• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Perusahaan

E. Tingkat Kepuasan Kerja Berdasarkan Masa Kerja

Menurut Robbins (2001), masa kerja memiliki hubungan yang positif terhadap produktivitas kerja. Masa kerja seorang tenaga pengolah makanan yang lama akan cenderung membuat dirinya lebih merasa betah dalam suatu penyelenggaraan makanan. Hal ini salah satunya dikarenakan tenaga pengolah makanan telah melakukan adaptasi dengan lingkungan penyelenggaraan makanan tempatnya bekerja. Berikut ditampilkan kepuasan tenaga pengolah makanan terhadap faktor kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex Bogor.

Tabel 18 Distribusi modus tingkat kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN

Masa Kerja

Jenis pekerjaan

Kondisi

pekerjaan Supervisi Rekan Kerja

Kesempatan

u/ Maju Kompensasi % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai <12 100.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 13-36 100.0 P 100.0 P 100.0 P 75.0 P 75.0 TP 100.0 TP 37-60 85.7 P 71.4 P 100.0 P 100.0 P 57.1 P 71.4 P >60 100.0 P 100.0 P 100.0 P 80.0 P 60.0 P 100.0 TP Nilai P 0.994 0.512 0.523 0.533 0.370 0.759 Keterangan: P = Puas TP = Tidak Puas

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN pada Tabel 18 merupakan penilaian melalui modus skor kepuasan berdasarkan masa kerja. Tenaga pengolah makanan di PT LGEIN untuk semua kategori masa kerja memiliki puas terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, dan rekan kerja. Hal ini berbeda dengan kepuasan terhadap kesempatan untuk maju dan kompensasi, dimana tenaga pengolah makanan pada kategori masa kerja 13-36 bulan (38.1%) memiliki penilaian tidak puas terhadap kesempatan untuk maju dan kompensasi, sedangkan pada kategori masa kerja >60 bulan (9.5%) memiliki penilaian yang tidak puas terhadap kompensasi.

Hal ini terjadi karena tenaga pengolah makanan dengan masa kerja 13-36 bulan masih relatif belum lama bekerja sehingga mempengaruhi kesempatan untuk maju dan penerimaan kompensasinya, sedangkan tenaga pengolah makanan dengan masa kerja >60 bulan yang tidak puas terhadap kompensasi diduga terjadi karena mereka merasa pengakuan atau penghargaan baik berupa finansial maupun non finansial terhadap kinerja mareka selama masa kerja yang relatif lama masih dirasakan minim atau tidak sesuai harapan mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian Syanputri (2009).

Berdasarkan uji korelasi Spearman, menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan makanan di PT LGEIN tidak ada hubungan antara masa kerja tenaga pengolah makanan dengan jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi.

Tabel 19 Distribusi modus tingkat kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN

Masa Kerja

Jenis pekerjaan

Kondisi

pekerjaan Supervisi Rekan Kerja

Kesempatan

u/ Maju Kompensasi % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai

<12 - - - - 13-36 - - - - 37-60 - - - - >60 100.0 P 100.0 P 100.0 P 80.0 P 60.0 P 100.0 TP Nilai P 0.929 0.149 0.099 0.032 0.191 0.608 Keterangan: P = Puas TP = Tidak Puas

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT Unitex pada Tabel 19 merupakan penilaian melalui modus skor kepuasan. Berdasarkan kategori masa kerja, tenaga pengolah makanan di PT Unitex mayoritas (100.0%) berada pada kategori masa kerja >60 bulan dan memiliki penilaian puas terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi.

Berdasarkan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan makanan di PT Unitex, ada hubungan antara masa kerja tenaga pengolah makanan dengan rekan kerja. Hal ini digambarkan dengan nilai r= -0.508 dan P= 0.032 (P<0.05). Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, diperoleh bahwa masa kerja memiliki pengaruh nyata dengan kepuasan terhadap rekan kerja (t= -2.692, P= 0.016).

Tingkat Kepuasan Kerja Tenaga Pengolah Makanan

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex dinilai dari modus skor kepuasan terhadap enam faktor kepuasan kerja yang telah ditetapkan berdasarkan Rivai (2009). Distribusi tenaga pengolah makanan terhadap penilaian tingkat kepuasan di PT LGEIN dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.

