• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA HUKUM TERHADAPA ANAK YANG DIBAWAH UMUR YANG MENJADI KORBAN DALAM PERSETUBUHAN

A. Pengertian Sanksi Dan Macam-Macam sanksi

1. Tindak Pidana Pemerkosaan

Tindak pidana pemerkosaan atau verkrachtingoleh pembentukan undang-undang telah di atur dalam pasal 285 KUHP, yang rumusan aslinya di dalam bahasa belanda berbunyi sebagai berikut:46

Hij die door geweld oof bedreiging med geweld eene vrouw dwingt med hem buiten echt vleeselijke gemeenschap te hebben, wordt, als schuldig aan ferkrachting, gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste twaalf jaren.

46 lamintang, 2011, kejahatan melangar norma dan kesusilaan,tentang

“pemerkosaan” cet.2, Jakarta, sinar grafika, hlm.96

45

Artinya:

Barang siapa dengan kekerasan atau dengan ancaman akan memakai kekerasan memaksa seorang wanita mengadakan hubungan kelamin di luar pernikahan dengan dirinya, kerena bersalah melakukan perkosaan di pidana dengan pidana penjara selama-lamanya 12 tahun.

Tindak pidana pemerkosaan yang di ataur dalam pasal 285 KUHP ternyata hanya mempunyai unsure-unsur objektif, masing masing yakni:

1. Barangsiapa

2. Dengan kekeasan atau

3. Dengan ancaman akan memakai kekerasan 4. Memaksa

5. Seorang wanita

6. Mengadakan hubungan kelamin di luar perkawinan 7. Dengan dirinya

Walaupun di dalam rimusanya undang-undang tidak mensyaratkan keharusan adanya unsur kesengajaan pada diri pelaku dalam melakukan perbuatan yang di larang dalam pasal 285 KUHP, tetapi dengan dicantumkanya unsur memaksa di dalam rumusan ketentuan pidana yang di ataur dalam pasal 285 KUHP, kiranya sudah jelas bahwa tindak pidana perkosaan seperti yang dimaksudkan dalam pasal 285 KUHP itu harus di lakukan dengan sengaja.47

47Ibid hlm, 96

Karena seperti yang telah di ketahui tindak pidana perkosaan dalam pasal 285 KUHP, harus dilakukan dengan sengaja, dengan sendirinya unsure kesengajaan tersebut harus di buktikan baik oleh penuntut umum maupun oleh hakim di sidang pengadilan yang memeriksa dan mengadili perkara pelaku yang oleh penuntut umum telah di dakwa melakukan larangan yang di atur dalam pasal 285 KUHP.48

Unsur objektif pertama dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsur barangsiapa

Kiranya sudah cukup jelas bahwa kata barangsiapa ini menunjuk-kan orang, yang apa bila orang tersebut memenuhi semua unsur dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP, maka ia dapat disebut sebagai pelaku dari tindak pidana perkosaan tersebut49

Unsur objektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsur dengan kekerasan.

Undang-undang tidak menjelaskan tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan kekerasan, bahkan didalam yurisprudensi pun tidak di jumpai adanya suatu putusan kasasi yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk memberikan arti yang setepat-tepatnya bagi kata kekerasan tersebut.

Menurut prof.simons, yang dimaksud dengan kekerasan atau geweld ialah elke uitoefening van lichamelicjke kracht van niet al te geringe betekenis.

Artinya, setiap pengunaan tenaga badan yang tidak terlalu tidak berarti atau het

48Ibid hlm, 98

49Ibid hlm, 98

47

aanwenden van lichamelicjke kracht van niet al te geringe intensiteit, Artinya, setiap pemakaian tenaga badan yang tidak terlalu rungan.50

Unsur objektif ketiga dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsur dengan ancaman akan memakai kekerasan.

Tentang apa yang dimaksud dengan ancaman akan memakai kekerasan itu pun, undang-undang ternyata tidak memberikan penjelasanya.

Menurut hoge raad dalama arrest-arrest-nya mengenai ancaman akan kekerasan tersebut disyaratkan yakni:

a. Bahwa ancaman itu harus diucapkan dalam keadaan yang demikian rupa, sehingga dapat menimbulkan kesan pada orang yang diancam, bahwa yang diancam itu benar-benar akan dapat merugikan kebebasan pribadinya;

b. Bahwa maksud pelaku memang telah ditunjukan untuk menimbulkan kesan seperti itu.

