BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
2. Tikus Putih
Gambar 3. Tikus putih Galur Sprague dawley (Sumber: Dok. Pribadi, 2012)
Menurut Hickman et al. (2004), tikus putih dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Sub Ordo : Myomorpha Famili : Muridae
Genus : Rattus
9
Tikus merupakan binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Tikus putih merupakan jenis hewan yang sering dipergunakan sebagai hewan percobaan dalam penelitian biologis maupun biomedis, baik secara in vitro maupun in vivo (Musahilah, 2010). Tikus putih, banyak digunakan dalam penelitian karena tikus merupakan hewan yang praktis dalam perawatannya dan cepat berkembangbiak.
a. Data Biologis tikus
Tabel 1. Data Biologi Tikus
Lama hidup 2-3 tahun, dapat sampai 4 tahun
Lama produksi ekonomis 1 tahun
Umur dewasa 40-60 hari
Umur disapih 21 hari
Siklus kelamin Poliestrus
Siklus estrus (berahi) 4-5 hari
Lama estrus 9-20 jam
Perkawinan Pada waktu estrus
Ovulasi 8-11 jam sesudah timbul estrus
Fertilisasi 7-10 jam sesudah kawin
Implantasi 5-6 hari sesudah fertilisasi
Berat dewasa 300-400 g jantan; 250-300 g betina
Jumlah anak Rata-rata 9, dapat 20
Berat lahir 5-6 g
Suhu 36-390C
(Sumber : Smith dan Mangkoewidjojo, 1988) b. Reproduksi
Reproduksi, adalah suatu cara atau suatu perilaku mahluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidup spesiesnya. Tanpa kemampuan reproduksi tersebut, suatu jenis hewan akan segera mengalami kepunahan. Untuk dapat mengadakan aktivitas reproduksi, mahluk hidup harus memiliki beberapa komponen penting yang saling bekerjasama untuk dapat terjadinya aktivitas reproduksi tersebut. Komponen penting yang dimaksud disebut sebagai sistem
reproduksi. Sistem reproduksi pada hewan mamalia betina selalu melibatkan berbagai organ reproduksi, yaitu ovarium, uterus, vagina dan kelenjar mamae (Musahilah, 2010).
1) Ovarium
Ovarium adalah kelenjar ganda yang dapat menghasilkan baik getah eksokrin (sitogenik) maupun getah endokrin (Lesson et al., 1996). Sebagai kelenjar endokrin ovarium dapat menghasilkan hormon estrogen, progesteron, dan relaksin. Ketiga hormon yang dihasilkan tersebut mempunyai banyak fungsi terutama dalam siklus reproduksi dan proses kehamilan (Ville et al., 1984).
Bentuk ovarium ternyata sangat bervariasi sesuai dengan spesiesnya. Pada spesies mamalia yang melahirkan anak dalam jumlah banyak (politokus) memiliki ovarium yang berbentuk buah beri. Pada spesies yang melahirkan anak dalam jumlah sedikit (monotokus) ovariumnya berbentuk bulat telur (Nalbandov, 1990).
Ovarium memiliki permukaan yang berbenjol-benjol, karena pada bagian permukaannya terdapat sel-sel folikel dan korpus luteum (Musahilah 2010). Bagian permukaan tersebut dibatasi oleh sejumlah epitel kubus selapis, yang disebut dengan epitel germinativum (Junqueira dan Carneiro, 1992). Di bawah epitel tersebut, terdapat selapis jaringan ikat padat yang disebut tunika albuginea (Lesson et al., 1996).
Di bawah tunika albuginea terdapat daerah korteks yang ditempati oleh folikel ovarium beserta dengan oositnya. Bagian terdalam ovarium adalah
11
daerah medulla, yang terdiri atas jaringan ikat fibroelastik yang penuh dengan jaringan saraf, pembuluh darah, dan limfe (Musahilah, 2010).
Berdasarkan penjelasan diatas, ovarium memiliki dua komponen penting, yaitu folikel dan korpus luteum.
a) Folikel
Salah satu bagian ovarium yang memiliki peran penting dalam reproduksi adalah folikel. Folikel dikatakan penting karena di dalam folikel terdapat banyak sel telur yang ketika sudah matang akan keluar dan berjalan ke uterus untuk dibuahi oleh sperma.
Folikel, berdasarkan tahap perkembangannya dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: folikel primordial, folikel yang sedang tumbuh dan folikel de Graaf. Beberapa ahli histologi membagi lagi folikel yang sedang mengalami pertumbuhan ke dalam tiga kategori, yaitu: folikel primer, folikel sekunder, dan folikel tersier (Junqueira dan Carneiro, 1992).
Folikel primer adalah folikel yang terdapat pada saat embrio dan beberapa ditemukan pada betina pasca dilahirkan. Folikel primer terdiri dari sebuah sel telur yang belum memiliki membran vitelina dan hanya diliputi oleh selapis epitel yang berbentuk gepeng (Lesson et al., 1996).
Folikel primer kemudian akan mengalami pertumbuhan menjadi folikel sekunder. Folikel pada tahap ini sel telurnya sudah dilapisi oleh suatu membran yang disebut dengan zona pelusida. Zona pelusida, berfungsi sebagai sawar pelindung kedua dari gamet wanita yang kelak akan ditembus oleh sperma pada saat fertilisasi (Sadler, 1988). Sel folikel kemudian akan
sangat aktif membelah diri untuk membentuk dinding berlapis di sekitar ovum. Kemudian terjadi proliferasi sel-sel folikel yang sangat cepat di satu kutub ovum, sehingga ovum bentuknya menjadi lonjong (Lesson et al., 1996).
Seiring dengan berkembangnya folikel, akan muncul ruangan-ruangan kecil yang berisi cairan jernih di dalam kerumunan sel folikel. Ruangan-ruangan kecil tersebut selama perkembangannya akan saling menyatu dan membentuk sebuah ruang yang besar yang disebut antrum. Folikel yang telah memiliki antrum disebut sebagai folikel tersier. Antrum yang terdapat pada folikel tersier sebenarnya merupakan ruangan yang berisi cairan yang mengandung estrogen dengan konsentrasi tinggi, yang disekresikan oleh sel teka dan granulosa pada folikel (Guyton, 1990).
Seiring dengan perkembangannya folikel tersier tersebut akan menjadi masak dan bertambah besar karena adanya penimbunan cairan folikuler. Folikel yang telah masak itu disebut dengan folikel de Graaf, yang akan pecah pada saat ovulasi.
b) Korpus Luteum
Setelah proses ovulasi terjadi maka ruang-ruang folikel yang awalnya berisi sel telur, akan terisi dengan cairan darah dan limpa, sehingga folikel akan berubah fungsi menjadi sebuah kelenjar sementara yang disebut korpus luteum. Korpus luteum dibentuk oleh rangsang LH (Luteinzing Hormone) yang disintesis oleh pars distalis hipofisis dibawah pengawasan hipotalamus. Pengaktifan LH oleh hipotalamus disebabkan oleh adanya aktifitas estrogen yang tinggi di dalam darah, sehingga estrogen akan dihambat melalui
13
mekanisme umpan balik yaitu dengan memberi sinyal kepada hipotalamus untuk menghambat estrogen dan mengaktifkan LH. LH kemudian akan merangsang pertumbuhan korpus luteum sehingga, korpus luteum dapat menghasilkan progesteron. Progesteron inilah yang menjadi salah satu hormon utama yang harus ada selama proses kehamilan.
Apabila sel telur yang telah dilepaskan pada saat ovulasi dibuahi maka korpus luteum akan bertambah besar dan dipertahankan selama proses kehamilan. Tetapi apabila sel telur tidak dibuahi maka korpus luteum akan berangsur-angsur mengecil dan akan membentuk jaringan parut yang disebut sebagai korpus albikan. (Nalbandov, 1990).
2) Tuba Uterina (Oviduk)
Tuba uterina (oviduk) merupakan suatu saluran muskuko-membaranosa yang memiliki mobilitas yang luas, dengan panjang sekitar 12 cm. Oviduk dibagi dalam empat segmen, beberapa diantaranya tidak mempunyai batas yang tegas. Segmen pertama adalah bagian Intramural (pars interstialis) yang terletak di bagian dalam dinding uterus. Segmen ke dua atau isthmus dibentuk oleh bagian tuba yang berdekatan dengan uterus. Segmen ke tiga adalah ampula, yang lebih lebar dari isthmus. Segmen ke empat adalah infundibulum, yang berbentuk corong dan terletak dekat ovarium (Junqueira dan Carneiro, 1992).
Ujung ovarium dari oviduk memiliki bentuk yang lebar disebut sebagai fimbria atau corong, dengan tepi yang berjumbai. Pada saat ovulasi, ujung fimbria akan banyak bergerak, yang mungkin berguna sekali bagi ovum untuk
menemukan jalannya menuju ke oviduk. Selain itu, fimbria ternyata dapat memungut sel telur yang tersasar di ruang tubuh atau sel telur yang sudah diovulasikan oleh ovarium dari sisi yang lain.
Pada oviduk, sel telur yang telah dikeluarkan oleh ovarium akan dibuahi oleh sperma. Sel telur yang telah dibuahi, selanjutnya akan melanjutkan perjalanannya menuju uterus dan akan memperoleh nutrisi yang disekresikan oleh bagian lumen ovarium (Junqueira dan Carneiro, 1992).
3) Uterus
Rahim atau uterus merupakan salah satu bagian dari saluran reproduksi yang mempunyai dinding yang tebal. Rahim mempunyai bentuk mirip buah alpukat yang kecil dengan panjang 7 cm, lebar 5 cm, dan tebal 2-3 cm. Pada umumnya uterus pada setiap spesies terdiri atas dua bagian utama, yaitu :bagian atas yang melebar disebut badan rahim (corpus uteri), bagian bawah yang berbentuk silinder disebut leher rahim (cervix uteri) (Lesson et al., 1996).
Pada mamalia terdapat empat jenis uterus yang tidak sama pada setiap spesies, yaitu uterus dupleks, uterus bikornis, uterus bipartitis, dan uterus simpleks. Tikus memiliki uterus tipe dupleks, yang terdiri dari dua tanduk (kornus uteri) dan satu badan yang bersatu membenuk huruf Y. Dinding uterus terdiri atas tiga lapisan, yaitu: membran serosa, miometrium, dan endometrium. Membran serosa merupakan suatu lapisan yang membungkus seluruh organ. Miometrium, adalah lapisan tengah dari uterus yang terdiri atas tiga lapisan otot, yaitu lapisan otot dalam yang tersusun melingkar, lapisan
15
otot luar yang membujur dan lapisan vaskuler yang memisahkan kedua lapisan otot tersebut. Endometrium, adalah lapisan terdalam dari uterus yang terdiri atas lapisan epithelium yang membatasi lumen, lapisan glanduler dan jaringan pengikat (Nalbandov, 1990).
Selama kehamilan miometrium berada dalam pertumbuhan yang sangat besar. Pertumbuhan tersebut disebabkan karena adanya peningkatan jumlah serabut-serabut otot polos melalui pembelahan dari sel-sel otot polos yang telah ada dan melalui rediferensiasi sel-sel jaringan penyambung intrasel menjadi serabut-serabut otot baru, serta hipertrofi serabut-serabut otot polos yang telah ada.
Setelah kehamilan, serabut-serabut otot polos akan mengalami destruksi, pengurangan ukuran serabut-serabut otot polos lainnya, dan degenerasi enzimatik kolagen. Destruksi yang terjadi tersebut akan menyebabkan ukuran uterus berkurang sampai hampir mencapai ukuran sebelum kehamilan (Junqueira dan Carneiro, 1992).
4) Vagina
Vagina merupakan saluran reproduksi terpanjang yang terletak di bagian dorsal uretra dan bagian ventral rektum. Vagina terbagi menjadi dua bagian, yakni vestibulum (bagian terluar vagina) dan vagina posterior (meluas dari muara uterus sampai serviks). Vagina tidak mempunyai kelenjar, namun walaupun demikian vagina tetap mampu untuk menghasilkan lendir. Lendir pada umumnya ditemukan di bagian lumen dan akan menjadi sangat banyak apabila betina sedang berahi. Lendir ini pada awalnya berasal dari serviks,
yang kemudian mengalir ke dalam lumen vagina pada saat berahi (Nalbandov, 1990).
Vagina mempunyai tiga lapis dinding yaitu, lapisan mukosa, otot, dan adventisia. Lapisan mukosa vagina memiliki sel epitel yang sering terkelupas terus-menerus dan akan memperlihatkan bentuk yang berbeda pada setiap siklus estrusnya (Lesson et al., 1996). Perubahan epitel pada vagina pertama kali diketahui oleh Stockard dan Papanicolau, juga Long dan Evans, mereka pada awalnya mengamati bahwa jaringan epitelium vagina selalu berubah setiap siklusnya. Epitelium vagina secara siklik rusak dan dibangun kembali, bervariasi dari bentuk skuama berlapis sampai kuboid rendah. Atas dasar itulah lapisan mukosa vagina banyak digunakan untuk melihat perubahan siklus estrus mamlia, terutama untuk mamlia yang mempunyai siklus estrus yang pendek, dengan menggunakan tekhnik apusan vagina (Nalbandov, 1990). Terdapat empat jenis tahap di dalam siklus estrus yang pada setiap tahap tersebut terdapat bentuk epithelium yang berbeda-beda, yaitu :
a) Fase estrus
Fase estrus merupakan suatu keadaan dimana hewan betina berkeinginan kuat untuk melakukan koitus dan berlangsung selama 9-15 jam. Pada siklus estrus hewan betina biasanya akan lebih aktif dan mengalami perubahan perilaku termasuk bergerak-geraknya telinga dan lordosis, atau melengkungya punggung dalam menanggapi perlakuan manusia atau mendekatnya hewan jantan.
17
Pada tahap estrus, epitel pada mukosa vagina akan mengalami mitosis secara cepat sehingga lapisan epitel akan menjadi menanduk. Epitel menanduk, terjadi karena adanya kandungan estrogen yang tinggi di dalam darah sehingga akan menyebabkan terjadinya proliferasi dari sel-sel epitel vagina. Sel-sel menanduk berperan penting pada saat kopulasi, karena sel-sel ini membuat vagina pada mencit betina tahan terhadap gesekan penis pada saat kopulasi.
Menjelang estrus berakhir, di dalam lumen vagina akan terdapat suatu masa seperti keju yang terdiri dari sel-sel menanduk dengan inti berdegenerasi dan leukosit, yang berguna untuk memfagositosis sperma yang tidak berhasil masuk ke dalam sel telur (Turner dan Bagnara, 1988).
b) Fase Metestrus
Metestrus terjadi segera setelah ovulasi dan periodenya berakhir 10-14 jam sesudah ovulasi tersebut (Turner dan Bagnara, 1988). Pada tahap ini telah terbentuk korpus luteum yang dibentuk dari sel-sel granulose folikel yang telah pecah di bawah pengaruh LH dari adenohipofisa (Toelihere, 1979).
Pada saat ini korpus luteum sedang aktif memproduksi progesteron yang berfungsi mempersiapkan uterus untuk menerima zigot. Apabila kebuntingan tidak terjadi akan menyebabkan uterus, korpus luteum dan saluran reproduksi lainnya beregresi ke keadaan yang kurang aktif yang disebut diestrus (Toelihere, 1979).
c) Fase Diestrus
Tahap selanjutnya adalah tahap diestrus, tahap ini merupakan suatu periode istirahat yang akan berakhir 60 sampai 70 jam setelah siklus metestrus. Pada tahap ini uterus akan mengecil, anemik dan agak kontraktil. Selain itu mukosa vagina tipis dan banyak mengandung leukosit (Turner dan Bagnara, 1988). Apabila pada tahap ini tidak terjadi proses pembuahan, maka korpus luteum akan berdegenerasi menjadi korpus albikan dan akan menghilang sebelum terjadi ovulasi berikutnya. Namun, jika terjadi pembuahan dan kehamilan korpus luteum akan dipertahankan (Surjono, 2000).
d) Fase Proestrus
Pada fase proestrus terjadi penebalan endometrium dan mukosa vagina. Pada saat ini dinding uterus lebih tebal, halus, dan lebih berglandular serta kelenjarnya tumbuh maksimal dan mengeluarkan cairan yang disebut uterine milk. Pada fase ini folikel ovarium dalam keadaan matang dan menghasilkan hormon estrogen, yang menandakan datangnya birahi pada hewan betina (Surjono, 2000).
c. Fertilisasi
Fertilisasi adalah suatu proses penyatuan atau peleburan antara gamet jantan dengan gamet betina sehingga membentuk zigot. Proses fertilisasi pada mamalia dimulai dari bergeraknya sperma melalui saluran kelamin betina. Selama perjalanannya dalam saluran kelamin betina, sperma akan mengalami
19
proses kapasitasi yang memberikan kekuatan bagi sperma untuk melakukan reaksi akrosom.
Waktu yang diperlukan oleh sperma untuk kapasitasi bervariasi pada setiap mamalia, yaitu: pada mencit kurang dari satu jam, dan pada primata dan manusia antara 5-6 jam. Pada proses kapasitasi terjadi pelepasan glikoprotein yang menyelaputi sperma dan perubahan membran plasma sperma. Sperma yang tidak terlibat dalam proses fertilisasi akan dibersihkan dari saluran kelamin betina, adapun sperma yang berada dibagian oviduk akan dimakan oleh sel-sel fagosit. Pada kebanyakan mamalia temasuk manusia, ovum yang telah diovulasikan harus dibuahi dalam waktu 24 jam jika tidak maka kemampuan fertilitas dan valiabilitasnya akan menurun (Surjono, 2000). d. Implantasi
Implantasi adalah proses tertanamnya embrio mamalia pada tahap blastosis akhir dalam endometrium uterus induk. Implantasi dimulai dengan menempelnya trofoblas yang menutupi inner cell mass. Tempat implantasi embrio pada endometrium adalah spesifik untuk hampir setiap jenis hewan. Pada hewan ternak, implantasi hanya dapat terjadi pada tempat-tempat khusus berupa penonjolan mukosa uterus yang aglandular dan disebut crancule.
Implantasi embrio umumnya terjadi pada endometrium uterus bagian dorsal, yaitu pada umur kehamilan enam atau tujuh hari. Umur kebuntingan saat terjadinya implantasi berbeda-beda pada berbagai hewan, yaitu: pada anjing 14 hari, mencit dan tikus 4,5-6 hari, kelinci 7-8 hari, dan sapi 30-45 hari.
Sebelum proses implantasi berjalan normal blastosis yang baru menempel akan mendapatkan makanan dari cairan yang disekresikan oleh kelenjar uteri yang terletak di uterus, dan juga dari reruntuhan sel-sel epitel endometrium. Setelah proses implantasi berjalan sempurna, pertumbuhan embrio sangat tergantung kepada persediaan darah di dalam endometrium (Hardjopranjoto, 1995).
1) Proses Implantasi
Setelah satu hari proses fertilisasi, zigot akan mengalami serangkaian pembelahan mitosis, sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah sel mulai dai dua sel, empat sel, delapan sel awal, dan menjadi morula dalam waktu 3-4 hari (Surjono, 2000 dan Sadler, 1988).
Gambar 4: Proses pembelahan embrio mencit (Sumber: Surjono, 2000)
Morula dengan cepat akan berjalan di dalam tuba falopi menuju rongga uterus. Selama perjalanannya melalui kanalikuli zona pelusida, sejumlah
21
cairan akan disekresikan ke dalam morula yang menyebabkan embrio menjadi berongga dan sel-sel yang di bagian dalam berkelompok pada satu cincin eksternal dan akan membentuk struktur yang disebut blastosis (Surjono, 2000).
Selama perjalanan menuju uterus blastosis akan mengalami gastrulasi, yaitu proses penataan kembali sel-sel embrio secara terintegrasi oleh berbagai gerakan morfogenik (Surjono, 2000). Setelah mencapai rahim zona pelusida mengembang dan menipis. Selanjutnya, sekitar 50% bagian blastosis akan masuk ke dalam stroma endometrium. Setelah itu, sel trofoblas superfisial akan mengalami deferensiasi menjadi sitotrofoblas (lapisan dalam) dan sinsitiotrofoblas (lapisan luar). Jonjot trofoblas dengan cepat terbentuk dan menginvasi stroma endometrium secara terkendali.
Pada hari ketujuh pasca fertilisasi. Jonjot trofoblas membentuk inti mesodermal dan masuk lebih dalam ke endometrium. Pada hari ke-10 pasca fertilisasi, inner cell mass akan mengalami diferensiasi menjadi lapisan ektodermal, lapisan mesodermal dan lapisan endodermal. Selain terbentuk inner cell mass, pada hari ke-10 pasca fertilisasi juga terjadi pembentukan rongga kecil berisi cairan yang akan menjadi kantung amnion.
Pada hari ke-12 Trofoblas blastosis mengalami diferensiasi menjadi sinsitium primitif dan sinsitrofoblas. Mesoblas mengalami diferensiasi dan mengisi seluruh kavum blastosis, sehingga terbentuklah lakuna dalam sinsitium (Toelihere, 1979).
e. Hormon-homon reproduksi
Seperti halnya manusia kunci siklus reproduksi tikus betina terletak pada hipotalamus yang berhubungan dengan kelenjar hipofisis. Siklus reproduksi berlangsung dengan bantuan hormon gonadotropin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian anterior melalui sistem portal hipotalamus-hipofisis. Hormon gonadotropin terdiri atas FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone) dan juga prolaktin. Selain ketiga hormon tersebut ada satu lagi hormon yang berpengaruh terhadap siklus reproduksi terutama pada hari kehamilan ke-13, sampai partus yang disebut dengan Luteotropic Hormone (Nalandov, 1990).
FSH atau Folicle Stimulating Hormone mempunyai beberapa fungsi, yaitu menginisiasi perkembangangan folikel ovarium, menstimulasi sekresi hormon estrogen dari sel folikel (Scanlon dan Sanders, 1991). Estrogen yang dihasilkan oleh FSH mempunya fungsi utama, yaitu: menyebabkan proliferasi dan pertumbuhan sel jaringan organ seks dan jaringan lain yang berhubungan dengan reproduksi, selain itu estrogen juga mengubah epitel vagina dari kuboid menjadi berlapis yang jauh lebih resisten terhadap trauma dan infeksi daripada epitel prapubertas (Guyton, 1990).
Kemampuan estrogen untuk merangsang perkembangan jaringan yang terlibat dalam reproduksi seperti yang disebutkan diatas itu, dilakukan oleh estrogen dengan cara meningkatkan kecepatan sintesis protein, rRNA, mRNA, tRNA, dan DNA. Sehingga, jaringan tersebut akan mengalami perkembangan dengan sangat cepat (Murray et al., 2003).
23
Seperti yang telah kita ketahui LH adalah hormon yang disekresikan oleh pituitari anterior yang mempunyai beberapa fungsi, diantaranya menyebabkan ovulasi, menstimulasi sekresi progesteron dengan korpus luteum (Scanlon dan Sanders, 1991). Progesteron berasal dari kata pro dan gesterone yang berarti for gestation (Regelson et al., 1996). Progesteron yang dihasilkan oleh LH di ovarium, pada umumnya akan mengurangi aktivitas proliferatif yang dimiliki oleh hormon estrogen terhadap epitel vagina dan mengubah epitel uterus dari fase proliferatif ke fase sekretorik (Murray et al., 2003). Selain hal tersebut diatas progesteron memiliki beberapa efek terhadap uterus dan tuba falopi.
Pada uterus, fungsi progesteron adalah meningkatkan perubahan sekresi pada endometrium jadi menyiapkan uterus untuk implantasi ovum yang telah dibuahi (Guyton, 1990). Selain itu, progesteron juga mempercepat pertumbuhan pembuluh darah ke endometrium dan menyediakan nutrisi untuk fetus dan juga mencegah kontraksi dari miometrium (Scanlon dan Sander, 1991).
Pada tuba falopii, progesteron berfungsi untuk meningkatkan perubahan sekresi pada mukosa yang melapisi tuba falopii. Sekresi ini penting untuk nutrisi pada ovum yang telah dibuahi, yang sedang membelah waktu ia berjalan dalam tuba falopii sebelum implantasi.
Selain estrogen dan progesteron ada pula hormon yang berperan dalam reproduksi hewan betina yaitu prolaktin. Penggolongan hormon prolaktin sebagai salah satu dari hormon gonadotrofik ternyata masih menjadi perdebatan dikarenakan, hormon prolaktin bersifat luteotrofik pada tikus dan
mencit saja, sedangkan pada mamalia yang lain prolaktin tidak bersifat luteotrofik. Pada mencit dan tikus, hormon prolaktin dikatakan bersifat luteotrofik karena hormon tersebut dapat merangsang pertumbuhan dari desidouma pada uterus tikus, dan bersama-sama LH berguna untuk merangsang korpus luteum menghasilkan hormon progesteron (Toelihere, 1979).