BAB IV ANALISIS KEBIJAKAN KEPEMILIKIAN RUMAH
D. Tingkat keberhasilan BTN Syariah dalam penyaluran
Bersubsidi
Salah satu produk unggulan perbankan nasional dalam menyalurkan kredit konsumtif adalah Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Hampir semua bank berlomba-lomba menawarkan produk KPR-nya kepada masyarakat dengan memberikan segala fasilitas kemudahan. Dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini, yang berimbas pada naik turunya suku bunga,
80
banyak nasabah tertarik untuk menggunakan produk KPR syariah yang tidak terpengaruh suku bunga.
Di banyak bank syariah di Negara lain, dalam hal pembiayaan KPR diterapkan akad musyarakah mutanaqisah. Akad ini adalah campuran antara
syirkah dengan ijarah. Musyarakah mutanaqisah ini dirasa lebih sesuai dengan syariah dibandingkan dengan akad qard dan murabahah.
Musyarakah mutanaqisah memungkinkan pemberian jangka waktu
pembiayaan yang lebih lama daripada pembiayaan murabahah. Meskipun semua itu kembali kepada kebijakan bank syariah masing-masing.
Bank Tabungan Negra atau BTN dengan pengalamanya dalam bidang kredit Pembiayaan Rumah melalui kantor cabang BTN Syariah telah telah di percaya oleh Kemenrian Negara Perumahan Rakya untuk memasarkan KPR syariah bersubsidi sejak 21 Oktober 2005, sebanyak 200 unit5, dalam penyaluran KPR bersubsidi ini menurut Bambang pujianto Financing Service Officer dapat dikatakan sukses dan berjalan baik6 menurut beliau pembiayaan KPR Syariah bersubsidi ini ter realisasikan di daerah tangerang dan kebanyakan peminatnya adalah guru, namun kalau di lihat dari target yang di berikan oleh Kemenrian Negara Perumahan Rakyat dapat dikatakan belum sukses atau terpenuhi karena dari 200 unit tersebut hanya 25 % yang dapat tersalurkan.
5
KPR Syariah Bersubsidi diluncurkan, artikel diakses pada tanggal 6 januari 2010 dari http://blog.pemiliklangsung.com/pindah-bank-kpr/
6
Wawancara pribadi dengan Bapak Bambang Pujianto, Financing Servicese Officer BTN Syariah, Gedung Menara BTN, Lt.2 2 Maret 2010.
A. Kesimpulan
Dari uraian tentang Analisis kebijakan Kepemilikan Rumah Bersubsidi dengan skim syariah diatas maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Alternatif pembiayaan syariah untuk memiliki rumah adalah dengan prinsip jual beli (al bai’) dan prinsip sewa menyewa (al ijarah). Adapun mekanisme pembiayaan KPR yang sering digunakan oleh perbankan syariah adalah pertama akad murabahah dengan jual beli bayar angsur, kedua, adalah dengan menggunakan akad istisna atau jual beli pesanan, dan yang ketiga, adalah dengan ijarah mutahia bittamlik (IMBT) atau sewa beli (leasing syariah).
2. KPR bersubsidi merupakan kepemilikan rumah dengan menggunakan sekim al bai’ dengan akad murabahah yang di berikan oleh BTN Syariah dengan fasilitasi subsidi dari pemerintah melalui Kementrian Negara Perumahan Rakyat kepada masyarakat yang dinilai layak untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah yang ada pada BTN Syariah secara umum mekanisme penyaluranya hampir sama dengan KPR atau KPR Syariah biasa yang berbeda adalah dalam
83
persyaratanya terdapat surat keterangan yang dikeluarkan dari kantor kelurahan dan di lanjutkan oleh kantor kecamatan setempat.
3. Tingkat keberhasilan penyaluran KPR Syariah bersubsidi dapat dikatakan sukses dan berjalan baik KPR Syariah bersubsidi ini ter realisasikan di daerah Tangerang namun kalau di lihat dari target yang di berikan oleh Kementrian Negara Perumahan Rakya dapat dikatakan belum sukses atau terpenuhi karena dari 200 unit tersebut hanya 25 % yang dapat tersalurkan.
