• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM TERHADAP PENJATUHAN SANKSI KEPADA

D. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sitem Peradilan Pidana Anak bertujuan untuk mengatasi kekosongan hukum, untuk melaksanakan mekanisme pelaksanaan diversi sebelum lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang belum Berumur 12 Tahun.

Berdasarkan Pasal 2 Perma Nomor 4 Tahun 2014 diversi diberlakukan terhadap anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetpai belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah berumur 12 (dua belas) tahun meskipun pernah kawin tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun, yang diduga melakukan tindak pidana. Hakim anak wajib mengupayakan diversi dalam hal anak didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara dibawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7

(tujuh) tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidaritas, alternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan).103

Pelaksanaan diversi di pengadilan dimulai dengan tahap persiapan kemudian tahap musyawarah diversi. Pasal 5 ayat (1) menjelaskan musyawarah diversi dibuka oleh fasilitator diversi dengan perkenalan para pihak yang hadir, menyampaikan maksud dan tujuan musyawarah diversi, serta tata tertib musyawarah untuk disepakati oleh para pihak yang hadir.

Fasilitator diversi menjelaskan ringkasan dakwaan dan pembimbing kemasyarakatan memberikan informasi tentang perilaku dan keadaan sosial anak serta memberikan saran untuk memperoleh penyelesaian. 104 Fasilitator diversi menuangkan hasil musyawarah ke dalam kesepakatan diversi.105

Kesepakatan diversi ditandatangani oleh para pihak dan dilaporkan kepada ketua pengadilan.106 Ketua pengadilan dapat mengembalikan kesepakatan diversi untuk diperbaiki fasilitator diversi apabila tidak memenuhi syarat, selambat-lambatnya dalam waktu tiga hari.107 Setelah menerima penetapan dari ketua pengadilan, hakim menerbitkan penetapan penghentian pemeriksaan perkara.108

103 Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

104 Pasal 5 ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

105 Pasal 5 ayat (8) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

106 Pasal 6 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

107 Pasal 6 ayat (4) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

108 Pasal 6 ayat (5) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

Hakim melanjutkan pemeriksaan peprkara sesuai dengan hukum acara peradilan pidana anak, dalam hal kesepakatan diversi tidak dilaksanakan sepenuhnya oleh para

pihak berdasarkan hasil laporan dari pembimbing kemasyarakatan balai pemasyarakatan.109 Hakim wajib mempertimbangkan pelaksanaan sebagian kesepakatan diversi diversi dalam menjatuhkan putusan.110

a. Kategori tindak pidana

Proses diversi dilakukan melalui uppaya musyawarah dengan melibatkan anak dan orang tua/walinya, korban atau anak korban dan/atau orang tua/walinya, pembimbing kemasyarakatan dan pekerja sosial profesional berdasrkan pendekatan keadilan restoratif. Dalam melaksanakan musyawarah diversi terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Syarat-syarat pelaksanaan diversi tersebut sebagai berikut:

Diversi dalam pelaksanaannya tidak dapat dilaksanakan terhadap semua kategori tindak pidana, diversi wajib dilakukan terhadap perkara pidana anak yang diduga melakukan tindak pidana yang diancam dengan hukuman 7 (tujuh) tahun penjara seperti pembunuhan, pemerkosaan,pengedar narkoba, dan terorisme. Diversi juga tidak dapat dilakukan terhadap pengulangan tindak pidana.111

b. Usia pelaku

Diversi hanya dilaksanakan terhadao anak yang berkonflik dengan hukum dan telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana, apabila seseorang anak telah melewati ketentuan umur yang diatur dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak maka anak tersebut menjalani proses peradilan pidana pada umumnya. Apabila seseorang yang menjadi pelaku kejahatan

