BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Tingkat Keterbacaan Wacana Rama lan Sinta
a. Butir Soal dengan Tingkat Keterbacaan Tinggi
Kriteria penggolongan keterbacaan wacana menurut Franklin dan Cullhane, butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi adalah butir soal dengan tingkat keterbacaan lebih dari 60%. Butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi dalam tes isian wacana rumpang yang berjudul Rama lan Sinta akan dipaparkan seperti di bawah ini.
(1) “Putri iku anake Raja ________ (1) Mantili yaiku Prabu Janaka.”
„Putri itu anaknya Raja ________(1) Mantili yaitu Prabu Janaka.‟
Berdasarkan kutipan di atas, jawaban soal nomor 1 adalah kata negara
„negara‟. Hanya kata negara „negara‟ yang dihitung sebagai jawaban benar, karena sudah jelas ada penanda keterangan tempat yaitu kata Mantili. Variasi
82.22 8.89
8.89
Tingkat Keterbacaan Soal Wacana Lumbug Pakan Rajakaya
Tinggi Sedang Rendah
jawaban siswa adalah alengka „alengka‟, kasmaran „jatuh cinta‟, pangingetaning, prabu „raja‟, sayembara „perlombaan‟ dan negarane
„negaranya‟. Dimana dari keenam variasi jawaban siswa tersebut tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan makna dan tidak dapat dimasukkan kedalam konteks soal diatas. Siswa yang menjawab dengan benar adalah sebesar 81,69%.
(2) “Ing sawijining ________ (2) sang Prabu ngenekake…”
„Pada suatu ________ (2) Prabu mengadakan …‟
Kunci jawaban soal nomor 2 adalah dina „hari‟. Jawaban siswa yang lain meliputi pangingetaning, negara „negara‟, panggonan „tempat‟dan jenenge
„namanya‟. Jawaban-jawaban tersebut dihitung salah karena tidak ada jawaban siswa yang bisa menggantikan kata tersebut. Kemudahan siswa menjawab soal ini karena ada penanda ing sawijining „pada suatu‟ sehingga siswa dapat dengan mudah menebak jawaban tersebut menggunakan kata yang sudah lazim digunakan bersama dengan kata „pada suatu‟.
(3) “… sayembara kanggo ________ (3) sang pangeran kanggo Dewi Sinta.”
„… perlombaan untuk ________ (3) Pangeran untuk Dewi Sinta.‟
Jawaban yang dihitung adalah kata nggolek „mencari‟, goleti „mencari‟
dan nggolet „mencari‟. Variasi jawaban siswa yang dihitung salah yaitu ngolek, negara „negara‟, panggonan „tempat‟, dadi „menjadi‟ dan duweni
„memiliki‟. Kata negara „negara‟, panggonan „tempat‟, dadi „menjadi‟ dan duweni „memiliki‟ juga tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya sedangkan kata ngolek tidak diketahui maknanya.
(4) “________(4) iku dimenangake dening …”
„________(4) itu dimenangkan oleh …‟
Berdasarkan kutipan diatas, yang menjadi kunci jawaban adalah kata sayembara „perlombaan‟. Siswa menjawab benar adalah sebanyak 71 orang, karena konteks kalimatnya mudah dipahami. Variasi jawaban siswa yang dihitung salah yaitu kata dina „hari‟ dan nega, karena kata dina „hari‟ tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban sedangkan kata nega tidak diketahui maknanya. Siswa yang menjawab dengan benar adalah sebesar 95,77%.
(5) “… Putra Mahkota ________(5) Ayodya, sing jenenge …”
„… Putra Mahkota ________(5) Ayodya, yang namanya …‟
Jawaban siswa yang dihitung benar hanya kata negara „negara‟. Kata raden „raden‟, titisane „penjelmaannya‟, pangingetane „ingatannya‟, jenenge
„namanya‟, abdine „pesuruhnya‟ dan raja „raja‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung salah. Karena kata-kata tersebut tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya.
(6) “Ing ________(6) liya, ana Raja Alengkadiraja …”
„Di ________(6) lain, ada Raja Alengkadiraja …‟
Kunci jawaban untuk soal nomer 6 adalah kata panggonan „tempat‟.
