Berdasarkan hasil tingkat kelangsungan hidup selama pemeliharaan ikan lele. Kelangsungan hidup terbaik terdapat pada perlakuan C dan D dengan nilai 98,67±2,31% sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan E dengan nilai 93,33±8,53%. Dari uji statistik yang dilakukan diketahui bahwa pada semua perlakuan tidak berbeda nyata. (Gambar 12).
15 Gambar 12. Tingkat Kelangsungan Hidup pemeliharaan ikan lele Clarias sp. Keterangan :
Perlakuan A = 0% Tepung limbah kepala udang dan 100% Tepung ikan Perlakuan B = 15% Tepung limbah kepala udang dan 85% Tepung ikan Perlakuan C = 30% Tepung limbah kepala udang dan 70% Tepung ikan Perlakuan D = 45% Tepung limbah kepala udang dan 55% Tepung ikan Perlakuan E = 60% Tepung limbah kepala udang dan 40% Tepung ikan Huruf yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan nyata (P>0.05)
3.2 Pembahasan
Suhu pada setiap perlakuan menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata yaitu berkisar antara 27,5oC-28,8oC (P>0,05). Suhu sangat mempengaruhi laju metabolisme dari ikan lele yang dipelihara. Kisaran suhu ini menyebabkan ikan lele dapat tumbuh dengan baik. Suhu pemeliharaan ini sesuai dengan Khairuman dan Amri (2008) yang menyatakan suhu optimum untuk kehidupan lele adalah 27ºC. Serta Mulyanto (1992), yang menyatakan bahwa suhu yang baik untuk kehidupan ikan di daerah tropis berkisar antara 25-32oC. Pada suhu tersebut ikan dapat tumbuh baik karena proses metabolismenya berjalan dengan baik.
Suhu yang stabil juga berakibat pada tingkat kelangsungan hidup ikan. Hal inilah salah satu penyebab sehingga ikan lele yang dipelihara sedikit mengalami kematian. Nilai tingkat kelangsungan hidup yang diperoleh dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup semua perlakuan berada diatas
16 90%. Pada proses budidaya ikan, fluktuasi suhu tidak boleh lebih dari 4oC karena ikan akan mudah terkena serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri (Nugroho, 2002).
Berdasarkan penelitian, nilai pH mulai awal pemeliharaan sampai dengan akhir, menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata (P>0,05). Nilai pH pada penelitian ini masih dalam batas toleransi ikan yaitu berkisar antar 6-7 (Lampiran 14). Seperti
diungkapkan oleh Moll (1983) dalam Sudaryanti (1990), Nilai pH optimum berkisar
antara 8-9, sedangkan jika pH di bawah 6 reaksi akan seketika terhenti. Pada pH 7 oksidasi amonia menjadi nitrit meningkat, sedangkan oksidasi nitrit menjadi nitrat lebih cepat pada pH asam. Menurut Strauss (2000), Ketika pada suatu perairan rasio C : N besar, maka akan mengakibatkan persaingan antara bakteri heterotrof dengan bakteri nitrifikasi dalam merebutkan amonia. Hal ini dapat menurunkan laju nitrifikasi.
Oksigen terlarut adalah oksigen yang terkandung di dalam air. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2000). Peningkatan suhu sebesar 10C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown, 1987). Oksigen terlarut merupakan salah satu parameter yang berpengaruh dalam kelangsungan hidup ikan. Pada penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pada awal penelitian sampai dengan hari ke-20 oksigen mengalami penurunan sampai kisaran 0.5 mg/L. Setelah hari ke-20 jumlah oksigen terlarut baru stabil pada kisaran diatas 2 mg/L. Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa pada semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Meskipun nilai oksigen terlarut rendah benih ikan lele masih dapat hidup dikarenakan ikan lele memiliki organ pernafasan tambahan. Menurut Suyanto (1999), Ikan lele mempunyai organ pernafasan tambahan (arborescent) yang memungkinkan ikan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga ikan lele dapat hidup dalam air yang kandungan oksigennya sedikit.
Nilai oksigen terlarut yang rendah pada saat awal pemeliharaan sampai dengan hari ke-30 diduga karena aktifitas bakteri yang tinggi untuk menguraikan amonia menjadi nitrit serta nitrit yang diuraikan menjadi nitrat. Bakteri yang terdapat pada media pemeliharaan kemungkinan merupakan bakteri nitrifikasi.