Tabel 20 Distribusi tingkat kepuasan kerja PT LGEIN Tingkat Kepuasan Kerja Jenis pekerjaan (%) Kondisi pekerjaan (%) Supervisi (%) Rekan Kerja (%) Kesempatan u/ Maju (%) Kompensasi (%) Sangat Tidak Puas 0.0 4.8 4.8 4.8 4.8 19.0 Tidak Puas 4.8 14.3 14.3 19.0 23.8 42.9 Puas 71.4 71.4 61.9 61.9 57.1 33.3 Sangat Puas 23.8 9.5 19.0 14.3 14.3 4.8

Tabel 20 menunjukkan persentase tenaga pengolah makanan dalam menilai tingkat kepuasan kerjanya terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supevisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi. Secara keseluruhan, tenaga pengolah makanan di PT LGEIN memiliki modus tingkat kepuasan kerja dengan penilaian puas terhadap seluruh faktor kepuasan kerja, kecuali kepuasannya terhadap kompensasi.

Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, faktor kepuasan kerja yang paling berpengaruh dengan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kondisi pekerjaan (t= 8.134, P= 0.000), kompensasi (t= 5.059, P= 0.000), rekan kerja (t= 4.962, P= 0.000), supervisi (t= 4.350, P= 0.000), jenis pekerjaan (t= 3.458, P= 0.003), dan kesempatan untuk maju (t= 2.610, P= 0.017).

Tabel 21 Distribusi tingkat kepuasan kerja PT Unitex Tingkat Kepuasan Kerja Jenis pekerjaan (%) Kondisi pekerjaan (%) Supervisi (%) Rekan Kerja (%) Kesempatan u/ Maju (%) Kompensasi (%) Sangat Tidak Puas 0.0 0.0 0.0 0.0 16.7 5.6 Tidak Puas 0.0 11.1 5.6 0.0 33.3 33.3 Puas 94.4 83.3 94.4 83.3 50.0 61.1 Sangat Puas 5.6 5.6 0.0 16.7 0.0 0.0

Berdasarkan Tabel 21, dapat dilihat bahwa distribusi tingkat kepuasan kerja berdasarkan modus skor kepuasan tenaga pengolah makanan di PT Unitex untuk semua faktor kepuasan kerja memiliki penilaian puas.

Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, faktor kepuasan kerja yang paling berpengaruh dengan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT Unitex berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kompensasi (t= 4.615, P= 0.000), kondisi pekerjaan (t= 4.448, P= 0.000), kesempatan untuk maju (t= 5.049, P= 0.000), dan supervisi (t= 3.841, P= 0.001).

Gambar 10 berikut ini, merupakan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex Bogor secara keseluruhan berdasarkan penggabungan enam faktor kepuasan kerja yang digunakan.

Gambar 10 Distribusi tingkat kepuasan kerja

Berdasarkan uji beda Independent t-test antara kedua perusahaan, diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex. Hal ini digambarkan dengan nilai P>0.05.

Persentase distribusi tenaga pengolah makanan pada Gambar 10, berdasarkan modus skor kepuasan untuk indikator dari enam faktor kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex menunjukkan bahwa pada PT LGEIN distribusinya tersebar pada semua tingkat kepuasan yaitu mulai dari sangat tidak puas (4.8%) sampai sangat puas (19.0%), sedangkan distribusi tenaga pengolah makanan PT Unitex 100.0% memiliki penilaian puas. Kedua perusahaan memiliki distribusi tenaga pengolah makanan terbesar berada pada penilaian puas. Hal ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan tersebut telah mampu menciptakan dengan baik jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi yang sesuai harapan tenaga pengolah makanannya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut (Rivai 2009).

Penilaian Produktivitas Kerja

Menurut Arfida (2002), penyediaan tenaga kerja dalam sebuah perusahaan dipengaruhi oleh tingkat produktivitas kerja yang dimiliki tenaga kerjanya.

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 Sangat Tidak Puas

Tidak Puas Puas Sangat Puas

4.8% 14.3% 61.9% 19.0% 0.0% 0.0% 100.0% 0.0% PT LGEIN PT Unitex

Produktivitas kerja seseorang dipengaruhi oleh motivasi dari tiap-tiap individu, tingkat pendidikan, dan pelatihan yang sudah diterima serta kemampuan manajemen. Orang yang berpendidikan tinggi dan giat berlatih pada dasarnya mempunyai produktivitas yang lebih tinggi juga.

Berdasarkan Palacio&Theis (2009), menjabarkan bahwa produktivitas kerja dalam sistem pelayanan makanan diartikan sebagai rasio satu atau lebih input yang dibandingkan dengan beragam output. Input dalam hal ini terdiri atas jam kerja, besar uang yang dikeluarkan, dan sumber daya lainnya yang digunakan, sedangkan output terdiri atas makanan yang dihasilkan. Secara khusus, pengukuran produktivitas tenaga pengolah makanan didasarkan pada perhitungan menurut Gregoire&Spears (2007) yaitu sebagai berikut:

1. Makanan/jam kerja =

Jamkerja/hari

hari

disajikan/

yang

makanan