BAB II TINDAK PIDANA MENANGKAP IKAN SECARA ILLEGAL 22
B. Tindak Pidana Penangkapan Ikan Secara Tidak Sah (Illegal
32
atau jika dilihat dari sudut perbuatannya, perbuatannya baru dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut.49 Unsur-unsur dari pertanggungjawaban pidana sendiri adalah kemampuan bertanggungjawab pelaku tindak pidana, kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa).
B. Tindak Pidana Penangkapan Ikan Secara Tidak Sah (Illegal Fishing) Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam
1. Jarῑmah
a. Pengertian Jarῑmah
Dalam hukum Islam, istilah tindak pidana disebut Jarῑmah (arab). Pengertian jarῑmah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mawardi adalah sebagai berikut.
َ اَ ل
َ جَ
رَ ئا
َ مَ
َ مَ ح
َ ظ
َ وَ ر
َ تا
َ
َ شَ ر
َ ءَ ي
َ ةََ
زَ ج
َ ر
َ للا
ََ تَ ع
َ لا
َ عَى
َ نَ ه
َ بَا
َ ح
َ دَ
َ أَ و
ََ تَ ع
َ زَ يَ ر
َ
‚Jarῑmah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara’ yang diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta’zῑr.‛50
Suatu perbuatan dapat dinamakan suatu jarῑmah (tindak pidana, peristiwa pidana atau delik) jika perbuatan tersebut menyebabkan kerugian bagi orang lain atau masyarakat baik berupa fisik (anggota badan atau jiwa), harta benda, keamanan, atau aturan masyarakat, nama baik, perasaan atau hal-hal yang harus dipelihara dan dijunjung tinggi keberadaannya. Artinya, jarῑmah adalah dampak dari perilaku
49 Ibid., 156-157.
33
tersebut yang menyebabkan kepada pihak lain, baik berbentuk material (jasad, nyawa atau harta benda) maupun yang berbentuk non materi atau gabungan non fisik seperti ketenangan, ketentraman, harga diri, adat istiadat dan sebagainya.51
Dengan begitu, jarῑmah dalam shara’ hampir sesuai dengan pengertian hukum pidana positif yang menurut Tresna yaitu ‚rangkaian dari suatu perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan perundangan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman‛. Menurut pengertian tersebut suatu perbuatan itu baru dianggap sebagai tindak pidana, apabila bertentangan dengan undang-undang dan diancam dengan hukuman. Apabila perbuatan itu tidak bertentangan dengan hukum (undang-undang), artinya hukum tidak melarangnya dan tidak ada hukumannya dalam undang-undang maka perbuatan itu tidak dianggap sebagai tindak pidana.52
Menurut A. Djazuli, jarῑmah mempunyai dua unsur, di antaranya adalah unsur umum dan unsur khusus. Unsur umum jarῑmah adalah unsur-unsur yang terdapat pada setiap jenis jarῑmah, sedangkan unsur khusus jarῑmah adalah unsur-unsur yang hanya terdapat pada jenis jarῑmah tertentu dan tidak terdapat pada jenis jarῑmah yang lain.53
51 Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), 17.
52 Muslich, Pengantar dan Asas, 10.
53 Djazuli, Fiqih Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan dalam Islam) (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), 12
34
Unsur umum jarῑmah tersebut seperti yang telah dikemukakan oleh Abd. Al Qadir Audah, unsur-unsur tindak pidana dibagi menjadi tiga, yaitu:54
1) Unsur formal )يعرشلا نكرلا(
Ketentuan shara’ atau nass yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum, atau adanya nass (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud. Misalnya, ketentuan hukum pencurian telah ditetapkan di dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 38, yaitu dipotong tangannya.55
2) Unsur material )يداملا نكرلا(
Suatu pidana yang berupa tidakan nyata atau tidak berbuat. Perilaku yang membentuk jarῑmah, baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum. Misalnya, pencurian mrupakan tindakan pelaku memindahkan atau mengambil barang milik orang lain.56
3) Unsur moral )يبدلأا نكرلا(
Unsur ini disebut juga al-mas’uliyyah al-Jinayah atau penanggungjawaban pidana. Maksudnya pelaku tindak pidana atau delik haruslah orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu, pelaku tindak pidana harus