Variasi jawaban siswa yang dihitung salah yaitu kata dina „hari‟, negara
„negara‟, pageran „pangeran‟ dan pangingetaning. Kata-kata tersebut tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya.
Kemudahan siswa dalam menjawab soal karena sudah terdapat penanda ing
„di‟ (kata depan), dimana tokoh sedang menjelajah tempat.
(7) “… uga lagi ________(7), nanging dudu kasmaran …”
„… juga sedang ________(7), tetapi tidak jatuh cinta …‟
Jawaban yang benar untuk soal nomor 7 adalah kata kasmaran „jatuh cinta‟. Jawaban siswa yang dihitung salah yaitu kata prabu Rahwana „prabu Rahwana‟, kepengin „mempunyai keinginan‟, panggonan „tempat‟ dan asmara „suka, cinta‟. Kata prabu Rahwana „prabu Rahwana‟, kepengin
„mempunyai keinginan‟ dan panggonan „tempat‟ tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya. Sedangkan kata asmara
„suka, cinta‟ tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat.
(8) “Prabu Rahwana ________(8) nglamar Dewi Widowati.”
„Prabu Rahwana ________(8) melamar Dewi Widowati.‟
Jawaban yang dihitung benar untuk soal nomer 8 adalah kepengin „ingin‟
dan pengin „ingin‟. Jawaban siswa yang dihitung salah yaitu kata prasmanan, kasmaran „jatuh cinta‟ dan panujue „yang dituju‟. Kata kasmaran „jatuh cinta‟
dan panujune „tujuannya‟ tidak dapat menggantikan kunci jawaban karena tidak memiliki persamaan makna. Sedangkan kata prasmanan merupakan kosakata dalam bahasa Indonesia. Siswa yang menjawab benar adalah sebesar 87,32%.
(9) “… dianggep ________(10) Dewi Widowati sing …”
„… dianggap ________(10) Dewi Widowati yang …‟
Kunci jawaban untuk soal nomor 10 adalah kata titisane „penjelmaannya‟
dan jawaban siswa yang dihitung benar hanya kata titisane. Sedangkan jawaban siswa yang dihitung salah adalah pangingetaning, keturunane
„silsilahnya‟, titisan „penjelmaan‟ dan adhine „adiknya‟. Siswa yang menjawab benar adalah sebesar 88,73%.
(10) “Ing satengahing ________(11), Rama, Shinta …”
„Ditengah ________(11),Rama, Shinta …‟
Kata dalan „jalan‟ adalah kunci jawaban untuk soal nomor 11. Penanda dalam kalimat sudah jelas yaitu kalimat-kalimat sebelumnya sedang dibicarakan adalah jalan yang sedang dilewati tokoh dalam cerita tersebut.
Hanya kata dalan „jalan‟ yang dihitung benar. Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata adhine „adiknya‟, garwane „istrinya‟, jenenge „namanya‟, dalem „rumah‟ dan abding.
(11) “… Lesmana ________(12) Rama, ngliwati …”
„… Lesmana ________(12) Rama, melewati …‟
Kunci jawaban soal nomor 12 adalah kata adhine „adiknya‟ dan dari jawaban siswa hanya kata tersebut yang dihitung benar. Sementara siswa yang menjawab dengan kata lan „dan‟, jenenge „namanya‟, menyang „pergi‟, adine „lebihnya, baiknya‟, dalan „jalan‟, panggonan „tempat‟ dan garwane
„istrinya‟, dihitung salah karena tidak dapat menggantikan konteks kalimatnya.
(12) “… sing ________(13) alas Dandaka.”
„… yang ________(13) hutan Dandaka.‟
Kata yang dihitung benar hanya kata jenenge „namanya‟. Kata wis „sudah‟, abdine „pesuruhnya‟, dalan „jalan‟ dan panujune „tujuannya‟ dihitung salah karena tidak ada jawaban yang dapat menggantikan kata tersebut.
Kemudahan siswa dalam menjawab lesapan butir soal ini karena sudah ada penanda keterangan tempat yaitu alas Dandaka „hutan Dandaka‟.
(13) “… Prabu Rahwana ________(14) ngindhik …”
„… Prabu Rahwana ________(14) mengintip …‟
Kata wis „sudah‟ merupakan kata yang dihitung benar. Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata malah „juga‟, panjaluk „permintaan‟, abdine
„pesuruhnya‟, njaluk „meminta‟, metu „keluar‟, pengin „ingin‟, kidang
„kijang‟, palsu „palsu‟, panujune „tujuannya‟ dan arep „akan‟. Kemudahan siswa menjawab lesapan ini karena siswa sudah mengetahui bahwa tokoh dalam cerita sedang berkelana sehingga siswa memilih kata sifat tersebut untuk mengisi lesapan.
(14) “ Rahwana ________(16) nyulik Shinta …”
„Rahwana ________(16) menculik Shinta …‟
Kunci jawaban soal nomor 16 adalah kata pengin „ingin‟, kepengin „ingin‟
dan arep „akan‟. Kata panjaluke „permintaannya‟ dan wis „sudah‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung salah. Kata kepengin „ingin‟ dan arep „akan‟
dihitung benar karena kata tersebut sesuai dengan konteks kalimatnya.
Sedangkan kata panjaluke „permintaannya‟ dan wis „sudah‟ tidak bias menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari konteks kalimatnya.
(15) “ … Shinta lan digawa ________(17) negarane …”
„… Shinta dan dibawa ________(17) negaranya …‟
Kata yang dihitung benar adalah kata menyang „kepada, ke‟, ning „ada di, ke‟ dan ing „di‟. Sedangkan kata yang dihitung salah adalah kata ana „ada‟, arep „akan‟, panjaluke „permintaannya‟, garwane „suaminya‟ dan kidang
„kijang‟. Kata ana „ada‟, arep „akan‟, panjaluke „permintaannya‟, garwane
„istrinya‟ dan kidang „kijang‟ tidak memiliki persamaan makna. Kemudahan siswa dalam mengisi lesapan tersebut karena adanya penanda kata kerja yaitu kata „dibawa‟.
(16) “ … arep didadekake ________(18).”
„ ... akan dijadikan ________(18).‟
Kata garwane „istrinya‟ dan bojone „istrinya‟ merupakan jawaban yang dihitung benar. Sementara kata abdine „pesuruhnya‟, gawene „pekerjaannya‟, menyang „kepada, ke‟ dan panujune „tujuannya‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung salah. Kata abdine „pesuruhnya‟, gawene „pekerjaannya‟, menyang „kepada, ke‟ dan panujune „tujuannya‟ tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban dan tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat. Siswa yang menjawab benar soal ini sebanyak 88,73%.
(17) “ … jenenge Marica dadi ________(20) kencana.”
„… namanya Marica menjadi ________(20) kencana.‟
Kunci jawaban untuk soal ini adalah kata kidang „kijang‟ dan hanya kata kidang „kijang‟ yang dihitung benar. Sedangkan kata garwane „istrinya‟, kidhang dan arep „akan‟ adalah jawaban yang dihitung salah. Kata kidhang tidak mengandung makna sedangkan kata garwane „istrinya‟ dan arep „akan‟
tidak sesuai dengan konteks kalimat. Kemudahan siswa dalam menjawab lesapan soal ini karena ada penanda mengenai kencana „emas‟ sehingga merangsang siswa untuk menjawab dengan kata tersebut dan kata yang dilesapkan serta penanda merupakan kata-kata yang sering digunakan.
(18) “ … Dewi Shinta pengin ________(21) kidang kencana …”
„ … Dewi Shinta ingin ________(21) kidang kencana …‟
Kunci jawaban soal nomor 21 adalah kata duweni „mempunyai‟ dan nduweni „mempunyai‟. Penanda dalam soal ini sudah jelas yaitu menggunakan kata benda kidang kencana. Sehingga memudahkan siswa untuk mengisi lesapan tersebut dengan kata duweni „mempunyai‟ atau nduweni
„mempunyai‟. Sedangkan kata yang dihitung salah adalah kata diluruhake
„dicarikan‟, njaluk „meminta‟, panjaluk „permintaannya‟, numpak „naik‟ dan gawe „membuat‟. Kata diluruhake „dicarikan‟, njaluk „meminta‟, panjaluk
„permintaannya‟, numpak „naik‟ dan gawe „membuat‟ tidak dapat meggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan makna.
(19) “ … ngoyak kidang ________(23) iku.”
„ … mengejar kidang ________(23) itu.‟
Kunci jawaban soal ini adalah kata palsu „palsu‟. Sedangkan kata kencana
„emas‟ juga merupakan jawaban siswa yang dihitung benar, karena kata kencana „emas‟ dapat dimasukkan dalam konteks kalimat. Kata ngakon
„menyuruh‟, ngancani „menemani‟, kancane „temannya‟ dan titisane
„penjelmaannya‟ merupakan jawaban yang dihitung salah. Penanda dalam
kalimat sudah jelas yaitu pada kalimat-kalimat sebelumnya yang sedang dibicarakan oleh tokoh dalam cerita tersebut.
(20) “ … siasate Rahwana ________(24).”
„ … siasatnya Rahwana ________(24).‟
Kata bener „benar‟ merupakan kunci jawaban dari soal nomor 24. Jawaban siswa adalah kata panjaluk „permintaan‟, ngrasan „merasa‟, palsu „palsu‟, ngakon „menyuruh‟, wis „sudah‟, kidang „kijang‟ dan kasmaran „jatuh cinta‟, kata-kata ini merupakan jawaban siswa yang dihitung salah. Penanda dalam kalimat ini sudah jelas yaitu kalimat sebelum dan kalimat sesudahnya.
(21) “ Rama banjur ngoyak ________(27) mau …”
„ Rama lalu mengejar ________(27) tadi …‟
Kunci jawaban adalah kata kidang „kijang‟ dan kata kidang „kijang‟
merupakan satu-satunya kata yang dihitung benar. Kata yang dihitung salah adalah kata shinta „sinta‟, palsu „palsu‟, metu „keluar‟ dan dhewekan
„sendirian‟. Penanda dalam kalimat tersebut sudah jelas yaitu pada kalimat-kalimat sebelumnya yang sedang dibicarakan adalah kidang yang diinginkan oleh tokoh dalam cerita.
(22) “ … adhine Lesmana ________(28) Shinta.”
„… adiknya Lesmana ________(28) Shinta.‟
Kata yang dihitung benar untuk menjawab lesapan ini adalah kata ngancani „menemani‟, mbatiri „menemani‟ dan njaga „menjaga‟. Kata mbatiri
„menemani‟ dan njaga „menjaga‟ dihitung benar karena bisa dimasukan dalam konteks kalimat. Kata kwatir, panjaluk „permintaan‟ dan ngakon „menyuruh‟
dihitung salah karena kata njaga „menjaga‟, kwatir, panjaluk „permintaan‟ dan ngakon „menyuruh‟ tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya.
(23) “ Anggone Rama ngoyak ________(29) …”
„ Usahanya Rama mengejar ________(29) …‟
Kunci jawaban adalah kata kidang „kijang‟ dan kata kidang „kijang‟
merupakan satu-satunya kata yang dihitung benar. Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata sing „yang‟ dan nggolek „mencari‟. Penanda dalam kalimat tersebut sudah jelas yaitu pada kalimat-kalimat sebelumnya yang sedang dibicarakan adalah kidang yang diinginkan oleh tokoh dalam cerita.
Siswa menjawab benar soal ini sebesar 85,91%.
(24) “ Shinta dadi ________(30), banjur …”
„ Shinta menjadi ________(30), lalu …‟
Kata kunci untuk jawaban nomor 30 adalah kata kuwatir „khawatir‟.
Jawaban yang dihitung benar kata kuwatir „khawatir‟ dan kata kwatir
„khawatir‟. Kata ngakon „menyuruh‟, kakange „kakaknya‟, kuatir, ngancani
„menemani‟, kawatir dan khawatir „khawatir‟ dihitung salah. Kata ngakon
„menyuruh‟, kakange „kakaknya‟, kuatir, ngancani „menemani‟ dan kawatir tidak dapat menggantikan kunci jawaban jika dilihat dari persamaan maknanya, kata khawatir „khawatir‟ merupakan kosakata dalam Bahasa Indonesia.
(25) “ … ngakon Lesmana nggoleki ________(31) iku.”
„ … meminta Lesmana mencari ________(31) itu.‟
Jawaban siswa yang dihitung benar hanya kata kakange „kakaknya‟. Kata dhewekan „sendirian‟ dan kidang „kijang‟ dihitung salah, karena kata dhewekan „sendirian‟ dan kidang „kijang‟ tidak dapat menggantikan konteks kalimat tersebut. Siswa yang menjawab benar soal ini sebesar 78,87%.
(26) “Lesmana nggawe garis sekti kanggo ________(33) Sinta.”
„Lesmana membuat garis sakti untuk ________(33) Sinta.‟
Kunci jawaban soal nomor 33 adalah kata njaga „menjaga‟. Variasi jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata negara „negara‟ dan dewi
„dewi‟. Kata negara „negara‟ dan dewi „dewi‟ tidak dapat menggantikan konteks kalimat dan kata-kata tersebut tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban. Siswa yang menjawab dengan benar lesapan ini sebesar 85,91%.
(27) “Sinta ora oleh ________(34) saka garis kuwi.”
„Sinta ora oleh ________(34) dari garis itu.‟
Jawaban siswa yang dihitung benar adalah kata metu „keluar‟ dan lunga
„pergi‟. Kata lunga „pergi‟ juga dihitung benar karena kata lunga „pergi‟ dapat dimasukkan dalam konteks kalimat tersebut. Sedangkan jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata nglanggar „melanggar‟, kata nglanggar
„melanggar‟ tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat.
(28) “Lesmana banjur ________(35) nggoleki kangmase.”
„Lesmana kemudian ________(35) mencari kakaknya.‟
Kunci jawaban nomor 35 adalah kata lunga „pergi‟ dan hanya kata lunga
„pergi‟ yag dihitung benar. Kata lungis, metu „keluar‟, lung „jenis tanaman
merambat‟ dan arep „akan‟ adalah kata-kata yang dihitung salah karena tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban dan tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal nomer 35. Siswa yang menjawab benar soal nomer 35 ini sebesar 81, 28%.
(29) “Sawise Lesmana ________(36), Rahwana banjur nyedaki Sinta …”
„Sesudah Lesmana ________(36), Rahwana kemudian mendekati Sinta …‟
Jawaban siswa yang dihitung benar adalah kata lunga „pergi‟. Kata metu
„keluar‟ dihitung salah karena tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal nomor 36. Siswa yang menjawab benar soal ini sebesar 84,50%.
(30) “Rahwana banjur nyedaki Sinta saperlu ________(37)nyulik Sinta.”
„Rahwana kemudian mendekati Sinta karena ________(37) menculik Sinta.‟
Kata arep „akan‟, kepengin „ingin‟ dan pengin „ingin‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung benar. Kata arep „akan‟ merupakan kunci jawaban sedangkan kata kepengin „ingin‟ dan pengin „ingin‟ dihitung benar karena dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal tersebut. Variasi jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata panujune „tujuannya‟, dhewekan
„sendirian‟, lunga „pergi‟, adhine „adiknya‟ dan njaluk „meminta‟. Kata-kata tersebut tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat dan tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban.
(31) “Nanging Rahwana ________(38)bisa nyulik Sinta amarga …”
„Tetapi Rahwana ________(38) dapat menculik Sinta karena …‟
Jawaban siswa yang dihitung benar dan satu-satunya variasi jawaban siswa adalah kata ora „tidak‟. Kemudahan siswa dalam menjawab lesapan ini karena sudah ada penanda kata sifat bisa „dapat‟ dibekalang kata lesapan tersebut sehingga memudahkan siswa untuk menjawab dengan kata ora
„tidak‟. Siswa yang menjawab benar sebesar 92,95%.
(32) “… bisa nyulik Sinta amarga ________(39) garis sing njaga Sinta.”
„… dapat menculik Sinta karena ________(39) garis yang menjaga Sinta.‟
Kunci jawaban soal nomor 39 adalah kata ana „ada‟. Variasi jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata digawe „dibuat‟, gawe „membuat‟, duweni „mempunyai‟ dan metu „keluar‟. Kata digawe „dibuat‟, gawe
„membuat‟, duweni „mempunyai‟ dan metu „keluar‟ tidak dapat menggantikan kunci jawaban karena tidak memiliki persamaan makna dan tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat dalam soal tersebut.
(33) “Rahwana banjur ________(40) siasat maneh, yaiku nyamar.”
„Rahwana kemudian ________(40) siasat lagi, yaitu menyamar.‟
Jawaban siswa yang dihitung benar adalah kata gawe „membuat‟ dan duweni „mempunyai‟. Kata gawe „membuat‟ merupakan kunci jawaban soal nomor 40, sedangkan kata duweni „mempunyai‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung benar karena kata tersebut dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal nomor 40. Kata ora „tidak‟, ana „ada‟, arep „akan‟, njaluk
„meminta‟ dan bener „benar‟ merupakan jawaban siswa yang dihitung salah.
(34) “Rahwana ________(41) dadi brahmana sing tuwa …”
„Rahwana ________(41) menjadi pendeta yang tua …‟
Kunci jawaban soal nomor 41 adalah kata nyamar „menyamar‟. Jawaban siswa dengan kata palsu „palsu‟ dihitung salah, karena kata palsu „palsu‟ tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal nomor 41 dan tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban. Penanda dalam lesapan tersebut sudah jelas yaitu kalimat-kalimat sebelumnya. Siswa yang menjawab benar soal ini sebesar 95, 77%.
(35) “… dadi brahmana sing tuwa, ________(42) supaya Sinta menehi sedhekah.”
„… menjadi pendeta yang tua, ________(42) supaya Sinta memberi sedekah.‟
Kunci jawaban soal nomor 42 adalah kata tujuane „tujuanya‟. Penanda dalam lesapan tersebut yaitu kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya. Variasi jawaban siswa dengan kata tuane „tuanya‟ dan nanging „tetapi‟ dihitung salah karena kata tuane „tuanya‟ merupakan kosakata dalam bahasa Indonesia sedangkan kata nanging „tetapi‟ tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban dan tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat tersebut.
b. Butir Soal dengan Tingkat Keterbacaan Sedang
Berdasarkan kriteria penggolongan oleh Franklin dan Cullhane, butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan sedang adalah butir soal dengan tingkat keterbacaan antara 41% sampai dengan 60%. Butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan sedang dalam tes isian wacana rumpang berjudul rama lan Shinta akan dipaparkan sebagai berikut ini.
(36) “… kidang kencana iku lan ________(22) Rama supaya ngoyak kidang …”
„… kijang emas itu dan ________(22) Rama supaya mengejar kijang …‟
Kunci jawaban soal nomor 22 adalah kata ngakon „menyuruh‟. Kata njaluk „meminta‟, ngongkon „menyuruh‟ dan jaluk „meminta‟ juga merupakan jawaban siswa yang dihitung benar. Kata njaluk „meminta‟ dan jaluk
„meminta‟ dihitung benar karena kata njaluk „meminta‟ dan jaluk „meminta‟
dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat tersebut, sedangkan kata ngongkon „menyuruh‟ merupakan dialek yang memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban. Kata yang dihitung salah adalah kata duweni
„mempunyai‟, raden „raden‟, panjaluk „permintaan‟, panjaluke
„permintaannya‟, supaya „supaya‟ dan nduweni „mempunyai‟. Kata-kata tersebut dihitungsalah karena tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat dan tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban.
(37) “Sinta ________(25) supaya Rama nyekel kidang kuwi.”
„Sinta ________(25) supaya Rama nyekel kijang itu.‟
Kunci jawaban soal ini adalah kata njaluk „meminta‟. Kata ngongkon
„menyuruh‟, ngakon „menyuruh‟ dan pengin „ingin‟ dihitung jawaban benar.
Kata-kata tersebut memiliki arti yang berbeda dengan kunci jawaban tetapi kata-kata tersebut dapat dimasukkan kedalam konteks kalimat soal nomor 25.
Variasi jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata panjenengan „anda‟, panjaluk „permintaan‟, duweni „mempunyai‟ dan pangingetaning.
