• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI FAKTOR – FAKTOR PENDUKUNG PERUBAHAN

6.2 Faktor Internal Masyarakat

6.2.2 Tingkat Kepemilikan Modal

Masyarakat UPT Simpang Nungki sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani (termasuk buruh lepas perkebunan kelapa sawit). Pendapatan yang didapat, sebagian diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagian disimpan sebagai modal pertanian pada masa tanam selanjutnya. Biaya yang dikeluarkan untuk kebun kelapa sawit berbeda dengan komoditas pertanian yang lain. Modal untuk membangun dan merawat kebun kelapa sawit jumlahnya jauh lebih besar. Oleh karena itu perlu kesiapan khusus terutama modal untuk membangun kebun kelapa sawit. Biaya pembangunan dan perawatan kebun didaerah berlahan gambut selama kelapa sawit belum dipanen sekitar empat puluh juta rupiah. Jumlahnya jauh lebih besar daripada kebun kelapa sawit yang dibangun di daerah dataran tinggi seperti sebagian besar Pulau Sumatera. Tingkat kepemilikan modal memiliki hubungan yang tidak langsung dengan minat petani terhadap kebun kelapa sawit. Beberapa transmigran dengan minat tinggi mendapat tambahan modal membangun kebun dengan menjual aset yang dimiliki di daerah asal atau meminjam dari kerabat. Berikut data kepemilikan modal masyarakat untuk membangun dan merawat kebun kelapa sawit.

Tabel 6.3 Rumah Tangga Menurut Tingkat Kepemilikan Modal Pembangunan dan Perawatan Kebun Kelapa Sawit UPT Simpang Nungki, Kec. Cerbon, Kab. Barito Kuala, 2011

Tingkat Kepemilikan Modal Jumlah KK Persentase (%)

Rendah 30 22,39

Sedang 64 47,76

Tinggi 40 29,85

Jumlah 134 100,00

Transmigran peserta program pengembangan perkebunan kelapa sawit dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan mendapatkan bantuan modal untuk pembukaan dan perawatan kebun kelapa sawit. Bantuan berupa bibit kelapa sawit bersertifikat, pupuk, bantuan dana pembersihan lahan, pemasangan anjir dan pembuatan gundukan sangat membantu petani dengan kepemilikan modal yang terbatas untuk membangun kebun kelapa sawitnya. Masyarakat dengan kepemilikan modal tinggi tidak hanya mampu membiayai proses produksi tetapi juga akan memperluas lahan yang dimilikinya. Lahan yang luas akan menghasilkan lebih banyak dan menambah modal yang dimiliki. Hal tersebut berbeda dengan masyarakat dengan modal terbatas seperti kebanyakan transmigran yang harus mencari tambahan modal dengan pekerjaan tambahan atau meminjam uang dari pihak lain. Modal yang ada akan sulit bertambah bahkan akan terus berkurang untuk menutupi biaya produksi dan biaya hidup. Hal ini seperti yang diungkapkan STB (44 tahun) di bawah ini18.

“ Kebun kelapa sawit itu membutuhkan modal yang besar dek. Saya saja sudah menjual sapi saya di Jawa. Saya juga pinjam uang adik saya. Yah demi masa depan lah, kan nantinya kalo sudah menghasilkan, uang yang diterima juga banyak. Tapi yah itu, tikus dan kebakaran lahan pas kemarau beberapa waktu lalu membuat kebun masyarakat sini rusak semua. cuma beberapa yang bisa diselamatkan. Sekarang kan bibit kalau beli sendiri mahal. Saya saja sudah hampir habis 2,5 juta untuk beli bibit buat nambal sulam bibit yang rusak dimakan tikus. Yah kalau ga kuat modal ya ga bertahan kebunnya”

