• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Konsumsi Zat Gizi Pasien Rawat Inap Penyakit Kardiovaskular RSUP H. Adam Malik Medan

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

5.1 Tingkat Konsumsi Zat Gizi Pasien Rawat Inap Penyakit Kardiovaskular RSUP H. Adam Malik Medan

Konsumsi makanan merupakan jumlah makanan yang dikonsumsi dengan tujuan untuk memperoleh zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Instalasi gizi rumah sakit menyediakan makanan untuk dikonsumsi oleh pasien rawat inap sebagai salah satu upaya penunjang penyembuhan pasien melalui terapi gizi. Penyediaan makanan didasarkan pada jenis diet dengan merujuk kondisi kesehatan pasien. Makanan yang disajikan harus memenuhi kebutuhan gizi pasien kerena makanan dapat berfungsi sebagai salah satu bentuk terapi, penunjang pengobatan dan tindakan medis.

Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan konsumsi energi pasien berkisar 1335 kal hingga 2103 kalori dengan rata-rata sebesar 1762 kal pada pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan biasa dan 1301 kal hingga 1655 kalori dengan rata-rata sebesar 1487 kal pada pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan lunak. Energi harus dikonsumsi dalam jumlah yang cukup agar sintesis protein dapat berlangsung dan penggunaan asam amino untuk memenuhi kebutuhan energi dapat dicegah. Pada pasien kardiovaskular, konsumsi energi dalam jumlah yang cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal.

Selain energi yang cukup, pasien penyakit kardiovaskular harus mengonsumsi protein dalam jumlah yang cukup. Konsumsi protein pasien berkisar antara 32,2 gr hingga 87,7 gr dengan rata-rata konsumsi sebesar 63,7 gr pada pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan biasa dan 39,7 gr hingga 69,8 gr dengan rata-rata konsumsi sebesar 55,4 gr pada pasien yang mendapatkan diet konsistensi

makanan lunak. Konsumsi protein yang cukup diperlukan untuk memperbaiki kondisi malnutrisi atau mempertahankan status gizi pasien. Konsumsi protein pasien penyakit kardiovaskular yang dianjurkan sebesar 0,8 gr/kg berat badan atau sebesar 15% dari total kebutuhan energi.

Konsumsi protein cukup dan konsumsi lemak dalam jumlah yang sedang baik untuk pasien penyakit kardiovaskular. Konsumsi lemak pasien berkisar antara 35,2 gr hingga 57,4 gr dengan rata-rata sebesar 49,9 gr pada pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan biasa dan 39,6 gr hingga 57,2 gr dengan rata-rata konsumsi sebesar 50,9 gr pada pasien yang mendapatkan diet dengan konsistensi makanan lunak. Konsumsi lemak yang dianjurkan pada pasien penyakit kardiovaskular adalah kurang dari 30% kebutuhan energi total, yang berasal dari konsumsi lemak tak jenuh sebesar 10-15% dan lemak jenuh sebesar 10%. Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan bisa meningkatkan kadar kolesterol total dalam darah yang bisa memperberat penyakit kardiovaskular yang diderita oleh pasien.

Konsumsi lemak yang sedang dan pembatasan konsumsi natrium berlaku untuk pasien penyakit kardiovaskular. Konsumsi natrium pasien berkisar antara 554 mg hingga 911 mg dengan rata-rata konsumsi sebesar 997 mg pada pasien yang mendapatkan diet dengan konsistensi makanan biasa dan 553 mg hingga 832 mg dengan rata-rata sebesar 731 mg pada pasien yang mendapatkan diet dengan konsistensi makanan lunak. Konsumsi natrium pada pasien penyakit kardiovaskular harus memenuhi syarat diet rendah garam. Konsumsi pasien telah sesuai dengan syarat diet rendah garam yaitu konsumsi natrium kurang dari 1200 mg perhari. Pola konsumsi makanan pada pasien penyakit kardiovaskular sangat diperlukan, terutama

konsumsi garam yang harus dikurangi hingga 2-3 gr perhari karena kelebihan asupan garam yang berlebihan dapat memicu pengerasan pembuluh nadi dan mendorong tubuh untuk meretensi cairan sehingga akan memperberat kerja jantung.

