• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Partisipasi dalam Usaha

Dalam dokumen Kelembagaan KUD PIR Kelapa Sawit (Halaman 103-108)

LEMBAGA KEMITRAAN POLA PIR

6. Pendidikan dan Pelatihan

7.3.3. Tingkat Partisipasi dalam Usaha

Skor tingkat partisipasi dalam bidang usaha tergolong tinggi, dimana 5 KUD termasuk dalam kategori tinggi, 1 KUD kategori sedang. Artinya, sebagian besar KUD memiliki anggota yang aktif dalam membeli input maupun menjual TBS di KUD. Secara lengkap tingkat partisipasi petani dalam usaha disajikan pada Tabel 32.

Walaupun petani plasma merupakan petani pasif artinya seluruh kegiatan dalam pengelolaan kebun biasanya diserahkan kepada ketua kelompok. Akan tetapi para petani plasma tersebut juga harus mengetahui kegiatan-kegiatan yang diprogramkan KUD dalam pembelian input. Penggunaan input diharapkan dapat meningkatkan produksi kelapa sawit sehingga petani mengetahui secara jelas dan terperinci pengelolaan kebun mulai dari input sampai panen, dan penjualan TBS.

Penilaian skor yang tinggi 96,25 untuk partisipasi pada kegiatan usaha, hal ini berarti petani plasma KUD sebagian besar masih peduli terhadap kemajuan KUD dengan mengetahui semua kegiatan yang diprogramkan KUD seperti materi dalam berusahatani kelapa sawit meliputi penggunaan input (pemupukan), pemangkasan daun, pengendalian hama dan penyakit, serta

pemanenan (penjualan TBS ke KUD) yang berguna untuk meningkatkan produksi kelapa sawit.

Tabel 32. Tingkat partisipasi petani dalam usaha

Sumber: Wildayana (2013).

Akan tetapi, para petani tersebut tidak cukup hanya sekedar mengetahui kegiatan-kegiatan yang diprogramkan KUD. Namun, petani-petani tersebut juga harus bisa merealisasikan kegiatan-kegiatan tersebut. Kinerja KUD dapat dikatakan berhasil meningkatkan kesejahteraan anggotanya, jika ada kerjasama antara petani dengan para pengurus KUD. Oleh karena itu diharapkan pada petani agar dapat merealisasikan seluruh kegiatan

Skor Tingkat Partisipasi Usaha Pembelian Input di KUD Menjual TBS di KUD

No Koperasi 1 2 3 TS 1 2 3 TS Rerata Total Skor Kategori Pola PIR BUN (I)

1. Makmur Sejahtera 0 35 0 70 0 35 0 70 70 Sedang 2. Lengkukam Jaya 0 0 35 105 0 0 35 105 105 Tinggi Rerata 87,5 Tinggi 3. Mulia Indah Permai 0 0 35 105 0 0 35 105 105 Tinggi

4. Tekad Mandiri 0 0 35 105 0 0 35 105 105 Tinggi

5. Suka Rezeki 0 0 35 105 0 0 35 105 105 Tinggi

6. Suka Makmur 0 0 35 105 0 0 35 105 105 Tinggi

Rerata 105 105 105 Tinggi

pada KUD masing-masing. Penilaian partisipasi petani plasma kelapa sawit sebagai anggota KUD berdasarkan partisipasi organisasi, partisipasi permodalan dan partisipasi usaha didapatkan nilai rata-rata sebesar 84,4 dengan kriteria tinggi.

Pada dasarnya petani-petani plasma bergabung dengan KUD sejak KUD ini didirikan yakni sekitar tahun 1991/1992-an. Alasan petani bergabung dengan KUD karena adanya rasa kepercayaan yang tinggi dan kerjasama yang baik antar anggota dengan pengurus KUD. Jika ini terjalin dengan baik, maka diharapkan partisipasi petani sebagai anggota KUD akan berjalan lebih baik. Pada lokasi PIR Bun Betung Barat Desa Gajah Mati dan Desa Tanjung Agung KUD nya sudah tidak aktif lagi, sehingga biaya yang harus dikeluarkan petani kelapa sawit hanya untuk transportasi/upah timbang masing-masing sebesar Rp 25.000/kg TBS dan Rp15.000/kg TBS yang dikoordinir oleh petani plasma.