Dari arrest-arrest hoge raad tersebut,orang belum dapat memperoleh penjelasan tentang apa yang sebenarnya dimaksdu kan dengan ancaman dengan kekerasan atau akan memakai kekerasan, karena arrest-arrest tersebut hanya menjelaskan tentang caranya ancaman itu harus diucapkan

Karenan kekerasan tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai tenaga badan yang sifatnya tidak terlalu ringan, yakni seperti yang dikatakan oleh prof.simons, melainkan juga dapat dilakukan dengan memakai sebuah alat, sehingga tidak diperlukan adanya memakai tenanga badan yang kuat, misalnya

50Ibid hlm, 98

menembak dengan sepucuk senjata api, menjerat leher dengan suatas tali, menusuk dengan sebilah pisau dan lain-lainya, maka mengancam dengan memakai kekerasan itu harus diartikan sebagai suatu ancaman, yang apabila yang diancam tidak bersedia memenuhi keinginan pelaku untuk mengadakan hubungan kelamin dengan pelaku, maka ia akan melakukan suatu yang dapat berakibat merugikan bagi kebebasan, kesehatan atau keselamatan nyawa orang yang diancam.

Apakah untuk dapat menyatakan seseorang terdakwa terbukti telah mengancam atau memakai kekerasan itu, hakim perlu menyelidiki tentang kemungkinan terdakwa tidak akan melaksanakan ancamanya atau tentang kemungkinan terdakwa tidak akan dapat melaksanakan ancamanya, atau dengan kata lain, apah hakim perlu memastikan bahwa terdakwa benar benar akan melaksanakan ancamanya.

Hoge raad dalam arrest-nya telah memutuskan bahwa. Hakim tidak perlu memastikan apakah terdakwa benar-banar akan melaksanakan maksudnya, demikian juga apah maksudnya itu benar-benar akan dapat dilaksakan atau tidak. Hakim jugak tidak perlumemastikan apakah kata-kata yang dipakai terdakwa itu mempunyai arti yang tepat (sebagai ancaman sebagai kekrasan), asalkan maksudnya jelas.51

Unsure objektif keempat dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsur memaksa

51Ibid hlm, 98-99

49

Perbuatan memaksa dapat dilakukan dengan perbuatan dan dapat jugak dilakuakn dengan ucapan. Perbuatan membuat seorang wanita menjadi terpaksa bersedia mengadakan hubungan kelamin, harus dimaksudkan dalam pengertian memaksa seorang wanita mengadakan hubungan kelamin, walaupun yang meningalkan semua pakaian yang dikenakan oleh wanita itu adalah wanita itu sendiri.dalam hal ini kiranya sudah jelas, bahwa keterpaksaan wanita tersebut harus merupakan akibat dari pakaianya kekerasan akan dipakainya ancaman akan memakai kekerasan oleh pelaku atau oleh salah seorang dari para pelaku.52

Unsur objektif kelima dari tindak pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsure seorang wanita

Perlu diketahui bahwa bagi kejahatan terhadap kesusilaan, KUHP telah menyebut adanya bebagai wanita, masing masing yakni: wanita yang belum mencapai usia dua belas tahun (pasal287 ayat (2) KUHP), wanita yang belum mencapai usia lima belas tahun(pasal 287 ayat (1) dan pasal 290 angka 3 KUHP), wanita yang belum dapat dinikahi (pasal 288 ayat (1) KUHP), dan wanita pada umumnya. Wanita di bawah usia dua belas tahun

Satu-satunya alasan yakni karena di dalam pasa 287 ayat (2) wanita pada umumnya. Wanita di bawah usia dua belas tahun itu disebut gadis tidak berarti bahwa di dalam pasal 285 tidak disebutkan batas usia, maka pengertian wanita dalam pasal 285 itu harus harus di batasi pada wanita yang telah berusia dua

52Ibid

belas tahun ke atas. Oleh karena itu, kejahatan yang di atur dalam pasal 285 itu jugak dapat dilakukan terhadap seorang gadis di bawah usia dua belas tahun.53

Unsur objektif keenam dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsure mrngadakan hubungan kelamin di luar perkawinan.

Tentang bila mana suatu perbuatan mengadakan hubungan kelamin itu harus dipandang sebagai telah terjadi, jika persingungan di luar antara alat kelamin pelaku dengan kelamin korban seperti yang dimaksudkan dalam suatu persinggungan di luar antara alat-alat kelamin pria dan wanita itu bukan merupakan persatuan antara alat-alat kelamin tersebut, yang di yang di perlukan dalam suatu perkosaan.

