Desa Timbuseng adalah salah satu dari 18 Desa dan Kelurahan yang ada dan terletak di wilayah kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar dengan luas wilayah 11,57 Kilometer persegi. Jarak dari Desa Timbuseng ke Ibu kota Kabupaten Takalar adalah sejauh 9kilometer, dengan jarak tempuh
menggunakan angkutan umum sekitar 15 menit.Adapun batas-batas wilayah desa Timbuseng adalah :
1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Barugaya dan Desa Parangbaddo
2) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Ko‟mara
3) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lantang & Desa Moncongkomba
4) Sebelah Barat berbatasan dengan Massamaturu Ada 7dusun, yang terdapat dalam wilayah administratif Desa Timbuseng, yakni : Dusun Sauleya, Dusun Tanasambayang, Dusun Panaikang I, Dusun Panaikang II, Dusun Bonto Baddo, Dusun TimbusengI, Dusun Timbuseng II.
Desa Timbuseng memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata mencapai 22° -32°C. Dan bila dilihat dari keadaan topografi Desa Timbuseng termasuk dataran yang memiliki hamparan persawahan dan kebun yang cukup luas, dengan ketinggian rata-rata mencapai diatas 50 meter dari permukaan laut.
1. Sejarah singkat Desa Timbuseng
Desa Timbuseng pada awalnya merupakan hasil pemekaran dari Desa induk Ko‟mara, pada tahun 1993-1995. Menjadi Desa persiapan selama 3 (tiga) tahun, dan terdiri dari 3 Dusun, yaitu Dusun Timbuseng, Dusun Sauleya dan dusun panaikang, pada saat itu yang menjabat sebagai Kepala Desa adalah Hajalilu Dg.Lira, dan sebagai Sekdesnya adalah Aminullah Dg.Sijaya. Desa Timbuseng definitif pada tahun 1995, dan pada saat itu diadakan pemilihan
Kepala Desa pertama, dengan dua calon Kepala Desa yaitu Hajalilu Dg.Lira dengan Abd.Rahim Dg.Tutu, yang meraih suara terbanyak pada saat pemilihan dan terpilih menjadi Kepala Desa adalah Hajalilu Dg.Lira (1995–2002).
Pada tahun 1997, terjadi pemekaran Dusun yaitu Dusun Tanasambayang, sehingga Desa Timbuseng terdiri dari 4 Dusun, yaitu Dusun Timbuseng, Dusun Sauleya, Dusun Panaikang dan Dusun Tanasambayang.Pada tahun 2002 diadakan pemilihan Kepala Desa yang kedua kalinya, dan yang terpilih adalah
Abd.Rahim Dg.Tutu (2002-2006). Pada tahun 2006 diadakan pemilihan Kepala Desa yang ketiga, dan yang terpilih adalah Sulaeman Unjung (2006-2012), dan pada masa kepemimpinan Sulaeman Unjung, yaitu pada tahun 2007, terjadi pemekaran Dusun yaitu Dusun Bonto Baddo. Sampai saat ini Desa Timbuseng terdiri dari 7 (dusun) Dusun, yaitu: Timbuseng I, Timbuseng II, Sauleya, Tanasambayang, Panaikang I danPanaikang II dan Bonto Baddo
2. Demografi Desa
Desa Timbuseng dihuni oleh 2.856 jiwa penduduk yang tersebar di 7 dusun yang ada. Adapun pembagian jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk, Rumah Tangga & Kepadatan Penduduk Desa Timbuseng.
Uraian Jumlah
Populasi Penduduk
Laki-Laki
Perempuan
1.384 jiwa 1.472 jiwa
Rumah Tangga 652 RT
Kepadatan 247 /km²
Sumber: Polongbangkeng Utara Dalam Angka (BPS.2018)
Mata pencaharian pokok penduduk Desa Timbuseng adalah sebagai petani, artinya sebagian besar masyarakat Timbuseng, yakni berjumlah535 laki-laki dan 69 orang perempuan menggantungkan hidupnya dengan mengusahakan pertanian.Selain itu juga terdapat 109 orang yang berprofesi sebagai buruh tani.
