanjir! meja mereka Hauw Lam tiada hentinya mengoceh untuk memperkenalkan tiap masakan kepada Kwi Lan.

“Ini kodok goreng istimewa. Kodok macam ini hanya terdapat dalam rawa-rawa dan daerah selatan saja, dagingnya empuk, gurih dan harum sedap. Maka harganya pun amat mahal. Sayang ini yang jantan, kalau yang betina lebih lezat. Akan tetapi kodok betina jarang disembelih orang karena dibutuhkan telurnya. Hanya Kaisar yang suka menyuruh buatkan kodok betina goreng!” Memang luar biasa masakan kodok goreng itu. Berbeda dengan swike biasa, kodok ini digoreng berikut kulitnya yang loreng-loreng, akan tetapi justeru kulitnya itu yang enak, kemripik seperti krupuk udang. Juga berbeda dengan swike biasa, tulangnya

enak pula dimakan, tidak keras.

“Wah, ini sop buntut menjangan namanya! Dimasak sop dengan campuran kacang polong dan jamur kuning. Hebat! Tapi kalau terlalu banyak membuat badan panas dan darah

Dokumen terkait