(38) “Amarga ________(26) garwane, Rama banjur ngoyak …”
„Karena ________(26) istrinya, Rama kemudian mengejar …”
Jawaban siswa yang dihitung benar adalah kata panjaluk „permintaan‟ dan panjaluke „permintaannya‟. Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata duweni „mempunyai‟, ngokon „menyuruh‟, bener „benar‟, ngancani
„menemani‟, ngakon „menemani‟, njaluk „meminta‟, arep „akan‟, njaga
„menjaga‟ dan dhewekan „sendirian‟. Kata duweni „mempunyai‟, ngokon
„menyuruh‟, bener „benar‟, ngancani „menemani‟, ngakon „menemani‟, njaluk
„meminta‟, arep „akan‟, njaga „menjaga‟ dan dhewekan „sendirian‟ tidak memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban dan kata-kata tersebut tidak dapat dimasukkan kedalam konteks kalimatnya.
(39) “Sakdurunge ninggalake Sinta ________(32), Lesmana nggawe garis sekti …”
„Sebelum meninggalkan Sinta ________(32), Lesmana membuat garis sakti …‟
Kunci jawaban nomor 32 adalah kata dhewekan „sendirian‟. Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata dewekan, njaluk „meminta‟, ana „ada‟, gawe „membuat‟ dan ngakon „menyuruh‟. Kata-kata tersebut tidak dapat menggantikan konteks kalimat dalam soal. Dan penanda dalam kalimat sudah jelas yaitu kalimat sesudahnya.
c. Butir Soal dengan Tingkat Keterbacaan Rendah
Berdasarkan kriteria penggolongan oleh Franklin dan Cullhane, butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan sedang adalah butir soal dengan tingkat keterbacaan dibawah 40%. Butir soal yang memiliki tingkat keterbacaan sedang dalam tes isian wacana rumpang berjudul rama lan Shinta akan dipaparkan sebagai berikut ini.
(40) “Saka ________(9) Rahwana, Dewi Shinta …”
„Dari ________(9) Rahwana, Dewi Shinta …‟
Kunci jawaban untuk nomor 9 adalah pangengetaning „ingatannya‟. Kata tersebut merupakan satu-satunya kata yang dihitung benar. Penanda dalam kalimat sudah jelas yaitu pada kalimat-kalimat sebelumnya. Jawaban siswa yang dihitung salah yaitu kata pangingetaning, titisane „penjelmaannya‟, negara „negara‟, panggonan „tempat‟, garwane „istrinya‟, dina „hari‟, nggolek
„mencari‟, prabu „prabu‟, panujune „tujuannya‟, panjaluk „permintaan‟, perabune dan abdine „pesuruhnya‟.
(41) “… ngindhik wong telu iku, ________(15) marang Dewi Sinta.”
„… mengintip tiga orang itu, ________(15) kepada Dewi Sinta.‟
Kunci jawaban soal nomor 15 adalah kata panujune „tujuannya‟. Hanya kata panujune „tujuannya‟ yang dihitung jawaban benar. Kata panjaluke
„permintaannya‟, pengin „ingin‟, panjaluk „permintaan‟, abdine „pesuruhnya‟, pangin, tujuane, abdhine, ngindhik „mengintip‟, garwane „istrinya‟, arep
„akan‟, pengingetanig dan ora „tidak‟ dihitung salah karena tidak ada satupun kata yang dapat menggantikan kata panujune „tujuane‟ dan yang memiliki persamaan makna dengan kunci jawaban.
(42) “Kanthi siasate Rahwana ndadekake salah siji ________(19) sing jenenge Marica …”
„Dengan siasatnya Rahwana menjadikan salah satu ________(19) yang namanya Marica …‟
Jawaban soal nomor 19 adalah kata abdine „pesuruhnya‟ dan kata abdine
„pesuruhnya‟ merupakan satu-satunya jawaban siswa yang dihitung benar.
Jawaban siswa yang dihitung salah adalah kata adine, garwane „istrinya‟, panjaluke „permintaannya‟, dalan „jalan‟, pamaluke, adhine „adiknya‟, panjaluk „permintaan‟, kepengin „ingin‟, kidang „kijang‟, ana „ada‟, nggolek dan panujune „tujuannya‟. Kesulitan siswa dalam menjawab soal ini karena ada penanda nama Marica, dimana kebanyakan siswa tidak mengetahui siapa Marica itu.
2. Tingkat Keterbacaan Wacana Nonton Wayang Siluman dalam Buku Teks