17 Sedangkan nilai total nitrogen selama pemeliharaan yang dari awal pemeliharaan sampai hari ke-20 juga tinggi. Bakteri nitrifikasi membutuhkan oksigen dalam jumlah yang besar dalam proses kerja pada penelitian ini. Seperti diungkapkan Moll (1983) dalam Juhaeni (2002), bakteri nitrifikasi memerlukan oksigen untuk melakukan proses nitrifikasi dari amonia dan nitrit, sehingga diperlukan aerasi penuh diseluruh permukaan, di mana aktivitas bakteri terjadi. Pernyataan ini didukung oleh Boyd (1990) yang menyatakan bahwa dekomposisi secara aerobik membutuhkan ketersediaan oksigen yang kontinyu dan proses tersebut akan lebih cepat ketika konsentrasi oksigen terlarut mendekati jenuh. Hal inilah yang menyebabkan turunnya nilai oksigen terlarut pada media pemeliharaan. tetapi nilai oksigen yang rendah tersebut masih dalam ambang batas toleransi ikan lele karena tidak terjadi kematian pada ikan lele yang dipelihara.
Sedangkan untuk penurunan oksigen dari awal sampai hari ke-20 kemudian mengalami peningkatan pada hari ke-30 karena jumlah nitrogen yang ada pada media pemeliharaan ikan lele. Oksigen digunakan untuk perubahan bentuk dari limbah nitrogen yang dihasilkan. Turunnya nilai total nitrogen dipengaruhi oleh jumlah pakan yang tercerna serta hasil buangan sisa metabolisme dari ikan lele yang dipelihara berkurang (Gambar 7.)
Berdasarkan hasil perhitungan selama pemeliharaan, diperoleh nilai amonia antara 0,0001-0,008 mg/L (Lampiran 16). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pada hari ke 20 dan hari 30 nilai amonia perlakuan A dan B berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05) (Lampiran 5). Keberadaan amonia akan mengurangi daya ikat butir darah merah terhadap oksigen, sehingga pertumbuhan ikan terhambat. Jumlah amonia dalam air akan bertambah, sesuai dengan peningkatan aktivitas dan kenaikan suhu air. Ekskresi ikan juga mempengaruhi kandungan amoniak dalam air. Ekskresi ikan berasal dari katabolisme protein pakan dan dikeluarkan dalam bentuk amonia dan urea ke air. Kandungan amoniak dalam air sumber yang baik tidak lebih dari 0,1 ppm. Air yang mengandung 1,0 ppm sudah diangap tercemar. Air yang mengandung amonia tinggi bersifat toksik karena akan menghambat ekskresi pada ikan (Chen et al., 1993).
Nilai nitrit pada penelitian ini berkisar antara 0,01-0,04 mg/L (Lampiran 17). Berdasarkan uji statistik yang dilakukan nilai nitrit pada hari ke 10, diperoleh
18 hasil bahwa perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan C, D, dan E (P<0,05) (Lampiran 7). Nitrit yang tinggi didalam perairan sangat berbahaya bagi udang dan ikan, karena nitrit dalam darah mengoksidasi haemoglobin menjadi meta-haemoglobin yang tidak mampu mengedarkan oksigen (Spotte, 1979 dalam Darmawan dan Erik, 2010). kandungan nitrit sebaiknya lebih kecil dari 0,3 ppm. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan faktor pembatas dan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses nitrifikasi. Menurut Moore (1992), kadar nitrit yang lebih dari 0,05 mg/L dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif.. Sehingga kandungan nitrit pada penelitian ini termasuk kedalam kondisi dapat ditoleransi oleh ikan lele.
Nilai nitrat pada penelitian ini berkisar antara 0,0-2 mg/L (Lampiran 18). Sedangkan menurut uji statistik, diperoleh hasil bahwa pada hari ke 10 perlakuan A berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan pada hari ke 30 perlakuan E berbeda nyata dengan perlakuan A, B, dan C (Lampiran 7). Nitrat merupakan senyawa yang tidak berbahaya bagi organisme budidaya. Nilai nitrat pada pemeliharaan selama penelitian juga menunjukkan kisaran nilai 0,5-1,5 ppm. Menurut Volenweider (1969) dalam Wetzel (1975), kadar nitrat sebesar 1–5 mg/L termasuk kedalam perairan mesotrofik. Nitrat pada perairan mampu menstimulasi meningkatnya jumlah alga (blooming algae).