Program kemitraan merupakan suatu alat untuk mengembangkan ekonomi masyarakat petani perkebunan karena program kemitraan dilandasi dengan pola kebersamaan, baik di dalam satu kelompok maupun antar kelompok. Sehingga dapat tercipta pembangunan ekonomi masyarakat petani perkebunan kelapa sawit dengan kondisi lingkungan yang aman. Hal ini berarti kinerja KUD sudah termasuk kategori berhasil. Berdasarkan hasil penelitian bagi kelembagaan yang aktif kegiatan pembinaan kemitraan antara Inti, Plasma dan KUD disajikan pada Tabel 33. Suksesnya pengembangan program kemitraan antar petani

dan antar kelompok ini sangat tergantung pada keserasian dan ketulusan dan keseriusan dari masing-masing petani plasma atau kelompok yang bermitra. Oleh karena itu, untuk menciptakan program kemitraan antar kelompok ini petani akan lebih mengenal program kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan pada petani atau sosialisasi program serta pengembangan sumberdaya manusia dan organisasi petani.

Pelaksanaan pola PIR Bun dan PIR Trans kelapa sawit merupakan suatu bentuk kemitraan usaha berdasarkan simbiosis mutualistis antara Perusahaan Besar Negara (PBN) dan Perusahaan Besar Swasta (PBS) sebagai Inti dengan Pertanian Rakyat (PR) sebagai Plasma. Pola kemitraan dan interaksi antara Inti dan Plasma telah mempengaruhi ekonomi petani plasma, yang memadukan kegiatan produksi, pengolahan dan pemasaran hasil dalam satu sistem kerjasama terpadu.

Perilaku petani kelapa sawit sangat terkait dengan kegiatan pembinaan kemitraan antara Inti, Plasma dan KUD. Sesuai dengan hasil penelitian Bakir (2007) menyatakan bahwa struktur kemitraan pola PIR dan perilaku peserta PIR kelapa sawit di Sumatera Selatan telah sesuai dengan kewajiban dan hak sebagai peserta PIR. Sedangkan bagi lembaga yang tidak aktif kegiatan yang diusahakan hanya sebatas penjualan TBS dan pengangkutan ke PKS yang dikoordinir oleh petani plasma.

Tabel 33. Kegiatan pembinaan kemitraan antara inti, plasma dan KUD No Uraian Bentuk Kegiatan Kemitraan yang Dijalankan

1 Perusahaan Inti

- Menerima penjualan hasil TBS plasma dengan harga yang ditetapkan pemerintah

- Memberikan penyuluhan dan pendampingan secara rutin kepada petani setiap bulan

- Melakukan pertemuan intensif kepada pengurus KUD/kelompok untuk memotivasi dan membuka wawasan berfikir

- Menempatkan team lapangan (tenaga pendamping) pada wilayah binaan KUD yang secara rutin mengunjungi petani untuk melihat secara langsung kondisi dan permasalahan petani plasma

- Melakukan komunikasi secara langsung, terbuka dan kekeluargaan

- Memberikan fee sebesar 4 % kepada petani dan 0,5 % kepada KUD dari setiap nilai penjualan petani sesuai dengan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan sharing keuntungan

- Mendampingi dan membina KUD dalam melaksanakan tugasnya mengkoordinir petani plasma

2 KUD - Mengikuti pertemuan rutin dengan perusahaan inti dan plasma

- Menyediakan saprosi bagi plasma berupa pupuk dan herbisida

- Mengkoordinir pelaksanaan perawatan jalan, pengangkutan TBS petani, pemasaran ke pabrik CPO dan analisa daun

- Mengelola dana fee 0,5 % dari perusahaan inti untuk kebutuhan petani dan organisasi

- Menjadi perpanjangan tangan petani dengan perusahaan inti

- Mengelola tabungan petani untuk membeli pupuk dan herbisida

3 Petani Plasma

- Menjadi pemasok TBS ke pabrik CPO

- Mengikuti pertemuan dan penyuluhan rutin yang dilaksanakan perusahaan dan KUD

PENUTUP

Berdasarkan hasil kajian berbagai penelitian yang telah dilakukan tentang peran kelembagaan pada PIR kelapa sawit dikaitkan dengan prospek keberlanjutan kebun plasma, maka dapat dinyatakan beberapa hal-hal penting sebagai berikut:

1) Paradigma pengembangan kelapa sawit di masa mendatang sebagai paradigma pembangunan kemandirian lokal dengan ciri-ciri: (a) pembangunan yang berorientasi terhadap pemenuhan kebutuhan nyata masyarakat setempat (community oriented), (b) pembangunan yang didasarkan pada keadaan sumberdaya masyarakat setempat