54 Sahid, Epistimologi Hukum Pidana Islam (Dasar-dasar Fiqh Jinayah), (Surabaya: Pustaka Idea, 2015), 11.
55 Ibid., 12.
35
orang yang dapat memahami hukum, mengenai isi beban, dan sanggup menerima beban tersebut.57
Dalam hukum pidana islam suatu perbuatan yang dianggap sebagai tindak pidana harus memenuhi semua unsur yang ditetapkan diatas. Selain unsur diatas juga dilihat dari unsur khusus yaitu unsur yang terdapat dalam suatu jarῑmah yang tidak terdapat pada jarῑmah lain. Misalnya memindahkan atau mengambil harta orang lain tanpa sepengetahuan dalam jarῑmah pencurian, begitupun juga menghilangkan nyawa orang lain adalah unsur yang hanya ada pada tindak pidana pembunuhan.58
b. Macam-macam Jarῑmah
Menurut Ulama Fiqih ada perbedaan mengenai pembagian dan macam-macam jarῑmah jika dilihat dari berbagai segi:
1) Ditinjau dari segi berat ringannya hukuman a) Jarῑmah Hudud
Hudud merupakan suatu pelanggaran dimana hukuman khusus dapat diterapkan secara keras tanpa memberikan peluang untuk dipertimbangkan, baik lembaga, badan maupun seseorang.59 Dalam jurisprudensi Islam, kata hudud dibatasi pada hukuman untuk tindak pidana yang disebutkan dalam Qur’an dan al-Sunnah. Tindak pidana yang masuk jarῑmah hudud meliputi
57 Ibid.
58 Ibid., 13.
36
perzinaan, qazaf (menuduh zina), minum minuman keras, pencurian, hirabah (perampokan), pemberontakan, dan murtad.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa ciri-ciri jarῑmah hudud, diantaranya adalah:60
(1) Hukumannya tertentu dan dibatasi, artinya hukuman tersebut sudah ditentukan oleh shara’ dan tidak ada batas maksimal dan minimal.
(2) Hukuman tersebut merupakan hak Allah semata-mata, atau karena ada hak manusia disamping hak Allah, maka hak Allah yang paling dominan.
Oleh karena hukuman ḥadd adalah merupakan hak Allah maka hukuman tersebut tidak bisa digugurkan oleh perseorangan, jarῑmah hudud sendiri ada tujuh macam, yaitu jarῑmah zina, syurb khamr, pencurian, pemberontakan, qadzaf, hirabah dan riddah. b) Jarῑmah Qiṣᾱṣ-Diyah
Jarῑmah qiṣᾱṣ-diyah merupakan tindak pidana yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap jiwa atau anggota tubuh seseorang, yaitu membunuh atau melukai seseorang. Qiṣᾱṣ adalah memberikan perlakuan yang sama kepada terpidana sesuai dengan tindak pidana yang dilakukannya. Diyah artinya ganti rugi dengan harta. jarῑmah qiṣᾱṣ merupakan hak individu, artinya pihak korban
37
bisa menggugurkan hukuman qiṣᾱṣ tersebut, baik melalui permaafan tanpa ganti rugi maupun dengan ganti rugi.