18

6.3 Hubungan antara Faktor Internal dengan Keputusan Membangun Kebun Kelapa Sawit

Faktor internal yang terdiri dari tingkat pengetahuan dan tingkat kepemilikan modal memiliki peran terhadap pembuatan keputusan masyarakat untuk membangun kebun kelapa sawit pada periode kedua (2006-2011) yakni periode masuknya komoditas kelapa sawit. Pada periode ketiga (akhir 2011) faktor internal sudah tidak berperan karena pada dasarnya transmigran tidak memiliki pilihan selain bergabung dengan plasma perusahaan. Tingkat pengetahuan masyarakat Unit Pemukiman Transmigran tentang kebun kelapa sawit dilihat dari beberapa aspek yakni: a) pengetahuan tentang keuntungan dan kerugian menanam kelapa sawit yang akan mempengaruhi minat petani, b) pengetahuan tentang tatacara pembukaan kebun, c) tatacara perawatan kebun, dan d) pengetahuan tentang proses pasca produksi atau pasca kebun. Tingkat pengetahuan yang tinggi pada empat hal di atas akan mempengaruhi keputusan masyarakat untuk membangun kebun kelapa sawit atau dapat disebut dengan beralih komoditas. Berikut tabel yang menjelaskan hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan keputusan membangun kebun dan keberlanjutan kebun tersebut.

Tabel 6.4 Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Keputusan Membangun Kebun Kelapa Sawit, 2011

Keterangan: Hasil Uji Korelasi Rank Spearman sebesar 0,278 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,001)<alpha 5 persen.

Tabel di atas menjelaskan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat UPT Simpang Nungki dengan keputusan membuka kebun dan keberlanjutan kebun kelapa sawit tersebut. Sebagian besar masyarakat dengan pengetahuan rendah tidak membuka kebun. Hanya enam KK yang memiliki

Tidak Membangun Kebun Persen (%) Membangun Tidak Bertahan Persen (%) Membangun Kebun Bertahan Persen (%) Jumlah Persen (%) Rendah 20 54,05 11 29,73 6 16,22 37 100,00 Sedang 19 65,52 6 20,69 4 13,79 29 100,00 Tinggi 23 33,82 20 29,41 25 36,76 68 100,00 Keputusan Petani (KK) Tingkat Pengetahuan

pengetahuan rendah dan dapat bertahan. Hal tersebut dikarenakan tahun pembangunan kebun belum terlalu lama atau sekitar tahun 2009 dan 2010.

Masyarakat dengan tingkat pengetahuan sedang sebagian besar tidak membuka lahan. Sedangkan masyarakat dengan tingkat pengetahuan perkebunan tinggi memiliki sebaran yang hampir merata pada ketiga keputusan yakni keputusan tidak membangun kebun, membangun kebun tidak bertahan, dan membangun kebun yang bertahan sampai sekarang. Sebagian besar masyarakat dengan tingkat pengetahuan tinggi tidak membuka kebun dengan alasan tidak memiliki modal yang cukup. Modal awal yang didapatkan dari program pengembangan perkebunan kelapa sawit dari Dinas Perkebunan pada awal pengenalan terhadap komoditas kelapa sawit seperti bibit dan pupuk telah dijual karena minat terhadap kelapa sawit masih rendah. Keterbatasan modal juga menjadi masalah bagi masyarakat dengan tingkat pengetahuan tinggi namun kebun kelapa sawit yang dibangunnya tidak dapat bertahan. Hal ini diperkuat dengan pendapat SHD (46 tahun) di bawah ini19.

“Pengetahuan sangat berpengaruh terhadap keadaan

kebunnya mbak. Karena yang punya pengetahuan tinggi kan tau apa yang harus dilakukan pada pohon kelapa sawit yang bermasalah. Kalo yang pengetahuannya rendah yah cuma ikut-ikut aja. Pas awal juga pengetahuan penting, banyak orang lokal tidak membangun kebun karena belum tahu kalo kelapa sawit

itu menguntungkan”

Uji korelasi menggunakan Rank Spearmen menunjukkan bahwa korelasi antara pengetahuan dengan keputusan membuka kebun dan keberlanjutannya adalah sebesar 0,278 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,001)<alpha 5 persen artinya korelasi signifikan. Hasil tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan positif antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan keputusan membangun kebun dan keberlanjutan kebun kelapa sawit masyarakat. Hal tersebut berarti, jika tingkat pengetahuan yang dimiliki masyarakat tinggi maka keputusan untuk membangun kebun kelapa sawit juga tinggi.

