• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Tindak Pidana Pencabulan

1. Pengertian Tindak Pidana Pencabulan

Istilah pencabulan cukup sering digunakan untuk menyebut suatu perbuatan atau tindakan tertentu yang menyerang kehormatan kesusilaan.Bila mengambil definisi dari buku Kejahatan Seks dan Aspek Medikolegal Gangguan Psikoseksual, maka definisi pencabulan adalah

15 “semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan”.

a. Pencabulan menurut Kamus Besar Indonesia (Departemen Pendidikn dan Kebudayaan, 2002: 184), adalahpencabulan adalah kata dasar dari cabul, yaitu kotor dan keji sifatnya tidak sesuai dengan sopan santun (tidak senonoh), tidak susila, bercabul: berzinah, melakukan tindak pidana asusila, mencabul: menzinahi, memperkosa, mencemari kehormatan perempuan, film cabul: film porno. Keji dan kotor, tidak senonoh (melanggar kesusilaan,kesopanan)

b. Pencabulan menurut R. Soesilo (1996: 212), adalah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi kelamin, mialnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya.

c. Pencabulan menurut Moeljatno (2003: 106), adalah segala perbuatan yang melanggar susila atau perbuatan keji yang berhubungan dengan nafsu kekelaminannya.Definisi yang diungkapkan Moeljatno lebih menitikberatkan pada perbuatan yang dilakukan oleh orang yang berdasarkan nafsu kelaminanya, di mana langsung atau tidak langsung merupakan perbuatan yang melanggar susila dan dapat dipidana.

Berdasarkan pengertian di atas, Penulis berkesimpulan bahwa tindak pidana pencabulan adalah segala tindakan atau perbuatan yang

16 keji, tidak senonoh, kotor, dan melanggar kesusilaan (kesopanan), dimana semua itu dalam lingkup nafsu birahi kelamin. Contohnya, cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya.

Aturan khusus yang mengatur tentang tindak pidana pencabulan terdapat pada Pasal 82 Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anakyakni:

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau

ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat,

serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)”.

Kejahatan kesusilaan merupakan kecenderungan untuk melakukan aktifitas seksual dengan orang yang tidak berdaya seperti anak baik pria maupun wanita baik dengan kekerasan maupun tanpa kekerasan. Adapun pengertian pencabulan atau kata cabul dalam kamus hukum. Dapat diartikan sebagai berikut:

“Pencabulan berasal dari kata cabul yang diartikan keji dan kotor; tidak senonoh karena melanggar kesopanan, kesusilaan, hal ini secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 281 dan Pasal 282, yaitu: diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Seperti yang diuraikan di atas, pencabulan adalah kejahatan seksual yang dilakukan seorang pria atau perempuan terhadap anak di

17 bawah umur baik pria maupun perempuan dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Pencabulan memiliki pengertian sebagai suatu gangguan psikoseksual dimana orang dewasa menperoleh kepuasan seksual bersama seorang anak. Ciri utamanya berbuat atau berfantasi tentang kegiatan seksual dengan cara yang paling sesuai untuk menperoleh kepuasan seksual..

a. Tindak Pidana Pencabulan Anak Ditinjau Dari KUHP

Landasan yuridis mengenai tindak pidana pencabulan sendiri diatur dalamKUHP pada bab XIV buku ke II, yaitu Pasal 289 sampai dengan Pasal 296 KUHP, yang mengkatagorikan pencabulan tersebut sebagai kejahatan terhadap kesusilaan. Sedangkan pencabulan terhadap anak diatur dalam Pasal 289, Pasal 290 ayat (2) dan (3), Pasal 292, Pasal 293, Pasal 294 ayat (1), Pasal 295 KUHP, Pasal 296 KUHP.

- Pasal 289 KUHP (R. Soesilo 1993:212) :

“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, dihukum karena merusakkan kesopanan dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun”.

- Pasal 290 KUHP (R. Soesilo 1993:212):

1e. “Barang siapa yang melakukan perbuatan cabul dengan seseorang,sedang diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya” .

2e. “Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang,

sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya,bahwa orang itu belum belum masanya buat dikawin”.

18 3e.“Barang siapa membujuk (menggoda) seseorang yang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa ia belum masanya buat kawin, akan melakukan atau atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, atau akan bersetubuh dengan orang lain dengan tiada kawin”.

- Pasal 292 KUHP (R. Soesilo 1993:213):

“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya hal belum dewasa itu, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun”.

- Pasal 293 (1) KUHP (R. Soesilo 1993:214):

“Barang siapa dengan mempergunakan hadiah atau perjanjian

akan memberikan uang atau barang, dengan salah

mempergunakan pengaruh yang berkelebih-lebihan yang ada disebabkan oleh perhubungan yang sesungguhnya ada atau dengan tipu, sengaja membujuk orang yang belum dewasa yang tidak bercacat kelakuannya, yang diketahuinya atau patut harus disangkanya belum dewasa, akan melakukan perbuatan cabul dengan dia atau membiarkan dilakukan perbuatan yang demikian pada dirinya, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun”.

- Pasal 294 KUHP (R. Soesilo 1993:215):

“Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya yang belum dewasa, anak tiri atau anak pungutnya,anak peliharaannya, atau dengan seorang yang belum dewasa yang di percayakan padanya untuk ditanggung, dididik atau dijaga, atau dengan bujang atau bawahannyayang belum dewasa, dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun”.

- Pasal 295 KUHP (R. Soesilo 1993:216):

1e.“Dengan pidana penjara paling lama lima tahun barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau

19 penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain”.

2e. “Dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun, barang siapa yang dengan sengaja, diluar hal-hal yang tersebut pada 1e, menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain yang dikerjakan oleh orang belum dewasa yang diketahuinya atau patut disangkanya, bahwa ia ada belum dewasa”. - Pasal 296 KUHP (R. Soesilo 1993:217):

“Barang siapa yang pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.15.000 ( lima belas ribu rupiah)”.

b. Pencabulan Anak Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002tentang Perlindungan Anak

Landasan yuridis mengenai tindak pidana pencabulan anak dalam Undang-Undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak Pasal 82 juga diatur mengenai ketentuan pidana bagi seseorang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, dan lain-lain. - Pasal 82Undang-Undang No. 23 Tahun 2002:

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau

ancaman kekerasan,memaksa melakukan tipu muslihat

serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)”.

20 2. Unsur-Unsur Tindak Pidana PencabulanAnak.

a) Unsur-Unsur Tindak Pencabulan Anak Menurut KUHP Pasal 290 ayat (2) dan (3) KUHP

Kejahatan pada ayat 2, mempunyai unsur-unsur: Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatannya: perbuatan cabul; b. Objeknya: dengan seorang;

c. Yang:

1. Umurnya belum 15 tahun, atau

2. Jika tidak jelas umurnya orang itu belum waktunya untuk dikawin Unsur subjektif:

d. Diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun.

Perbuatan cabul selalu terkait dengan perbuatan tubuh atau bagian tubuhterutama pada bagian-bagian yang dapat merangsang nafsu seksual. Misalnya alatkelamin, buah dada, mulut, dan sebagainya yang dipandang melanggar kesusilaanumum.

Unsur objek kejahatan yang menurut pasal 290 ayat (2) dapat seorang lakilakiatau seorang perempuan.

21 Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatannya: membujuk; b. Objeknya: orang yang:

1) Umurnya belum lima belas tahun; atau

2) Jika umurnya tidak jelas belum waktunya untuk dikawin; c. Untuk:

1) Melakukan perbuatan cabul; 2) Dilakukan perbuatan cabul; atau 3) Bersetubuh di luar perkawinan; Unsur subjektif:

d. Yang diketahuinya umurnya belum lima belas tahun, atau jika tidak jelasumurnya yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin.

Membujuk (verleiden) adalah perbuatan mempengaruhi kehendak oranglain agar kehendak orang itu sama dengan kehendaknya. Pada membujuk adalahmenarik kehendak orang yang bersifat mengiming-imingi. Sifat mengimingimingilebih tepat, berhubung orang yang dibujuk adalah anak-anak yang secarapsikis masih lugu atau polos yang lebih mudah dipengaruhi kehendaknya daripada orang dewasa.

Pasal 292 KUHP Unsur-unsur objektif

a. Perbuatannya: perbuatan cabul; b. Pembuatnya: orang dewasa;

22 c. Objeknya: orang sesame jenis kelamin yang belum dewasa.

Unsur subjektif:

d. Yang diketahuinya belum dewasa; atau yang seharusnyapatut diduganyabelum dewasa.

Pasal 293 KUHP Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatannya: menggerakan; b. Cara-caranya:

1) Memberi uang atau barang;

2) Menjanjikan memberi uang atau barang;

3) Menyalahgunakan perbawa yang timbul dari hubungan keadaan; 4) Penyesatan;

c. Objeknya: orang yang belum dewasa; d. Yang baik tingkah lakunya;

e. Untuk:

1) Melakukan perbuatan cabul;

2) Dilakukan perbuatan cabul dengannya; Unsur subjektif:

f. Diketahuinya atau selayaknya harus diduganya tentang belum kedewasaannya.

23

Perbuatan “menggerakan” (bewegen) adalah perbuatan

mempengaruhikehendak orang lain ke arah kehendaknya sendiri., atau agar sama dengankehendaknya sendiri. Jadi, objek yang dipengaruhi adalah kehendak atau kemauanorang lain.

Memberi uang atau barang adalah menyerahkan uang atau barang denganmaksud untuk dimiliki atau menjadikan miliknya. Setelah perbuatan dilakukan,maka uang atau barang yang diberikan akan menjadi milik orang yang diberi.

Menjanjikan memberi uang atau barang, ada persamaan dengan memberiuang atau barang dalam arti untuk dijadikan milik. Perbedaannya padamemberikan, setelah perbuatan dilaklukan, uang dan atau barang telah beralihkekuasaannya pada orang yang diberi. Akan tetapi, pada perbuatan menjanjikan,setelah perbuatan dilakukan, uang atau barang itu belum diserahkan, dan akandiserahkan kemudian, tidak pada saat janji diucapkan. Di dalam perbuatanmenjanjikan harus dapat memberi kepercayaan kepada orang yang menerimajanji, dan kepercayaan yang terbentuk inilah yang menyebabkan orang lain ituyang in casu belum dewasa dengan sukarela melakukan perbuatan cabul ataudilakukan

perbuatan cabul terhadapnya.

Menyalahgunakan perbawa yang timbul dari hubungan keadaan, maksudnya ialah daya pengaruh yang terpancar dari kewibawaan yang timbul dandimiliki oleh seseorang karena hubungan yang yang ada antara

24 si pembuat denganorang yang digerakkan (korban) dalam kehidupan social.

Penyesatan (misleading) adalah suatu perbuatan yang sengaja dilakukanuntuk mengelabui atau mengelirukan anggapan, pengertian, pengetahuan, ataupendirian orang dengan segala sesuatu yang isinya tidak benar, sehingga oranglain itu menjadi salah atau keliru dalam berpendirian.

Pengertian baik tingkah lakunya (onbesproken gedrag) adalah yang bersangkutan menurut kenyataan di lingkungan masyarakat tempat ia selaluberinteraksi social, diketahui, atau dikenal sebagai orang yang berkelakuan baik dibidang kesusilaan.

Arti “melakukan perbuatan cabul”, yang berbuat cabul itu adalah korbanyang belum dewasa tadi. Pada “membiarkan dilakukan perbuatan cabul”,perbuatan ini dari pihak korban berupa perbuatan pasif, pihak yang berbuat cabul(aktif) adalah orang lain, maksudnya si pembuat yang menggerakan. Akan tetapi, Pihak ketiga pun dapat pula melakukan perbuatan cabul menurut pengertian ini.

Ada dua bentuk unsur kesalahan dalam kejahatan pasal 293 ini yaitubentuk kesengajaan berupa diketahuinya tentang kedewasaan, dan bentuk culpaberupa sepatutnya harus diduga tentang kebelumdewasaan orang yangdigerakkannya untuk berbuat cabul tersebut.

25 Kejahatan ayat 1 mempunyai unsur-unsur berikut

Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatannya: perbuatan cabul; b. Objek: dengan:

1) Anaknya yang belum dewasa; 2) Anak tirinya yang belum dewasa; 3) Anak angkatnya yang belum dewasa;

4) Anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa; yang

pemeliharaannya, pendidikan, atau penjagaannya diserahkan

kepadanya;

5) Pembantunya yang belum dewas; 6) Bawahannya yang belum dewasa

Menurut pasal 294 ayat (1), terdapat hubungan antara si pembuat cabuldengan orang yang dicabuli. Hubungan ini ada dua macam, yakni: 1. Hubungan kekeluargaan di mana si pembuat memiliki kewajiban hukum untuk melindungi, menghidupi, memelihara, mendidiknya, dan hubungan inidipandang mempermudah pelaksanaan kejahatan. Hubungan kekeluargaan ini,misalnya antara orang tua dengan anak kandungnya, anak angkatnya, anaktirinya yang belum dewasa.

2. Hubungan di luar kekeluargaan, tetapi di dalamnnya tumbuh kewajibanhukum untuk memeliharanya, menghidupinya, ialah pada hubungan antara si pembuat dengan:anak belum dewasa yang

26

pengawasannya, pendidikannya, pemeliharaannya diserahkan

kepadanya; dengan pembantunya atau bawahannya yang belum dewasa.

Yang dimaksud anaknya ialah anak kandungnya. Anak tirinya adalah anakyang diperoleh dari perkawinan bekas istri atau bekas suaminya dengan suamiatau istrinya yang terdahulu. Anak angkatnya adalah anak orang lain yangdiangkat anak (diadopsi) oleh suatu keluarga menjadi anak angkat, dipelihara,dibesarkan, dididik, diperlakukan sama dengan anak kandung sendiri.

Anak yang pemeliharaannya, pendidikannya atau penjagaannya diserahkan padanya ialah anak karena hukum melahirkan adanya kewajibanhukum seperti itu, misalnya anak yatim piatu yang karena penetapan hakimdiserahkan kepadanya sebagai walinya. Pembantunya ialah orang yang bekerjapada rumah tangganya, misalnya untuk yang

laki-laki disebut bujangnya.Sementara itu, yang dimaksud dengan

bawahannya ialah bawahan dalamhubungan pekerjaan. Kejahatan ayat (2) butir ke-2, memiliki unsur-unsur berikut:

a. seorang pengurus; seorang dokter; seorang guru; seorang pegawai; seorangpegawai; seorang pengawas; seorang pesuruh;

b. dalam penjara; tempat pekerjaan Negara; tempat pendidikan; rumah piatu, dirumah sakit; di rumah sakit jiwa; di lembaga social;

27 d. objek: dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.

Pasal 295 KUHP

Rumusan pada ayat (1) butir ke-1, memiliki unsur-unsur sebagai berikut: Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatannya:

1) Menyebabkan perbuatan cabul; 2) Memudahkan perbuatan cabul; b. Objek:

1) Oleh anaknya yang belum dewasa; 2) Oleh anak tirinya yang belum dewsa; 3) Oleh anaknya yang belum dewasa;

4) Oleh anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa;

5) Oleh orang yang pemeliharaannya, pendidikannya atau penjagaanny diserahkan kepadanya yang belum dewasa;

6) Oleh pembantunya yang belum dewasa; 7) Oleh bawahannya yang belum dewasa; c. Dengan orang lain;

Unsur subjektif: d. Dengan sengaja

“Perbuatan menyebabkan” ialah segala bentuk perbuatan yangmenimbulkan suatu akibat, akibat perbuatan cabul anak-anaknyadan lain-laindengan orang lain. Dalam perbuatan ini terkandung makna bahwa

28 orang yangberbuat cabul dengan orang lain tersebut, semula tidak mempunyai kehendakberbuat cabul. Perbuatan si pembuatlah yang menimbulkan akibat dilakukannyaperbuatan cabul.

“Perbuatan memudahkan perbuatan cabul” adalah perbuatan denganbentuk apa pun yang sifatnya memberi kemudahan, yakni dengan cara menolongatau memperlancar dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya dan lain-laindengan orang lain.

Kejahatan menyebabkan atau mempermudah perbuatan cabul ini, unsurmengenai objek korbannya sama dengan kejahatan kesusilaan dalam pasal 294ayat (1). Perbedaannya ialah bahwa si pembuatnya menurut pasal 294 adalahorang yang melakukan perbuatan cabul itu sendiri, sedangkan anaknya, anaktirinya dan lain-lain adalah objek kejahatan atau mereka berkualitas sebagaikorban. Tetapi, menurut pasal 295 ayat (1) subjek hukum atau si pembuatnyaadalah tidak melakukan perbuatan cabul, melainkan melakukan perbuatanmenyebabkan atau mempermudah perbuatan cabul, yang melakukan perbuatancabul itu adalah orang lain yang in casu anaknya, anak angkatnya dan lain-laindengan orang lain.

Rumusan pada ayat (1) butir ke-2 terdapat unsur-unsur berikut. Unsur-unsur objektif:

a. Perbuatan:

29 2) Memudahkan perbuatan cabul

b. Selain yang tersebut dalam butir 1 di atas; c. Oleh orang yang belum dewasa;

Unsur subjektif:

d. Dengan sengaja; yang diketahuinya belum dewasa; yang sepatutnya harusdiduga belum dewasa.

Kejahatan kesusilaan dalam ayat (1) butir ke-2 unsur perbuatan materiilnya sama dengan unsur perbuatan materiil kejahatan dalam butir ke-1. Perbedaan yang mencolok, ialah orang-orang yang dipermudah berbuat cabuladalah orang yang lain dari tujuh kualitas orang tersebut dalam butir 1. Perbedaanlainnya dapat dilihat sebagai berikut:

1. unsur kesalahan pada butir ke-2 ini ada 3 macam, yakni dengan sengaja; yangdiketahuinya belum dewasa; dan yang sepatutnya harus diduganya belumdewasa. Sedangkan pada butir ke-1 hanya kesengajaan saja

2. si pembuat pada butir ke-1 tidak perlu mengetahui atau sepatutnya harusmenduga akan kebeludewasaan anknya, anak angkatnya dan lain-lain yangmelakukan perbuatan cabul yang dipermudah olehnya tersebut. Tetapi padabutir ke-2 pengetahuan atau sepatutnya harus

menduganya tentangkebelumdewasaannya itu menjadi suatu

30 b. Unsur-Unsur Tindak Pidana Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Pasal 82 UU No. 23 Tahun 2002

Kejahatan pada pasal 82, memiliki unsur-unsur berikut Unsur objektif

a. Perbuatan:

1) Melakukan perbuatan cabul;

2) Membiarkan dilakukan perbuatan cabul; b. Cara-caranya:

1) Melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan; 2) Memaksa;

3) Melakukan tipu muslihat;

4) Serangkaian kebohongan; atau 5) Membujuk anak

c. Objeknya: anak Unsur subjektif:

e. Dengan sengaja. C. Pengertian Anak

Anak dipahami sebagai individu yang belum dewasa. Dewasa dalam arti anak belum memiliki kematangan rasional, emosional, moral, dan sosial seperti orang dewasa pada umumnya. Anak merupakan

31 generasi penerus bangsa dan penerus pembangunan, yaitu generasi yang dipersiapkan sebagai subjek pelaksana pembangunan yang berkelanjutan dan pemegang kendali masa depan suatu negara, tidak terkecuali Indonesia.

Tentang berapa batasan usia seseorang sehingga dikatakan belum dewasa, akan penulis uraikan beberapa pengertian tentang anak :

a) Pengertian anak menurut Hukum Pidana.