c) Jarῑmah Ta’zῑr
Jarῑmah ta’zῑr merupakan pelanggaran yang merujuk kepada kekuasaan kebijaksanaan penguasa, para hakim, dan wakil-wakilnya untuk memperbarui dan mendisiplinkan warga mereka. Dalam hal ini, merupakan hukuman disipliner bagi pelaku kejahatan yang tidak ada ketetapan ḥadd dan kafᾱrah.61 Hukuman bagi jarῑmah ta’zῑr ini dilaksanakan oleh waliyul amri (penguasa) dalam negara. Hukuman ta’zῑr tidak ditentukan banyaknya, oleh sebab itu hakim boleh memilih hukuman yang pantas dijatuhkan. Biasanya hukuman ta’zῑr mempunyai dua cabang, hakim boleh menjatuhkan hukuman ta’zῑr dangan hukuman paling ringan ataupun sebaliknya.62
2) Ditinjau dari segi niat
Dilihat dari segi niat, jarῑmah dibagi menjadi dua, yaitu jarῑmah yang disengaja dan jarῑmah yang tidak disengaja (dolus dan colpus).63
a) Jarῑmah yang disengaja (al-jarᾱ’im al-maqṣūdah)
Maksud dari jarῑmah yang disengaja (al-jarᾱ’im al-maqṣūdah) adalah jarῑmah yang dilakukan oleh seseorang dengan kesengajaan
61 Sahid, Epistimologi Hukum Pidana, 14.
62 Ibnu Mas’ud, Fiqih Madzhab Syafi’I (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 580.
38
dan atas kehendaknya serta dia mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan diancam dengan hukuman. Jarῑmah yang disengaja sendiri harus memenuhi tiga unsur. Pertama, unsur kesengajaan. Kedua, unsur kehendak yang bebas dalam melakukan. Ketiga, unsur pengetahuan tentang dilarangnya perbuatan.
b) Jarῑmah yang tidak disengaja (al-jarᾱ’im ghayr al-maqṣūdah) Maksud dari jarῑmah yang tidak disengaja (al-jarᾱ’im ghayr al-maqṣūdah) adalah jarῑmah yang pelakunya tidak sengaja (berniat) untuk melakukan perbuatan yang dilarang dan perbuatan tersebut terjadi akibat kesalahannya. Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa kesalahan (kelalaian) dari pelaku merupakan faktor penting untuk jarῑmah tidak disengaja.
3) Ditinjau dari segi waktu tertangkap
Jika dilihat dari segi waktu tertangkap, jarῑmah dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Jarῑmah tertangkap basah )اهب سبلتملا مئارجلا(
Yang dimasud dengan jarῑmah tertangkap basah adalah jarῑmah yang pelakunya tertangkap pada waktu melakukan perbuatan tersebut atau sesudahnya tetapi dalam masa yang dekat. b) Jarῑmah tidak tertangkap basah )اهيف سبلت لا مئارجلا(
Yang dimaksud dengan jarῑmah tidak tertangkap basah adalah jarῑmah yang pelakunya tidak tertangkap pada waktu melakukan
39
perbuatan tersebut, melainkan sesudahnya dengan lewatnya waktu yang tidak sedikit.64
Urgensi dari pembagian tersebut dapat dilihat dari dua aspek. Pertama dari segi pembuktian. Apabila jarῑmah yang dilakukan adalah jarῑmah hudud dan pembuktiannya dengan saksi maka dalam jarῑmah yang tertangkap basah, para saksi harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pada saat terjadinya jarῑmah tersebut. Kedua, dalam jarῑmah yang tertangkap basah ini, orang-orang yang kedapatan sedang melakukan tinak pidana dapat dicegah dengan kekerasan agar dia tidak melanjutkan tindakannya.65
4) Ditinjau dari segi cara melakukan
Dilihat dari segi cara melakukan, jarῑmah dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Jarῑmah positif )ةيباجيإ مئارج (
Jarῑmah positif adalah jarῑmah yang terjadi karena melakukan perbuatan yang dilarang seperti pencurian, perzinaan, dan pemukulan. jarῑmah ini disebut delicta commissionis.66
b) Jarῑmah negatif )ةيبلس مئارج(
Jarῑmah negatif merupakan jarῑmah yang terjadi karena meninggalkan perbuatan yang diperintahkan seperti tidak mau
64 Ibid., 17.
65 Muslich, Pengantar dan Asas, 24.
40
menjadi saksi dan tidak menunaikan zakat. jarῑmah ini disebut delicta ommissionis.67
5) Ditinjau dari segi objek
Ditinjau dari segi objek atau sasaran yang terkena jarῑmah, jarῑmah dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Jarῑmah perseorangan )دض مئارج(
Jarῑmah perseorangan merupakan jarῑmah yang hukumannya ditetapkan (dijatuhkan) untuk melindungi kemashlahatan perseorangan (individu), walaupun hal yang berkenaan dengan kemashlahatan individu secara substansial berkaitan dengan kemashlahatan masyarakat. Dalam jarῑmah perseorangan, segi individual lebih menonjol. jarῑmah qiṣᾱṣ dan diyat termasuk jarῑmah perseorangan. Oleh karena itu, korban atau walinya dapat memaafkan pelaku dari hukuman qiṣᾱṣ atau diyah. jarῑmah ta’zῑr ada yang termasuk kedalam jarῑmah perseorangan jika yang dirugikan adalah hak perseorangan seperti penghinaan dan penipuan.68
b) Jarῑmah masyarakat )ةعامجلا دض مئارج(
Jarῑmah masyarakat adalah jarῑmah yang merupakan hukumannya ditetapkan (dijatuhkan) ntuk melindungi kepentigan masyarakat, baik jarῑmah itu berkenaan dengan individu, masyarakat ataupun ketentraman masyarakat dan tata aturannya.
67 Ibid.
41
Dengan kata lain dalam jarῑmah masyarakat, segi masyarakat yang terkena jarῑmah lebih dominan. Yang termasuk dalam kelompok jarῑmah masyarakat adalah jarῑmah hudud meskipun sebagian ada yang mengenai perseorangan seperti pencurian dan qadzaf. Dalam jarῑmah ta’zῑr juga ada sebagian yang termasuk jarῑmah masyarakat jika disinggung hak masyarakat seperti penimbunan bahan-bahan pokok dan korupsi. Dalam jarῑmah masyarakat tidak ada pengaruh maaf, karena hukumannya merupakan hak Allah (hak masyarakat).69
6) Ditinjau dari segi karakter
Dilihat dari segi karakter (watak atau tabiat), jarῑmah dibagi menjadi dua, yaitu:70
a) Jarῑmah politik
Jarῑmah politik adalah jarῑmah yang didesain untuk merealisasikan tujuan politik atau faktornya adalah motivasi politik. Menurut Abu Zahrah, jarῑmah politik adalah jarῑmah yang berupa pelanggaran terhadap peraturan pemerintah, terhadap pejabat pemerintah, atau terhadap garis-garis (ideologi) politik yang telah ditentukan oleh pemerintah. Dengan maksut lain, jarῑmah politik adalah jarῑmah yang factor pendrongnya adalah suatu ide atau pandangan dan ideologi yang motifnya adalah politik dalam system ketatanegaraan yang dibangun.
69 Ibid., 20.
42
b) Jarῑmah biasa
Jarῑmah biasa adalah jarῑmah yang pangkalnya adalah motivasi biasa dan tanpa mengaitkan dengan tujuan yang orientasinya adalah motif politik. Dalam hal ini, factor pendorongnya bukan ide atau pandangan dan ideologi yang mengarah pada politik. Dengan demikian, motif dilakukannya jarῑmah biasa adalah hal yang biasa, walaupun kadang-kadang jarima biasa dilakukan untuk maksud-maksud politik.
2. Hukuman (‘Uqūbah)
Hukuman dalam istilah arab secara etimologis sering disebut ‘uqūbah, yaitu bentuk balasan bagi seseorang yang atas perbuatannya melanggar ketentuan shara’ yang ditetapkan Allah dan Rasul dalam kemashlahatan manusia.71 Kata ‘uqūbah dalam bahasa berasal dari kata ‘aqaba yang sinonimnya adalah (mengiringi dan datang dibelakangnya). Kata ‘uqūbah juga berasal dari kata yang sinonimya (membalasnya sesuai dengan perbuatan yang dilakukan) atau (menghukumnya sesuai dosa atau berdasarkan dosanya). Hukuman juga berarti siksa, yaitu ‘adhᾱb.
Menurut ‘Abd al-Qadir ‘Awdah, definisi hukuman adalah:
َ ع را شلاَ ر م أَ نا ي ص عَي ل عَ ة عا م ج لاَ ة ح ل ص م لَ ر ر ق م لاَ ءا ز ج لاَ ي هَ ة ب و ق ع ل ا
َ
71 Makhrus Munajat, Dekonstruksi Hukum Pidana Islam (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2004), 39.
43
Hukuman adalah pembalasan yang ditetapkan untuk memelihara kepentingan masyarakat, karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan shari’.72
Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa hukuman adalah salah satu tindakan yang diberikan oleh shara’ sebagai pembalasan perbuatan yang melanggar shara’, dengan tujuan untuk memelihar ketertiban dan kepentingan masyarakat, sekaligus juga untuk melindungi kepentingan individu.73 Dengan demikian, maksud pokok dari hukuman adalah untuk memelihara dan menciptakan kemashlahatan manusia dan menjaga mereka dari hal-hal yang mafsadah.74
Hukuman ditetapkan sedemikian rupa untuk memperbaiki individu masyarakat dan tertib sosial. Bagi Allah sendiri tidaklah akan memudharatkan kepada-Nya apabila manusia dimuka bumi ini melakukan kejahatan dan tidak akan memberi manfaat kepada Allah apabila manusia dimuka bumi taat kepada-Nya. Hukuman itu harus mempunyai dasar, baik dari al-Qur’an, hadis atau lembaga legislative ang mempunyai kewenangan menetapkan hukuman untuk kasus ta’zῑr. Selain itu hukuman harus bersifat pribadi. Artinya hanya dijatuhkan kepada yang melakukan kejahatan saja. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa: ‚seseorang tidak menanggung dosanya orang lain‛. Yang terakhir hukuman itu haruslah
72 Sahid, Epistimologi Huum Pidana, 93.
73 Muslich, Pengantar dan Asas, 136-137.
44
bersifat umum, maksutnya berlaku bagi semua orang. Karena semua manusia sama dihadapan hukum.75
Selain itu ada pula tujuan pokok penjatuhan hukuman dalam hukum pidana Islam ada dua, yaitu:
1) Pencegahan
Pencegahan adalah menahan orang yang berbuat jarῑmah agar ia tidak mengulangi perbuatannya atau agar tidak terus-menerus melakukan jarῑmah. Selain mencegah pelaku, pencegahan juga diarahkan kepada orang-orang lain agar tidak ikut-ikutan melakukan jarῑmah. Dalam hal ini, hukuman yang dikenakan kepada pelaku juga di kenakan terhadap orang lain yang melakukan perbuatan ang sama. Dengan begitu, kegunan pencegahan adalah rangkap, yaitu menahan orang yang berbuat untuk tidak mengulangi perbuatannya dan menahan orang lain untuk tidak berbuat serta menjauhkan diri dari lingkungan kejahatan.76
2) Perbaikan dan pendidikan
Dengan adanya perbaikan dan pendidikan dimaksudkan untuk mendidik pelaku jarῑmah agar menjadi orang yang baik dan menyadari akan kesalahan yang telah diperbuat.77 Dengan adanya hukuman ini diharapkan dapat menmbuhkan kesadaran pelaku bahwa ia menghindari jarῑmah bukan karena takut dengan hukumannya,
75 Ibid., 26.
76 Muslich, Pengantar dan Asas,137.
45
melainkan karea kesadaran diri dan kebenciannya terhadap jarῑmah serta dengan harapan mendapati ridha Allah SWT.
Selain untuk kebaikan si pelaku, tujuan penjatuhan hukuman juga dimaksudkan untuk membentuk masyarakat yang saling menghormati dan mencintai antar sesama. Penjatuhan hukuman juga dimaksudkan untuk menyatakan reaksi dan balasan dari masyarakat terhadap perbuatan pelaku yang sudah melanggar perunang-undangan yang berlaku sekaligus upaya untuk meredam serta menenangkan hati korban. Hukuman dijatuhkan untuk memberikan rasa derita yang dibebankan kepada pelaku sebagai imbalan atas perbuatan jahat yang dilakukannya. Dengan begitu keadilan dapat diwujudkan dan masyarakat merasakan kedamaian.78
3. Hukuman Ta’zῑr
a. Pengertian Hukuman Ta’zῑr
Menurut arti bahasa, ta’zῑr beasal dari kata: َ ر ز ع yang sinonimnya:َ د ر وَ ع ن م (mencegah atau menolak), َ ب د أ (mendidik), َ ر ق و وَ م ظ ع (mengagungkan atau menghormati), َ ر ص ن وَ ى و ق وَ نا ع أ (membantunya, menguatkan, dan menolong). Dari keempat pengertian di atas, yang paling relevan adalah pengertian pertama yaitu mencegah atau menolak.79 Namun ta’zῑr menurut Imam al-mawardi merupakan
78 Sahid, Epistimologi Hukum Pidana, 96-97.
46
hukuman bagi tindak pidana yang belum ditentukan hukumannya oleh syarak yang bersifat mendidik.80
Menurut istilah, Mawardi mendefinisikan ta’zῑr sebagai hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditentukan oleh syara’.81 Sejalan dengan Mawardi, Wahbah Zuhaili juga memberikan definisi ta’zῑr menurut syara’ adalah hukuman yang ditetapkan atas perbuatan maksiat atau jinayah yang tidak dikenakan hukuman had dan tidak pula kifarat.82
Dengan demikian, jelas bahwa ta’zῑr merupakan istilah untuk hukuman jarῑmah-jarῑmah yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’, istilah ta’zῑr sendiri digunakan untuk hukuman amun juga bisa digunakan untuk jarῑmah (tindak pidana). Perbuatan-perbuatan yang termasuk hukuman ta’zῑr ini tidak bisa ditentukan, karena perbuatan tersebut tidak diharamkan karena zatnya, melainkan karena sifatnya. Jika sifat tersebut ada maka perbuatannya diharamkan, dan dikenakannya hukuman atas perbuatan tersebut adalah karena membahayakan ataupun merugikan kepentingan umum.83
b. Macam-macam hukuman ta’zῑr
Hukuman ta’zῑr ada beragam jenisnya, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, diantaranya:
80 M. Nurul Irfan dan Musyarofah, Fiqih Jinayah, (Jakarta: Amzah, 2013), 136.
81 Abu Al-Hasan Ali Al-Mawardi, Kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyah, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1966), 236.
82 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Vol. 6 (Damaskus: Dar Al-Fikr, 1989), 197.
47
1) Hukuman ta’zῑr yang berkaitan dengan badan a) Hukuman mati
Menurut syariah Islam, hukuman ta’zῑr dimaksudkan untuk memberikan pengajaran atau mendidik pelakunya, sehingga tidak diperbolehkan adanya hukuman had ataupun qiṣᾱṣ. Namun beberapa fuqaha seperti Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah menerapkan hukuman mati ini jika demi kemashlahatan umum dan dikehendaki demikian. Hukuman mati ini diterapkan bagi pelaku jarῑmah-jarῑmah yang sangat berat dan membahayakan seperti pencurian yang berulang-ulang, spionase, peminum khamr untuk keempat kalinya.
b) Hukuman jild
Dalam penerapan hukuman jilid banyak terjadi perbedaan dikalangan fuqaha mengenai batas tertinggi hukuman jild dalam ta’zῑr. Menurut Maliki batas tertinggi jild diserahkan kepada penguasa, Sedangkan menurut Hanafi dan Muhammad batas tertinggi hukuman jilid dalam ta’zῑr adalah 39 kali, dan menurut Abu Yusuf sebanyak 75 kali, sedangkan menurut Syafi’i sendiri hukuman jild pada ta’zῑr boleh lebih dari 75 kali namun tidak sampai melebihi 100 kali dengan syarat bahwa jarῑmah ta’zῑr yang dilakukan hampir sejenis dengan jarῑmah hudud. Menurut Hambali
48
sendiri hukuman jild dalam ta’zῑr tidak boleh melebihi dari 10 kali dera.84
2) Hukuman yang berkaitan dengan kemerdekaan seseorang a) Hukuman penjara
Dalam syariat Islam hukuman penjara dibagi menjadi dua yang berdasarkan pada lama waktu hukuman. Pertama, hukuman penjara yang dibatasi waktunya. Menurut Imam Al-Mawardi hukuman penjara dalam ta’zῑr berbeda-beda, paling rendah adalah satu hari sedangkan batas tertingginya ada perbedaan pendapat dari para ulama. Sehingga tidak ada batas tertinggi yang pasti dan dijadikan pedoman umum untuk hukuman penjara sebagai ta’zῑr, dan hal itu diserahkan kepada ijtihad para hakim (ulil amri). Kedua, hukuman penjara yang tidak dibatasi waktunya, melainkan berlangsung terus sampai orang yang terhukum mati, atau sampai ia bertaubat. Dalam kata lain bisa disebut sebagai hukuman seumur hidup.
b) Hukuman pengasingan
Hukuman pengasingan termasuk hukuman had yang diterapkan bagi pelaku hirabah, meskipun demikian dalam praktiknya hukuman tersebut juga diterapkan sebagai hukuman ta’zῑr.
49
Hukuman pengasingan ini dijatuhkan kepada pelaku jarῑmah yang hendaknya dikhawatirkan dapat mempengaruhi orang lain sehingga pelakunya harus diasingkan. Di kalangan para fuqaha tdak disepakati berapa lama pengasingan dijatuhkan pada pelaku jarῑmah, melainkan menyerahkan batas waktu pengasingan tersebut berdasarkan pertimbangan penguasa (hakim).
3) Hukuman yang berkaitan dengan harta
Hukuman ta’zῑr ini dilakukan dengan cara mengambil harta, namun arti dari mengambil harta tersebut bukan berarti mengambil harta pelaku untuk diri hakim ataupun untuk kas umum (Negara), melainkan hanya menahan harta tersebut sementara waktu atau bisa dikatakan denda atau Gharamah. Hukuman denda bisa merupakan hukuman pokok yang berdiri sendiri juga dapat digabungkan dengan hukuman pokok lainnya. Penjatuhan hukuman denda bersama-sama dengan hukuman yang lain bukan merupakan hal yang akan dilarang bagi seorang hakim yang mengadili perkara jarῑmah ta’zῑr, karena dalam masalah ini hakim diberikan kebebasan penuh. Hakim dapat mempertimbangkan berbagai aspek, baik yang berkaitan dengan jarῑmah, pelaku, situasi, maupun kondisi tempat dan waktunya.85
Dalam syariat Islam tidak menetapkan batas terendah atau tertinggi dari hukuman denda. Melainkan hal ni diserahkan kepada hakim
50
dengan mempertimbangkan berat ringannya jarῑmah yag dilakukan oleh pelaku.86
4) Hukuman-hukuman lain yang ditentukan oleh ulil amri demi kemashlahatan umum.87
a) Peringatan keras
b) Dihadirkan dihadapan siding c) Nasihat
d) Celaan e) Pengucilan f) Pemecatan
g) Pengumuman kesalahan secara terbuka.
Dengan demikian hukuman-hukuman yang disebutkan diatas dapat diterapkan untuk semua jenis jarῑmah ta’zῑr.
Dalam hukum pidana Islam kasus illegal fishing masuk dalam jarῑmah ta’zῑr yang berkaitan dengan harta, yakni baik dengan meminta diyah atau denda ataupun dengan melakukan penyitaan atau perampasan harta pelaku jarῑmah untuk ditahan sementara atau bahkan hakim dapat men-tasaruf-kan harta tersebut untuk kepentingan yang mengandung maslahat.
Wujud dari pemilikan harta sendiri adalah berupa denda atau dalam bahasa arab disebut Gharamah. Hukuman denda bisa berupa hukaman pokok yang berdiri sendiri atau dapat pula digabungkan
86 Ibid.
51
dengan hukuman pokok lainnya. Penjatuhan hukuman denda