4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Tingkat Konsumsi Oksigen Ikan Mas (C. carpio L.)
4.2 Tingkat Konsumsi Oksigen Ikan Mas (C. carpio L.)
Respirasi menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dan peningkatan karbon dioksida pada media transportasi. Peningkatan konsentrasi karbon dioksida menyebabkan pH air menurun. Meningkatnya respirasi juga dapat meningkatkan eksresi ammonia (Dobsikova et al. 2006). Tabel tingkat konsumsi ikan mas disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Tingkat konsumsi oksigen ikan mas selama simulasi Suhu (oC) Tingkat Konsumsi Oksigen (mgO2/kg/jam)
30` 60` 90` 120`
Dingin (25-15 ± 0,25) 21,89 ± 1,42 0,89 ± 0,23 0,56 ± 0,06 0,21 ± 0,04 Ruang (27 ± 0,24) 23,31 ± 0,59 0,47 ± 0,11 0,14 ± 0,02 0,24 ± 0,17 Hangat (29-35 ± 0,21) 23,40 ± 0,42 0,35 ± 0,23 0,46 ± 0,03 -
Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai rata-rata tingkat konsumsi oksigen terbesar terdapat pada perlakuan suhu hangat menit ke-30 yaitu sebesar 23,40 ± 0,42 mgO2/kg/jam. Nilai tingkat konsumsi oksigen terkecil terdapat pada perlakuan suhu ruang menit ke-90 yaitu sebesar 0,14 ± 0,02 mgO2/kg/jam.
Matinya seluruh ikan pada perlakuan suhu hangat menit ke-120 menyebabkan nilai konsumsi oksigen tidak ada. Kematian ini diakibatkan oleh meningkatnya metabolisme tubuh ikan pada suhu hangat yang menyebabkan ikan bergerak lebih agresif dibandingan dengan perlakuan suhu dingin dan suhu ruang, sehingga kandunngan oksigen terlarut pun lebih cepat menipis dan ikan pun mati lemas (hipoksia). Adanya perbedaan suhu lingkungan akan menyebabkan tingkat aktivitas yang berbeda. Zooneveld et al. (1991) menyatakan bahwa perbedaan
aktivitas tersebut menyebabkan perbedaan dalam kebutuhan energi dan akibatnya terdapat perbedaan dalam konsumsi oksigen. Davis & Parker (1990) melaporkan bahwa semakin tinggi suhu maka metabolisme tubuh ikan akan semakin meningkat. Sulmartini et al. (2009) menyatakan pula bahwa peningkatan metabolisme dapat menyebabkan hipoksia pada ikan. Laju pengambilan oksigen ikan akan menurun jika kandungan oksigen dalam air berkurang. Proses fisiologis dalam ikan seperti tingkat respirasi, makan, metabolisme, pertumbuhan, perilaku, reproduksi, tingkat detoksifikasi, dan bioakumulasi dipengaruhi oleh suhu (Fadhil et al. 2011).
4.3 Pengaruh Suhu Lingkungan terhadap Kualitas Air dan Tingkah Laku Ikan Mas (C. carpio L.)
Diagram batang uji kualitas air untuk nilai DO disajikan pada Gambar 7.
Hasil uji Kruskal Wallis (Lampiran 6) menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 % pemberian suhu berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kelarutan oksigen (DO) pada media. Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 8) menunjukkan bahwa pada menit ke-30, nilai DO suhu ruang berbeda nyata dengan nilai DO suhu hangat dan dingin.
Gambar 7 Diagram batang nilai rata-rata parameter DO ( suhu dingin ;
Di menit ke-90, nilai DO suhu dingin berbeda nyata dengan nilai DO suhu ruang dan hangat. Nilai DO ketiga suhu saling berbeda nyata satu sama lain pada menit ke-60 dan ke-120. Gambar 7 menunjukkan bahwa nilai DO berada pada kisaran 0,14 ± 0,02 mg/L hingga 4,19 ± 0,09 mg/L. Nilai DO awal air sudah memenuhi Nilai Baku Air (NBA) untuk perikanan, namun setelah menit ke-30 nilai DO menurun drastis. Nilai DO yang merosot ini diakibatkan oleh tingginya nilai kulaitas air awal. Menurunnya nilai DO juga diakibatkan oleh tidak adanya aerasi. Nilai DO tertinggi pada menit ke-30 hingga menit ke-120 diperoleh pada perlakuan suhu dingin yaitu sebesar 0,48 ± 0,04 mg/L. Lesmana (2002) menyatakan bahwa pengaruh suhu rendah terhadap ikan adalah rendahnya kemampuan mengambil oksigen (hypoxia). Rendahnya kemampuan pengambilan oksigen ini menyebakan nilai kelarutan oksigen lebih lambat menurun pada perlakuan suhu dingin. Diagram batang uji kualitas air untuk CO2 disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Diagram batang nilai rata-rata parameter CO2 ( suhu dingin ; suhu ruang ; suhu hangat) ; huruf berbeda menunjukkan hasil
perlakuan yang berbeda nyata (p<0,05).