Nilai total nitrogen yang diperleh pada penelitian ini berkisar antara 0,8-7 mg/L (Lampiran 19). Menurut uji statistik yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perlakuan A merupakan perlakuan terbaik dengan nilai 4,227 mg/L pada hari ke 10 dan 6,227 pada hari ke 20 karena berbeda nyata dengan perlakuan lain (Lampiran 8).Total nitrogen yang meningkat pada awal pemeliharaan sampai dengan hari ke-20 diakibatkan jumlah pakan yang tidak termakan serta tingginya sisa hasil metabolisme ikan yang dikeluarkan ke lingkungan menjadi penyebabnya. Sedangkan nilai total nitrogen yang menurun pada hari ke-20 sampai akhir pemeliharaan menunjukkan bahwa pakan optimal diserap oleh ikan sehingga hasil buangannya berupa nitrogen jumlahnya sedikit.
Nilai total phospat pada penelitian ini berkisar antara 0,1-3 mg/L (Lampiran 20). Total phospat terbaik terdapat pada perlakuan D. Total phospat di perairan
19 pada perlakuan menunjukkan bahwa nilai yang stabil sampai dengan hari ke-20. Phospat pada perairan berfungsi untuk bahan pertumbuhan plankton .
Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya. Menurut Resmi (2000), tepung kepala udang sebelum dilakukan pengolahan mengandung zat-zat makanan yaitu protein 46,20%, serat kasar 16,85% dan kalsium 9,40%. Jumlah protein yang tinggi diharapkan mampu menggurangi penggunaan tepung ikan yang harganya mahal di pasaran.
Hasil dari perhitungan pertambahan bobot ikan lele selama pemeliharaan (Gambar 9.) menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan bobot terbaik terdapat pada perlakuan C. Sedangkan pertambahan bobot terendah ditunjukkan pada perlakuan E. Pertambahan bobot pada semua perlakuan mengalami kenaikan dari awal sampai dengan akhir pemeliharaan. Perlakuan C pertambahan bobot lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.
Dari hasil perhitungan laju pertumbuhan spesifik selama pemeliharaan (Gambar 2.) diketahui bahwa perlakuan C dengan konsentrasi limbah kepala udang sebanyak 30% memberikan nilai pertumbuhan yang terbaik sebesar 2,69±0,47%. Berdasarkan uji statistik yang dilakukan diperoleh hasil bahwa laju pertumbuhan spesifik tidak berbeda nyata antara perlakuan C dengan konsentrasi subsitusi limbah kepala udang sebanyak 30% yang bernilai 2,69±0,47% dan konsentrasi 45% yang bernilai 2,62±0,20%. Berdasarkan penelitian ini jumlah maksimum tepung kepala udang yang mampu menggantikan tepung ikan dalam pakan adalah sebanyak 45%. Karena pada jumlah tersebut ikan lele masih dapat tumbuh dengan baik.
Kelangsungan hidup dari semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan secara nyata (P>0,05). Tingkat kelangsungan hidup yang masih baik dikarenakan kualitas air yang masih dalam ambang batas toleransi ikan. Walaupun demikian amonia dan nitrit yang paling baik terdapat pada perlakuan B yaitu substitusi 15%. Dimana perlakuan B tidak berbeda nyata dengan perlakuan A (substitusi 0%). Dari hasil bahasan secara keseluruhan, berdasarkan nilai ekonomi perlakuan B memberikan dampak yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Pada perubahan bobot perlakuan B juga memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan perlakuan A (Lampiran 22).