Konsumsi makanan dalam aspek gizi bertujuan untuk memperoleh sejumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Makanan yang disediakan rumah sakit ditentukan dengan memperhatikan beberapa faktor. Tidak hanya kebutuhan gizi tetapi selera pasien juga dipertimbangkan agar dapat diterima dan dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan gizi.

Diet yang sesuai untuk pasien penyakit kardiovaskular adalah diet jantung, diet dislipidemia dan diet stroke. Diet penyakit jantung bertujuan untuk mengurangi beban kerja jantung, menurunkan berat badan bila pasien terlalu gemuk, mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air, serta mengurangi risiko penyumbatan pembuluh darah (Kemenkes RI, 2011). Intervensi diet ini dimaksudkan untuk mencapai pola makan yang sehat. Dokter dan penata gizi rawat inap terpadu menekankan kepada pasien bahwa tujuan diet ini bukan sementara, tetapi secara berangsur melakukan perubahan permanen pada perilaku makan.

Indikasi pemberian diet jantung tergantung pada kondisi penyakit kardiovaskular pasien. Diet Jantung I diberikan pada pasien jantung akut seperti dekompensasio kordis berat. Diet yag diberikan berupa cairan selama 1-2 hari. Diet Jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau makanan lunak. Jika pasien disertai dengan hipertensi atau edema, maka diet ini disertai dengan diet rendah garam. Diet Jantung III diberikan kepada pasien dengan kondisi yang tidak terlalu

berat. Diet Jantung IV diberikan dalam bentuk makanan biasa dan diberikan kepada pasien jantung dalam keadaan ringan.

RSUP H. Adam Malik tidak memberikan diet jantung ini kepada pasien penyakit kardiovaskular. Pasien hanya diberikan makanan seperti pada umumnya. Pemberian makanan kepada pasien kardiovaskular hanya dibedakan atas makanan biasa dan makanan lunak. Hal ini terjadi karena diet penyakit jantung bukan termasuk dalam makanan berdiet yang ditetapkan oleh instalasi gizi RSUP H. Adam Malik. Makanan berdiet yang ditetapkan adalah diet penyakit diabetes mellitus dan diet penyakit ginjal.

Selain penyediaan makanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien, konsumsi makanan pasien juga harus dapat memenuhi kebutuhan zat gizi baik dalam kuantitas maupun kualitas. Konsumsi makanan pasien bisa ditekankan pada konsumsi energi dan protein karena terkait proses penyembuhan dan mempertahankan daya tahan tubuh serta meningkatkan status gizi pasien.

Konsumsi makanan pasien terhadap makanan yang disediakan rumah sakit dapat dilihat berdasarkan tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi menunjukkan seberapa banyak makanan rumah sakit yang dikonsumsi oleh pasien. Tingkat konsumsi dibedakan atas 4 kategori yaitu defisit tingkat berat, defisit tingkat sedang, defisit tingkat ringan, dan normal ( Direktorat Bina Gizi Masyakarat, 1996 dalam Silviani, 2012).

Berdasarkan penelitian, tingkat konsumsi energi pasien cenderung defisit. Sebanyak 57,1% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan biasa berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi energi sebesar 82,53% dari

jumlah energi yang disediakan rumah sakit sebesar 2103 kal. Sebanyak 90,9% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan lunak berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi energi sebesar 81,52% dari jumlah energi yang disediakan rumah sakit sebesar 1836 kal. Perbedaan jumlah energi pada makanan biasa dan makanan lunak terjadi karena adanya perbedaan dalam pengolahan beras mentah. Pada diet dengan konsistensi makanan biasa beras mentah dimasak menjadi nasi, sedangkan pada makanan lunak beras mentah dimasak menjadi bubur nasi. Nilai konversi beras masak dari bubur ke nasi adalah sebesar 0,2. Berarti nilai energi dari bubur hanya seperlima nilai energi nasi (Hardinsyah, 1994 dalam Saga, 2011).

