• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkatan Mujtahidin

Dalam dokumen Fikih usul fikih (Halaman 54-58)

IJTIHAD, ITTIBA` DAN TAQLID

E. Tingkatan Mujtahidin

Menurut sebagaian ulama, ulama-ulama mutjtahidin terbagi tiga tingkat, yaitu:

1. Mujtahid Mutlaq; melakukan ijtihad berdasarkan kemampuan sendiri, telah

memenuhi syarat-syarat mujtahid, seperti empat imam mazhab.

2. Mujtahid Muntasib; telah memenuhi syarat-syarat mujtahid tetapi

menggabungkan diri kepada suatu mazhab; seperti Abu Yusuf, Muhammad ibn

Hasan dalam mazhab Hanafi; al-Muzanni dalam mazhab Maliki.

3. Mujtahid Muqayyad; yaitu mujtahid yang mengikuti salah satu imam mazhab,

walaupun berhasil menetapkan hukum sebagai temuannya namun tetap

menisbahkannya kepada imam mazhabnya seperti Hasan ibn Ziyad dari golongan

Hanafi, Ibnu Qayyim dari mazhab Maliki dan al-Buwaiti dari mazhab Syafi’i.

2. ITTIBA`

a) Pengertian Ittiba`

Ittiba` secara bahasa berarti iqtifa` (menelusuri jejek), qudwah (bersuri

teladan) dan uswah (berpanutan). Ittiba` menurut istilah menerima perkataan atau ucapan orang lain dengan mengetahui sumber atau alasan dari perkataan tersebut, baik dalil Alquran maupun hadis yang dapat dijadikan hujjah /alasan. Sedangkan orang yang mengikuti dengan adanya dalil, dinamakan muttabi`95. Firman Allah swt. dalam surah An-Nahl ayat 43 berbunyi :

نلملعتلا متنك نإ ركذلا ها آللئسف .

Artinya: Maka tanyakanlah olehmu kepada orang yang tahu jika kamu tidak mengetahuinya.

Dan dalam surah al-A`raf ayat 2:

ح كردص ىف نكي لاف كيلا زنا بتك نينمؤملل ىركذو هبرذنتل هنم جر

.

Artinya : Turutilah keterangan yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin yang lain dari Allah.

Dalam ayat pertama terdapat kalimat “tanyakanlah” yaitu suatu perintah yang memfaedahkan hal yang wajib untuk dilakukan. Maksudnya kewajiban kamu bertanya kepada orang yang tahu berdasarkan dari kitab dan sunnah. Sedangkan pada ayat kedua terdapat pula kalimat “turutilah” yaitu suatu perintah, yang tiap-tiap perintah wajib untuk dilakukan.96 Sabda Rasulullah Saw.

يدعب نم نيدشارلا ءافلخ ةنسو ىتنسب مكيلع (

هريغو دواد لبا هاور )

Artinya : Wajib turuti sunnahku atau caraku dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku. (H.R.Abu Dawud dan lainnya).

b) Tujuan Ittiba`

Dengan adanya Ittiba` diharapkan agar setiap kaum muslimin, sekalipun ia orang awam, ia dapat mengamalkan ajaran agama Islam dengan penuh keyakinan, tanpa diselimuti keraguan srdikitpun. Suatu ibadah atau amal jika dilakukan dengan penuh keyakinan akan menimbulkan keikhlasan dan kekhusukan. Keikhlasan dan kekhusukan merupakan syarat sahnya suatu ibadah atau amal yang dikerjakan.

c) Jenis-jenis Ittiba`

i. Ittiba` kepada Allah dan Rasul-Nya

95

A. Hanafi, Ushul Fiqih (Jakarta : Widyaya, tth) hlm. 154

Ulama sepakat bahwavseluruh kaum muslimin wajib mengikuti segala perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. “ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jangan kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. (QS. al-A`raf 7: 3).

ii. Ittiba` kepada selain Allah dan Rasul-Nya

Ulama berbeda pendapat tentang ittiba` kepada ulama atau para mujtahid. Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ittiba` itu hanya dibolehkan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan para sahabatnya saja. Tidak boleh kepada yang lain. Hal ini dapat di ketahui melalui perkataan beliau kepada Abu Dawud, yaitu : “Berkata Daud, aku mendengar Ahmad berkata, Ittiba` itu adalah seorang yang mengikuti apa yang berasal dari Nabi Saw. dan para sahabatnya”.97

3. TAQLID

a) Pengertian Taqlid

Taqlid adalah mengikuti atau meniru pendapat orang lain tanpa mengetahui

sumber, alasan dan tanpa adanya dalil. Menurut istilah menerima suatu ucapan orang lain serta memperpegangi suatu hukum agama dengan tidak mengetahui keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang menerima cara tersebut disebut muqalid.98

b) Syarat-syarat Taqlid

Syarat-syarat taqlid dapat dibagi dua, yaitu syarat orang yang bertaqlid dan syarat orang yang di taqlidi.

Syarat ber-taqlid :

Orang yang diperbolehkan untuk bertaqlid adalah orang awam atau orang biasa yang tidak mengetahui cara-cara mencari hukum syari`at. Ia boleh mengikuti pendapat orang yang pandai dan mengamalkannya.

Adapun orang yang pandai dan sanggup mencari sendiri hukum-hukum syari`at maka harus berijtihad sendiri, bila waktunya masih cukup.

97

Drs. Sudarsono, SH., Pokok-Pokok Hukum Islam, Pustaka Ceria.

Tetapi bila waktunya sudah sempit dan dikhawatirkan akan ketinggalan waktu untuk mengerjakan yang lain (dalam soal-soal ibadah), maka menurut suatu pendapat boleh mengikuti pendapat orang pandai lainnya.

Syarat-syarat orang yang ditaqlidi

Syarat orang yang ditaqlidi terbagi menjadi dua hukum yaitu : A. Hukum akal

Dalam hukum akal tidak boleh ber-taqlid kepada orang lain seperti mengetahui adanya zat yang menjadikan alam serta sifat-sifatnya dan hukum akal lainnya. Karena jalan menetapkan hukum-hukum tersebut ialah akal, sedangkan setiap orang punya akal. Jadi tidak ada gunanya jika bertaqlid dengan orang lain. Allah Swt. mencela taqlid, sebagaimana firman-nya :

نللقعتلا مهؤابآ ناك للاوا انءابا هيلع انيفلاام مبتن ب هللاق الله زنا ام العبتلا مهل يق اذإو نودتهتلاو ائيش

.

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka, ikutilah perintah yang diturunkan Allah, maka mereka menjawab : tetapi kami mengikuti apa-apa yang kami peroleh dari orang tua kami. Meskipun orang tua mereka tiada memikirkan sesuatu apa pun dan tidak pula mendapat petunjuk. (al-Baqarah :170)

B. Hukum syara`

Hukum syara` dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Yang diketahui dengan pasti dari agama seperti wajib salat lima waktu, puasa, zakat dan haji, juga tentang haramnya zina dan minuman keras. Dalam soal-soal tersebut tidak boleh

taqlid, karena semua orang dapat mengetahuinya.

b. Yang diketahui dengan penyelidikan dan mencari dalil, seperti soal-soal ibadah yang kecil, dalam hal semacam ini diperbolehkan taqlid.

Tidak hanya taqlid yang diperbolehkan saja yang ada, tetapi taqlid yang diharamkan juga ada, yaitu :

1) Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang dahulu kala yang bertentangan dengan Alquran dan Hadis.

2) Taqlid kepada orang yang tidak diketahui bahwa dia pantas diambil perkataannya.

3) Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedangkan yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan atau pendapat itu salah.99

a.

BAB IV

Dalam dokumen Fikih usul fikih (Halaman 54-58)