• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Sifat Ilâhiyah dan Hal-Hal Yang Membatasinya

BAB III. KONSEP MANUSIA MENURUT ALI SYARI`ATI

C. Tiga Sifat Ilâhiyah dan Hal-Hal Yang Membatasinya

Manusia (insân) memiliki tiga sifat yang saling berkaitan satu sama lainnya. Semua sifat ini adalah sifat ilâhiyah, dan hanya manusia (insân) sajalah yang dapat menyesuaikan dirinya dengan sifat-sifat ketuhanan ini. Bila ada sifat-sifat lainnya, maka sifat-sifat itu merupakan sifat-sifat yang diturunkan dari ketiga sifat- sifat di bawah ini:

1. Kesadaran diri

Sifat ini menuntun manusia untuk memilih, dan kemudian menolongnya untuk mencipta sesuatu yang baru, yang sebelumnya tidak ada di alam semesta. 2. Kemauan bebas

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bebas untuk memilih bagi dirinya, dan apa yang ia pilih dapat bertentangan dengan instingnya, dengan alam, masyarakat, dan dorongan fisiologis dan psikologisnya. Kemampuan dan kebebasan berkehendak ini menolong manusia mencapai taraf tertinggi dari proses “menjadi” manusia. Hanya manusia sajalah yang bebas untuk memilih, dan inilah salah satu karakteristik yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

33

Dengan karakteristik ini, manusia bisa memilih untuk berbuat baik atau jahat, rasional atau irrasional, dan sebagainya. Dengan kebebasan memilih, manusia bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik (akhlak) yang dilakukan Tuhan.

3. Kreativitas

Manusia bukan sekedar makhluk pembuat alat, tetapi ia pencipta dan pembuat barang-barang yang belum ada di alam. Manusia sadar bahwa dirinya memerlukan hal-hal yang sebelumnya tidak disediakan oleh alam, karena itu dirinya membuat sendiri benda-benda guna memenuhi kebutuhannya.34

Ketiga sifat ilahiyâh tersebut hadir dalam diri manusia, dan manusia mampu untuk mengembangkan ketiga sifat tersebut dan menjadi khalifah Tuhan di muka bumi.

Menurut Ali Syari`ati, untuk mengembangkan sifat ilahiyâh tersebut, manusia yang “menjadi” (insân) selalu berperang melawan kekuatan deterministik yang cenderung membatasi. Kekuatan tersebut pada saat ini muncul dalam berbagai macam ideologi. Ideologi tersebut adalah:

1. Materialisme

Materialisme beranggapan bahwa kecerdasan dan substansi manusia adalah berasal dari materi. Jika demikian, evolusi manusia tidak akan dapat mengatasi batas-batas materi. Sebagai suatu ideologi, Ali Syari`ati melihat bahwa materialisme merupakan suatu usaha untuk menindas kemajuan spiritual manusia dan menolak bentuk metafisis di luar susunan materialnya. 2. Naturalisme

34

Naturalisme merupakan ideologi yang cukup populer di Eropa. Naturalisme beranggapan bahwa alam adalah realitas puncak; alam yang hidup tetapi tidak memiliki kesadaran juga dilihat sebagai hukum dasar di alam semesta. Manusia tidak dapat mengatasi alam, menguasainya, atau melampauinya. Walaupun kaum Naturalis mempertahankan manusia sebagai jenis makhluk yang paling maju di atas alam, mereka meletakkan manusia pada derajat yang lebih rendah terhadap alam dan kekuatan-kekuatan alamiah. Oleh karena itu, Ali Syari`ati berpendapat bahwa Naturalisme merupakan suatu upaya lain untuk mereduksi atau mengurangi kebebasan memilih manusia, kesadaran, dan daya ciptanya.

3. Eksistensialime

Pandangan kaum Eksistensialis ateis seperti Heidegger dan Sartre mungkin berbeda dengan pandangan Kierkegaard; namun demikian Eksistensialisme, sebagai suatu ideologi juga telah mengorbankan realitas manusia yang paling tinggi.