Hasil uji Kruskal Wallis (Lampiran 6) menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 % pemberian suhu berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan CO2 pada media. Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 8) menunjukkan bahwa pada menit ke-0, nilai CO2 suhu hangat berbeda nyata dengan nilai CO2 suhu dingin dan ruang, sedangkan di menit ke-30 hingga 120,
0,00
nilai CO2 suhu ruang berbeda nyata dengan CO2 suhu dingin dan suhu hangat.
Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai rata-rata CO2 pada suhu ruanglebih tinggi dibandingkan dengan suhu dingin dan suhu ruang. Metabolisme tubuh ikan menurun pada suhu dingin sehingga tingkat konsumsi oksigen kecil dan nilai CO2
yang dihasilkan pun juga menjadi kecil, sedangkan pada suhu hangat kelarutan gas lebih kecil dibandingan pada suhu dingin dan suhu ruang sehingga nilai CO2
pun lebih kecil. Ghosal & Freeman (1994) menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka kelarutan gas pada perairan akan semakin menurun. Nilai CO2 pada Gambar 8 menunjukkan bahwa nilainya masih tergolong rendah yaitu berkisar antara 0,14 ± 0,00 hingga 1,56 ± 0,44. Nilai CO2 yang tinggi tidak akan menjadi masalah selama nilai oksigen tinggi. Hasil studi Tahe (2008) menunjukkan bahwa nilai CO2 yang tinggi (36,45-70,45 mg/L) masih dapat ditoleransi oleh ikan asalkan kadar oksigen tinggi (3,9-4,3 mg/L). Diagram batang uji kualitas air untuk TAN disajikan pada Gambar 9. kepercayaan 95 % pemberian suhu berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan TAN pada media. Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 8) menunjukkan pada menit ke-0, 90, dan 120 nilai TAN ketiga suhu
0,00
saling berbeda nyata satu sama lain. Di menit ke-30, nilai TAN suhu hangat berbeda nyata dengan nilai TAN suhu ruang dan dingin, sedangkan di menit ke-60, nilai TAN suhu ruang berbeda nyata dengan nilai TAN suhu dingin dan hangat. Gambar 9 menunjukkan bahwa kisaran nilai TAN berada pada 0,06 ± 0,01 hingga 0,91 ± 0,01 mg/L.
Nilai TAN awal air untuk ketiga suhu sudah cukup memenuhi Baku Mutu Air (BMA) untuk perikanan, namun setelah menit ke-30 nilai TAN melonjak naik. Sofarini (2009) melaporkan bahwa nilai Baku Mutu Air (BMA) untuk amonia adalah kurang dari 0,1 mg/L. Nilai TAN tertinggi saat simulasi pada menit ke-60 didapat pada perlakuan dengan suhu ruang yaitu sebesar 0,91 ± 0,01 mg/L (Gambar 9). Boyd (1990) menyatakan bahwa laju proses biokimia sesuai dengan hukum van hoff akan meningkat dua kalinya setiap peningkatan suhu 10 oC.
Meningkatnya reaksi di dalam cairan media dan cairan tubuh ikan menyebabkan adanya peningkatan reaksi kimia di dalam air dimana NH3 bereaksi dengan H2O menghasilkan NH4+sehingga pH perairan menjadi naik. Pada tingkat toksik, NH3
dapat menyebabkan peningkatan pH pada darah, gangguan osmoregulasi, dan kesulitan bernafas (Hargreaves dan Tucker 2004). Diagram batang uji kualitas air untuk pH disajikan pada Gambar 10.
