BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Tingkat Komunikasi Asertif Para Suster Medior CIJ
2. Program pelatihan asertivitas manakah yang tepat untuk meningkatkan komunikasi asertif para suster medior CIJ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang tingkat komunikasi asertif para suster medior CIJ tahun 2004 dan mengembangkan program pelatihan asertivitas bagi para suster medior CIJ.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yakni:
1. Dewan pimpinan kongregasi suster CIJ beserta semua suster yang diserahi tugas sebagai formator, khususnya para formator suster-suster medior, dapat memperoleh masukan yang berguna untuk mengembangkan program pembinaan demi meningkatkan komunikasi asertif para suster medior CIJ.
2. Peneliti dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bekal untuk tugas selanjutnya yang dipercayakan kongregasi.
3. Peneliti lain dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai sumber inspirasi atau bahan pembanding apabila ingin mengembangkan penelitian di sekitar topik yang sama.
E. Definisi Operasional
Berikut ini dijelaskan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini:
1. Deskripsi
Adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terinci (Depdikbud, 1989: 21). Dalam penelitian ini berarti pemaparan atau penggambaran mengenai komunikasi asertif suster-suster medior CIJ.
2. Tingkat Komunikasi Asertif
Adalah tinggi rendahnya kemampuan orang dalam mengungkapkan dirinya seperti pendapat, perasaan, kepercayaan, dan hak-hak pribadinya secara langsung, jujur, terbuka, tanpa menyerang dan melanggar hak-hak orang lain (Christina, 2001: 6).
3. Kongregasi
Adalah perkumpulan biarawan-biarawati atau rohaniwan-rohaniwati Katolik dari satu kesatuan khusus (Harjawiyata, 1997).
4. Congregatio Imitationis Jesu (CIJ)
Adalah suatu kongregasi suster-suster pribumi yang didirikan oleh YM. Mgr. Hendricus Leven,SVD pada tanggal 25 Maret 1935 di wilayah Ende-Flores-NTT dan saat ini berkarya di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial (Konstitusi CIJ: 1).
5. Suster Medior
Adalah suster-suster yang telah menyerahkan diri dalam profesi kekal melalui Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ) sampai akan merayakan pesta perak dalam kaul kebiaraannya (Konstitusi CIJ: 25). 6. Program pelatihan asertivitas
Adalah suatu rangkaian topik yang direncanakan menjadi bahan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara asertif.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini disajikan hasil kajian pustaka mengenai Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ), pengertian, unsur-unsur, manfaat, faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi asertif, dan komunikasi asertif dalam kehidupan di komunitas serta tinjauan penelitian lain yang relevan.
Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ) 1. Sejarah Kongregasi
Pada waktu Kepulauan Sunda Kecil terbelenggu oleh sistem penjajahan, sistem adat dengan feodalismenya yang kuat, dan rapuhnya sistem ekonomi dunia, karena berada di antara dua perang dunia yang mengancam, membuat masyarakat kepulauan ini menderita baik secara fisik maupun mental. Para wanita saat itu merupakan kelompok yang sangat terjajah dan menderita, bahkan diperlakukan secara tidak manusiawi. Jeritan rakyat kecil telah menarik belas kasih dan keprihatinan Allah dan Allah berkenan mengunjungi umatNya melalui para misionaris yang menaburkan benih-benih iman di Kepulauan Sunda Kecil.
Dalam perjalanan pastoralnya Mgr. Henricus Leven, SVD, yang dijiwai oleh belaskasih Ilahi merekam jeritan hati rakyat kecil tersebut teristimewa para wanita. Keprihatinan ini mendorong Mgr.Henricus Leven,SVD untuk mendirikan Kongregasi Suster-suster Pribumi agar mereka dapat melanjutkan
belaskasih Allah kepada yang kecil menurut teladan Yesus, tokoh utama belaskasih dan penyelamat umat manusia. Kelompok ini diberi nama “Congregatio Imitationis Jesu” (CIJ) dan diresmikan pendiriannya pada tanggal 25 Maret 1935 di daerah Jopu-Ende-Flores-NTT (Konstitusi CIJ, 1990: 1).