Kadang-kadang pandangan Sartre terhadap esensi manusia cenderung ke arah metafisis, walaupun ia seorang Eksistensialis ateis. Sartre mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang unik di atas alam, suatu makhluk yang hakekat dan susunan istimewanya meletakkannya sangat berlainan dengan seluruh makhluk lain. Sebagai seorang ateis, Sartre memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dari makhluk-makhluk lain dalam alam. Dalam pandangannya, manusia adalah satu-satunya makhluk di alam semesta yang eksistensinya mendahului esensinya. Hal ini berbeda dengan kaum Naturalis, karena menurut Sartre manusia sebagai makhluk unik di atas alam adalah disebabkan keyakinannya bahwa manusia harus dibuat untuk menentukan nasibnya di dunia dan karena itu mengisi kekosongan alam. Walaupun Sartre melihat manusia sebagai makhluk yang

merdeka, bebas untuk memilih dan unik di atas alam, konsepsinya bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya juga cenderung mengorbankan eksistensi manusia.35

Meskipun manusia dalam tahap eksistensinya belum mempunyai esensi, ia memiliki kemauan, dan lewat inilah ia dapat membentuk eksistensi dan mengubahnya sedemikian rupa sehingga eksistensinya mampu meraih identitas yang nyata, yaitu esensi. Tuhan telah menganugrahi manusia dengan eksitensi, tetapi manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan kemampuan iradahnya untuk mencipta dan mengembangkan esensi dalam eksistensi dirinya. Hanya kemauan manusia saja yang bisa untuk mencetak realitas atau esensi dari eksistensinya.

Hal yang paling ditakuti oleh Sartre adalah bila naturalisme maupun materialisme diterima sebagai norma dalam pendefinisian manusia pada saat ini, maka manusia pasti akan terbelenggu dalam kerangka-kerangka yang memfosil dan terbatas dan kehilangan kemauan bebasnya, padahal kemauan bebas yang menolong manusia menciptakan esensi riil dari eksistensi. Menurut Ali Syari`ati, walaupun manusia telah melampaui determinisme materi dan alam, eksistensialisme tetap membatasi evolusi manusia pada tahap penemuan esensi. Dengan demikian, Eksistensialisme mengabaikan potensialitas dan cita-cita manusia yang lebih tinggi.

4. Monisme

35

Misalnya sebuah kursi. Sebuah kursi belum ada sebelum di buat, misalnya anda bertanya kepada tukang kayu: “Apa yang anda mau buat?”. “Saya akan membuat sebuah kursi”, jawab si tukang kayu. Kemudian anda akan menanyakan bebarapa keterangan tentang kursi yang sedang di rancang. Ia mungkin akan menerangkan pada anda bahwa kursi mempunyai tempat duduk yang ditunjang oleh empat kaki, pegangan dan sandaran punggung, dan di buat dari kayu. Berbicara tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan kursi pada hakekatnya berarti berbicara tentang esensi kursi. Tetapi kursi itu belum mengambil eksistensi. Bagaimanapun si tukang kayu mungkin sibuk merancangnya dengan alat-alat dan membuat kursi itu setelah gambarnya (esensi) diberikan, tetapi kursi itu sendiri belum ada.

Walaupun paham ini berpegang pada suatu tipe idealisme yang teistik, namun Monisme juga mengorbankan manusia. Unsur-unsur filsafat ini dapat dijumpai dalam filsafat India, dalam doktrin-doktrin sufi dan dalam agama Katolik. Kaum Monis memuja Kemauan Ilahi dengan mengesampingkan kemauan manusia, karena percaya bahwa hakekat, nasib, individualitas dan masa depan manusia semuanya telah ditentukan oleh Kemauan Tuhan, bahkan sebelum ia dilahirkan. Dengan demikian, manusia tidak dapat melakukan apa-apa, hanya menunggu apa yang telah ditakdirkan. Dengan begitu peniadaan kemauan manusia dalam pembentukan hidupnya akan meniadakan tanggung jawabnya. Padahal, menurut Ali Syari`ati, tanpa tanggung jawab, manusia tidak dapat menjadi manusia sejati.36

Sedangkan ideologi yang cenderung meremehkan kebebasan memilih dan kesadaran diri itu adalah sebagai berikut:

1. Historisisme

Dalam aliran ini, manusia hanyalah produk sejarah. Sejarahlah yang menentukan apa yang harus di tempuh manusia, dan bagaimana harus mengarah. Kemauan dan pilihan manusia tidak lagi dimasukkan dalam pilihan sejarah. Semuanya sudah di atur oleh sejarah, cara berbahasa, memeluk agama, kelas sosial, dan identitas tertentu.

