• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Definisi Operasional

1. Tingkat Pengetahuan

Diagram 5.7

Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Tentang kesiap siagaan Bencana di SDN Sempur kaler Kota Bogor

Tahun 2017 (n=73)

Interpretasi data:

Berdasarkan diagram 5.7 diatas di dapatkan data tingkat pengetahuan tentang kesiap siagaan bencana, menujukan lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 52 orang (71%) orang mempunyai pengetahuan baik dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 orang (3%) mempunyai pengetahuan kurang.

2. Sikap

Diagram 5.8

Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan Tingkat Sikap Tentang kesiap siagaan Bencana di SDN Sempur kaler Kota Bogor

Tahun 2017 (n=73)

Interpretasai data:

Berdasarkan diagram 5.8 di atas didapatkan data tingkat sikap tentang

kesiap siagaan bencana, menujukan lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 39 orang (53%) mempunyai sikap positif dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 34 orang (47%) mempunyai sikap negatif.

C PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini akan diuraikan pembahasan tentang gambaran pengetahuan dan sikap tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana pada anak usia sekolah di SDN Sepur Kaler Kota Bogor.

1 Tingkat Pengetahuan

lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 52 orang (71%) orang mempunyai pengetahuan baik dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 orang (3%) mempunyai pengetahuan kurang. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan responden berada pada rentang baik dan cukup. Hasil penelitian yang di lakukan Pratiwi Joana mendasari pada tahun (2014) terkait gambaran pengetahuan keluarga tentang kesiapsiaggan dalam menghadapi bencana di Rw 01 Kebon Kelapa Bogor Timur, hasil penelitian ini di lakukan pada 63 responden menunjukan bahwa tingkat pengetahuan responden meunjukan lebih dari setengahnya berpengetahuan kurang sebanyak 41 orang (65%), dan tidak satupun responden berpengetahuan baik.

Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan responden berada pada rentang kurang dan cukup. Terjadi ketidak sesuaian antara hasil penelitian dengan penelitian orang lain dan hasil penelitian ini sesuai dengan teori Noto Atmodjo (2011) yang mengatakan pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting terbentuknya

dengan penelitian Pratiwi Joana (2014).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, ada beberapa faktor yang mungkin mendukung dengan pengetahuan salah satunya adalah faktor usia.

Berdasarkan usia hasil penelitian didapatkan data menunjukan bahwa bahwa lebih dari setengan responden yaitu 48 orang (66%) berumur 10-12 tahun, dan kurang dari setengah responden yaitu 25 orang (34%) berumur 6-9 tahun. Hasil penelitintian tersebut sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Bertambahnya usia seseorang dapat berpengaruh pada bertambahnya pengetahuan yang di peoleh.

Faktor lain yang mungkin mendukung dengan pengetahuan adalah faktor pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi dan makin

73 anak usia sekolah, menunjukan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 27 orang (37%) duduk di bangku kelas IV SD dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 21 orang (30 %) duduk di bangku kelas III SD.. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori menurut YB Mantra dikutip oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah menerima informasi dan makin baik pengetahuannya.

Informasi sebagai sarana komunikasi berbagai bentuk media masa mulai dari media elektronik, media masa, ataupun dari suatu lembaga tertentu mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dalam individu maupun kepercayaan masyarakat. Dari hasil penelitian di dapatkan dari 73 anak usia sekolah menunjukan kurang dari setengah responden mendapatkan data karakteristik informasi kesiap siagaan, menujukan, sebagian besar responden sebanyak 66 orang (90%) mendapatkan informasi kesiap siagaan dan sebagian kecil responden sebanyak 7 orang (10%) tidak mendapatkan informasi kesisap siagaan. Menurut

diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi dan menambah tingkat pengetahuan seseorang

Pengalaman merupakan guru terbaik, pepatah tersebut bisa diartikan bahwa pengalaman merupakan salah satu cara untuk biasa mndapatkan dan meningkatkan pengetahuan.

Dari hasil penelitian di dapatkan dari 73 anak usia sekolah, menunjukanlebih dari setengah responden yaitu sebanyak 48 orang (66%) yang tidak pernah mengalami bencana dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 25 orang (34%) yang pernah mengalami bencana. Menurut Notoatmodjo (2011) yang mengatakan pengalaman merupakan suatu sumber pengetahuan dan pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh suatu kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu, pengalaman pribadi pun dapat dijadikan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan dan akan menambah pengetahunnya. Ada kesesuaian antara teori dengan hasil penelitian yaitu kurang dari setengah resonden

memiliki pengetahuan baik.

2 Sikap

Dalam penelitian ini yang diteliti adalah gambaran sikap tentang kesiap siagaan dalam menghadapi bencana pada anak usia sekolah di SDN Sempur Kaler Kota Bogor.

Berdasarkan sikap responden , menujukan lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 39 orang (53%) mempunyai sikap positif dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 34 orang (47%) mempunyai sikap negatif.

