• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Robbins (2001), masa kerja memiliki hubungan yang positif terhadap produktivitas kerja. Masa kerja seorang tenaga pengolah makanan yang lama akan cenderung membuat dirinya lebih merasa betah dalam suatu penyelenggaraan makanan. Hal ini salah satunya dikarenakan tenaga pengolah makanan telah melakukan adaptasi dengan lingkungan penyelenggaraan makanan tempatnya bekerja. Berikut ditampilkan kepuasan tenaga pengolah makanan terhadap faktor kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex Bogor.

Tabel 18 Distribusi modus tingkat kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN

Masa Kerja

Jenis pekerjaan

Kondisi

pekerjaan Supervisi Rekan Kerja

Kesempatan

u/ Maju Kompensasi % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai

<12 100.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 75.0 P 13-36 100.0 P 100.0 P 100.0 P 75.0 P 75.0 TP 100.0 TP 37-60 85.7 P 71.4 P 100.0 P 100.0 P 57.1 P 71.4 P >60 100.0 P 100.0 P 100.0 P 80.0 P 60.0 P 100.0 TP Nilai P 0.994 0.512 0.523 0.533 0.370 0.759 Keterangan: P = Puas TP = Tidak Puas

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN pada Tabel 18 merupakan penilaian melalui modus skor kepuasan berdasarkan masa kerja. Tenaga pengolah makanan di PT LGEIN untuk semua kategori masa kerja memiliki puas terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, dan rekan kerja. Hal ini berbeda dengan kepuasan terhadap kesempatan untuk maju dan kompensasi, dimana tenaga pengolah makanan pada kategori masa kerja 13-36 bulan (38.1%) memiliki penilaian tidak puas terhadap kesempatan untuk maju dan kompensasi, sedangkan pada kategori masa kerja >60 bulan (9.5%) memiliki penilaian yang tidak puas terhadap kompensasi.

Hal ini terjadi karena tenaga pengolah makanan dengan masa kerja 13-36 bulan masih relatif belum lama bekerja sehingga mempengaruhi kesempatan untuk maju dan penerimaan kompensasinya, sedangkan tenaga pengolah makanan dengan masa kerja >60 bulan yang tidak puas terhadap kompensasi diduga terjadi karena mereka merasa pengakuan atau penghargaan baik berupa finansial maupun non finansial terhadap kinerja mareka selama masa kerja yang relatif lama masih dirasakan minim atau tidak sesuai harapan mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian Syanputri (2009).

Berdasarkan uji korelasi Spearman, menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan makanan di PT LGEIN tidak ada hubungan antara masa kerja tenaga pengolah makanan dengan jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi.

Tabel 19 Distribusi modus tingkat kepuasan kerja berdasarkan masa kerja di PT LGEIN

Masa Kerja

Jenis pekerjaan

Kondisi

pekerjaan Supervisi Rekan Kerja

Kesempatan

u/ Maju Kompensasi % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai % Nilai

<12 - - - - 13-36 - - - - 37-60 - - - - >60 100.0 P 100.0 P 100.0 P 80.0 P 60.0 P 100.0 TP Nilai P 0.929 0.149 0.099 0.032 0.191 0.608 Keterangan: P = Puas TP = Tidak Puas

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT Unitex pada Tabel 19 merupakan penilaian melalui modus skor kepuasan. Berdasarkan kategori masa kerja, tenaga pengolah makanan di PT Unitex mayoritas (100.0%) berada pada kategori masa kerja >60 bulan dan memiliki penilaian puas terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi.

Berdasarkan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa dalam penyelenggaraan makanan di PT Unitex, ada hubungan antara masa kerja tenaga pengolah makanan dengan rekan kerja. Hal ini digambarkan dengan nilai r= -0.508 dan P= 0.032 (P<0.05). Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, diperoleh bahwa masa kerja memiliki pengaruh nyata dengan kepuasan terhadap rekan kerja (t= -2.692, P= 0.016).