Di atas terjadi karena pelaku ternyata tidak berhasil memasukan alat kelaminya ke dalam kelamin korban, misalnya karena korbannya telah memberikan perlawanan atau telah meronta-ronta, maka pelaku dapat dipersalahkan karena telah melakukan suatu percobaan pemerkosaan yakni melangar larangan yang diatur dalam pasal 53 ayat (1) jo. Pasal 285 KUHP, dan sesuai dengan ketentuan pidana yang di atur dalam pasal 53 ayat (2) KUHP, hakim dapat menjatuhkan pidana penjara selama lamanya delapan tahun bagi pelaku yakni sesuai dengan pidana pokok terberat yang diancamkan dalam pasal 285 KUHP di kurangi dengan sepertiganya.54

Unsur objektif ketujuh dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam pasal 285 KUHP ialah unsure dengan dirinya.

53Ibid hlm, 101

54Ibid hlm, 101

51

Yang dimaksud dengan kata-kata “dengan dirinya” ialah diri orang yang dengan kekerasan atau dengan ancaman akan memakai kekerasan telah memaksa korban untuk mengadakan hubungan kelamin di luar perkawinan.

Mengingat dalam perkara-perkara perkosaan sering terjadi bahwa perkosaan-perkosaan itu ternyata telah dilakukan oleh beberapa orang secara bersama-sama, timbul kini pertanyaan yakni bagaimana hukumnya seandainya orang yang dengan kekerasan telah memaksa korban untuk melakukan hubungan kelamin di luar perkawinan ternyata bukan merupakan orang yang telah memasukkan alat kelaminya ke dalam alat kelamin korban, apah orang tersebut dapat disebut sebagai pelaku dari tindak pidana perkosaan yang terjadi.

Dalam suatu perkara pemerkosaan, yang dalam pelaksanaanya hanya menghasilkan suatu percobaan untuk melakukan perkosaan yang dilakuakn oleh beberara orang antara lain telah memutuskan bahwa:

Jika tindakan-tindakan dari setiap terdakwa atau pun dari salah satu seorang dari terdakwa - tidak dengan seendirinya dapat dianggap, melainkan jika dihubungkan dengan tindakan-tindakan orang lain - menghasilkan suatu perkosaan, maka perbuatan dari mereka yang tidak melakuakn sendiri semua perbuatan, agar yang dilakukan itu dapat di sebut sebagai perkosaan, harus diberikan kualifikasi sebagai turut melakuakan kejahatan ini; khususnya turut melakukan perkosaan kejahatan perkosaan.

Ketentuan pidana tentang tindak pidana perkosaan, yang dewasa ini di atur dalam pasal 285 KUHP, oleh badan pembinaan hukum Nasional departemen

hukum dan HAM RI telah diangap perlu untuk dipertahankan di dalam KUHP yang baru, yakni seperti yang dapat diketahui dari usulkannya sutau ketentuan pidana untuk di cantumkan didalam KUHP yang baru, yang rumusanya berbunyi sebagai berikut:

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan istrinya bersetubuh denganya, dipidana karena perkosaan dengan pidana penjara sekurang-kurangnya dua belas tahun.

Jika membandingkan dengan isi ketentuan pidana dalam pasal 14.09 yang direncanakan oleh badan hukum Nasional depertemen hukum dan HAM RI tersebut dengan isi ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP, dapat diketahui bahwa di dalam ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP, anatar lain telah mensyaratkan bahwa hubungan kelamin atau di luar pernikahan harus dipaksakan untuk melakukan hubungan, artinya di luar perkawinan sedangkan di dalam ketentuan pidana yanag di rencanakan oleh badan Pembinaan Hukum Nasional depertemen hukum dan HAM RI antara lain hanya mensyaratkan bahwa pemaksaan untuk bersetubuh dengan pelaku itu dilakuakn terhadap seorang wanita yang bukan istrinya.

Kiranya cukup bijaksana bagi pembentuk undang-undang untuk mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang mungkin dapat timbul sebelum menyetujui isi rencana pasal 14.09 tersebut menjadi suatau ketentuan pidana di dalam KUHP yang baru, mengingat untuk dapat di sebut seorang istri itu, belum tentu wanita tersebut merupakan seorang wanita yang telah menikah secara sah menurut undang-undang yang berlaku, misalnya seorang wanita

53

yang hanya kawin menurut adat, wanita yang kawin dengan seorang pria yang telah beristri tanpa ada izin dari istrinya tersebut dan lain-lain.

Perbedaan kedua anatar isi rencana pasal 14.09 yang di buat oleh badan pembinaan hukum nasional depertemen hukum dan HAN RI dengan isi ketentuan pidana yang diatur dalam pasal 285 KUHP adalah tentang sistem yang di pakai untuk menentukan ancaman pidana, karena baru untuk pertama kalinya terjadi suatu tindak pidana itu di ancam dengan suatu jenis pidana pokok, yang lamanya di tentukan dengan cara menyebutkan suatu tenggang waktu minimal dari pidana yang dapat di putuskan oleh hakim.55

2.Tindak PidanaKekerasan Atau Ancaman Yang Melangar Kesusilaan Tindak pidana kekerasan atau dengan ancaman akan kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau untuk membiarkan dilakukannya tindakan-tindakan melangar kesusilaanoleh itu pembentuk undang-undang telah di ataur dalam pasal 289 KUHP, yang rumusan aslinya di dalam bahasa belanda:56

Hij die door geweld of bedreiging met geweld iemand dwingt tot het plegen of dulden van ontuchting hendelingen, wordt, als schuldig aan feitelijke aanranding van de eerbaarheid, gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste negen jaren

Artinya:

Barang siapa dengan kekerasan atau dengan ancaman akan memakai kekerasan memaksa seseorang melakukan atau untuj membiarkan di

55Ibid

56Lamintang.OP.CIT hlm.129

lakuakanya tindakan-tindakan yang sifatnya melanggar kesusilaan, karena bersalah secara nyata merusak kesusilaan,dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya Sembilan tahun.

Tindak pidana yang di atur dalam pasal 289 KUHP hanya berdiri atsa unsure-unsur objektif, masing-masing yakni:57

1. Barang siapa

2. Dengan kekerasan atau dengan ancaman akan memakai kekerasan 3. Memaksa seseorang

4. Untuk melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya melangar kesusilaan atau

5. Untuk membiarkan dilakuakannya tindakan-tindakan yang sifatnya melangar kesusilaan.

Walaupun undang-undang tidak mensyaratkan keharusan anadanya unsur kesengajaan pada diri pelaku dalam melakukan tindak pidana seperti yang dimaksud dalam pasal 289 KUHP, tetapi dengan disyaratkanya unsure memaksa dalam melakuan tindak pidana tersebut, kiranya sudah jelas bahwa tindak pidana yang di maksudkan dalam pasal 289 KUHP itu harus dilakuakan dengan sengaja, yakni karena perbuatan memaksa ornang lain itu tentunya tidak dapat dilakuakan dengan tidak sengaja.58

PASAL 289 KUHP

barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakuakan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan

57Ibid

58Ibid hlm, 130

55

cabul, di hukum karena merusakkan kesopanan dengan hukuman penjara selama-lamanya Sembilan tahun. (K.U.H.P. 37,89, 281,290,291,298,335).

1.yang dimaksud dengan “perbuatan cabul” ialah segala perbuatan yang melangar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu berahi kelamin misalnya:

cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, dan lain-lain.

2.yang dilarang dalam pasal ini bukan saja memaksa orang untuk melakukan perbuatan cabul, tetapi jugak memaksa orang untuk membiarkan di lakuakan pada dirinya perbuatan cabul.

3.tentang kekerasan pasal 89 PASAL 290 KUHP

Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun dihukum:59

1e. barang siapa melakukan perbutan cabul dengan seseorang,sedang di ketahuinya bahwa seseorang itu pingsan atau tidak berdaya.

2e. barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup lima belas (15) tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa orang itu belum masanya di kawin.

3e. barang siapa membujuk (mengoda) seseorang, yang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orng itu belum cukup lima belas (15) tahun kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa ia belum masanya buat kawin, atau melakuakan atau membiarkan dilakukan

59Ibid

pada dirinya perbuatan cabul, atau akan bersetubuh dengan tiada kawin (K.U.H.P. 37,389,281,298)

1. pasal ini mengatakan tentang, perbuatan cabul isinya hamper sama dengan pasal 286 dan 287, hanya kedua pasal ini menghendaki nyata-nyata persetubuhan. Tentang perbuatan cabul

2. menurut pasal ini dapat dihukum juga:

a. Orang yang membujuk atau mengoda seseorang yang umurnya belum cukup lima belas (15) tahun atau belum masanya di kawin untuk melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul:

atau

b. Orang yang membujuk atau mengoda seseorang (laki-laki atau perempuan) yang belum cukup lima belas (15) tahunatau belum masanya di kawin untuk persetubuhan dengan orang lain diluar nikah B . Pengenaan Pidana

Setiap anak yang menjadi korban dalam tindak pidana berhak mendapat perlindungan hukum mengingat pertimbangan bahwa anak merupakan amanah dan karunia tuhan yang maha Esa yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya Kemudian untuk menjaga harkat dan martabatnya, anak berhak mendapatkan perlindungan khusus, terutama perlindungan hukum dalam sistem peradilan.60

60mohammad taufik makarao, 2014, tentang “ hukum sistem peradilan pidana anak “ PT, rineka cipta, Hal, 65

57

Menurut pasal 1 UU nomer 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak menyatakan, dalam undang-undang ini yang di maksud dengan :

1. Sistem peradilan pidana anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyidikan, sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

2. Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.

Dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelengaraan perlindungan anak, dengan undang-undang inidi bentuk komisi perlindungan anak indonesia yang bersifat independen. Oleh karena itu, maka perlu memberi sanksi pidana terhadap seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap anak di bawah umur, hal ini di lakukan supaya memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana pencabulan anak.

ketentuan sanksi dalam perkara pidana menurut undang-undang perlindungan anak UU RI No. 35 tahun 2014 dari berbagai pasal yaitu sebagai berikut :

PASAL 77

setiap orang yan dengan sengaja melakukan tindakan

a. diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya ;atau

b. penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, maupun sosial,

c. di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan /atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

PASAL 81

a. setiap orang yang dengan sengaja ,elakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengan atau dengan orang lain, di pidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

b. Ketentuan pidana sebagaimana di maksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengan atau dengan orang lain.

PASAL 82

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, di pidana dengan pidana penjara paling

59

lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60. 000.000,00 (enam puluh juta rupiah)

Dari pandangan teoritik dan praktik bahwasanya tujuan penanganan perkara pidana pada umumnya adalah mencari atau mendapatkan kebenaran moril maupun materil guna mempertahankan kepentingan umum.61

Adanya peratutran perundang–undangan tentang perlindungan anak adalah salah satu bentuk upaya nyata dapat di lakukan untuk memenuhi setiap hak dan kewajiban anak. Pada saat berlakunya undang-undang ini, semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak yang sudah ada di nyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini.

Terciptanya undang-undang perlindungan anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak, dengan undang-undang uni di bentuk komisi perlindungan anak indonesia yang bersifat independen. Sehingga setiap pelanggaran yang di lakukan kepadan anak dibawah umur harus mendapatkan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang sudah di tetapkan.

61 Lilik mulyadi, S.H., M.H. 2005, tentang “ pengadilan anak di indonesia “ PT, mandar maju, Hal, 76

60

Dari pembahasan di atas, dapat di simpulkan :

1. Upaya perlindungan anak perlu di laksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas Nondiskriminasi, Kepentingan yang terbaik bagi anak, Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, Penghargaan terhadap pendapat anak.

2. dengan undang-undang ini di bentuk komisi perlindungan anak indonesia yang bersifat independen. Oleh karena itu, maka perlu memberi sanksi pidana terhadap seseorang yang melakukan pelanggaran terhadap anak di bawah umur, hal ini di lakukan supaya memberikan efek jera terhadap pelaku tindak pidana pencabulan anak. ketentuan sanksi dalam perkara pidana menurut undang-undang perlindungan anak undang-undang RI Nomor. 35 tahun 2014 dari berbagai pasal, yakni pasal 77, pasal 81 dan pasal 82

61

B. Saran

1. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi masyarakat.

Masyarakat sangat berkepentingan bahwa dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, keadilan di perhatikan

2. harus di lakukan dengan benar. Hukum harus di tegakan dan di berlakukan kepada siapa saja. Dalam praktiknya, dalam melakukan penegakan hukum di pengaruhi oleh berbagi faktor. Faktor – faktor dalam mempengaruhi penegakan hukum adalah faktor hukumnya sendiri (UU), faktor penegak hukum, faktor sarana atau fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor sosial.

Dokumen terkait