Tingkat konsumsi energi pasien yang berada dalam kategori defisit terjadi karena pasien tidak menghabiskan nasi atau bubur nasi yang diberikan. Pasien merasa perutnya begah setelah makan beberapa suap, merasa mual dan bahkan tidak selera makan. Tingkat konsumsi energi pasien yang berada pada kategori defisit juga ditemukan pada pasien rawat inap penyakit hati di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan pasien rawat inap penyakit gagal ginjal kronis di RSUP Fatmawati Jakarta. Primardhani (2006) menyebutkan bahwa sebanyak 85,0% tingkat konsumsi energi pasien berada pada kategori defisit dan Silviani (2012) menyebutkan bahwa 73,1% tingkat konsumsi energi pasien berada pada tingkat defisit. Tingkat konsumsi energi pasien yang berada pada kategori defisit dikarenakan kondisi fisik pasien yang menurun dan konsumsi obat tertentu yang mempengaruhi nafsu makan pasien.

Kecenderungan tingkat konsumsi yang defisit juga ditemukan pada tingkat konsumsi protein pasien. Sebanyak 57,1% pasien yang mendapatkan diet dengan

konsistensi makanan biasa berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi protein sebesar 78,9% dari jumlah protein yang disediakan rumah sakit sebesar 80,4 gr. Sebanyak 63,6% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan lunak berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi protein sebesar 77% dari jumlah protein yang disediakan rumah sakit sebesar 72,1 gr.

Tingkat konsumsi protein yang berada pada kategori defisit disebabkan karena pasien tidak menghabiskan lauk yang diberikan. Padahal pihak rumah sakit telah memberikan lauk dari sumber nabati dan hewani untuk mencukupi kebutuhan protein pasien dan menyeimbangkan konsumsi protein hewani dan nabati. Pasien tidak menghabiskan lauk yang diberikan dengan alasan tidak selera melihat lauk yang diberikan, dan merasa mual. Tingkat konsumsi protein yang defisit juga ditemukan pada pasien rawat inap dibeberapa rumah sakit lain. Silviani (2012) menyebutkan tingkat konsumsi protein pada pasien rawat inap penyakit gagal ginjal kronis RSUP Fatmawati Jakarta berada pada tingkat defisit sebesar 71,9%. Tingkat konsumsi energi dan protein yang berada dalam kategori defisit akan berdampak negatif terhadap proses penyembuhan karena energi dan protein merupakan kebutuhan fisiologis pertama dan sangat penting karena menyediakan energi bagi yang sakit dan menyediakan enegi bagi masa penyembuhan (Harper et all, 1986).

Hasil yang berbeda ditemukan pada pasien rawat inap penyakit kardiovaskular di RSUP Fatmawati Jakarta. Lydiawati (2008) menyebutkan bahwa tingkat konsumsi protein pasien berada pada kategori normal sebesar 63,6%. Tingkat konsumsi protein yang normal mengindikasikan bahwa pasien menghabiskan lauk yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Selain tingkat konsumsi energi dan protein yang cenderung defisit, tingkat konsumsi lemak pasien penyakit kardiovaskular RSUP H. Adam Malik juga ditemukan cenderung defisit. Sebanyak 57,1% pasien yang mendapatkan diet dengan konsistensi makanan biasa berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi lemak sebesar 85,5% dari jumlah protein yang disediakan rumah sakit sebesar 59,7 gr. Sebanyak 63,6% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan lunak berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat konsumsi lemak sebesar 84,4% dari jumlah lemak yang disediakan rumah sakit sebesar 61,0 gr.

Tingkat konsumsi lemak yang defisit mengindikasikan bahwa pasien tidak menghabiskan makanan yang mengandung lemak. Pasien penyakit kardiovaskular memang harus membatasi konsumsi lemak, tetapi bukan berarti tidak mengonsumsi lemak sama sekali. Lemak juga merupakan salah satu zat gizi sumber energi, jika sumber energi lain seperti karbohidrat tidak mencukupi maka tubuh akan mengubah lemak menjadi energi. Tingkat konsumsi energi pasien yang defisit akan mendorong tubuh untuk menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Jika tingkat konsumsi lemak pasien juga berada pada kategori defisit, maka tubuh pasien akan lemah tidak berenergi dan akan memperlambat proses penyembuhan dan memperlama masa perawatan di rumah sakit.