Proses pembangunan kebun kelapa sawit memerlukan modal yang besar terutama jika dilakukan secara mandiri. Keadaan lahan gambut dan berawa seperti

19

di mayoritas wilayah Kabupaten Barito Kuala memerlukan biaya yang lebih besar yakni sekitar 30-40 juta rupiah sampai kebun tersebut dapat berproduksi. Namun, masyarakat UPT Simpang Nungki memiliki keadaan yang berbeda, karena sebagian masyarakat pernah menjadi peserta program pengembangan perkebunan kelapa sawit yang diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan wilayah setempat. Bantuan yang diberikan tersebut meringankan beban biaya yang harus ditanggung petani dalam proses pembukaan dan perawatan kebun. Namun, beberapa kasus berbeda terjadi di masyarakat UPT Simpang Nungki. Masyarakat yang memiliki minat rendah untuk membangun kebun kelapa sawit memilih untuk menjual bibit dan pupuk yang diberikan oleh Dinas Perkebunan melalui program pengembangan perkebunan kelapa sawit. Kemudian, saat minat dan pengetahuan tentang perkebunan kelapa sawit meningkat, modal yang dimiliki tidak memadai untuk membangun dan merawat kebun tersebut. Hama tikus yang meningkat pada saat air pasang dan kebakaran lahan yang terjadi pada musim kemarau tahun 2008 dan 2009 menyebabkan banyak kebun kelapa sawit masyarakat rusak. Ketersediaan modal sangat diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut disajikan tabel yang menjelaskan hubungan antara tingkat kepemilikan modal dengan keputusan pembukaan kebun dan keberlanjutan kebun. Tingkat pengetahuan yang rendah dalam mengatasi masalah yang dihadapi petani juga membuat modal yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki keadaan kebun kelapa sawit semakin besar.

Tabel 6.5 Hubungan antara Kepemilikan Modal dengan Keputusan Membangun Kebun Kelapa Sawit, 2011

Keterangan: Hasil Uji Korelasi dengan Rank Spearman sebesar 0,238 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,003)<alpha 5 persen.

Tabel di atas menunjukkan bahwa hubungan antara tingkat kepemilikan modal dengan keputusan petani membangun kebun tidak signifikan. Petani dengan tingkat kepemilikan modal rendah lebih memilih untuk tidak membangun kebun kelapa sawit. Hanya lima kelapa keluarga dengan tingkat kepemilikan modal

Tidak Membangun Kebun Persen (%) Membangun Tidak Bertahan Persen (%) Membangun Kebun Bertahan Persen (%) Jumlah Persen (%) Rendah 24 80,00 1 3,33 5 16,67 30 100,00 Sedang 24 37,50 21 32,81 19 29,69 64 100,00 Tinggi 14 35,00 15 37,50 11 27,50 40 100,00 Keputusan Petani (KK) Tingkat Kepemilikan Modal

rendah namun kebun kelapa sawit yang dibangunnya dapat bertahan hingga saat ini. Hal itu dikarenakan waktu pembangunan kebun belum terlalu lama, sehingga kebun dapat bertahan hingga sekarang. Selain itu, beberapa transmigran meminjam modal kepada kerabat atau menjual aset yang dimiliki di daerah asal untuk terus memperbaiki kondisi kebun yang dibangunnya. Masyarakat pada kelompok tingkat kepemilikan modal sedang memiliki jumlah yang paling besar dibandingkan dua kelompok lain. Hal yang lebih berpengaruh terhadap keputusan dan keberlanjutan kebun kelapa sawit adalah akses terhadap modal yang dimiliki oleh petani. Akses terhadap modal dapat berupa akses kepada lembaga keuangan yang menyediakan modal, sehingga kebutuhan modal dapat selalu terpenuhi. Petani yang memiliki akses terhadap modal akan dapat membangun dan mempertahankan kebun kelapa sawit yang telah di bangun, walaupun pengetahuan dan modal yang dimiliki rendah.

Sebagian kelompok masyarakat memilih untuk tidak membangun kebun. Alasan yang diungkapkan adalah karena tidak memiliki modal yang cukup untuk membangun dan merawat kebun, namun sebagian besar masyarakat dengan tingkat kepemilikan modal sedang memilih untuk membangun kebun walaupun sebagian tidak bertahan. Kebun yang tidak dapat bertahan disebabkan pengetahuan yang dimiliki kurang sehingga modal yang dimiliki tidak dapat digunakan untuk mempertahankan kebun yang telah dibangun. Hal serupa juga terjadi pada kelompok masyarakat dengan tingkat kepemilikan modal tinggi. Pada kelompok ini, kebun yang dimiliki sekitar 15 keluarga tidak dapat bertahan sampai sekarang. Pengetahuan yang rendah tetap menjadi alasan utama. Perasaan takut gagal setelah terjadi bencana kebakaran lahan dan serangan hama tikus setiap air pasang membuat masyarakat pada tingkat kepemilikan modal tinggi tidak memperbaiki kebun kelapa sawitnya. Bahkan, 14 kepala keluarga dengan tingkat kepemilikan modal tinggi memilih untuk tidak membangun kebun kelapa sawit. Hasil uji korelasi menggunakan rank spearman antara tingkat kepemilikan modal dengan keputusan membuka kebun sebesar 0,238 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,003)<alpha 5 persen artinya korelasi signifikan. Artinya, tingkat kepemilikan modal dan keputusan membuka kebun dan keberlanjutannya

memiliki hubungan yang kuat dan positif. Jika tingkat kepemilikan modal tinggi maka keputusan untuk membangun kebun kelapa sawit juga tinggi.

Tingkat pengetahuan dan kepemilikan modal merupakan faktor yang saling berkaitan. Berikut disajikan tabel hubungan antara faktor internal dengan keputusan petani.

Tabel 6.6 Hubungan antara Faktor Internal dengan Keputusan Membangun Kebun Kelapa Sawit, 2011

Keterangan: Hasil Uji Korelasi dengan Rank Spearman sebesar 0,397 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,000)<alpha 5 persen.

Tabel di atas menunjukkan bahwa faktor internal memiliki hubungan yang signifikan dengan keputusan petani membangun kebun kelapa sawit. Petani dengan tingkat pengetahuan dan kepemilikan modal sedang lebih memilih untuk tidak membuka kebun atau membuka kebun namun tidak bertahan. Hasil uji korelasi Rank Spearman antara faktor internal dengan keputusan membuka kebun sebesar 0,397 sangat kuat dan searah dengan nilai p(0,000)<alpha 5 persen artinya korelasi signifikan. Alasan lain yang mempengaruhi keputusan petani untuk tidak membuka kebun dapat dijelaskan melalui ciri-ciri inovasi. Komoditas kelapa sawit adalah hal baru bagi masyarakat UPT Simpang Nungki. Sebagian petani memutuskan tidak membangun kebun kelapa sawit walaupun memiliki modal yang cukup dan memiliki kesempatan untuk mempelajari tentang kebun kelapa sawit. Masyarakat menilai kelapa sawit memiliki keuntungan relatif, kesesuaian, kemungkinan diamati dan kemungkinan di coba yang rendah. Hal ini dikarenakan belum ada kebun kelapa sawit yang menghasilkan, bahkan kebun yang dimiliki perusahaan. Masyarakat juga menganggap bahwa kebun kelapa sawit memiliki kerumitan yang tinggi sehingga petani tidak membangun kebun kelapa sawit. Kasus kebun yang gagal semakin membuktikan tingginya kerumitan membangun kebun kelapa sawit.