20 Dalam industri budidaya pakan menyerap hampir 80% biaya produksi. Menurut Behrends (1990), apabila harga ransum dapat ditekan sebanyak 2% saja, maka keuntungan dari penjualan produk peternakan (karkas) meningkat sampai sebesar 8 persen. Sesuai dengan pendapat Rasyaf (1994), bahwa yang sangat menentukan tinggi rendahnya harga ransum adalah bahan makanan sumber protein yang berasal dari bahan asal hewani. Bila dihitung secara nominal berdasarkan kandungan protein kasar pada limbah udang, maka pada tahun 2004 diperoleh limbah udang sebesar 66,3 ribu ton atau setara 88,5 ton protein kasar. Jumlah tersebut merupakan potensi bahan baku pakan sebagai sumber protein hewani yang sangat besar, namun dibalik beberapa kelebihan yang dimiliki limbah udang ini memiliki beberapa kekurangan seperti tingginya kandungan serat kasar dan terdapatnya kandungan zat antinutrisi khitin yang menyebabkan kecernaan terhadap protein menjadi rendah. Sehingga dalam penggunaan untuk pakan tepung limbah kepala udang jumlahnya harus dibatasi. Pada penelitian ini dari kondisi kualitas airnya diperoleh hasil bahwa penggunaan subsitusi tepung limbah kepala udang maksimal yang masih mampu menunjang pertumbuhan ikan lele adalah konsentrasi sebanyak 45%. Pernyataan ini sesuai dengan Purwaningsih (2000), limbah udang terdiri dari 30% khitin dari bahan keringnya. Adanya khitin ini mengakibatkan adanya keterbatasan atau faktor pembatas dalam penggunaan limbah udang untuk dijadikan bahan penyusun pakan ikan jika digunakan secara langsung tanpa dilakukan pengolahan.
21 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan kajian kualitas air pada penelitian ini, subsitusi 15% tepung limbah kepala udang memberikan hasil yang terbaik pada kualitas air dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari nilai kualitas air yang memiliki nilai amonia lebih rendah dari perlakuan lain dan memberikan pertumbuhan bobot dan nilai kelangsungan hidup yang paling baik dengan nilai 98,67±2,31 %.
4.2 Saran
Pengujian berbagai parameter kualitas air yang berpengaruh pada perbaikan kualitas pakan melalui subsitusi tepung ikan dengan tepung limbah kepala udang dalam skala produksi massal dengan dosis subsitusi protein limbah kepala udang sebanyak 15%.
22 DAFTAR PUSTAKA
Adiwidjaya, Darmawan, Erik, dan Sutikno. 2010. Aplikasi Frekuensi Pemberian Pakan Buatan Secara Optimal Pada Budidaya Udang Windu Intensif Berkelanjutan. www.udang-bbbap.com. [20 Mei 2012].
Behrens, BR. 1990. Nutrition Ekonomic for Layers. Poultry International. Vol 29. No. 1. 16 - 20.
Boyd and Claude E. 1990. Water Quality in ponds for Aquaculture. Elsevier Science Publisher B.V., The Netherlands.
Boyd. 1990. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Auburn University. Elseveir Science Publising Company, Albama, Inc. New York.
Brown, AL. 1987. Freshwater Ecology. Heinemann Educational Books. London. 163 p.
Chen, JC and Kou YZ. 1993. Accumulation of Ammonia in the Haemolymph of Penaeus Monodon Exposed to Ambient Ammonia. Aquaculture.
Djajasewaka, H. 1995. Pakan Ikan. CV.Yasaguna. Jakarta.
Effendi, H. 2002. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.
Goddard, S. 1996. Feed Management in Intensive Aquaculture. Chapman and Hall, New York
Huisman, EA. 1987. The Principles of Fish Culture Production. Department of Aquaculture, Wageningen University, The Netheland. hlm 100.
Juhaeni, H. 2002. Penambahan tepung tapioca yang berbeda terhadap kelimpahan bakteri dan waktu mencapai kelimpahan maksimum pada larutan kotoran ayam 100% jenuh (9 gram/liter). [Skripsi]. IPB
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2011ª. Data Potensi dan Produksi ikan lele. Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Khairuman dan Amri K. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.
Manurung, LDI. 2011. Efektifitas Pengurangan Tepung Ikan Pada Kadar Protein yang Berbeda Dalam Pakan Ikan Lele Clarias sp [Tesis]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. xv + 60 hlm
23 Moore, JW. 1991. Inorganic Contaminants of Surface Water. Springerverlag.
New York. 334 p.
Mulyanto, 1992. Lingkungan Hidup untuk Ikan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta: 138
Nugroho E dan Sutrisno. 2002.Budidaya Ikan dan Sayuran Akuaponi. Penebar Swadaya.Jakarta
Purwaningsih, S. 2000. Teknologi Pembekuan Udang, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Cetakan I. Kanisius, Yogjakarta. Hal : 120 – 212.