Tingkat konsumsi lemak yang berada pada kategori defisit juga ditemukan pada pasien yang menerima diet rendah daram di Rumah Sakit Royal Taruma Jakarta. Saga (2011) menyebutkan tingkat konsumsi lemak pasien berada pada kategori defisit sebesar 30,8%.

Kecenderungan tingkat konsumsi pasien yang defisit tidak berlaku pada tingkat konsumsi natrium pasien. Tingkat konsumsi natrium pasien berada pada kategori normal sebesar 81% pada pasien yang mendapatkan diet dengan konsistensi makanan biasa dengan rata-rata tingkat konsumsi natrium sebesar 94,7% dari jumlah natrium yang disediakan rumah sakit sebesar 820 mg dan 72,7% pasien berada pada kategori normal dengan rata-rata tingkat konsumsi sebesar 93,2% dari jumlah natrium yang disediakan rumah sakit sebesar 784 mg pada pasien yang menerima diet dengan konsistensi makanan biasa. Konsumsi natrium yang sesuai dengan ketentuan tidak akan memperberat kerja jantung untuk memompa darah sehingga tidak memberikan tambahan beban penyakit kepada pasien dan akan mempercepat masa penyembuhan serta mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit.

Silviani (2012) menemukan hal yang berbeda pada pasien rawat inap penyakit gagal ginjal kronis di RSUP Fatmawati Jakarta. Tingkat konsumsi natrium pasien berada pada kategori defisit sebesar 90,0% dengan rata-rata tingkat konsumsi sebesar 74,7%. Tidak ada penjelasan yang lebih dalam mengapa tingkat konsumsi natrium pasien berada pada kategori defisit walaupun jumlah natrium yang disediakan rumah sakit tergolong relatif kecil yaitu kurang dari 300mg.

Tingkat konsumsi zat gizi yang masih defisit menunjukkan bahwa pasien kurang mengkonsumsi makanan yang disediakan rumah sakit dengan baik. Pasien tidak mampu menghabiskan makanan yang disediakan rumah sakit dengan alasan perut mereka terasa begah setelah makan beberapa suap, merasa mual, sedang tidak nafsu makan atau makanan tumah sakit tidak cocok dengan selera pasien. Defisit konsumsi menyebabkan banyak makanan yang tersisa dan terbuang. Kondisi ini

merugikan pihak rumah sakit dan pasien itu sendiri karena biaya penyelenggaraan makanan tergolong cukup besar.

Konsumsi pasien yang cenderung kurang dari diet yang ditetapkan rumah sakit dapat menyebabkan terjadinya malnutrisi klinis. Malnurisi klinis dapat terjadi disebabkan oleh penyakit pasien itu sendiri dan kondisi kurang gizi serta efek samping terapi atau pembedahan (The Patient Association, 2011). Pasien yang berada pada tingkat defisit, baik itu defisit ringan, sedang, ataupun berat diduga karena kondisi fisik yang menurun, faktor konsumsi obat-obatan tertentu dan pascaoperasi. Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan penurunan nafsu makan. Pasien tidak mampu menghabiskan makanan yang disediakan rumah sakit karena alasan mual, tidak nafsu makan, dan tidak cocok dengan rasa makanan rumah sakit (Hanss, 2006). Operasi juga memiliki efek samping terhadap asupan makan pasien. Pasien pascaoperasi memiliki gejala kelelahan, kesakitan, dan kehilangan nafsu makan. Umumnya efek samping tersebut bersifat sementara dan akan menghilang beberapa hari setelah operasi (Peckenpaugh, 2010).

Karbohidrat, lemak dan protein adalah zat gizi yang memberikan energi. Kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial akan mengakibatkan timbulnya status gizi kurang. Bila keadaan ini terjadi pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit, maka akan memperlambat proses penyembuhan, memperpanjang hari perawatan di rumah sakit, bahkan pada tahap yang lebih lanjut dapat mengakibatkan kematian.