Dalam hal ini penting untuk mengetahui, apakah jumlah petani yang ada sebanding dengan luas lahan yang tersedia, untuk dapat memastikan bahwa usaha pertanian yang dikerjakan oleh masyarakat Timbuseng dapat menjamin pemenuhan kebutuhan hidup dan kesejahteran mereka. Pada Tabel 4.2 dibawah ini menjelaskan bagaimana penggunaan lahan di Desa Timbuseng.
Tabel4.2. Penggunaan Lahan Desa Timbuseng
No. Penggunaan lahan Luas (Ha)
1. Sawah 340.00
2. Perkebunan 583.20
3. Tegalan 154.77
4. pekarangan 49.80
Sumber: Polongbangkeng Utara Dalam Angka (BPS.2018)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa perkebunan mendapatkan porsi terbesar dari penggunaan lahan di Desa Timbuseng, dari sekitar 1.157 Ha luas wilayah Desa Timbuseng 583.20 Ha diantaranya adalah kawasan perkebunan.
Luas perkebunan yang ada lebih dari setengah luas lahan yang ada di Desa Timbuseng. Akan tetapi berdasarkan pengamatan/observasi yang dilakukan oleh peneliti, perkebunan tersebutsebagian besar merupakan lahanperkebunan milik PTPNXIV. Luas sawah yang ada 340 ha, Jadi dari sekitar 713orang petani yang menggantungkan hidupnya dari lahan pertanian, hanya bisa saling berbagi sedikit lahan untuk mengusahakan pertanian di Desa Timbuseng. Pada profil desa tahun 2015 mengenai penguasaan aset ditemukan bahwa 104 orang yang bekerja dibidang pertanian tidak mempunyai tanah. Petani yang memiliki tanah antara 0,1 -0,2 ha sebanyak 221 orang, lahan seluas 0,21 –0,3 ha sebanyak 175 orang, lahan seluas 0,31 –0,4 ha sebanyak 87 orang, 0,41 hingga 0,5 sebanyak 36 orang, 0, 51 hingga 0,6 sebanyak 29 orang, 0,61–0,7 sebanyak 11 orang dan 0, 71 –0,8 sebanyak 7 orang.
Berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga, di Desa Timbuseng terdapat 78 KK keluarga pra sejahtera, 245 KK keluarga sejahtera I, 299 KK keluarga sejatera II, 75 KK keluarga sejahtera III, dan 17KK keluarga sejahtera III+.
Jumlah keluarga pra sejatera di tahun 2015 mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2010, dimana penduduk yang termasuk keluarga pra sejahtera berjumlah 252 KK.
59
atau persetujuannya sendiri (perempuan) untuk dinikahi oleh seorang laki-laki yang membawanya pergi dalam padangan hukum adat suku Makassar. Annyala dalam hukum adat suku Makassar merupakan perbuatan yang dilarang karena menimbukan siri‟ (rasa malu) oleh tau dipakasiri‟ (keluarga pihak perempuan), sehingga diancam sanksi pidana adat berupa pengucilan, penganiyaan, diusir dari kampung atau pembunuhan.
A. Faktor Penyebab Terjadinya Annyala di Desa Timbuseng Kecamatan PolongBangkeng Utara Kabupaten Takalar
Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral bagi setiap orang, akan tetapi adanya faktor-faktor yang dapat menyebabkan pernikahan tersebut tidak dapat terlaksana atas kehendak mereka yang menghendakinya. Desa Timbuseng Kecamatan PolongBangkeng Utara Kabupaten Takalar merupakan salah satu daerah yang menjunjung tinggi akan adat dan budaya yang telah mengakar disendi kehidupan masyarakat.
Pernikahan yang dilakukan diluar batasan norma yang berlaku tentunya menjadi hal yang tabu dalam hal ini Annyala. Anyyala dikenal oleh masyarakat Desa Timbuseng sebagai salah satu alternatif bagi pria dan wanita yang tidak dapat melaksanakan pernikahan yang menjadi impian mereka. Masyarakat Desa Timbuseng menyatakan bahwa kasus Annyala setiap tahunnya mengalami
peningkatan. Peningkatan kasus anyyala tentunya menjadi hal yang mengkhawatirkan jika annyala nantinya akan menjadi hal yang biasa. Adanya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya annyala, antara lain:
1) Berbeda Pilihan Dengan Orang Tua
Annyala ini biasanya terjadi karena salah satu pihak keluarga tak menyetujui hubungan asmara dari kedua pasangan. Walaupun kedua pasangan tersebut menyadari bahwa tindakan annyala ini penuh resiko, akan tetapi annyala akan tetap menjadi pilihan terakhir bagi pasangan yang telah menghendaki untuk melaksanakan pernikahan meskipun tanpa adanya restu dari orang tua. Wawancara dilakukan oleh penulis kepada mereka para pelaku annyala.