Resmi. 2000. Pengaruh Pemanfaatan Tepung Limbah Udang Olahan dalam Ransum Ayam Petelur Terhadap Penampilan Produksi Telur. [Tesis]. Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.
Septijah, P, Salamah E, Sumaryanto H, Purwaningsih S, dan Santoso J. 1992. Pengaruh Berbagai Metode Isolasi Khitin Kulit Udang Terhadap Mutunya. Laporan Penelitian Jurusan Pengolahan Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor.
Steel, RGD and Torrie JH. 1982. Principle and Procedures of Statistics a iometrical Aprroach 2nd. Florida: CRC Press.Winton JR (2001) Fish health management. In: Wedemeyer GA (ed.) Fish Hatchery Management, American Fisheries Society, Bethesda, p: 559.
.
Strauss, EA. 2000. The effects of organic carbon and nitrogen availability on nitrification rates in stream sediments [disertasi]. Department of Biological Sciences, Notre Dame, Indiana. vii + 95 p.
Sudaryanti, S. 1991. Dampak mekanisme alat Limnotek 3.1. terhadap sebaran oksigen terlarut (studi restorasi di peraran Situ Bojongsari, Bogor) [tesis]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. viii + 78 hlm.
Suyanto, SR. 1999. Budidaya Ikan Lele. Cetakan XXII. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wetzel, RG. 1975. Limnology. W.B. Saunder Co. Philadelphia, Pennsylvania. 743 p.
24
LAMPIRAN
25 Lampiran 1. Data bobot hasil sampling, tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, konversi pakan pemeliharaan benih ikan lele Clarias sp. dengan perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari masa pemeliharaan.
Perlakuan Bobot Hasil Sampling Hari ke-(g) SR
(%) SGR (%bb/hari) FCR 0 10 20 30 0%TKU100%TI 2.4 3.04 3.86 4.89 94,67 2,40 3,15 15%TKU85%TI 2.4 3.08 3.96 5.08 96,00 2,53 2,97 30%TKU70%TI 2.4 3.13 4.08 5.32 98,67 2,69 2,81 45%TKU55%TI 2.4 3.11 4.03 5.21 98,67 2,62 2,79 60%TKU40%TI 2.4 2.94 3.60 4.41 93,33 2,05 3,79
Lampiran 2. Analisis statistik nilai suhu media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai suhu media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.656 4 .414 .795 .576
Galat 2.605 5 .521
Total 4.261 9
ANOVA nilai suhu media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .476 4 .119 1.133 .436
Galat .525 5 .105
Total 1.001 9
ANOVA nilai suhu media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .834 4 .208 1.311 .379
Galat .795 5 .159
26 Lampiran 3. Analisis statistik nilai derajat keasaman media pemeliharaan ikan lele
Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai derajat keasaman media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .241 4 .060 .926 .516
Galat .326 5 .065
Total .567 9
ANOVA nilai derajat keasaman media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .110 4 .027 2.012 .231
Galat .068 5 .014
Total .178 9
ANOVA nilai derajat keasaman media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .048 4 .012 1.158 .428
Galat .052 5 .010
Total .100 9
Lampiran 4. Analisis statistik nilai oksigen terlarut media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai oksigen terlarut media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .008 4 .002 .234 .908
Galat .041 5 .008
Total .049 9
ANOVA nilai oksigen terlarut media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .087 4 .022 4.209 .073
Galat .026 5 .005
27 ANOVA nilai oksigen terlarut media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30
Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .272 4 .068 .136 .962
Galat 2.489 5 .498
Total 2.760 9
Lampiran 5. Analisis statistik nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.377 4 .344 76.459 .000
Galat .023 5 .005
Total 1.400 9
ANOVA nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.233 4 .308 18.313 .003
Galat .084 5 .017
Total 1.317 9
ANOVA nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 3.482 4 .871 14.624 .006
Galat .298 5 .060
Total 3.780 9
Uji lanjut tukey nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 3 4 0% 3 0.0001289 15% 3 0.0001679 30% 3 0.0001905 0.0001905 45% 3 0.000207 60% 3 0.000239 Sig. 1.000 .094 .236 1.000
28 Uji lanjut tukey nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 3 0% 3 0.001283 15% 3 0.001497 0.001497 30% 3 0.001723 45% 3 0.001971 0.001971 60% 3 0.002284 Sig. .091 .071 .248