Dalam upaya pemenuhan zat gizi yang optimal pada pelaksanaan asuhan gizi diperlukan keterlibatan dan kerjasama antar profesi yang terkait dalam tim asuhan

gizi. Profesi yang terlibat antara lain adalah dokter, perawat, dan ahli gizi. Dokter bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan secara keseluruhan seperti menegakkan diagnosis, memberikan penilaian akhir tentang status gizi pasien, menetapkan preskripsi diet, dan merujuk pasien ke ahli gizi untuk penyuluhan dan konsultasi gizi. Ahli gizi merupakan orang yang mempunyai keahlian khusus tentang hubungan makanan, zat gizi, kesehatan dan penyakit. Ahli gizi atau penata gizi rawat inap bertugas memimpin dan mengawasi penyelenggaraan makanan di ruang rawat inap terpadu, melaksanakan asuhan gizi, mengevaluasi diet pasien dan memberikan konsultasi pada pasien dan keluarga pasien.

Selain dokter, perawat dan ahli gizi, orang yang mempengaruhi pasien untuk makan dan menghabiskan makanan yang disediakan rumah sakit adalah keluarga atau pandamping pasien. Pendamping pasien atau pasien sebaiknya perlu menyadari pentingnya zat gizi pada saat penyembuhan rawat inap ataupun rawat jalan. Konsumsi pasien rawat inap bisa distimulasi dengan meningkatkan suasana sosial, pelayanan yang baik dan memberikan pilihan menu.

5.2 Tingkat Kecukupan Zat Gizi Pasien Rawat Inap Penyakit Kardiovaskular RSUP H. Adam Malik Medan

Makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat gizi. Kekurangan taua kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan berakibat butuk pada kesehatan. Selama sakit, kebutuhan energi dan zat gizi lain akan meningkat tergantung beratnya penyakit yang diderita oleh pasien. Untuk menghitung apakah jumlah zat gizi yang dikonsumsi oleh pasien sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan harian atau tidak

dapat dilihat melalui tingkat kecukupan zat gizi. Konsumsi energi, lemak, protein dan natrium pasien selama di rawat berasal dari makanan yang disediakan rumah sakit dan makanan yang dikonsumsi pasien selain dari yang disajikan rumah sakit.

Tingkat kecukupan zat gizi pasien merupakan perbandingan antara total konsumsi zat gizi pasien sehari dengan jumlah zat gizi harian yang dibutuhkan pasien. Total konsumsi zat gizi yang dimaksud adalah jumlah penambahan konsumsi zat gizi dari makanan rumah sakit dan konsumsi zat gizi dari makanan luar rumah sakit. Angka kecukupan zat gizi pasien didasari pada kebutuhan energi, protein, lemak dan natrium. Zat gizi harian yang dibutuhkan pasien berpatokan pada AKG 2012. Karena AKG yang tersedia bukan menggambarkan AKG individu, maka untuk mendapatkan nilai AKG individu dilakukan koreksi terhadap berat badan nyata pasien dengan berat badan standar pada AKG.

Tingkat kecukupan gizi pasien dibedakan menjadi lima kategori yaitu defisit tingkat berat, defisit tingkat sedang, defisit tingkat ringan, normal dan lebih. Tingkat kecukupan zat gizi dilihat dari total konsumsi sehari yang didapat dari makanan yang disediakan rumah sakit dan makanan yang didapat pasien dari selain yang disediakan rumah sakit. Jika pasien hanya mengonsumsi dan menghabiskan makanan yang disediakan oleh rumah sakit saja, maka kecenderungan tingkat kecukupan pasien akan berada pada kategori normal karena pemorsian makanan yang sesuai standar akan memungkinkan terjadi penyediaan makanan sesuai dengan kebutuhan zat gizi pasien.

Berdasarkan penelitian, tingkat kecukupan energi pasien cenderung defisit. Sebanyak 47,6% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan biasa berada

pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat kecukupan energi sebesar 92,4%% dari jumlah energi yang dibutuhkan pasien sebesar 2178 kal. Sebanyak 81,8% pasien yang mendapatkan diet konsistensi makanan lunak berada pada kategori defisit dengan rata-rata tingkat kecukupan energi sebesar 75,5% dari jumlah energi yang dibutuhkan pasien sebesar 2336 kal. Angka kecukupan energi pasien didasari pada kebutuhan energi. Kebutuhan energi tiap orang merupakan konsumsi energi yang berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi. Penentuan kebutuhan energi didasarkan pada energi basal (Basal Metabolic Rate-BMR) ditambah sejumlah energi yang diperlukan untuk efek tambahan metabolisme (Thermic Effect of Food-TEF), kegiatan atau aktivitas fisik (Thermic Effect of Exercise-TEE) dan pertumbuhan pada kelompok usia tertentu (Napitupulu, 2012).