B. Saran
Setelah melakukan analisis, maka saran-saran yang dapat penulis berikan adalah:
1. Dalam pembiayaan KPR Syariah bersubsidi terdapat tiga alternatif akad yang bisa digunakan. Ada baiknya bank syariah terbuka jika nasabah menginginkan bertransaksi dengan alternatif akad yang lain selain alternatif akad 1 ( bai’, murabahah). Hal ini sesuai dengan kaidah fikih bahwa “pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”. Jangan menetapkan akad sepihak hanya dikarenakan alasan kemudahan. Bank syariah hendaknya memberikan penjelasan kepada nasabah tentang semua alternatif akad yang dapat digunakan sehingga nasabah bisa memilih sesuai dengan kemauan dan kemampuannya. Untuk itu diperlukan SDM yang lebih berkualitas yang mengerti tentang akad-akad syariah.
2. Tugas utama Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalannya operasional bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hal ini karena transaksi-transaksi yang berlaku dalam bank syariah sangat khusus jika dibandingkan Bank Konvensional. Fungsi utama lain dari Dewan Syariah Nasional adalah meneliti dan memberi fatwa bagi produk- produk yang dikembangkan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Seharusnya jika dalam prakteknya, akad yang telah ditetapkan ternyata rawan terhadap riba atau hal lain yang menjadikannya tidak sesuai syariah, DSN cepat tanggap dan mencari solusi yang tepat agar tidak terkesan di masyarakat awam bahwa bank syariah sama dengan bank konvensional, hanya beda nama produknya saja.
3. Jumlah penduduk muslim yang mayoritas, belum tentu menjadi jaminan mulusnya Bank dan KPR Syariah bertumbuh kembang. Ini menjadi ironi bila melihat perkembangan aktifitas dan lalu lintas keuangan syariah di Indonesia. Hal ini dikarenakan dukungan pemerintah yang masih setengah hati, serta masih terdapatnya kerancauan antara regulasi dan implementasi, khususnya perkara fiskal, turut berkontribusi terhadap keengganan masyarakat mayoritas negeri ini untuk memanfaatkan jasa perbankan berbasis syariah. Infra struktur dan regulasinya sudah cukup memadai dan memungkinkan prinsip keuangan syariah berkembang di sana. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan membuat regulasi dan aturan main yang tidak terlalu kaku. Salah satunya
85
menerapkan fleksibilitas dengan acuan aturan syariah internasional yang pada dasarnya membebaskan pajak berganda.
4. Dalam penyaluran KPR Syariah bersubsidi ini agar tersalurkan secara maksimal dan sesuai yang di harapkan oleh perbankan syariah dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat ada baiknya sosialisasi terhadap masyarakat berpenghasilan rendah perlu di tingkatkan serta kualitas rumah yang di pasarkan juga lebih bagus dan sesuai dengan minat nasabah berpenghasilan menengah rendah.
86
Al- Quran dan Terjemahannya, Departemen agama RI.
Ali, M. Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persda, 2004, edisi I, cet. ke- 2.
Alihozi, Ayo Beralih ke KPR Syariah, artikel diakses pada tanggal 12 November 2008 dari http://alihozi77.blogspot.com/2008/04/ayoberalih-kpr- syariah.html.
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Bulughu al Maram min Adilah al-Ahkam, Beirut: Muassasah al-Royan, 2000
Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta: Gema Insani Press, 2001, cet. I.
--- Bank Syariah Suatu Pengenalan Umum, Jakarta: Tazkia Institute, 2000. --- Bank Syariah Wacana Ulama dan Cendikiawan, Jakarta: Tazkia
Institute, 1999.
--- Bank Syariah: Bagi Bankirdan Praktisi Keuangan, Jakarta: Bank Indonesia dan Tazkia Institute, 1999
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, edisi 3.
Dewan Syariah Nasional- MUI, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Ciputat: Gaung Persada, 2003, cet. kedua, edisi revisi.
Echols, John M dan Hasan Shadily, Kamus Inggris- Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005, cet. XXVI.
Ed, Philip Kotler. Marketing Insights from A to Z. Jakarta: Erlangga, 2003.
Gunara, Thorik. dan Sudibyo, Utus Hardiono. Marketing Muhammad. Bandung: Madani A Prima, 2007.