KUHP tidak merumuskan secara eksplisit tentang pengertian anak, tetapi dapat dijumpai antara lain pada Pasal 45 dan Pasal 72 yang memakai batasan usia maksimal adalah 16 (enam belas) tahun. Pasal ini sudah tidak berlaku lagi karena pasal ini telah dicabut oleh Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang pengadilan anak.

b) Pengertian anak menurut Hukum Perdata.

Dalam Kitab Undang Hukum Perdata Pasal 330 ayat (1) didefenisikan bahwa anak yang belum dewasa adalah anak yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan pernah kawin sebelumnya. c) Pengertian anak menurut Hukum Islam.

Dalam hukum Islam batasan anak di bawah umur terdapat perbedaan penentuan. Seseorang yang dikatakan baliq atau dewasa apabila telah memenuhi satu dari sifat di bawah ini :

a) Telah berumur 15 (lima belas) tahun; b) Telah keluar air mani bagi laki-laki;

32 c) Telah datang haid bagi perempuan;

Batasan itu berdasarkan hitungan usia, tetapi sejak ada tanda-tanda perubahan badaniah baik bagi anak laki-laki, demikian pula bagi anak perempuan. Menurut Hukum Islam, anak disebut orang yang belum baliq atau belum berakal jika dianggap belum cakap untuk bebuat atau bertindak.

Selain pengertian anak di atas yang telah dijelaskan, penulis juga menjelaskan beberapa pengertian anak menurut ahli hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia mengenai anak, sebagai berikut :

a. Pengertian Anak Menurut Ahli Hukum

1. Menurut Shanty Dellyana, (1990: 50) yang dimaksud dengan anak adalah mereka yang belum dewasa dan menjadi dewasa karena peraturan tertentu (mental fisik belum dewasa).

2. Menurut Atmasasmita, anak adalah seorang yang masih dibawah usia tertentu dan belum dewasa serta belum kawin. Sedangkan menurut Soejono anak menurut hukum adat adalah mereka yang belum menentukan tanda-tanda fisik belum dewasa.

Berdasarkan pengertian anak tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengertian anak adalah

33 mereka yang masih muda usia dan muda dalam jiwanya, sehingga mudah terpengaruh lingkungan sekitar.

b. Pengertian Anak Menurut Peraturan Perundang-Undangan

1. Didalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pengertian anak tercantum dalam Pasal 1 angka 1 yang menyatakan bahwa : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

2. Di dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, pengertian anak tercantum dalam Pasal 1 angka 1 sebagai berikut : ”Anak adalah orang yang dalam perkara Anak Nakal telah mencapai umur 8 (Delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.” Selanjutnya Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa batas bahwa usia anak yang bisa dimintai pertanggungjawaban pidana adalah 12 tahun. Usia 12 tahun secara relatif sudah memiliki kecerdasan emosional, dan intelektual yang stabil sesuai psikologi anak dan budaya bangsa Indonesia. Karenanya, batas umur 12 tahun lebih menjamin hak anak untuk tumbuh berkembang dan mendapatkan perlindungan sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

34 3. Di dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang

Kesejahteraan Anak, pengertian anak tercantum dalam Pasal 1 angka 2 sebagai berikut : Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah menikah.

4. Menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.Anak didefinisikan dalam Pasal 1 angka 5 bahwa anak adalah setiap manusia yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. 5. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1988 tentang Usaha

Kesejahteraan Anak bagi anak yang mempunyai masalah.

Menurut ketentuan ini, anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin.

6. Pengertian anak menurut kenvensi tentang hak-hak anak (Convention on The Right of The Child)

Pengertian anak menurut konvensi ini, tidak jauh berbeda dengan pengertian anak menurut beberapa perundang-undangan lainnya. Anak menurut konvensi hak anak sebagai berikut :

“Anak adalah setiap manusia di bawah umur 18 (delapan belas) tahun kecuali menurut undang-undang yang berlaku pada anak. Kedewasaan dicapai lebih awal”. Sedangkan

35 pengertian anak sebagai korban kejahatan adalah anak yang menderita mental, fisik, dan sosial akibat perbuatan jahat (tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) orang lain mencari pemenuhan kepentingan diri yang bertentangan dengan hak dan kewajiban pihak korban

Dokumen terkait