• Tidak ada hasil yang ditemukan

commit to user

3. Tinjau an Umum tentang Perlindungan Pekerja

Sebenarnya perlindungan hukum secara umum dibedakan menjadi dua yaitu (Abdul Khakim, 2007:107) :

a. Perlindungan Hukum Pasif

Berupa tindakan-tindakan dari luar (selain buruh/pekerja) yang memberikan pengakuan dan jaminan dalam bentuk pengaturan dan kebijaksanaan berkaitan dengan hak pekerja.

commit to user

Berupa tindakan dari pekerja yang berkaitan dengan upaya pemenuhan hak-haknya. Perlindungan hukum aktif ini dibagi menjadi dua yaitu:

1) Perlindungan hukum aktif –preventif

yaitu berupa hak-hak yang diberikan oleh pekerja berkaitan dengan penerapan aturan ataupun kebijaksanaan pemerintah ataupun pengusaha yang akan diambil sekiranya mempengaruhi atau merugikan hak -hak pekerja.

2) Perlindungan hukum aktif –represif

yaitu berupa tuntutan kepada pemerintah atau pengusaha terhadap pengaturan maupun kebijaksanaan yang telah diterapkan kepada pekerja yang dipandang menimbulkan kerugian

Menurut Soepomo dalam Asikin (1993:76) perlindungan pekerja dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :

a. Perlindungan Ekonomis

Yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memberikan kepada pekerja/buruh suatu penghasilan yang cukup memenuhi keperluan sehari-hari baginya beserta keluarganya, termasuk dalam hal pekerja/buruh tersebut tidak mampu bekerja karena sesuatu di luar kehendaknya. Perlindungan ini disebut juga dengan jaminan sosial, termasuk didalamnya adalah :

1) Upah

Peraturan ketenagakerjaan melarang pengusaha

melakukan diskriminasi pemberian upah terhadap para pekerja karena jenis kelamin, suku, ras, agama juga status pekerja, misalnya sebagai pekerja kontrak. Hal – hal mengenai upah bisa kita lihat dalam UU No.13 Tahun 2003 mulai dari pasal 88

commit to user

s/d 98. Ketentuan – ketentuan soal pengupahan tersebut kemudian diatur secara terperinci dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja yaitu KEP.49/MEN/IV/2004.

Aspek yang tercakup dalam kebijakan pengupahan diantaranya meliputi upah minimum, upah kerja lembur, upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya, upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerja, bentuk dan cara pembayaran upah, denda dan pemotongan upah, hal – hal yang dapat diperhitungkan dengan upah, struktur dan skala pengupahan yang proporsional, upah untuk pembayaran perseorangan dan upah untuk penghitungan pajak penghasilan (Libertus Jehani, 2008:15,17).

2) Tunjangan Hari Raya (THR)

THR adalah hak setiap pekerja tanpa memandang statusnya apakah sebagai pekerja kontrak atau bukan. THR wajib diberikan oleh pengusaha kepada setiap pekerjanya. Pengaturan mengenai THR ini secara rinci terdapat dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI no. Per.104./MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya keagamaan bagi Pekerja di Perusahaan. Dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa THR adalah pendapatan pekerja yang wajib dibayarkan pengusaha kepada pekerja atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan yang berupa uang atau bentuk lain (Libertus Jehani, 2008:24).

3) Jamsostek

Jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) adalah hak setiap tenaga kerja baik pekerja tetap maupun pekerja kontrak. Jika ada pengusaha yang oleh undang – undang menetapkan wajib untuk menyertakan para pekerjanya dalam program jamsostek namun

commit to user

pengusaha tersebut tidak mengikutsertakan pekerjanya maka hal tersebut oleh undang – undang dianggap sebagai kejahatan. Perlu diketahui bahwa jamsostek adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialam i oleh tenaga kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, bersalin, hari tua dan meninggal dunia. Kebijakan memberlakukan jamsostek tersebut diatur dalam UU No 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Libertus Jehani, 2008:31).

b. Perlindungan Sosial

Yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha kemasyarakatan, yang tujuannya memungkinkan pekerja/buruh itu mengenyam dan mengembangkan peri kehidupannya sebagai manusia pada umumnya dan khususnya sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga. Perlindungan ini dapat berupa :

1) pengaturan waktu kerja

Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja yang diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, kecuali bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu (misalnya pengeboran minyak lepas pantai, sopir angkutan jarak jauh, penerbangan jarak jauh, pekerjaan di kapal (laut) atau penebangan hutan (Pasal 77 UU No. 13 Tahun 2003). Ketentuan mengenai waktu kerja pada sektor usaha atau pekerjaan tertentu diatur dalam keputusan Menaker.

Penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan jam kerja tersebut telah termuat dalam pasal 77 ayat (2) undang – undang yang sama, yaitu :

commit to user

a) 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau b) 8 (delapan) jan 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu)

minggu untuk 5(lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Mempekerjakan lebih dari waktu kerja sedapat mungkin harus dihindarkan karena pekerja/buruh harus mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat untuk memulihkan kebugarannya (Hardijan Rusli, 2011:83).

2) pengaturan mengenai pemberian waktu cuti

Pengaturan mengenai cuti diatur dalam Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan diantaranya dalam Pasal 76, Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82 dan Pasal 84.