109 Pasal 7 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

110 Pasal 7 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

111 Hasil Wawancara dengan Bapak Fauzi Hakmdi (Hakim Pengadilan Negeri Medan) Pada tanggal 03 September 2017.

belum berumur 12 (dua belas) tahun, maka penyelesaian perkara anak sebaiknya diselesaikan ditingkat penyidikan dan terhadap anak yang berusia 12 (dua belas) tahun yang diajukan ke pengadilan sebagai terdakwa maka berdasarkan Undang-Undang, anak tersebut belum boleh ditahan.112

c. Persetujuan Diversi dari Pihak Korban

Diversi tidak dapat dilaksanakan apabila tidak dappat persetujuan dari pihak korban. Diversi dilakukan melalui musyawarah dengan melibatkan anak dan orangtua/walinya, korban atau anak korban dan/atau orangtua/walinya, pembimbing kemasyarakatan dan pekerja sosial profesional. Diversi dapat dilaksanakan tanpa persetujuan dan/atau keluarga anak korban apabila tindak pidana yang dilakukan beriupa pelanggaran, tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban dan nilai kerugian korban tidak lebih dari nilai upah minimum provinsi setempat.

d. Fasilitator Diversi

Diversi dalam pelaksanaannya sangat membutuhkan fasilitator atau yang biasa disebut fasilitator diversi. Fasilitator dalam pelaksanaan diversi di pengadilan negeri ialah yang ditunjuk oleh ketua pengadilan negeri sebagai pemeriksa perkara.113

e. Pembimbing Kemasyarakatan

Pembimbing kemasyarakatan adalah pejabat fungsional penegak hukum yang melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pembimbing, pengawasan, dan pendamping terhadap anak di dalam dan di luar proses peradilan anak.114

f. Prosedur Diversi di Pengadilan Negeri

112 Hasil Wawancara dengan Bapak Fauzi Hakmdi (Hakim Pengadilan Negeri Medan) Pada tanggal 03 September 2017.

113 Hasil Wawancara dengan Bapak Fauzi Hakmdi (Hakim Pengadilan Negeri Medan) Pada tanggal 03 September 2017.

114 Pasal 13 angka (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Diversi yang dilakukan harus memperhatikan hak yang dimiliki oleh anak yang diatur oleh Undang-Undang, UUD 1945, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatran, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor I/PUU-VIII/2010 dan Keputusan bersama Ketua Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Menkumham, Mensos, Meneg PP, dan PA Tentang Penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum.

Jaminan hak anak yang sedang mengikuti proses peradilan pidana dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yaitu:

1. diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai dengan umurnya;

2. dipisahkan dari orang dewasa;

3. memperoleh bantuan hukum dan bantuan secara efektif;

4. melakukan kegiatan rekreasional;

5. bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, yang tidak manusiawi, serta merendahkan derajat dan martabatnya;

6. tidak dijatuhi pidana mati atau pidana penjara seumur hidup;

7. tidak ditangkap, ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam waktu yang singkat;

8. memperoleh keadilan di muka pengadilan anak yang objektif, tidak memihak, dan dalam sidang yang tertutup untuk umum;

9. tidak dipublikasikan identitasnya;

10. memperoleh pendampingan orangtua/wali dan orang yang dipercaya oleh anak;

11. memperoleh advokasi sosial;

12. memperoleh akses aksebilitas, terutama bagi anak cacat;

13. memperoleh pendidikan;

14. memperolehpelayanan kesehatan; dan

15. memperoleh hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.115

115 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

BAB III

PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN KEPADA ANAK

(STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MEDAN Nomor: 31/Pid.Sus-Anak/2016/PN.Mdn)

A. Posisi Kasus dalam Putusan PN. Mdn No. 31/Pid.Sus-Anak/2016/PN.Mdn 1. Kronologis

Dalam kasus ini, identitas dari terdakwa anak adalah sebagai berikut : Nama lengkap : SIMSON NANDITO SIAGIAN

Tempat lahir : Medan

Umur/tanggal lahir : 16 tahun/ 02 Februari 1999 Jenis kelamin : Laki-laki

Kebangsaan : Indonesia

Tempat tinggal : Jalan Jaring Udang I Mawar Lingkungan 28 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan

Agama : Kristen

Pekerjaan : Pelajar

Pendidikan : SMP

Simson Nandito Siagian (selanjutnya disebut Terdakwa Anak) pada hari Sabtu, tanggal 04 Juni 2016 sekitar pukul 20.00 wib, atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam bulan Juni 2016, bertempat di pinggir lapangan kosong yang berlokasi di Jalan Jaring Udang I Mawar Lingkungan

28 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan atau setidak-tidaknya pada tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Medan, telah melakukan tindak pidana, dimana perbuatannya tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Awalnya sekitar pukul 20.00 wib, Terdakwa Anak datang ke pinggir lapangan kosong di Jalan Jaring Udang I Mawar Lingkungan 28 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan dan Terdakwa Anak berkumpul dan berbincang-bincang bersama saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat dan beberapa orang yang Terdakwa Anak tidak ketahui namanya dalam keadaan berdiri lalu Josua Afrianto Nababan (selanjutnya disebut Korban Anak) datang dan ikut berbincang-bincang bersama Terdakwa Anak, saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat sekira pukul 23.00 wib.

Lalu Korban Anak yang sudah lama tidak senang kepada Terdakwa Anak menunjuk Terdakwa Anak dengan telunjuk kanan sambil mengatakan kepada Terdakwa Anak “Simson Nandito Siagian, kau jangan sok jago sama aku, kalau kau tidak senang panggil semua keluargamu untuk melawan aku, kecil kali kau melawan aku” sebanyak 2 (dua) kali lalu Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak mencekik leher Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri Korban Anak yang mana Terdakwa Anak tidak melakukan perlawanan.

Namun Korban Anak kembali ketempat duduknya kemudian tidak beberapa lama Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak kembali dan Korban Anak terus mengatakan hal yang diucapkan pertama kali sambil menolak badan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh terlentang lalu Terdakwa Anak berdiri kembali setelah itu Terdakwa Anak mengambil pisau belati yang sudah Terdakwa Anak simpan di bawah pohon bunga dengan jarak

2 (dua) meter lalu Korban Anak memiting leher Terdakwa Anak dengan mempergunakan tangan kiri Korban Anak lalu Korban Anak menjegel kaki kanan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang dan pada saat Terdakwa Anak jatuh telentang Korban Anak menarik kerah baju Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri yang mengakibatkan Terdakwa Anak berdiri kembali.

Kemudian Korban Anak menarik Terdakwa Anak hingga ke dada Korban Anak dan pada saat itu Terdakwa Anak menusukkan pisau belati yang sudah Terdakwa Anak pegang di tangan kanan Terdakwa Anak ke arah perut sebelah kiri Korban Anak sebanyak 1 (satu) kali dan Terdakwa Anak langsung mencabut pisau belati tersebut kemudian Terdakwa Anak melemparkan pisau belati tersebut ke arah kolam-kolam ikan lele milik penduduk yang jaraknya

± 10 (sepuluh) meter yang Terdakwa Anak tidak ketahui secara pasti sedangkan Korban Anak terus duduk kembali di jalan di pinggir lapangan kosong lalu Korban Anak tertidur dan muntah mengeluarkan darah di jalan dan pada saat itulah Terdakwa Anak melihat dari perut sebelah kiri Korban Anak mengeluarkan darah.

Kemudian Terdakwa Anak memanggil saksi Nasib Rezeki Siagian yang merupakan abang kandung Terdakwa Anak dan Korban Anak dibawa ke RSU PAC Belawan namun Korban Anak mengalami luka tusuk yang parah sehingga harus di rujuk ke RSU Martha Friska namun RSU Martha Friska tidak dapat melakukan perawatan kemudian Korban Anak dibawa lagi ke RSU Dr.

Pringadi Medan mendapat perawatan dan tidak beberapa lama Korban Anak meninggal dunia di RSU Dr. Pringadi Medan.