Tingkat Kepuasan Kerja Tenaga Pengolah Makanan

Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex dinilai dari modus skor kepuasan terhadap enam faktor kepuasan kerja yang telah ditetapkan berdasarkan Rivai (2009). Distribusi tenaga pengolah makanan terhadap penilaian tingkat kepuasan di PT LGEIN dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.

73

Tabel 20 Distribusi tingkat kepuasan kerja PT LGEIN

Tingkat Kepuasan Kerja Jenis pekerjaan (%) Kondisi pekerjaan (%) Supervisi (%) Rekan Kerja (%) Kesempatan u/ Maju (%) Kompensasi (%) Sangat Tidak Puas 0.0 4.8 4.8 4.8 4.8 19.0 Tidak Puas 4.8 14.3 14.3 19.0 23.8 42.9 Puas 71.4 71.4 61.9 61.9 57.1 33.3 Sangat Puas 23.8 9.5 19.0 14.3 14.3 4.8

Tabel 20 menunjukkan persentase tenaga pengolah makanan dalam menilai tingkat kepuasan kerjanya terhadap jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supevisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi. Secara keseluruhan, tenaga pengolah makanan di PT LGEIN memiliki modus tingkat kepuasan kerja dengan penilaian puas terhadap seluruh faktor kepuasan kerja, kecuali kepuasannya terhadap kompensasi.

Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, faktor kepuasan kerja yang paling berpengaruh dengan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kondisi pekerjaan (t= 8.134, P= 0.000), kompensasi (t= 5.059, P= 0.000), rekan kerja (t= 4.962, P= 0.000), supervisi (t= 4.350, P= 0.000), jenis pekerjaan (t= 3.458, P= 0.003), dan kesempatan untuk maju (t= 2.610, P= 0.017).

Tabel 21 Distribusi tingkat kepuasan kerja PT Unitex

Tingkat Kepuasan Kerja Jenis pekerjaan (%) Kondisi pekerjaan (%) Supervisi (%) Rekan Kerja (%) Kesempatan u/ Maju (%) Kompensasi (%) Sangat Tidak Puas 0.0 0.0 0.0 0.0 16.7 5.6 Tidak Puas 0.0 11.1 5.6 0.0 33.3 33.3 Puas 94.4 83.3 94.4 83.3 50.0 61.1 Sangat Puas 5.6 5.6 0.0 16.7 0.0 0.0

Berdasarkan Tabel 21, dapat dilihat bahwa distribusi tingkat kepuasan kerja berdasarkan modus skor kepuasan tenaga pengolah makanan di PT Unitex untuk semua faktor kepuasan kerja memiliki penilaian puas.

Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, faktor kepuasan kerja yang paling berpengaruh dengan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT Unitex berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kompensasi (t= 4.615, P= 0.000), kondisi pekerjaan (t= 4.448, P= 0.000), kesempatan untuk maju (t= 5.049, P= 0.000), dan supervisi (t= 3.841, P= 0.001).

Gambar 10 berikut ini, merupakan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex Bogor secara keseluruhan berdasarkan penggabungan enam faktor kepuasan kerja yang digunakan.

Gambar 10 Distribusi tingkat kepuasan kerja

Berdasarkan uji beda Independent t-test antara kedua perusahaan, diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex. Hal ini digambarkan dengan nilai P>0.05.

Persentase distribusi tenaga pengolah makanan pada Gambar 10, berdasarkan modus skor kepuasan untuk indikator dari enam faktor kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex menunjukkan bahwa pada PT LGEIN distribusinya tersebar pada semua tingkat kepuasan yaitu mulai dari sangat tidak puas (4.8%) sampai sangat puas (19.0%), sedangkan distribusi tenaga pengolah makanan PT Unitex 100.0% memiliki penilaian puas. Kedua perusahaan memiliki distribusi tenaga pengolah makanan terbesar berada pada penilaian puas. Hal ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan tersebut telah mampu menciptakan dengan baik jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi yang sesuai harapan tenaga pengolah makanannya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut (Rivai 2009).

Penilaian Produktivitas Kerja

Menurut Arfida (2002), penyediaan tenaga kerja dalam sebuah perusahaan dipengaruhi oleh tingkat produktivitas kerja yang dimiliki tenaga kerjanya.