Selain dari hasil kuesioner, hal lain yang membuat responden bersiap siaga akan suatu bencana adalah tempat yang dilakukan oleh peneliti merupakan salah satu tempat yang termasuk ke dalam sekolah siaga bencan. Hal ini yang membuat hasil penelitian yang dilakukan peneliti mendapatkan hasil lebih dari setengah responden sebanyak 39 orang (53%) mempunyai sikap positif.

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhdap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (Senang-tidak

(Notoatmodjo, 2011). Oleh karena itu sikap juga merupakan salah satu penentu yang dapat mempengaruhi individu khususnya akan kesadaran dari masing-masing individu mengenai kesiap siagaan dalam menghadapi bencana. Sikap terbagi kedalam 2 respon ada yang positif dan ada yang negatif. Sikap yang positif menerangkan dan mengharapkan objek tertentu. Berbeda degan sikap individu tersebut menghindar, menjauhi, membenci dan tidak menyukai suatu objek tertentu.

Pada hasil penelitian yang telah peneliti lakukan sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pratiwi Joana pada tahun (2014) terkait gambaran sikap keluarga tentang kesiapsigaan dalam menghadapi bencana di Rw 01 Kebon Kelapa Bogor Timur, hasil penelitian ini di lakukan pada 63 responden menunjukan bahwa lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 33 orang (52%) mempunyai sikap positif. Penelitian ini sama dengan penelitian yang telah di lakukan didapatkan hasil penelitian menunjukan lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 39orang (53%) mempunyai sikap positif.

dengan sikap anak usia sekolah, salah satunya adalah lembaga pendidikan dan lembaga agama. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 27 orang (34%) duduk di bangku kelas IV SD dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 21 orang (30 %) duduk di bangku kelas III SD.

Sehingga tampak adanya kesesuaian antara hasil penelitian dengan teori menurut Azwar (2005) yang dikutip oleh Wawan dan Dewi (2011) yang mengemukakan bahwa lembaga pendidikan dan agama mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan pengertian dan konsep moral diri individu di dalam menegantisipasi adanya suatu bencana. oleh karenanya penting untuk memberikan pendidikan secara dini yang terkait dengan pencegahan. kesiap siagaan yang dapat mengantisipasi dalam mengurangi resiko ancaman bencana.

Faktor lainnya selain faktor pendidikan yang mungkin mendukung sikap adalah dari faktor pengalaman pernah mengalami bencana. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil setengah responden yaitu sebanyak 48

kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 25 orang (34%) yang pernah mengalami bencana. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori Azwar (2005) yang mengatakan pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat.

Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional dalam sitiuasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman lebih mendalam dan akan lebih lama berbekas.

Oleh karena itu ketika anak usia sekolah kurang mendapat pengalaman terhadap bencana maka sikap anak usia sekolah terhadap bencana lebih cenderung negatif. Pengalaman akan pernah terjadinya suatu bencana dapat membuat seseorang menjadi sadar dan peduli akan kesiap siagaan menyikapi suatu bencana.

Pengalaman mengenai informasi dan media informasi responden menujukan bahwa sebagian besar responden sebanyak 66 orang (90%) mendapatkan informasi kesiap siagaan dan sebagian besar responden sebanyak 64 orang (89%) mendapatkan informasi kesiap siagaan dari BPBD/BNPB. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang ada.

(2011) yang menjelaskan media masa dapat mempengaruhi sikap seseorang, dengan adanya media informasi yang di dapat akan membuat individu menjadi berubah sikapnya kearah yang dapat mengatasi bencana.

D Keterbatasan Penelitian

Dalam proses penelitian tidak selamanya berjalan dengan yang telah direncanakan oleh peneliti. Agar diperoleh hasil yang optimal, berbagai upaya telah di lakukan dalam pelaksanaan penelitian yang di lakukan, namun penelitian ini belum dapat mewakili gambaran penegetahuan dan sikap anak usia sekolah terhadap kesipsiagaan dalam menghadapi bencana karna hanya di lakukan pada kelas 3 hingga 5 di SDN Sempur kaler kota bogor. Hal ini karena ada beberapa faktor yang sulit di kendalikan sehinga membuat penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan :

1. Waktu pelaksanaan pengumpulan data bersamaan dengan peraktik medikal bedah II sehingga peneliti harus memadatkan jadwal pengumpulan data.

2. Peneliti tidak dapat melakukan penelitian untuk siswa kelas I dan II SDN Sempur Kaler Kota Bogor karena

memahami isi dari kuisioner.

3. Peneliti tidak dapat melakukan penelitian untuk siswa Kelas VI SDN Sempur Kaler Kota Bogor karena sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi UN.

A Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di Bab V, serta setelah peneliti melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Anak Usia Sekolah Terhadap Kesiap Siagaan Dalam Menghadapi Bencana di SDN Sempur Kaler Kota Bogor” dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Proporsi usia didominasi oleh lebih dari setengan responden dengan usia sekolah akhir (10-12 tahun) yaitu sebanyak 48 orang (66%).

2. Proporsi jenis kelamin didominasi oleh lebih dari setengah respoden yang berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 44 orang (60%).

3. Proporsi kelas didominasi oleh kurang dari setengah responden yang duduk di bangku kelas IV SD yaitu sebanyak 27 orang (37%).

4. Proporsi karakteristik informasi kesiap siagaan didominasi oleh sebagian besar responden yang mendapatkan informasi kesiapsiagaan bencana yaitu sebanyak 66 orang (90%).

5. Proporsi media informasi kesiap siagaan didominasi oleh sebagian bear responden yang mendapatkan informasi kesiap siagaan dari BPBD/BNPB yaitu sebanyak 64 orang (89%).

6. Proporsi karakteristik mendapatkan pengalaman bencana didominasi oleh lebih dari setengah responden yang tidak pernah mengalami bencana 48 orang (66%).

7. Pada variabel pengetahuan, berdasarkan hasil penelitian didapatkan data lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 52 orang (71%) mempunyai pengetahuan baik dan sebagian kecil responden yaitu sebanyak 2 orang (3%) mempunyai pengetahuan kurang.

8. Pada variabel sikap, berdasarkan hasil penelitian didapatkan data lebih dari setengah responden yaitu sebanyak 39 orang (53%) mempunyai sikap positif dan kurang dari setengah responden yaitu sebanyak 34 orang (47%) mempunyai sikap negatif.

A. Rekomendasi

1. Penelitian selanjutnya

Diharapkan untuk penelitian selanjutnya agar memanfaatkan data dan informasi yang telah didapat dalam

penelitian ini dalam acuan untuk mengembangkan penelitian selanjutnya yaitu “Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia Sekolah Yang Beresiko Tarancam Bencana”.

2. Bagi Institusi Program Studi Keperawatan Bogor

Diharapkan bagi Institusi pendidikan bisa menjadikan penelitian ini sebagai bahan bacaan dan sebagai bahan referensi untuk pengabdian masyarakat dosen dengan mahasiswa.

3. Bagi SDN Sempur Kaler Kota Bogor

Bagi tempat penelitian setelah mengetahui hasil penelitian, diharapkan SDN Sempur Kaler Kota Bogor memberikan lebih banyak pengalaman/praktek dan juga informasi/penkes pada didik tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta

Azwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Edisi 2. Jakarta: Rineka Cipta

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2015. Data dan Informasi Bencana. Jakarta: Graha BNPB

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor. 2016. SDN Sempur Kaler jadi Contoh Penerapan Sekolah Aman Bencana. (http://bogorchannel.co.id/sdn-sempur-kaler-jadi-contoh-penerapan-sekolah-aman-bencana diakses pada 21 Februari 2017)

BNPB. 2015, Indeks Risko Bencana Indonesian Direktorat Pengurangan Resiko Bencana Bogor Badan Pusat Statistik Bogor. (http://www.bnpb.go.id/uploads/publication/612/2014-06-03_IRBI_2013_BNPB.pdf diakses pada 22 Februari 2017)

Clark. Mary jo. 2007. Community Health Nursing Caring For Population Fourh Edition. USA : Person Education, Inc

Effendy, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika

Huda, Sultonul, dkk, 2008. Panduan Bagi Guru Sekolah/Pesantren kesiapsiagaan Menghadapi Bencana di Lingkungan Sekolah. Jakarta: Community Based Disaster Management-Nadhatul Ulama

Lembaga Penelitian dan Pembangunan Social KWI. 2012. Penanganan Bencana. Jakarta:

CORDAID

Notoatmodjo S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nugroho, Sutopo Purwo. 2016. Evaluasi Penanggulangan Bencana 2015 Dan Prediksi Bencana 2016. Jakarta: Graha BNPB

Pribadi, S Krisna. 2008. Pendidikan Siaga Bencana. Bandung: Pusat Mitigasi Bencana ITB (diakses pada tanggal 05 februari 2017 jam 10:05)

Rahayu, Hartkunti P. 2009. Banjir dan Upaya Penanggulangannya. Bandung: Promise Indonesia Ratnasari, Dwi Santy, dan Puspa Kusumawardani. 2015. Pemetaan Risiko Bencana di Kota Bogor Tahun 201de5 (Bencana Banjir. Tanah Longsor, Angin Puting Beliung, dan Kebakaran). Jurnal Penanggulan Bencana Seminar Nasional Penginderaan Jauh, 720-731.

Jakarta : Commuty Based Disaster Management Nahdatul Ulama

Syarif Roestam Kodoatie. J Robert Zailani. 2006. Pengelolaan Bencana Terpadu. Jakarta:

Yasirsif Watampone

Undang-Undang Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Wawaan, A dan Dewi, M. 2011. Teori dan pengukuran: Sikap dan Perilaku Manusia.

Yogyakarta: Nuha Medika

Wijaya, Harta Nining. 2013. Deaf Art Community Sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana.

(https://solider.or.id/2013/10/08/deaf-art-community-sosialisasi-pengurangan-risiko-bencana (diakses pada tanggal 15 Februari 2017 Jam 10:34)

Wong, Donna L., dkk. 2009. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Zaelani,dkk. 2009. Keperawatan Bencana Terjemah Materi Keperawatan Bencana Di Banda Aceh. Japanese Red Cross Society & Palang Merah Indonesia. Jakarta: PMI

Dokumen terkait