Seiring berjalannya waktu dan oleh berkat Allah sumber belas kasih, akhirnya kongregasi pun berkembang. Saat ini anggota kongregasi telah berjumlah kurang lebih 354 orang, tersebar di 42 komunitas perutusan yang ada di seluruh wilayah Indonesia (kecuali Sumatra). Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ) saat ini telah tercatat sebagai tarekat kepausan sehingga karya kongregasi pun telah menyebar sampai ke Roma dan Jepang.
2. Spiritualitas Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ)
Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ) memiliki spiritualitas. Dengan menghayati spiritualitas kongregasinya, para suster diharapkan mampu melaksanakan tugas perutusan kongregasi dengan berpedoman pada perutusan Yesus. Spiritualitas para suster CIJ adalah
Spiritualitas salib menjiwai persaudaraan dalam pelayanan sebagai kelompok Yesus yang saling menghargai nilai-nilai pribadi dan bersama-sama menggali dan memperjuangkan nilai-nilai yang ada di dunia demi mencapai kebebasan anak-anak Allah. Kodrat kita menuntut perkembangan diri kearah kesempurnaan sebagaimana Bapa Sumber segala cinta (Konstitusi, 1990: 3).
Dengan demikian mereka mengakui setiap pribadi sebagai nilai yang tinggi karena adanya kesetaraan sebagai anak-anak Allah yang memiliki
kebebasan yang sama dalam menikmati hidup dan menjalankan perutusan-Nya di tengah masyarakat.
3. Keanggotaan Religius dalam Biara
Keanggotaan para religius (romo, suster, bruder, dan frater) dalam biara dibedakan atas dua yakni keanggotaan sementara dan keanggotaan definitif. Religius yang dikatakan sebagai anggota sementara adalah religius yang masih berada dalam masa kaul sementara atau yang lebih dikenal dengan masa yuniorat. Sedangkan religius yang disebut sebagai anggota definitif adalah religius yang sudah mengikrarkan kaul seumur hidup, atau yang lazim disebut kaul kekal. Seorang religius baru diijinkan mengikrarkan kaul kekal kalau sudah sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh setiap tarekat.
Konstitusi Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ), menetapkan bahwa “profesi seumur hidup dapat diikrarkan setelah menjalani profesi sementara sekurang-kurangnya 5 tahun atau jika ada hal yang luar biasa, bisa diperpanjang hingga 9 tahun” (Konstitusi, 1990: 26).
Kedua keanggotaan religius tersebut diuraikan lebih lanjut pada bagian berikut. a. Masa Kaul Sementara atau Keanggotaan Sementara (Yuniorat)
Masa kaul sementara (yuniorat) merupakan suatu masa di mana seorang religius belum mengikatkan diri secara definitif pada tarekat atau kongregasi yang dimasukinya sehingga keanggotaannya masih bersifat sementara. Masa ini dapat berlangsung sekurang-kurangnya 5 tahun atau dapat diperpanjang sampai 9 tahun sesudah ia menyelesaikan masa novisiat. Dalam masa ini seorang religius masih berada dalam
suatu masa pembinaan formal dari pihak kongregasi dan diharapkan agar religius tersebut dapat berusaha sungguh-sungguh untuk membina diri sendiri agar semakin bertumbuh dan berkembang dalam hidup rohani serta hidup komunitas.
Mengenai keanggotaan sementara ini Prasetya (1992: 298) mengungkapkan bahwa masa yuniorat adalah kelanjutan dari eksperimen dan pendalaman semangat serta cara hidup tarekat sampai calon betul-betul mempunyai sikap mencintai tarekat secara mendalam sehingga pihak tarekat mempunyai cukup alasan untuk menerimanya secara definitif sebagai anggota tarekat dalam profesi kekal. Dari pihak anggota dituntut keaktifan dan kerelaan untuk membina diri agar semakin menjadi pribadi religius yang matang/dewasa serta tangguh sesuai dengan kharisma dan spiritualitas tarekat, serta dengan penuh dedikasi melaksanakan pengutusannya dalam tarekat tersebut.
Masa kaul sementara merupakan masa di mana seorang religius masuk dalam kehidupan komunitas perutusan kongregasi. Dalam komunitas tersebut seorang suster yunior tinggal dan hidup bersama dengan para religius yang sudah berkaul kekal. Di tempat perutusan ini, ia pun mulai diberi tugas dan tanggung jawab tetapi tidak terlalu banyak sehingga ia masih mempunyai waktu mengolah diri termasuk hidup rohaninya sehingga dapat bertumbuh dan berkembang dalam penghayatan panggilannya.