0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 Sangat Tidak Puas

Tidak Puas Puas Sangat Puas

4.8% 14.3% 61.9% 19.0% 0.0% 0.0% 100.0% 0.0% PT LGEIN PT Unitex

75

Produktivitas kerja seseorang dipengaruhi oleh motivasi dari tiap-tiap individu, tingkat pendidikan, dan pelatihan yang sudah diterima serta kemampuan manajemen. Orang yang berpendidikan tinggi dan giat berlatih pada dasarnya mempunyai produktivitas yang lebih tinggi juga.

Berdasarkan Palacio&Theis (2009), menjabarkan bahwa produktivitas kerja dalam sistem pelayanan makanan diartikan sebagai rasio satu atau lebih input yang dibandingkan dengan beragam output. Input dalam hal ini terdiri atas jam kerja, besar uang yang dikeluarkan, dan sumber daya lainnya yang digunakan, sedangkan output terdiri atas makanan yang dihasilkan. Secara khusus, pengukuran produktivitas tenaga pengolah makanan didasarkan pada perhitungan menurut Gregoire&Spears (2007) yaitu sebagai berikut:

1. Makanan/jam kerja =

Jamkerja/hari

hari

disajikan/

yang

makanan

Total

2. Menit/makanan =

Totalmakanan yangdisajikan/hari

kerja/hari

Menit

Rumus perhitungan tersebut digunakan sebagai asumsi untuk mewakili penilaian produktivitas kerja seluruh tenaga pengolah makanan dikedua perusahaan, dimana total makanan diartikan sebagai jumlah menu yang disediakan tenaga pengolah makanan per harinya untuk memenuhi karyawan perusahaan.

Tabel 22 berikut ini menunjukkan hasil penilaian produktivitas kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex berdasarkan rumus perhitungan produktivitas kerja tenaga pengolah makanan menurut Gregoire&Spears (2007).

Tabel 22 Distribusi produktivitas tenaga pengolah makanan berdasarkan tempat kerja

Produktivitas Waktu Makan Jumlah Menu Jam Kerja Makanan per jam kerja Menit per makanan PT LGEIN Shift I 11 9 1.2 51 Shift II 11 9 Shift III 11 10

Rata-rata per hari 11 9.3

PT Unitex

Shift I 5 8

0.6 96

Shift II 5 8

Shift III 5 8

Tabel 22 menunjukkan adanya perbedaan nilai produktivitas kerja tenaga pengolah makanan antara PT LGEIN dan PT Unitex. Secara kuantitas, perbedaan prokduktivitas tersebut terjadi karena adanya perbedaan jumlah input dan output penyelenggaraan makanan masing-masing perusahaan. Hal ini ditunjukkan dengan input penyelenggaraan makanan berupa penyediaan tenaga pengolah makanan pada PT LGEIN berjumlah 27 orang tenaga pengolah makanan dengan waktu kerja rata-rata sebesar 9.3 jam untuk menghasilkan 11 menu (nasi, 4 jenis lauk utama, 2 jenis lauk pendamping, 1 jenis sayur, 1 jenis buah, 1 jenis menu alternatif, dan 1 jenis tambahan). Penyelenggaraan makanan di PT Unitex memiliki 18 orang tenaga pengolah makanan dengan waktu kerja rata-rata 8 jam untuk menghasilkan empat menu (nasi, 1 jenis lauk utama, 1 jenis sayuran, 1 jenis menu pelengkap, dan 1 jenis buah). Berdasarkan hasil penilaian produktivitas tersebut, dapat dilihat bahwa produktivitas tenaga pengolah makanan PT LGEIN dalam menghasilkan makanan per jam kerja dan menit per makanan memiliki nilai dua kali lebih besar dibandingkan dengan nilai produktivitas tenaga pengolah makanan PT Unitex.