Uji lanjut tukey nilai amonia media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 3 0% 3 0.002066 15% 3 0.002336 0.002336 30% 3 0.002789 0.002789 45% 3 0.003148 0.003148 60% 3 0.003731 Sig. .141 .097 .058
Lampiran 6. Analisis statistik nilai nitrit media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai nitrit media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .002 4 .000 13.162 .007
Galat .000 5 .000
Total .002 9
ANOVA nilai nitrit media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .000 4 .000 2.328 .190
Galat .000 5 .000
Total .001 9
ANOVA nilai nitrit media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .000 4 .000 6.347 .034
Galat .000 5 .000
29 Uji lanjut tukey nilai nitrit media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 .04900 15% 3 .03000 .03000 30% 3 .01450 45% 3 .01000 60% 3 .02000 Sig. .099 .117
Lampiran 7. Analisis statistik nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .245 4 .061 27.655 .001
Galat .011 5 .002
Total .257 9
ANOVA nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .467 4 .117 4.774 .058
Galat .122 5 .024
Total .589 9
ANOVA nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.016 4 .254 9.903 .014
Galat .128 5 .026
Total 1.145 9
Uji lanjut tukey nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 3 0% 3 1.50650 15% 3 1.63000 1.63000 30% 3 1.76950 1.76950 45% 3 1.95500 60% 3 1.59550 1.59550 Sig. .201 .068 .054
30 Uji lanjut tukey nilai nitrat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 .80900 15% 3 1.02250 30% 3 1.00150 45% 3 1.42000 1.42000 60% 3 1.68650 Sig. .060 .523
Lampiran 8. Analisis statistik nilai total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 7.445 4 1.861 74.754 .000
Galat .124 5 .025
Total 7.569 9
ANOVA nilai total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 2.476 4 .619 44.068 .000
Galat .070 5 .014
Total 2.547 9
ANOVA nilai total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.840 4 .460 2.549 .166
Galat .902 5 .180
Total 2.743 9
Uji lanjut tukey nilai total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 4.30000 15% 3 5.76650 30% 3 6.05700 45% 3 6.33900 6.33900 60% 3 6.86600 Sig. 1.000 .072 .096
31 Uji lanjut tukey total nitrogen media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20
Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 6.22700 15% 3 6.86600 30% 3 7.10400 45% 3 7.28900 7.28900 60% 3 7.73350 Sig. 1.000 .076 .064
Lampiran 9. Analisis statistik nilai total phospat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA nilai total phospat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 10 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .328 4 .082 5.420 .046
Galat .076 5 .015
Total .404 9
ANOVA nilai total phospat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 20 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .191 4 .048 1.900 .249
Galat .126 5 .025
Total .317 9
ANOVA nilai total phospat media pemeliharaan ikan lele Clarias sp. hari 30 Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan .976 4 .244 4.206 .074
Galat .290 5 .058
Total 1.265 9
Uji lanjut tukey total phospat ikan lele Clarias sp. Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 2.4133333 2.4133333 15% 3 2.5333333 30% 3 2.6866667 45% 3 2.6166667 60% 3 2.0466667 Sig. .072 .146
32 Lampiran 10. Analisis statistik Spesific Growth Rate (SGR) ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%, 30%, 45%, dan 60%) selama 30 hari.
ANOVA Spesific Growth Rate (SGR) ikan lele Clarias sp. Sumber
Keragaman JK Db KT F P
Perlakuan 1.066 4 .267 8.709 .003
Galat .306 10 .031
Total 1.373 14
Uji lanjut tukey Spesific Growth Rate (SGR) ikan lele Clarias sp. Perlakuan Ulangan Subset for alpha = 0,05
1 2 0% 3 2.4133333 2.4133333 15% 3 2.5333333 30% 3 2.6866667 45% 3 2.6166667 60% 3 2.0466667 Sig. .072 .146
Lampiran 11. Analisis statistik Feeding Convertion Ratio (FCR) ikan lele Clarias sp. yang diberi perubahan komposisi pakan menggunakan subsitusi limbah kepala udang terhadap tepung ikan yang berbeda (0%, 15%,