Akibat perbuatan Terdakwa Anak, korban anak Josua Afrianto Nababan meninggal dunia sesuai dengan visum et repertum No: 32/VI/IKK/VER/2016 tertanggal 05 Juni 2016 atas nama Josua Afrianto Nababan yang ditanda tangani dr. H. Mistar, Ritonga, Sp.F dokter pada Rumah

Sakit Umum Dr. Pringadi Medan dengan kesimpulan penyebab kematian Korban Anak adalah perdarahan yang banyak pada rongga perut yang disebabkan oleh luka tusuk pada perut kiri atas yang menembus penggantung usus halus, usus halus dan pembuluh nadi besar perut (aorta abdominalis).

2. Dakwaan

Dalam surat dakwaan yang telah disusun oleh Jaksa Penuntut Umum, Terdakwa Anak didakwa telah melanggar pasal-pasal sebagai berikut :

Pertama

Primair : Pasal 340 KUHP jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, bahwa Terdakwa Anak dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain.

Subsidair : Perbuatan Terdakwa Anak sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut Pasal 338 KUHP jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak, bahwa Terdakwa Anak dengan sengaja merampas nyawa orang lain.

Ke Dua : Perbuatan Terdakwa Anak diatur dan diancam pidana menurut Pasal 80 ayat (3) jo. Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa Terdakwa Anak

menempatkan, membiarkan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak, menyababkan mati.

3. Tuntutan Pidana

Selanjutnya dalam surat tuntutan pidananya, Jaksa Penuntut Umum meminta agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang memeriksa dan mengadili perkara Terdakwa Anak memutuskan sebagai berikut :

a) Menyatakan Anak Simson Nandito Siagian (Terdakwa Anak) terbukti bersalah melakukan tindak pidana “melakukan kekerasan yang mengakibatkan mati” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 80 ayat (3) jo. Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Peradilan Anak dalam Surat

Dakwaan Alternatif Kedua Penuntut Umum;

b) Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terakwa Anak Simson Nandito Siagian selama 6 (enam) tahun dikurangi selama anak berada dalam tahanan sementara dengan perintah Terdakwa Anak tetap ditahan;

c) Menetapkan agar Terdakwa Anak Sismson Nandito Siagian membayar biaya perkara sebesar Rp. 5000,- (lima ribu rupiah).

4. Fakta hukum

Adapun fakta-fakta hukum yang diperoleh dari persidangan yang dilaksanakan pada pokoknya adalah sebagai berikut :

a) Bahwa pada hari Sabtu tanggal 04 Juni 2016 sekitar pukul 23.00 wib bertempat di depan lapangan kosong Jalan Jaring Udang I Mawar Lingkungan 28 Kelurahan Pekan Labuhan

Kecamatan Medan Labuhan telah terjadi penikaman hingga mengakibatkan Josua Afrianto Nababan (Korban Anak) meninggal dunia;

b) Bahwa benar Terdakwa Anak mengambil undangan kelulusan kemudian Terdakwa Anak menerima undangan kelulusan dikeluarkan dari pihak sekolah SMP Hangtuah Belawan sekitar pukul 10.00 wib;

c) Bahwa benar Terdakwa Anak pergi ke Pajak Belawan dan Terdakwa Anak membeli 1 (satu) bilah pisau belati dari tukang jual pisau yang jalan-jalan di Pajak Belawan dengan harga Rp.

6.000,- (enam ribu rupiah);

d) Bahwa benar Terdakwa Anak menyimpan pisau tersebut di bawah pohon bunga di pinggir lapangan kosong yang merupakan tempat Terdakwa Anak berkumpul bersama teman-teman Terdakwa Anak sekitar pukul 15.00 wib untuk dipergunakan Terdakwa Anak mencuri tebu bersama teman-teman Terdakwa Anak dan Terdakwa Anak langsung pulang ke rumah;

e) Bahwa benar Terdakwa Anak berkumpul dan berbincang-bincang bersama saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat dan beberapa orang yang Terdakwa Anak tidak ketahui namanya dalam keadaan berdiri;