Di Kongregasi Suster-suster Pengikut Yesus (CIJ), pembinaan khusus bagi para suster yunior dipercayakan pada tim pembina yang telah dipilih dan diangkat oleh dewan pimpinan kongregasi. Begitu pula setiap komunitas di
mana ada suster yunior, pemimpin komunitasnya bertanggung jawab atas kehidupan rohani dan jasmani para suster tersebut. Pembinaan bagi para suster yunior telah dijadwalkan setiap 3 bulan sekali di setiap komunitas gabungan yang terdiri dari gabungan komunitas-komunitas yang terdekat dalam satu wilayah. Diharapkan agar melalui berbagai kesempatan pembinaan tersebut seorang suster yunior semakin mengenal dan mencintai kongregasi dan menghidupi serta menghayati spiritualitas dan kharisma kongregasi. Jika seorang suster yunior dalam proses pembinaan tersebut merasa tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dalam hidup bersama di komunitas perutusan atau merasa tidak mantap dengan panggilan hidup yang dipilihnya maka ia akan dibantu untuk dapat menemukan bahwa keputusan yang diambilnya untuk mengundurkan diri merupakan keputusan yang telah dipertimbangkan dengan mantap dan bukan karena terpaksa.
b. Masa Sesudah Kaul Kekal atau Keanggotaan Definitif (Mediorat). Masa sesudah kaul kekal adalah masa di mana seorang religius sudah mengikatkan diri secara definitif kepada kongregasi yang dimasukinya. Pada masa ini, ia tidak lagi berada dalam pembinaan formal kongregasi karena dianggap sudah cukup matang sebagai religius, namun ia masih tetap diharapkan agar dapat membina dan membaharui diri secara terus menerus sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan spiritualitas kongregasinya. Ia diharapkan terus menerus mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menghayati nilai-nilai hidup religius dan mewujudkan cita-cita tarekat,
mewujudkan pengabdiannya sebagai ungkapan iman bersama sesuai dengan kharisma tarekat, kemudian terus berusaha memberi bentuk kesaksian hidup bakti tarekat dalam Gereja dan masyarakat sesuai dengan tempat dan kemampuannya dalam tarekat (Prasetya, 1994: 301).
Religius yang sudah berkaul kekal dapat dikatakan sebagai generasi yang sudah tidak muda lagi, baik dari segi usia, maupun dari segi kehidupannya sebagai religius. Usia ini merupakan usia yang cukup matang dalam rangka mewujudkan keterlibatan dengan orang lain.
Pada usia ini religius sudah mapan dalam biara atau mantap dalam panggilan hidup. Dengan pertimbangan tersebut pihak tarekat sudah memberikan tanggung jawab besar kepadanya, bahkan sebagian di antaranya sudah terlibat dalam berbagai karya kongregasi secara penuh.
Seorang religius yang sudah berkaul kekal mempunyai komitmen secara definitif kepada kongregasi dan tugas-tugas kerasulannya. Ia sadar bahwa ia mempunyai tanggung jawab penuh atas hidup kerasulan kongregasi. Yang menjadi perhatian utamanya adalah tugas-tugas dan bagaimana melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.
4. Kaul-kaul Hidup Religius
Kaul adalah janji seorang religius kepada Allah yang dinyatakan dengan suatu niat yang tulus dan sungguh serta dengan kebulatan tekad dan kebebasan penuh untuk melakukan suatu perbuatan baik demi mengembangkan keutamaan religius (Kallix, 2003: 13). Dengan kaul (janji), seorang religius
mengadakan suatu ikatan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, untuk dipakai atau digunakan oleh Allah seturut kehendak-Nya.
Adapun kaul-kaul yang diikrarkan oleh para religius adalah kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Masing-masing kaul diuraikan pada bagian berikut ini:
a. Kaul Kemurnian
Kaul kemurnian merupakan tanda penyerahan diri total kepada Allah dengan hati yang tidak terbagi. Kitab Hukum Kanonik no. 599 mengatakan:
“Nasehat injili kemurnian yang diterima demi Kerajaan surga, yang dalam tanda dunia mendatang dan memberi kesuburan melimpah dalam hati tak terbagi, membawa serta kewajiban pantang sempurna dalam selibat”.
Dengan kaul kemurnian, seorang religius mempunyai kewajiban pantang mutlak dalam hidup wadat yaitu pantang menikah dan pantang aktivitas seksual demi Kerajaan Surga. Dengan kata lain perkawinan dengan segala nilai luhurnya direlakan demi kerajaan Allah.
Prasetya (1992: 188) mengatakan bahwa keperawanan (kemurnian) tidak dianugerahkan kepada setiap orang, sehingga termasuk anugerah khusus, yaitu suatu cara khas untuk mencintai Allah. Karena itu, menurutnya, hakikat hidup bakti adalah suatu cara khusus dalam mencintai Kristus, yaitu dengan hati yang tidak terbagi. Cinta dengan hati yang tidak terbagi atau yang terarah pada Yesus, menyertakan pribadi tersebut dalam keseluruhannya untuk mencintai semua orang tanpa membeda-bedakan.
b. Kaul Kemiskinan
Kaul kemiskinan merupakan tanda pembinaan sikap dan penyangkalan diri terhadap materi. Seorang religius dengan kaul kemiskinannya mau membebaskan diri dari hal-hal yang mengikat seperti hak akan materi, harta dan kekayaan. Mengenai kaul kemiskinan, Kitab Hukum Kanonik no. 600 mengatakan:
Nasehat injili kemiskinan untuk mengikuti Kristus yang demi kita menjadi miskin meskipun ia kaya, selain membawa-serta hidup miskin dalam kenyataan dan semangat, rajin bekerja dan hidup sederhana, juga ketergantungan dan keterbatasan dalam penggunaan dan penguasaan harta benda menurut norma hukum masing-masing tarekat.
Hal ini mengandung arti bahwa seorang religius mengikrarkan kaul kemiskinan karena ingin mengikuti teladan Kristus yang telah lebih dahulu menghidupinya. Mengenai hal ini Go (1986) mengatakan bahwa seorang religius harus hidup miskin dalam kenyataan dan semangat seperti telah dihidupi oleh Kristus sendiri. Motivasi terdalam dalam hal ini adalah mengikuti Kristus secara lebih menyerupai. Seorang yang berkaul kemiskinan harus rajin bekerja, dan hidup sederhana. Ia juga harus mempunyai ketergantungan dan keterbatasan dalam penggunaan harta benda. Pendapat yang sama dikatakan juga oleh Prasetya (1992: 188) yang mengatakan bahwa “kriteria penghayatan kemiskinan kita adalah penghayatan Kristus sendiri, yaitu miskin dalam kenyataan dan dalam semangat, hidup kerja keras sebagaimana orang kecil, tergantung dan terbatas dalam penggunaan barang-barang”.
c. Kaul Ketaatan
Prasetya (1992: 189) mengatakan bahwa kaul ketaatan merupakan tanda pembinaan sikap terhadap kehendaknya sendiri dan siap menyerahkan atau merelakan diri dengan segala kemampuan yang dimilikinya, kepada kehendak Tuhan.
Mengenai kaul ketaatan, Kitab Hukum Kanonik no. 601 mengatakan: Nasehat injili ketaatan, yang diterima dengan semangat iman dan cinta dalam mengikuti Kristus yang taat sampai wafat, mewajibkan untuk menundukkan kehendak kepada para pemimpin sah, wakil- wakil Allah, bila mereka memerintah menurut konstitusi masing- masing.
Hal ini mengandung arti bahwa religius yang mengikrarkan kaul ketaatan mau mengikuti Kristus yang taat kepada Bapa-Nya. Ketaatan ini diwujudkan dengan mentaati pemimpin yang sah sesuai dengan konstitusi masing-masing kongregasi.
5. Hidup Berkomunitas Para Religius
Hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan salah satu ciri pokok hidup religius karena penghayatan hidup religius sehari-hari terlaksana dalam suatu komunitas.
Hal ini ditekankan pula oleh Konsili Vatican II dalam Perfetctae Caritatis
no. 243, yakni setiap anggota komunitas diharapkan mengalami kedekatan, persaudaraan, dan saling memberi perhatian sekaligus memberi kekuatan satu sama lain. Komunitas religius adalah suatu kelompok yang dipanggil untuk hidup dan berbagi Injil dan nilainya. Anggotanya percaya bahwa mereka dipanggil dengan panggilan yang sama, yaitu untuk saling mendukung,
memelihara, dan memperhatikan dalam menghidupi Injil lebih dalam. Komunitas ini berasal dari komunitas kristiani yang di dalamnya tercipta persaudaraan, yang ditandai dengan “sharing”, yaitu berbagi bersama dalam segala aspek kehidupan, termasuk ide, pengalaman, emosi, visi, pendapat, sikap, mimpi dan iman.
Hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan panggilan yang dengannya setiap orang disucikan. Di dalamnya terjadi perjumpaan pribadi-pribadi yang disatukan dalam keluarga sejati menuju kesatuan dengan Allah (Romana: 2003).
Konstitusi Kongregasi Suster CIJ bagian pertama no: 9, mengatakan bahwa persekutuan suster CIJ dibangun atas dasar spiritualitas, yaitu kesetaraan. Artinya, di dalamnya semua anggota sederajat, terikat satu sama lain, saling mendukung, dan menghargai nilai-nilai pribadi. Hal itu semua semestinya diungkapkan dengan cara berkomunikasi yang baik dan asertif dalam komunitas; mampu mengenali dan mengungkapkan perasaan secara tepat dan penuh ketulusan hati, serta mampu membahasakan pikiran dan perasaan secara jelas. Setiap anggota kongregasi diharapkan juga mampu mendengarkan dengan penuh perhatian, memperhatikan orang lain dengan tulus, dan mampu menyelesaikan konflik dengan efektif.
Nouwen and Vanier (1998: 25) mengatakan bahwa komunitas adalah tempat orang memberi perhatian kepada orang lain. Dalam komunitas, orang dipanggil untuk mencintai orang lain sebagaimana adanya, dengan luka-luka, kekurangan dan kelebihannya, bukan sebagaimana yang kita kehendaki.
Dalam komunitas, anggota-anggota saling memberi dan menerima, saling membantu untuk bertumbuh dan berkembang, saling memberi kebebasan, kepercayaan dan peneguhan, serta saling menghormati dan menghargai dengan cara saling mendengarkan dalam semangat saling percaya, sehingga dapat hidup, berkembang dan menjadi berkat bagi orang yang dilayani.
B. Arti Komunikasi Asertif
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi menjadi sangat penting karena komunikasi merupakan sarana antar manusia untuk menjalin relasi. Kebutuhan manusia untuk berelasi dengan orang lain dapat dipuaskan dengan cara berkomunikasi. Menurut Johnson (Supratiknya, 1995: 30) komunikasi dalam arti luas adalah “setiap bentuk tingkah laku seseorang baik verbal maupun non verbal yang ditanggapi oleh orang lain”. Sedangkan komunikasi dalam arti sempit diartikan oleh Johnson (Supratiknya, 1995: 30 ) sebagai “pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima”. Pesan tersebut berupa lambang-lambang yang memiliki makna tertentu. Lambang-lambang tersebut bisa berupa kata atau sederetan kata, dan bersifat non-verbal bila berupa suatu ekspresi tertentu dan gerakan tubuh (Supratiknya, 1995).
Dalam menanggapi orang lain, khususnya bila orang yang menanggapi itu sedang bermasalah (mengalami perasaan negatif) maka ada tiga kemungkinan respons atau pola komunikasi yang dapat dilakukan, yaitu komunikasi yang pasif (non-asertif), komunikasi yang agresif, dan komunikasi yang asertif.
Masing-masing komunikasi tersebut akan diperjelas pada bagian berikut ini: 1. Komunikasi Pasif (non-asertif)
Komunikasi pasif (non-asertif) adalah komunikasi yang tidak menyatakan perasaan, pikiran, kebutuhan, keinginan dan pendapat diri sendiri kepada orang lain, dan kurang bertindak dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri. Orang pasif (non-asertif) menyangkal diri dengan tidak menunjukkan perasaannya kepada orang lain. Dia lebih suka memendam perasaannya untuk menghindari konflik. Bahkan apabila konflik terjadi, dia akan berdiam diri. Dia menanti orang lain menghampiri untuk menawarkan bantuan dan membiarkan orang lain memilih bagi dirinya. Dia lebih bereaksi daripada melakukan aksi, menggunakan lebih banyak waktu untuk menanggapi apa yang dikatakan dan dilakukan orang daripada mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dan bertindak atas kemauan sendiri. Orang pasif bahkan tidak berani mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhannya. Dia lebih sering menangguhkan kebutuhannya daripada kebutuhan orang lain. Karena itu, orang lain sering mengambil keuntungan dari dirinya seperti dengan membuat keputusan, meremehkan masukan-masukannya atau memberinya lebih banyak pekerjaan. Dalam keadaan demikian, dia sering merasa disakiti dan merasa cemas, benci dan frustrasi. Dia cepat menyerah, putus asa, dan mengalah pada pendapat orang lain, dan dengan demikian tujuannya jarang tercapai. Akibatnya dia cenderung kalah dan tidak bahagia (Stein dan Book, 2002: 95 – 96, Alberti dan Emmons, 2002: 43-46, Adams dan Lenz 1995: 25-27).