Selain dari waktu istirahat dan cuti yang ditetapkan oleh undang – undang, maka pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari – hari libur resmi. Pengusaha dapat mempekerjakan pekerja/buruh untuk bekerja pada hari – hari libur resmi bila jenis dan sifat pekerjaan tersebut harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara pekerja/buruh dengan pengusaha dan dengan kewajiban bagi pengusaha untuk membayar upah kerja lembur (Hardijan Rusli, 2011:85).

3) perlindungan terhadap pekerja anak

UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM), dalam pasal 64 menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan eksploitasi ekonomi dan setiap pekerjaan yang membahayakan dirinya, sehingga dapat mengganggu pendidikan, kesehatan fisik, moral, keh idupan sosial dan mental sosialnya (Hardijan Rusli, 2011:77).

commit to user

Pengusaha dilarang mempekerjakan anak, kecuali bagi anak yang berumur antara 13 (tiga belas) sampai 15 (lima belas) tahun untuk :

a) melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial (pasal 68 dan 69 ayat (1) UU No.13 Tahun 2003);

b) untuk mengembangkan bakat dan minat;

c) khusus bagi anak yang berusia minimum 14 tahun, untuk pekerjaan yang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang. 4) perlindungan terhadap pekerja perempuan

Pengaturan pekerja wanita dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah banyak mengalami perubahan dari ketentuan yang semula melarang wanita dipekerjakan pada malam hari, kecuali sifat pekerjaan tersebut harus dikerjakan oleh wanita dengan meminta izin instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

Dengan perkembangan zaman dan tuntutan hidup seperti sekarang ini sudah waktunya laki -laki dan wanita diberikan kesempatan yang sama untuk melakukan pekerjaan, hanya saja kerena sifat dan kodrat kewanitaanya, maka bagi pengusaha yang mempekerjakan wanita pada malam hari harus memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 76 ayat (1), (2), (3), dan

(4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan. c. Perlindungan Teknis

Yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menjaga pekerja/buruh terhindar dari bahaya

commit to user

kecelakaan yang dapat ditimbulkan o leh alat-alat kerja atau bahan yang diolah atau dikerjakan perusahaan. Perlindungan ini disebut juga dengan keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja.

keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan (Suma’mur, 2005 :104).

Sadjun H. Manulang berpendapat bahwa kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja meperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental maupun social sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal (Sadjun H. Manulang, 2001:89)

Menurut Suma’mur, Kesehatan kerja adalah :

“ spesialisasi dalam ilmu kesehatan / kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja / masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental, maupun social, dengan usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit / gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan factor-faktor pekerjaan dan lingkungan keja, serta terhadap penyakit-penyakit umum” (Suma’mur, 2005:1).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan satu upaya pelindungan yang diajukan kepada semua potensi yang dapat menimbulkan bahaya. Hal tersebut bertujuan agar tenaga kerja dan orang lain yang ada di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat serta semua sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien (Suma’mur, 2005:2).

Kecelakaan kerja maksudnya adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja pada suatu perusahaan.

commit to user

Berhubungan dengan hubungan kerja adalah kecelakaan tersebut bersumber dari perusahaan yang umumnya disebabkan oleh faktor manusia, faktor material/bahan, faktor sumber bahaya dan faktor yang dihadapi. Dengan faktor – faktor diatas merupakan kewajiban pengusaha untuk menjelaskan kepada pekerja/ buruhnya mengenai:

b) kondisi dan bahaya yang dapat timbul di dalam tempat kerjanya;

c) tentang semua alat pengaman dan pelindung yang ada di tiap ruang kerjanya juga cara penggunaannya;

d) tentang semua alat pelindung diri bagi tenaga kerja dalam hal terjadinya bahaya;

e) tentang cara dan sikap serta perlakuan yang aman dalam pelaksanaan kerja (Zaeni Asyhadie, 2008:127-129). Hak dan kewajiban pekerja berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja diantaranya yaitu :

a) Hak pekerja

(1) Meminta kepada pimpinan atau pengurus

perusahaan agar dilaksanakan semua syarat

keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan di tempat kerja/perusahaan yang bersangkutan.

(2) menyatakan keberatan melakukan pekerjaan bila syarat keselamatan dan kesehatan kerja serta alat perlindungan diri yang diwajibkan tidak memenuhi persyaratan, kecuali dalam batas – batas yang masih

dapat dipertanggungjawabkan (Sendjun H.

commit to user

Beberapa ketentuan dalam Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan mengatur tentang kesehatan dan keselamatan kerja diantaranya adalah:

(1) Pasal 86 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap

pekerja mempunyai hak untuk memperoleh

perlindungan atas :

c) Keselamatan dan kesehatan kerja d) Moral dan kesusilaan

e) perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai – nilai agama. (2) Pasal 86 ayat (2) yang menyatakan bahwa untuk

melindungi keselamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.

(3) Pasal 87 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap perusahaan wajib menerapkan system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan system manajemen perusahaan.

b) Kewajiban pekerja

(1) Memberikan keterangan yang bernar bila dimintai oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan dan kesehatan kerja

(2) Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan (3) Memenuhi dan mentaati persyaratan keselamatan

commit to user

perusahaan yang bersangkutan (Sendjun H.

commit to user

Dokumen terkait