Tidak Membangun Kebun Persen (%) Membangun Tidak Bertahan Persen (%) Membangun Kebun Bertahan Persen (%) Jumlah Persen (%) Rendah 26 76,47 2 5,88 6 17,65 34 100,00 Sedang 34 40,48 32 38,09 18 21,43 84 100,00 Tinggi 2 12,50 2 12,5 12 75,00 16 100,00 Keputusan Petani (KK) Faktor Internal

6.4 Ikhtisar

Proses perubahan komoditas pertanian masyarakat Unit Pemukiman Transmigran (UPT) Simpang Nungki pada perode kedua (2006 – 2011) dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor eksternal masyarakat dan faktor internal. Faktor eksternal adalah kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang terkait pengembangan perkebunan kelapa sawit. Hasil penelitian di UPT Simpang Nungki menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah sangat mendukung pengembangan perkebunan kelapa sawit di wilayah Barito Kuala pada umumnya dan Desa Simpang Nungki khususnya. Hal ini dapat dilihat dari izin usaha perusahaan besar swasta yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Barito Kuala dan Kalimantan Selatan untuk beroperasi di sekitar wilayah Simpang Nungki. Sekumpulan kebijakan yang dikeluarkan oleh berbagai departemen dan kementrian untuk mendukung dan mengatur berlangsungnya program revitalisasi perkebunan. Program-program Dinas Kehutanan dan Perkebunan terkait program pengembangan perkebunan kelapa sawit berbasis perkebunan rakyat juga sangat berpengaruh terhadap perubahan pengetahuan dan minat masyarakat terhadap kelapa sawit. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hipotesis 2 “faktor eksternal memiliki hubungan positif dengan perubahan produksi pertanian” diterima.

Faktor internal terdiri dari tingkat pengetahuan masyarakat tentang perkebunan dan tingkat kepemilikan modal untuk membangun dan merawat kebun kelapa sawit. Faktor internal berperan pada periode kedua (2006-2011) yakni masa masuknya komoditas kelapa sawit. Tingkat pengetahuan meliputi pengetahuan untung dan rugi perkebunan kelapa sawit, pengetahuan tatacara pembukaan dan perawatan kebun kelapa sawit, serta pengetahuan tentang proses pasca kebun atau pasca produksi. Tingkat pengetahuan masyarakat ini akan berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk membuka kebun dan beralih komoditas menjadi kelapa sawit. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunakan

rank spearman dan tabulasi silang, tingkat pengetahuan memiliki hubungan positif dengan keputusan masyarakat untuk membuka kebun dan keberlanjutan kebunnya. Sehingga jika tingkat pengetahuan tinggi maka keputusan membuka kebun juga tinggi. Masyarakat dengan tingkat pengetahuan tinggi dan minat besar

untuk membuka kebun kelapa sawit memutuskan tidak membuka kebun karena terbatasnya modal yang dimiliki untuk membangun dan merawat kebun. Tabulasi silang antara tingkat kepemilikan modal dengan keputusan membangun kebun tidak memiliki hubungan yang signifikan, namun hasil uji korelasi menggunakan

rank Spearman menyebutkan bahwa tingkat kepemilikan modal memiliki hubungan positif dengan keputusan masyarakat untuk membuka kebun dan keberlangsungan kebunnya. Hal ini dikarenakan tidak hanya kepemilikan modal yang berpengaruh tetapi akses terhadap modal yang lebih berpengaruh terhadap pembangunan dan keberlanjutan kebun. Pengetahuan dan modal sebagai faktor internal tidak dapat di pisahkan. Tabulasi silang hubungan antara faktor internal dengan keputusan membangun kebun menunjukkan hubungan yang signifikan, begitu juga dengan hasil uji Rank Spearman. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis 1 “faktor internal memiliki hubungan positif dengan perubahan produksi pertanian” diterima. Selain tingkat kepemilikan modal dan tingkat pengetahuan, terdapat beberapa faktor yang ditemukan dilapangan seperti tingkat keberanian petani untuk mencoba hal-hal baru dan menerima resiko. Selain itu jenis suku juga mempengaruhi keputusan petani. Sebagian besar petani yang tidak menanam kelapa sawit adalah masyarakat lokal suku banjar yang agak sulit menerima hal baru. Petani yang memutuskan tidak membuka kebun menganggap bahwa kelapa sawit sebagai komoditas baru memiliki keuntungan relatif, kesesuaian, kemungkinan dicoba, dan kemungkinan diamati yang rendah. Mereka juga beranggapan kerumitan dalam membangun kebun kelapa sawit tinggi.

BAB VII

Dokumen terkait