• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Konsep Diri Siswa SMAS Islam Diponegoro

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Tingkat Konsep Diri Siswa SMAS Islam Diponegoro

Berdasarkan hasil uji analisis data yang telah dilakukan mengenai konsep diri, dapat diketahui bahwasanya siswa SMAS Islam Diponegoro dengan presentase 64,9% berada pada kategori sedang, jumlahnya mencapai 39 orang dari 60 siswa yang menjadi sampel. Kemudian 10 siswa berada pada kategori tinggi dengan presentase 16,6%, dan sisanya sebanyak 11 siswa berada pada kategori rendah dengan presentase 18,3%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat konsep diri siswa sebagian berada pada kategori sedang yang berarti sebagian besar siswa tidak terlalu memiliki pemahaman dan penilaian yang positif terhadap dirinya sendiri. Meski beberapa siswa telah mampu memahami dan menilai dirinya secara positif, tetapi konsep diri memang disebabkan oleh beberapa faktor. Menjadi faktor dari konsep diri ialah orang lain dan kelompok rujukan, adapun kelompok rujukan ialah kelompok yang mengikat anggotanya secara emosional dan dapat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri seseorang (Rakhmat, 2002).

Adapun Siswa SMAS Islam Diponegoro Gondang Mojokerto yang memiliki konsep diri yang tinggi dapat nyatakan memilki kriteria konsep diri positif yang baik dari dalam dirinya. Sesuai dengan ungkapan

Hamachek (1978) ada sebelas karakteristik orang memiliki konsep diri positif. Pertama, meyakini serta mampu mempertahankan dengan sungguh-sungguh nilai dan prinsip tertentu, walaupun harus menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Kedua, dapat bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah berlebihan. Ketiga, tidak menyia-nyiakan waktu untuk mencemaskan segala hal yang akan terjadi dan apa yang sedang terjadi sekarang. Keempat, memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasi masalah, bahkan ketika harus dihadapkan pada kegagalan. Kelima, merasa tidak ada yang membedakan antara dirinya dan orang lain, semua manusia itu sama. Keenam, sanggup meyakini bahwa dirinya adalah orang yang penting dan dinilai baik oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Ketujuh, bisa menerima pujian dari orang lain tanpa berpura-pura rendah hati di depannya. Kedelapan, memilih untuk menolak dan tidak terpedaya dengan orang lain yang ingin mendominasi dirinya atau akan mendektenya. Kesembilan, tanpa ragu sanggup mengaku kepada orang lain tentang perasaannya. Kesepuluh, mampu menikmati keadaan dirinya dalam berbagai kegiatan yang dilakukannya. Kesebelas, kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dalam kehidupan sosial.

Siswa SMAS Islam Diponegoro belum mampu sepenuhnya dalam membentuk konsep diri yang positif, yang artinya siswa SMAS Islam Diponegoro masih memilki konsep diri negatif. Menurut Brooks dan Philip Emmert (1977), ada lima ciri orang yang memiliki konsep diri

negatif. Pertama adalah peka pada kritik, orang seperti ini cenderung mudah marah dan naik pitam akibat tidak tahan dengan kritik yang diterimanya. Kedua adalah orang yang respon sekali terhadap pujian, mereka cenderung bersikap menghindari pujian, tapi sebenarnya mereka justru antusias saat menerima pujian meski harus menyembunyikannya. Ketiga adalah sikap hiperkritis, ditunjukkan dengan selalu mengeluh, mencela, bahkan meremehkan apapun dan siapapun. Keempat, orang yang konsep dirinya negatif cenderung merasa bahwa dirinya tidak disukai oleh orang lain. Kelima adalah orang yang cenderung bersikap pesimis terhadap kompetisi, enggan untuk bersaing dengan orang lain dalam mengukir prestasi.

2. Konsep Diri Siswa yang Tinggal Di pesantren dan Siswa yang Tinggal Di rumah

a. Di Pesantren

Konsep diri merupakan pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut apa yang diketahui dan rasakan tentang perilakunya, pikiran dan perasaanya, serta bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain terutama untuk dirinya sendiri.

Hasil analisis perhitungan menunjukkan bahwa konsep diri dimiliki siswa yang tinggal di pesantren berada pada kategori sedang yaitu sebanyak 20 siswa dengan prosentase 66,6% dan yang berada pada kategori tinggi sebanyak 5 siswa dengan prosentase 16,6%

sedangkan siswa yang berada pada kategori rendah sebanyak 5 siswa dengan jumlah prrosentase sebesar 16,6%. Keseluruhan responden siswa yang tinggal di pesantren berjumlah 30 siswa.