87
Umar, Husein, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Kasmir, SE, MM, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, Cet-1
Karim, Adiwarman, Bank Islam, Jakarta : Rajawali Press, 2004 edisi kedua
Kotler, Philip, Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Pengendalian, Jakarta : Erlangga. Edisi bahasa Indonesia Cet-5 jilid ke 6. 1994
KPR Syariah, di akses Tanggal 21 Oktober 2009 www.google.com,http//Menkaji
Moeloeng Lexy J, Metode Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002. Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Yogyakarta: Ekonisia, 2004, cet. I. Muhammad, Manajemen Pembiayaan Bank Syari’ah, Yogyakarta: UPP AMP
YKPN, 2005
Murbaintoro, Tito. ed., Kebijakan Pembiayaan Perumahan (Jatinagor: Kementerian Negara Perumahan Rakyat, 2006
M. Subana, dan Sudrajat, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Dekdikbud. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1999.
Pindah ke KPR Syariah, Mengapa Tidak?, diakses pada tanggal 6 Mei 2008, dari
http://fatiaali.wordpress.com/2008/04/pindah-ke-kpr-syariah- mengapa-tidak
Pindah KPR ke Bank Syariah Mudah, artikel diakses pada tanggal 6 Mei 2008 dari http://blog.pemiliklangsung.com/pindah-bank-kpr/
Rifa’I, Muhammad, Konsep Perbankan Syariah, Semarang: CV Wicaksana, 2002 Suhartati Yusron, Tati. “Analisis Penawaran Kredit Pemilikan Rumah di PT. Papan
Sejahtera dan Bank-Bank Swasta di Kodya Bandung,” Laporan
Surachmand, Winarmo, Dasar dan teknik Research, Bandung: CV. Tarsito, 1972. Sabiq, Sayyid. Fiqih as- Sunnah, Beirut. Daar al- Fath,). jilid 3.
Sjahdeini, Sutan Remy, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam tata Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999, cet. I. Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia. Bank Syariah
Konsep, Produk dan Implementasi Operasional. Jakarta: Djambatan, 2003.
Tjoekam, Moh, Perkreditan Bisnis Inti Bank Komersial, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.
Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
Warsono Munawwar, Ahmad, Kamus Al-Munawir, , Surabaya: Pustaka Progresif 1997.
Wawancara pribadi dengan Bapak Bambang Pujianto, Financing Servicese Officer BTN Syariah, Gedung Menara BTN, Lt.2 2 Maret 2010.
Zulkifli, Sunarto, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah, Jakarta: Zikrul Hakim, 2003.
ANALISIS KEBIJAKAN KEPEMILIKAN RUMAH BERSUBSIDI DENGAN SKIM SYARIAH
(Studi kasus BTN Syariah Cabang Harmoni Jakarta)
DAFTAR WAWANCARA 2 MARET 2010
Tanya : Sudah berapa lama BTN Syariah menyalurkan KPR bersubsidi?
Jawab : Kalau sudah berapa lama BTN Syariah Menyalurkan KPR Bersubsidi, itu kira- kira sejak awal berdirinya BTN Syariah sudah mengadakan atau meluncurkan prodak KPR bersubsidi dengan skim syari’ah sekitar 14 atau 15 Februari 2005, 2005 itu masih proses dan molai terealisasikan pembiayaan KPR bersubsidi dengan skim syariah ini pada 2006-an. Tanya : Dasar hukum dari prodak KPR Bersubsidi BTN Syariah?
Jawab : Dasar hukum dari KPR Bersubsidi BTN Syariah ini SE (Surat Edaran ) Direksi adalah berdasarkan KEPMEN (Ketetapan Mentri) yaitu No.04 / Permen/M/ 2007 Tentang pengadaan perumahan dan pemukiman dengan dukungan fasilitas subsidi perumahan melalui KPR Syariah Pasal 9 ayat 3 mengatur bahwa pembangunan RSH (Rumah) menggunakan kafling luas minimal 60 m2
Tanya : Bagaiman kebijakan – kebijakan BTN Syariah dalam penyaluran KPR Syariah Bersubsidi?