f) Bahwa benar Terdakwa Anak didatangi Korban Anak Josua Afrianto Nababan yang masih berusia 17 (tujuh belas) tahun dan ikut berbincang-bincang bersama Terdakwa Anak, saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat sekitar pukul 23.00 wib;

g) Bahwa benar Terdakwa Anak ditunjuk Korban Anak yang sudah lama tidak senang kepada Terdakwa Anak menunjuk sambil mengatakan kepada Anak “Simson Nandito Siagian, kau jangan sok jago sama aku, kalau kau tidak senang panggil semua keluargamu untuk melawan aku, kecil kali kau melawan aku” sebanyak 2 (dua) kali;

h) Bahwa benar Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak mencekik leher Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri Korban Anak yang mana Terdakwa Anak tidak melakukan perlawanan;

i) Bahwa benar Korban Anak kembali ketempat duduknya kemudian tidak beberapa lama Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak kembali dan Korban Anak terus mengatakan hal yang diucapkan pertama kali sambil menolak badan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang lalu Terdakwa Anak berdiri kembali;

j) Bahwa benar Terdakwa Anak dengan spontan mengambil pisau belati yang sudah Terdakwa Anak simpan di bawah pohon bunga dengan jarak 2 (dua) meter;

k) Bahwa benar Korban Anak memiting leher Terdakwa Anak dengan mempergunakan tangan kiri Korban Anak lalu Korban Anak menjegel kaki Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang dan pada saat Terdakwa Anak jatuh telentang Korban Anak menarik kerah baju Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri yang mengakibatkan Korban Anak berdiri kembali kemudian Korban Anak menarik Terdakwa Anak hingga ke dada Korban Anak;

l) Bahwa benar Terdakwa Anak pada saat itu menusukkan pisau belati yang suda Terdakwa Anak pegang di tangan kanan Terdakwa Anak ke arah perut sebelah kiri Korban Anak sebanyak 1 (satu) kali dan Terdakwa Anak langsung mencabut pisau belati tersebut;

m) Bahwa benar Terdakwa Anak melemparkan pisau belati ke arah kolam-kolam ikan lele dengan spontan milik penduduk yang jaraknya ± 10 (sepuluh) meter yang Terdakwa Anak tidak ketahui secara pasti;

n) Bahwa benar Terdakwa Anak melihat Korban Anak terus duduk kembali dijalan di pinggir lapangan kosong lalu Korban Anak tertidur dan muntah mengeluarkan darah di jalan;

o) Bahwa benar Terdakwa Anak memanggil saksi Nasib Rezeki Siagian yang merupakan abang kandung Terdakwa Anak;

p) Bahwa benar Terdakwa Anak tidak mengetahui keberadaan Korban Anak lagi karena Terdakwa Anak langsung pulang ke rumah;

q) Bahwa benar Terdakwa Anak tidak memiliki permasalah dengan Korban Anak;

r) Bahwa benar Terdakwa Anak menyerahkan diri ke Polsek Medan Labuhan dibawa keluarga Terdakwa Anak.

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah diperoleh sebelumnya, Majelis Hakim lalu mempertimbangkan apakah Terdakwa Anak dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Oleh karena Terdakwa Anak didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan Alternatif, sehingga apabila dakwaan yang dimaksudkan telah terbukti maka pasal yang lain tidak perlu dihiraukan lagi

5. Pertimbangan Hukum

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah diperoleh sebelumnya, Majelis Hakim lalu mempertimbangkan apakah Terdakwa Anak dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Oleh karena Terdakwa Anak didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum dengan dakwaan Alternatif, maka Majelis Hakim langsung membuktikan pada dakwaan kedua yaitu : Pasal 80 ayat (3) jo. Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Peradilan Pidana Anak.

Dakwaan alternatif sebagaimana diatur dalam Pasal 80 ayat (3) jo. Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2012

tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Peradilan Pidana Anak memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

1. Setiap orang; dan

2. Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati.