Dari hasil penelitian menujukkan bahwa siswa yang tinggal di pesantren secara keseluruhan memilki tingkat konsep diri yang sedang. Hal ini dimungkinkan bahwa konsep diri siswa dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan bagaimana individu memandang dirinya. Jika menggunakan teori yang mengacu pada konsep diri positif dan negatif, individu yang mempunyai skor lebih tinggi dimasukkan dalam kategori mempunyai konsep diri yang positif, sedangkan individu yang memilki skor rendah cenderung memilki konsep diri yang negatif.

Konsep diri yang yang dimiliki oleh remaja akan mempengaruhi perilaku dalam berhubungan sosial maupun dengan orang lain. Dapat diindikasikan individu yang memiliki konsep diri dengan positif akan lebih mudah menempatkan diri dimanapun dia berada dan mudah untuk beradaptasi, tanpa adanya suatu tuntutan, seorang individu akan dapat mengambil tindakan dengan tepat. Sebaliknya, jika individu memiliki konsep diri yang negatif dapat dipastikan membawa pengaruh yang kurang baik. Data analisa menunjukkan bahwa rata-rata siswa yang tinggal di pesantren memiliki konsep diri yang sedang. Sebanyak 20 siswa yang memiliki konsep diri sedang. Siswa dengan konsep diri yang sedang memiliki

konsep diri yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak pada posisi konsep diri yang rendah. Hal ini, konsep diri yang dimiliki oleh siswa bisa untuk lebih ditingkatkan guna menambah jumlah siswa yang memiliki konsep diri tinggi. Bagi siswa yang memiliki konsep diri yang tinggi dimungkinkan mendapatkan dukungan yang cukup banyak. teman, saudara atau lingkungan sekitarnya.

Penelitian Kania, dkk (2015) mengatakan remaja berusaha untuk menemukan konsep diri dalam lingkungan teman sebayanya. Teman sebaya memberikan lingkungan yakni tempat dimana individu melakukan sosialisasi dan nilai yang berlaku sesuai standart nilai oleh teman sebayanya. Kehidupan remaja, teman memang memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi tingkah laku dan pembentukan kepribadian remaja. Ketika anak-anak memasuki masa remaja, konsep diri mereka mengalami perkembangan yang kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri mereka.

Hasil analisa data yang menunjukkan bahwa siswa memiliki konsep diri yang sedang mengindikasikan bahwa konsep diri yang dimiliki siswa dalam jumlah yang cukup atau belum optimal.

b. Di rumah

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, diketahui bahwa siswa yang tinggal di rumah mempunyai tingkat konsep diri tinggi sebesar 16.6% dengan jumlah siswa sebanyak 5 orang, sedangkan tingkat konsep diri siswa pada kategori sedang sebesar

63,3% dengan jumlah siswa sebanyak 19 siswa, dan tingkat konsep diri rendah sebesar 19,9% dengan jumlah siswa sebanyak 6 siswa. Pemaparan analisa data dapat diketahui bahwa rata-rata konsep diri siswa yang tinggal di rumah berada pada kategori sedang. Hal yang menarik dari konsep diri siswa yang tinggal di rumah adalah jumlah kategori konsep diri yang rendah yaitu 6 siswa, dimana sedikit lebih banyak dari siswa yang tinggal di pesantren.

Konsep diri yang terbangun dalam diri anak berperan penting dalam kehidupan sehari-hari seperti di sekolah, di rumah, dan juga di lingkungan sekitar. Apabila seorang siswa atau individu tersebut memandang dirinya sebagai diri yang negatif, maka dapat menghambat tugas-tugas akademik yang harus diselesaikan. Bagi siswa yang memiliki konsep diri kurang atau masih memiliki konsep diri yang negatif dimungkinkan dalam hal dukungan dari orang-orang sekitar masih kurang. Diperlukan perhatian khusus bagi anak yang memiliki konsep diri yang rendah. Penanganan yang tepat orang tua diharapkan mampu meningkatkan konsep diri siswa.

Penelitian Munawaroh (2012) tentang konsep diri, intensitas komunikasi orang tua-anak, dan kecenderungan perilaku seks pra nikah menunjukkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan komunikasi orang tua-anak. Jika intensitas komunikasi orang-tua dengan anak berlangsung baik, maka akan dapat memberikan konsep diri yang baik bagi anak. Apalagi masa

remaja merupakan masa-masa pencarian identitas diri yang membutuhkan arahan dan dukungan dari orang-orang disekitarnya, terutama dari orang tua. Selain adanya intensitas hubungan komunikasi antara orang tua dengan anak, pola asuh orang tua juga turut andil dalam pembentukan konsep diri anak.

3. Perbedaan Konsep Diri Siswa yang Tinggal Di pesantren dan

Dokumen terkait