Wawancara dengan Ima (24 Tahun) yang mengatakan bahwa:
“nakke annyala riolo, ka tau toaku erokka napasialle siaganag tau maraeng, padahal orangtua saya sendiri sudah tahu kalau saya sudah punya pacar, tapi mereka tidak merestui karna lebbami sipa’ bicara siagang aganna tong masalah perjodohan antara keluargaku dengan keluaraga jauhku, tapi tidak pernah ka dikasi tahu sama orangtua ku tentang masalah perjodohan yang terlanjur na rancang semuai mi perjodahan antara saya sama itu orang, padahal nakke na bura’nengku yang tidak kusuka apalagi tena mentong ku assemgi kana inai, jadi saya ajak pacarku buat nikah. Awalnya dia takut tapi karena dia lebih takut kalau saya jadi menikah sama orang pilihannya bapakku.” (Wawanvara tanggal 13 Desember 2019)
Adapun dua narasumber lainnya menyampaikan hal serupa, Irma Dg.
Bulang (33 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Kalau saya dulu annayala karena orangtua ku tidak suka dengan suamiku. Orangtua ku sudah lama mi mau jodohkan saya dengan keluarga jauhku ji juga mungkin karena kedua keluarga juga sallomi siasseng, tapi saya juga ada pilihan yang lain jadinya saya pergimi annyala dari pada di kasih jodohka sama orang lain meskipun ku tauji siapa orangnya tapi mau diapa ka suamiku tonji ku suka jadi jalan satu-satunya saya annyala dan baru kembali minta restu dua tahun setelah kami berdua menikah.” (Wawancara tanggal 16 Desember 2019)
Wawancara dengan Ramlah Dg. Nganne (37 Tahun) yang mengatakan bahwa :
”kodi memang rikanaya annyala ka passala siri’ na tau toayya anjo, ingka riolo tau toana bura’nengku eroki na pasialle siangang baine maraeng na pa’bunting anjo kapang ka anjo baine pallaki nyonyo jadi ri ngai siangang matoangku, nampa jai tong poeng doekna anjo bainea nampa caraddeki poeng kapang ka kuliah anjo bede bainea jadi na paksai bura’nengku siangang anjo bainea, ingka lebih na ngaia bura’nengku ka sallo tomma si ngai, sallo tomma siagang, nia’ tommo poeng rencana na bura’nengku memang nakke ero’ na buntingi manna mamo jandaya nampa nia tommo anakku sekre. Iya tommi anjo kapang pila’ na permaslahkan matoangku tena na erok anakna siagang nakke. Ingka bura’nengku lebba sanna na ngaiku jadi na eranga mae anyyala. ” (Wawancara tanggal 20 Desember 2019)
Dari keempat wawancara diatas para narasumber memiliki masalah yang sama yakni sulitnya mendapatkan restu dari orangtua wanita dan telah memiliki pilihannya sendiri meskipun mereka mengetahui anak perempuan mereka telah memiliki pasangan sehingga pernikahan annyala nekat menjadi solusi untuk tidak di jodohkan dengan pilihan orangtua mereka. Beda halnya dengan narasumber lainnya yang orangtuanya memiliki alasan lain:
Wawancara dengan Ratna (21 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“waktuku annyala masih usia 16 tahunka, suamiku 17 tahun, awalnya saya di suruh dulu buat kuliah tapi malas sekali ma ku rasa mau belajar
dan lebih mau maka ku rasa menikah mi saja langsung, orangtuaku tidak melarang ji saya sama pacarku cuma mereka berfikir kami masih terlalu muda dan belum punya bekal cukup buat masa depan kami, karna saya tidak mau kuliah jadi saya dan suamiku putuskan untuk annyala mi meski kami baru lulus sekolah dan kami merantau,di perantauan itu kami berdagang,dan Alhamdulilah setelah bisa dibilang kami berhasil dari segi ekonomi dan kehidupan kami telah membaik mereka akhrinya kasih restu sama kedua orangtuaku.” (Wawancara tanggal 11 Desember 2019) Hasil penelusuran wawancara dengan kelima orang pelaku annayala menunjukkan bahwa terjadinya annyala karena adanya sikap dari orangtua yang terlalu memaksakan kemauan mereka tanpa memandang hak atas anak mereka untuk memilih apa yang menjadi pilihan hidup mereka. Hal tersebut menjadi hal yang sulit bagi mereka pelaku annyala karena mereka dihadapkan akan pilihan sulit, untuk tidak ikut keputusan kedua orangtua mereka atau harus menggambil keputusan sendiri dengan melakukan annyala. Akan tetapi annyala juga tidak hanya didasarkan atas pilihan orangtua untuk menjodohkan anak mereka, akan tetapi kasus lain juga mengemukakan bahwa annyala juga terjadi karena pilihan orangtua bagi anak mereka untuk memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan karena alasan orangtua yang melarang anak mereka untuk menikah terlalu dini.
Akan tetapi kasus yang mendominasi dari kelima orang informan mengungkapkan bahwa annyala terjadi karena orangtua kerap yang memaksakan kehendak mereka untuk menjodohkan anak mereka dengan pilihan mereka sendiri.
Sehingga orangtua dianggap menjadi penyebab akar masalah bagi pelaku annyala.
Annyala menjadi pilihan bagi mereka yang tidak memilki pilihan lain meskipun harus bertentangan dengan norma agama dan budaya Makassar yang menganggap bahwa annyala sama dengan pernikahan tanpa restu yang tentunya menjadi
pernikahan yang tidak sah di mata hukum, agama dan norma yang berlaku di masyarakat Desa Timbuseng.
2) Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi, kekayaan serta kasta seseorang menjadi salah satu faktor yang juga ikut menjadi penyebab terjadinya annyala. Penulis juga menemukan beberapa contoh kasus annyala yang didasari karena masalah perbedaan status sosial ekonomi yang berbeda. Penelusuran lebih lanjut dikemukakan pada hasil wawancara pada lima orang informan pelaku annyala dengan jenis latar belakang permasalahan yang sama.
Wawancara dengan Tika (25 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Saya dulu annyala sama suamiku karna alasan keluarganya suami ku kurang mampui, kasiasi kodong, dan sebelumnya memang pernahmi datang kerumah orangtua ku mau melamar ka, tapi karena orangtua ku tidak menerima lamaran dari suami ku dengan alasan uang panainya kurang, tidak tau bilang sengajai na kasih tinggi-tinggi mungkin panaikku tapi atas dasar kita saling cinta mi dan memang sannamo salloku singai makanya annyala ka sama suamiku dan sekarang adama hampir satu tahun tidak pulang-pulang ke kampungku karna kami masih takut dan juga malu biarpun na pernah na tanya temanku kalo na suruhma pulang mamaku, biar skalian adapi cucu ku bawa baru kembalika” (Wawancara tanggal 13 Desember 2019)
Hal serupa di sampaikan oleh Anti (22 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Kalau saya dulu annyala karena orangtuaku tidak suka dengan suamiku.