Gambar 10 Diagram batang nilai rata-rata parameter pH ( suhu dingin ;
Hasil uji Kruskal Wallis (Lampiran 6) menunjukkan bahwa pada tingkat kepercayaan 95 % pemberian suhu berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap derajat keasaman (pH) pada media. Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 8) menunjukkan bahwa pada menit ke-30 dan 60, nilai pH suhu hangat berbeda nyata dengan nilai pH suhu ruang dan dingin, sedangkan di menit ke-90 dan ke-120, nilai pH ketiga suhu tidak berbeda nyata. Gambar 10 menunjukkan bahwa kisaran pH berada pada kisaran 5,75 ± 0,22 hingga 6,93 ± 0,01. Pada awalnya nilai pH awal air untuk ketiga suhu sudah memenuhi Baku Mutu Air (BMA) untuk perikanan, namun pada menit ke-30 dan menit ke-60 nilai pH pada suhu hangat masing-masing menurun menjadi 5,96 ± 0,04 dan 5,75 ± 0,22.
Sofarini (2009) melaporkan bahwa nilai baku mutu pH air untuk ikan dapat hidup dengan baik adalah berkisar antara 6 hingga 9. Penurunan pH pada suhu hangat diakibatkan oleh meningkatnya metabolisme tubuh ikan pada suhu hangat sehingga tingkat konsumsi oksigen meningkat. Proses konsumsi oksigen ini kemudian akan menghasilkan CO2. William & Robert (1992) melaporkan bahwa konsentrasi CO2 dapat menjadi tinggi sebagai hasil dari respirasi.
Karbondioksidabebas yang dilepaskan selama respirasi akan berekasi dengan air sehingga menghasilkan asam karbonat (H2CO3) yang dapat menurunkan pH air.
Akibat penurunan pH tersebut menyebabkan 12,5 % ikan mati di menit ke-30 dan 37,5 % mati di menit ke-60 pada suhu hangat. Zooneveled et al. (1991) menyatakan bahwa ketika insang berada pada pH rendah, peningkatan lendir akan terlihat pada permukaan insang dan meyebabkan penurunan difusi oksigen pada lamela insang. Rata-rata nilai pH tertinggi dihasilkan oleh perlakuan suhu dingin.
Metabolisme tubuh ikan cenderung lebih kecil pada suhu rendah dibandingkan dengan pada suhu tinggi sehingga buangan hasil metabolisme seperti CO2 lebih sedikit akibatnya pH relatif stabil. Davis & Parker (1990) melaporkan bahwa semakin tinggi suhu maka metabolisme tubuh ikan akan semakin meningkat.
Pengamatan tingkah laku fisik ikan mas dalam berbagai suhu disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Pengamatan fisik tingkah laku ikan pada suhu dingin, ruang, dan hangat
Lincah* : Lincah stres
Pengujian perlakuan suhu hangat menunjukkan bahwa pada awalnya ikan bergerak lincah normal, namun ketika suhu air mulai naik perlahan-lahan dan ikan pun mulai stres dan melambat pada menit ke-60. SR ikan berkurang menjadi 75 % pada menit ke-30. Pada menit ke-90 dan ke-120 ikan berada pada fase pasca stres ditandai dengan terjadinya disorentasi pada ikan, bahkan diantaranya mati sehingga SR menjadi 50 % pada menit 90 dan 0 % pada menit 120. Ikan mas yang diberi perlakuan suhu dingin secara umum memberikan perlakuan yang lebih baik daripada perlakuan suhu ruang dan hangat. Ikan dengan perlakuan suhu dingin terlihat lebih tenang dan menghasilkan sisa metabolit lebih sedikit. Ikan dengan
Suhu Gerak
Lambat Lambat Lambat Normal Banyak Banyak
Hangat
perlakuan suhu dingin juga menghasilkan SR 100 % atau tidak ada ikan yang mengalami kematian pada saat simulasi.
Pada suhu yang turun mendadak akan terjadi degenerasi sel darah merah sehingga proses respirasi terganggu. Pemberian suhu rendah juga dapat menyebabkan ikan tidak aktif, bergerombol seperti tidak mau berenang dan makan sehingga imunitasnya terhadap penyakit berkurang. Perubahan suhu yang melebihi 3-4 oC dalam waktu yang relatif singkat dan mengakibatkan kejutan suhu dan kematian ikan (Boyd 1990). Pada suhu dingin ikan terlihat lincah stres pada menit awal, namun pada menit berikutnya ikan terlihat tenang. Karnila & Edison (2001) menyatakan bahwa untuk pembiusan bertahap sampai suhu 15 oC selama 15 menit kondisi ikan sudah melewati fase panik dan tidak meronta saat dilakukan pengemasan, sehingga proses pengemasan sanga mudah dilakukan.