Tenaga pengolah makanan sebagai penggerak dari pencapaian produktivitas penyelenggaraan makanan yang optimal memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Almigo (2004), terdapat hubungan antara kepuasan kerja karyawan dengan produktivitasnya dalam bekerja, namun dalam penelitian ini uji korelasi antara kepuasan kerja dan produktivitas tenaga pengolah makanan di kedua perusahaan tidak dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan produktivitas yang diperoleh, merupakan produktivitas kerja perusahan tanpa menunjukkan produktivitas individu. Padahal untuk melihat hubungan antara tingkat kepuasan kerja dengan produktivitas tenaga pengolah makanan memerlukan data produktivitas individu ataupun produktivitas kerja per kelompok kerja. Pada penelitian ini, penilaian produktivitas individu ataupun produktivitas per kelompok kerja dalam penyelenggaraan makanan tidak memungkinkan untuk dilakukan karena masalah perizinan akibat adanya kemungkinan dapat mengganggu proses penyelenggaraan makanan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Karakteristik individu tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex memiliki distribusi frekuensi yang berbeda antara keduanya. Berdasarkan uji perbedaan karakteristik individu antara kedua perusahaan tersebut, diperoleh bahwa umur, jenis kelamin, status pernikahan, dan masa kerja tenaga pengolah makanan antara PT LGEIN dan PT Unitex saling berbeda nyata (P<0.05). Perbedaan tersebut dapat terdiri atas tenaga pengolah makanan di PT LGEIN memiliki frekuensi terbanyak pada umur yang lebih muda dari pada tenaga pengolah makanan di PT Unitex, tenaga pengolah makanan PT LGEIN memiliki frekuensi terbanyak berjenis kelamin laki-laki sedangkan PT Unitex memiliki tenaga pengolah makanan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, tenaga pengolah makanan di PT LGEIN memiliki frekuensi terbanyak dengan status belum nikah sedangkan tenaga pengolah makanan di PT Unitex seluruhnya telah berstatus nikah, dan tenaga pengolah makanan di PT LGEIN memiliki frekuensi terbanyak <36 bulan sedangkan tenaga pengolah makanan seluruhnya memiliki masa kerja >60 bulan.

Berdasarkan uji beda Independent t-test terhadap tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex, menunjukkan bahwa tenaga pengolah makanan antara kedua perusahaan tersebut saling berbeda nyata (P<0.05) terhadap indikator kepuasan terhadap pujian atasan, indikator kepuasan terhadap kesediaan sesama rekan kerja untuk saling menghargai dan tidak saling mencurigai, serta terhadap indikator koordinasi pekerjaan sesama rekan kerja. Secara keseluruhan, diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0.05) antara tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN dan PT Unitex.

Berdasarkan uji korelasi Spearman, pada PT LGEIN terdapat hubungan antara status pernikahan dengan kepuasan terhadap jenis pekerjaan (r= -0.441, P= 0.045). Pada PT Unitex terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan terhadap kompensasi (r= 0.584, P= 0.011), dan ada hubungan masa kerja dengan kepuasan terhadap rekan kerja (r= -0.508, P= 0.032).

Berdasarkan uji pengaruh Regresi sederhana, faktor kepuasan kerja yang paling berpengaruh dengan tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT LGEIN berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kondisi pekerjaan (t= 8.134, P= 0.000), kompensasi (t= 5.059, P= 0.000),

rekan kerja (t= 4.962, P= 0.000), supervisi (t= 4.350, P= 0.000), jenis pekerjaan (t= 3.458, P= 0.003), dan kesempatan untuk maju (t= 2.610, P= 0.017). PT Unitex berturut-turut mulai dari yang terbesar sampai terendah pengaruhnya adalah kompensasi (t= 4.615, P= 0.000), kondisi pekerjaan (t= 4.448, P= 0.000), kesempatan untuk maju (t= 5.049, P= 0.000), dan supervisi (t= 3.841, P= 0.001). Hasil penilaian terhadap produktivitas kerja tenaga pengolah makanan antara PT LGEIN dan PT Unitex, menunjukkan bahwa produktivitas tenaga pengolah makanan PT LGEIN dalam menghasilkan makanan per jam kerja dan menit per makanan memiliki nilai lebih besar dibandingkan dengan nilai produktivitas tenaga pengolah makanan PT Unitex. Hasil antara tingkat kepuasan kerja dengan nilai produktivitas kerja tersebut dalam penelitian ini tidak dapat dilakukan uji korelasi, dikarenakan nilai produktivitas yang diperoleh bersifat konstan yaitu hanya mewakili produktivitas perusahan tanpa menunjukkan produktivitas individu ataupun produktivitas per kelompok kerja.