Jawab : KPR Syariah bersubsidi diberikan kepada pemohon yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a. Warga Negara Indonesia
b. Telah berusia 21 (Duapuluh satu) tahun atau yang telahmenikah dan berwenang melakukan tindakan hokum (telah dewasa menurut hokum dan tidak berada dalam pengampuan)
c. Pada saat pembiayaan lunas usia pemohon tidak melebihi 65 tahun d. Memiliki penghasilan yang menurut perhitungan bank dapat menjamin
pembayaran kewajiban (angsuran pokok dan margin) sampai pembiayaan lunas. Penghasilan di maksud baik bersifat tetap (gaji bulanan) maupun tidak tetap (pendapatan dari pekerjaan bebas);
e. Mempunyai pekerjaan tetap (sebagai karyawan atau pekerjaan lainya yang memperoleh gaji tetap) atau menjalankan usahanya sendiri (wiraswasta) dengan masa kerja minimal 1(satu) taun;
f. Tidak memiliki pembiayaan bermasalah baik di Bank maupun di Bank lain;
g. Sesuai ketentuan Bank penghasilannya masih cuup untuk membayar kewajiban (angsuran pokok dan margin) atas seluruh pembiayaan (baik yang telah ada maupun yang akan diminta)
h. Menyampaikan NPWP Pribadi untuk pemohon dengan jumlah pembiayaan ≥ Rp. 100 Juta atau SPT Pasal 21 Form A1 untuk pemohon dengan jumlah pembiayaan ≥ Rp 50 Juta sampai dengan < Rp. 100 juta atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3
Tanya : Bagaimana proses pengajuan KPR bersubsidi yang berada pada BTN syariah?
Jawab : Proses pengajuan KPR bersubsidi, saya kira semua hampir sama dengan proses pengajuan KPR tidak bersubsidi atau KPR biasa hanya yang berbeda adalah ada surat keterangan dari kelurahan setempat serta surat keterangan mendapatkan subsidi dari camat.
Tanya : Bagaimana kriteria seorang nasabah dapat memperoleh KPR Syariahi bersubsidi?
Jawab : Kriteria seseorang mendapatkan KPR bersubsidi adalah keluarga yang kurang mampu dan yang belum pernah mempunyai rumah kalau dia sudah pernah punya rumah dan dijual sehingga tidak punya rumah lagi seseorang itu tetap tidak memperoleh KPR yang besubsidi.
Tanya : Apa syarat-syarat teknis bagi nasabah dalam pengajuan KPR bersubsidi ? Jawab : Sarat-syarat teknis teknis yang harus dipenuhi oleh nasabah ya seperti
yang ada di fom aplikasi pengajuan,
Bagi nasabah yang berpenghasilan tetap / Karyawan
a. Aplikasi pemohonan
b. Copy KTP, Kartu Keluarga (KK) Surat Nikah/cerai, Pasphoto pemohon dan pasangan (Suami/isteri) yang terbaru.
c. Slip gaji atau surat keterangan penghasilan yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang.
d. Surat keterangan bekerja dari perusahaan calon nasabah bekerja/ SK pengangkatan pegawai.
e. Copy Rekening Tabungan BTN Syariah dan / atau Bank Lain. f. Surat Kuasa Pemotongan Gaji untuk pembayaran angsuran kolektif
yang telah ditanda tangani oleh pimpinan atau Bendaharawan Instansi (jika ada).
Bagi nasabah yang berpenghasilan tetap / Karyawan a. Aplikasi pemohonan
b. Copy KTP, Kartu Keluarga (KK) Surat Nikah/cerai, Pasphoto pemohon dan pasangan (Suami/isteri) yang terbaru.
c. Surat keterangan penghasilan.
d. Copy Rekening Tabungan BTN Syariah dan / atau Bank Lain. e. Copy Akta perusahaan, Ijin Usaha, Ijin Praktek, SIUP/TDP. f. Laporan keuangan Perusahaan
g. Izin Praktek (untuk dokter/pengacara dll). Lain-lain
a. Copy PBB/SPPT
b. Copy Sertifikat dan IMB
c. Surat keterangan belum memiliki rumah (Untuk KPR Bersubsidi) Tanya : Bagaimana sistem pengajuan KPR Bersubsidi yang ada pada BTN
5
Jawab : Sistem pengajuan KPR Bersubsidi pada BTN Syariah dilakukan secara kolektif dengan di sertakan surat keterangan dari pihak kelurahan dan kecamatan setempat serta melengkapi berkas-berkas yang telah di tentukan seperti pada lampiran.
Tanya : Bagaimana pembayaran cicilan KPR Bersubsidi BTN Syariah?
Jawab : Untuk pembayaran cicilan biasanya sudah di sepakati di dalam akad pembiayaan, Angsuran KPR Bersubsidi dibayarkan melalui rekening tabungan nasabah di BTN Syariah, dan selanjutnya akan dipotong/ didebet oleh system secara otomatis setiap bulan.