2. Sosiologisme

Manusia tergantung dari masyarakatnya, individualitas manusia dikesampingkan. Orde sosial, hubungan sosial berdasarkan ekonomi, alat produksi, tradisi, religi, hubungan antar kelas, dan semua unsur pembentuk masyarakat adalah faktor-faktor kuat yang menentukan kepribadian dan nasib manusia. Sosiologisme berpendirian bahwa

36

manusia mengambil semua ciri-cirinya dari masyarakatnya. Hal ini berarti seorang individu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya, karena lingkungan soisal itulah yang menentukan tindakan dan wataknya. Jadi, paham ini mengingkari peranan individu dalam membentuk nasibnya sendiri. Padahal menjadi manusia berarti melakukan pilihan, maka Sosiologisme tidak mau menerima manusia sebagai makhluk yang memilih, yakni seseorang yang dapat menyatakan “Keakuannya” dan individualitasnya.

3. Biologisme

Paham ini mencoba mendefinisikan manusia dalam ukuran-ukuran determinisme biologis, tetapi juga mengangkat status manusia di atas kerangka-kerangka kaku dari materialisme. Biologisme berpendapat bahwa manusia merupakan komposisi dari organ-organ yang kompleks dan maju yang menentukan watak fisiologis dan psikologisnya meskipun biologisme memandang manusia lebih tinggi dari sekedar fenomena alamiah, ia juga cenderung menolak kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang sadar dan bebas. Setelah menempatkan manusia sekedar tergantung pada faktor-faktor fisiologis, biologisme tidak melihat manusia sebagai pembuat kepribadiannya sendiri.37

Ada empat faktor atau penjara yang menurut Ali Syari`ati bisa mengungkung manusia ke arah kemajuan, yaitu, materi, alam, sejarah dan masyarakat. Tetapi Ali Syari`ati tidak memungkiri bahwa empat faktor tersebut mempengaruhi atas kehidupan dan nasib manusia. Dijelaskan juga, bahwa, manusia dapat mengatasi

37

keempat faktor tersebut dengan melakukan pilihan bagi dirinya dan mampu melawan kekuatan-kekuatan fenomenal sepanjang perjalanan evolusinya.38

Menariknya, Ali Syari`ati tidak menolak dan menerima semua determinisme yang disebutkan di atas. Ia berpendapat bahwa manusia dalam perjalanan evolusinya, selama proses bergeraknya manusia dari sekedar ke arah “menjadi” (insân), sesungguhnya mampu melepaskan dirinya dari belenggu sebagian besar kekuatan determinisme tersebut. Manusia akan terus hidup, namun determinisme akan digantikan jika muncul sebuah kebenaran baru, artinya determinisme hanya bersifat sementara. Seperti halnya pernyataan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa kehidupan setiap masyarakat didasarkan atas kondisi geografisnya mungkin benar pada saat itu, tetapi tidak pada saat sekarang. Oleh karena itu makin maju manusia bergerak ke arah “menjadi”nya (insân), maka ia makin baik mengungguli kekuatan-kekuatan determinisme.39

Pada umumnya, manusia dapat membebaskan dirinya dari penjara-penjara tersebut dengan ilmu dan teknologi. Zaman sekarang, ketergantungan akan alam bisa diminimalisir dengan ilmu dan teknologi. Pertanian tidak lagi tergantung pada curah hujan, dan gaya gravitasi bukanlah suatu halangan untuk menaklukkan angkasa. Itu merupakan dari sekian banyak contoh dengan berkembangnya ilmu dan teknologi. Ilmu telah mengetahui rahasia-rahasia alam. Dengan menggunakan pikiran yang kritis, manusia menggunakan ilmu untuk menghasilkan teknologi. Dengan teknologi tersebut, manusia bisa bebas dari determinisme alam. Oleh karena itu alam bukanlah suatu rintangan deterministik yang menghambat kemajuan manusia.

38

Ali Syaria`ti, Tugas Cendekiawan Muslim, h. 85

39

Sedangkan untuk melepaskan manusia dari belenggu sejarah, ia harus sadar bahwa dirinya merupakan boneka dari kekuatan hebat yang bernama sejarah. Dengan mempelajari ilmu dan filsafat sejarah dan memahami bahwa faktor-faktor itu mempengaruhi struktur mental, persepsional, moral, dan kesadarannya, maka ia dapat membebaskan diri dari belenggu sejarah.40

Dalam hal ini, Ali Syari`ati juga mengatakan pendapatnya tentang determinisme sejarah dalam bukunya Tugas Cendekiawan Muslim:

“Beberapa masyarakat Asia, Afrika, dan Amerika Latin, betapapun terbelakangnya, mampu memperpendek perjalanan panjang sejarah yang deterministik. Mereka bukannya bergerak tahap demi tahap, tetapi maju dengan lompatan-lompatan. Dengan demikian teori lama yang mengatakan bahwa suatu masyarakat harus melalui tahap sejarahnya yang pertama agar dapat mencapai tahap sejarah kedua, kemudian tahap ketiga, dan seterusnya --- teori ini tidak lagi dipertahankan dan dipercayai. Padahal atas dasar teori lama itulah suatu masyarakat dipelajari, diklasifikasi, diletakkan dalam suatu urutan, dan masa depannya diramalkan. Akan tetapi banyak bukti yang dapat meruntuhkan teori determinisme historis. Sekarang kita mengetahui bahwa semakin mendalam kesadaran suatu masyarakat terhadap sejarahnya, dan semakin mendalam tahap perkembangan historis tertentu ke arah tahap pemahaman kaum intelektualnya terhadap hakekat dan bentuk tahap sejarahnya, maka semakin cepat masyrakat tersebut dapat melampaui perkembangan tahap demi tahap. Tipe kesadaran sosial historis ini menolong masyarakat bergerak sangat efektif sehingga dapat melompati tahap perkembangan historis yang lebih tinggi. Masyarakat semacam ini akan dapat melompati tiga tahap perkembangan historis sekaligus, tanpa dikekang oleh determinisme sejarah, yang mestinya menggariskan gerak dari setiap masyarakat. Ada sejumlah masyarakat seperti itu yang memberontak terhadap determinisme di atas dan meloncat ke periode feodal, tribal atau colonial ke tahap modern sejarah. Ini adalah pemberontakan terhadap ketentuan sejarah. Jadi hal ini melepaskan suatu masyarakat dari genggaman sejarah setelah masyarakat

40

memahami sejarah dan hukum-hukum serta perjalanannya yang deterministik”.41

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa sejarah merupakan sebuah perjalanan panjang manusia untuk melalui beberapa tahapan periode. Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan tentang sejarah, hal ini dapat diatasi, bahkan manusia bisa melompat ke tahapan sejarah yang lebih baik sehingga manusia bisa terbebas dari determinisme sejarah tersebut.

Selanjutnya untuk mengatasi kekuatan determinisme sosiologis dapat diatasi dengan sosiologi dan ilmu-ilmu sosial, dengan demikian anggota masyarakat dapat memahami realitas dan determinisme sosial dan kemudian menghadapinya dengan suatu cara yang konstruktif.42

Walaupun manusia (insân) sudah membebaskan dirinya dari materi, alam, sejarah, dan masyarakat, ia masih tetap terbelenggu di dalam penjara yang paling gelap, yaitu ego. Ego merupakan penjara terberat yang harus dilewati oleh manusia, karena ia berada di dalam diri manusia itu sendiri.

Agar terbebas dari penjara ego, hanya ada satu cara, yaitu dengan cinta. Dalam hal ini, yang dimaksud Ali Syati`ati bukan jenis cinta yang ada dalam pengertian sufistik, Platonis, mistik, atau bentuk-bentuk yang abstrak, karena jenis cinta seperti itu adalah penjara-penjara juga.43

Ali Syari`ati melihat cinta sebagai sebuah kekuatan perkasa yang ada dalam kedalaman jiwa manusia. Cinta mempunyai kekuatan untuk menolak diri kita sendiri, memberontak melawan diri kita sendiri, dan mengorbankan kehidupan kita untuk

41

Ali Syaria`ti, Tugas Cendekiawan Muslim, h. 89-90.

42

Ali Syaria`ti, Tugas Cendekiawan Muslim, h. 90.

43

suatu cita-cita atau orang lain. Ali Syari`ati memberi contoh kematian Nietzche yang tewas karena menolong seekor kuda.

Ketika manusia sudah terbebas dari penjara ego dengan senjata cinta, maka manusia sudah dalam tahap puncak dari “menjadi” manusia penuh (insân). Sebagaimana Ali Syari`ati menyimpulkannya dengan kata-kata Rada Krishnan:

“Tugas kita dalam hidup, misi kita di alam semesta, adalah merencanakan suatu kerja sama di mana manusia dan Tuhan dan cinta dapat terlibat dalam menciptakan suatu kreasi lain dan manusia yang lain. Ini adalah tanggung jawab kita.”44

44

Tabel hubungan antara Tuhan, Manusia (insân), dan Manusia dua dimensi Tuhan

(tujuan, Guru Pertama)

Manusia (insân) menghampiri

(becoming)

berakhlak seperti akhlak Tuhan

Manusia Dua Dimensi

Roh Tuhan Penjara Ego Tanah Lumpur

D. Pengaruh Teologis dan Filosofis serta Hubungannya dengan Konsep Manusia

Dokumen terkait