Saran

Saran untuk penyelenggaraan makanan di PT LGEIN Bekasi dan PT Unitex Bogor adalah lebih memperhatikan keamanan pangan seperti kesesuaian suhu, keamanan peralatan, standarisasi fasilitas, dan aliran makanan dalam penyelenggaraan makanan. Manajemen PT LGEIN dan PT Unitex hendaknya lebih memenuhi harapan tenaga pengolah makanan dalam hal jenis pekerjaan, kondisi pekerjaan, supervisi, rekan kerja, kesempatan untuk maju, dan kompensasi untuk meningkatkan kepuasannya dalam bekerja. Saran untuk penelitian selanjutnya sebaiknya meneliti lebih lanjut pengukuran produktivitas kerja tenaga pengolah makanan per kelompok kerja dalam proses penyelenggaraan makanan dan membandingkan kualitas makanan yang dihasilkan di kedua perusahaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[Depkes RI]. 1995. Persyaratan Kesehatan Rumah Makan dan Restoran. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

[Depkes RI]. 2001. Kumpulan Permenkes Bidang Sanitasi Makanan. Jakarta: Yayasan Pesan.

__________. 2001. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan Makanan Bagi Pengusaha Makanan dan Minuman. Jakarta: Yayasan Pesan.

[Depkes RI]. 2009. Pedoman Pemenuhan Kecukupan Gizi Pekerja Selama Bekerja. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Almigo. 2004. Hubungan antar kepuasan kerja dengan produktivitas kerja karyawan. Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang (1)1: 1-11.

Anggraeny. 2003. Tingkat kepuasan kerja tenaga pengolah makanan di PT Otsuka Indonesia Malang dan PT Patal Malang [karya tulis]. Malang: Jurusan Gizi. Politeknik Kesehatan Malang

Arfida. 2002. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Malang: Ghalia Indonesia.

Danarti, Sukendro. 2008. 160 Ide Bisnis Paling Laris. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Ginting. 2004. Analisa kepuasan karyawan atas hubungan kepuasan kerja dengan kinerja keryawan di Novotel Coralia Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Gregoire, Spears. 2007. Foodservice Organizations; a managerial and system approach. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Hariandja. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Grasindo. Hasibuan. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Hasibuan. 2008. Organisasi dan Motivasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Jenie. 1988. Sanitasi Dalam Institusi Pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor.

Josias Beverley. 2005. The relationship between job satisfaction and absenteeism in a selected field services section within an electricity utility in the western cape [thesisi]. Faculty of economic and management science. University of western cape.

Kartasapoetra, Marsetyo. 2008. Ilmu Gizi (Korelasi Gizi, Kesehatan, dan Produktivitas Kerja). Jakarta: Rineka Cipta.

Karyantina. 2007. Industri Jasa Boga. Surakarta: Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Slamet Riyadi.

Khan, Mahmood. 1987. Foodservice Operations. New York: Van Nostrand Reinhold Company Inc.

Luddy Nazaam. 2005. Job satisfaction among first employees at a public health institution in the western cape [thesisi]. Faculty of economic and management science. University of western cape.

Moehyi. 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga. Jakarta: Bhratara.

Mukrie NA. 1990. Manajemen Pelayanan Gizi Institusi Dasar. Akzi: jakarta

Palacio, Theis. 2009. Introduction to Foodservice. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Prawirosentono. 2001. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.

Rivai. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik. Edisi kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Robbins. 2001. Prilaku Organisasi. Jakarta: PT Prenhallindo. Robbins et al. 2003. Perilaku Organisasi. Jakarta : PT Gramedia

Reynolds, Biel. 2007. Incorporating satisfaction measures into a restaurant productivity index. International Journal of Hospitality Management 26: 352-361.