Tanya : Seberapa besar keberhasilan BTN Syariah dalam pembiayaan KPR Syariah bersubsidi?
Jawab : Kalo ditanya seberapa besar keberhasila penyaluran KPR Syariah bersubsidi ini dapat dikatakan sukses dan berjalan baik, pembiayaan KPR Syariah bersubsidi ini ter realisasikan di daerah tangerang dan kebanyakan peminatnya adalah guru, namun kalau di lihat dari target yang di berikan oleh Kemenrian Negara Perumahan Rakya dapat dikatakan belum sukses atau terpenuhi karena dari 200 unit tersebut hanya 25 % yang dapat tersalurkan.
Tanya : Kendala-kendala penyaluran KPR Syariah Bersubsidi?
Jawab : Biasa kendala-kendala yang dihadapi oleh BTN Syariah sendiri terkait KPR Bersubsidi ini adalah Carakter karakter si nasabah sendiri yang mengakibatkan cicilan atau proses pembayaran tersendat-sendat,
biasanya nasabah untuk tahun-tanhun pertama lancer pembayaranya namun tahun kedua sudah mulai aga’ tersendat-sendat dalam pembayaranya. Selain dari nasabah sendiri ada juga rumah yang di biayai dengan subsidi tidak sesuai dengan kreteria yang diinginkan oleh nasabah.
Interviwe
( BAMBANG PUJIANTO )
Skenario 2a
1
MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 03/PERMEN/M/2007
TENTANG
PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN
MELALUI KPR BERSUBSIDI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT,
Menimbang : a. bahwa perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting dalam peningkatan harkat dan martabat manusia, maka perlu diciptakan kondisi yang dapat mendorong pembangunan perumahan untuk menjaga kelangsungan penyediaan perumahan dan permukiman;
b. bahwa masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, masih belum mampu tinggal di rumah yang layak, sehat, aman, serasi dan teratur tanpa dukungan fasilitas subsidi perumahan untuk pemilikan rumah sederhana sehat;
c. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlu memperhatikan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan moneter, sistem pendanaan dan kemampuan Lembaga Penerbit Kredit serta ketersediaan lahan;
d. bahwa dalam rangka pemberian subsidi perumahan tersebut perlu memperhatikan persyaratan teknis perumahan dan permukiman, dan bangunan gedung dengan memperhatikan muatan lokal maupun budaya setempat yang berkaitan dengan bentuk arsitektur dan struktur bangunan;
e. bahwa dengan meningkatnya harga beberapa komponen bangunan dan agar masyarakat berpenghasilan rendah masih memiliki daya beli yang cukup, maka pemerintah memandang perlu untuk memperluas batasan maksimum harga rumah yang dapat disubsidi sekaligus menetapkan kebijakan menambah nilai subsidi serta pembayaran komponen bunga saja untuk KPR Bersubsidi dalam kurun waktu tertentu;
f. bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d dan huruf e diatas, dan guna menjangkau lebih banyak lagi kelompok sasaran masyarakat berpenghasilan rendah, maka diperlukan pengaturan atas: nilai dan masa subsidi; nilai minimum uang muka; nilai maksimum kredit yang dibiayai; dan suku bunga KPR Bersubsidi;
2
Pengadaan Perumahan dan Permukiman dengan Dukungan Fasilitas Subsidi Perumahan melalui KPR Bersubsidi;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman;
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian;
3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Amandemen Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992) tentang Perbankan;
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; 5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 7. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007;
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009; 10.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2005; 11.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang
Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia;
12.Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Susunan Kabinet Indonesia Bersatu;
13.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 54/PRT/1991 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sangat Sederhana;
14.Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 73/PMK.02/2005 tentang Tata Cara Pencairan, dan Pertanggungjawaban Dana Subsidi Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KPRSH);
15.Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 04/PERMEN/M/2006 Tentang Rencana Strategis Kementerian Negara Perumahan Rakyat Tahun 2005 – 2009;
16.Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/KPTS/1986 tentang Pedoman Teknik Pembangunan Perumahan Sederhana Tidak Bersusun; 17.Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
403/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (Rs Sehat);
M E M U T USK A N
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT TENTANG PENGADAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DENGAN DUKUNGAN FASILITAS SUBSIDI PERUMAHAN MELALUI KPR BERSUBSIDI.
Skenario 2a
3 BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Kredit Pemilikan Rumah Sederhana Sehat (KPRSH) adalah kredit atau pembiayaan yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Kredit atau Pembiayaan yang meliputi KPR Bersubsidi, KPRS/KPRS Mikro Bersubsidi, atau KPR Rusuna Bersubsidi, baik konvensional maupun dengan prinsip syariah yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
2. Kredit Pemilikan Rumah Bersubsidi, selanjutnya disebut KPR Bersubsidi, adalah kredit yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Kredit kepada masyarakat berpenghasilan rendah dalam rangka pemilikan rumah sederhana sehat (RSH) yang dibeli dari pengembang.
3. Kelompok Sasaran adalah keluarga/rumah tangga termasuk perorangan baik yang berpenghasilan tetap maupun tidak tetap, belum pernah memiliki rumah, belum pernah menerima subsidi perumahan dan termasuk ke dalam kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang berpenghasilan per bulan sampai dengan Rp. 2.500.000,-. 4. Bantuan Pembiayaan Perumahan adalah subsidi perumahan dalam bentuk:
a. Subsidi untuk membantu menurunkan angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur melalui pembayaran komponen bunga saja dalam kurun waktu tertentu (subsidi
Interest Only–Balloon Payment), yang selanjutnya disebut subsidi IO-BP;
b. Subsidi untuk membantu menurunkan angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur melalui pengurangan suku bunga angsuran dalam kurun waktu tertentu, yang selanjutnya disebut subsidi selisih bunga;
c. Subsidi untuk membantu menambah uang muka sehingga jumlah keseluruhan uang muka yang dibayar debitur mampu menurunkan pagu kredit yang akan diangsur setiap bulan berikut bunganya, yang selanjutnya disebut subsidi uang muka.
5. Maksimum Harga Rumah adalah batas maksimum harga rumah yang memperoleh subsidi dari Pemerintah berdasarkan Peraturan Perundangan yang berlaku yang dibeli dari pengembang.
6. Lembaga Penerbit Kredit, selanjutnya disebut LPK, adalah bank atau lembaga keuangan non bank atau koperasi yang bersedia dan telah menyampaikan Surat Pernyataan Kesanggupan untuk melaksanakan Program Bantuan Perumahan serta mampu menyediakan pokok kredit yang dibutuhkan untuk pemilikan Rumah Sederhana Sehat sebagaimana dituangkan didalam Memorandum Kesepahaman (MoU) dan atau Perjanjian Kerjasama Operasional (PKO) dengan Kementerian Negara Perumahan Rakyat.
BAB II
KELOMPOK SASARAN DAN PILIHAN SUBSIDI PERUMAHAN
Pasal 2
(1) Bantuan pembiayaan perumahan diberikan kepada keluarga/rumah tangga yang baru pertama kali memiliki rumah dan baru pertama kali menerima subsidi perumahan dan termasuk ke dalam kelompok sasaran masyarakat berpenghasilan rendah, sebagai berikut:
4
I 1.700.000 ≤ Penghasilan ≤ 2.500.000
II 1.000.000 ≤ Penghasilan < 1.700.000
III Penghasilan < 1.000.000
(2) Penghasilan adalah penghasilan pemohon yang didasarkan atas gaji pokok pemohon atau pendapatan pokok pemohon perbulan.
Pasal 3
Bantuan Pembiayaan Perumahan diberikan kepada kelompok sasaran, baik yang berpenghasilan tetap maupun yang berpenghasilan tidak tetap, yang memenuhi persyaratan untuk memperoleh fasilitas kredit melalui LPK yang bersedia memberikan kredit perumahan bersubsidi.
Pasal 4
(1) Kredit perumahan bersubsidi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 untuk masing-masing kelompok sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berupa KPR Bersubsidi. (2) Pilihan skim subsidi yang diberikan melalui KPR Bersubsidi dapat berupa salah satu dari: (i)
Subsidi IO-BP yang dikombinasikan dengan Subsidi Selisih Bunga; atau (ii) Subsidi Uang Muka, dengan besaran nilai subsidi untuk masing-masing kelompok sasaran adalah sebagai berikut:
Maksimum Nilai Subsidi / Rumah Tangga (Rp) Kelompok
Sasaran Subsidi IO-BP dikombinasikan dengan