• Tidak ada hasil yang ditemukan

“PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA YANG DILAKUKAN OLEH PEREMPUAN SEBAGAI KURIR DI

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana.

Perbuatan jahat atau kejahatan biasa diartikan secara yuridis atau kriminologis. Secara yuridis formal tindak kejahatan merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar Undang-Undang pidana.

Istilah tindak pidana (delik) berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana belanda yaitu strafbaar feit atau delic yang berassal dari bahasa latin delictum. Nomenklatur tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu strafbaar feit, yang sebenarnya merupakan istilah resmi dalam Wetboek van Strafrechtr Netherlands Indie (W.v.S.N.I) atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang sekarang berlaku di Indonesia. Walaupun sampai saat ini tidak ada yang memberikan penjelasan resmi tentang yang dimaksud istilah strafbaar feit.

Pembentuk Undang-Undang Indonesia telah menerjemahkan perkataan istilah strafbaar feit sebagai tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tanpa memberikan sesuatu penjelasan yang dimaksud dengan perkataan istilah strafbaar feit tersebut.

Dalam ilmu hukum ada beberapa pengertian tindak pidana atau delik, Berikut pendapat para pakar hukum mengenai pengertian tindak pidana istilah (strafbaar feit):

16 a. Profesor Doktor W.L.G Lemaire telah mengemukakan rumusan mengenai pengertian hukum pidana sebagai berikut : Hukum pidana itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembuat Undang-Undang) telah dikaitkan dengan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut. (Lamintang, 2014, p. 1)

b. Menurut Pompe, strafbaar feit yaitu suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tata tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum. (Lamintang, Dasar-dasar Hukum di Indonesia, 1997, p. 181)

c. Menurut Simons, strafbaar feit yaitu suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang dapat di pertanggungjawabkan atas tindakannya dan yang oleh Undang-Undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat di hukum.

d. Menurut Moelyatno dalam buku Adami Chazawi, (2008:71) bahwa menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan sebagai “Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut”.

e. Menurut Poernomo Bambang (1992:130) bahwa perbuatan pidana adalah suatu perbuatan yang oleh suatu aturan hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.

Sedang menurut Amir Ilyas, Tindak Pidana Merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar dalam ilmu hukum sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana. Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti

17 yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.

(Iiyas, 2012, p. 18)

Para pakar asing hukum pidana menggunakan istilah tindak pidana atau perbuatan tindak pidana atau peristiwa pidana dengan istilah:

a. Starfbaar Feit adalah peristiwa Pidana;

b. Strafbare Hendlung diterjemahkan dengan perbuatan pidana, yang digunakan oleh para sarjana hukum pidana Jerman; dan

c. Criminal Acy diterjemahkan dengan istilah perbuatan kriminal.

Menurut Marpaung, Strafbaarfeit adalah suatu tindakan yang melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat di pertanggungjawabkan oleh Undang-Undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. (Marpaung, 2012, p. 8)

2. Narkotika

Narkoba pada dasarnya adalah singkatan dari kata Narkotika, Psikotropika, dan zat (bahan adiktif) lainnya. Secara terminologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, narkoba ialah “obat yang mampu menenangkan syaraf, menghilangkan rasa sakit, serta menimbulkan efek mengantuk”.

Narkotika secara etimologis berasal dari bahasa inggris narcose atau narcois yang berarti membius. Kata narkotika berasal dari bahasa yunani narke yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa.

18 Menurut beberapa sarjana maupun ahli hukum, pengertian narkotika adalah sebagai berikut :

a. Soedjono D menyatakan bahwa yang dimaksud dengan narkotika adalah sejenis zat, yang bila dipergunakan (dimasukkan dalam tubuh) akan membawa pengaruh terhadap tubuh si pemakai. Pengaruh tersebut berupa menenangkan, merangsang dan menimbulkan khayalan atau halusinasi. (Soedjono, 1977, hal. 3)

b. Edy Karsono, narkotika adalah zat/bahan aktif yang bekerja pada sistem saraf pusat (otak) yang dapat menyebabkan penurunan sampai hilangnya kesadaran dan rasa sakit (nyeri) serta dapat menimbulkan ketergantungan (ketagihan)”. (Soedjono, Segi Hukum tentang Narkotika di Indonesia, 1977, hal. 5)

c. Elijah Adams memberikan definisi narkotika adalah zat sintetis dan semi sintetis yang terkenal adalah heroin yang terbuat dari morfhine yang tidak dipergunakan, tetapi banyak Nampak dalam perdagangan-perdagangan gelap, selain itu juga dikenal dengan istilah dihydo morfhine.

(Nadaek, 1983, hal. 122)

Berdasarkan pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, narkotika adalah:

zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang tersebut.

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai pengertian narkotika, maka disimpulkan bahwa narkotika adalah zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman yang mampu mengakibatkan penurunan, perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan nyeri, menimbulkan khayalan atau halusinasi serta menyebabkan efek ketergantungan yang

19 dibagi ke dalam golongan-golongan sebagaimana terdapat dalam undang-undang atau kemudian ditetapkan dengan keputusan menteri kesehatan.