Rumekso. 2009. Housekeeping Hotel Public Area. Yogyakarta: Andi

Saksono I, Saksono L. 1986. Pengantar Sanitasi Pangan. Bandung: Alumni. Siagian. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.

Sinaga Tiurma. 2007. Menyusun Menu dan Pedoman Menu Anak Sekolah. Jakarta: Yayasan Gizi kuliner Jakarta.

Sinungan. 2008. Produktivitas Apa dan Bagaimana. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudiara, Sabudi. 1995. Hygiene dan Sanitasi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sulaeman. 2007. Prinsip-Prinsip HACCP dan Penerapannya Pada Industri Jasa Boga. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Sumarsono. 2003. Ekonomi Manajemen Sumberdaya Manusia dan Ketenagakerjaa. Jember: Graha Ilmu

81

Syanputri. 2009. Analisis pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja tenaga kependidikan (studi kasus: sembilan fakultas IPB, dramaga Bogor) [skripsi]. Bogor: Ekonomi dan manajemen. Institut Pertanian bogor.

Tarwotjo. 1998. Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Jakarta: PT Grasindo.

Toruan. 2003. Meningkatkan Daya Jual Pada Situasi Sulit. Jakarta: PT Gramedia.

Wardani. 2004. Pengendalian biaya makanan, perencanaan menu, kualitas makanan, dan tingkat konsumsi energi protein tenaga kerja di Catering PT Otsuka Indonesia Lawang Malang [karya tulis]. Malang: Jurusan Gizi. Politeknik Kesehatan Malang

Wawan, M Dewi. 2010. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

Widhayanti. 2004. Analisis hubungan motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan PT. Dahana [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Wirakartakusumah. 1990. Sistem Nasional Pengawasan Makanan. Makalah. Dalam: Lokakarya Sistem Perngawasan Makanan BLKM Depkes RI di Ciloto, 4-6 Oktober.

83

Lampiran 1

Denah Dapur Penyelenggaraan Makanan PT LGEIN Bekasi

Pintu utama

J

F

H

I

G

Keterangan: A = Tempat penerimaan

B = Tempat penyiapan bahan makanan C = Tempat pencucian bahan makanan D = Gudang kering

E = Gudang basah

F = Gudang snack (tambahan) G = Ruang pengolahan H = Tempat penyajian I = Tempat distribusi makanan J = Ruang makan

K = Ruang pencucian alat makan L = Tempat pencucian alat masak M = Ruang penyimpanan alat makan N = WC (laki-laki dan perempuan)

= Arus masak

L

D

E

M

K

A

B

C

K

N

N

K

Lampiran 2

Denah Dapur Penyelenggaraan MakananPT Unitex Bogor

A B

J

Pintu utama

Keterangan:

A = Ruang penerimaan bahan makanan G = Tempat distribusi B = Ruang penyiapan bahan makanan H = Ruang makan C = Gudang kering I = Tempat penyucian alat D = Freezer J = Tempat menyimpan alat E = Tempat pengolahan K = WC (laki-laki dan perempuan)

F = Tempat penyajian = Arus masak

G

E

F

I

H

K

K

C

D

J

85

Lampiran 3

Struktur Organisasi Penyelenggaraan Makanan PT LGEIN Bekasi

Shift III 8 orang Tenaga pengolah makanan Pengelola (Kusum) Senior Supervisor (Sihab) Supervisor III (Angga) Senior Supervisor (Sihab) Kebersihan 3 orang cleaning service

6 orang sektor depan Supervisor I (Wafa) Supervisor II (Rachmat) Shift I 12 orang Tenaga pengolah makanan Shift II 7 orang Tenaga pengolah makanan

Lampiran 4

Struktur Organisasi Penyelenggaraan Makanan PT Unitex Bogor

Shift II 5 orang

Tenaga pengolah makanan

Shift III 6 orang

Tenaga pengolah makanan Shift I

7 orang

Tenaga pengolah makanan Kepala Regu A (Adi Priatman) Kepala Regu C (Suherman) Senior Supervisor (Sihab) Kepala Regu B (Oban) Kepala Kantin (Ferry)

87

Lampiran 5

Daftar Menu Makanan Kantin PT LGEIN Bekasi Periode bulan April 2011

Minggu 1 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu

Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama:

1. Ayam balado 1. Ayam panggang kecap 1. Ayam kalio 1. Ayam kentacky 1. Ayam pepes 1. Ayam goreng laos 2. Daging rendang 2. Daging lada hitam 2. Bistiks daging 2. Dendeng bb. Cabe 2. Daging semur 2. Daging bb. Rujak 3. Ikan bandeng 3. Lele tepung goreng 3. Ikan pepes 3. Kakap tepung 3. Nila bb. Acar 3. Nila pepes 4. Telur bb. Kuning 4. Telur omlet 4. Telur ceplok rendang 4. Telur dadar mie 4. Telur pesmol 4. Puyunghai

Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping:

1. Tempe oseng pedas 1. Balado kentang 1. Tahu isi goreng 1. Lumpia 1. Bakwan jagung 1. Tempe mendoan 2. Orek tempe 2. Perkedel 2. Bakwan sayur 2. Risole 2. Mie goreng 2. Mihun goreng

Sayur: Sayur: Sayur: Sayur: Sayur: Sayur:

1. Sup makaroni `1. Lodeh 1. Sayur asem 1. Gudek nangka 1. Sayur jagung + buncis 1. Gulai buncis

Buah: Buah: Buah: Buah: Buah: Buah:

1. Semangka 1. Melon 1. Pisang 1. Pepaya 1. Jeruk 1. Alternatif

Tambahan: Tambahan: Tambahan:

1. Yakult 1. Puding buah 1. Yakult

Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif:

1. Rawon 1. Somay 1. Gado-gado 1. Capcay seafood kuah 1. Tongseng sapi 1. Laksa Shift I

dan Shift II

Lanjutan Lampiran 5

Minggu 2 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu

Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama:

1. Ayam goreng keremes 1. Ayam balado 1. Ayam goreng kremes 1. Ayam pepes 1. Ayam rica-rica 1. Ayam bb. Bali

2. Balado daging 2. Daging semur 2. Kalio daging bali 2. Daging balado basah 2. Daging kalio 2. Daging rica-rica

3. Ikan bawal pemol 3. Nila goreng tepung 3. Ikan bakar bb. Bali 3. Ikan bawal bakar 3. Bawal pesmol 3. Pepes emas

4. Telur ceplok 4. Telur ceplok 4. Telur bb. Rujak 4. Telur rendang 4. Telur ceplok 4. Telur mata sapi

Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping: Lauk pendamping:

1. Tahu goreng cabe hijau 1. Nugget 1. Teri kacang 1. Pangsit goreng 1. Tempe oseng 1. Teri kacang

2. Tahu sambal goreng 2. Tempe bacem 2. Tempe bb. Bombay 2. Terong teri 2. Bakwan jagung 2. Tahu brontak

Sayur: Sayur: Sayur: Sayur: Sayur: Sayur:

1. Oyong soun 1. Sayur kari 1. Sup kacang merah wortel1. Gulai nangka 1. Sayur jagung wortel 1. Urap sayuran

Buah: Buah: Buah: Buah: Buah: Buah:

1. Pisang 1. Semangka 1. Melon 1. Pepaya 1. Jeruk 1. Alternatif

Tambahan:

1. Es krim

Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif: Alternatif:

1. Soto sulung 1. Lontong sayur 1. Capcay 1. Nasi tim 1. Ketoprak komplit 1. Mie ayam bakso

Shift I dan Shift II

89

Lanjutan lampiran 5

Minggu 3 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu

Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama: Lauk utama:

1. Ayam goreng padang 1. Ayam teriyaki 1. Ayam kentacky 1. Ayam kuluyuk 1. Ayam pepes 1. Ayam bb. Bali

Dokumen terkait