(community based), (c) pengelolaan pembangunan oleh

masyarakat setempat (community managed) dan (d)

pendekatan pembangunan manusia: pemberdayaan (empower), keadilan (equity), produktivitas (produktivity) dan berkesinambungan (sustainable). Peran KUD yang masih aktiv pada lokasi penelitian berfungsi melakukan pembinaan ekonomi anggotanya dan telah mempunyai beberapa unit usaha, yaitu angkutan TBS, distribusi bahan konsumsi, penyaluran pupuk dan pestisida, simpan pinjam, dan penyaluran kredit sepeda motor

2) Pengembangan perkebunan kelapa sawit yang telah berlangsung sampai saat ini adalah melalui kemitraan kelembagaan inti-plasma. Kemitraan kelembagaan inti-plasma ini masih banyak terkendala adanya konflik baik pemerintah, perusahaan perkebunan, perusahaan pertambangan, perusahaan kehutanan, masyarakat, petani, maupun LSM. Akan tetapi, tidak sedikit pula KUD yang bertahan bahkan berkembang. Alasan ini yang mendorong mengapa KUD perlu dikembangkan

3) Program KUD sebaiknya terus bergerak dalam bidang penanganan distribusi sarana produksi, sehingga sarana produksi dapat terjangkau oleh petani secara fisik maupun ekonomi, misalnya penanganan pasca panen dan pemasaran hasil pertanian, sehingga peranan KUD mampu meningkatkan pendapatan petani

4) Pola kemitraan yang dikelola oleh KUD berhasil melakukan kegiatan penyimpanan dana berupa (IDAPERTABUN) melalui tabungan persiapan replanting telah dipersiapkan sejak kurang lebih 15 tahun terakhir sebesar 2,5 % dari hasil produksi, dengan total saat ini sebesar Rp 35 juta/kapling dan jika dana persiapan yang dipersiapkan untuk replanting

dilakukan kurang dari 5 tahun terakhir, maka potongannya sebesar 13 % dari hasil produksi dengan total simpanan saat ini sebesar Rp 36 juta/kapling

5) Program-program pemerintah untuk membangun masyarakat pedesaan, seperti distribusi pupuk, benih, dan pengadaan gabah sekarang dilakukan melalui KUD. Mengembalikan peran kunci KUD, merupakan konsekuensi tuntutan pembangunan ekonomi kerakyatan. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi untuk menyejahterakan anggota serta masyarakat pedesaan, termasuk membantu berbagai program pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat

6) Peranan Kelompok Tani dan KUD lebih diintensifkan lagi dalam mendukung peranan kelapa sawit, berupa: (a) peranan langsung dengan aspek pengelolaan usahatani meliputi: pengadaan dan penyaluran sarana produksi, pengumpulan hasil, pengangkutan hasil dan pemasaran dan (b) peranan yang tidak berkaitan langsung dengan pengeloaan produksi meliputi pengadaan barang konsumsi dan usaha simpan pinjam

7) Pengelolaan KUD harus menggunakan sistem bottom up.

Untuk mendukung pengelolaan KUD dengan sistem bottom up, perlu adanya peningkatan mutu SDM yang berkecimpung dalam KUD melalui pelatihan-pelatihan manajemen koperasi. Secara organisasi dan kelembagaan, sistem

bottom up merupakan sistem yang tepat saat ini, sehingga KUD memililki potensi untuk diberdayakan dalam rangka mendukung pembangunan pertanian. Sistem ini sekaligus mendorong KUD melaksanakan aktivitasnya sesuai

kebutuhan anggota

8) Kunci kemitraan adalah suatu proses yang memerlukan peningkatan intensitas hubungan inti dan plasma berdasarkan kepercayaan satu dengan yang lainnya yang nyata dan terukur. Di dalam kemitraan harus terdapat komitmen yang saling memuaskan kedua pihak dan menumbuhkan saling ketergantungan. Tolok ukur keberhasilan kemitraan dapat dilihat dari kinerja kebun produksi menunjukkan produktivitas kebun naik, harga pokok produksi terkendali, kualitas TBS naik, stabilitas pasokan bahan baku terjamin, adanya kelembagaan petani yang kuat dan adanya kelancaran angsuran kredit.

Dalam dokumen Kelembagaan KUD PIR Kelapa Sawit (Halaman 103-108)

Dokumen terkait