• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

E. Tinjauan Kepustakaan

2. Tindak Pidana Terhadap Jiwa dan Mutilasi

Kejahatan terhadap nyawa (misdrijven tegen bet leven) adalah berupa penyerangan terhadap nyawa orang lain. Kepentingan hukum yang dilindungi dan yang merupakan obyek kejahatan ini adalah nyawa (leven) manusia.27

a. Kejahatan yang ditunjukkan terhadap jiwa manusia;

Tindak pidana terhadap nyawa dalam KUHP dimuat pada Bab XIX dengan judul “Kejahatan Terhadap Nyawa Orang” yang diatur dalam pasal 338 sampai dengan pasal 350.Mengamati pasal-pasal tersebut maka KUHP mengaturnya sebagai berikut:

27

b. Kejahatan yang ditunjukkan terhadapa jiwa anak yang sedang/baru dilahirkan; c. Kejahatan yang ditunjukkan terhadap anak yang masih dalam kandungan.

Dilihat dari segi “kesengajaan” (dolus) maka tindak pidana terhadap nyawa terdiri atas:

a. Yang dilakukan dengan sengaja;

b. Yang dilakukan dengan sengaja disertai kejahatan berat; c. Yang dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu; d. Atas keinginan yang jelas dari yang dibunuh;

e. Menganjurkan atau membantu orang untuk bunuh diri

Berkenaan dengan tindak pidana terhadap nyawa tersebut pada hakikatnya dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Dilakukan dengan sengaja, yang diatur Bab XIX; b. Dilakukan karena kelalaian/kealpaan, diatur Bab XXI;

c. Karena tindak pidana lain, mengakibatkan kematian; yang diatur antara lain Pasal 170, Pasal 351 ayat (3), dan lain-lain.

Kejahatan terhadap nyawa ini disebut delik materil yakni delik yang hanya menyebut sesuatu akibat yang timbul, tanpa menyebut cara-cara yang menimbulkan akibat tersebut.Kejahatan terhadap nyawa dimuat dalam KUHP adalah sebagai berikut:

1. Pembunuhan (Pasal 338);

2. Pembunuhan dengan pemberatan (Pasal 339); 3. Pembunuhan berencana (Pasal 340);

5. Pembunuhan bayi berencana (Pasal 342);

6. Pembunuhan atas permintaan yang bersangkutan (Pasal 344); 7. Membujuk atau membantu orang agar bunuh diri (Pasal 345); 8. Pengguguran kandungan oleh izin ibunya (Pasal 346);

9. Pengguguran kandungan tanpa izin ibunya (Pasal 347);

10.Matinya kandungan dengan izin perempuan yang mengandungnya (Pasal 348);

11.Dokter/bidan/tukang obat yang membantu pengguguran/matinya kandungan (Pasal 349).

Pengertian Mutilasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mutilasi adalah proses atau tindakan memotong-motong (biasanya) tubuh manusia atau hewan.28

1. Zac Specter:

Dalam membahas mengenai terminologi kata atau istilah mutilasi memiliki banyak penafsiran makna dengan amputasi sebagaimana yang sering di pergunakan dalam istilah medis kedokteran. Menurut beberapa sarjana peristilahan mutilasi dapat diartikan dalam terminologi sebagai berikut:

29

Mutilasi adalah aksi yang menyebabkan satu atau beberapa bagian tubuh manusia tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

28

2. Ruth Winfred:30

3. Definisi Black Law Dictionary:

Mutilasi atau amputasi atau disebut juga flagelasi adalah pembedahan dengan membuang bagian tubuh.

31

Definisi terhadap mutilasi atau amputasi itu sendiri memiliki perbedaan dengan kategori tindak pidana mutilasi, selain di karenakan kepentingan medis terhadap keselamatan jiwa individu juga terdapat beberapa ciri atau karakteristik mendasar yang membedakannya dengan tindak pidana mutilasi yaitu adanya indikasi bedah amputasi berupa:

Memberikan definisi mengenai mutilasi (mutilation) sebagai the act cutting off maliciously a person’s body,esp. to impair or destroy the vistim’s capacity for self defends.

Berdasarkan definisi di atas maka dapat dipahami bahwa mutilasi atau amputasi adalah suatu keadaan, kegiatan yang sengaja memisahkan, memotong, membedah, membuang satu atau beberapa bagian tubuh yang menyebabkan berkurang atau tidak berfungsinya organ tubuh.

32

b. Trauma amputasi, bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, thermal injury seperti terbakar, tumor infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets disease dan kelainan congenital.

a. Iskemia karena penyakit rekularisasi perifer, biasanya pada orang tua seperti orang yang terkena artheroklerosis dan diabetes melitus.

30

Supardi Ramlan, Patofisiologi Umum, Rineka Cipta, Bandung, 1998, hal. 35.

31

Di samping itu di dalam bedah mutilasi itu sendiri mempergunakan metode secara tersistematis sehingga berbeda dengan tindak pidana mutilasi, yaitu sebagai berikut:33

a. Metode terbuka (guillotine amputasi).

Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage agar luka bersih, dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi.

b. Metode tertutup (flap amputasi).

Pada metode ini kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik suatu pemahaman jelas mengenai definisi mutilasi dalam kepentingan medis. Mutilasi memiliki beberapa dimensi, seperti dimensi perencanaan (direncanakan-tidak direncanakan), dimensi pelaku (individu-kolektif), dan dan dimensi ritual atau inisiasi, serta dimensi kesehatan atau medis. Dengan demikian perbuatan memutilasi tidak dapat dipukul rata sebagai tindakan kriminal yang dapat dikenakan sanksi pidana.

Secara umum tindak pidana mengenai mutilasi dibagi menjadi dua bagian yaitu:34

a. Mutilasi defensif (defensive mutilation) atau disebut juga sebagai pemotongan atau pemisahan anggota badan dengan tujuan untuk menghilangkan jejak setelah pembunuhan terjadi. Motif rasional dari pelaku adalah untuk menghilangkan

33

tubuh korban sebagai barang bukti atau untuk menghalangi indentifikasinya potongan tubuh korban.

b. Mutilasi ofensif (offensive mutilation) adalah suatu tindakan irasional yang dilakukan dalam keadaan mengamuk, “frenzied state of mind”. Mutilasi kadang dilakukan sebelum membunuh korban.

Untuk dapat dikategorikan mutilasi sebagai tindak pidana dipergunakan kategori bahwa sebuah tindakan haruslah menemui beberapa persyaratan, yaitu tindakan telah tersebut didalam ketentuan hukum sebagai tindakan yang terlarang baik secara formil atau materil itu mengikuti KUHP sebagai pedoman bagi semua ketentuan hukum pidana nasional yang berlaku. KUHP membedakan tindak pidana kedalam dua bentuk, kejahatan (misdrijven) dan pelanggaran (overtredingen). Sebuah tindakan disebut kejahatan jika terdapat unsur-unsur jahat dan tercela seperti yang ditentukan didalam undang-undang.

Sampai saat ini belum ada ketentuan hukum pidana yang mengatur tindak pidana mutilasi ini secara jelas dan tegas, namun tidak berarti pelaku dengan bebas melakukan perbuatannya tanpa adanya hukuman. Tindak mutilasi pada hakekatnya merupakan tindakan yang sadis dengan maksud untuk menghilangkan nyawa, meniadakan identitas korban oleh karena itu sangatlah jelas bahwa tindak mutilasi dikelompokkan ke dalam tindak pidana kejahatan.

Mengenai ketentuan hukum pidana yang mengatur, KUHP sebenarnya memberikan pengaturan yang bersifat dasar, misalnya mutilasi sebagai salah satu bentuk penganiayaan, penganiayaan berat atau tindak pidana pembunuhan. Hanya saja dalam kasus yang sering terjadi jarang pelaku melakukan mutilasi

bermotifkan penganiayaan, tindakan mutilasi sering kali terjadi sebagai rangkaian tindakan pembunuhan dengan tujuan agar bukti mayat tidak diketahui identitasnya.

F. Metode Penelitian.

Dokumen terkait