BAB I PENDAHULUAN
2.4 Tindak Tutur Kompetitif
2.4.2 Tindak Tutur Kompetitif Mengomentari
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengomentari adalah memberi komentar; mengulas. Dapat disimpulkan mengomentari berarti memberikan tanggapan atas suatu berita. Berikut ini diuraikan contoh wacana yang berjenis kompetitif mengomentari.
(28) Kita itu memang sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa, khususnya penulisan. Misalnya, ketika kita menuliskan kata di- ini sering tertukar ni disatukan atau dipisah, iya kan? Saya kasih penjelasan sedikit, jika di depan kata di- adalah kata kerja itu penulisannya harusnya disatukan misalnya dipeluk, dirangkul, dicium itu harus disatukan karna kalo dipeluk dicium itu dipisah, ya jauh lah. Gimana meluk sama nyiumnya, iya kan? Itu yang dinamakan LDR.
(29) Aktor film atau bintang film itu biasanya punya fans berat atau penggemar berat dan saya enggak mengerti kadang- kadang dengan pola pikir fans.
Sekarang begini, seorang fans rela antri panjang, rela antri berjam-jam cuma buat foto bareng sama artisnya, iya kan? Terus setelah mendapat foto itu fotonya kita gunakan buat apa? Paling banter foto itu kita pake buat pamer, buat sombong. Iya kan? Update di twitter, pesbuk, line dan line line. Ini aneh, ini aneh... dipake buat nyombong, yang artis siapa yang sombong siapa? Iya kan? Oh mungkin memang harusnya begitu kalo artis sombong kasian fans, iya kan? Seperti juga orang kaya enggak boleh sombong kalo orang kaya sombong kasian orang miskin. Kalo orang miskin sombong... songong namanya. Ni... ni kayak si mbak ini ni... mbak ini cantik gak boleh sombong. Karna kalo mbak sombong yang jelek seperti saya rugi. Mas... mas sombong aja mas, sombong aja yah. Jadi orang-orang jelek, miskin dan bodoh seperti saya marilah kita bersombong ria. Karna kalo enggak sombong, babak belur pak, babak belur. Sekian dari saya, assalamualaikum.
(30) Masa kecil ya, sejak kecil itu saya dimanja ya, karena bungsu. Tapi di sekolah ketika SD saya ini sebenernya sering mendapatkan pelajaran-pelajaran yang menurut saya diskriminatif, khususnya pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia. Misalnya, pelajaran mengarang, “anak-anak buatlah sebuah karangan tentang berlibur ke rumah nenek!” Ini kenapa selalu berlibur ke rumah nenek? Kenapa? Ini diskriminasi, bagaimana dengan saya yang sudah tidak punya nenek sejak lahir? Ini beneran... beneran. Kan enggak
30
mungkin saya bikin karangan berlibur ke surga, enggak mungkin... dan mungkin ini juga yang menyebabkan respon anak-anak juga jadinya aneh.
“Anak-anak buatlah sebuah karangan tentang berlibur ke rumah nenek!”
Anak-anak pasti mikir, iya kan? “hmmmmm ngarang apa ya?”
“hmmmmm”. Capek mikir karangan enggak jadi, iya kan? Beda dengan ketika ulangan sejarah, kalau ulangan sejarah misal ada pertanyaan “apa yang menyebabkan terjadinya perjanjian linggar jati?”. Pasti anak-anak jawab langsung, ngarang jawabannya kan? Iya kan? Anak-anak kita tuh disuruh mikir ngarang, disuruh ngarang mikir.
(31) Liburan ya, kenapa di kita itu liburan identik dengan berlibur ke rumah nenek? Ini... ini materi saya minggu lalu, jadi enggak... enggak akan bahas itu. Liburan bagi saya itu sudah menjadi makanan sehari-hari kawan-kawan. Saya ini pengangguran, iya saya setiap hari berlibur. Saya enggak kerja, kuliah juga udah enggak ada harapan... beneran. Tapi stigma masyarakat terhadap pengangguran ini selalu salah. Mereka kira pengangguran itu kerjanya cuma tidur, saya sebagai pengangguran yang profesional tidak terima. Karena gini mereka kira pengangguran itu cuma tidur padahal saya punya jadwal udah tersusun dengan rapi. Tidur, bangun, tidur lagi, bangun. Ada bangunnya kawan-kawan, enggak cuma tidur.
Kalo cuma tidur dan tanpa ada bangun ya innalillahi, wasalam.
(32) Kawan-kawan masyarakat kita itu terlalu memandang negatif terhadap sebuah makanan. Misalnya mi instan, makanan kelas rendah lah, makanan enggak sehat lah, padahal kawan-kawan siapa yang menyelamatkan anak-anak kosan ketika mereka kelaparan? Mi instan. Siapa yang pertama kali datang ke lokasi bencana? Siapa? Bukan para politisi atau selebriti, mi instan. Jadi apa yang terjadi jika tanpa ada mi instan? Keos kawan-kawan...
keos... keos. Bencana, apa yang mau kita bantu kepada korban bencana jika tanpa ada mi instan? Enggak mungkin kita ngelempar bantuan makanan padang, lempar rendang, lempar kikil, lempar abang-abangnya sambil bawa piring. Assalamualaikum.
Wacana (28), (29), (30), (31) dan (32) memuat jenis tindak tutur kompetitif mengomentari. Wacana (28) ditandai dengan tuturan “kita itu memang sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam berbahasa, khususnya penulisan.
Misalnya, ketika kita menuliskan kata di-, ini sering tertukar ni disatukan atau dipisah.” Dari tuturannya, tuturan tersebut mengomentari kesalahan-kesalahan dalam berbahasa seperti kata ‘di-,’ yang dalam penulisan sering tertukar harus dipisah atau disatukan.
31
Wacana (29) ditandai dengan tuturan “aktor film atau bintang film itu biasanya punya fans berat atau penggemar berat dan saya enggak mengerti kadang- kadang dengan pola pikir fans. Sekarang begini, seorang fans rela antri panjang, rela antri berjam-jam cuma buat foto bareng sama artisnya, iya kan?
Terus setelah mendapat foto itu fotonya kita gunakan buat apa? Paling banter foto itu kita pake buat pamer, buat sombong. Iya kan? Update di twitter, pesbuk, line dan line line. Ini aneh, ini aneh... dipake buat nyombong, yang artis siapa yang sombong siapa?” Dari tuturannya, tuturan tersebut mengomentari pola pikir para penggemar artis idola yang rela antri berjam-jam hanya untuk berfoto bersama artis idola dan setelah berhasil foto bersama, fotonya digunakan untuk sombong dan dipamerkan di semua sosial media.
Wacana (30) ditandai dengan tuturan “anak-anak kita tuh disuruh mikir ngarang, disuruh ngarang mikir.” Dari tuturannya, tuturan tersebut mengomentari persoalan anak saat diberi tugas untuk mengarang sebuah cerita respon anak-anak akan berpikir berbeda ketika diberi tugas sejarah respon anak-anak-anak-anak akan mengarang.
Wacana (31) ditandai dengan tuturan “tapi stigma masyarakat terhadap pengangguran ini selalu salah. Mereka kira pengangguran itu kerjanya cuma tidur, saya sebagai pengangguran yang profesional tidak terima.” Dari tuturannya, tuturan tersebut mengomentari persoalan stigma masyarakat terhadap pengangguran bahwa seorang pengangguran kegiatannya hanya tidur.
Wacana (32) ditandai dengan tuturan “kawan-kawan masyarakat kita itu terlalu memandang negatif terhadap sebuah makanan. Misalnya mi instan,
32
makanan kelas rendah lah, makanan enggak sehat lah, padahal kawan-kawan siapa yang menyelamatkan anak-anak kosan ketika mereka kelaparan? Mi instan.
Siapa yang pertama kali datang ke lokasi bencana? Siapa? Bukan para politisi atau selebriti, mi instan.” Dari tuturannya, tuturan tersebut mengomentari masyarakat yang terlalu memandang negatif terhadap sebuah makanan seperti mi instan.