Akan kami sebut padanya adab-mendengar, dzahir dan bathin. Dan apa yang terpuji dan apa yang tercela dari bekas-bekas دجولا Al-Wajd. Adapun adab, yaitu : lima kesimpulan :
Pertama : menjaga zaman, tempat dan teman. Al-Junaid berkata : "Pendengaran itu memerlukan kepada tiga perkara. Jikalau tidak, maka engkau tidak mendengar". Yaitu : zaman, tempat dan teman. Artinya : bahwa sibuk dengan pendengaran, pada waktu datang makanan atau permusuhan atau shalat atau sesuatu yang memaling- kan perhatian dari pendengaran serta kekacauan hati (pikiran), tiada faedah padanya.
Inilah artinya menjaga zaman (masa). Maka pendengaran itu dijaga dalam keadaan selesainya hati untuk mendengar. Adapun tempat, kadang-kadang dijalanan yang dijalani orang atau tempat yang buruk bentuknya atau ada padanya sebab yang raem- bimbangkan hati. Maka hendaklah dijauhkan yang deriiikian. Adapun teman,
maka sebabnya ialah apabila datang yang tidak sejenis, dari orang yang menantang pendengaran, yang bersikap dzuhud secara dzahiriah, yang tidak mempunyai perasaan hati yang halus, niscaya adalah yang demikian itu menjadi berat dalam ma- jelis. Dan membimbangkan hati dengan dia. Dan seperti itu juga, apabila datang orang yang bersikap sombong dari golongan dunia- wi, yang memerlukan kepada mengintip "dan memperhatikannya. Atau datang orang yang memberatkan diri, yang membuat-buat دجولا Al-Wajd, dari ahli tashawwuf, yang bersikap ria dengan
دجولا Al-Wajd, tarian dan pengrobekan kainnya.
Maka semua itu adalah pengganggu-pengganggu pendengaran. Meninggalkan pendengaran ketika tidak adanya syarat-syatat ter- sebut di atas itu lebih utama. Maka pada syarat-syarat itu perhatian kepada pendengar.
Adab Kedua : yaitu perhatian yang hadlir, bahwa syaikh (guru), apabila ada disekelilingnya murid-murid, yang mendatangkan ke- melaratan mendengar bagi mereka, maka tiada seyogialah ia melakukan pendengaran pada waktu kehadliran murid-murid itu. Jikalau ia melakukan pendengaran, maka hendaklah murid-murid itu disibukkan dengan kesibukan yang lain.
680
Murid yang mendapat kemelaratan dengan mendengar itu, ialah salah satu dari tiga :
1. Derajat yang paling kurang, yaitu : yang tiada memperoleh dari jalanan, selain perbuatan dzahiriah. Dan tiada mempunyai perasaan-pendengaran . Maka kesibukannya dengan pendengaran, adalah kesibukan dengan yang tiada berfaedah baginya. Karena ia bukan ahli bersenda-gurau, lalu bersenda-gurau. Tidak dari ahli yang berperasaan, lalu mencari keni'matan dengan perasaan pendengaran.Dari itu, maka hendaklah bekerja dengan berdzikir atau berkhidmat (melayani kepentingan umum). Jikalau tidak, maka adalah menyianyiakan waktunya.
2. Yaitu-: yang mempunyai rasa (dzauq) pendengaran. Tetapi ada padanya sisa bahagian-ketabi 'atan dan perhatian kepada nafsu- syahwat dan sifat kemanusiaan. Dan itu tidak pecah kemudian, yang menjamin keamanan dari hal-hal yang membinasakan. Kadang-kadang pendengaran itu menggerakkan hal yangmemanggil senda-gurau dan nafsu-syahwat. Lalu memotong kepadanya jalan pendengaran. Dan mencegahnya dari kesempumaan.
3. Bahwa orang itu telah hancur nafsu syahwatnya. Telah merasa aman dari hal yang membinasakannya. Telah terbuka matahatinya. Dan telah mempengaruhi pada hatinya, kecintaan kepada Allah Ta'ala. Tetapi, tidak teguh pemahamannya akan ilmu dzahiriah. Tidak mengenai nama Allah dan sifat-sifat-Nya, apa yang jaiz (yang boleh) dan yang mustahil kepada-Nya.