Orangtuaku lihat kami berdua beda derajat. Kebetulan karena saya lahir dari keluarga yang berkecukupan sedangkan suamiku kerjanya hanya sebagai petani. Akhirnya kami putuskan buat annyala.” (Wawancara tanggal 13 Desember 2019)
Dari kedua narasumber diatas status sosial maupun status ekonomi menjadi pemicu mereka melakukan kawin lari annyala di karenakan orangtua mereka mentang hubungan yang tidak mampu mengimbangi pihak yang merasa lebih
memiliki status sosial maupun ekonomi yang lebih baik, hal serupa di sampaikan oleh narasumber berikut
Wawancara Megawati Dg. Lino (33 Tahun) yang mengatakan bahwa :
” Saya sama suami ku pergi annyala dulu baru minta restu sama orangtua kami, karena saya anak buruh tani ji sedangkan suamiku anak juragan tanah di Desa Timbuseng. Keluargaku juga malu sama keluarganya karena kami hanya orang miskin, orangtuaku juga larang saya untuk lanjutkan hubungan kami. Tapi karena suamiku tidak peduli dengan alasan saya hanya anak buruh tani disamping orangtuanya juga larang dia untuk menikahi saya akhirnya dia ajak saya annyala meskipun dia tau resikonya saat itu.” (Wawancara tanggal 21 Desember 2019) Begitupun yang disampaikan oleh Ganna dg. Se‟re (28 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Awalna teanaja naku ero’ annyala tapi karna kondisina mendesak mi jadi terpaksa sepakat ka annyala, anjo poeng buntinga ka tena nia setuju, ta tau toaku na ta tau toana bainengku. Anjo na ku kulle annyala ka tena ku mampu sanggupi pappala panaikna tau toanna bainengku ka menurutku lompo dudui nampa appala tongi pole sunrang tanah punna eroka buntingi bainengku, nampa nakke lulusan SD ji, jama-jamangku sibaka jama bangunan ji siangang mae nanang punna nia kio ka na bara, atau biasa na sabbu taua bahasa Indonesia na buruh tani, nampa bainengku battu ri keluarga tau nia-nia, tau kalumannyang tong ri pa’rasanganna. Anjo tommi tenaja na rassi nyawana tau toa ku ka nakana takkuleai dimbangi keluarga na. Ingka ka sannamo singaiku jadi terpaksa annyala mami jadi soluisi na supaya kullea siagang “ (Wawancara tanggal 21 Desember 2019)
Akan tetapi salah satu narasumber yang menyampaikan faktor yang berbeda mengapa mereka perkawinan annyala menjadi solusi mereka untuk bersama berikut penuturannya :
Wawancara Ikhsan Dg. Jarre (30 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Ku kioki bainengku annyala ka tau toana eroki anakna bunting siagang paranna anak karaeng karna kebetulan bainengku keturunan anak karaeng, padahal ri kamma-kammaya annae teaimi jamanna taua ricini kerea anak karaeng kerea masyarakat biasa tanpa status keturunan anak
karaeng. Nakke teai tonja tau susah, nia-nia tonja cuma kebetulan teaia nakke battu ri keluarga karaeng “ (Wawancara 16 Desember 2019) Hasil wawancara di atas mengemukakan permasalahan yang mendominasi awal timbulnya silariang karena faktor perbedaan status sosial ekonomi. Disamping perbedaan status sosial ekonomi adanya faktor perbedaan kasta juga mengakibatkan terjadinya annyala. Perbedaan kasta seperti anak karaeng atau mereka yang berasal dari keturunan raja dan bangsawan tidak boleh menikah jika bukan dengan pasangan yang juga memiliki darah bangsawan. Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman suku, adat, budaya dan agama sehingga menjadikan pelaksanaan perkawinan sangat bervariasi baik syarat maupun prosesinya sebagaimana peran adat dan agama pun sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan perkawinan tersebut tidak tekecuali adat Makassar masyarakat Desa Timbuseng.
Sistem Perkawinan di masyarakat Desa Timbuseng sangat kental dengan adat Makassar yang tidak lepas dari budaya malu yang berlaku yang disebut Budaya Siri‟.
Budaya Siri‟ pada penikahan masyarakat Desa Timbuseng erat kaitannya dengan memandang berapa besarnya Doe‟ kanre‟/doe‟Panai‟ (doe‟ balanja) yang merupakan besaran uang pinangan (uang panai‟) yang akan dipenuhi atau dibayarkan pihak pria ke pihak perempuan sebelum melangkah ke prosesi perkawinan. Semakin besar uang panai‟ yang diberikan oleh pihak pria semakin besar pula gengsi dari keluarga pihak perempuan tersebut. Hal ini didasarkan karena jika pihak pria berasal dari keluarga yang mampu tentunya akan mampu menyanggupi permintaan uang panai‟ dari pihak perempuan.
3) Pergaulan Bebas
Pergaulan negatif mengarah pada pergaulan bebas yang harus dihindari oleh setiap masyarakat khususnya bagi remaja yang masih labil atau masih mencari jati dirinya dan di usia remaja lebih mudah terpengaruh serta belum dapat mengetahui baik atau tidaknya perbuatan tersebut. Pergaulan bebas menjadi salah satu penyebab timbulnya annyala. Wawancara kemudian dilakukan penulis kepada orangtua dengan anak yang menjadi pelaku annyala dan dengan wawancara langsung dengan pelaku annyala. Untuk mengetahui hubungan antara annyala dengan pergaulan bebas. Wawancara dilakukan dengan lima orang informan dengan latar belakang masalah yang sama yaitu annyala karena pergaulan bebas.
Wawancara dengan Dg. Buang (22 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Waktu itu umur ku dengan istri sama-sama 16 tahun, kami pacaran dari SMA sampai lulus. Setelah tamat SMA kami berdua memutuskan untuk annyala karena anjo waktua mallaka poangi tau toaku na tau toana kana tianang mi bainegku. Kami sadar ji kana punna lampaya annyala anne sanna salahna karna siri anne, tapi ladiapai mateangnganga punna tena ku lampa siagang bainengku dan harus tonga tanggung jawab ka lebba tianang mi jadi mau tidak mau ka anjo waktua beru tompa lulus haruska lampa mae annyala supaya amangi bainengku nakke aman tong dan tolonna lassu anakku berupa motere mae pala kana baji-baji ri aseng tau toaku na tau toanna bainengku” (Wawancara tanggal 15 Desember 2019) Wawancara dengan Dg. Kulle (48 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“nakke tau toanna anne anak-anaka mae annyala, anak bura’neku na erangi annyala bayuanna nampa sipa’sikolangi poeng. Anjo anak ruaya sikola injapi kelas rua ri SMA, nakke sebagai tau toana siri-sirika mae ri taua gara-gara anakku lampa annyala na erang anak bainena taua, ruang bulanmi anne lampana tena na moterepa, tena ku sibuntulu anakku, tau toana anjo bainea tena na mari na dondoroka na palaki pertanggung jawabanna ka sai anjo anaku bura’ne ngerang lampai annyala anak bainena taua, tena nia kulle disalahkan karna katte anne mae tautoaya kurang mengawasi, kurang perhatian mae ri anaka na kulle kamma anne panggaukanna, nampa tianangi anjo anak-anaka na lampa siagang anakku. “ (Wawancara tanggla 18 Desember 2019)
Begitupun yang di sampaikan oleh dengan Siti. (22 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“Saya dulu annyala dengan suamiku karena suamiku dulu mau bertanggung jawab nikahi saya tapi karena orangtuaku sudah terlanjur marah karena mengetahui kalau saya sudah mengandung anak pertama kami. Orangtuaku akhirnya malah melarang saya untuk menikah dengan pacarku, malah mereka menunjuk pria lain untuk menikahi Saya.
Akhirnya karena tidak mau kalau saya menikah dengan orang lain dan Saya juga tidak mau ka kalau orang lain yang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang bukan dia lakukan dan jelas ji juga saya tau ini anaknya siapa karna suami tonji ku temani. Jadi akhirnya meminta ka itu waktu di bawa pergi alias pergi annyala sama pacarku yang sekarang jadi suamiku.” (Wawancara tanggal 23 Desember 2019)
Dari hasil wawancara di atas dengan para pelaku annyala dan para orangtua dari anak mereka yang melakukan kawin lari annyala dikarenakan faktor pergualan bebas dan kurangnya pengawasan orangtua yang dimana mengakibatkan kehamilan di luar nikah padahal usia para pelaku masih remaja dan masih bersekolah di bangku SMA, hal serupa disamapaikan oleh narasumber lainnya
Wawancara dilakukan dengan Dg. Baji (45 Tahun) yang mengatakan bahwa:
“Menurutku anjo anak nekat ki mae annayala, ka anjo waktua sisekolah injapi jadi nakke na bapakna tidak terlalu setuju punna terlalu bebaski pertamana ditegur ji sama om na, tapi tetap tidak ada perubahan bahkan bapakna juga berulang kali menegurnya tapi tetap tidak ada perubahan karena dia merasa terlalu di tekan makanya dia melawan siri yang ada lampami annyala siagang bayuanna” (Wawancara tanggal 12 Desember 2019)
Berbeda dengan penuturan salah satu narasumber yang merupakan orangtua dari pelaku annyala. Dg. Maung (45 Tahun) yang mengatakan bahwa :
“anak baineku lampai annyala siangan tau beru na aging siasseng ri hapena, na kana anjo aganna tau berupa sihubungi anjoeng rikanaya facebook anjoengi si hubungi, stojennaya katte anne tau toaya tena