Kemudian Majelis Hakim mempertimbangkan masing-masing unsur di atas dengan pertimbangan sebagai berikut :

Ad. 1. Unsur Setiap orang

Yang dimaksud dengan setiap orang adalah barang siapa orang/pelaku dari suatu tindak pidana yang mampu bertanggungjawab menurut hukum. Jadi setiap orang yaitu menunjukkan orang yang melakukan perbuatan pidana tersebut dari keterangan para saksi, petunjuk dan keterangan anak adalah Terdakwa Anak Simson Nandito Siagian yang masih berusia 16 (enam belas) tahun.

Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum telah menghadirkan Simson Nandito Siagian sebagai Terdakwa Anak yang setelah ditanya identitasnya dan berdasarkan keterangan para saksi dan Terdakwa Anak sendiri di persidangan, maka benar bahwa Terdakwa Anak bernama Simson Nandito Siagian sehingga tidak terjadi salah orang (Error in Persona) dan dengan demikian unsur ini telah terpenuhi.

Ad. 2. Unsur Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan dari keterangan saksi-saksi, surat, petunjuk dan keterangan Terdakwa Anak menerangkan pada hari Sabtu tanggal 04 Juni 2016 sekira pukul 20.00 wib Terdakwa Anak datang ke pinggir lapangan kosong di Jalan Jaring

Udang 1 Mawar Lingkungan 28 Kelurahan Pekan Labuhan Kecamatan Medan Labuhan dan Terdakwa Anak berkumpul dan berbincang-bincang bersama saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat dan beberapa orang yang Terdakwa Anak tidak ketahui namanya dalam keadaan berdiri lalu Korban Anak Josua Afrianto Nababan yang masih berusia 17 (tujuh belas) tahun datang dan ikut berbincang-bincang bersama anak saksi Yosep Lamhot Simangunsong, saksi Saidem Siahaan, saksi Juanda Hutabarat sekira pukul 23.00 wib lalu Korban Anak yang sudah lama tidak senang kepada Terdakwa Anak menunjuk Terdakwa Anak dengan telunjuk kanan sambil mengatakan kepada Terdakwa Anak

“Simson Nandito Siagian, kau jangan sok jago sama aku, kalau kau tidak senang panggil semua keluargamu untuk melawan aku, kecil kali kau melawan aku”sebanyak 2 (dua) kali lalu Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak mencekik leher Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri Korban Anak yang mana Terdakwa Anak tidak melakukan perlawanan lalu Korban Anak kembali ketempat duduknya kemudian tidak beberapa lama Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak kembali dan Korban Anak terus mengatakan hal yang diucapkan pertama kali sambil menolak badan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang lalu Terdakwa Anak berdiri kembali setelah itu Terdakwa Anak mengambil pisau belati yang sudah Terdakwa Anak simpan di bawah pohon bunga dengan jarak 2 (dua) meter lalu Korban Anak memiting leher Terdakwa Anak dengan mempergunakan tangan kiri Korban Anak lalu Korban Anak menjegel kaki kanan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang

“Simson Nandito Siagian, kau jangan sok jago sama aku, kalau kau tidak senang panggil semua keluargamu untuk melawan aku, kecil kali kau melawan aku”sebanyak 2 (dua) kali lalu Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak mencekik leher Terdakwa Anak dengan menggunakan tangan kiri Korban Anak yang mana Terdakwa Anak tidak melakukan perlawanan lalu Korban Anak kembali ketempat duduknya kemudian tidak beberapa lama Korban Anak mendatangi Terdakwa Anak kembali dan Korban Anak terus mengatakan hal yang diucapkan pertama kali sambil menolak badan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang lalu Terdakwa Anak berdiri kembali setelah itu Terdakwa Anak mengambil pisau belati yang sudah Terdakwa Anak simpan di bawah pohon bunga dengan jarak 2 (dua) meter lalu Korban Anak memiting leher Terdakwa Anak dengan mempergunakan tangan kiri Korban Anak lalu Korban Anak menjegel kaki kanan Terdakwa Anak yang mengakibatkan Terdakwa Anak jatuh telentang

Dokumen terkait