• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : Berisikan tentang kesimpulan dan saran yang dapat di berikan dari hasil penelitian

J. Amar Putusan

2. Tingkatan Maqâshid al-Syari’ah

Maka dalam hal ini inti dari maqâshid al-Syari’ah ialah mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Asy-Syatibi

menegaskan bahwa pembuatan Syariah atau hukum Islam semata-mata dimaksudkan untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.37

Bahwasannya beberapa ulama membagi kemaslahatan menjadi beberapa bagian :

a. Kemaslahatan Dharuriyah (Primer)

Konsep dharuriyah sepadan dengan konsep primer dalam tingkatan kebutuhan manusia. Islam sangat memperhatikan kebutuhan dharuriyah untuk mewujudkan dan juga memeliharanya. Adapun dharuriyah artinya sesuatu yang semestinya harus ada untuk menegakkan kemaslahatan, baik agama dan dunia. Dari sudut pandang dharuriyah dalam hal muamalah adalah memelihara keturunan dan harta, termasuk juga memelihara jiwa dan akal.19

Dharuriyah merupakan keadaan di mana suatu kebutuhan wajib untuk dipenuhi dengan segera, jika diabaikan maka akan menimbulkan suatu bahaya yang beresiko pada rusaknya kehidupan manusia. Dharuriyah di dalam syariah merupakan sesuatu yang paling asasi dibandingkan dengan hajiyah dan tahsiniyah

Selanjutnya dharuriyah terbagi menjadi lima atau dikenal dengan al-kulliyat al-khamsah, yaitu :

1) Penjagaan atau Perlindungan terhadap Agama (Hifz al-Din)

Islam menjaga hak dan kebebasan, dan kebebasan yang pertama adalah kebebasan berkeyakinan dan beribadah. Setiap pemeluk agama berhak atas agama dan mazhabnya, ia tidak boleh dipaksa untuk meninggalkannya menuju agama atau mazhab lain, juga tidak boleh ditekan untuk berpindah dari keyakinannya untuk masuk Islam. Dasar hak ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 256, yang berbunyi :

ِٙف اِااز ۡكِإ ٓ الَ

اكاس ًۡار ۡسٱ ِداقاف ِ َّللَّٱِت ٍِۢي ۡؤُٚأ ِخُٕغََّّٰطنٱِت ۡزُفۡكاٚ ٍاًاف ِِّّۚٙاغۡنٱ اٍِي ُدۡشُّزنٱ اٍَّٛاثَّذ داق ٍِِِّۖٚدنٱ

ٌىِٛهاع ٌعًِٛاس ُ َّللَّٱأ ۗاآان اوااصِفَٱ الَ َّٰٗاقۡثُٕۡنٱ ِجأ ۡزُعۡنٱِت ٦٥٢

19 Kuat Ismanto, Asuransi Persepektif Maqasid Asy-Syariah,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016).h.,.128-129.

Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui. Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT.20

Manusia membutuhkan Agama secara mutlak. Agama menempati urutan pertama, sebab keseluruhan ajaran syari‟at mengarahkan manusia untuk berbuat sesuai dengan kehendak- Nya dan keridhaan-Nya. Allah berfirman dalam al-Qur‟an surat at-Taubah ayat 41 yang berbunyi:

َِِّّۚللَّٱ ِمِٛثاس ِٙف ۡىُكِسُفَاأأ ۡىُكِن َّٰإ ۡياأِت ْأُدِٓ َّٰاجأ ٗلَااقِثأ اٗفاافِخ ْأُزِفَٱ إًٌُاه ۡعاذ ۡىُرُُك ٌِإ ۡىُكَّن ّزۡٛاخ ۡىُكِن َّٰال

١٤

Artinya : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Jika dikaitkan dengan produk dan operasional lembaga keuangan syariah maka hal ini diwujudkan dengan menggunakan Al-Qur‟an, hadits, dan hukum Islam lainnya sebagai pedoman dalam menjalankan sistem operasional dan produk perbankan Syariah.

Dengan adanya DSN dan DPS, membuat keabsahan lembaga keuangan tersebut dalam nilai-nilai dan aturan islam semakin terjamin.

2) Penjagaan atau Perlindungan Terhadap Jiwa (hifz al-nafs)

Islam adalah risalah langit yang terakhir, sejak empat belas abad yang lalu telah mensyariatkan (mengatur) hak-hak asasi manusia secara komprehensif dan mendalam. Islam menjaga hak-hak tersebut.

Islam membentuk masyarakatnya di atas fondasi dan dasar yang menguatkan dan memperkokoh hak-hak asasi manusia ini. Hak

20 Ahmad Al-Murni Husain Jauhar, Maqasid Syariah (Jakarta : Sinar Grafika Offset 2013),h., 1-2.

pertama dan paling utama yang diperhatikan islam ialah hak hidup, hak yang disucikan dan tidak boleh dihancurkan kemuliaannya.

Manusia adalah ciptaan Allah SWT, dalam firmannya al-Qur‟an surat an-Naml ayat 88 ialah:

َّسنٱ َّزاي ُّزًُاذ اِْٙأ ٗجادِيااج اآُثاس ۡحاذ الااثِجۡنٱ ٖازاذأ

ااًِت ُۢزِٛثاخ ۥََُِّّإ ِّۚ ء ۡٙاش َّمُك اٍاقۡذاأ ِٓ٘ذَّنٱ ِ َّللَّٱ اعُُۡص ِِّۚبااح

إٌُهاعۡفاذ ٨٨ Artinya: dan kamu lihat gunung-gunung itu , kamu sangka dia tetap pada tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.21

Jika dikaitkan dengan produk dan operasional lembaga keuangan syariah maka hal ini terwujud dari akad-akad yang diterapkan dalam setiap transaksi di perbankan Syariah. Secara psikologis dan sosiologis penggunaan akad-akad antar pihak menuntun manusia untuk saling menghargai dan menjaga amanah yang diberikan. Disinilah nilai jiwanya, selain itu hal ini juga terwujud dari pihak stakeholder dan stockholder bank syariah untuk dimana dalam menghadapi nasabah dituntut berperilaku, berpakaian, dan berkomunikasi secara sopan dan Islami.

3) Penjagaan atau Perlindungan terhadal Akal (Hifz al- Aql)

Akal merupakan sumber hikmah (pengetahuan), sinar hidayah, cahaya mata hati dan media kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Dengan akal, surat perintah dari Allah SWT disampaikan, dengannya pula manusia berhak menjadi pemimpin dimuka bumi dan dengannya manusia menjadi sempurna, mulai, dan berbeda dengan makhluk lainnya. Allah SWT berfirmaan dalam Qur‟an surat al-Isra‟ ayat 70, ialah

َُّٰٓاُۡهَّضافأ ِدَّٰاثَِّّٛطنٱ اٍِّي ىَُّٰٓاُۡقاسارأ ِز ۡحاثۡنٱأ ِّزاثۡنٱ ِٙف ۡىَُّٰٓاُۡهاًاحأ اوادااء ُِٓٙات ااُ ۡيَّزاك ۡداقانأ۞

زِِٛاك َّٰٗاهاع ۡى

21 Ahmad Al-Murni Husain Jauhar, Maqasid Syariah (Jakarta : Sinar Grafika Offset 2013),hal.22.

ٗلِٗٛضۡفاذ ااُۡقاهاخ ًٍَِّّۡي ٠٧

Artinya : “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.

Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

Menjaga dan melindungi akal bisa dilaksanakan dengan penjagaan antara akal itu sendiri dengan ujian dan bencana yang bisa melemahkan dan merusaknya atau menjadikan pemiliknya sebagai sumber kejahatan dan sampah dalam masyarakat, atau menjadi alat dan perantara kerusakan didalamnya.22 Untuk melindungi akal yang diciptakan Allah khusus bagi manusia, diharuskan berbuat segala sesuatu untuk menjaga keberadaan dan meningkatkan kualitas akal dengan cara menuntut ilmu. Segala usaha untuk itu adalah perbuatan baik yang disuruh Allah. Dalam hal ini manusia diperintahkan menuntut ilmu tanpa batas usia dan tidak memperhitungkan jarak tempat.

Jika dikaitkan dengan produk dan operasional lembaga keuangan syariah maka hal ini terwujud dari adanya tuntutan bahwa pihak bank harus selalu mengungkapkan secara detail mengenai sistem produknya dan dilarang untuk menutup-nutupi barang sedikit pun. Disini terlihat bahwa nasabah diajak untuk berpikir bersama ketika melakukan transaksi di bank tersebut tanpa ada yang dizalimi oleh pihak bank.

4) Penjagaan atau Perlindungan terhadap Harta Benda (Hifz al-Mal) Harta merupakan salah satu kebutuhan inti dalam kehidupan, dimana manusia tidak akan bisa terpisah darinya. Allah berfirman

22 Ahmad Al-Murni Husain Jauhar, Maqasid Syariah (Jakarta : Sinar Grafika Offset 2013),h., 91-94.

dalam Al-Qur‟an surat Al-Kahfi ayat 46, ialah :

ُد َّٰاحِه ََّّٰصنٱ ُدَّٰاِٛقَّٰاثۡنٱأ ِۖااَُّٛۡدنٱ ِج َّٰٕاٛاحۡنٱ ُحاُِٚس إٌُُاثۡنٱأ ُلااًۡنٱ ٗلٗاياأ ٌزۡٛاخأ اٗتاإاث اكِّتار ادُِع ٌزۡٛاخ

١٢

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Harta yang baik pastinya berasal dari tangan-tangan orang yang cara memilikinya berasal dari pekerjaan yang dianjurkan agama, seperti bekerja di sawah, pabrik, perdagangan, perserikatan dengan operasional yang syar‟i atau dari warisan dan hal sejenis.

Perlindungan untuk harta yang baik ini tampak dalam dua hal berikut ini:Pertama, memiliki hak untuk dijaga dari para musuhnya, baik dari tindak pencurian, perampasan atau tindakan lain memakan harta orang lain (baik dilakukan kaum muslimin atau nonmuslim) dengan cara yang batil, seperti merampok,menipu, atau memonopoli.23

Jika dikaitkan dengan produk dan operasional lembaga keuangan syariah maka hal ini terwujud jelas dalam setiap produk-produk yang dikeluarkan oleh perbankan dimana bank berupaya untuk menjaga dan mengalokasikan dana nasabah dengan baik dan halal serta diperbolehkan untuk mengambil profit yang wajar.

5) Penjagaan atau Perlindungan terhadap Keturunan (Hifz al-Nasl)

Islam menjamin kehormatan manusia dengan memberikan perhatian yang sangat besar, yang dapat digunakan untuk memberikan spesialisasi kepada hak asasi mereka. Perlindungan ini jelas terlihat dalam sanksi berat yang dijatuhkan dalam masalah zina. Untuk kelangsungan kehidupan manusia, perlu adanya keturunan yang sah dan jelas. Untuk maksud itu Allah melengkapi makhluk hidup ini dengan hawa nafsu yang mendorong untuk melakukan hubungan

23 Ahmad Al-Murni Husain Jauhar, Maqasid Syariah (Jakarta : Sinar Grafika Offset 2013),h., 167-171.

badan yang jika dilakukan secara sah adalah baik.

Jika dikaitkan dengan produk dan operasional lembaga keuangan syariah maka hal ini terwujud dengan terjaganya empat hal di atas, maka dana nasabah yang Insya Allah dijamin halal akan berdampak baik bagi keluarga dan keturunan yang dinafkahi dariana tabungannya tersebut.

Apabila kelima hal di atas tersebut dapat terwujud, maka akan tercapai suatu kehidupan yang mulia dan sejahtera di dunia juga akhirat, atau dalam ekonomi Islam biasa disebut dikenal dengan falah.

Tercukupinya kebutuhan masyarakat akan memberikan dampak yang dengan maslahah, karena kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh masing-masing individu dalam masyarakat.24

b. Kemaslahatan Hajiyah (Sekunder)

Hajiyah disepadankan dengan kebutuhan sekunder dalam tingkatan kebutuhan. Kebutuhan hajiyah tidak seesensial dharuriyah melainkan hanya menghindarkan manusia dari kesulitan dalam kehidupannya. Adapun hajiyah artinya sesuatu yang sangat diperlukan untuk menghilangkan kesulitan yang dapat membawa kepada hilangnya sesuatu yang dibutuhkan, tetapi tidak sampai merusak kemaslahatan umum. Hajiyah ini berlaku baik, pada berbagai macam ibadah, adat kebiasaan, mu‟amalah dan jinayah25

Pada ibadah misal, seperti rukshah yang diberikan kepada orang yang sakit dan dalam perjalanan dalam melaksanakan sholat atau bermusafir. Dalam bidang adat misal, seperti kebolehan berburu, dan memakan makanan halal dan lainnya. Dalam bidang mu‟amalah ialah seperti melaksanakan transaksi jual beli dan lainnya. Pada bidang jinayah (pidana) misal, seperti hukum sumpah atas pembunuhan dan kewajiban

24 Ika Yunia Fauziah, Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam (Persepektif Maqasid al- Syariah) (Jakartb : Pt Adhitya Andrebina Agung. 2014, h., 66-67.

25 Kuat Ismanto, Asuransi Persepektif Maqasid Asy-Syariah,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016).h.,30.

membayar denda kepada keluarga pembunuh atau kebolehan karena bukti lemah dan tidak cukup dalam merusak kepentingan umum.26

Hajiyah juga dimaknai dengan keadaan dimana jika suatu kebutuhan dapat terpenuhi, maka akan bisa menambah value kehidupan manusia. Hal tersebut bisa menambah efesiensi, efektivitas, dan value added (nilai tambah) bagi aktivitas manusia27

c. Kemaslahatan Tahsiniyah (Tersier)

Tahsiniyah ialah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menghindari yang buruk sesuai dengan apa yang telah diketahui oleh akal sehat. Kebutuhan tahsiniyah atau juga disebut takmiliyah secara sederhana disepadankan dengan istilah kebutuhan tersier. Makna tahsiniyah adalah mengambil sesuatu yang lebih baik dari yang baik menurut adat kebiasaan dan menjauhi hal-hal yang jelek yang tidak diterima oleh akal sehat.

Dalam arti lain apa yang terhimpun dalam batasan akhlak yang mulia, baik dalam masalah ibadah, seperti menghilangkan najis, melakukan berbagai macam cara dalam bersuci maupun dalam adat kebiasaan seperti adab makan dan minum. Begitu juga dalam hal mu‟amalah seperti dilarangnya jual beli najis dan dicegah membunuh orang merdeka dengan sebab dia membunuh budak pada masalah jinayah.28

2. Analisis Penetapan Nomor 0229/Pdt.P./2018/PA/ KAB. Kdr. Dalam Perspektif Maqâshid Syari’ah

Sebagaimana telah dijelaskan diatas tentang maqâshid syariah menurut al- Syatibi yaitu tujuan Allah dalam menetapkan hukum adalah

26 Moh Mukri, Paradigma Maslahah dalam Pemikiran Al-Ghazali (Yogyakarta:Pesantren Nawesea Pres, 2011), h., 117.

27 Ika Yunia Fauziah, Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam (Persepektif Maqasid al- Syariah) (Jakartb : Pt Adhitya Andrebina Agung. 2014, h., 68.

28 Kuat Ismanto, Asuransi Persepektif Maqasid Asy-Syariah,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016).h.,130-131.

untuk kemslahatan hambanya, baik di dunia maupun di akhirat, tidak ada satupun hukum Allah SWT. Yang tidak mungkin tidak memiliki tujuan.

Dalam pernikahan dibawah umur tersebut dapat dikatakan dengan menggunakan epistimologi hukum Islam, yakni dengan menggunakan metode istislah atau maslahat bedasarkan konsep maqâshid al- Syari’ah (tujuan hukum) dalam Islam, sebab dalam konsep maqâshid al- Syari’ah diharapkan segala sesuatu yang dikerjakan manusia (umat islam) tidak lepas dari kemaslahatan (kebaikan) manusia itu sendiri dan manusia di sekitarnya terlebih lagi jika dikhawatirkan melakukan norma gama maupun norma hukum yang ada saat ini.

Pada dasarnya Al-Qur‟an tidak melarang seseorang untuk menikah sebelum usia baligh, namun. Mengingat banyaknya mudhart yang didapati seseorang tersebut jika pernikahan ini terjadi maka negara indonesia yang mayoritas bermadzhab syafi’i menetapkan adanya batasan usia anak yang dapat dikatakan mampu untuk berdiri sendiri ataupun untuk mebina rumah tangga

Maka dari itu, dalam hal ini penulis menemukan berbagai macam perbedaan tentang batas usia yang terdapat didalam Undang-undang perlindungan anak dan maqâshid al-Syari’ah. Di indonesia pemerintah lebih condong kepada undang-undang dikarenakan anak yang berusia dibawah 19 tahun dianggap belum mampu utnuk mewujudkan tujuan pernikahan itu sendiri. Namun, masih banyak dijumpai saat ini anak-anak dibawah umur melangsungkan perkawinan di usia dini akibat dari hamil dilaur nikah, yang penyebabnya bukan lain dari hal pacaran, kurangnya pengawasaan orang tua dan faktor tradisi atau budaya yang dimana anak yang telah siap kawin maka akan segera dinikahkan tanpa melihat akibat akibat yang nanti mereka jalani,

Tetapi dalam kondisi saat ini apa yang terjadi dalam putusan ini , menurut penulis hakim tidak memperimbangkan sebab akibat yang dimana sesorang anak perempuan telah hamil diluar nikah mengajukan

permohon perkawinan di KUA namun di tolak oleh Kantor Urusan Agama setempat, lalu pemohon mengajukan permohonan dispensasi nikah din Pengadilan Agama namun usahanya pun kembali di tolak oleh Pengadilan Agama,

Pertimbangan hukum dalam hal penolakan permohonan dispensasi perkawinan bagi calon pasangan yang mana dilihat dari segi hukum belum mencukupi meskipun dalam islam yang mana dilihat dari segi hukum belum mencukupi meski dalam Islam tidak ada batasan umur dalam pernikahan sesui dengan maqâshid al-Syari’ah, yakni Hifz al-Nasl (menjaga keturunan) yang sangat penting karena mengandung manfaat yang dapat menertibkan kehidupan masyarakat. Jadi dengan demikian mengabulkan dispensasi nikah dengan persoalan anak yang hamil di luar nikah merupakan kebutuhan yang bersifar daruri (mendesak) dengan tujuan untuk mendapatkan perkawinan itu sendiri serta melindungi segala akibat dari perkawinan yang telah dilangsungkan seperti nafkah istri, hubungan orang tua, dan anak, kewarisan dan lain lain. Dan disamping itu juga ada hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa dengan mengabulkan permohonan dispensasi perkawinan tersebut tidak ada satu pun yang dirugikan.

Menurut al-Syatibi ada lima hal yang termasuk dalam kategori ini, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, kehormatan dan keturunan, serta memelihara harta. Untuk memelihara lima pokok perkara inilah syariat islam diturunkan. Setiap ayat hukum bila diteliti akan ditemukan alasan pembentukannya yang tidak lain untuk memelihara lima pokok diatas29

Berkenaan dengan ini penulis meneliti yaitu tentang penolakan dispensasi nikah di Pengadilan Agama dalam proses mengabulkan permohonan pemohon,b akan tetapi permohonan tersebut ditolak, maka dari itu konsep maqâshid al–Syari’ah yang bagus dalam menyelamatkan

29 Satria Efendi M. Zein, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2017), Cet.7,h.,213.

kasusu ini karena kasus ini berada pada tingkatan dhruriyyat.yaitu menyelamatkan agama (hifz al-Din)dan keturunan (hifz al-Nash)30

Selanjutnya jika penetapan perkara ini di analisis menggunakan metode maqâshid al-Syari’ah, dapat penulis uraikan sebagai berikut:

1. Putusan tersebut bisa di analisis dengan melihat kesamaan ilat atau nilai-nilai subtansial dari contoh persoalan tersebut dengan dalil- dalil hukum yang telah di ungkapkan dalam Nash atau pertimbangan hukum yang lain dalam kasus ini

2. Putusan tersebut dapat dianalisis dengan dengan melakukan istinbath atau penetapan hukum yang permasalahannya tidak diataur secara eksplisit dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Akan tetapi lebih menekankan pada aspek kemaslahatan dalam kasus ini.

Ditinjau dari segi konsep dan metode penetapan maqâshid al- Syari’ah menurut penulis belum memenuhi kemaslahatan sesuai dengan tujuan maqâshid al-Syari’ah karena tujuan maqâshid al-Syari’ah yaitu bmendatangkan kemaslahatan dan menjauhkan kemdaratan sebagaimana kaidah fikih.

حناصًنا ةهج ٍي ٗنٔأ دسافًنا ءرد

„‟Mencegah kerusakan (kerugian) diupayakan terlebih dahulu sebelum upaya mendapatkan manfaat (kemsalahatan)‟‟

Kaidah ini menegaskan bahwa apabila kita dihadapkan kepada pilihan itu yang menolak kemafsadatan. sebab menolak kemafsadsatan yaitu sama juga meraih kemslahatan, karena tujuan utama dari Maqasid al- Syariah menurut ulama fikih yaitu meraih kemsalahatan di dunia maupun di akhirat31

Karena jika dilihat dari segi maqâshid al-Syari’ah yang dapat diorientasikan dalam kasus ini yaitu kemaslahatan untuk anak pemohon

30 Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-fiqh, (kairo: Dar al Fir al Arabi.1958).h.,336.

31 Ahmad djazuli, kaidah-kaidah fikih: kaidah-kaidah hukum islam dalam menyelesaikan masalh-masalah yang praktis,(Jakarta: Kencana,2011).h.164

dan calon istrinya, karena dalam kasus ini sangat jelas bahwa anak pemohon dan calon istrinya membawa kemudharatan yang besar untuk keluarga dan di dalam kaidah ini menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menimpakan suatu bahaya ataupun membahayakan untuk orang lain, maka dari itu kita tidak boleh menghalangi niat baik seseorang untuk melakukan pernikahan sedangkan sudah cukup jelas alasan-alasan yang tertera diatas bahwasanya jangan lah memtus perkara dengan tidak seadil adilnya sebab jika tidak diperhatikan dahulu maka akan timbul cacat dalam memetuskan perkara, oleh karenannya penulis menyarankan agar dalam memecahkan masalah ini menggunakan konsep maqâshid al-Syariah agar memahami seberapa penting tentang pentinganya permasalahan ini.

70

0229/Pdt.P./2018/PA/. Kab.Kdr. bahwasannya hakim menolak permohonan dispensasi perkawinan yang disebabkan calon mempelai telah hamil di luar nikah, karena calon memepelai tidak mencapai umur yang sesuai dengan Undang-Undang. Menurut penulis hakim tersebut seharusnya mempertimbangkan faktor lain seperti aspek perlindungan anak, sebab jika melihat dengan kondisi yang ada dengan terjadinya kasus hamil di luar nikah menjadikan hal yang sangat serius. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindung dalam pasal 1 ayat (1) yang berbunyi ‘’

anak adalah seseoarang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pasal 13 UU tersebut menyebutkan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat pendampingan dari perlakuan eksploitasi anak baik dari segi sosial, agama, ekonomi maupun seksual, karena pada dasarnya didalam agamapun apabila ada hal sesuatu yang terjadi pada anak hendaknya dilakukan pernikahan maka nikahkanlah. Dan menurut pasal 26 menjelaskan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak. Oleh karenanya dengan terjadinya kasus hamil diliuar tersebut, seharusnya hakim lebih teliti dan bersikap adil dalam memutus permhonan dispensasi perkawinan, agar jika mendapatkan kasus hamil diluar nikah lagi tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain.

2. Didalam hukum Islam memang sebenarnya tidak membatasi dalam usia umur seseorang yang ingin melakukan perkawinan, akan tetapi didalam islam membahas mengenai syarat-syarat dan rukun

jika seseorang akan melakukan proses perkawinan. melihat permohonan pemohon dalam putusan Nomor 0229/Pdt.P./2018/PA/, tentang proses pengajuan dispensasi perkawinan, pada kenyataan nya pemohon telah memenuhi syarat dan rukun secara Islam tentukan, bahwa dalam pengakuanya pemohan telah balig, berakal sehat dan mampu untuk menafkahi keluarga nantinya. Berbeda memang jika didalam hukum postif, Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun (sembilan belas) tahun dan pihak wanita berusia 16 (enam belas) tahun setelah terjadinya perubahan dengan adannya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 keduanya harus mencapai umur 19 tahun (sembilan belas) baik itu perempuan maupun laki-laki, dengan adanya batasan usia perkawinan yang diatur langsung oleh pemerintah menurut penulis itu sangat bagus karena pada dasarnya akan mencegah adanya perkawinan-perkawinan usia dini.

Tetapi jika melihat kondisi yang terjadi didalam putusan ini dengan adanya kondisi anak pemohon telah hamil di luar nikah, menurut penulis hakim seharusnya memahami pasal 7 ayat (2) tahun 1974 UUP, yang dimana jika ada penyimpangan dari persyaratan usia perkawinan tersebut diatas, maka perkawinan baru dapat dilangsungkan setelah mendapat dispensasi dari Pengadilan. Oleh karenanya dengan adanya penyimpangan diatas peranan Pengadilan maupun hakim sangatlah penting bagi pemohon dalam proses pengajuan dispensasi perkawinan.

3. Penolakan perkara dispensasi perkawinan menurut penulis belum selaras dengan tujuan dari maqâshid al-Syariah yaitu memelihara agama,jiwa,akal,keturunan,dan harta,. Didalam pertimbangan hakim pada putusan yang diajakun pemohon, bahwasanya hakim menolak dengan alasan anak pemohon belum mencapai usia perkawinan.

Tetapi jika melihat kondisi terjadi pada putusan ini, seharusnya

hakim tersebut lebih mempertimbangkan dengan menggunakan konsep maqâshid al-Syariah bukan melihat dari satu kondisi tentang batas usia saja. Karena tujuan dari maqâshid al-Syariah itu sendiri bertujuan untuk menyelamatkan kasus-kasus yang berada pada tingkatan daruri (mendesak).

B. Saran

1. Bagi lingkungan Peradilan Agama khususnya hakim di dalam memutus perkara dispensasi perkawinan seharusnya mempertimbangkan fakta hukum, aspek perlindungan anak, sosial dan maqâshid al-Syari’ah yang ada pada kedua belah pihak dengan mengedepankan kemaslahatan dan rasa keadilan.

1. Bagi lingkungan Peradilan Agama khususnya hakim di dalam memutus perkara dispensasi perkawinan seharusnya mempertimbangkan fakta hukum, aspek perlindungan anak, sosial dan maqâshid al-Syari’ah yang ada pada kedua belah pihak dengan mengedepankan kemaslahatan dan rasa keadilan.