2. Komunikasi Agresif
Komunikasi agresif merupakan kebalikan dari komunikasi pasif (non-asertif). Komunikasi agresif berarti komunikasi yang memenuhi keperluan sendiri tetapi dengan mengorbankan orang lain; bersikap tidak peka atau berlawanan sama sekali dengan perasaan, ide, dan kebutuhan orang lain. Orang agresif terbuka menyatakan perasaan, pendapat, dan kebutuhannya tetapi dengan cara menghina, mengabaikan, atau menyakiti orang lain. Dia tidak menghormati pandangan orang lain dan juga tidak peduli pada kebutuhan dan perasaan orang lain. Dia memaksakan pendapat atau keinginannya supaya diterima, misalnya dengan cara mencemooh dan mengancam.
Orang agresif tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Orang agresif mencapai tujuannya dengan menyakiti dan mengorbankan orang lain. Kadang-kadang agresivitas orang yang agresif tidak nampak mencolok atau kelihatan tetapi sangat biasa karena secara diam-diam orang yang agresif memenuhi kebutuhan sendiri dengan memanipulasi orang lain, membohongi, dan menyabot usaha orang lain untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Komunikasi seperti ini disebut komunikasi pasif-agresif (Stein dan Book, 2002: 96-97; Alberti dan Emmons, 2002: 43-46; Adams dan Lenz, 1995: 27-28).
3. Komunikasi Asertif
Komunikasi asertif berarti suatu komunikasi yang mempromosikan kesetaraan dalam hubungan dengan orang lain, yang memungkinkan
kita untuk bertindak menurut kepentingan kita sendiri, untuk membela diri sendiri tanpa kecemasan yang tidak semestinya, untuk mengekspresikan perasaan dengan jujur dan nyaman, dan untuk menerapkan hak-hak pribadi kita tanpa menyangkal hak-hak orang lain (Alberti dan Emmons, 2002: 6).
Orang asertif memiliki keterbukaan terhadap diri sendiri secara jujur dan mampu pula bergaul dengan jujur dan dapat langsung menyatakan perasaan, kebutuhan, ide-ide, dan mempertahankan haknya tetapi dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak melanggar hak dan kebutuhan orang lain. Dia bersikap otentik, apa adanya, terbuka dan langsung. Dia mampu bertindak demi kepentingan sendiri dan mampu mengambil inisiatip demi memenuhi kebutuhannya. Ia meminta informasi dan bantuan dari orang lain bilamana dia membutuhkannya. Bilamana berkonflik dengan orang lain, dia bersedia mencari penyelesaian yang memuaskan kedua belah pihak. Karena orang asertif sering memerlukan dan menginginkan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya maka ia pun bersedia bekerja sama dan membantu ketika orang lain berusaha memenuhi kebutuhannya (Stein dan Book, 2002: 99-100; Alberti dan Emmons, 2002: 43-46; Adams dan Lenz, 1995: 28-29).
Komunikasi asertif menunjukkan suatu tanggung jawab di samping mempertahankan hak, bersifat aktif, langsung, jujur, dan mengkomunikasikan respek terhadap diri sendiri dan orang lain atau
menciptakan situasi sama-sama menang. Jadi asertif tidak bersifat permisif ataupun agresif (Lloyd, 1991: 5; Covey, 1993: 203). Orang yang asertif akan mampu mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Orang yang asertif jujur mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhannya tanpa maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan, merugikan atau mengancam integritas pihak lain. Orang yang mampu berkomunikasi secara asertif, merasa bebas menentukan sikap dan mengungkapkan diri. Artinya ia dapat mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya tanpa mengabaikan