Maka apabila telah terbuka baginya pintu pendengaran, niscaya bertempatlah yang didengarnya itu pada hak Allah Ta'ala, kepada apa yang jaiz dan apa yang tidak jaiz. Maka adalah kemelaratannya dari bahaya itu, di mana bahaya-bahayanya itu ialah kekufuran, adalah lebih besar daripada kemanfa'atan pendengaran. Sahl ra. berkata : "Tiap-tiap دجولا Al-Wajd yang tidak diakui oleh Al- Kitab (Al-Qur-an) dan As-Sunnah, adalah batil. Maka tidaklah patut pendengaran kepada contoh yang seperti ini. Dan tidak bagi orang yang hatinya kemudian, berlumuran dengan kecintaan kepada dunia. Kecintaan kepada pujian dan sanjungan. Dan tidak bagi orang, yang mendengar karena kelezatan dan dirasa baik oleh tabi'at. Maka jadilah yang demikian adat-kebiasaan baginya. Dan yang demikian itu mengganggukannya daripada ibadah dan pemeliharaan hatinya. Dan terputuslah jalannya. Maka pendengaran itu menggelincirkan tapak, yang wajib dipelihara daripadanya orang- orang yang lemah.
681
Al-Junaid berkata : "Aku bermimpi melihat Iblis. Lalu aku bertanya kepadanya: 'Adakah kamu memperoleh sesuatu padashahabat- shahabat kami?
Iblis itu menjawab: "Ada, pada dua waktu : waktu mendengar dan waktu melihat. Maka aku masuk kepada mereka dengan waktu itu".
Maka menjawab setengah syaikh : "Jikalau aku bermimpi melihat Iblis itu, niscaya aku katakan kepadanya : 'Alangkah dungunya engkau! Orang yang mendengar daripadanya apabila mendengar dan orang yang memandang kepadanya apabila memandang, bagai- manakah engkau memperoleh dengan dia?* Al-Junaid menjawab : "Benar engkau!
Adab Ketiga : bahwaa memperhatikan benar-benar kepada apa yang dikatakan oleh orang yang mengatakan, yang berkehadliran hati, yang sedikit menoleh kesegala pihak, yang menjaga diri dari memandang kepada muka para pendengar dan apa yang lahir pada mereka dari hal-ihwal دجولا Al-Wajd. Yang sibuk dengan dirinya sendiri, menjaga hatinya dan mengintip apa yang dibuka oleh Allah Ta'ala baginya dari rahmat pada bathinnya. Yang menjaga dari gerak-gerik yang mengganggu hati para shahabatnya. Akan tetapi, ia tetap dzahiriahnya, tenang sendi-sendinya, menjaga diri dari batuk-batuk dan menguap. Ia duduk menekurkan kepalanya, seperti duduknya dalam pemikiran yang tenggelam untuk hatinya, yang berpegang teguh, tidak bertepuk, menari dan lain-lain gera. kan, secara dibuat- buat, memberatkan diri dan ria. Yang berdiam diri dari berbicara pada waktu sedang berkata-kata, dengan tiap sesuatu yang tidak boleh tidak daripadanya.
Jikalau ia dikerasi oleh دجولا Al-Wajd dan digerakkannya tanpa pilihan (ikhtiar)nya, maka itu dima'afkan, tiada tercela. Dan manakala telah kembali, kepadanya ikhtiar itu maka hendaklah ia kembali kepada ketenangan dan ketenteram&nnya!. Tiada seyogialah ia berkekalan oleh malunya, daripada dikatakan, bahwa دجولا Al-Wajdnya akan habis dalam waktu dekat. Dantidak membuat-buat دجولا Al-Wajd, karena takut akan dikatakan, bahwa dia itu kesat hati, tiada bersih jiwa dan halus perasaan.
Diceriterakan, bahwa seorang pemuda menemani Al-Junaid. Maka apabila pemuda itu mendengar sesuatu dzikir, lalu memekik. L'alu pada suatu hari Al-Junaid berkata kepadanya : "Jikalau engkau perbuat yang demikian sekali lagi, maka engkau jangan lagi menemaniku!".
Lalu sesudah itu, pemuda tadi menekan dirinya, sehingga menitik dari tiap-tiap bulunya titikan air. Dan ia tidak memekik. Kemudian diceriterakan bahwa pada suatu hari tercekik kerongkongannya, karena ia bersangatan menahan diri. Lalu menangis terisak-isak. Maka pecah hatinya dan hilang nyawanya.
682
Diriwayatkan, bahwa Nabi Musa as. berceritera pada kaum Bani Israil. Lalu salah seorang dari mereka, mengoyakkan kainnya atau kemejanya. Maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as. : "Katakanlah kepadanya : 'Koyakkanlah ini untuk-Ku hatimu! Dan jangan engkau koyakkah kainmu!'".
Abul-Kasim An-Nasrabazi berkata kepada Abi 'Amr bin 'Ubaid : "Aku mengatakan, bahwa apabila berkumpul suatu kaum, lalu seorang penyanyi bersama mereka bernyanyi, adalah lebih baik daripada mereka mengumpat". Lalu Abi 'Amr berkata : "
Ria itu pada pendengaran. Yaitu : bahwa engkau memperlihatkan dari diri engkau, keadaan yang tidak ada pada engkau —, adalah lebih jahat daripada engkau mengumpat tiga puluh tahun atau seumpama dengan itu
Jikalau engkau berkata : bahwa yang lebih utama, ialah yang tidak digerakkan oleh pendengaran dan tidak membekas pada dzahirnya atau yang"dzahir padanya?. Ketahuilah kiranya, bahwa tiada dzahirnya pada suatu kali adalah karena lemahnya yang mendatang dari دجولا Al-Wajd. Maka itu adalah kekurangan.
Dan pada suatu kali, adalah ia bersama kuatnya دجولا Al-Wajd pada bathin. Tetapi tiada dzahir, karena sempurnanya kekuatan mena- han anggota tubuh. Maka itu adalah kesempurnaan. Pada suatu kali, adalah ia karena keadaan دجولا Al-Wajd mengikuti dan menyertai dalam semua keadaan. Maka tiada terang bagi pende-ngaran, bertambahnya membekas. Dan itu adalah sangat sempurna. Karena yang mempunyai دجولا Wajd itu dalam kebanyakan hal, tiada kekal دجولا Al-Wajdnya. Maka orang yang selalu dalam دجولا Al-Wajd, maka ia terikat bagi kebenaran dan selalu tiada berpisah bagi zat yang dipersaksikannya (ainisy-syuhud).
Maka ini tiada akan dirobahkan oleh jalan-jalannya keadaan. Dan tiada jauh, bahwa isyarat itu adalah dengan ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. : "Adalah kami sebagaimana adanya kamu. Kemudian kesatlah hati kami". Artinya : "Telah kuat hati kami dan keras. Lalu sanggup terus-menerus adanya دجولا Al-Wajd pada semua keadaan".
Maka kita itu dalam mendengar maksud Qur-an terus-menerus. Maka tidaklah Al-Qur-an itu baru terhadap kita, yang datang kepada kita. Sehingga kita memperoleh kesan dengan dia.
683
Jadi, kekuatan دسسجولا Al-Wajd itu menggerakkan. Dan kekuatan akal dan perpegangan itu menentukan yang dzahir. Kadang-kadang salah satu daripada keduanya lebih keras dari yang lain. Adakalanya lahtaran sangat kuatnya Dan adakalanya lantaran lemah apa yang dihadapinya. Dan adalah kekuraingan dan kesempurnaan itu menurut yang demikian tadi.
Maka janganlah engkau menyangka bahwa orang yang membalik- balikkan dirinya di atas tanah itu, lebih sempuma دجولا Al-Wajdnya dari orang yang tenang dari membalik-balikkan dirinya. Bahkan, banyak orang yang tetap-tenteram itu lebih sempurna دجولا Al-Wajdnya daripada orang yang membalik-balikkan diri.
Adalah Al-Junaid bergerak-gerak pada mendengar pada permulaan- nya. Kemudian tiada bergerak-gerak lagi. Lalu ia ditanyakan orang, tentang yang demikian, maka ia membaca :
ءةٍ ييشل للكل ن لقلتغأ ي لَذهِللا لهِ ا ععنغصل م بوِانِكحعسملا ررمص ررتلل يصههِوص ةةدعمهِانِكجع انِكهعبمسصتلغ للانِكبصلغهِ ا ىعتلوص
(Wa taral -jibaala tahsabuhaa jaamidatan wa hiya tamurru marras- sahaabi shun-'allaahil-ladzii atqana kulla syai-in).Artinya : "Engkau melihat gunung-gunung, engkau kira bahwa dia tetap (tiada bergerak padahal dia berjalan kencang, sebagai awan berjalan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat segala sesuatu dengan kokohnya". (S. An-Naml, ayat 88), sebagai pertanda bahwa hati itu bergerak, berputar dalam alam tinggi (alam malakut) dan anggota tubuh bersikap dengan adab tenteram pada dzahirnya. Abul-Hasan Muhammad bin Ahmad berkata dan ketika itu dia berada di Basrah : "Aku menyertai Sahl bin Abdillah enam puluh tahun lamanya. Tiada aku melihat dia berobah pada suatupun yang didengarnya, baik dzikir atau Al-Qur-an". Maka tatkala ia pada akhir umumya (hidupnya), seorang laki-laki membaca dihadapan- nya ayat:
ي
د صهِلغل ا سصئغبوِوص ميكللويمص يصههِ ردانِكنللا ممكلاوصأْمص اوردفلكل ن ليذهِللا ن لمهِ لوص ةنيصديفهِ ميكلنغمهِ ذلخلؤييم ل مصوييصلغانِكفل
(Fal-yauma la yu'-khadzuminkum fidyatun wa laa minalladziina kafaruu, maSwaakumun-naaru, hiya maulaakum wa bi'-sal-mashiir).Artinya : "Sebab itu, di hari ini tiada diterima tebusan dari kamu dan tiada pula dari orang-orang yang kafir. Tempat diam kamu ialah neraka, itulah tempat kamu berlindung dan tempat tujuan yang amat buruk!" (S. Al-Hadid, ayat 15). Lalu aku melihat dia gemetar dan hampir jatuh ke lantai. Maka
684
tatkala telah kembaii kepada keadaannya semula, lalu aku tanya- kan dari yang demikian. Maka ia menjawab : "Benar, wahai teman- ku, aku telah lemah".
ن وِحغل ررللهِ قرلغل ا ذةٍ ئهِمصوييص كللغلغل ا
(Al-mulku yauma-idzinil-haqqu lirrahmaan).Artinya : "Kerajaan yang sebenarnya pada hari itu kepunyaan (Tuhan) Yang Maha Pemurah(S. Al-Furqan, ayat 26).
Lalu ia gemetar. Maka ditanyakan oleh Ibnu-Salim. Dan Ibnu Salim itu termasuk shahabatnya.
Sahl bin Abdillah menjawab : "Aku lemah.".
Lalu orang bertanya kepadanya : "Jikalau ini sebahagian dari kelemahan, maka apakah kekuatan keadaan itu?".
Ia menjawab : "Bahwa tidak datang kepadanya apa yang datang, melainkan ia menemuinya dengan kekuatan keadaannya. Maka apa yang datang itu, tidak mengobahkannya, walaupun yang datang itu kuat".
Sebabnya mampu mengekang dzahiriahnya serta adanya دجولا Al-Wajd, ialah melurusnya segala hal-keadaan, disebabkan tiada putus-putus- nya penyaksian (mulazamatusy-syuhud). Sebagaimana diceritera- kan dari Sahl ra., yang mengatakan : "Keadaanku sebelum shalat dan sesudahnya ialah satu". Karena ia memeliharakan hatinya, hadhir ingatan kepada Allah Ta'ala pada semua keadaan. . , Maka begitu pula ia sebelum mendengar dan sesudahnya. Karena دجولا Al-Wajdnya kekal selalu. Kehausannya terus bersambung dan minumnya terus berkekalan, di mana pendengaran itu tidaklah membekas pada tambahannya. Sebagaimana diriwayatkan, bahwa Mimsyad Ad-Dainuri mendekati suatu jama'ah (kumpulan orang ramai), yang dalam jama'ah itu ada seorang penyanyi. Lalu mereka itu diam semuanya.
Maka berkata Mimsyad : "Kembalilah kepada keadaanmu tadi!. Jikalau dikumpulkan segala permainan dunia pada telingaku, niscaya tiada akan mengganggu cita-citaku. Dan tidak akan me- nyembuhkan setengah apa yang ada padaku".
Al-Junaid ra. berkata : "Tiada akan mendatangkan kemelaratan oleh kurangnya
دجولا Al-Wajd,serta lebihnya pengetahuan. Dan lebihnya pengetahuan adalah lebih
sempurna daripada lebihnya دجولا Al-Wajd". Jikalau engkau mengatakan, bahwa orang yang seperti itu tidak menghadliri pendengaran (untuk mendengarkan sesuatu).
685
Ketahuilah kiranya, bahwa diantara mereka ada orang yang meninggalkan mendengar itu pada waktu tuanya. Ia tidak menghadliri pendengaran itu, kecuali jarang sekali, untuk menolong salah seorang temannyadan memasukkan kegembiraan ke dalam hatinya. Kadang-kadang ia hadlir, supaya diketahui oleh kaum itu kesempurnaan kekuatannya. Lalu mereka itu mengetahui bahwa tidaklah kesempurnaan itu dengan
dzahiriah, tanpa memaksakan diri. Walaupun mereka tidak sanggup mengikutinya, pada men- jadikannya tabi'at (sifat yang tetap) bagi mereka. Jikalau bersesuaian kehadliran mereka itu, bersama bukan putera- bangsanya, maka adalah mereka itu bersama mereka dengan badan- tubuh saja. Dan jauh dari mereka dengan hati dan bathin. Sebagaimana mereka duduk tanpa mendengar, bersama bukan bangsa mereka. Disebabkan oleh sebab-sebab yang mendatahg, yang menghendaki duduknya bersama mereka.
Sebahagian mereka dinukilkan daripadanya, meninggalkan mendengar. Dan diduga bahwa sebabnya meninggalkan pendengaran itu, ialah karena tiada memerlukan kepada pendengaran, disebabkan apa yang telah kami sebutkan dahulu. Dan setengah mereka terdiri dari orang-orang dzuhud.Dan tiada mempunyai untung kerohanian pada pendengaran itu. Dan ia tidak dari golongan senda-gurau. Maka ia meninggalkan mendengar itu, supaya tidak habis waktunya dengan apa yang tidak penting. Dan setengah mereka meninggalkan pendengaran itu, karena ketiadaan teman-teman. Ditanyakan kepada setengah mereka : "Mengapa engkau tidak mendengar?".
Lalu menjawab,: "Dari siapa dan bersama siapa?".
Adab Ke-empat : bahwa ia tidak berdiri dan tidak meninggikan suaranya dengan menangis. Ia sanggup membatasi diri. Tetapi jikalau ia menari atau membuat-buat menangis, maka diperbolehr kan (mubah), apabila ia tidak bermaksud dengan demikian, untuk ria. Karena membuat-buat menangis itu menarik kepada kesedihan. Dan menari itu sebab pada menggerakkan kegembiraan dan kera jinan.
Semua kegembiraan itu mubah. Boleh menggerakkannya. Jikalau menggerakkan kegembiraan itu haram, niscaya 'A-isyah ra tidak melihat orang-orang Habsyi bersama Rasulullah مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص., di mana orang-orang Habsyi itu menari. (1)
(1) Hadits ini telah diterangkan dahulu. 686
' Itulah perkataan 'A-isyah ra. pada setengah riwayat!. Diriwayatkan dari suatu jama'ah dari shahabat ra., bahwa mereka itu- melompat-lompat kegirangan, tatkaia datang kepada mereka kegembiraan yang mengharuskan demikian. Yaitu : mengenai kisah anak perempuan Saidina Hamzah, tatkaia timbul perteng- karan antara 'Ali bin Abi Thalib dan saudaranya Ja'far dan Zaid bin Haritsah. Ketiganya bertengkar tentang siapa yang lebih berhak mendidik puteri Saidina Hamzah itu (namanya Amamah).
Lalu Nabi مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص. bersabda kepada 'Ali : "Engkau daripadaku dan aku
daripada engkau". Lalu'Ali melompat-lompat kegembiraan.
Kepada Ja'far, Nabi مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص. bersabda : "Engkau" serupa dengan bentukku
dan budi-pekertiku" Lalu ia melompat-lompat kegirangan di belakang 'Ali melompat-lompat.
Kepada Zaid, Beliau مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص bersabda : "Engkau saudara kami dan kekasih
Kemudian Nabi مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص. bersabda : "Puteri itu untuk Ja'far. Karena
saudara-ibunya yang perempuan (khalahnya) adalah di bawah Ja'far. Dan khalah itu ibu". (1)
Pada suatu riwayat, Nabi مصللسصوص ههِييللعع لل ا ى اللصل ص. bersabda kepada 'A-isyah ra. :
"Sukakah engkau melihat tarian (zafan) orang Habsyi?". Zafan dan hajal ialah raqash (menari). Dan yang demikian adalah karena kesenangan atau kerinduan. Hukumnya ialah hukum yang membangkitkannya, jikalau kesenangan itu terpuji. Dan tarian itu menanibahkan dan menguatkan kesenangan tadi. Maka tarian itu terpuji. Jikalau kesenangan itu mubah, maka tarian itu mubah. Dan jikalau kesenangan itu tercela, maka tarian itu tercela. Ya, tiada layak membiasakan yang demikian dengah kedudukan orang-orang besar dan orang-orang yang menjadi jikutan orang banyak. Karena kebanyakan tarian icu adalah dari senda-gurau dan permainan. Dan apa yang mempunyai bentuk permainan dan senda-gurau pada pandangan orang banyak, seyogialah dijauhkan oleh orang yang menjadi ikutan orang banyak. Supaya ia tidak menjadi kecU pada pandangan manusia. Lalu ia ditinggalk&n, tidak di-ikuti lagi.
Adapun pencabikan kain, maka tidak diperbolehkan. Kecuali ketika terjadi hal itu, tanpa ikhtiar (kemauannya). Dan tidak-jauh dari kebenaran, bahwa keraslah
دجولا Al-Wajd itu, di mana ia mencabik
(1) Dirawikan Abu Dawud dari 'Ali, dengan isnad baik. 687
kainnya. Dan ia tidak tahu, karena kesangatan mabuknya دجولا Al-Wajd atas dirinya. Atau ia tahu. Tetapi ia berada seperti orang yang terpaksa, yang tidak sanggup mengekang diri. Dan adalah bentuk- nya itu bentuk orang yang terpaksa. Karena ada baginya pada gerakan atau pencabikan kain itu penafasan. Maka ia memerlukan kepadanya, seperti orang sakit memerlukan kepada pengeluhan. Jikalau diberati menahan diri (bersabar) dari yang demikian, niscaya ia tidak sanggup, sedang perbuatan itu adalah perbuatan ikhtiari (perbuatan berdasarkan kemauan atau pilihan sendiri). Maka tidaklah tiap-tiap perbuatan, yang terjadi dengan kemauan (iradah) itu, manusia sanggup meninggalkannya. Bernafas adalah perbuatan yang terjadi dengan kemauan. Jikalau manusia diberati menahan nafas satu jam, niscaya dipaksakan oleh bathinny a kepada mengusahakan bernafas. Maka begitu pula berteriak dan mencabik kain. Kadang-kadang ada seperti yang demikian. Maka itu tidak disifatkan dengan pengharamanI Disebutkan pada As-Sirri berita دجولا Al-Wajd yang sangat keras, yang mengalahkan kesadaran. Maka beliau menjawab : "Ya, orang itu memukul mukanya dengan pedang dan ia tidak tahu (tidak sadar)". Lalu beliau dimintameninjau kembali tentang penjawabannya tadi. Dan dirasa jauhlah dari kejadian, bahwa دجولا Al-Wajd akan sampai kepada batas itu. Tetapi beliau tetap pada penjawabannya dan tidak mau ruju' dari jawaban itu.
Maksudnya, bahwa pada setengah keadaan, kadang-kadang sampai kepada batas tadi pada sebahagian orang.
Jikalau engkau bertanya : "Apakah kata anda mengenai orang- orang shufi yang mengoyakkan kain-kain bam, sesudah tonangnya دجولا Al-Wajd dan selesai dari
mendengar? Mereka itu mengoyak-ngoyak- kan kainnya menjadi potongan kecil-kecil. Dan membagi-bagikan- nya kepada orang banyak. Dan mereka menamakan potongan-potongan kain itu al-khirqah (sobekan kain)". Ketahuilah, bahwa yang demikian itu mubah, apabila dipotong, potongan empat persegi, yang patut bagi pengepingan kain dan sajadah (kain tempat shalat). Sesungguhnya kain tebal dirobekkan, sehingga dapat dijahitkan kemeja. Dan yang demikian tidaklah menyia-nyiakan harta. Karena pengoyakan itu untuk suatu maksud. Demikian pula pengepingan kain, yang tidak mungkin, selain dengan potongan kecil-kecil. Dan itulah maksudnya. Dan pemba- gian kepada semua orang, supaya meratai kebajikan itu, adalah suatu maksud yang mubah.
688
Masing-masing pemilik memotong kainnya seratus potong. Dan memberikannya kepada seratus orang miskin. Akan tetapi seyogialah semua potongan itu mungkin dimanfa'atkan pada tiap-tiap sobekannya.
,
Sesungguhnya kami larang pada mendengar itu, akan pengoyakan yang merusakkan kain, yang menghancurkan sebahagiannya, di mana tidak tinggal yang dapat dimanfa'atkan. Maka itu penyia- nyiaan semata-mata, yang tidak diperbolehkan dengan pilihan sendiri (ikhtiar).
Adab Kelima : bersesuaian dengan orang banyak pada berdiri, apabila berdiri salah seorang dari mereka pada دجولا Al-Wajd yang benar. Tanpa ria dan memberatkan. Atau berdiri dengan pilihan sendiri, tanpa melahirkan دجولا Al-Wajd dan lalu berdiri untuk itu orang banyak. Maka tak boleh tidak daripada penyesuaian. Itulah sebahagian dari adab berteman!.
Begitu pula, jikalau berlaku adat-kebiasaan suatu golongan, dengan menanggalkan syurban, atas sepakat orang yang mempunyai al- wajd itu, apabila jatuh syurbannya. Atau menanggalkan pakaian apabila jatuh kainnya, disebabkan pengoyakan. Maka kesepakatan dalam segala hal ini, adalah sebahagian dari kebagusan berteman dan bergaul. Karena perselisihan itu meliarkan hati.. Dan masing-masing golongan mempunyai yang resmi. Dan haruslah bertingkah-laku dengan manusia, menurut tingkah-laku mereka, sebagaimana tersebut pada hadits. <d. Lebih-Iebih lagi apabha tingkah-laku itu. adalah tingkah-laku yang padanya bagus pergaulan, berbaik-baikan dan pembaikan hati dengan tolong- menolong.
Perkataan orang yang mengatakan, bahwa yang demikian itu bid'ah, tidak ada pada shahabat. Maka tidaklah semua yang dihu- kum (ditetapkcJi) dengan pembolehan