Kebutuhan energi terbesar umumnya diperlukan untuk metabolisme basal karena pengaruh berat badan dan luas permukaan tubuh. Pada kondisi sehat, aktivitas yang bervariasi antara laki-laki dan perempuan menyebabkan adanya perbedaan rata-rata yang nyata dalam metabolisme basal laki-laki dan perempuan sehingga kebutuhan energi juga berbeda. Pada keadaan sakit, perbedaan kebutuhan energi selain disebabkan oleh perbedaan fisik, jenis penyakit dan berat ringannya penyakit juga menyebabkan perbedaan kebutuhan energi (Hardinsyah, 1989 dalam Muthmainnah, 2003).

Konsumsi energi yang kurang dari kecukupan atau berada pada kategori defisit akan membuat pasien lelah dan tidak bertenaga sehingga dapat memperlambat proses penyembuhan dan memperlama masa perawatan di rumah sakit. Selain itu

konsumsi energi dari makanan yang memiliki indeks glikemik yang rendah akan menurunkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular (Tarino et all, 2008).

Kecenderungan tingkat kecukupan energi yang defisit juga ditemukan pada pasien penyakit kardiovaskular yang dirawat di RSUP Fatmawati Jakarta. Lydiawati (2008) menyebutkan bahwa 43,3% pasien berada pada kategori defisit untuk tingkat kecukupan energi. Selain pada pasien penyakit kardiovaskular, tingkat kecukupan energi yang defisit juga ditemukan pada pasien kanker yang dirawat di Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Sugita (2012) menyebutkan bahwa 55% pasien berada pada kategori defisit berat untuk tingkat kecukupan energi. Hal ini disebabkan karena pasien kanker sedang menjalani terapi kanker, dimana pengaruh dari terapi yang dijalani secara umum menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa mual dan muntah, dan perubahan indera pengecap.

Kecenderungan tingkat kecukupan yang defisit tidak berlaku pada tingkat kecukupan protein. Tingkat kecukupan protein pasien berada pada kategori normal sebanyak 42,9% pasien yang menerima diet konsistensi makanan biasa dengan rata-rata tingkat kecukupan protein sebesar 112,2% dari jumlah protein yang dibutuhkan pasien sebesar 62,3 gr dan 54,5% pasien yang menerima diet konsistensi makanan lunak dengan rata-rata tingkat kecukupan sebesar 101,1% dari jumlah kebutuhan protein harian pasien sebesar 64,5 gr. Kecukupan protein pasien didasari pada kebutuhan protein. Penentuan kebutuhan protein didasarkan pada keseimbangan nitrogen. Keseimbangan nitrogen merupakan perbandingan jumlah konsumsi nitrogen dari makanan dengan kehilangan nitrogen dari tubuh melalui urine, feses dan permukaan tubuh. Kebutuhan protein untuk penderita penyakit kardiovaskular adalah

sekitar 0,8 - 1,0 g/kg BB atau sebesar 10-15% kebutuhan energi total (Almatsier, 2005).

Tingkat kecukupan protein pasien yang berada pada kategori normal ini terjadi karena jumlah protein dari makanan yang disediakan rumah sakit dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan protein pasien. Konsumsi makanan tinggi protein akan menurunkan risiko penyakit jantung iskemik dan menurunkan kematian akibat jantung koroner (Tarino et all, 2008).

Kecenderungan tingkat kecukupan protein yang normal juga ditemukan pada pasien rawat inap penyakit kardiovaskular RSUP Fatmawati Jakarta. Lydiawati (2008) menyebutkan bahwa 46,7% pasien berada pada kategori normal untuk tingkat kecukupan protein. Hasil yang berbeda ditemukan pada pasien penyakit kanker yang dirawat di Rumah Sakit Dharmais Jakarta. Sugita (2012) menyebutkan bahwa tingkat kecukupan protein pasien berada pada kategori defisit berat sebesar 55%. Hal ini disebabkan karena pasien kanker sedang menjalani terapi kanker, dimana pengaruh dari terapi yang dijalani secara umum menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa